calendar
Jumat, 19 Januari 2018
Pencarian
tanaman gaharu
Tumbuhan gaharu (Aquilaria spp.). Foto: commons.wikimedia.org

Gaharu, Emas Hijau Nusantara yang Terancam

Flora

Julukan “Emas Hijau Nusantara” secara khusus diberikan kepada tanaman gaharu. Mengapa demikian? Gaharu adalah salah satu tanaman Nusantara yang memiliki potensi dan nilai ekonomi yang tinggi bahkan melebihi harga emas. Gaharu biasanya menjadi komoditas ekspor internasional yang dapat meningkatkan devisa negara.

Indonesia memiliki pohon gaharu yang beragam, dimana ada sekitar 26 jenis dalam tujuh marga tumbuh di hutan alam yaitu Aetoxylon, Aquilaria, Enkleia, Gonystylus, Gyrinops, Phaleria dan Wikstroemia. Dari tujuh marga tersebut, hanya marga Aquilaria, Gyrinops dan Gonystylus yang paling banyak dimanfaatkan.

Para ahli juga telah mendeskripsikan terdapat enam jenis Aquilaria spp. yang tersebar di Indonesia dan berasal dari hutan alam. Lima diantaranya berpotensi untuk dikembangkan/dibudidayakan. Jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain Aquilaria malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. cumingiana, A. filaria, dan A. beccariana. Salah satu jenis gaharu yang menjanjikan adalah jenis Aquilaria malaccensis. Selain di alam, pohon gaharu juga dapat ditemukan di beberapa kebun raya di Indonesia (Isnaini et al., 2010).

Penamaan daerah dari tanaman gaharu pun beragam, antara lain kayu karas, garu, halim (Lampung), alim (Batak), kareh (Minang), mengkaras, calabac, karas, kekaras (Dayak), galoop (Melayu) dan seringak. Adapun penamaan dari negara lain yaitu Chenxiang (China), Jingkoh (Jepang), Oud (Arab dan Timur Tengah), Oguru (India), Mai kritsana (Thailand), Mai ketsana (Laos), Tram Huang (Vietnam).

tanaman gaharu

Buah gaharu. Foto: commons.wikimedia.org

Gaharu yang termasuk kedalam famili Thymelaeaceae sebagian besar tumbuh pada tegakan hutan hujan tropis, dataran rendah dari kering hingga rawa dengan ketinggian 0-1.000 m dpl. Menurut laporan “Pengenalan Jenis Pohon Penghasil Gaharu” yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi bersama International Tropical Timber Organization (ITTO) – CITES Phase II Project (2014), gaharu dideskripsikan berupa pohon yang berukuran kecil hingga besar dengan tinggi hingga 40 m dan diameter batang mencapai hingga 60 cm, kadang berbanir atau berlekuk pada bagian pangkal.

Tanaman gaharu memiliki kulit batang licin hingga beretak, kadang beralur, berwarna coklat keputih-putihan atau coklat keabu-abuan dan berkayu keras. Kayunya yang tidak mengandung resin berwarna putih, ringan dan lembut, sedangkan kayu yang mengandung resin berwarna gelap, keras dan berat. Batang bebas cabang mencapai tinggi hingga 16 m.

Daun tunggal, berselang-seling, tipis hingga tebal, tepi rata, melengkung hingga bergelombang, seringkali berbulu pada permukaan bawah, terutama pada tulang daun primer dan sekunder. Bagian daunnya berbentuk daun bundar telur, jorong, lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5–8 cm dan lebar 3–4 cm. Ujung daun runcing atau meruncing, pangkal daun runcing, membundar, warna daun hijau mengkilat. Tulang daun sekunder jelas.

Keistimewaan gaharu ialah mereka mampu menghasilkan resin yang beraroma harum dan sering kali dimanfaatkan dalam upacara keagamaan, bahan obat-obatan, aromaterapi dan bahan kosmetik. Adapun gaharu yang tidak mengandung resin juga dimanfaatkan untuk bahan ukiran atau aksesori seperti gelang dan tasbih.

Predikat gaharu sebagai “Emas Hijau Nusantara” kini bisa lenyap sewaktu-waktu. Beberapa kajian dan berita menyebutkan bahwa adanya eksploitasi besar-besaran tanaman gaharu menyebabkan penurunan secara signifikan terhadap populasinya di alam. Eksploitasi ini terutama yang dilakukan secara nonselektif yaitu langsung melakukan penebangan beberapa pohon gaharu kemudian melakukan seleksi berdasarkan kriteria penampang melintang batang.

Faktanya, tidak semua pohon gaharu dapat menghasilkan gubal gaharu (kayu yang berasal dari pohon/bagian pohon penghasil gaharu). Pembentukan gubal gaharu merupakan reaksi terhadap infeksi patogen yang menyerang tanaman gaharu.

Sebagai akibatnya, spesies gaharu yang termasuk genus Gyrinops dan Aquilaria masuk dalam CITES Appendix II yang artinya terdapat pembatasan kuota perdagangan internasional terhadap spesies ini. Status konservasinya pun Vulnerable berdasarkan IUCN red list yang artinya bahwa keberadaannya terancam akan punah (Schmidt, 2011).

tanaman gaharu

 

Penulis: Sarah R. Megumi

Top