calendar
Selasa, 19 Juni 2018
Pencarian
harimau sumatera
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Foto: wikimedia commons

Harimau Sumatera, Kucing Besar Penguasa Hutan Sumatera

Fauna

Semakin sering kita mendengar berita yang memperihatinkan terkait penembakan liar terhadap satwa-satwa khas dan endemik Indonesia. Berbicara mengenai satwa liar, satwa liar satu ini juga mengalami ancaman yang sama akibat ulah manusia. Dia adalah Panthera tigris sumatrae atau familiar dikenal dengan sebutan Harimau Sumatera.

Berdasarkan informasi yang didapat dari WWF Indonesia dan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, harimau sumatera termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Harimau sumatera merupakan sub-spesies harimau terakhir di Indonesia.

Harimau (Panthera tigris) sendiri terbagi menjadi sembilan subspesies yang tersebar di Asia, mulai dari daratan Turki hingga ke Rusia dan Indonesia. Namun saat ini hanya tersisa enam subspesies harimau saja di dunia.

Berbeda dengan singa, harimau dewasa adalah satwa soliter. Tipe lokasi yang biasanya menjadi habitat pilihan harimau sumatera bervariasi, dengan ketinggian antara 0-3.000 meter dari permukaan laut seperti hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, pantai berlumpur, mangrove, daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis, areal hutan gambut dan juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian (Sinaga 2004).

Bersumber dari beberapa kajian ilmiah Institut Pertanian Bogor (IPB), harimau adalah spesies terbesar dari 36 spesies kucing, dan harimau sumatera mempunyai ukuran tubuh terkecil dari keseluruhan subspesies harimau di dunia. Panjang harimau Sumatera rata-rata 2,4 meter untuk jantan dan 2,2 meter untuk betina. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, ada juga yang mencapai antara 80-95 cm. Rata-rata berat badan untuk harimau sumatera jantan adalah 120 kg dan untuk betina 90 kg (Honolulu Zoo 2011). 

Alat indera harimau seperti penglihatan dan pendengaran sangatlah bagus. Selain itu, indera penciumannya juga berkembang dengan baik. Mata digunakan saat malam hari ketika berjalan di hutan. Ukuran tubuhnya yang kecil memudahkan mereka menjelajahi rimba. Harimau sumatera dapat berlari dengan kecepatan 35 mil per jam. Keunikan harimau sumatera lainnya adalah, apabila ia terluka, air liurnya berfungsi sebagai antiseptik untuk mengobati luka.

harimau sumatera

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Foto: wikimedia commons

Harimau sumatera memiliki belang yang paling banyak diantara subspesies lainnya. Satwa ini mempunyai warna tubuh bagian atas lebih gelap dari pada subspesies lain, dan garis yang lebih jelas. Warna dasar dari harimau adalah jingga (orange) dengan garis-garis belang berwarna hitam sampai coklat tua yang lebih lebar sehingga cenderung lebih jarang. Garis belang yang kecil dan hitam akan terlihat diantara garis yang biasa terdapat pada belakang punggung, panggul, dan kaki belakang. Belang pada harimau menurut beberapa ahli berfungsi untuk kamuflase dan bersembunyi dari mangsa incaran.

Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, harimau berburu 3-6 hari sekali tergantung ukuran mangsanya. Spesies karnivora ini biasanya memangsa babi hutan (Sus sp.), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus sp.), kerbau liar (Bubalus bubalis), tapir (Tapirus indicus), kera (Macaca sp.), landak (Hystrix brachyuran) dan trenggiling (Manis javanica).

Dalam berburu, harimau menggunakan taktik perburuan individual, bersembunyi, mengejar dan menyerang secara tiba-tiba lalu membunuh mangsanya. Ia memiliki cakar yang tajam untuk mencengkeram mangsa. Selain itu, cakarannya di pohon atau tanah digunakan untuk menandai daerah kekuasaan. Cakaran ini dibuat setelah melakukan urinasi. Pada saat urinasi, harimau sumatera menyemprotkan urine untuk menimbulkan bau-bauan serta meninggalkan bekas kotoran.

Berdasarkan sumber ilmiah IPB, berkurangnya populasi harimau sumatera di habitatnya disebabkan oleh pembukaan lahan secara besar-besaran oleh manusia. Semakin sempitnya habitat harimau sumatera membuat satwa ini dianggap merusak pemukiman penduduk untuk mencari makan. Selain itu, meningkatnya perburuan dan penjualan ilegal bagian tubuh harimau juga menjadi penyebab.

Menurut Twist (2004) pengobatan tradisional Cina merupakan ancaman bagi harimau sumatera karena pengobatan tradisional tersebut menggunakan bagian-bagian tubuh harimau. Jepang, Hong Kong dan Korea Selatan merupakan negara-negara pengimpor tulang harimau untuk pengobatan tradisional Asia.

harimau sumatera

Penulis: Sarah R. Megumi

Top