Jalak Bali, Si Putih Asli Bali

Reading time: 2 menit
jalak bali
Jalak bali (Leucopsar rothschildi) atau disebut juga Curik Bali merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Pulau Bali bagian Barat. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Uang merupakan alat tukar yang didalamnya tercantum nilai nominal. Pada uang juga terdapat gambar-gambar yang mencerminkan ciri khas negara asal uang tersebut, misalnya budaya, pahlawan nasional, atau satwa khas dari negara yang memproduksi uang tersebut.

Jika diperhatikan, pada uang logam nominal 200 rupiah, terdapat gambar burung Garuda dan Jalak Bali sebagai kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Jalak bali (Leucopsar rothschildi) atau disebut juga Curik Bali merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Pulau Bali bagian Barat. Burung ini juga merupakan satu-satunya satwa endemik Pulau Bali yang masih tersisa setelah harimau bali dinyatakan punah. Sejak tahun 1991, jalak bali dinobatkan sebagai fauna identitas (maskot) provinsi Bali.

Burung kicau periang berwarna putih ini memiliki tubuh berukuran sedang dengan panjang lebih kurang 25 cm. Nama ilmiah Leucopsar rothschildi untuk jalak bali diberikan sesuai dengan nama Walter Rothschild yang pertama kali mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1912.

Jalak bali mudah dikenali dengan ciri-ciri khusus, diantaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Burung ini memiliki pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Individu jantan dan betina tidak dapat dibedakan.

Jalak bali merupakan satwa dengan populasi amat langka dan terancam punah. Diperkirakan jumlah individu jenis ini yang masih mampu bertahan di alam bebas hanya sekitar belasan ekor saja. Karena itu, burung ini memperoleh perhatian cukup serius dari pemerintah Republik Indonesia, yaitu dengan ditetapkannya maskot provinsi Bali tersebut sebagai satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, jalak bali merupakan satwa yang dilarang diperdagangkan kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga (indukan bukan dari alam).

Berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), jalak bali terdaftar pada Apendix I, yaitu satwa yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Sedangkan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) memasukkan jalak bali dalam kategori “kritis” (Critically Endangered) yang merupakan status konservasi yang diberikan terhadap spesies yang memiliki risiko besar akan menjadi punah di alam liar atau akan sepenuhnya punah dalam waktu dekat.

Penurunan populasi jalak bali di habitat aslinya disebabkan oleh deforestasi (penggundulan hutan), perburuan dan perdagangan liar. Untuk menghindari kepunahan satwa ini, telah didirikan pusat penangkaran yang salah satunya berada di Buleleng, Bali sejak tahun 1995. Selain itu, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia juga menjalankan program penangkaran jalak bali.

Tetapi tetap muncul sebuah tanya, mungkinkah beberapa tahun ke depan kita hanya akan menemui jalak bali, Sang Maskot Bali, di balik sangkar-sangkar kebun binatang?

fauna-jalak-bali-si-putih-asli-bali_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

Top