calendar
Kamis, 19 April 2018
Pencarian
alat pemantau kualitas udara
Ilustrasi: wikimedia.org

KLHK Sebut Alat Pemantau Kualitas Udara yang Dipakai Greenpeace Tidak Valid

Berita Harian

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menganggap bahwa alat yang digunakan oleh Greenpeace Indonesia bernama Laser Egg yang digunakan untuk mengukur kualitas udara perkotaan tidak valid. Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Karliansyah mengatakan bahwa alat yang digunakan oleh Greenpeace Indonesia untuk mengukur kualitas udara tersebut hanya bisa dipakai untuk mengukur kualitas udara dalam ruangan.

Menurut Karliansyah, alat yang digunakan oleh Greenpeace tersebut, setelah dicoba oleh KLHK ternyata tak bisa membedakan partikel debu udara dengan uap air. Akibatnya, hasil pemantauan kualitas udara yang dihasilkan pun tidak komprehensif. Padahal, katanya, jika merujuk pada hasil pemantauan kualitas udara dengan menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang dipakai oleh KLHK, hasilnya sangat berbeda jauh.

“Kita berterimakasih oleh niat baiknya, tapi kalau datanya salah kan tentu berbahaya,” kata Karli, Jakarta, Senin (03/04).

KLHK sendiri bersama Pemerintah Daerah, lanjutnya, telah memasang 30 AQMS yang dipasang di beberapa kota di Indonesia. Sedangkan untuk target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) hingga 2019, pihaknya akan memasang alat pemantau kualitas udara AQMS tersebut di 45 ibukota di Indonesia.

BACA JUGA: Kualitas Udara Perkotaan Masih Konsisten

Sementara itu, Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia membantah jika alat yang digunakan oleh pihaknya dinyatakan tidak valid. Ia menjelaskan bahwa Greenpeace telah melakukan metode komparasi antara alat pemantau Laser egg dengan alat Thermo Scientific PDR 1500. Pembacaan kualitas udara, terusnya dilakukan selama tiga hari di titik udara yang paling tinggi atau tingkat polutannya paling tinggi di luar ruangan dan di dalam ruangan saat kondisi udaranya sedang baik.

Angka linier yang dihasilkan metode komparasi tersebut pun, tambahnya, telah menyentuh angka 98 persen. Sedangkan, ia juga memastikan kalau dari distributor Laser egg nya pun telah membuat kalibrasi untuk di jakarta. Akhirnya angkanya disesuaikan dengan angka yang dibaca oleh alat PDR 1500 tadi.

“Jadi secara tidak langsung alat pemantau yang kita pakai cukup representatif lah karena kita sudah bandingkan dengan alat yang scientific dan bisa mewakili sebagai peringatan dini. Kalau KLHK bilang tidak valid, kenapa mereka tidak pasang alat yang lebih canggih lagi yang online yang bisa dibaca oleh publik. IQMS pun itu tidak online dan tidak bisa dibaca oleh publik. PM-nya pun PM 10 bukan PM 2,5,” kata Bondan.

BACA JUGA: Kegiatan Transportasi Menjadi Faktor Utama Penilaian Kualitas Udara Perkotaan

Sebagai informasi, beberapa waktu lalu, Greenpeace Indonesia meluncurkan sebuah aplikasi yang berisi informasi kualitas udara di Jakarta. Peluncuran aplikasi yang diberi nama UdaraKita ini bertujuan untuk mengetahui kualitas udara berdasarkan perhitungan jumlah konsentrasi PM 2.5, salah satu polutan udara yang diketahui paling berbahaya. Data kualitas udara yang terdapat dalam aplikasi UdaraKita diambil dari rerata harian alat pemantau kualitas udara yang kami letakkan di 50 titik pemantauan yang tersebar di Jabodetabek dan beberapa kota lain di Indonesia.

Sumber polusi udara di kota besar di Indonesia, kebanyakan berasal dari transportasi dan pembangkit tenaga listrik, yang masih mengandalkan bahan bakar fosil. Sedangkan polutan udara yang dinilai paling berbahaya adalah PM 2.5, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pernapasan serius bahkan hingga kanker paru.

Tingginya kadar polusi udara di kota-kota besar ternyata belum mendapatkan perhatian khusus dari pihak pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari minimnya alat pemantauan kualitas udara yang datanya tidak dapat diakses oleh masyarakat, khususnya bagi kota-kota yang memiliki tingkat polusi tinggi seperti Jakarta dan Bandung.

Greenpeace lantas menginisiasi aplikasi mobile “UDARAKITA“ agar masyarakat dapat mengakses data kualitas udara, seperti kadar PM 2.5. Lewat aplikasi ini, Greenpeace mengajak masyarakat di kota-kota besar di Tanah Air untuk mulai peduli terhadap kondisi udara sekitar dan menjadi lebih sadar terhadap dampak kesehatan yang dapat kita derita akibat polusi udara.

Penulis: Danny Kosasih

Top