Ikan Sidat, Karnivora Tangguh yang Bertelur Hingga ke Laut

Reading time: 3 menit
ikan sidat
Ilustrasi: Ist.

Ikan Sidat memiliki karakteristik habitat yang unik, karena mampu beradaptasi di perairan tawar, estuari dan laut. Selintas sidat memang mirip dengan belut. Namun, bila dilihat lebih dekat, ikan yang bernama latin Anguilla spp ini berbeda dengan belut.

Tubuh ikan sidat berbentuk silindris, kepalanya bulat telur, letak mulut terminal, dan memiliki ekor pipih meruncing. Panjang tubuh maksimal ikan ini bervariasi antara 15-200 cm dan beratnya dapat mencapai 22 kg tergantung jenis. Tubuhnya sangat lentur dan dilapisi sejenis lendir yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari predator alam.

Ikan yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini tergolong jenis ikan karnivora. Berdasarkan penelitian, hewan ini akan memakan ikan dan binatang air lainnya yang berukuran lebih kecil dari bukaan mulutnya, khususnya organisme bentik seperti udang dan kepiting (crustacea), cacing dan larva chironomide (polichaeta), kerang-kerangan (bivalva) serta molusca. Terkadang sidat juga suka memangsa sesamanya. Hewan tersebut akan mencabik-cabik hingga bangkainya hancur dan memakannya sedikit demi sedikit.

Dalam siklus hidupnya ikan ini mengalami enam fase, yaitu telur, pre-leptocephalus, leptocephalus, glass eel, dewasa dan induk. Sidat mempunyai sifat katadromus, yaitu hidup di perairan tawar dan pada saat akan memijah (bereproduksi) sidat bermigrasi sangat jauh ke tengah laut. Sifat ini merupakan kebalikan dari sifat ikan salmon yang bersifat anadromus, yaitu hidupnya di laut dan bermigrasi jauh ke hulu sungai yang sangat jernih untuk memijah. Studi penandaan menunjukkan, bahwa ikan sidat dapat berenang lebih dari 3.000 mil (4.800 km) ke Laut Sargasso.

Perlu waktu yang cukup lama agar sidat sampai di laut lepas. Untuk sampai di muara sungai, sidat harus mampu mengikuti aliran sungai yang sangat deras. Mereka juga harus menuruni air terjun yang sangat tinggi. Setelah sampai di muara sungai, sidat harus menentang gelombang yang sangat besar untuk tiba di tengah laut serta harus beradaptasi dengan perubahan kadar garam.

Peneliti Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (CEFAS) David Righton, seperti dikutip dari BBC News, menyatakan, “ikan sidat hanya bertelur sekali dalam seumur hidup dan setelah itu mereka akan mati. Jadi, sidat akan membuat sebuah perjalanan terakhir dalam hidupnya menuju Laut Sargasso untuk bertemu tujuan hidup mereka”. Itu sebabnya ikan sidat dianggap sebagai ikan yang tangguh.

Seiring meningkatnya permintaan di pasar domestik dan impor, sidat telah dibudidayakan karena memiliki nilai komersil yang sangat tinggi. Beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Cina dan negara-negara di Eropa merupakan negara peminat komoditas ikan sidat.

Mulai Terancam

Terdapat 18 spesies sidat di dunia, antara lain 12 spesies tersebar di daerah tropis, 7 spesies di Pasifik Barat dan perairan Indonesia. Bahkan perairan Indonesia diduga merupakan asal muasal (nenek moyang) sidat di dunia , yaitu Anguilla borneensis. Adapun spesies sidat lain di perairan Indonesia, seperti Anguilla celebesensis (sidat endemik Kalimantan dan Sulawesi); Anguilla interioris, Anguilla obscura (Papua), Anguilla marmorata, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.

A. marmorata merupakan jenis sidat yang masih sering dijumpai di perairan Poso, Sulawesi Tengah. Dalam daftar merah IUCN (International Union for The Conservation of Nature), jenis A. marmorata termasuk beresiko rendah (Least Concern). Berbeda dengan jenis A. celebensis yang dikategorikan kondisinya hampir terancam (Near Threatened). Kecenderungan ancaman yang berkaitan dengan pola penangkapan sidat, dimana tidak memperhatikan aspek kelestarian dapat saja datang setiap waktu.

Sidat yang tertangkap biasanya berukuran dewasa yang akan memijah ke laut, akibatnya jumlah sidat dewasa yang bermigrasi ke laut sangat terbatas jumlahnya. Penggunaan racun, setrum (electrofishing) serta alat tangkap berupa pagar perangkap dari bambu yang pemasangannya menghadang jalur migrasi sidat untuk bereproduksi dikhawatirkan akan mengganggu kelangsungan hidup ikan sidat. Penggunaan alat tangkap tersebut juga akan membunuh biota disekitarnya seperti ikan-ikan kecil, kepiting, siput, katak dan biota lain yang menjadi makanan sidat.

Namun belakangan ini ancaman lain yang lebih besar sudah ada di depan mata, yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sulewana, Kabupaten Pamona Utara dengan memanfaatkan aliran Sungai Poso. Menurut Dr. Anugerah Nontji, PLTA Sulewana ini mulai beroperasi penuh pada tahun 2016 dan dapat memasok daya listrik sebesar 65 megawatt untuk Sulawesi Tengah. Adanya PLTA Sulewana di Sungai Poso ini akan memutus jalur migrasi sidat (Anguilla marmorata) yang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Tentena.

Melihat dari pontensi ancaman penurunan populasi sidat dan konflik kepentingan tersebut, maka ada baiknya nilai-nilai kearifan lokal daerah setempat dapat dibangkitkan kembali dalam upaya pelestarian dan pengelolaan perikanan sidat secara keberlanjutan.

ikan sidat

Penulis: Sarah R. Megumi

Top