calendar
Kamis, 23 November 2017
Pencarian
energi angin
Ilustrasi. Foto: pixabay

Lautan, Sumber Energi Angin untuk Dunia

Berita Harian

LONDON, 25 Oktober 2017 – Dua ilmuwan asal California berhasil menemukan cara bagaimana mewujudkan dunia tenaga angin yang dapat menyediakan seluruh kebutuhan planet dengan energi angin tanpa merusak pemandangan dengan turbin di setiap puncak bukit.

Jawabannya adalah dengan menggeser turbin angin ke lautan. Kekuatan angin yang berada di atas permukaan laut mampu menggerakkan 18 miliar kilowatt, setara dengan permintaan energi global saat ini.

Para ilmuwan melaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences bahwa meskipun turbin angin di daratan dapat menghasilkan listrik pada laju 1,5 watt per meter persegi, lintang tengah Atlantik Utara dapat menghasilkan lebih yaitu hingga 6 watt per meter persegi.

Pada perhitungan yang hipotetis, mereka memperhitungkan angin sebagai energi kinetik yang bisa dieksploitasi. Kecepatan angin di lautan setidaknya 70 persen lebih tinggi dari kecepatan angin di daratan. Kecepatan angin di permukaan di Atlantik Utara dapat mencapai 11 meter per detik dan 13,5 meter per detik di Hemisfer Selatan, dan dalam teori cukup untuk menghasilkan 20 hingga 80 watt per meter persegi.

Dunia energi terbarukan

Para peneliti pada tingkat ini tidak dapat menjawab masalah energi dunia. Sebaliknya mereka menunjukkan, sekali lagi, kemungkinan dunia bisa digerakkan oleh energi terbarukan ketimbang dengan bahan bakar fosil yang bisa meningkatkan tingkat gas rumah kaca di atmosfer dan berpotensi menciptakan bencana pemanasan iklim dan perubahan iklim.

Ini merupakan satu langkah maju dari bebeberapa tahun belakangan. Pada tahun 2013, para ilmuwan di Universitas Delaware menyimpulkan bahwa angin, sinar matahari dan energi terbarukan lainnya mampu menjawab seluruh kebutuhan energi di Amerika Serikat.

Grup lainnya, termasuk Universitas Stanford di Amerika, tidak hanya mendukung penelitian sebelumnya namun berhasil memperluasnya, dengan menggunakan roadmap untuk setidaknya 139 dari 197 negara pada Desember 2015 mengambil langkah untuk menahan pemanasan global tidak lebih dari 2°C pada tahun 2100.

Namun, hukum termodinamika menghadirkan masalah teknis. Salah satunya adalah energi selalu disimpan, sebuah ladang angin ‘menghilangkan’ energi angin yang menerpa turbin menjadikannya lemah untuk turbin berikutnya.

Jadi meskipun, secara teori, angin dapat bergerak pada laju 60-80 watt per meter persegi, “penyeretan turbin” tersebut dapat memperlambat kecepatan angin pada setiap langkah.

Walaupun demikian, para teknisi dapat menantikan memanen 3 hingga 5 watt per meter persegi, yang lebih tinggi dari energi yang didapatkan di daratan.

Seseorang harus membuat perhitungan. “Apakah angin menjadi lebih cepat karena tidak ada yang bisa memperlambat mereka? Apakah peternakan angin yang raksasa tersebut justru memperlambat kecepatan angin sehingga lebih rendah daripada angin di daratan?” kata Ken Caldeira, ilmuwan senior pada departemen ekologi global, Carnegie Institution for Science, Stanford.

Masalah untuk diselesaikan

“Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah atmosfer di atas lautan dapat menghasilkan lebih banyak energi ketimbang di daratan? Pada prinsipnya, jawabannya adalah : iya. Peternakan angin di lautan terbuka terbentang hingga tiga juta kilometer persegi yang, secara teori, dapat memanen energi lebih banyak di atmosfer dan membangkitkan tenaga yang dibutuhkan dunia saat ini.

Masih ada beberapa masalah lain yang belum terpecahkan : tantangan membangun turbin yang cocok untuk lautan terbuka dan variasi musim untuk energi angin; mengumpulkan arus laut dan menghantarkan kepada kota-kota di dunia, dan masalah yang lebih besar terkait dengan politik nasional dan global. Namun, berdasarkan modeling yang rumit, tidak ada yang bisa mencegah hal tersebut untuk bisa dilakukan.

“Sementara turbin bawah laut belum hadir dalam skala komersial, hasil kami menunjukkan bahwa teknologi semacam itu apabila dimungkinkan secara teknis dan ekonomis dapat berpotensi menyediakan tenaga bagi manusia,” jelas para ilmuwan. – Climate News Network

Top