Pemanasan Global, Musim Semi Datang Lebih Awal

Reading time: 2 menit
musim semi
Ilustrasi: pixabay.com

LONDON, 1 Maret 2017 – Musim semi akan datang lebih awal di belahan bumi utara. Salah satu spesies alang-alang di Greenland mulai tumbuh 26 hari lebih awal, dibandingkan sebulan lalu. Dan, di AS, musim semi datang 22 hari lebih awal di ibukota negara, Washington DC.

Ini bukti yang dihadirkan oleh saksi bisu, kondisi alamiah yang merespon terhadap tanda-tanda iklim. Aliran sains yang relatif baru, fenologi, yang mencatatkan perkembangan mulai dari benih pertama, bunga pertama, perilaku bersarang pertama dan kedatangan migrasi pertama, telah mengkonfirmasikan kekhawatiran meteorologi dari pemanasan global sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar selama lebih dari tiga dekade belakangan ini.

Para peneliti mengatakan bahwa bukti dari dunia tanaman konsisten dengan rekor yang ada yaitu 2016 merupakan tahun terpanas dan menjadi pemecah rekor ketiga secara berturut-turut. Enam belas tahun terpanas yang tercatat terjadi pada abad 21.

Musim Semi di Artik

Perubahan paling dramatis diamati di Artik, benua dengan pemanasan tercepat di planet, menurut penelitian di Biology Letters. Ketika es di kutub mulai mencair, musim semi menjadi lebih panjang dan tiba lebih awal.

Pola yang tidak konsisten juga terjadi pada pohon wilow abu-abu yang tetap tumbuh seperti biasa dan pertumbuhan pohon birch kerdil hanya lebih maju lima hari pada setiap dekade. Namun, pertumbuhan alang-alang hampir empat minggu lebih awal, dari satu dekade lalu, memegang rekor perubahan, menurut studi yang mengamati satu plot lokasi di Greenland Barat, 150 mil daratan, selama 12 tahun.

“Saat kami memulai studi ini, saya tidak akan membayangkan 26 hari per dekade lebih awal,” jelas Eric Post, seorang ahli ekologi kutub di Universitas California, Departemen Satwa Liar, Ikan dan Konservasi Biologi, yang telah mempelajari Artik selama 27 tahun.

“Itu hampir sama dengan satu musim pertumbuhan. Ini membuka fakta adanya laju perubahan.”

Rusa Karibu datang ke lokasi penelitian saat musim beternak, untuk menikmati makanan yang disediakan oleh musim panas yang singkat di Artik. Karibu menentukan rentang migrasi berdasarkan hari. Namun, beberapa tanaman lebih merespon kepada suhu sehingga saat karibu tiba, tumbuhan tersebut sudah tumbuh dan hasilnya tidak bergizi. Sehingga, hanya sedikit anak sapi yang lahir dan banyak yang mati.

“Itu salah satu contoh dari konsekuensi perubahan yang terjadi, seperti karibu yang memiliki keterbatasan sumber daya sebelum mencapai musim dingin berikutnya,” jelas Dr. Post. “Dengan studi terbaru, kita sudah mengambil langkah maju untuk memahami ekstensif dan mengurai dampak kehilangan es yang terjadi di Artik.”

Observasi Fenologi

Menjauh ke Selatan, musim semi tetap bersemi, menurut US Geological Survey (USGS) yang baru saja menerbitkan peta baru berdasarkan observasi fenologi.

Musim semi lebih awal tidak berarti lebih ramah bagi semua orang. Kutu dan nyamuk menjadi lebih aktif, dan musim penyerbukan bertahan lebih lama. Tanaman pangan bisa tumbuh atau menghadapi risiko musim dingin atau kekeringan di musim panas.

Tumbuhan dapat mekar sebelum kedatangan burung, lebah dan kupu-kupu yang memakan dan menyerbuki bunga menimbulkan konsekuensi bagi tumbuhan dan polinator.

“Musim semi datang lebih awal mungkin terlihat bukan masalah besar, dan siapa yang tidak senang lepas dari musim dingin, namun mereka menghadirkan tantangan bagi perencanaan dan pengelolaan terkait isu-isu yang berdampak terhadap ekonomi dan masyarakat kita,” jelas salah satu penulis laporan, Dr Jake Weltzin, ahli ekologi USGS dan direktur nasional di US National Phenology Network. – Climate News Network

Top