Monyet Hitam Sulawesi, Si Hitam Berjambul

Reading time: 2 menit
monyet hitam sulawesi
Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra). Foto: wikimedia commons

Sebagian besar jenis primata di Indonesia berstatus dilindungi termasuk monyet hitam sulawesi. Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Permen LHK No. 20 tahun 2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Populasi monyet ini diperkirakan kurang dari 100.000 ekor sejak tahun 1998.

Monyet yang dikenal dengan nama “yaki” ini merupakan satu dari delapan jenis Macaca endemik Sulawesi yang dapat dijumpai di wilayah Sulawesi Utara, antara lain di Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Menembo Nembo, Kota Mobagu dan Modayah (Supriyatna dan Wahyono, 2000).

Saat ini jumlah monyet hitam sulawesi semakin berkurang bahkan menghadapi kepunahan. Aktivitas perburuan liar menjadi faktor terbesar berkurangnya populasi monyet jenis ini di alam. Daftar merah IUCN telah lama memasukkan monyet hitam sulawesi dalam daftar status konservasi Critically Endangered (kritis). CITES juga memasukkan satwa endemik ini dalam Apendix II, yang artinya spesies ini tidak segera terancam punah tetapi akan terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Secara morfologi, tinggi monyet hitam sulawesi sekitar 44-60 cm dengan berat badan 7-15 kg. Tubuh dan wajah monyet ini berwarna hitam kecuali bokongnya yang berwarna merah muda. Bulu di punggungnya lebat dan mempunyai tekstur yang halus. Ia juga memiliki jambul di depan kepalanya.

monyet hitam sulawesi

Mengutu (grooming) adalah salah satu cara monyet hitam sulawesi bersosialisasi. Foto: flickr

Monyet hitam sulawesi merupakan primata yang hidup berpasangan dan berkelompok (multimale-multifemale). Pendekatan sosial monyet ini dilakukan dengan cara mengutu (grooming). Cara berinteraksi monyet ini dengan mengeluarkan suara, menonjolkan postur tubuh dan berekspresi lewat mimik muka. Biasanya monyet jenis jantan akan berkelahi untuk memperebutkan wilayah, pakan dan betina (Cawthon, 2006).

Satwa ini aktif di pagi sampai sore hari (diurnal). Di alam, kawanan monyet ini dapat dijumpai pada hutan primer dan sekunder. Wilayah jelajahnya berkisar antara 114 hingga 320 hektare dengan jangkauan jelajah harian mencapai 6 km.

Monyet ini termasuk pemakan buah-buahan atau menjadikan buah sebagai makanan utamanya. Mereka akan memakan buah sebanyak 60-90% dari total konsumsi pakannya. Selain buah, monyet ini kadang-kadang memangsa serangga kecil. Beberapa jenis serangga yang dimakan antara lain tawon, rayap, ulat dalam gulungan daun (Pongamia sp.), lebah, semut, dan belalang.

Monyet hitam sulawesi banyak diperdagangkan di sejumlah pasar seperti di Minahasa dan Tomohon. Dilansir pada laman rappler.com, warga setempat sangat menyukai daging monyet hitam sulawesi. Meski pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Daerah yang melarang konsumsi daging tersebut namun warga tetap mengonsumsi karena sudah menjadi bagian dari tradisi.

Saat ini semakin banyak lembaga-lembaga konservasi yang mengedepankan perlindungan monyet hitam sulawesi dengan tujuan menjaga populasi satwa ini di alam. Upaya konservasi yang dilakukan antara lain dengan memelihara satwa ini di alam (insitu) dan di luar habitatnya (exsitu). Disamping itu, penguatan hukum terhadap pelaku kejahatan satwa liar menjadi poin tambah untuk mengurangi kepunahan monyet hitam di alam.

monyet hitam sulawesi

 

Penulis: Sarah R. Megumi

Top