calendar
Senin, 11 Desember 2017
Pencarian
tokek rumah
Ilustrasi. Foto: commons wikimedia

Tokek Rumah, Menginspirasi Para Ilmuwan

Fauna

Tokek termasuk dari jenis reptil yang kerap mengeluarkan suara yang khas dan jelas. Layaknya cicak, ia juga sering ditemukan berada di dalam rumah, tapi bukan berarti tokek hanya hidup di dalam rumah. Populasi dan keberadaan tokek tersebar di alam seperti kebun dan hutan.

Seperti namanya, suara tokek berbunyi “tokek..tokek..tokek..” Menurut mitosnya, jumlah suara ketukan tokek memiliki makna masing-masing, dari mulai pertanda baik hingga ke pertanda yang buruk. Apakah diantara kalian yang pernah menghitung jumlah ketukan suara tokek?

Tokek termasuk ke dalam famili Gekkonidae. Famili Gekkonidae terdiri dari 83 genus dan 670 spesies di seluruh dunia (Grizemk’s, 1975). Di Indonesia terdapat 13 genus dan 50 spesies (Schmidt, 1997), sedangkan dalam data statistik kehutanan terdapat 6 genus dan 13 spesies yang terdaftar sebagai reptil yang diperdagangkan ke luar negeri (Departemen Kehutanan, 2009).

Tokek rumah (Gekko gecko) adalah jenis yang paling dikenal dan dimanfaatkan di Indonesia. Selain itu ada juga jenis tokek bergaris (Gekko vittatus) dan cicak terbang (Ptychozoon kuhli) yang termasuk dalam famili Gekkonidae. Menurut Departemen Kehutanan (2009), tokek memiliki berbagai penamaan lokal antara lain tokek rumah, tokek (Sunda), teko, tekek (Jawa), tokkek (Sulawesi). Dalam Bahasa Inggris disebut tokay gecko atau tucktoo, sedangkan dalam Bahasa Jerman disebut dengan tokeh.

Pada tokek rumah, tubuhnya berwarna kebiruan atau kehijauan, dengan totol-totol putih dan merah. Bagian bawah tubuhnya umumnya berwarna putih. Spesies ini dapat memiliki panjang tubuh hingga 250 mm dengan panjang tubuh maksimal 350 mm (McKay 2006, dalam Nugrahani, 2011).

tokek rumah

Ilustrasi. Foto: commons wikimedia

Pada umumnya semua jenis tokek memiliki morfologi yang sama yaitu memiliki tubuh pendek, lebar, dan gemuk. Memiliki jari kaki yang besar disertai cakar yang melengkung ke belakang. Tokek memiliki kaki yang lengket dan berbentuk seperti bantalan penghisap atau scansor sehingga memungkinkan tokek untuk berjalan di dinding, bahkan pada permukaan yang terbalik dan licin (Susilo & Rahmat 2010).

Saking lengketnya, para imuwan dan peneliti terinspirasi untuk meniru daya lengketnya dalam pembuatan selotip atau lem. Bahkan, dilansir pada laman nationalgeographic.co.id., perilaku tokek saat memanjat telah menginspirasi sejumlah ilmuwan untuk membuat sebuah alat yang memungkinkan seorang pria berbobot 70 kg memanjat dinding kaca. Sungguh inovatif!

Tokek bisa hidup pada ketinggian 0-850 m dpl dengan suhu yang dibutuhkan sekitar 32°C dan kelembaban 25-35 % (Susilo & Rahmat 2010). Tokek dan cicak lebih menyukai habitat yang kering, terutama dataran rendah. Sebagian besar tokek tergolong hewan nokturnal dan mencari makan di malam hari. Umumnya ia memangsa hewan yang ukuran tubuhnya lebih kecil, seperti jangkrik, ulat hongkong, dan kroto.

Satwa ini akan mengalami proses ganti kulit setiap satu bulan sekali. Proses ganti kulit memerlukan energi yang cukup besar sehingga pada saat proses ini tokek banyak berdiam diri dan tidak aktif. Proses pergantian kulit diawali dengan berubahnya warna tubuh menjadi lebih keputihan dan lama-lama menjadi memudar. Ia memiliki kebiasaan memakan kulit yang dilepaskannya.

Ada lagi kebiasaan tokek yang terbilang unik yaitu bila ada kotoran yang menempel di matanya, ia akan menjilatinya hingga bersih. Layaknya seekor cicak, tokek juga melepaskan ekornya atau disebut ‘autotomi’ bila dalam keadaan terdesak. Hal itu dilakukan untuk mengelabui musuh sehingga ia dapat berlari dengan cepat untuk menghindari pengganggu atau pemangsa. Ekornya akan tumbuh sekitar 3 minggu kemudian dan akan kembali seperti bentuk semula dalam waktu 4 bulan (Susilo & Rahmat 2010).

Tokek sering kali diincar dan dimanfaatkan sebagai bahan/ramuan pengobatan tradisional. Berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah, tokek rumah digunakan sebagai penyembuh gatal-gatal pada tubuh, eksim, koreng, panu, kadas, dan kurap. Ekstrak air tokek dengan kandungan asam amino berkhasiat sebagai penyembuh luka yang diformulasikan dalam bentuk sediaan salep. Selain itu, tokek rumah juga merupakan salah satu spesies tokek yang kini banyak diburu orang karena dimanfaatkan sebagai obat kanker.

Meskipun demikian, jangan sampai manusia terlalu berambisi untuk memburu hewan yang unik ini. Belum lagi ancaman yang datang dari maraknya pembukaan lahan. Tokek berperan vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai predator, ia mengontrol populasi serangga agar tidak terjadi ledakan. Bila populasinya habis maka rantai makanan akan terputus sehingga keseimbangan ekosistem terganggu.

tokek rumah

Penulis: Sarah. R. Megumi

Top