calendar
Selasa, 19 Juni 2018
Pencarian
tapir asia
Tapir asia (Tapirus indicus). Foto: wikemedia commons

Tapir Asia, Satwa Pemalu dari Sumatera

Fauna

Kegiatan pembalakan dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman telah menyebabkan berkurangnya luas tutupan hutan di Pulau Sumatera. Karena banyaknya pembukaan lahan secara ilegal, maka spesies satwa liar yang ada di pulau ini pun menjadi semakin terdesak bahkan di ambang kepunahan, salah satu diantaranya adalah tapir. Baru-baru ini diberitakan oleh media nasional, dua ekor tapir sering muncul di sekitar permukiman di Labuhan Batu Selatan (Labusel), Sumatera Utara.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak tahun 2008 menyatakan bahwa spesies satwa ini terancam punah sehingga diperlukan berbagai upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya, terutama dalam hutan-hutan alam yang menjadi habitat aslinya. Secara alamiah tapir sebenarnya tersebar di hampir seluruh Pulau Sumatera. Meski demikian, mengingat banyaknya tutupan hutan alam yang telah mengalami kerusakan atau hilang sama sekali, maka sekarang satwa ini hanya dapat ditemukan di kawasan-kawasan tertentu.

Menurut penelitian FMIPA Universitas Riau bersama WWF, spesies tapir yang terdapat di Sumatera adalah tapir asia (Tapirus indicus, Desmarest 1819). Tapir berperan sebagai penebar biji dan penting untuk menjaga ekosistem hutan.

Tapir merupakan hewan yang hidup sendiri (soliter). Tapir sudah ada sekitar 20 juta tahun lalu dan selama kurun waktu itu ia tidak mengalami evolusi perubahan tubuh yang berarti. Oleh karena itu, tak heran jika tapir termasuk kategori mamalia paling primitif di dunia (dikutip pada laman viva.co.id).

tapir asia

Tapir asia (Tapirus indicus). Foto: wikemedia commons

Tinggi Tapir Asia mencapai 90 hingga 107 cm dengan bobot rata-rata 250 hingga 320 kg. Diperkirakan bobot terberat dari tapir asia adalah 500 kg. Dikutip pada laman gembiralokazoo.com, secara morfologi tapir asia memiliki tubuh yang gempal besar dengan hidung menonjol menyerupai belalai atau moncong trenggiling.

Tapir dewasa memiliki pola warna yang unik, dimana setengah tubuh depan berwarna hitam dan bagian belakangnya berwarna putih. Bagian kakinya keseluruhan berwarna hitam. Kaki depan memiliki empat kuku, namun hanya ujung kuku keempat (belakang) yang tidak menyentuh tanah, sehingga jika sedang berjalan maka jejak kaki yang muncul adalah jejak tiga kuku. Pada umumnya, ukuran antara tapir jantan dan betina tidaklah sama. Tapir Asia jantan cenderung lebih kecil daripada yang betina.

Tapir termasuk satwa yang aktif mencari makan pada malam hari. Umumnya, spesies-spesies satwa liar yang terdapat dalam ekosistem hutan tropis bersifat elusive (tidak suka menampakkan diri) dan berpenampilan cryptic (tersamar) sehingga sulit dilihat secara lansung (Novarino et al. 2005).

Tapir merupakan hewan pemakan tumbuhan yang bukan tergolong ke dalam hewan ruminansia (hewan pemamah biak, seperti sapi, domba, kambing dan rusa). Tapir biasanya mencari makan pada rute yang sama. Pakannya sendiri antara lain berbagai macam rumput, daun tumbuhan, air dan ranting. Satwa ini sering menggunakan hidungnya untuk menarik ranting dan daun untuk dimasukan ke dalam mulut.

Cara komunikasi satwa ini pun terbilang unik. Tapir-tapir asia berkomunikasi satu sama lain dengan cicitan dan siulan bernada tinggi. Mereka juga tergolong satwa yang pemalu, jika ada hewan lain ataupun manusia maka mereka akan bersembunyi di semak-semak. Meski pemalu, mereka memiliki kemampuan berlari, mendaki dan berenang yang baik. Untuk menandai teritorinya, satwa ini akan menggunakan urin.

tapir asia

Penulis: Sarah R. Megumi

Top