Lokasi Bekas Banjir Bandang Garut Disarankan Jadi Taman Terbuka

Reading time: < 1 menit
banjir bandang
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir bandang di Kabupaten Garut yang terjadi pada Rabu (21/09/2016). Foto: Sutopo/BNPB

Jakarta (Greeners) – Pasca bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Garut, Jawa Barat, pada Senin (20/9) lalu, pemerintah daerah setempat masih terus mengkaji kelayakan lokasi bencana sebagai pemukiman kembali warga terdampak.

Uji kelayakan dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut pemanfaatan lokasi bekas bencana tersebut. Setelah melakukan diskusi bersama dengan Bupati Garut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei pun merekomendasikan agar lokasi bekas bencana dapat digunakan sebagai ruang publik berupa taman terbuka.

BACA JUGA: Banjir Bandang di Garut Akibat Rusaknya DAS Cimanuk

Menurut Willem, daerah bekas bencana yang diterjang banjir bandang merupakan daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi terhadap banjir. Ia menjelaskan, saat kolonial Belanda menguasai wilayah tersebut, pada tahun 1921, Garut juga pernah terendam banjir besar.

Willem mengingatkan bahwa daerah bantaran sungai atau sempadan sungai adalah daerah kekuasaan sungai yang suatu saat pasti banjir. “Untuk itu peruntukannya jangan untuk permukiman agar saat banjir tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya, Jakarta, Rabu (28/09).

Hingga saat ini, lanjutnya, permasalahan yang dihadapi pemerintah daerah setempat masih berkutat pada pencarian lokasi yang tersedia dan aman untuk relokasi warga. Untuk sementara, korban banjir bandang yang kehilangan tempat tinggal telah ditampung di rumah susun yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Garut.

BACA JUGA: 108 DAS di Indonesia Dalam Kondisi Kritis

Ia juga mengimbau agar kantor-kantor pemerintah yang tidak dipergunakan bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengungsian sementara dan tidak menggunakan tenda sebagai tempat pengungsian dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, berdasarkan Pos Komando, data korban meninggal berjumlah 34 jiwa dan hilang 19 jiwa. Pengungsi berjumlah 1.326 jiwa. Jumlah pengungsi fluktuatif karena pengungsi ada yang pulang ke rumah namun juga kembali ke pengungsian. Pendataan juga masih dilakukan petugas. Rumah warga yang terdampak berjumlah 2.511 unit, dengan rincian 858 rumah rusak berat, 207 rusak sedang, dan 1.446 rusak ringan.

Penulis: Danny Kosasih

Top