calendar
Kamis, 16 Agustus 2018
Pencarian
satwa langka sulawesi
Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Foto: dok. KLHK

Anoa, Satwa Langka Sulawesi yang Dilindungi Sejak Pemerintahan Belanda

Fauna

Anoa merupakan satwa yang mirip dengan sapi atau kerbau (ruminansia liar) yang berukuran lebih kecil (cebol). Pada tahun 1969, ahli satwa Grooves menganggap bahwa anoa berkerabat dekat dengan genus banteng. Satwa liar endemik Sulawesi ini telah dilindungi sejak zaman pemerintah kolonial Belanda.

Menurut Balai Penelitian Kehutanan Manado (2013), anoa dilindungi oleh undang-undang yaitu berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar sejak tahun 1931 (Dierenbeschermings Ordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134). Di dalam undang-undang tersebut anoa dinyatakan sebagai satwa langka dan wajib dilindungi karena sebarannya sangat terbatas yaitu hanya di daratan Sulawesi dan Pulau Buton.

Selain itu, anoa juga dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bahkan dalam IUCN Red List, anoa dikategorikan sebagai satwa langka yang dikhawatirkan akan punah. Data dari IUCN menyebutkan bahwa populasi anoa di Sulawesi pada tahun 2002 kurang dari 5.000 ekor sehingga termasuk dalam kategori “endangered” dan menurut CITES (2008) anoa masuk dalam Appendix I yang berarti satwa tersebut dilindungi dan tidak diperjualbelikan.

Anoa umumnya dapat dijumpai di habitat hutan-hutan primer, mulai dari hutan pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah, hutan perbukitan, hutan pegunungan, sumber air panas yang mengandung mineral dan di sepanjang pantai. Sederhananya, satwa langka ini senang tinggal dalam hutan yang jarang dijamah oleh manusia. Namun sangat disayangkan, tingginya pembukaan lahan secara liar atau deforestasi dan perburuan liar menyebabkan penurunan populasi anoa di lingkungan (Mustari, 2005).

satwa langka sulawesi

Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Foto: wikemedia commons

Anoa memiliki perilaku hidup secara soliter, namun tidak jarang juga dijumpai dalam kawanan tiga sampai lima ekor. Anoa termasuk satwa liar pemakan semak, buah-buahan yang jatuh, herba, rumput dan berbagai jenis tumbuhan hutan.

Anoa digolongkan menjadi dua spesies yang berbeda, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlessi). Berat tubuh anoa dataran rendah dan pegunungan masing-masing, 300 Kg dan 150 Kg. Anoa dataran rendah memiliki tinggi pundak antara 80–100 cm, sedangkan anoa dataran tinggi antara 60-75 cm. Kesimpulannya, anoa dataran rendah relatif lebih besar dibandingkan dengan anoa yang ditemukan di dataran tinggi.

Secara umum, anoa mempunyai warna kulit mirip kerbau (warna terang hingga gelap kecoklatan). Anoa juga memiliki bentuk kepala menyerupai kepala sapi (Bos), kaki dan kuku menyerupai banteng (Bos sondaicus). Pada kaki bagian depan (metacarpal) berwarna putih atau mirip sapi bali namun mempunyai garis hitam ke bawah.

Tanduk mengarah ke belakang menyerupai penampang yang bagian dasarnya tidak bulat seperti tanduk sapi melainkan menyerupai bangun segitiga seperti tanduk kerbau. Fungsi dari tanduk tersebut adalah untuk untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah, serta menunjukkan dominasi untuk bertahan hidup dari lawannya.

Dalam rangka meningkatkan usaha pelestarian spesies nasional, Departemen Kehutanan melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. 57 Tahun 2008 telah menyusun sebuah Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018. Dalam aturan ini, dua jenis anoa, yaitu anoa dataran tinggi (Babulus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) masuk dalam kategori spesies prioritas sangat tinggi.

satwa langka sulawesi

Penulis: Sarah R. Megumi

Top