Sampah Plastik Sachet Banyak Ditemukan di Garis Pantai Indonesia

Reading time: 2 menit
sachet
Ilustrasi. Foto: maxpixel.freegreatpicture.com

Jakarta (Greeners) – Hasil riset tahun 2015 yang dibuat oleh Dr. Jenna Jambeck dan telah dipublikasikan secara luas melalui Jurnal Science pada 12 Februari di tahun yang sama ternyata membahas pula permasalahan penggunaan plastik kemasan ukuran kecil maupun sedang (sachet) di Indonesia.

Menurut Jenna, daya beli masyarakat kelas menengah yang banyak mengonsumsi kemasan sachet membuat ditemukannya sampah sachet di wilayah pesisir. Apalagi, dengan garis pantai yang begitu luas serta banyaknya masyarakat yang hidup di wilayah sekitar pantai turut menjadi penyebab menumpuknya jenis sampah kemasan tersebut.

BACA JUGA: Sampah Plastik dan Illegal Fishing Masalah Paling Besar di Laut Indonesia

Permasalahan ini juga diperparah dengan masih belum adanya alternatif kemasan lain selain plastik. Konsumen, tuturnya, sudah harus bijak dalam mengonsumsi plastik, salah satunya ialah dengan cara menyetop pemakaian plastik sachet atau kemasan sekali pakai.

“Sampah plastik dan plastik kemasan kecil yang tertumpuk di Tempat Pembuangan Akhir pun berpotensi besar akan berakhir di wilayah pesisir pantai dan bahkan hingga masuk ke lautan,” terangnya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Rabu (14/06).

sachet

Dr. Jenna Jambeck (ketiga dari kiri). Foto: Ist.

Dwi Sawung dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan, permasalahan sampah di laut tidak bisa hanya diselesaikan di laut saja, tetapi juga harus dari hulunya yaitu dari daratan. Selama sistem pengelolaan sampah kota dan kabupaten masih belum terintegrasi, permasalahan sampah tidak akan terselesaikan. Dari sisi produsen, lanjutnya, juga mesti ada perbaikan yang signifikan tentang penggunaan plastik.

“Apabila tiap-tiap orang berupaya mengurangi sampahnya, maka akan berdampak pada berkurangnya timbunan sampah plastik,” jelas Dwi.

BACA JUGA: Finlandia Tawarkan Kerjasama Teknologi Alternatif Pengolahan Sampah

Menurutnya, masing-masing pelaku usaha, petugas kebersihan, akademisi dan pemerintah harus saling terintegrasi dalam mengurangi sampah plastik. Setiap peran tersebut harus membuat sebuah penyelesaian dan sebaiknya harus diisi dengan materi edukasi. Hal ini agar seluruh lapisan masyarakat memahami dengan baik mengenai masalah sampah plastik dan mengetahui solusi yang bisa dilakukan.

Sementara itu, Koordinator Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Rahyang Nusantara menyayangkan kelambatan pemerintah dalam mengeluarkan regulasi pembatasan kantong plastik lewat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Plastik Berbayar. Menurutnya, sudah setahun proses uji coba digulirkan dan masyarakat membutuhkan kepastian untuk regulasi tersebut.

“Padahal dengan Rp200 saja kita bisa kurangi konsumsi (plastik) hingga 55 persen. Kami semua masih menunggu karena memang harus ada kejelasan regulasi dalam menyelesaikan masalah ini,” kata Rahyang.

Penulis: Danny Kosasih

Top