Rayi Putra (RAN) Ajak Keluarga Menjaga Lingkungan Sejak Dini

Reading time: 2 menit
Keluarga
Rayi Putra Rahardjo dari group RAN. Foto : Anggi Rizky Firdhani

Upaya melestarikan dan menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkup sosial paling kecil terlebih dahulu, yaitu keluarga. Mengajak keluarga untuk turut menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui hal-hal yang sederhana bahkan ringan dan menyenangkan. Hal tersebut dilakukan oleh salah satu personel grup musik “RAN”, Rayi Putra.

“Kita sekeluarga selalu menerapkan gaya hidup tidak mubazir supaya tidak menghasilkan sampah yang dapat merugikan lingkungan dan banyak orang. Menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, misalnya tidak menyisakan makanan ketika makan, tidak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja, menggunakan tumbler, dan masih banyak lagi,” tutur Rayi ketika ditemui oleh Greeners di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Kamis (03/08).

Rayi beserta istrinya, Ria Zhafarina Hadju alias Dila, memang telah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan sejak mereka berdua masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kebiasaan baik tersebut terus mereka bawa hingga mereka sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Rayi juga mengaku bahwa dirinya lebih memilih popok kain untuk digunakan oleh putra semata wayangnya, Budi.

“Saya dan Dila selalu memilih popok kain untuk Budi. Meskipun tidak lebih praktis dari popok biasa, menggunakan popok kain itu lebih tidak mubazir. Memang popok kain dijual dengan harga yang lebih mahal, namun harga tersebut sepadan karena popok kain dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama,” ujar pria bernama lengkap Rayi Putra Rahardjo ini.

Meski sudah berusaha untuk hidup seramah mungkin terhadap lingkungan, tak bisa dipungkiri bahwa Rayi dan keluarga masih sering bersinggungan dengan sampah, terutama dengan sampah plastik dan kertas. Ada saat-saat tertentu yang mengharuskan Rayi untuk berbelanja dengan kantong plastik, membeli minuman dalam kemasan botol plastik, atau mendapatkan struk belanja dan kertas karcis parkir. Supaya sampah-sampah tersebut tidak terbuang sia-sia, Rayi mengajak keluarga kecilnya untuk berpikir kreatif supaya sampah tersebut dapat berguna kembali.

“Saya dan keluarga berusaha untuk tidak mubazir dalam hal apapun itu, termasuk terhadap sampah plastik dan kertas. Kantong plastik biasanya kita gunakan ulang untuk membuang sampah atau saya lipat hingga membentuk segitiga kecil, lalu disimpan. Kalau botol plastik, biasanya sering kita jadikan mainan untuk Budi. Botol plastik tuh mainan kesukaan dia, tidak usah yang mahal-mahal,” tutur Rayi.

“Selain itu, botol plastik juga sering kita manfaatkan sebagai alat musik dengan cara diisi dengan pasir atau biji-bijian. Tak hanya sampah plastik, sampah kertas juga sering kita kreasikan. Saya dan Dila selalu mengumpulkan kertas-kertas dari struk belanja atau karcis parkir. Kertas-kertas tersebut kita kumpulkan terlebih dahulu, lalu kita satukan dengan penjepit kertas untuk dijadikan notes. Kertas-kertas tersebut tidak berubah menjadi sampah, deh,” ujarnya menambahkan.

Rayi mengaku bahwa ide untuk mengkreasi ulang sampah selalu ia dapatkan secara spontan. “Idenya bisa muncul secara tiba-tiba, spontan saja. Yang terpenting sih, kalau kita memang ada niat untuk menjaga lingkungan supaya terbebas dari sampah dan niat untuk tidak mubazir, ide-ide untuk mengolah sampah biasanya selalu muncul dengan sendirinya. Kita ingin sampah-sampah tersebut memiliki umur yang sedikit lebih panjang, tidak langsung dibuang begitu saja,” pungkasnya.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

Top