Banteng Jawa, Satwa Kuat, Tegap dan Gemar Berkelompok

Reading time: 3 menit
banteng jawa
Banteng jawa (Bos javanicus). Foto: wikemedia commons

Tahukah kalian jika kepala banteng merupakan lambang atau simbol dari sila ke empat dalam Pancasila, yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan. Mengapa banteng menjadi lambang dari sila ke empat Pancasila? Berdasakan informasi yang di dapat, lembu liar atau banteng merupakan binatang sosial yang suka berkumpul. Seperti halnya manusia, disaat mengambil sebuah keputusan maka keputusan tersebut diambil secara musyawarah, dengan cara berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu terlebih dahulu.

Banteng merupakan hewan mamalia yang berkerabat dengan sapi, dimana statusnya sekarang adalah dilindungi. Seiring terjadinya penurunan spesies ini terutama di Indonesia, maka oleh IUCN Redlist banteng dikategorikan dalam status konservasi “Endangered” atau “Terancam Kepunahan”. Banteng khas Indonesia dikenal dengan sebutan banteng jawa (Bos javanicus).

Selain banteng jawa (Bos javanicus) sedikitnya terdapat 4 spesies banteng lainnya diseluruh dunia. Satu spesies telah dinyatakan punah. Kelima spesies banteng tersebut adalah Bos javanicus (Banteng Jawa), Bos gaurus (Indian Bison) yang biasa diadu dengan matador di Spanyol, Bos mutus (Wild Yark), Bos souveli (Grey Ox) dan Bos primigenius (Auroch) yang telah punah (dikutip pada laman alamendah.org).

Banteng merupakan hewan yang besar, tegap dan kuat. Bahu depannya lebih tinggi daripada bagian belakang dan di kepalanya ada sepasang tanduk. Pada banteng jantan dewasa tanduknya berwarna hitam mengilap, runcing dan melengkung ke arah depan (medio enterior), sedangkan pada betina dewasa tanduknya lebih kecil dan melengkung ke belakang (Balai Taman Nasional Baluran, 2006).

Pada bagian tengah dada terdapat gelambir (dewlap) memanjang dari pangkal kaki depan hingga bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan. Menurut Preffer dan Sinaga (1964) dalam Santosa, (1985), berat banteng dewasa lebih kurang mencapai 900 kg dan tinggi bahunya sekitar 170 cm. Tinggi bahu bervariasi menurut umur. Banteng jantan yang berumur 8 – 10 tahun mempunyai tinggi bahu 170 cm, sedangkan banteng betina mempunyai tinggi bahu 150 cm (Hoorgerwerf, 1970 dalam Anonimous 1997).

banteng jawa

Banteng jawa (Bos javanicus). Foto: wikemedia commons

Banteng mempunyai ciri khas yaitu pada bagian pantat terdapat belanga putih, bagian kaki dari lutut ke bawah seolah-olah memakai kaos kaki berwarna putih, serta pada bagian atas dan bawah bibir berwarna putih. Banteng jantan mempunyai warna bulu hitam sedangkan banteng betina kulitnya berwarna coklat kemerahan.

Banteng suka melaksanakan perjalanan jauh sambil makan. Pakan satwa ini berupa rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Mereka juga menyukai daerah yang luas dan tidak ada gangguan alami. Akan tetapi banteng tidak tahan terhadap terik matahari sehingga banteng sering berlindung di bawah pohon rindang di dekat padang rumput/savana.

Seperti yang telah diketahui, banteng adalah satwa yang suka berkumpul. Pada saat berkumpul, jumlahnya sekitar 10 – 12 ekor setiap kelompok yang terdiri dari banteng jantan dewasa, induk dan anak-anaknya. Dalam tiap-tiap kelompok biasanya terdapat beberapa banteng jantan muda (2 – 5 ekor) yang mana pada saatnya nanti, salah satunya akan menggantikan ketua kelompok.

Waktu pergantian ketua kelompok, sering terjadi perkelahian, dan banteng yang kalah akan memisahkan diri dari kelompoknya dan kadang-kadang diikuti oleh beberapa banteng betina yang setia kemudian membentuk kelompok baru (Alikodra, 1980). Banteng yang sudah tua dan mendekati ajalnya akan memisahkan diri dan menjadi banteng soliter sehingga rawan untuk menjadi mangsa satwa predator. Cara banteng dalam membentuk atau menentukan suatu kelompok ini mirip dengan cara dalam mengambil keputusan secara bermusyawarah.

Menurut laporan Balai Taman Nasional Baluran (2006), banteng terkenal sebagai satwa yang mempunyai daya penciuman dan pendengaran yang tajam. Sebagai tandanya, di waktu makan banteng sering mengangkat kepala sambil mengibas-ibaskan telinganya untuk mendengar apakah ada bahaya, kemudian mulai makan lagi jika dirasa tidak ada tanda-tanda bahaya yang akan mengganggu.

Apabila ada tanda bahaya, banteng yang pertama kali mendengar hal itu akan segera menghadap ke arah sumber bahaya sambil memberi isyarat kepada banteng yang lainnya. Selain itu, banteng-banteng muda dan betina terlebih dahulu masuk ke dalam hutan kemudian disusul oleh banteng dewasa jantan.

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, mulai tahun 2013 hingga 2016, populasi banteng jawa mengalami penyusutan di tiga kawasan, yaitu Hutan Lindung Londo Lampesan di Jember, Hutan Lindung Lebakharjo di Malang, dan di Perkebunan Trebasala di Banyuwangi.

Seperti dilansir Greeners.co, pantauan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam menyebutkan jumlah banteng jawa pada tahun 2013 sebanyak 50 ekor, turun menjadi 47 ekor di tahun 2014. Jumlah ini menurun lagi pada tahun 2015 sebanyak 39 ekor, dan di tahun 2016 tersisa 22 ekor. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ayu Dewi Utari, mengungkapkan, penurunan banteng jawa kemungkinan terjadi karena habitatnya yang terdesak dengan keberadaan perkebunan.

banteng jawa

Penulis: Sarah R. Megumi

Top