Wisata - Greeners.Co https://www.greeners.co/gaya-hidup/category/wisata/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 07 Sep 2023 08:48:59 +0000 id hourly 1 Walking Tour, Wisata yang Menyehatkan dan Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/#respond Wed, 23 Aug 2023 05:22:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=41283 Tren wisata ramah lingkungan dengan konsep berjalan kaki (walking tour) kini semakin marak terjadi di kota-kota besar. Ada banyak manfaat dari konsep wisata jalan kaki ini. Wisatawan dapat berwisata dengan […]]]>

Tren wisata ramah lingkungan dengan konsep berjalan kaki (walking tour) kini semakin marak terjadi di kota-kota besar. Ada banyak manfaat dari konsep wisata jalan kaki ini. Wisatawan dapat berwisata dengan lebih sehat, rendah emisi, dan terhubung dekat bersama masyarakat lokal.

Sobat Greeners, siapa sih yang tidak suka berwisata? Tentu saja, sebagian besar dari kalian pasti senang berpergian wisata ke suatu tempat. Namun, kamu perlu coba wisata walking tour, ya. Konsep wisata ini tidak hanya sehat, melainkan juga bebas emisi. Dengan cara ini, kamu bisa menjaga lingkungan bebas dari polusi.

Pemandu Wisata Bandung Good Guide, Rifqi mengungkapkan konsep walking tour merupakan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebab, dalam wisata ini pihak penyelenggara menerapkan konsep jalan kaki selama kegiatan wisata berlangsung.

Mereka juga mengajak peserta untuk membawa tumbler air minum dan merekomendasikan menggunakan transportasi umum untuk sampai ke titik pertemuan wisata walking tour.

Misalnya, ajak teman-teman membawa tumbler di undangan kita. Kemudian, kita ajak untuk pakai transportasi umum dan kita juga kerja sama bareng komunitas yang bergiat dalam lingkungan,” kata Rifqi kepada Greeners saat walking tour di Kota Bandung baru-baru ini. 

BACA JUGA: Lebih Sehat dengan Berjalan Kaki di Pagi Hari

Selain ramah lingkungan, jalan kaki juga mendekatkan pengunjung dengan lingkungan. Mereka pun memiliki kesempatan untuk mengenal masyarakat lokal secara langsung. 

Melansir bandungwalkingtour.id, dengan mengikuti walking tour, peserta dapat merasakan kehidupan sehari-hari penduduk lokal, mengeksplorasi sudut-sudut tersembunyi dari destinasi wisata, dan mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang budaya setempat.

Tim Greeners berkunjung ke Pabrik Tahu Talaga.

Tim Greeners berkunjung ke Pabrik Tahu Talaga. Foto: Stanly Pondaag

Sejak masa pandemi, wisata walking tour telah menjadi tren yang berkembang bagi wisatawan domestik maupun macanegara. Berdasarkan pengamatan salah satu operator wisata jalan kaki di Indonesia, Bandung Good Guide menyimpulkan, wisatawan kini menginginkan pengalaman yang lebih mendalam, menjauh dari tempat-tempat wisata konvensional, dan mencoba sesuatu yang lebih otentik.

Wisata Menyehatkan

Tidak sekadar ramah lingkungan, wisata berjalan kaki atau walking tour ini juga menyehatkan. Oleh karena itu, sangat cocok bagi Sobat Greeners yang ingin berolahraga sambil berwisata.

Wisata jalan kaki adalah cara yang bagus untuk menjaga kebugaran tubuh. Kegiatan tersebut seperti berolahraga yang sekaligus menyajikan pemandangan menarik dan menambah wawasan pada saat yang bersamaan.

Manfaat jalan kaki juga dapat meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan risiko penyakit kronis, meningkatkan kesehatan mental, meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan, dan meningkatkan kebugaran umum.

Saat mengikuti tur jalan kaki, wisatawan dapat menggabungkan manfaat kesehatan fisik dan mental dari jalan kaki dengan pengalaman perjalanan yang mendalam.

Mereka dapat menikmati keindahan ruang terbuka kota, merasakan kenyamanan perjalanan yang lambat, serta merasakan keunikan budaya dan fakta-fakta menarik di sekitar mereka.

Walking Tour di Kota Bandung

Dalam agenda Greeners.Co Editorial Trip, Greeners.Co berkeliling Kota Bandung dengan mengunjungi beberapa spot pilihan bersama Bandung Good guide. Selain itu, kota ini juga terkenal akan surga kuliner yang banyak diincar oleh para wisatawan.

Tim Greeners.Co pun ikut kegiatan walking tour untuk mengenal berbagai kuliner legendaris di Kota Bandung. Koffie Fabriek Aroma atau Kopi Aroma menjadi tempat pertama yang Greeners.Co kunjungi.

Berdiri pada tahun 1930, kedai kopi ini berada di Jalan Banceuy No.51, Kota Bandung. Kedai kopi yang didirikan oleh Tan Houw Sian hanya menjual kopi dalam bentuk biji dan bubuk kopi.

BACA JUGA: GeoAdvenTour, Wisata Menjaga Taman Bumi dengan Ilmu Kebumian

Greeners.Co kemudian mengunjungi Tahu Yun Sen atau dikenal juga dengan Tahu Talaga. Pabrik sekaligus toko tahu ini berdiri sejak tahun 1923. Uniknya, ampas atau sisa dari proses pembuatan tahu telah dikelola secara bertanggung jawab agar tidak berujung merusak lingkungan.

“Limbah atau ampas tahu ini sudah ada pengepulnya di kami. Kemudian, biasanya dibuat menjadi pupuk atau pakan ternak,” kata pemilik Tahu Talaga, Hendra Gunawan kepada Greeners.co baru-baru ini.

Saat menuju ke lokasi selanjutnya, pemandu wisata menyuguhkan banyak cerita sejarah kepada tim Greeners.Co selama walking tour. Kegiatan ini telah menjadi ajang jalan-jalan yang menarik untuk menambah wawasan sejarah dan melihat Kota Bandung lebih dekat.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/walking-tour-wisata-yang-menyehatkan-dan-ramah-lingkungan/feed/ 0
Mengarak Naga, Meruwat Umbul Gemulo https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/#respond Wed, 12 Nov 2014 07:15:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_travel&p=6406 Batu (Greeners) – Sebuah lesung berkepala naga meliuk-liuk di jalanan. Di bawah kepalanya terdapat sebuah gentong kecil berisi air dari tujuh sumber mata air keramat di Jawa Timur yang dinamakan […]]]>

Batu (Greeners) – Sebuah lesung berkepala naga meliuk-liuk di jalanan. Di bawah kepalanya terdapat sebuah gentong kecil berisi air dari tujuh sumber mata air keramat di Jawa Timur yang dinamakan “banyu tuwuh”. Di kiri dan kanan lesung yang panjangnya sekitar empat meter, berjejer tumpeng dari hasil bumi warga tiga dusun di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Tumpeng terdiri dari tumpeng jajanan pasar, tumpeng polo pendem, dan tumpeng gunungan nasi kuning dan nasi putih. Aneka kudapan dan lauk juga menghiasi tumpeng tersebut.

Tumpeng dan air tuwuh dari tujuh sumber mata air yang dijaga Naga ini diarak keliling dusun mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo yang selama ini menjadi sumber penghidupan pertanian warga dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Sumber air Umbul Gemulo saat ini debit airnya mencapai 179 liter/detik. Sumber ini pula yang menjadi tumpuan sekitar enam ribu warga Desa Bulukerto dan enam desa lainnya, seperti Desa Sidomulyo, Bumiaji, Pandanrejo, Sisir, Mojorejo, dan Pendem. PDAM Kota Batu yang airnya disuplai ke masyarakat Kota Batu juga mengambil air dari sumber Umbul Gemulo ini.

Lesung kepala naga diarak keliling tiga dusun yang juga mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo. Di belakangnya, berbagai grup kesenian jaranan, bantengan, serta tari-tarian turut mengarak lesung kepala naga. Setelah mengelilingi sumber mata air Umbul Gemulo, sesepuh desa dan masyarakat menggelar kenduri di sekitar sumber mata air dan makanannya dimakan bersama-sama sebagai ucapan rasa syukur.

Saat kenduri, tiga macam tumpeng juga dibagikan di perempatan tiga dusun yang dilewati. Sisanya dimakan bersama di Balai Desa Bulukerto untuk masyarakat yang tidak kebagian tumpeng di perjalanan.

Selain itu, ada juga pembagian banyu tuwuh atau air bertuah yang berasal dari tujuh sumber mata air yang dipercaya bisa memberi keberkahan di Jawa Timur. Di antaranya berasal dari Pacitan, Ponorogo, dan Madiun. Air ini dibagikan kepada masyarakat yang ingin mendapatkan berkahnya. Secara bergantian, mereka meminta air yang sejak awal acara ditempatkan di bawah kepala naga.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengarak-naga-meruwat-umbul-gemulo/feed/ 0
Melarung Hasil Bumi di "Tanah Hila-hila" Suku Tengger https://www.greeners.co/gaya-hidup/melarung-hasil-bumi-di-tanah-hila-hila-suku-tengger/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melarung-hasil-bumi-di-tanah-hila-hila-suku-tengger https://www.greeners.co/gaya-hidup/melarung-hasil-bumi-di-tanah-hila-hila-suku-tengger/#comments Fri, 03 Oct 2014 03:05:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_travel&p=6017 Malang (Greeners) – Gunung Bromo merupakan salah satu gunung di Indonesia yang terkenal dengan panorama yang indah. Tak heran, ribuan orang dari dalam maupun luar negeri kerap mengunjungi gunung yang […]]]>

Malang (Greeners) – Gunung Bromo merupakan salah satu gunung di Indonesia yang terkenal dengan panorama yang indah. Tak heran, ribuan orang dari dalam maupun luar negeri kerap mengunjungi gunung yang dianggap suci bagi orang Tengger, suku asli yang mendiami kawasan tersebut sejak ratusan tahun lalu.

Bagi Suku Tengger, kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya merupakan daerah yang sakral. Suku ini menyebut kawasan Bromo sebagai “tanah hila-hila” yang berarti tanah suci.

Foto: greeners.co

Kawasan Gunung Bromo tidak pernah sepi dari wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Foto: greeners.co

Di kawasan ini, berbagai gelaran upacara adat dilakukan oleh Suku Tengger, suku yang bermukim di lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Setidaknya ada upacara adat yang setiap tahun digelar di kawah Gunung Bromo, yaitu upacara Yadnya Kasada.

Upacara Yadnya Kasada merupakan salah satu upacara terbesar bagi Suku Tengger dan dilakukan di Pura Agung yang berada di tengah-tengah lautan pasir Bromo. Ribuan Suku Tengger yang bermukim di puluhan desa secara bergantian meminta berkah doa dari Dukun Tengger yang selanjutnya melarung berbagai hasil pertanian dan ternak ke kawah Gunung Bromo.

Upacara ini diselenggarakan setahun sekali pada malam purnama di bulan Kasada menurut penanggalan Tengger.

Untuk mengikuti upacara ini, mereka ada yang berjalan kaki, naik motor, maupun rombongan dengan naik mobil bak terbuka, menyeberangi lautan pasir. Tiba di kaki gunung Bromo, mereka kemudian menapaki anak tangga menuju kawah untuk melarung hasil pertanian dan peternakan.

Mereka percaya, dengan melarung hasil pertanian dan peternakan, mereka akan diberi keselamatan dan lancar dalam mencari rezeki.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/melarung-hasil-bumi-di-tanah-hila-hila-suku-tengger/feed/ 2
Menelusuri Jejak Hutan Keramat Dusun Kuta https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-jejak-hutan-keramat-dusun-kuta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menelusuri-jejak-hutan-keramat-dusun-kuta https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-jejak-hutan-keramat-dusun-kuta/#respond Sun, 21 Sep 2014 15:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_travel&p=5885 Ciamis (Greeners) – Jika berkunjung ke daerah wisata budaya di Dusun Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, maka jangan lupa untuk memasuki wilayah hutan keramatnya. Hutan […]]]>

Ciamis (Greeners) – Jika berkunjung ke daerah wisata budaya di Dusun Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, maka jangan lupa untuk memasuki wilayah hutan keramatnya.

Hutan yang dijaga dan dipercaya sebagai tempat penyimpanan peninggalan Prabu Ajar Sukaresi, leluhur dari masyarakat adat Kampung Kuta ini, memiliki daya tarik wisata mistis dan budaya untuk didatangi.

Bagi pengunjung yang ingin memasuki hutan tersebut, mereka harus ditemani oleh kuncen atau juru kunci setempat dan hanya boleh dilakukan pada hari Senin dan Jumat. Sedangkan untuk mencapai Kampung Kuta, saya dan rombongan harus menempuh perjalanan darat dari Kota Ciamis dengan jarak tempuh 34 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar tiga jam.

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Juru Kunci melakukan ritual buka pintu sebagai syarat untuk memasuki hutan keramat Dusun Kuta. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Lokasi kampung tersebut berada di Iembah yang cukup curam dengan kedalaman kurang lebih 75 meter dan dikelilingi oleh tebing-tebing serta perbukitan. “Dalam bahasa Sunda disebut Kuta (artinya pagar tembok),” ujar Karman selaku Ketua Adat Dusun Kutasari saat saya sedang berbincang santai dengannya.

Masyarakat Adat Kutasari sangat patuh dan selalu menjaga hutan keramat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hutan seluas 40 hektare ini sangat terpelihara dengan baik karena masyarakatnya percaya bahwa merusak hutan hanya akan membawa kemurkaan para leluhur dan mendatangkan malapetaka.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-jejak-hutan-keramat-dusun-kuta/feed/ 0
Menelusuri Kisah Air Kali Brantas https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-kisah-air-kali-brantas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menelusuri-kisah-air-kali-brantas https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-kisah-air-kali-brantas/#respond Sun, 22 Jun 2014 00:30:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_travel&p=4907 Jawa Timur (Greeners) – Kali Brantas merupakan sebuah sungai terlebar dan terpanjang di Jawa Timur. Peran Kali Brantas sangat vital karena fungsinya sebagai sumber bahan baku air minum serta digunakan […]]]>

Jawa Timur (Greeners) – Kali Brantas merupakan sebuah sungai terlebar dan terpanjang di Jawa Timur. Peran Kali Brantas sangat vital karena fungsinya sebagai sumber bahan baku air minum serta digunakan untuk mengairi sawah dan PLTA, diantaranya Selorejo, Sutami, Lahor, dan Sengguruh. Meskipun perannya sangat vital, Kali Brantas tak luput dari masalah pencemaran air yang sumbernya berasal dari limbah rumah tangga dan industri. Di balik masalah pencemaran ini, Kali Brantas memiliki daya tarik tersembunyi untuk menjadi salah satu tujuan wisata.

Sejak tahun 2010, ECOTON, sebuah lembaga swadaya masyarakat, mengembangkan ekowisata Brantas Hulu-Hilir bersama masyarakat lokal. Inti dari kegiatan ekowisata ini adalah menggali kisah air dan Kali Brantas, dan tentu saja berkaitan juga dengan kisah-kisah lainnya seperti hutan dan budaya masyarakat lokal.

Saat ini, ada 3 lokasi tujuan Wisata Brantas. Tujuan pertama adalah Desa Bendosari yang terletak di kabupaten Malang. Dengan 56 mata air yang terdapat di desa ini, pengunjung dapat dengan puas mengeksplorasi kisah tentang air. Suasana semakin sejuk dengan suguhan indahnya pemandangan hutan dan kebun para petani di lereng Gunung Kawi.

Foto: ECOTON.

Foto: ECOTON.

Tak hanya menikmati keindahan pemandangan alam, pengunjung juga bisa melakukan beberapa kegiatan seru, seperti trekking menyusuri sembilan mata air dan bermain di Air Terjun Coban Sewu, memerah susu sapi dan belajar tentang biogas dari pemanfaatan limbah kotoran sapi, serta belajar tentang pemanfaatan air untuk pembangkit listrik mikrohidro. Jika berkunjung di musim panen apel, pengunjung bisa menikmati segarnya buah apel malang yang dipetik sendiri langsung dari pohonnya.

Tujuan kedua Wisata Brantas adalah Wonosalam, kabupaten Jombang. Letaknya yang berada di lereng Gunung Anjasmoro membuat udara di Wonosalam sangat sejuk dan segar. Lokasi yang jaraknya tidak jauh dari Malang ini, hanya sekitar 1,5 jam waktu tempuh perjalanan, menawarkan kegiatan interaktif dengan masyarakat lokal.

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/menelusuri-kisah-air-kali-brantas/feed/ 0
Dieng; Menapaki Negeri Para Dewa Part III https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-iii/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-iii https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-iii/#respond Tue, 15 Apr 2014 11:02:28 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_travel&p=4348 Manisan Pepaya Gunung Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi suatu daerah tanpa mencoba makanan khas daerah tersebut. Selain gorengan daun wortel yang sudah kami cicipi di Dieng Plateu Teater, kami mencoba […]]]>

Manisan Pepaya Gunung

Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi suatu daerah tanpa mencoba makanan khas daerah tersebut. Selain gorengan daun wortel yang sudah kami cicipi di Dieng Plateu Teater, kami mencoba untuk mencari kuliner khas Dieng lainnya.

Malam itu, kami memesan Mie Ongklok sebagai menu makanan utama. Hidangan ini merupakan mie yang dimasak dengan kuah kental dan sayuran. Agar lebih nikmat, sate sapi menjadi pelengkap dalam bersantap. Untuk cemilan, kami mencoba Tempe Kemul. Tempe ini ini tampilannya seperti gorengan tempe pada umumnya, namun tepung yang menyelimutinya lebih banyak dari biasanya. Ada pula minuman khas Dieng, yaitu Purwaceng. Minuman yang terbuat dari ginseng ini cukup ampuh menghangatkan tubuh.

Pada pukul tiga dini hari, kami sudah bersiap menuju Gunung Sikunir. Dari penginapan, kami berangkat menuju Desa Sembungan tempat dimana Puncak Sikunir berada. Dari Desa Sembungan menuju Puncak Sikunir sebetulnya hanya memakan waktu sekitar setengah jam karena jalurnya sudah nyaman didaki. Namun karena waktu itu ramai pengunjung, diperlukan waktu yang lebih lama bagi kami untuk tiba di puncak.

Sesampainya di puncak, kami bisa menikmati matahari terbit. Indah sekali melihat fajar diantara pegunungan. Sekitar jam 8 pagi kami mulai menuruni Gunung Sikunir, sebelum kembali ke homestay kami mengunjungi Telaga Cebong dulu di Desa Sembungan.

Setelah selesai packing, kami menyempatkan diri belanja oleh-oleh terlebih dahulu. Kami membeli Carica, yaitu manisan pepaya gunung yang rasanya sangat enak dan segar. Ada juga keripik kentang dan penganan khas lainnya.

Sebelum pulang, kami mengunjungi Tuk Bimo Lukar terlebih dahulu. Lokasinya tidak begitu jauh dari pertigaan Dieng ke arah Wonosobo. Air mancur ini dipercaya bisa membuat awet muda jika mencuci muka disini. Di tengah perjalanan menuju Wonosobo, kami berhenti sebentar di Tieng untuk mengunjungi Gardu Pandang Tieng. Disini kami bisa melihat kota Wonosobo dari ketinggian.

Waktu untuk pulang pun tiba. Walaupun singkat, namun menghabiskan akhir pekan di Dieng cukup menyegarkan pikiran dan mengembalikan semangat untuk menjalani rutinitas. Semoga keindahan alam Dieng tetap terjaga karena Saya ingin bisa kembali lagi kesini untuk menikmati kesejukan dan keindahan alamnya tanpa diganggu sampah maupun coretan tangan yang tak bertanggung jawab di setiap objek wisata.

Penulis: Aghnia Fasza

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-iii/feed/ 0
Dieng; Menapaki Negeri Para Dewa Part II https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-ii/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-ii https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-ii/#respond Fri, 21 Mar 2014 06:52:10 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_travel&p=4172 Banyak peninggalan sejarah pada zaman keemasan Hindu-Budha ada di Dieng]]>

Antara Air dan Mitos Dieng

Pagi itu kami langsung berkeliling Dieng. Banyak peninggalan sejarah pada zaman keemasan Hindu-Budha ada di sini. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Arjuna. Candi ini merupakan candi Hindu tertua di Indonesia yang hingga kini masih sering dipakai untuk ibadah dan ziarah umat Hindu. Di kompleks percandian ini terdapat beberapa candi selain Candi Arjuna. Candi tersebut bernama Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra dan Candi Semar. Area ini juga dijadikan sebagai lokasi utama ritual pemotongan rambut Anak Gimbal yang biasa diadakan pada pertengahan tahun dalam Dieng Culture Festival.

Ada hal unik seputar Candi Arjuna. Mitosnya, jika pengunjung membuka telapak tangannya di dalam Candi Arjuna dan ada air yang menetes ke telapak tangan orang tersebut dari atap candi, maka keinginan mereka akan terkabul. Entahlah bagaimana kebenarannya. Saya sendiri tidak mendapati telapak tangan Saya dijatuhi tetesan air.

Setelah puas melihat candi, kami mengunjungi Telaga Warna. Telaga ini menjadi salah satu objek wisata yang terkenal di Dieng karena warna airnya yang dapat berubah-ubah tergantung cuaca. Di sebelah Telaga Warna terdapat Telaga Pengilon. Seperti halnya Candi Arjuna, telaga ini juga memiliki mitos. Danau ini diyakini dapat mencerminkan hati seseorang yang berkaca di airnya. Jika hati orang tersebut bersih, orang itu akan terlihat cantik atau tampan, namun jika hati orang tersebut buruk, wajahnya akan terlihat jelek.

Dieng Plateau Theater merupakan tujuan kami selanjutnya. Disini kami bisa menonton film tentang sejarah Dataran Tinggi Dieng. Sambil menonton kami juga bisa menikmati gorengan khas Dieng yang dijajakan di luar teater, seperti kentang goreng, jamur crispy, bayam goreng, dan yang paling unik adalah gorengan daun wortel.

Sehabis menonton, kami trekking ke belakang teater. Sedikit menanjak melalui perkebunan warga menuju Batu Ratapan Angin. Dari batu ini, kami bisa melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Suguhan pemandangan alam yang sungguh indah membuat kami tanpa sadar terlalu lama berfoto-foto disini.

Kami mengunjungi Kawah Sikidang sebagai penutup penjelajahan hari itu. Kawah ini sangat unik karena pusat semburan kawahnya berpindah-pindah. Itu sebabnya kawah ini dinamakan Sikidang yang berarti ‘Kijang,’ karena kawah ini berpindah-pindah layaknya kijang yang meloncat-loncat.

Setelah puas seharian menjelajah Dieng, kami beristirahat dengan nyaman di homestay. Sambil sedikit berbincang, kami menghangatkan tubuh kami dengan anglo. Anglo merupakan tungku perapian yang terbuat dari tanah liat dan disumbui dengan arang. Malam itu kami tidak tidur terlalu larut karena kami masih harus bangun keesokan harinya untuk mengejar matahari terbit di Puncak Sikunir.

Identitas suatu daerah dapat dikenali dari makanan khasnya. Selain gorengan daun wortel, kuliner unik apalagi yang ditawarkan Dieng?

Penulis: Aghnia Fasza

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa-part-ii/feed/ 0
Dieng; Menapaki Negeri Para Dewa Part I https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dieng-menapaki-negeri-para-dewa https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa/#respond Thu, 20 Mar 2014 09:43:22 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_travel&p=4160 Berada pada ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng menjadi desa tertinggi di Pulau Jawa.]]>

Akhir pekan merupakan saat yang dinanti-nanti untuk melepas penat setelah sepekan penuh menjalani rutinitas yang cukup menjemukan. Kali ini, Saya berencana untuk menjelajahi Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Bayangan akan menghirup udara yang bersih dan sejuk serta melihat pemandangan alam yang luar biasa indah menjadi motivasi Saya melakukan perjalanan ini.

Berada pada ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng menjadi desa tertinggi di Pulau Jawa. Saking tingginya, desa ini kerap kali nampak seperti berada di atas awan. Tak heran jika Dieng mendapat sebutan sebagai Negeri Para Dewa. Kata Dieng sendiri berasal dari kata ‘Di Hyang’ dalam bahasa Sunda, yang dapat diartikan ‘seperti di khayangan’.

Hari Jum’at jam 5 sore, Saya sudah berada di Terminal Cicaheum, Bandung, bersama beberapa orang teman. Untuk mencapai wilayah Dieng, kami memilih masuk melalui Kabupaten Wonosobo meski secara admistratif Dieng juga termasuk dalam Kabupaten Banjarnegara.

Sore itu, bus Sinar Jaya jurusan Bandung-Wonosobo yang kami tumpangi beranjak meninggalkan terminal tepat pukul 18.00 WIB. Lama perjalanan yang memakan waktu hingga 10 jam dengan bus menjadi pertimbangan kami melakukan perjalanan di malam hari. Kami jadi punya waktu untuk beristirahat sehingga kami memiliki cukup tenaga esok harinya.

Matahari masih belum tampak saat kami tiba di Wonosobo, sedangkan jam operasional bus tujuan Dieng baru mulai beroperasi pukul 6 pagi. Mau tidak mau kami harus menunggu selama dua jam dalam dinginnya udara pagi. Beruntung, kami dapat membeli gorengan hangat dan kopi panas untuk menghangatkan tubuh.

Pagi pun tiba. Kami langsung mengambil bus pertama menuju Dieng. Sesampainya di Dieng, mencari penginapan disekitar pertigaan Dieng menjadi kesibukan kami selanjutnya. Penginapan di kawasan ini cukup banyak dan harga sewa per kamarnya juga cukup terjangkau.

Awalnya kami ingin menginap di penginapan Bu Jono yang cukup terkenal, namun tempat itu sudah penuh dengan turis bule. Setelah berkeliling mencari, akhirnya kami menginap di Dahlia Homestay yang berada di dekat mini market. Dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan air hangat, homestay ini juga menyediakan sarapan dan kopi serta teh setiap waktu. Senangnya!

Dieng tidak hanya mempunyai pemandangan yang luar biasa, ia juga menyimpan mitos yang tak lekang oleh jaman. Seperti apa mitosnya? (Aghnia Fasza)

dieng-lokasi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/dieng-menapaki-negeri-para-dewa/feed/ 0
Bikecamping; Bersepeda dan Berkemah Sekali Jalan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikecamping-bersepeda-dan-berkemah-sekali-jalan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikecamping-bersepeda-dan-berkemah-sekali-jalan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikecamping-bersepeda-dan-berkemah-sekali-jalan/#comments Sat, 08 Mar 2014 11:26:03 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_hobby&p=4058 (Greeners) – Ada satu genre yang tengah berkembang dalam dunia pesepeda di Indonesia yang saat ini tengah cukup tinggi peminatnya. Bikecamping. Ya, dari namanya saja sudah jelas aktifitas ini menggabungkan […]]]>

(Greeners) – Ada satu genre yang tengah berkembang dalam dunia pesepeda di Indonesia yang saat ini tengah cukup tinggi peminatnya. Bikecamping. Ya, dari namanya saja sudah jelas aktifitas ini menggabungkan Biking (bersepeda) dengan Camping (Berkemah). Istilah Bikecamping sangat berkaitan erat juga dengan Bikepackers yang juga merupakan gabungan antara Biking dengan Packers (istilah pembawa barang).

Hobi ini bisa dibilang cukup unik dan sangat menantang. Selain jalurnya yang kebanyakan naik (nanjak) menjajal jalur menuju kawasan gunung, pesepeda harus juga membawa perlengkapan berkemah seperti tenda, pakaian, makanan, kantung tidur (sliping bag), dan perlengkapan lainnya yang dikemas dalam tas pannier tergantung pada rak di bagian belakang sepeda.

Dalam pantauan Greeners, terdeteksi beberapa komunitas Bikecamping ini cukup merata di beberapa kota, terutama kota yang berdekatan dengan beberapa kawasan camping ground. Contohnya di kota Bandung yang terkenal dikelilingi oleh kawasan tinggi perbukitan dan pegunungan yang biasa dijadikan kawasan camping.

situ-cisanti

Seorang pehobi Bikecamping dari Bandung yang akrab dipanggil Kang Dancun mengatakan bahwa esensi dari hobi Bikecamping adalah menikmati perjalanan menuju target lokasi dengan penuh perjuangan. “Berat memang, tapi disitulah nikmatnya, belajar bahwa setiap kayuhan akan membawa kita lebih dekat ke tujuan, dan ketika tiba akan terbayar semua lelah sepanjang jalan karena kita akan tiba ditempat yang indah, segar dan nyaman” jelasnya.

Berbeda dengan Irman yang juga seorang pehobi Bikecamping, baginya hobi ini merangkum kegiatan bersepeda dan berkemah menjadi satu, sehingga dalam satu perjalanan mendapatkan dua kepuasan aktifitas. Diatas sepedanya pehobi bisa memperhatikan lingkungan sepanjang jalan yang dilalui, melihat kondisi masyarakat secara langsung. “Pokoknya beda sensasinya, lelah tapi sangat puas” tambah Irman. Dan bagi sebagian pehobi kegiatan outdoor, lelah merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

Tentu sikap peduli lingkungan senantiasa menjadi dasar dalam melaksanakan hobi ini. “Ya jelaslah lingkungan harus dijaga, apalagi kami sebagai pelaku dilapangan, jangan meninggalkan sampah yang tidak bisa terurai secara alami, jangan merusak jalur, apalagi sampai menebang pohon, kalau sampai ekosistemnya terganggu mana bisa kita camping lagi” tegas Irman.

Tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang aktifitas ini? Tunggu liputan kami bersama sebuah komunitas Bikecamping yang akan mengayuh sepeda menuju Situ Cisanti. Nantikan di rubrik hobby Greeners selanjutnya.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikecamping-bersepeda-dan-berkemah-sekali-jalan/feed/ 2
Mencoba Ekowisata di Hutan Gambut Bukit Batu Riau https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencoba-ekowisata-di-hutan-gambut-bukit-batu-riau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mencoba-ekowisata-di-hutan-gambut-bukit-batu-riau https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencoba-ekowisata-di-hutan-gambut-bukit-batu-riau/#respond Tue, 30 Oct 2012 03:51:23 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3138 Pekanbaru (Greenersmagz) – Bagaimana rasanya berwisata dan berpetualang di hutan gambut?  Itulah yang ditawarkan oleh pengelola Cagar Biosfer blok Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu Riau.  Ekowisata di lahan gambut itu […]]]>

Pekanbaru (Greenersmagz) – Bagaimana rasanya berwisata dan berpetualang di hutan gambut?  Itulah yang ditawarkan oleh pengelola Cagar Biosfer blok Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu Riau.  Ekowisata di lahan gambut itu digagas oleh  Center for Tropical Peat Swamp Restoration and Conservation (CTPRC) Indonesia bekerja sama dengan LIPI, Universitas Riau (UR), Universitas Lancang Kuning (Unilak) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Direktur CTPRC Haris Gunawan yang dihubungi Jumat (25/10) menjelaskan ekowisata akan ditawarkan dalam bentuk paket wisata yang mengkombinasikan  wisata budaya, kuliner, konservasi dan adventure. Wisata budaya dengan mengunjungi istana, kemudian mencicipi makanan khas di kabupaten Siak, dilanjutkan dengan wisata konservasi dengan pengenalan hutan rawa gambut dan usaha-usaha restorasi di lokasi SM Bukit Batu dan Tanjung Leban.

Wisatawan bisa melanjutkan dengan wisata adventure dengan sungai dan tasik yang ada di dalam kawasan SM Bukit Batu, kemudian diakhiri berwisata di desa biovillage yang sedang dikembangkan oleh CTPRC bersama LIPI dan MDK BBKSDA di Desa Temiang.

“Saat ini CTPRC bersama mitra sedang mengembangkan desa biovillage. Konsep biovillage ini memandang keberadaan sumber daya manusia dan sumber daya alam sebagai aset suatu daerah yang dapat dijadikan modal primer dalam menggerakkan perekonomian daerah tersebut,” kata Dosen UR ini.

Saat ini Desa Temiang menjadi desa model biovillage yang dikelola CTPRC, karena desa tersebut terletak di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis dan berbatasan langsung dengan SM Bukit Batu. Masyarakat desa tersebut juga memiliki ketergantungan terhadap kawasan dengan mencari ikan di sungai bukit batu dan adanya lahan pohon karet di kawasan SM Bukit Batu.

Ekowisata yang direncanakan akan diadakan awal November ini, akan di fokuskan ke Cagar Biosfer blok Bukit Batu yang saat ini terancam degradasi, yakni penyusutan lahan gambut, terutama terjadi pada lahan gambut dengan ketebalan dalam (kubah gambut) dan lahan dengan ketebalan sedang. Bukit Batu merupakan salah satu dari lima hutan alam yang masih menyimpan kekayaan hutan gambut yaitu, blok hutan rawa gambut Semenajung Kampar, Kerumutan, Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Senepis dan Libo.

Hasil studi di blok Bukit Batu menunjukkan cadangan karbon bawah tanah ditaksir rata-rata 4970 juta ton/ha dan stok karbon hutan rata-rata 82 juta ton/ha. Kedalaman gambut ditaksir rata-rata di atas 7,5 meter yang tergolong gambut sangat dalam. “Potensi yang sangat besar dalam peranannya terhadap mitigasi perubahan iklim karena besarnya stok karbon,” kata Harris.

Blok hutan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu yang menjadi tujuan dari ekowisata ini, lanjut Harris, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena sebagian besar kondisi hutan dan lingkungan telah berubah. Di beberapa tempat telah menjadi hutan belukar, sungai dan air hitam yang keruh, dan perubahan tutupan hutan menjadi kebun karet masyarakat, terutama di sepanjang tanggul-tanggul sungai.

Kondisi tersebut akan mengancam keunikan ekosistem dan fungsi-fungsi lingkungannya di masa datang. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka CTPRC dan mitra melakukan usaha-usaha yang sistematis dalam rangka menyelamatkan ekosistem hutan rawa gambut tropis di blok hutan SM Bukit Batu. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan oleh CTPRC adalah menanami kembali kawasan tersebut dengan beberapa tanaman aslinya, salah satunya adalah Jelutung.

Harris menambahkan ekowisata tersebut akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi dan mendorong peran serta partisipasi masyarakat Desa Temiang dalam usaha penyelamatan ekosistem hutan rawa gambut tropis. Oleh karena itu, dia akan mengundang pihak lain untuk ikut dalam pengelolaan ekowisata ini. (G26)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mencoba-ekowisata-di-hutan-gambut-bukit-batu-riau/feed/ 0
Wisata Teh Mangrove Surabaya https://www.greeners.co/gaya-hidup/wisata-teh-mangrove-surabaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wisata-teh-mangrove-surabaya https://www.greeners.co/gaya-hidup/wisata-teh-mangrove-surabaya/#respond Fri, 04 May 2012 03:04:36 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2765 Surabaya (Greeners) – Hutan mangrove di pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) memiliki potensi istimewa. Tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, Kelompok Tani Mangrove membuat minuman alami dari sebuah jenis mangrove. Kelompok […]]]>

Surabaya (Greeners) – Hutan mangrove di pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) memiliki potensi istimewa. Tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, Kelompok Tani Mangrove membuat minuman alami dari sebuah jenis mangrove.

Kelompok Tani Mangrove Surabaya, yang membantu menanami mangrove secara mandiri pimpinan Mochson, menawarkan sensasi menikmati teh dengan cara unik. Teh mangrove diambil dari jenis Acanthus ilicifolius atau nama lokalnya druju. Druju tumbuh di bantaran sungai yang berair payau. Wujudnya tidak seperti tanaman bakau yang banyak dikenal orang, yaitu berbatang keras. Druju merupakan tanaman perdu yang mudah dikenali dari daunnya yang panjang dan berduri di ujung dan di kedua sisinya, dengan tinggi sekitar satu meter. Batang tanaman ini juga dipenuhi duri sebagai pertahanan supaya tidak dimangsa binatang.

Para turis mangrove penikmat teh dilibatkan penuh dalam pembuatan teh sebelum menikmati khasiatnya. Wisatawan alam diajak menyusuri pematang tambak di Wonorejo Surabaya untuk memetik daun druju. Medan yang dilalui tidak mudah. Mereka harus berjalan beriringan karena sempitnya pematang. Di beberapa tempat, harus meniti jembatan yang dibuat ala kadarnya. Ada yang terbuat dari sebilah balok kayu, ada juga yang tidak berjembatan. Belum lagi hawa panas pesisir yang menyengat di awal musim panas tahun 2012 ini.

Dengan bimbingan anggota Kelompok Tani Mangrove, para turis memanen daun druju menggunakan capit dan gunting. Layaknya panen daun teh yang biasa dilakukan di perkebunan, teh mangrove juga hanya memanfaatkan pucuk daun saja, atau daun muda.

Hasil panen diolah dengan cara tradisional. Pertama duri-duri dibuang supaya tidak melukai tangan waktu dipotong. Setelah itu dimemarkan untuk mengeluarkan kandungna berkasiatnya. Lalu daun diiris dan dijemur. Setelah kering teh mangrove diseduh. Cara penyajian serupa dengan menyuguhkan teh pada umumnya. Minumnya juga bisa ditambah gula.

”Lho rasanya kok asin?” tanya Hanie, salah seorang wisatawan heran sekaligus tertarik. Sambil minum teh, Mochson menjelaskan bahwa rasa asin tidak bisa hilang karena druju menyerap air payau yang memang berasa asin. Ini justru yang membuat teh mangrove identik.

”Tapi saya sangat menikmati semua proses ini. Mulai dari mencari daun druju, panen, sampai pembuatan teh ini.” katan Hanie setelah menyecap teh druju hangat.

Sejak Januari 2011 lalu hingga kini, Kelompok Tani Mangrove belum mau membuka wisata ini secara luas. ”Kami membatasi pengunjung sampai lima orang saja. Jangan sampai wisata alam justru merusak alam,” kata Soni, panggilan akrab Mochson. ”Kami kuatir, banyak orang yang berkunjung justru akan merusak alam. Juga bisa mengusik kebedaraan satwa di sini,” tegasnya

Selain itu Kelompok Tani Mangrove tidak mematok harga untuk wisata ini. Turis yang mau wisata teh lebih dulu melalui proses wawancara seputar konservasi mangrove. Wisatawan juga ditanyai motivasi mereka ikut wisata ini. Karena selain wisata teh, para pengunjung juga wajib ikut menanam bakau di Pamurbaya sebagai wujud konservasi lingkungan.(G13)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/wisata-teh-mangrove-surabaya/feed/ 0