Laba-Laba, Penjebak Mangsa dengan Rumah Sutra

Reading time: 3 menit
sutra
Laba-Laba. Foto: pixabay.com

Siapa yang tidak mengenal hewan laba-laba? Hewan berkaki banyak ini sering dijumpai di sekitar kita. Tidak jarang hewan ini bersarang di rumah dan membuat rumah terkesan kumuh dan kotor. Apabila hewan ini tidak cepat diusir atau dibersihkan maka mereka akan membuat sarang yang lebih besar. Pembahasan artikel ini bukan untuk membicarakan bagaimana tips agar laba-laba tidak bersarang di rumah, melainkan membahas tentang morfologi serta keunikan dari hewan berkaki 8 ini.

Laba-laba termasuk hewan berkaki beruas yang termasuk kedalam bangsa Arachnida. Jenis hewan arthropoda lainnya antara lain kalajengking, tungau dan caplak. Laba-laba termasuk fauna yang unik, karena ia bisa membuat rumah dari benang yang dipintal, benang tersebut keluar dari bagian duburnya (pantat).

Meskipun terlihat rapuh, namun rumah laba-laba sangatlah berbahaya bagi populasi serangga. Rumah laba-laba menjadi alat berburu mangsa. Apabila sudah terjerat maka serangga tersebut tidak dapat melepaskan diri. Laba-laba pun membungkus mangsanya dengan benang sutra yang tebal, kemudian akan menggigitnya dengan gigitan yang mengandung bisa (zat racun).

Benang sutra buatan laba-laba memiliki kekuatan lima kali lebih kuat dibandingkan benang serupa yang terbuat dari baja. Para ilmuwan menemukan jaring laba-laba mengandung dua jenis benang sutra. Jenis pertama adalah benang sutra kaku dan kering yang disusun dari titik pusat ke arah tepian jaring.

Kemudian, jenis kedua adalah benang sutra yang lebih tipis dan lengket, dikenal dengan istilah ‘sutra lengket’. Benang sutra jenis ini disusun melingkar menempel pada susunan pertama dari bahan sutra kering. Kegunaannya adalah untuk menjebak mangsa yang tersangkut pada jaring laba-laba.

sutra

Laba-laba membangun sarangnya dengan sutra. Sarang ini juga sekaligus alat untuk menjebak mangsa. Foto: pixabay.com

Sutra laba-laba telah menjadi komponen penting untuk keperluan medis dan industri. Seperti yang dilansir oleh laman nationalgeographic.co.id, sutra laba-laba biasanya digunakan untuk membuat ligamen palsu, memperbaiki rahang dan untuk menjahit mata. Bahkan sutra laba-laba digunakan sebagai bahan produk industri seperti rompi anti peluru dan airbag. Keunikan lainnya ialah nama laba-laba juga menjadi salah satu judul surat dalam Al-Quran (Kitab Suci Umat Islam) yaitu ‘Al-ankabut’ yang berarti laba-laba.

Laba-laba memiliki beragam ukuran dan jenis. Seperti laba-laba ‘Janda Hitam’, laba-laba ini mempunyai warna tubuh hitam sesuai dengan namanya. Perutnya bulat dan memiliki gigitan berbisa yang dapat menyebabkan rasa mual serta mati rasa di sebagian tubuh.

Adapun jenis laba-laba yang terkenal akan nama serta bentuknya yang besar yaitu tarantula. Laba-laba tarantula mencari mangsa dengan cara berburu. Menariknya, laba-laba ini pada mulanya disebut sebagai laba-laba serigala (Lycosa tarantula). Orang yang terkena gigitan tarantula disebut tarantisme.

Awalnya laba-laba ini pernah ditemukan di Taranto, selatan Italia. Konon, pada abad ke 15 hingga abad ke 17 masyarakat setempat melakukan sebuah tradisi untuk menghindari kematian akibat gigitan tarantula. Korban yang terkena gigitan harus menari dan melakukan gerakan seperti berlari, melompat-lompat sambil mengeluarkan suara yang aneh. Hal tersebut merupakan bagian dari terapi penyembuhan, yang kemudian menjadi sebuah tarian tradisional dengan nama ‘tarantella’.

Di sisi lain, laba-laba juga mempunyai bermacam sifat. Laba-laba tidak pandang bulu untuk menyantap sesamanya. Umumnya laba-laba betina suka memakan laba-laba jantan yang baru mengawininya, ia pun sengaja memakan anak-anaknya yang baru lahir. Namun, tidak semua jenis laba-laba betina memiliki kebiasaan yang sama dengan memakan jantan atau anaknya. Ada juga laba-laba betina yang bertelur, lalu menyimpan telurnya pada punggung laba-laba jantan. Bersama mereka menjaga telur laba-laba itu, mulai dari telur tersebut menetas hingga menjadi dewasa.

Beberapa organisasi dunia di bidang konservasi fauna mengkategorikan sebagian spesies laba-laba berstatus langka dan terancam kepunahan, seperti jenis Microhexura montivaga (terdaftar Endangered Species Act tahun 1973, bentuknya mirip tarantula kecil), Adelocosa anops (terdaftar IUCN tahun 2010, laba-laba yang hanya ditemukan di wilayah Kauai, Hawaii), Latrodectus katipo (laba-laba langka berasal dari New Zealand), Meta dolloff (terdaftar IUCN Red List tahun 2000, hanya ditemukan di gua wilayah Santa Cruz, California), dan Dolomedes plantarius (terdaftar di IUCN Red List, populasi tersebar di wilayah Eropa).

sutra

Penulis: Sarah R. Megumi

Top