Komunitas - Greeners.Co https://www.greeners.co/sosok-komunitas/category/komunitas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 05 Jun 2025 08:45:55 +0000 id hourly 1 Sewakan Gelas Guna Ulang, Cara BALIKIN Lawan Sampah Plastik Sekali Pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/#respond Thu, 05 Jun 2025 08:45:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46709 Jakarta (Greeners) – Maraknya acara musik dan olahraga di Indonesia menyebabkan peningkatan timbulan sampah plastik sekali pakai. BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Maraknya acara musik dan olahraga di Indonesia menyebabkan peningkatan timbulan sampah plastik sekali pakai. BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar.

BALIKIN merupakan inisiatif dari Langit Biru Pertiwi, sebuah organisasi yang fokus pada pelestarian lingkungan melalui berbagai program edukatif dan kolaboratif bagi individu, komunitas, hingga perusahaan. Layanan ini mulai banyak digunakan dalam festival musik, acara olahraga, dan berbagai event lainnya yang sebelumnya masih mengandalkan gelas plastik sekali pakai.

Menurut Co-Founder BALIKIN Nadia Mulya, ide awal ini lahir dari pengalamannya saat berada di luar negeri. Ia melihat bahwa sistem rental cup atau penyewaan gelas sudah menjadi praktik umum di berbagai acara besar seperti pertandingan sepak bola, maraton, hingga konser musik.

BACA JUGA: Isi dan Guna Ulang Solusi Tepat Kurangi Plastik

“Ini bisa kita temukan di berbagai acara berskala besar. Sementara di sini, misalnya saat menghadiri acara lari, kita akan menemukan water station yang menyediakan minuman, namun sering kali tanpa mempertimbangkan dampak sampah yang dihasilkan,” ungkap Nadia dalam wawancaranya bersama Greeners.

Ia menambahkan bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa sampah dari gelas sekali pakai dapat dengan mudah didaur ulang. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Proses daur ulang hanya bisa berjalan efektif jika materialnya berasal dari satu jenis bahan saja (single source).

“Masalahnya, gelas kertas umumnya berlapis plastik, sehingga sangat sulit, bahkan hampir mustahil untuk didaur ulang secara efektif,” jelas Nadia.

Ironisnya, justru kegiatan yang dianggap ramah lingkungan seperti event olahraga masih menghasilkan volume sampah yang sangat besar. Karena sistem pengelolaan sampah yang belum memadai, sebagian besar sampah tersebut akhirnya hanya akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar. Foto: BALIKIN

BALIKIN hadir sebagai solusi dengan menyewakan gelas guna ulang untuk melawan sampah plastik di acara berskala besar. Foto: BALIKIN

BALIKIN Miliki Dua Pelayanan

Saat ini, BALIKIN memiliki dua pendekatan layanan yang berbeda, tergantung pada skala acara. Untuk acara yang berskala kecil atau yang tidak memiliki akses terhadap sumber air dan saluran pembuangan, BALIKIN menyediakan layanan penyediaan dan pengambilan kembali gelas guna ulang.

“Dalam hal ini, kami menyediakan dukungan seperti collection point, materi edukasi untuk para peserta, misalnya pelari, serta memastikan bahwa gelas-gelas tersebut dapat mereka kembalikan dengan benar,” kata Nadia.

Kemudian, pada pendekatan kedua adalah jasa pencucian gelas langsung di lokasi (on-site washing). Contohnya seperti di ajang Mandalika MotoGP.

“Menariknya, kami juga memberdayakan perempuan lokal untuk terlibat dalam proses pencucian ini. Jadi, dari kegiatan washing on-site ini, ada beberapa poin SDGs (Sustainable Development Goals) yang juga bisa kami dukung secara langsung,” ucapnya.

Sistem Utuh dan SOP Ketat

Dalam pengoperasian layanan guna ulang ini bukanlah hal mudah, menurut Nadia sistemnya cukup kompleks. “Banyak yang mengira bahwa ini hanyalah soal penyewaan gelas. Padahal, yang kami jalankan adalah satu sistem utuh, termasuk sistem pencucian yang memiliki standar operasional (SOP) yang ketat,” kata Nadia.

Menurutnya, SOP ini bahkan setara dengan yang industri katering terapkan. BALIKIN juga sempat berkonsultasi dengan para pegiat katering untuk memastikan bahwa seluruh proses penanganan peralatan makan, termasuk gelas dilakukan dengan benar dan higienis.

BACA JUGA: Startup Guna Ulang Mampu Kurangi 300 Kilogram Sampah Plastik

Dalam kiprahnya di gerakan guna ulang, saat ini BALIKIN juga tergabung dalam Reuse Special Interest Group, yang mencakup berbagai negara di Asia. Dalam forum ini, mereka rutin berdiskusi dan berbagi perkembangan mengenai penerapan sistem reusable di masing-masing negara.

Antusiasme Pengunjung

Nadia mengatakan bahwa respons dari pengunjung terhadap penyediaan gelas guna ulang ini sangat positif dan begitu antusias. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah desain cup BALIKIN yang berwarna fuchsia. Warnanya cerah dan menarik perhatian.

“Banyak yang bilang cup-nya lucu, karena warnanya pink. Dari situ saja, sebenarnya sudah menjadi pintu masuk atau gateway untuk mulai mengedukasi mereka lebih jauh,” kata Nadia.

Mereka mengedukasi pengunjung tentang manfaat penggunaan wadah guna ulang terhadap lingkungan. “Misalnya, bahwa cup kami ini BPA-free, aman untuk mereka gunakan. Lalu, saya juga sering menyampaikan fakta bahwa orang Indonesia setiap bulannya bisa mengonsumsi mikroplastik setara dengan tiga kartu ATM,” ujarnya.

Menurut Nadia, edukasi-edukasi seperti ini ternyata bisa langsung tersampaikan dengan cara yang ringan tapi mengena.

Selama satu tahun berjalan, BALIKIN juga semakin banyak terlibat akitf dalam berbagai acara olahraga dan komunitas outdoor. Nadia berharap ke depannya BALIKIN bisa masuk ke lebih banyak kegiatan skala besar.

“Kami ingin membangun ekosistem reuse ini bersama-sama. Kami ingin sistem ini bisa terintegrasi dan tumbuh dengan kolaborasi berbagai pihak,” tutupnya.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sewakan-gelas-guna-ulang-cara-balikin-lawan-sampah-plastik-sekali-pakai/feed/ 0
Sekolah Adat Arus Kualan: Belajar dari Alam, Menjaga Warisan Kalimantan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/#respond Tue, 04 Mar 2025 04:31:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=46063 Jakarta (Greeners) – Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Di tengah arus modernisasi, sekelompok anak muda di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendirikan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Di tengah arus modernisasi, sekelompok anak muda di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendirikan Sekolah Adat Arus Kualan untuk mengajarkan mencintai alam dan budaya Kalimantan kepada generasi muda.

Sejak berdiri pada tahun 2014, sekolah ini telah menggerakkan sebuah sistem pendidikan informal yang berbeda dari kebanyakan. Sekolah Adat Arus Kualan hadir untuk memberi ruang bagi anak-anak belajar dengan cara yang lebih alami, jauh dari batasan-batasan konvensional sekolah pada umumnya. Di sini, alam adalah ruang kelasnya, dan setiap pepohonan, sungai, dan tanah yang dijelajahi menjadi sumber pengetahuan.

Founder Sekolah Adat Arus Kualan, Florentini Delina Winki yang akrab disapa Delly, mengungkapkan bahwa para murid belahar berbagai keterampilan tradisional. Tak hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga merupakan warisan hidup yang harus dipertahankan.

Dikelilingi luasnya hutan Kalimantan, mereka banyak belajar tentang pengobatan tradisional, memasak menggunakan bambu, dan mencari sayuran di hutan dengan cara yang bijak. Tak hanya itu, mereka juga bermain permainan tradisional yang menggugah ingatan akan masa lalu. Selain itu, juga mendengarkan cerita-cerita bijak dari orang tua yang masih hidup sebagai bagian dari proses belajar yang tak tertulis.

“Kegiatan kami bersifat non-formal, tanpa beban aturan yang membatasi. Anak-anak bebas datang dengan pakaian apa pun, tanpa kewajiban mengenakan seragam atau membawa tas. Kami ingin mereka merasa nyaman, tanpa tekanan, dan belajar dengan hati yang bebas,” ujar Delly dalam wawancara bersama Greeners.

Dari tahun ke tahun, jumlah anak murid di Sekolah Adat Arus Kualan semakin berkembang. Dari hanya enam orang di tahun 2014, kini mereka telah mengajarkan nilai-nilai tradisional kepada 183 anak di berbagai kampung. Sebuah perjalanan panjang ini membuktikan bahwa meskipun waktu berlalu, semangat untuk menjaga warisan budaya tetap membara di hati setiap generasi.

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Menari dan Bernyanyi

Selain kegiatan di luar ruangan, para siswa di Sekolah Adat Arus Kualan juga terlibat dalam berbagai kegiatan di dalam ruangan. Mereka mempelajari keterampilan literasi, musik, tari, lagu tradisional, serta membuat kerajinan tangan. Kelas bahasa Inggris dan kegiatan mewarnai juga menjadi bagian dari kurikulum untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.

Sekolah Adat Arus Kualan menerima anak-anak mulai dari usia 3 hingga 17 tahun. Setelah itu, mereka bisa berperan sebagai fasilitator dalam mengorganisasi kegiatan di sekolah. Anak-anak yang lebih tua juga ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

BACA JUGA: Monika Maritjie Kailey, Perempuan Penjaga Kekayaan Alam Kepulauan Aru

Para pengajar di sekolah ini tidak hanya berasal dari warga lokal, tetapi juga banyak relawan internasional, misalnya dari Australia dan Inggris. Meskipun demikian, kegiatan pembelajaran sehari-hari tetap dipimpin oleh pemuda lokal yang masih duduk di bangku SMA.

Selain itu, para tetua adat juga turut berperan penting sebagai pengajar yang menyampaikan cerita-cerita lokal kepada anak-anak. Delly mengungkapkan bahwa Sekolah Adat Arus Kualan menerapkan prinsip “semua orang adalah guru alam raya di sekolah ini”. Setiap individu, baik pengajar maupun alam itu sendiri, memiliki peran dalam mengajarkan nilai-nilai dan pengetahuan kepada generasi muda.

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Belajar mencintai budaya dan alam Kalimantan kepada generasi muda di tengah modernisasi. Foto: Sekolah Adat Arus Kualan

Tergerak Pertahankan Budaya

Di balik berdirinya Sekolah Adat Arus Kualan, ada latar belakang yang menggerakkan Delly bersama kakaknya, Plorentina Dessy Elma Thyana. Pada tahun 2014, mereka melihat banyak pemuda di sana yang melanjutkan sekolahnya di kota, sehingga sebagian besar dari mereka merasa kehilangan identitas.

“Dia merasa bahwa sebagai anak kampung yang masih menggunakan bahasa lokal, kami seperti tertinggal dibandingkan anak-anak kota. Kami merasa seolah-olah kami tidak bisa bersaing dengan mereka. Namun, ketika kami kembali ke kampung dan melihat orang tua kami, kami menyadari bahwa mereka memiliki banyak pengetahuan yang luar biasa. Mereka belajar tanpa membaca, mengingat ribuan kata dan obat-obatan tradisional,” tambah Delly.

Dari situlah mereka menyadari bahwa mereka memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh banyak orang kota. Kebudayaan, adat, dan kearifan lokal tempat tinggalnya adalah hal yang patut mereka banggakan.

“Kami mulai berpikir jika kami tidak melakukan sesuatu, generasi berikutnya mungkin akan kehilangan identitas seiring dengan perkembangan zaman,” ujar Delly.

Dengan demikian, ketika sekolah ini berdiri, Delly bersama kakaknya merasa bangga bisa memberikan kesempatan anak-anak Dayak belajar banyak hal, terutama tentang kebudayaan mereka.

Manfaatkan Gawai

Seiring perkembangannya zaman, pembelajaran kepada anak-anak juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya penggunaan gawai yang kini menjadi daya tarik utama bagi mereka. Melihat hal ini, Delly akhirnya mencoba pendekatan berbeda dalam proses pembelajaran dengan membuat program pembuatan film dan dokumentasi kearifan lokal.

“Kami mengajarkan anak-anak memanfaatkan handphone mereka, misalnya untuk membuat konten seperti menjadi content creator atau TikTokers,” imbuh Delly.

Meski sebagian anak mulai tertarik, ada juga yang belum. Namun, Delly terus berusaha agar mereka dapat memanfaatkan gawainya dengan cara positif. Hal itu akhirnya terbukti, beberapa anak telah membuat film. Bahkan, baru-baru ini Delly bersama murid-muridnya meluncurkan buku berjudul “Sansangan”, sebuah cerita lokal Dayak Simpakng Kualan.

BACA JUGA: Merangkul Lintas Agama Merawat Bumi, Hening Parlan Raih ‘Planet Award’

Lewat gawainya, mereka merekam cerita dari orang tua atau nenek mereka, mengetiknya, dan mengirimkannya ke penerbit. Mereka merasa bangga karena nama mereka tercantum sebagai penulis, yang menjadi motivasi besar untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini, anak-anak yang baru saja meluncurkan buku kini sedang menyusun penelitian untuk buku cerita rakyat. Delly juga sedang merencanakan pembangunan gedung sekolah adat yang lebih besar. Ia berharap sekolah adat ini dapat mengenalkan kebudayaan Kalimantan ke dunia.

“Bergerak sendiri itu sulit, tetapi jika kita bergerak bersama, kita lebih mudah mempertahankan kebudayaan kita. Jangan biarkan kebudayaan kita hilang begitu saja. Semoga sekolah ini bermanfaat bagi banyak orang dan membantu melestarikan warisan budaya.”

Hadirnya sekolah adat ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia untuk melestarikan pengetahuan serta nilai-nilai tradisional. Dengan menyediakan sistem pendidikan informal yang mengutamakan budaya lokal, Arus Kualan punya peran besar untuk memastikan generasi muda tetap memahami dan menghargai warisan budaya mereka.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekolah-adat-arus-kualan-belajar-dari-alam-menjaga-warisan-kalimantan/feed/ 0
Sekar Kawung Merawat Biodiversitas dan Budaya Lewat Sandang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/#respond Tue, 31 Dec 2024 05:16:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=45531 Jakarta (Greeners) – Sekar Kawung merangkul warga desa yang secara arif mengolah keanekaragaman hayati atau biodiversitas lokal menjadi bahan sandang. Dengan cinta mendalam terhadap kekayaan biodiversitas dan kebudayaan tanah air, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sekar Kawung merangkul warga desa yang secara arif mengolah keanekaragaman hayati atau biodiversitas lokal menjadi bahan sandang. Dengan cinta mendalam terhadap kekayaan biodiversitas dan kebudayaan tanah air, komunitas ini membawa karya-karya masyarakat lokal dari penjuru nusantara ke dunia fesyen lestari kontemporer.

Di tengah industri fesyen yang terkenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, Sekar Kawung melihat bahwa kain tradisional yang seluruhnya buatan tangan dari bahan lokal adalah sebuah solusi.

Inisiatif pengembangan ekosistem lestari dalam fesyen ini berawal dari perjalanan Chandra Kirana Prijosusilo. Ia adalah seorang perempuan yang meyakini bahwa Indonesia dapat mengembangkan ekonomi lestari yang tangguh. Keyakinannya itu didasarkan pada pentingnya merawat biodiversitas dan memupuk kebudayaan-kebudayaan lokal agar terus berkembang.

BACA JUGA: Altereco Gerakkan Aksi Pelestarian Lingkungan di Pulau Lombok

Sekar Kawung berdiri pada tahun 2015 dan mulai fokus pada pelestarian biodiversitas melalui kain tenun di desa Lambanapu Sumba Timur dan dusun Sungai Utik di Kalimantan Barat. Keduanya menghasilkan tenun-tenun warna alami. Namun, ternyata tenun Sumba Timur jauh lebih berwarna.

Sekar Kawung belajar bahwa meskipun sebagian besar Sumba Timur terdiri dari sabana yang gersang, desa-desa tenunnya cenderung rimbun seperti oasis hijau. Kerimbunan ini berkat perawatan desa-desa tenun terhadap sejumlah besar tanaman yang diperlukan untuk bahan pewarnaan alaminya.

Penenun perempuan di Sumba Timur sedang memamerkan hasil tenunnya. Foto: Sekar Kawung

Penenun perempuan di Sumba Timur sedang memamerkan hasil tenunnya. Foto: Sekar Kawung

Belajar dan Bertumbuh Lestarikan Alam

Sekar Kawung meyakini bahwa keragaman motif pada sandang mencerminkan pengaruh biodiversitas. Misalnya, kain-kain tenun dari Kalimantan Barat sering menampilkan sulur-sulur pakis yang tumbuh di hutan. Kemudian, beberapa benang terbuat dari serat daun ulap doyo, tanaman hutan lokal.

Berbeda dengan itu, kain tenun tradisional di Sumba Timur berhias motif bunga pare hutan. Bunga ini merupakan tanaman yang tumbuh di lingkungan alam mereka.

Sementara itu, di desa-desa Tuban, motif kainnya antara lain menggambarkan bunga jati, kelopak daun bunga kapas, dan burung srigunting. Seluruhnya merupakan bagian dari biodiversitas lokal yang ada di sana.

Di Sumba Timur, Sekar Kawung berkolaborasi dengan para artisan tenun. Mereka bekerja sama untuk merestorasi lahan dengan tanaman pewarna alami, sekaligus mengembangkan ekonomi desa berbasis budaya tenun.

BACA JUGA: Sentuhan Alam di Rumah Mahika: Mengukir Jejak Pangan Lestari

Proses tersebut melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak yang berpartisipasi dalam program photovoice untuk mengenali budaya tenun dan lingkungan sekitar, hingga para tetua masih memahami makna simbol-simbol yang terlukis pada kain-kain mereka.

“Intinya, Sekar Kawung berusaha menguatkan Desa Lambanapu untuk menjadi tujuan wisata budaya tenun yang warga desa kelola,” ungkap Chandra kepada Greeners.

Chandra mengambil banyak pelajaran penting dari proses pendampingan di Lambanapu. Ia kini memahami bahwa pelestarian biodiversitas yang dibutuhkan untuk tenun juga memerlukan kepekaan dalam merawat dan mengangkat biodiversitas, yang digunakan dalam aspek-aspek budaya lainnya.

Chandra Kirana Prijosusilo bersama pembatik Tuban, Jawa Timur. Foto: Sekar Kawung

Chandra Kirana Prijosusilo bersama pembatik Tuban, Jawa Timur. Foto: Sekar Kawung

Mulai Mengenal Tanaman Kapas

Dari kolaborasi dengan para artisan tenun di Lambanapu, Sekar Kawung semakin teguh dalam keyakinannya bahwa pelestarian biodiversitas dapat terwujud melalui penguatan budaya dan pembangunan ekonomi lestari di desa-desa. Namun, pada saat yang sama, Chandra mulai menyadari kenyataan bahwa sektor tenun tradisional Indonesia tengah menghadapi tantangan besar.

“Hampir seluruh benang dalam tenun Lambanapu berasal dari benang toko, yang tentu saja terbuat dari kapas impor, mengingat Indonesia belum memproduksi kapasnya sendiri,” imbuhnya.

Proses produksi kapas impor ini sayangnya merusak sumber daya alam, mengonsumsi air dalam jumlah besar, dan menggunakan pestisida. Hal ini disayangkan karena meskipun setiap helai kain melewati proses pewarnaan alami dan dikerjakan handmade, kain-kain tersebut tidak bisa diklaim berkelanjutan.

Chandra juga menyadari bahwa fesyen adalah salah satu industri penyumbang polusi terbesar. Sekitar 9% dari total emisi dunia berasal dari fesyen. Proses produksi benang dan kain adalah bagian terbesar dari rantai pasokan yang mencemari.

Mereka akhirnya menemukan sebuah desa di Tuban, yang unik dan luar biasa. Di sana, para artisan masih menenun kain dari benang yang mereka buat sendiri. Mereka menggunakan kapas yang tertanam di tanah mereka sendiri sebagai bahan baku utama.

Kapas Tuban, dengan warna cokelat dan putih alami, adalah tanaman semusim yang dapat dipanen dalam waktu sekitar lima bulan. Hasil dari setiap helai kain tidak hanya sarat makna, tetapi juga penuh keberlanjutan.

Inovasi untuk Kemandirian Kapas

Dalam pandangan Chandra, kemandirian kapas yang para artisan di Tuban miliki ini mencerminkan kearifan lokal yang mendalam. Di tanah Tuban yang gersang, para petani menggunakan metode tumpangsari untuk menanam kapas bersama tanaman lain. Metode ini mereka lakukan di halaman rumah atau pagar pemisah lahan, tanpa mengurangi lahan untuk tanaman pangan.

Kapas ini menjadi pelengkap yang menyediakan bahan baku bagi penenun dan pembatik lokal, untuk menciptakan produk “slow fashion” berkualitas tinggi dan sepenuhnya handmade. Produk-produk ini tidak bisa diproduksi massal, bernilai jual tinggi, namun hanya bisa dibuat oleh maestro tenun gedog yang sangat terampil.

Sekar Kawung pun berinovasi untuk meningkatkan hasil kapas agar dapat menghasilkan benang pabrikan. Pada tahun 2021, mereka menanam kapas di lahan seluas 3.500 meter persegi, berpadu dengan jagung dan kacang hijau. Hasilnya, mereka panen 496 kg kapas, yang menghasilkan sekitar 230 kg serat murni setelah terpisah dari bijinya.

Kemudian, mereka mengirim kapas ini ke pabrik untuk mengubahnya menjadi benang yang lebih halus dan kuat, sehingga dapat mereka tenun dengan alat ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Teknologi ATBM ini, meski masih berbasis tangan, tetapi lebih efisien dan bisa menghasilkan kain hingga 100 meter sekaligus.

Sekar Kawung pun berkolaborasi dengan penenun ATBM di Klaten, Yogyakarta, dan Pekalongan untuk menenun benang-benang tersebut menjadi kain. Desainer kemudian mengambil kain itu atau mengirimkannya kembali ke Tuban untuk dibatik oleh kaum muda setempat.

Setelah melewati perjalanan ini, Sekar Kawung akhirnya mendampingi petani kapas, pemintal benang, penenun, hingga pembatik. Mereka juga berkolaborasi dengan desainer dan jenama fesyen untuk membeli, mengembangkan produk, dan memasarkan produk yang terbuat dari kain-kain karya para artisan dampingan Sekar Kawung.

Jalin Kolaborasi

Sekar Kawung meyakini bahwa fesyen lestari pada hakikatnya harus memenuhi tiga prinsip sirkuleritas. Pertama, bahan harus alami dan dapat kembali terurai menjadi tanah. Kedua, ide-ide kreatif dan pertukaran budaya harus terus terjadi di antara semua pelaku sepanjang rantai nilai. Ketiga, keuntungan finansial harus mengalir secara sirkuler dan berkeadilan.

Dengan keyakinan tersebut, akhirnya pada tahun 2022 Sekar Kawung bekerja sama dengan jenama Lemari Lila untuk meluncurkan koleksi Mulih, yang bermakna “pulang.”

Sekar Kawung juga berkolaborasi dengan Studio Sejauh milik Chitra Subyakto, desainer fesyen dan pemilik jenama Sejauh Mata Memandang. Dalam kolaborasi ini, Sekar Kawung menyediakan kain-kain hasil karya artisan tenun dan batik Tuban.

Selain itu, Sekar Kawung menyuplai benang dari hasil bumi Tuban. Lalu, Sejauh Mata Memandang mengolah benang dan kain tersebut lebih lanjut.

Chandra menyampaikan bahwa Sekar Kawung berupaya membangun kesadaran bahwa fesyen lestari sesungguhnya merupakan hasil bumi yang diolah secara kreatif. Hal ini juga selaras dengan budaya lokal Indonesia, untuk menciptakan keberkahan ekonomi bersama bagi seluruh pelaku di sepanjang rantai nilai tersebut.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sekar-kawung-merawat-biodiversitas-dan-budaya-lewat-sandang/feed/ 0
Laudato Si’ Indonesia Hidupkan Gerakan Lingkungan untuk Umat Katolik https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/#respond Thu, 26 Sep 2024 03:17:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44836 Jakarta (Greeners) – Komunitas agama kini kian aktif menggaungkan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah Komunitas Laudato Si’ Indonesia yang digaungkan oleh umat Katolik. Laudato Si’ merupakan ensiklik […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas agama kini kian aktif menggaungkan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu contoh nyata adalah Komunitas Laudato Si’ Indonesia yang digaungkan oleh umat Katolik.

Laudato Si’ merupakan ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, yang menekankan pentingnya isu lingkungan hidup. Terciptanya gerakan yang membawa pesan Laudato Si’ ini muncul dari sosok pemuda asal Argentina, Thomas Insua, setelah melihat minimnya gerakan lingkungan hidup di kalangan Gereja Katolik.

Thomas pun menghubungi berbagai pihak di dalam Gereja dan bersama-sama melahirkan gerakan Global Catholic Climate Movement (GCCM). Gerakan ini diluncurkan saat kunjungan Paus Fransiskus ke Manila di tahun 2015.

BACA JUGA: Teladani Kesederhanaan dan Kepedulian Lingkungan Paus Fransiskus

Koordinator Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia, Cyprianus Lilik Krismantoro Putro, menyatakan komunitas ini dirintis di tanah air pada tahun 2021. Kehadiran Laudato Si’ Indonesia  turut berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan di kalangan Gereja Katolik.

“Dalam workshop pasca 50 tahun FABC di Siem Reap, Kamboja, tahun 2020 saya bertemu dengan Cheryl Dugan, koordinator GCCM Asia-Pasifik yang memperkenalkan gerakan ini pada saya. Karena gerakan ini belum ada di Indonesia, maka Ibu Agnes Winaryati dan saya memutuskan untuk merintis Gerakan Laudato Si’ Indonesia sebagai respons terhadap kebutuhan ini,” ungkap Lilik kepada Greeners melalui sambungan telepon, Senin (23/9).

Di Indonesia, gerakan Laudato Si’ telah hadir di berbagai daerah. Di antaranya Medan, Manado, Sintang, Atambua, Soe, Jakarta, Jayapura, Makassar Lampung, Bogor, Balikpapan, Bandung, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Lilik juga memperluas kemitraan dengan komunitas lingkungan setempat untuk meningkatkan jangkauan gerakan ini.

Bersihkan Sampah saat Kunjungan Paus

Komunitas Laudato Si’ Indonesia secara aktif melakukan aksi-aksi lingkungan dalam berbagai kegiatan besar. Salah satunya, pada tahun 2024, mereka ikut menyuarakan isu lingkungan hidup dan membersihkan sampah saat acara misa akbar bersama Paus Fransiskus di Jakarta.

Pada kesempatan itu, sebanyak 300 relawan dari Laudato Si’ Indonesia berpartisipasi dengan sukarela. Mereka membawa pesan penting bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

BACA JUGA: Paus Fransiskus: Jangan Jadikan Tambang Emas Alasan untuk Bertikai

Selama kegiatan berlangsung, para relawan mengenakan pakaian mencolok dan topi bundar yang unik. Mereka berkeliling mengingatkan pengunjung untuk tidak meninggalkan sampah di tribun. Para relawan juga membawa trash bag besar untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.

“Kami juga ikut melakukan dua kali penyapuan area untuk membersihkan sampah. Terutama botol plastik, banyak sekali kami temukan. Dengan semangat kolaborasi, kami berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak orang untuk beraksi demi lingkungan,” kata Lilik.

Lilik mengungkapkan bahwa Komunitas Laudato Si’ sangat bersyukur atas kedatangan Paus Fransiskus, khususnya bagi umat Katolik. Kedatangan ini merupakan sebuah momen yang penting dalam satu generasi.

“Kesempatan ini memungkinkan kami untuk berpartisipasi langsung dalam forum sebesar ini, yang sekaligus menjadi peneguhan bagi Komunitas Laudato Si’. Para relawan datang dengan sukarela untuk ikut menyuarkan pesan Laudato Si’ dan mengelola sampah, ini sebagai komitmen spiritual untuk menyampaikan pesan Laudato Si’ kepada umat Katolik,” kata Lilik.

Laudato Si’ Indonesia menghidupkan gerakan lingkungan untuk umat Katolik. Foto: KPA

Laudato Si’ Indonesia menghidupkan gerakan lingkungan untuk umat Katolik. Foto: Laudato Si’

Laudato Si’ Indonesia Buat Pelatihan

Sejak awal mula berdiri, Laudato Si’ Indonesia kinimemiliki berbagai kegiatan, baik secara langsung dan tidak langsung. Setiap tahunnya, mereka mengadakan beberapa pelatihan besar. Pertama, ada pelatihan untuk Animator Laudato Si’, yang terbuka untuk umum. Pelatihan ini memberikan pemahaman dasar tentang ensiklik Laudato Si’.

Di bulan Mei, mereka juga mengadakan kampanye Laudato Si’ Week. Kemudian, dari September hingga Oktober, mereka terlibat kampanye global yang melibatkan berbagai denominasi, baik Protestan maupun Katolik. Kampanye ini berlangsung selama sebulan penuh dengan fokus pada isu lingkungan hidup, dengan banyak kegiatan online dan offline di berbagai gereja.

Di akhir September atau awal Oktober, Laudato Si’ Indonesia juga mengadakan rapat kerja dan pertemuan nasional di Lampung. Pada bulan November, ada pelatihan untuk menjadikan paroki ramah lingkungan di Wonosobo.

Kegiatan lingkungan di setiap daerah sangat beragam. Laudato Si’ tidak hanya mencakup isu lingkungan, tetapi juga kemiskinan yang tergantung pada permasalahan spesifik di setiap daerah.

Mendorong Aksi di Setiap Paroki

Simpul-simpul Komunitas Laudato Si’ Indonesia telah banyak terbentuk, meskipun belum semuanya aktif. Saat ini, mereka terus berupaya membawa pesan Laudato Si’ kepada umat gereja, mengingat penyebaran pesan ini masih terbatas.

Dengan demikian, Laudato Si’ Indonesia terus mendorong gerakan lingkungan hingga ke paroki-paroki terkecil. Saat ini, mereka memiliki tiga fokus utama, yaitu pertobatan ekologis, perubahan gaya hidup, dan kebijakan.

Selain itu, pengurus Laudato Si’ Indonesia juga berencana untuk menggaungkan pesan Laudato Si’ ke sekolah-sekolah Katolik dan universitas guna menanamkan semangat pelestarian lingkungan di kalangan generasi muda.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/laudato-si-indonesia-hidupkan-gerakan-lingkungan-untuk-umat-katolik/feed/ 0
Sentuhan Alam di Rumah Mahika: Mengukir Jejak Pangan Lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/#respond Thu, 15 Aug 2024 07:21:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44488 Jakarta (Greeners) – Terletak di tengah luasnya lahan perkebunan dan peternakan, Rumah Mahika telah memanfaatkan berkah tersebut secara optimal. Komunitas di Ciawi, Kabupaten Bogor ini memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman […]]]>

Jakarta (Greeners) – Terletak di tengah luasnya lahan perkebunan dan peternakan, Rumah Mahika telah memanfaatkan berkah tersebut secara optimal. Komunitas di Ciawi, Kabupaten Bogor ini memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman pangan dan memproduksi olahan pangan secara berkelanjutan.

Sebagai komunitas yang fokus pada bidang pangan, Rumah Mahika juga menyediakan ruang bagi publik untuk merasakan pengalaman berkebun, mengolah, mengonsumsi, serta melestarikan pangan lokal.

Inisiatif ini digagas oleh Adi Dwianto, founder Rumah Mahika. Melalui jalannya, Adi telah menciptakan sistem pangan yang lebih lestari. Inisiatifnya memberikan manfaat besar untuk mendukung pangan berkelanjutan di tengah banyaknya permasalahan lingkungan saat ini.

Rumah Mahika berdiri sejak tahun 2021. Melalui komunitas ini, Adi bertujuan untuk menumbuhkan ekosistem yang lestari serta komunitas yang resiliensi dan berdaya. Keluarga menjadi salah satu motivasi utama Adi dalam mendirikan komunitas ini.

Adi sering menyebut Rumah Mahika sebagai komunitas yang ‘bestari’ untuk keluarga, karena kekhawatirannya terhadap krisis lingkungan seperti perubahan iklim, perubahan sosial budaya, dan perubahan ekonomi di masa depan.

BACA JUGA: Wibu4Planet: Pecinta Pop Jepang yang Beraksi untuk Lawan Krisis Iklim

“Setelah pandemi, saya merasa ada urgensi untuk mengerjakan proyek yang bisa memberikan ekosistem berkelanjutan di masa depan,” ujar Adi kepada Greeners melalui telepon, Minggu (11/8).

Adi menganggap komitmennya dalam membangun dan menjaga ekosistem pangan lestari serta membentuk komunitas bestari, sebagai salah satu privilese terbesar yang dapat ia berikan kepada keluarganya.

Menurut Adi, penting bagi setiap orang untuk terhubung dengan pangan yang mereka konsumsi. Termasuk mengetahui asal-usulnya, siapa petani atau komunitas lokal yang memproduksinya, serta ekosistem pertaniannya. Hal ini penting untuk menyadari dampak sistem pangan, seperti kesenjangan sosial, masalah kesehatan, hilangnya pengetahuan dan kearifan lokal, serta kerusakan lingkungan.

Ilustrasi mengolah bahan pangan. Foto: Rumah Mahika

Ilustrasi mengolah bahan pangan. Foto: Rumah Mahika

Pasarkan Produk Olahan Pangan

Luas lahan kebun dan peternakan Rumah Mahika sekitar dua hektare. Namun, saat ini baru setengah dari luas tersebut yang Adi manfaatkan untuk menanam dan beternak.

Publik pun bisa mengikuti program kegiatan di Rumah Mahika, seperti kegiatan berkebun di Kebun Mahika. Kebun ini telah berhasil mengembangkan ekosistem hortikultura, hutan pangan, silvopasture, dan akuakultur melalui penerapan desain dan pengelolaan pertanian yang selaras dengan alam.

Publik dapat merasakan pengalaman berkebun di Kebun Mahika bersama para petani. Kebun Mahika menanam berbagai jenis tanaman pangan, termasuk sorgum, hanjeli, talas belitung (kimpul), ganyong, ubi jalar, singkong, serta berbagai sayuran dan buah-buahan.

Selain itu, Adi juga mendirikan Studio Mahika sebagai ruang untuk mengembangkan dan memproduksi hasil pangan dari Kebun Mahika. Dari hulu hingga hilir, Rumah Mahika memproduksi olahan pangan secara bertanggung jawab untuk disalurkan ke konsumen.

BACA JUGA: Eathink Ajak Konsumen Lebih Bijak Pilih Makanan

“Kami menyajikan produk pangan yang difermentasi, selai, dan sirup. Kami juga mencoba pengeringan, penepungan, dan produk turunan lainnya dari hasil pangan tersebut,” imbuh Adi.

Produk olahan tersebut akan Adi pasarkan secara offline maupun online melalui Warung Mahika. Produk-produk yang ditawarkan mencakup minuman bersoda hasil fermentasi, manisan pala, dan selai rosella. Saat ini, Rumah Mahika juga sedang mengembangkan tepung sorgum mokaf.

Nikmati Hasil Pangan dari Kebun Mahika

Kebun Mahika tidak hanya ditujukan untuk komunitas. Melalui kolaborasi, Adi dapat mengajak publik untuk mengikuti aktivitas di Rumah Mahika.

Sejumlah komunitas, sekolah, dan lembaga telah berkolaborasi dengan komunitas tersebut. Mereka tidak hanya terlibat dalam kegiatan berkebun, tetapi juga mengajak pengunjung untuk mengonsumsi makanan hasil kebun melalui program ‘farm to table‘ atau ‘dari kebun ke meja’.

“Konsep ‘farm to table‘ bisa bermacam-macam. Kami sering mengolah hasil kebun menjadi hidangan untuk dinikmati bersama. Biasanya kami bilang dari kebun ke meja makan,” tambah Adi.

Meski masih dalam skala kecil, komunitas tersebut memiliki banyak inovasi yang bermanfaat bagi bumi dan manusia. Adi berharap dapat terus menumbuhkan sistem pangan yang lestari dan gaya hidup berkelanjutan bagi banyak orang.

Kelola Limbah dan Sampah

Dalam menciptakan pangan berkelanjutan, Rumah Mahika tidak hanya fokus pada produksi pangan yang melimpah. Mereka juga memperhatikan berbagai aspek yang mendukung keberlanjutan pangan, seperti perawatan siklus air, tanah, dan biodiversitas pangan.

Rumah Mahika peduli terhadap limbah pangan dan telah melakukan berbagai upaya pengelolaan, termasuk komposting dengan metode thermal compost, BSF, dan aerated compost tea, serta pemilahan sampah organik, anorganik, B3, dan residu.

Selain itu, Rumah Mahika mengolah limbah dengan sistem greywater dan blackwater, serta menggunakan reedbed dan kolam untuk pengelolaan air limbah.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/sentuhan-alam-di-rumah-mahika-mengukir-jejak-pangan-lestari/feed/ 0
Wibu4Planet: Pecinta Pop Jepang yang Beraksi untuk Lawan Krisis Iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/#respond Sat, 10 Aug 2024 05:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=44445 Jakarta (Greeners) – Komunitas dari berbagai bidang kini mulai bersuara mengenai bahaya krisis iklim. Salah satunya adalah sekelompok anak muda pencinta budaya Jepang, Wibu4Planet, yang secara lugas menyuarakan urgensi krisis […]]]>

Jakarta (Greeners) – Komunitas dari berbagai bidang kini mulai bersuara mengenai bahaya krisis iklim. Salah satunya adalah sekelompok anak muda pencinta budaya Jepang, Wibu4Planet, yang secara lugas menyuarakan urgensi krisis iklim dan melakukan berbagai aksi untuk mencegah kerusakan bumi.

Wibu4Planet merupakan komunitas bagi para pencinta pop kultur Jepang yang memiliki semangat untuk melawan krisis iklim. Saat ini mereka sedang berupaya mendorong pemerintah Jepang sebagai negara maju yang berpengaruh dalam transisi energi, untuk melakukan transisi energi bersih yang berkeadilan.

Penggagas Wibu4Planet, Cyva Ardian Pradhika menyatakan, meskipun Wibu4Planet baru terbentuk pada awal 2024 ini, namun misi yang Wibu4Planet bawa sangatlah besar.

“Komunitas ini didirikan sebagai respons terhadap krisis iklim yang semakin parah. Kami juga melihat adanya kebutuhan untuk melibatkan berbagai komunitas dalam upaya mengatasi krisis tersebut,” kata Cyva dalam keterangan tertulisnya, Jumat (2/8).

Wibu4Planet menyuarakan urgensi krisis iklim. Foto: Wibu4Planet

Wibu4Planet menyuarakan urgensi krisis iklim. Foto: Wibu4Planet

Maskot Nekobu, Kucing Penyayang Bumi

Wibu4Planet memiliki sebuah keunikan, yaitu keberadaan maskot bernama Nekobu yang mempunyai arti ‘Kucing Bumi’. Pada logo komunitas ini, terlihat Nekobu sedang memeluk bumi dengan erat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Nekobu sayang pada bumi.

Cyva bercerita, manga dan anime di Jepang banyak terinspirasi dari kucing. Artinya, penggambaran wajah karakternya banyak diambil dari bentuk wajah kucing. Dalam sejumlah seri anime populer, kucing juga selalu muncul sebagai ikon. Maka, Wibu4Planet kemudian memikirkan perlunya maskot yang mewakili budaya pop yang sangat Jepang dan dekat dengan dunia manga.

“Hingga kemudian kami memilih neko, yang artinya kucing, sebagai simbol bahwa kucing tersebut sayang dan peduli bumi. Ia juga merupakan bagian dari bumi, kucing itu diberi nama Nekobu. Nekobu akan mengajak siapa pun menjadi hero dalam perjalanan menyelamatkan bumi dari penjahat lingkungan yang memperparah krisis iklim,” tambah Cyva.

BACA JUGA: Peduli Lingkungan, Ribuan K-popers Tolak K-Washing

Seorang wibu dan pegiat budaya pop Jepang, Agam Zarrah Istanbul mengungkapkan, Nekobu kini tampil menjadi konten yang menarik. Menurutnya, Nekobu bisa muncul dalam konten bermuatan isu krisis iklim, sehingga penyampaian informasi pada konten tersebut bisa tersampaikan kepada audiens dengan menarik.

“Dengan begitu, Nekobu tak hanya sekadar kami tampilkan sebagai maskot yang diam saja. Harapannya, ia bisa muncul lebih sering sebagai konten. Misalnya, dia digambarkan sedang memunguti sampah, atau sedang membaca manga Wibu4Planet,” ujarnya.

Wibu4Planet Berikan Edukasi Lewat Anime dan Manga

Agam berpendapat, para wibu adalah orang-orang yang sangat visual. Cyva pun sepakat dengan pendapat tersebut. Itulah kenapa, dalam kampanye digitalnya, Wibu4Planet mengadopsi gaya manga dan menampilkan visual yang sangat colourful. Ini salah satu cara Wibu4Planet merangkul wibu di Indonesia.

Komunitas tersebut menerapkan berbagai strategi kreatif dan menyenangkan dengan medium budaya pop Jepang, antara lain melalui anime, manga, dan musik.

Wibu4Planet menggunakan cerita dan karakter dari anime dan manga populer untuk mengilustrasikan isu-isu lingkungan. Misalnya, menggambarkan kerusakan lingkungan di Pulau Wawonii. Nekobu pun berinteraksi dengan aktif dengan karakter anime dan manga dalam komik singkat dan konten kreatif lain.

“Di seri manga singkat, Nekobu masuk ke dalam universe para anime. Kami ingin memperlihatkan isu iklim kepada audiens dengan cara mengangkat cerita-cerita yang sudah ada di manga, sekaligus memperkenalkan Nekobu,” ungkap Cyva.

Sebenarnya, banyak manga dan anime yang menceritakan soal krisis iklim. Jadi, bagi komunitas wibu, isu iklim bukanlah hal yang baru. Sejumlah seri anime terbaru mengangkat isu tersebut, bahkan ada anime yang secara spesifik mengangkat cerita tentang tenggelamnya kota-kota di dunia.

“Yang belum banyak komunitas wibu ketahui adalah kaitan antara Jepang dan Indonesia. Dalam Perjanjian Paris tertuang bahwa negara maju berkontribusi besar terhadap emisi yang dampaknya kita alami sekarang. Mereka punya tanggung jawab lebih besar untuk membantu negara-negara berkembang, seperti indonesia, untuk beralih ke energi bersih. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Jepang sebagai negara maju malah berinvestasi pada energi kotor,” kata Cyva.

Kolaborasi Dinamis untuk Sebuah Perubahan

Tidak bergerak sendirian, Wibu4Planet melakukan sejumlah kolaborasi dengan influencer, seperti cosplayer, ilustrator, dan KOL pegiat budaya Jepang. Komunitas ini percaya, kerja sama dengan komunitas wibu yang lain, organisasi lingkungan, dan pemerintah, dapat menjadi kunci menuju transisi energi yang adil.

Cyva bercerita, pada Mei 2024 lalu, Wibu4Planet mendapat kesempatan untuk terlibat dalam Anime Festival Asia Indonesia (AFA), yang selalu dibanjiri wibu. Mereka menyajikan kampanye kreatif melalui doujinshi (komik pendek), berkolaborasi dengan penulis dan seniman lokal. Doujinshi tersebut diangkat dari anime, seperti Prince Mononoke, One Piece, Dr. Stone, dan Code Geass.

BACA JUGA: Hyundai Batal Beli Alumunium dari Adaro, Fans K-Pop Gembira

“Kami mengusung tema isekai, sebuah plot yang tokoh utamanya terlempar ke dimensi lain, dan membawa tokoh anime ke dalam beberapa isu lingkungan. Misalnya, deforestasi di Kalimantan, kerusakan hilirisasi nikel di Pulau Wawonii, permasalahan PLTU di Cirebon, dan gambaran lingkungan yang asri, jika menggunakan energi bersih dan berkelanjutan.

Selain itu, mereka juga menyajikan VR 360 dan mengajak para wibu, untuk menyaksikan visual One Piece Arc Wano Kuni, yang mereka padukan dengan kerusakan di Pulau Wawonii akibat pertambangan nikel.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/wibu4planet-pecinta-pop-jepang-yang-beraksi-untuk-lawan-krisis-iklim/feed/ 0
Eathink Ajak Konsumen Lebih Bijak Pilih Makanan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/#respond Sat, 24 Feb 2024 05:00:48 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=43152 Jakarta (Greeners) – Eathink, sebuah pergerakan yang diinisiasi anak muda mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan secara berkelanjutan. Gerakan yang menyuarakan tentang keberlanjutan pangan ini telah berlangsung sejak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Eathink, sebuah pergerakan yang diinisiasi anak muda mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan secara berkelanjutan. Gerakan yang menyuarakan tentang keberlanjutan pangan ini telah berlangsung sejak 2018. Gerakan tersebut merupakan inisiasi sejumlah mahasiswa di bidang pangan bernama Food Sustainesia. Pada tahun 2021, Food Sustainesia berganti nama menjadi Eathink yang memiliki arti “konsumen harus berpikir matang dalam memilih makanan”.

Eathink telah membuat sejumlah kampanye secara berkala untuk memberikan edukasi melalui media sosial tentang gaya hidup ramah lingkungan, isu pangan berkelanjutan, dan bijak dalam memilih makanan. Bahkan, mereka telah mendorong masyarakat untuk mencintai produk lokal.

BACA JUGA: 5 Tips Membuat Kebiasaan Makan Lebih Berkelanjutan

Gerakan ini terbentuk karena didorong oleh beberapa permasalahan serius yang saat ini melanda Indonesia. Isu ketimpangan, misalnya. Angka kelaparan saat ini cukup tinggi, tetapi masih banyak sisa makanan. Artinya, meski masyarakat kelaparan, namun banyak juga makanan yang terbuang.

“Akhirnya, kami terdorong untuk mendalami isu-isunya. Ternyata, kesadaran soal isu pangan masih kurang. Kemudian, kami gunakan channel paling mudah sama anak muda, yaitu media sosial seperti Instagram. Eathink juga menyesuaikan cara komunikasi anak muda dengan mengemas konten yang relevan sama anak muda,” ungkap Co-Founder Eathink, Genoveva Jaqualine Wijaya kepada Greeners, Rabu (21/2).

Konsumen Perlu Bijak Pilih Makanan

Eathink pun berharap kampanye yang mereka suarakan melalui media sosial ini bisa meningkatkan kesadaran semua orang mengenai isu pangan berkelanjutan. Lewat tagline #OurFoodChoiceMatters, Eathink ajak publik untuk mindful consumption atau lebih sadar dan bijak dalam memilih makanan. Sebab, apa yang konsumen makan tidak hanya berdampak pada kesehatannya, tetapi juga lingkungan.

“Jadi dalam memilih makanan oleh setiap orang itu penting, karena isunya makanan juga berdampak ke climate change. Nah, dengan mendorong orang-orang agar bisa tahu soal itu, yang kami intervensi adalah konsumen,” tambah Jaqualine.

Eathink pun ingin mengubah kebiasaan konsumen dalam mengonsumi makanan lebih berkelanjutan, artinya pola makanan yang meminimalkan dampak lingkungan dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Terutama memperhatikan gizi serta menjaga kesehatan generasi saat ini dan generasi mendatang.

BACA JUGA: Food Sustainesia Ajak Generasi Muda Mengenal Sistem Keberlanjutan Pangan

Misalnya, secara berkelanjutan, konsumen harus terbiasa menghabiskan makanannya sehingga tidak menimbulkan food waste. Kemudian, jika ada makanan tersisa, konsumen juga perlu mengomposnya.

Di samping itu, Eathink terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran melalui konten edukasi. Sejalan dengan misinya, gerakan tersebut juga akan terus membuat program kelas pembelajaran yang mendorong konsumen untuk mengembangkan kebiasaan berkelanjutan secara konsisten.

Eathink mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan. Foto: Eathink

Eathink mengajak konsumen untuk lebih bijak dalam memilih makanan. Foto: Eathink

Eathink Gaungkan Makanan Lokal

Produk siap saji, makanan dan minuman yang mengandung gula dalam jumlah tinggi kini banyak anak muda gemari. Eathink menyadari, konsumsi produk yang tinggi kandungan gula secara terus-menerus akan berdampak pada kesehatan tubuh. Kendati demikian, mereka terus menggaungkan produk lokal khas Indonesia yang berbasis organik agar bisa digemari oleh masyarakat.

Faktanya, saat ini Eathink telah berkolaborasi dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Kolaborasi ini untuk menawarkan makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan kepada para konsumen.

“Masalah makanan instan itu karena sudah banyak proses, otomatis secara kandungan nutrisi berkurang. Misalnya, membuat menu diet dan ingin menambahan produk yang processed food itu tidak apa-apa, asalkan bisa diseimbangkan dengan sayuran, buah, dan makanan lokal,” imbuh Jaqualine.

Indonesia mempunyai banyak sumber pangan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi. Namun, di pasaran juga terdapat produk instan memiliki kandungan gula dan lemak lebih tinggi yang dapat memicu penyakit kronis. Apalagi, banyak yang menilai makanan sehat masih mahal. Skeptisisme ini membuat generasi muda kurang tertarik terhadap makanan sehat berbahan pangan lokal.

“Padahal, kita punya akses makanan sehat untuk sayur dan buah, di mana Indonesia memiliki sumber nabati yang bersagam dan kita bisa akses itu dengan harga yang sesuai,” ujar Jaqualine.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/eathink-ajak-konsumen-lebih-bijak-pilih-makanan/feed/ 0
Altereco Gerakkan Aksi Pelestarian Lingkungan di Pulau Lombok https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/#respond Sat, 23 Dec 2023 05:00:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42606 Jakarta (Greeners) – Demi menjaga lingkungan tetap bersih, komunitas lingkungan Alternative Ecological and Colloborative Movements (Altereco) Nusa Tenggara hadir sebagai penggerak aksi lingkungan hidup di Lombok. Pembentukan komunitas ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Demi menjaga lingkungan tetap bersih, komunitas lingkungan Alternative Ecological and Colloborative Movements (Altereco) Nusa Tenggara hadir sebagai penggerak aksi lingkungan hidup di Lombok. Pembentukan komunitas ini merupakan upaya berkelanjutan dari generasi muda di Indonesia bagian timur untuk terus menjaga lingkungan.

Altereco merupakan sebuah gerakan yang fokus pada kolaborasi untuk menyelaraskan ekologi. Isu lingkungan menjadi hal utama yang akan mereka kampanyekan.

“Kami akan fokus ke isu-isu lingkungan yang ada di Lombok. Semua kawan-kawan yang bergabung di sini berasal dari lokal daerah yang dulunya di komunitas lingkungan. Jadi, kami bareng-bareng membangun sebuah gerakan yang fokus ke isu lingkungan di Lombok. Saat ini kami fokus ke pengelolaan sampah,” ungkap Koordinator Altereco Nusa Tenggara, Wibisono Setiyoadi kepada Greeners, Rabu (13/12).

Komunitas yang berdomisili di Mataram ini baru memulai aksinya pada tahun 2023. Langkah yang masih terbilang cukup baru ini menjadi pembuka jalan untuk anak muda di Pulau Lombok dalam menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan di daerah.

Altereco melakukan aksi pelestarian lingkungan di Pulau Lombok. Foto: Altereco

Altereco melakukan aksi pelestarian lingkungan di Pulau Lombok. Foto: Altereco

Altereco Ajak Anak Usia Dini Peduli Lingkungan

Dalam aksinya, Altereco telah mengedukasi banyak pihak untuk lebih peduli lingkungan. Menariknya, komunitas ini juga menyebarkan informasi tentang pentingnya kepedulian lingkungan kepada anak usia dini.

“Kegiatan dari kami sejauh ini fokus pada campaign dan pendidikan lingkungan, terutama pada pendidikan anak-anak usia dini dalam membangun awareness soal lingkungan di Mataram. Sebab, masih kurang sekali pemuda dan anak-anak untuk menyadari hal itu. Apalagi, saat ini Lombok telah menjadi destinasi wisata, bahkan katanya akan menjadi seperti tujuan wisatawan kedua setelah Bali,” ujar Wibisono.

BACA JUGA: Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon

Wibisono juga melihat saat ini fenomena krisis iklim sudah terjadi secara nyata. Oleh sebab itu, Wibisono sebagai koordinator Altereco pun terus menyadarkan masyarakat tentang bahayanya fenomena tersebut lewat campaign.

“Kenapa anak-anak? Karena lebih gampang kami influence. Kami juga menyasar anak-anak muda dan masyarakat umum. Kemarin, kami juga melakukan talkshow soal lingkungan di Mataram, sebagai pemantik untuk memperlihatkan permasalahan lingkungan kepada anak-anak muda. Dalam talkshow ini juga sejumlah anak muda dan pemangku kebijakan saling rembuk,” imbuh Wibisono.

Gerakan Lingkungan di Lombok Perlu Dimasifkan

Menurut Wibisono, gerakan lingkungan di Kota Mataram Pulau Lombok perlu dimasifkan. Sebab, masih sedikit anak muda yang menyadari pentingnya aksi pelestarian lingkungan.

“Saat ini masih sedikit awareness di kalangan anak muda kalau enggak digerakin bersama-sama. Akhirnya, kami kepengin membuat banyak kolaborasi bareng anak muda agar isu lingkungan bisa dipahami banyak orang,” tambah Wibisono.

BACA JUGA: Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi

Menurut Wibisono, semangat gerakan lingkungan juga perlu mereka tularkan kepada anak muda secara konsisten. Harapannya, agar penggerak lingkungan di daerah Lombok tidak akan lenyap atau hilang.

“Makanya, kami buat sebuah tren baru untuk peduli pada lingkungan. Apalagi kan Lombok sekarang banyak dituju wisatawan yang menimbulkan potensi menumpuknya sampah. Oleh karena itu, kami ingin memajukan campaign bersama anak-anak muda, jangan sampai merusak lingkungan. Namun, kami juga ingin melakukan itu secara masif karena mumpung masih bisa kami cegah kerusakannya,” lanjut Wibisono.

Altereco saat ini sedang merancang sejumlah kegiatan, seperti mengadakaan forum-forum soal lingkungan. Mereka akan terus berupaya untuk menyebarluaskan isu lingkungan kepada anak muda. Dengan demikian, mereka bisa beraksi bersama dalam menyelamatkan lingkungan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/altereco-gerakkan-aksi-pelestarian-lingkungan-di-pulau-lombok/feed/ 0
YPCII Dorong Pekerja di Bidang Sampah Miliki Jaminan Kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/#respond Sat, 18 Nov 2023 04:00:15 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42287 Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Para pekerja dalam bidang sampah memiliki risiko besar dalam menjalani pekerjaannya. Menyadari hal itu, Non Governmental Organization (NGO) asal Indonesia, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) bergerak memprioritaskan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan kepada pekerja sampah.

NGO yang berdiri sejak tahun 2008 ini bertujuan memajukan kehidupan masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Tujuan tersebut akan mereka capai dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membangun diri sendiri. Hal itu tanpa membedakan suku, agama, ras, dan pandangan politik mereka.

Semua personel dalam perangkat YPCII juga berpengalaman luas dalam program pengembangan masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. Selain itu, YPCII juga terus mendorong agar masyarakat bisa mengakses air bersih, higienitas, dan sanitasi.

Anggota YPCII sekaligus Program Manager Inclusive Recycling Indonesia, Lydia Fransisca mengatakan YPCII mendukung program pengelolaan sampah. Salah satunya di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Panggungharjo, Kabupaten Bantul. YPCII mendorong para pekerja di TPS3R memiliki jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan gratis dari pemerintah.

BACA JUGA: Paste Lab Hasilkan Banyak Karya dari Sampah Plastik

“Dengan jaminan kesehatan, mereka bisa mengakses (layanan) kesehatan. Terpenting kami niat saja buatnya, kami mintakan KTP dan kartu keluarganya untuk membuat jaminan kesehatan. Ada juga jaminan kecelakaan kerja, karena mereka rentan mengalami kecelakaan kerja. Lalu, untuk jaminan kami kerja sama dengan BPJS ketenagakerjaan,” ucap Lydia kepada Greeners di TPS3R Panggungharjo.

Lydia menambahkan, melalui jaminan ketenagakerjaan, karyawan bisa mendapatkan tiga benefit dari BPJS ketenagakerjaan. Di antaranya asuransi kecelakaan kerja, jaminan pensiun hari tua, dan jaminan kematian.

“Setidaknya kami mendorong teman-teman di TPS3R atau di collection center punya itu. Kami pelan-pelan mendorong mereka punya BPJS ketenagakerjaan yang kemudian poinnya itu akan ditanggung oleh TPS3R sendiri,” ujar Lydia.

YPCII Dorong Ciptakan Lingkungan Sehat

Menurut Lydia, banyak faktor penyebab masalah kesehatan di Indonesia. Salah satunya penanganan sampah yang kurang tepat.

“Kami paham penanganan sampah yang kurang tepat bisa mencemari lingkungan. Kemudian, mempengaruhi kualitas air yang akan masyarakat konsumsi, yang akhirnya menimbulkan penyakit. Melihat hal seperti itu, kami dari YPCII memang bergerak dalam bidang kesehatan, lalu fokus juga ke lingkungannya supaya bersih dan orang itu sehat,” kata Lydia.

YPCII juga mendorong semua pihak yang terlibat seperti pekerja dalam sektor sampah. Jika karyawan sakit, otomatis sistem pengelolaan sampah juga tidak bisa berjalan efektif. Dengan demikian, kesehatan karyawan sangat penting untuk dijaga.

Pekerja di Bidang Sampah Rentan Terkena Penyakit

Para pekerja di bidang sampah tentu tidak pernah jauh dari tumpukan sampah yang mengandung mikroorganisme. Hal itu mengakibatkan karyawan terserang penyakit lantaran ada banyak bakteri dan virus yang menumpuk di sampah.

“Ingat kemarin saat Covid, bayangkan semua sampah di bawa ke sini, kan kita gak tahu Covid atau enggak. Itu semua ditangani oleh teman-teman di sini. Kami juga terus mengimbau mereka untuk pakai masker dan face shield,” imbuh Lydia.

Tak hanya itu, petugas sampah juga sering mengalami infeksius serta trauma fisik seperti terkena tusuk sate. Kemudian, ada juga petugas yang terkena infeksi berat yang sangat membahayakan.

BACA JUGA: Project B Indonesia, 15 Tahun Buat Produk Bernilai dari Sampah

“Ketika menjadi infeksi dan meluas, itu membahayakan dan mengancam nyawa. Belum lagi terkena beling, kena paku, lalu ada pekerja yang kecelakaan terkena mesin,” tambah Lydia.

Oleh sebab itu,  YPCII terus mendorong agar karyawan di TPS3R memiliki lingkungan kerja yang lebih sehat. Setidaknya, mereka aman dan terlindungi dari kecelakaan kerja. Mendukung hal itu, YPCII mengadakan pelatihan keselamatan kerja kepada para karyawan dan terus menyediakan alat pelindung diri.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ypcii-dorong-pekerja-di-bidang-sampah-miliki-jaminan-kesehatan/feed/ 0
Resan Gunungkidul, Jaga Mata Air dengan Melestarikan Pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/#respond Wed, 08 Nov 2023 04:31:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42200 Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peran pohon atau yang lumrah disebut dengan resan di Gunungkidul memiliki manfaat baik sebagai penjaga mata air. Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air di wilayah tersebut lewat pelestarian pohon.

Komunitas yang berdiri sejak tahun 2018 ini berawal dari keresahan akan alam yang kini semakin rusak hingga menimbulkan berbagai kesulitan. Misalnya, bencana alam dan kemarau panjang. Keresahan tersebut menjadi awal mula Resan Gunungkidul terbentuk untuk melakukan penanaman pohon.

BACA JUGA: Operasi Semut Rutin Pungut Sampah demi Lingkungan Bersih

“Saya mencoba berdiskusi tentang keadaan alam ini, banyak teman yang merespons. Ketika ketemu, teman-teman punya keresahan yang sama, terus ngobrol. Akhirnya berkembang dan kami berjejaring jadi Komunitas Resan Gunungkidul,” ungkap Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo saat Greeners temui di Gunungkidul.

Resan Gunungkidul juga memiliki kegiatan rutin membibit dan menanam bakal resan. Selain itu, mereka juga ikut merawat dan membersihkan sumber air, melaksanakan upacara penghormatan, pemuliaan pohon resan, serta nglangse (menyelimuti) resan.

“Kalau musim kemarau gini melakukan pembersihan sumber air. Kami juga mencatat cerita di balik sumber air itu,” lanjut Edi.

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Komunitas Resan Gunungkidul menjadi pendorong sinergi untuk ikut menjaga mata air lewat pelestarian pohon. Foto: Resan Gunungkidul

Resan Miliki Manfaat Baik

Eksplorasi sumber daya air yang mereka lakukan menjadi hal yang menarik. Sebab, ada latar belakang sejarah dari leluhur di sana. Tak sekadar itu, Resan Gunungkidul juga melihat ada manfaat baik dari resan sehingga perlu dilestarikan.

Misalnya, secara fungsi ekologis, pohon resan bermanfaat untuk menyimpan dan melahirkan air, tempat tinggal para satwa, dan menyuburkan tanah. Resan atau pohon pelindung ini juga bisa menyerap polutan baik di udara, di tanah, maupun suara. Oleh karena itu, masyarakat menghormati pohon-pohon resan dan memuliakannya dengan upacara daur hidup semacam Nyadran dan Rasulan.

BACA JUGA: Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi

“Jadi, akar pohon ini menjalankan jalan air. Daun dan ranting pohon memiliki fungsi konservasi yang menyerap air hujan. Lalu, meresapkan daun tanah dan menyimpan itu menjadi cadangan air, nah itu bisa dimanfaatkan,” kata Edi.

Di samping itu, resan merupakan golongan utama unsur kehidupan sasamaning dumadi (sesama ciptaan Tuhan). Bersama dengan pohon resan, satwa, dan aneka tumbuhan lain, masyarakat melaksanakan perikehidupan bebrayan agung (persaudaraan alam raya). Terutama, dalam lingkaran kerukunan, keselamatan, dan kemakmuran.

Saat ini, sudah ada 14 titik sumber air yang Resan Gunungkidul konservasi. Edi menambahkan, dirinya dan masyarakat telah terlibat dalam proses konservasi ini sejak sumber air ditutup hingga air berhasil dikeluarkan. Namun, pada musim kemarau banyak mata air yang kembali kering.

Eksplorasi Sumber Air Lewat Sejarah

Saat Resan Gunungkidul menelusuri sumber air di kawasan Gunungkidul, itu erat kaitannya dengan cerita sejarah desa setempat. Dalam menjalankan misinya, Resan Gunungkidul terus menelusuri sumber air dengan mencari sesepuh atau tokoh masyarakat setempat. Tujuannya untuk mempelajari sejarah dari sumber mata air di wilayah yang mereka kunjungi.

“Sesepuh itu pernah kontak langsung dengan mata air itu, baik dengan air atau upacara adat di situ. Kadang saat ini sumber air itu terabaikan, karena mindset di masyarakat sekarang tentang mendapatkan air mulai menurun,” ujar Edi.

Edi menambahkan, upacara adat biasa mereka lakukan di dekat sumber air. Sebab, kawasan tersebut merupakan titik spiritual bagi warga yang menganggap air sebagai sumber kehidupannya. Oleh karena itu, mereka ingin bersyukur kepada Tuhan, dengan melakukan upacara adat di dekat sumber mata air.

“Namun, seringkali dikira melakukan ritual ini seperti menyembah pohon. Padahal, tempat ini masyarakat gunakan agar merasa dekat dengan Tuhannya sebagai sumber kehidupan,” kata Edi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/resan-gunungkidul-jaga-mata-air-dengan-melestarikan-pohon/feed/ 0
Operasi Semut Rutin Pungut Sampah demi Lingkungan Bersih https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/#respond Tue, 24 Oct 2023 08:08:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=42059 Jakarta (Greeners) – Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Hal itu untuk memulai kebiasaan baik pada setiap orang dalam menjaga kebersihan kawasannya. Komunitas yang terbentuk sejak 2022 itu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Hal itu untuk memulai kebiasaan baik pada setiap orang dalam menjaga kebersihan kawasannya. Komunitas yang terbentuk sejak 2022 itu bermula dari salah satu program kegiatan Cleanaction Network.

Berawal dari pergerakan masyarakat untuk membersihkan sampah di wilayah utara Jakarta, Operasi Semut pun memulai aksinya. Mereka membersihkan sampah di kawasan Jakarta International Stadium (JIS) pada 19 Februari 2022.

“Karena JIS itu proyek itu sudah dicita-citakan menjadi bangunan yang green building, menerapkan keberlanjutan lingkungan, dan punya material sirkulasi udara baik yang bisa influence pengunjung (untuk jaga kebersihan). Operasi Semut menyambut berita itu dengan melakukan kegiatan bersih-bersih di sana,” ungkap Program Direktur Cleanaction, Hendro Subroto kepada Greeners melalui sambungan telepon.

BACA JUGA: Komunitas Kejar Mimpi Aksi Bersih Pantai di Balikpapan

Warga yang membersihkan kawasan JIS merupakan anak-anak kampung sekitaran Stadion JIS. Dalam menjaga kebersihan stadion, para petugas kebersihan juga turut membantu mereka.

“Teman-teman Operasi Semut yang ada di seputaran stadion ini ingin menjadi tuan rumah yang baik. Misalnya, saat ada pertandingan, orang-orang yang di sana juga jadi teredukasi, seperti tidak membuang sampah sembarangan,” tambah Hendro.

Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Foto: Komunitas Operasi Semut

Operasi Semut rutin membersihkan sampah di lingkungan terdekat. Foto: Komunitas Operasi Semut

Operasi Semut Bersihkan Sampah saat CFD

Operasi pembersihan sampah ini tidak hanya mereka lakukan di kawasan JIS. Mereka juga memperluas aksinya di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat setiap hari Minggu saat car free day (CFD).

“Mereka mulai konsisten setiap Sabtu sore di JIS melakukan kegiatan. Setelah JIS ada pengelola, kami pindah ke bundaran HI. Jadi, kegiatan komunitas Operasi Semut ini tidak mengacu sebuah tempat,” ucap Hendro.

Dalam setiap operasi membersihkan sampah di Bundaran HI, para relawan juga melakukan edukasi lewat poster yang mereka bawa. Mereka berharap masyarakat bisa sadar soal kepeduliannya terhadap sampah.

Hindari Bebani TPA dengan Pilah Sampah

Setiap kali habis melakukan pemungutan sampah, Komunitas Operasi Semut juga memilah dan menimbang sampah. Kegiatan ini telah menjadi sebuah kebisaan baru bagi anak kampung Tanjung Priok dan sekitarnya.

Padahal, awal mula pola yang mereka terapkan hanya mengumpulkan sampah yang tercecer. Namun, pola itu berkembang lebih baik. Kini, para relawan telah menerapkan pola baru menjadi kumpul dan pilah.

BACA JUGA: Komunitas Pecinta Bromo Bersih-Bersih Gunung dari Sampah Pengunjung

“Baru-baru ini bulan Juni 2023 kami ada kegiatan sampah dengan Waste4change. Sampah yang dipilah kami kumpulkan dan kami bawa ke Waste4change. Ini agar tidak menambah volume ke TPA,” imbuh Hendro.

Anak muda menjadi penggerak terbanyak dalam Komunitas Operasi Semut. Menurut Hendro, kebanyakan dari mereka masih memiliki ruang yang lebar. Selain itu, mereka pun sadar bahwa perjalanan sampah ini cukup panjang. Apabila tidak dikelola dengan baik, akan berpotensi mencemari lingkungan.

“Mereka baru sadar soal sampah, misalnya soal proses panjang sampah, sampai sampah ini punya nilai guna. Selain itu, rata-rata dari mereka juga ada yang content creator, mereka rutin melakukan kegiatan bebersih ini.  Ada juga anak-anak SD yang ikut kegiatan ini,” kata Hendro.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/operasi-semut-rutin-pungut-sampah-demi-lingkungan-bersih/feed/ 0
Saling ID Suarakan Isu Lingkungan ke Anak Muda Sukabumi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/#respond Wed, 06 Sep 2023 06:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41453 Jakarta (Greeners) – Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Komunitas lingkungan hidup sekaligus Non Governmental Organization (NGO) ini menjadi satu-satunya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Komunitas lingkungan hidup sekaligus Non Governmental Organization (NGO) ini menjadi satu-satunya yang menggalakkan kepekaan lingkungan di kalangan pemuda Kota Sukabumi.

Komunitas tersebut berdiri sejak 2018 oleh tiga anak muda. Ketiga pendirinya adalah Deruz, Neviawati, dan Ruswanto.

“Saling ID ingin fokus pada isu sosial dan lingkungan,” kata CEO Saling ID Dede Ruslan, yang biasa disapa Deruz. Lalu, Deruz ingin membawa kedua isu tersebut menjadi perbincangan anak muda di Sukabumi.

BACA JUGA: Yayasan Penyu Indonesia Lindungi Penyu dari Kepunahan

“Kami ingin anak-anak  muda melek sama isu lingkungan. Lingkungan itu bahasanya berat banget, ngajakinnya susah untuk mereka concern ke hal itu. Makanya, kami masukkan isu itu disela-sela kebiasaan anak muda,” kata Deruz kepada Greeners, Jumat (1/9).

Dengan memasukkan pembahasan isu lingkungan ke kalangan anak muda, Deruz bersama timnya mencoba berbagai pendekatan. Misalnya, dalam sebuah konser, Saling ID memanfaatkan momen tersebut untuk membuat sesuatu hal yang berkaitan dengan lingkungan.

“Anak muda sukanya nongkrong, kami bikin sesuatu juga di situ dengan ada musik dan talskhow tentang lingkungan. Kami bikin konsepnya seperti anak muda banget,” tambah Deruz.

Perkenalkan Ecobrick di Kota Sukabumi

Pada awal berkembangnya Saling ID, banyak aksi dan inisiatif dalam kegiatan komunitas ini. Mereka memulai perjalanannya dengan melakukan penanaman di sebuah desa di wilayah Kota Sukabumi.

Namun, seiring berjalannya waktu, Saling ID mengalihkan fokusnya ke persoalan sampah. Sebab, kekhawatiran utama saat ini adalah sebagian besar masyarakat menghasilkan sampah. Dengan menggerakan hal ini, Saling ID memperkenalkan ecobrick atau botol plastik yang dikemas padat dengan plastik bekas di Kota Sukabumi.

Akhirnya, kami beralih untuk fokus ke persampahan. Sebab, menurut kami, tidak semua menebang pohon, tapi semua orang menghasilkan sampah. Nah, akhirnya kami fokus ke persampahan, kami bawa ecobrick pertama kali ke Sukabumi. Kami keliling ke paud-paud, sampai akhirnya dijadikan lomba sama paud-nya. Komunitas lain juga mengadopsi ide itu,” ucap Deruz. 

Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Foto: Saling ID

Sahabat Lingkungan (Saling ID) menggandeng anak muda di Kota Sukabumi untuk lebih melek terhadap isu lingkungan. Foto: Saling ID

Selipkan Berbagai Edukasi ke Pelajar

Kegiatan rutinitas yang Saling ID lakukan tidak melulu memberikan edukasi lingkungan. Ada berbagai materi yang mereka ajarkan kepada para pelajar di Kota Sukabumi melalui program Saling Jagoan Sekolah.

“Anak sekolah bukan cuma dibekali tentang lingkungan saja, tapi juga materi yang tidak diajarkan sekolah. Misalnya, komunikasi bisnis, finance, hukum, karena banyak yang belum mengetahuinya, jadi kami masukkan ke hal-hal itu,” tambah Deruz. 

BACA JUGA: Bicara Udara Kawal Perbaikan Kualitas Udara

Selain itu, mereka juga berkolaborasi dengan sejumlah pihak untuk terlibat di dalam kegiatannya. Misalnya, saat ini Saling ID kerja sama dengan salah satu perusahaan nasional dalam melakukan kegiatan recycle puntung rokok menjadi asbak. 

Saling ID Miliki Prinsip “Kita Dulu Aja”

Sebelum mengajak orang lain untuk peka terhadap lingkungan, Saling ID sudah mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dalam lingkup internalnya dengan prinsip “Kita Dulu Aja”.

“Kami punya prinsip ‘Kita Dulu Aja’, karena semua hal baik dan buruk itu kami mulai dari sendiri dulu aja. Kalau kami melakukan sesuatu dari hal baik, kami juga akan memberikan hal baik,” ujar Deruz.

Dengan prinsip tersebut, mereka terus konsisten menyuarakan dan mengambil tindakan terhadap permasalahan lingkungan hidup di Kota Sukabumi. Mereka juga terus menekankan ruang lingkup internalnya untuk memperkuat prinsip-prinsip tersebut. Salah satunya adalah setiap anggota harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/saling-id-suarakan-isu-lingkungan-ke-anak-muda-sukabumi/feed/ 0
Yayasan Penyu Indonesia Lindungi Penyu dari Kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/#respond Sat, 12 Aug 2023 04:05:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=41162 Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim mengancam kehidupan penyu di Indonesia. Suhu dalam sarang akan memengaruhi jenis kelamin penyu. Ketika suhu sarang semakin tinggi, betina akan mendominasi. Malahan, ancaman tak hanya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim mengancam kehidupan penyu di Indonesia. Suhu dalam sarang akan memengaruhi jenis kelamin penyu. Ketika suhu sarang semakin tinggi, betina akan mendominasi.

Malahan, ancaman tak hanya dari itu saja. Polusi dan sampah plastik di antaranya. Penyu bisa memakan sampah plastik yang terbuang ke perairan. Penyu mengira sampah plastik adalah ubur-ubur.

Padahal penyu merupakan salah satu fauna berperan menjaga ekosistem laut. Populasinya perlu dijaga agar tidak punah. Dalam misi penyelamatan ini, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) hadir membuat gerakan penyelamatan penyu dari berbagai ancaman.

Organisasi non profit yang berdiri sejak tahun 2018 telah fokus bekerja dan berkomitmen untuk melestarikan penyu serta habitatnya. Awalnya mereka fokus pada perlindungan satwa liar. Namun keresahan timbul ketika melihat penyu semakin terancam.

Berbagai ancaman itu antara lain eksploitasi manusia, pembangunan di bibir pantai, perburuan, dan perdagangan telur maupun daging penyu.

Program Manager Yayasan Penyu Indonesia, Muhamad Jayuli mengatakan, dari sikap manusia yang semena-mena terhadap penyu mendorong organisasi ini terus menguatkan komitmennya untuk menyelamatkan kehidupan penyu.

“Kami punya visi masa depan penyu dapat dilindungi secara berkelanjutan. Di mana penyu dan manusia dapat hidup berdampingan. Bahkan, manusia pun tidak lagi menimbulkan berbagai ancaman kepada penyu,” kata Jayuli kepada Greeners baru-baru ini.

Dalam menjalankan visinya, YPI membentuk berbagai skema untuk melindungi penyu dengan melibatkan berbagai mitra di sejumlah wilayah peneluran penyu. Ada sejumlah wilayah yang YPI kunjungi untuk konservasi penyu.

Wilayah konservasi penyu YPI antara lain di Pulau Bilang-Bilangan dan Mataha, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau itu merupakan zona inti sesuai Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penyu di Indonesia Terancam Perubahan Iklim dan Plastik

Masih dengan ancaman bagi penyu, perubahan iklim bisa memengaruhi kenaikan suhu laut yang berdampak buruk pada keberlangsungan hidup mereka. Sebab, semakin tinggi suhu pada sarang yang mencapai lebih dari 30 derajat Celcius akan membuat penyu dominan berjenis kelamin betina. Hal ini akan mengganggu keseimbangan sex rasio pada penyu.

Selain itu, perubahan iklim juga bisa memicu kenaikan permukaan air laut. Hal ini dapat mengancam keberadaan sarang di pantai peneluran penyu.

Aktivitas dan edukasi YPI bersama anak-anak pesisir tentang penyu. Foto: YPI

Gandeng Masyarakat Lokal

Untuk melindungi habitat penyu, masyarakat lokal khususnya masyarakat pesisir perlu terlibat. Sebab mereka paling dekat dengan habitat penyu. Misalnya, dalam melakukan patroli rutin di perairan, tiga-empat kali sehari.

YPI pun kampanye ke sejumlah wilayah untuk menghentikan eksploitasi terhadap penyu. YPI mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk seperti aksesoris dari penyu.

Saat ini YPI punya beberapa fokus kegiatan. Aksi mereka antara lain menjaga penyu dan habitatnya melalui patroli pantai, monitoring, dan pendataan penyu.

Kemudian, mereka juga aktif meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan penyu dan ekosistemnya. Tak kalah penting, YPI juga mendampingi dan memberdayakan masyarakat untuk mendorong alternatif ekonomi yang berkelanjutan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : RIK

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/yayasan-penyu-indonesia-lindungi-penyu-dari-kepunahan/feed/ 0
Bicara Udara Kawal Perbaikan Kualitas Udara https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/#respond Sun, 23 Jul 2023 04:45:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40893 Jakarta (Greeners) – Polusi udara masih menjadi permasalahan yang belum tuntas terselesaikan. Bicara Udara muncul untuk membawa harapan baru membantu memenuhi hak masyarakat atas udara bersih. Bicara Udara merupakan sebuah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Polusi udara masih menjadi permasalahan yang belum tuntas terselesaikan. Bicara Udara muncul untuk membawa harapan baru membantu memenuhi hak masyarakat atas udara bersih.

Bicara Udara merupakan sebuah komunitas yang sekelompok orang prakarsai karena merasakan pentingnya menyuarakan kepedulian terhadap kualitas udara di tempat mereka beraktivitas. Kehadirannya di tengah polusi udara membuka jalan untuk mencapai hidup bebas dari polusi.

Terbentuknya Bicara Udara, berawal dari kecemasan tiga orang ibu terhadap masalah lingkungan salah satunya polusi udara yang membahayakan anaknya. Novita Natalia sekaligus Co Founder Bicara Udara menjadi salah satu yang merasakan kecemasan tersebut.

“Pertama kali Bicara Udara ada yaitu karena kita masuk ke isu yang paling dekat dahulu yaitu orang yang membakar sampah, hal ini relate di kehidupan sehari-hari,” kata Novita kepada Greeners baru-baru ini.

Berasal dari kegelisahan tersebut, akhirnya Novita bersama komunitasnya mengadakan petisi yang berhasil mengumpulkan 78.000 tanda tangan tentang pentingnya udara bersih. Novita berpendapat, masalah pencemaran udara tidak hanya berasal dari pembakaran sampah, melainkan ada penyebab yang jauh lebih besar sehingga masyarakat harus teredukasi.

Bicara Udara berharap dengan adanya petisi seperti ini bisa membentuk tekanan publik yang bisa mereka ajukan kepada pemerintah. Sebab, pemerintah memiliki andil dalam mengatasi polusi udara melalui kebijakan demi mencapai hak hidup atas udara bersih di Indonesia.

Bicara Udara Gandeng Pemerintah

Setelah tiga tahun giat memerangi polusi udara, Bicara Udara telah mengantongi keberhasilan dari serangkaian upayanya. Mereka berhasil mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengambil langkah lebih serius dalam mengatasi persoalan polusi udara.

“Kalau dari sisi kebijakan itu yang goal yaitu ke Kementerian Kesehatan, kita berhasil meeting tiga kali bersama menteri kesehatan. Awalnya kita launching film dokumenter Sengal. Kemudian menteri kesehatan melihat ada masalah kesehatan masyarakat dari hal ini,” ungkap Novita.

Tidak lama berselang, Bicara Udara diajak bekerja sama oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan untuk membentuk komite penyakit respirasi dan dampak polusi udara. Sejauh ini, gagasan tersebut masih dalam tahap proses.

Novita berharap, melalui kerja sama ini, pemerintah dapat mendorong sensor kualitas udara yang berperan sebagai peringatan dini, sehingga masyarakat bisa melakukan antisipasi ketika polusi udara meningkat. Bicara Udara juga berupaya menjadikan polusi udara sebagai isu perbincangan pada pemilu tahun 2024.

Foto: Bicara Udara

Wadah Aspirasi dan Edukasi

Dalam menjalankan komitmennya, edukasi polusi udara menjadi satu hal yang mereka pegang teguh. Komunitas ini ingin terus menjadi wadah aspirasi dan edukasi bagi masyarakat untuk terlibat dalam pemecahan solusi.

Dilema polusi udara bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga berperan penting dalam melakukan upaya menjaga kualitas udara. Oleh karena itu, Bicara Udara ingin memengaruhi kesadaran publik tentang masalah ini melalui campaign atau kampanye offline maupun online secara rutin.

Melalui campaign mereka kerap mengangkat isu-isu terkini seputar polusi udara dari berbagai sudut pandang. Misalnya, dari segi kesehatan dan ekonomi. Saat ini mereka pun sedang fokus membahas transisi energi. Hal ini terus mereka lakukan untuk membantu masyarakat memahami kondisi polusi udara terkini.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bicara-udara-kawal-perbaikan-kualitas-udara/feed/ 0
Ogah Pusing Cari Makan, Saikelkuking Memasak Usai Gowes https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ogah-pusing-cari-makan-saikelkuking-memasak-usai-gowes/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ogah-pusing-cari-makan-saikelkuking-memasak-usai-gowes https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ogah-pusing-cari-makan-saikelkuking-memasak-usai-gowes/#respond Wed, 12 Jul 2023 04:28:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40731 Jakarta (Greeners) – Bersepeda merupakan salah satu hobi yang memiliki banyak manfaat. Kegemaran ini telah melahirkan banyak komunitas, obrolan, hingga ide kreatif di dalamnya. Salah satunya, Saikelkuking yang mencetuskan konsep […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bersepeda merupakan salah satu hobi yang memiliki banyak manfaat. Kegemaran ini telah melahirkan banyak komunitas, obrolan, hingga ide kreatif di dalamnya. Salah satunya, Saikelkuking yang mencetuskan konsep memasak usai bersepeda.

Saikelkuking merupakan buah pikiran dari sekelompok orang yang memiliki kecintaan yang sama dengan aktivitas ini. Grup yang beranggotakan enam orang ini telah berdiri sejak tahun 2021.

Pencetusan konsep memasak sambil bersepeda ini timbul dari rasa bosan terhadap aktivitas bersepeda yang seringkali diakhiri dengan membeli makanan yang itu-itu saja. Hingga akhirnya, Saikelkuking membuat terobosan dengan membuat kegiatan memasak hingga menyajikan makanan untuk para pesepeda yang telah menyelesaikan kegiatan bersepeda.

Saikelkuking telah memberikan sebuah pengalaman baru. Khususnya kepada para pesepeda di Bandung. Weekend Cooking menjadi salah satu program yang menawarkan para pesepeda untuk menikmati masakan dari Saikelkuking setelah bersepeda.

Founder Saikelkuking Ramadhan Azka atau akrab disapa Oka mengatakan, inisasi ini dibentuk oleh enam orang di antaranya Oka, Bento, Yuzie, Kamal, Valianto, dan Kiki ini ingin menciptakan sebuah kebiasaan dan kultur baru di dalam bersepeda.

“Ketika ngobrol muncul ide kalau sepedaan finish-nya masak, tapi harus proper. Akhirnya terbentuklah kecil-kecilan dulu, lama-lama banyak antusias dari pesepeda, bahkan yang bukan pesepeda pun cukup besar. Awal dari keisengan ini, ingin di finish itu biar engga makan kupat dan bubur lagi,” kata Oka kepada Greeners, Selasa (11/7).

Sampai saat ini, mereka telah memiliki beberapa program di antaranya Weekend Cooking, Weekend Picnic, dan Rolling Into De Eat (RIDE). Khusus untuk Weekend Cooking biasanya diikuti oleh 15 hingga 20 pesepeda. Berapa pun pesepeda yang ikut serta mereka tetap menjalani berbagai program tersebut.

Saikelkuking Punya Chef Berpengalaman

Ide unik di kalangan pecinta sepeda ini pun bukan sekadar masak yang biasa-biasa saja. Segala aspek dalam setiap penyajian makanan menjadi perhatian utama bagi mereka.

Hebatnya, mereka memiliki seorang chef yaitu Bento yang memiliki pengalaman masak di kapal selama 10 tahun. Dirinya menjadi pemeran utama dalam setiap penyajian makanan.

“Kami berenam memiliki background yang berbeda. Tapi, chef di Saikelkuking adalah chef profesional yang pernah masak di kapal selama 10 tahun sudah keliling Eropa,” ungkap Oka.

Weekend Cooking ini diadakan sebanyak dua kali dalam satu bulan. Selain mandiri dalam menyediakan makanan untuk para pesepeda, Saikelkuking juga telah banyak berkolaborasi bersama beberapa usaha food and beverage (FnB) di Bandung.

Pesepeda usai gowes. Foto: Saikelkuking

Ajak Pesepeda Nikmati Masakan Dunia

Saikelkuking lagi-lagi memiliki sebuah keunikan yang bisa memikat para pesepeda untuk menikmati makanannya. Mereka memiliki prinsip “Sepedaannya keliling kota tetapi makannya keliling dunia”. Prinsip tersebut mereka ciptakan dengan terus berinovasi membuat makanan khas dari berbagai dunia.

Memiliki chef berpengalaman, para pesepeda akan menikmati masakan langka yang Saikelkuking buat.

Harapan ke depannya lanjut Oka, Saikelkuking ingin memiliki offline store atau usaha FnB yang bisa mereka kelola bersama.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/ogah-pusing-cari-makan-saikelkuking-memasak-usai-gowes/feed/ 0
Nuansa Pulau Selamatkan Terumbu Karang dari Kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/#respond Fri, 30 Jun 2023 04:58:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40616 Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas […]]]>

Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas Nuansa Pulau untuk melindungi terumbu karang di wilayah mereka.

Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, Komunitas Nuansa Pulau terbentuk. I Nyoman Karyawan menjadi komandan gerakan ini dan mengajak anak muda setempat berpartisipasi aktif dalam kegiatan perlindungan terumbu karang.

Sejauh ini, sebanyak 25 anggota telah bergabung dengan Nuansa Pulau. Semua anggota komunitas pun sudah memiliki keahlian menyelam karena sebagian besar aktivitas mereka berada di laut, sehingga terlatih untuk bisa ikut mengawasi terumbu karang.

Anggota Nuansa Pulau, I Gede Ranta Widya mengatakan sebagai anak pulau, ia termotivasi untuk bergabung dengan komunitas ini karena hidupnya hanya bergantung pada laut dan sektor pariwisata.

“Motivasinya kan kita anak pulau, jadi bergantung sama ini dan pariwisata juga. Jadi ngapain sih kita kayak enggak peduli sama laut-laut kita. Karena kita juga kan nyari makan di sana,” katanya saat Greeners temui di lokasi Komunitas Nuansa Pulau, di Klungkung, Bali.

Kegiatan mereka fokus pada terumbu karang. Mereka membersihkan karang dari patok dan mengganti karang-karang yang rusak.

Metode Reef Star untuk Penyelamatan Terumbu Karang

Selama tiga tahun, Komunitas Nuansa Pulau aktif bekerja melindungi terumbu karang dan menerapkan metode reef star dalam merawatnya. Metode tersebut merupakan metode restorasi dengan material berbentuk kerangka baja yang dilapisi pasir.

Luas wilayah konservasi terumbu karang ini cukup luas, mencapai 1 kilometer dan tercatat telah ditanam sebanyak 30.000 bibit karang. Bibit tidak disemai sembarangan, anggota Nuansa Pulau sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan mengimplementasikan penanaman karang.

Beberapa NGO lingkungan juga mengajarkan metode dan pengetahuan ini. Ranta menambahkan, dia sudah lama diberi edukasi bagaimana cara membuat metode perawatan terumbu karang di sini.

Anggota komunitas Nuansa Pulau. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Sigap Hadapi Tantangan

Terumbu karang seringkali mati akibat terjadinya bleaching atau pemutihan. Dalam mengatasinya, Nuansa Pulau pun bertindak cepat dengan mengambil karang-karang tersebut.

“Dari karang yang bleaching itu, kita ambil. Kemudian habis bleaching tunggu dulu, kalau dia bisa tumbuh, tidak diambil. Kalau cukup besar pemutihannya, karang ini akan mati kemudian kita potong, buang, lalu tanam yang baru,” kata Ranta.

Pengawasan terumbu karang komunitas lakukan satu kali setiap minggu. Mereka merawat dan menanam terumbu karang pada kedalaman 10-15 meter.

Sebagai pecinta karang yang giat mencegah kerusakan karang, komunitas ini menghadapi berbagai tantangan. Ranta menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah aktivitas masyarakat dan wisatawan yang berpotensi merusak karang.

Dalam mengatasinya, komunitas ini mengedukasi perusahaan diving dan snorkeling bahwa di kedalaman 10 meter banyak karang yang perlu dilindungi. Harapannya, setelah ada edukasi wisatawan lebih berhati-hati supaya tidak merusak terumbu karang.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/feed/ 0
Bingung Buang Sampah Kasur? Jagatera ID Punya Solusinya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bingung-buang-sampah-kasur-jagatera-id-punya-solusinya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bingung-buang-sampah-kasur-jagatera-id-punya-solusinya https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bingung-buang-sampah-kasur-jagatera-id-punya-solusinya/#respond Tue, 20 Jun 2023 04:15:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40501 Jakarta (Greeners) – Sampah spesifik seperti kasur, sofa, dan springbed merupakan kategori sampah yang memerlukan penanganan khusus. Menanggapi masalah itu, Jagatera ID hadir untuk melayani penjemputan dan pengelolaan sampah spesifik, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sampah spesifik seperti kasur, sofa, dan springbed merupakan kategori sampah yang memerlukan penanganan khusus. Menanggapi masalah itu, Jagatera ID hadir untuk melayani penjemputan dan pengelolaan sampah spesifik, barang besar, dan barang tidak terpakai lainnya.

Startup lingkungan ini didirikan pada tahun 2014. Jagatera dimulai dengan social movement yaitu melalui pembukaan donasi mengumpulkan pakaian bekas yang melibatkan banyak donatur.

Seiring berjalannya waktu, Jagatera akhirnya mengalihkan perhatiannya ke pengelolaan sampah spesifik. Inisiatif tersebut mereka awali karena melihat kondisi sampah yang kian menumpuk, menghabiskan banyak tempat, dan merusak lingkungan.

Pendiri Jagatera ID, Denny M Pondiu mengatakan, dirinya tidak berniat terjun ke bidang lingkungan khususnya pada pengelolaan sampah. Namun, Denny mencoba jelajahi bidang tersebut hingga menemukan sesuatu yang berguna dari sampah.

“Akhirnya Jagatera berkembang sampai tahun sekarang yang lebih spesifik, karena kita melihat di negara maju sampah spesifik menjadi concern yang sangat serius. Oleh karena itu, kita coba berpindah haluan lebih menyasar ke sampah spesifik,” kata Denny kepada Greeners baru-baru ini.

Jenis sampah yang Jagatera ID angkut meliputi sampah pagar, sofa, tekstil dan springbed. Terutama saat bencana banjir, banyak masyarakat yang menyumbangkan kasurnya ke Jagatera untuk dimanfaatkan menjadi sebuah produk yang bernilai.

Sejauh ini, Jagatera mencatat rata-rata pengumpulan sampah perbulannya terdiri dari sampah daur ulang 5-6 ton, tekstil 2-3 ton, dan limbah kayu sebanyak 1 kubik.

Proses daur ulang sampah spesifik. Foto: Jagatera ID

Kurangi Sampah di TPA

Jagatera ID tak sekadar menyelesaikan masalah pembuangan sampah spesifik yang selama ini membuat masyarakat bingung menanganinya. Tetapi, gagasan tersebut telah membantu mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Semua sampah yang Jagatera kumpulkan akan mereka daur ulang kembali menjadi furnitur. Kemudian, barang tersebut akan mereka jual di platform Jagatera.

Denny menambahkan, masyarakat dari wilayah Jakarta Selatan, Depok, dan Tangerang Selatan paling banyak mengirimkan sampah spesifiknya.

Furnitur yang bahannya berasal dari hasil daur ulang sampah spesifik. Foto: Jagatera ID

Terima Sampah Kotoran Kucing

Bahkan saat ini, Jagatera terus mengembangkan inovasinya dalam mengelola sampah spesifik. Menariknya, jenis sampah yang akan mereka terima pun jauh lebih bervariasi. Salah satunya, mereka kini menerima jasa pengelolaan sampah pasir dan kotoran kucing.

“Ada dua atau tiga yang kita sedang fokuskan untuk dijadikan produk turunan, semoga itu bisa menjadi solusi. Salah satunya sampah pasir kucing yang menjadi sampah spesifik,” ungkap Denny.

Dengan adanya ide tersebut, para pecinta kucing pun antusias dan tidak lagi bingung untuk membuang kotoran kucingnya. Sebab, Jagatera telah menerima semua kondisi sampah spesifik dari masyarakat.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/bingung-buang-sampah-kasur-jagatera-id-punya-solusinya/feed/ 0
Temuan Dolina Terbesar di Indonesia Jadi Prestasi Korpala Unhas https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/#respond Mon, 29 May 2023 04:29:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40230 Jakarta (Greeners) – Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas) punya keterlibatan di alam bebas. Komunitas kemahasiswaan ini menitikberatkan kegiatan alam terbuka yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, petualangan dan humanisme. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas) punya keterlibatan di alam bebas. Komunitas kemahasiswaan ini menitikberatkan kegiatan alam terbuka yang menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, petualangan dan humanisme.

Korpala Unhas awalnya berdiri melalui pendakian ke puncak Bawkaraeng pada tahun 1985. Pendakian tersebut dilakukan oleh 11 orang yang kini mereka tetapkan sebagai pendiri Korpala Unhas.

Kegiatan menantang seperti mendaki gunung, panjat tebing, susur gua serta penelusuran sungai dan laut terus para anggota lakukan hingga saat ini.

Kepala Korpala Unhas, Jum Ma’ruf Bilna Lilhaslam mengatakan, Korpala Unhas rutin melakukan riset di alam setiap tahunnya dan saat ini kegiatan sedang fokus menyalurkan bibit kepada masyarakat dalam misi penghijauan.

“Ada riset yang selalu kami lakukan di antaranya operasi dan ekspedisi. Kalau untuk dedikasi akademis, saat ini sedang melakukan penyaluran bibit kepada masyarakat,” kata Ma’ruf kepada Greeners, baru-baru ini.

Komunitas di Sulawesi ini juga telah berkontribusi dalam kegiatan sosial dan lingkungan di lingkup masyarakat. Kegiatan di bidang kesehatan biasanya berupa penyuluhan kesehatan, donor darah, dan pengobatan gratis.

Sedangkan di bidang lingkungan fokus pada kegiatan penghijauan di beberapa lokasi. Kemudian mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melindungi lingkungan hidup.

Foto: Korpala Unhas

Temukan Dolina Terbesar di Indonesia

Dalam penelusurannya di alam, mereka pun pernah menemukan dolina terbesar di Indonesia. Penemuan ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Korpala Unhas. Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras Tim Operasi Gua Padangguni. Awalnya, misi Tim Padangguni memetakan gua terbesar di Indonesia dan mengumpulkan data flora serta fauna.

Dolin atau sinkhole adalah depresi (lubang di tanah) yang disebabkan oleh beberapa bentuk keruntuhan lapisan permukaan. Dolina terbesar ini berhasil mereka temukan pada tahun 2022 di wilayah Konawe, Sulawesi Tenggara.

Dolina ini berukuran 300×200 meter dengan kedalaman 200×210 meter dan menjadi dolina terbesar yang sebelumnya pernah ada di Kuom, Papua.

Foto: Korpala Unhas

Pendidikan Dasar sebagai Bekal Korpala Unhas

Sementara itu, untuk menjaring anggota yang tangguh, sejak tahun 1987 mereka menerapkan mekanisme seleksi dalam sistem penerimaan anggotanya, untuk mengikuti pendidikan dasar (dikdas). Setelah menyelesaikan dikdas, proses selanjutnya harus diselesaikan untuk mendapatkan nomor keanggotaan tetap.

Selama proses inilah “seleksi alam'” terjadi dan yang tersisa hanya mereka yang benar-benar mampu membentuk karakter tangguh. Hal ini sekaligus sebagai tolak ukur “kualitas” setiap anggota Korpala.

Melalui sistem ini, Korpala akan membantu membentuk kualitas mental dan kepribadian anggota agar dapat berkembang secara optimal.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/temuan-dolina-terbesar-di-indonesia-jadi-prestasi-korpala-unhas/feed/ 0
Lindungi Hutan Mudahkan Berdonasi Tanam Pohon secara Online https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lindungi-hutan-mudahkan-berdonasi-tanam-pohon-secara-online/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lindungi-hutan-mudahkan-berdonasi-tanam-pohon-secara-online https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lindungi-hutan-mudahkan-berdonasi-tanam-pohon-secara-online/#respond Fri, 19 May 2023 04:04:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40079 Jakarta (Greeners) – Pohon merupakan elemen penting untuk kehidupan di Bumi. Lindungi Hutan, startup yang bergerak dalam bidang lingkungan hadir untuk memudahkan masyarakat terlibat tanam pohon melalui donasi online. Lindungi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pohon merupakan elemen penting untuk kehidupan di Bumi. Lindungi Hutan, startup yang bergerak dalam bidang lingkungan hadir untuk memudahkan masyarakat terlibat tanam pohon melalui donasi online.

Lindungi Hutan berdiri sejak 18 Desember 2016. Insiasi berdirinya karena melihat abrasi di kawasan Kota Semarang. Melihat kejadian yang memprihatinkan tersebut, terbentuklah Lindungi Hutan sebagai platform penggalangan dana untuk menanam pohon.

Menurut CEO Lindungi Hutan, Miftachur Ben Robani, Lindungi Hutan ingin menjembatani masyarakat perkotaan untuk melindungi hutan. Sejauh ini, para pengikut di media sosial pun turut antusias berdonasi, meski tidak terlibat langsung.

“Lindungi hutan datang untuk menjembatani orang-orang di perkotaan yang tidak terkena dampak langsung dari hutan yang rusak. Selain itu, dengan adanya platform ini juga dapat menolong lingkungan seperti menanam pohon cukup dari handphone,” ungkap Ben kepada Greeners baru-baru ini.

Startup lingkungan ini juga hanya fokus pada satu bidang yaitu penanaman pohon. Sebab, menurut Ben dengan fokus pada satu bidang akan jauh lebih kompeten. Selebihnya, dapat berkolaborasi dengan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan.

Kegiatan penanaman di lapangan. Foto: Lindungi Hutan

Mudahkan Masyarakat Tanam Pohon

Lindungi Hutan hadir sebagai platform penggalangan dana untuk menanam pohon. Dengan inisiatif ini, semakin memudahkan masyarakat ikut andil menjaga lingkungan dengan menanam pohon.

Ben juga mengatakan, seluruh pohon yang telah masyarakat tanam akan terus mereka pantau untuk mengetahui kondisi pohon. 

Sejauh ini, Lindungi Hutan juga telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar dan komunitas di Indonesia. Hal ini juga menjadi pendorong kepada masyarakat luas terlibat untuk peduli lingkungan.

Penanaman pohon jaga kelestarian Bumi. Foto: Lindungi Hutan

Berhasil Menanam 600.000 Pohon

Selama tujuh tahun menjadi startup lingkungan, Lindungi Hutan telah menanam lebih dari 600.000 pohon. Jenis pohon yang mereka tanam yaitu pohon yang tidak digunakan untuk produksi. Sebagian besar penanamannya adalah pohon mangrove.

Wilayah penanaman pohon ini tersebar di 46 lokasi penghijauan. Pesisir Pulau Jawa menjadi wilayah terbanyak yang ditanami pohon mangrove oleh Lindungi Hutan.

Menurut Ben, Lindungi Hutan ingin menggerakkan penanaman di wilayah terdekat terlebih dahulu. Sebab, yang terpenting saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkontribusi dalam penanaman pohon.

Selain itu, kawasan penanaman yang menjadi target Lindungi Hutan terletak di Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk, Kepulauan Seribu, Tangerang, Bekasi, dan Cirebon. Kemudian untuk di luar Pulau Jawa ada di Pulau Sumatra.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lindungi-hutan-mudahkan-berdonasi-tanam-pohon-secara-online/feed/ 0
Lawalata IPB Aktif Berpetualang untuk Selamatkan Lingkungan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lawalata-ipb-aktif-berpetualang-untuk-selamatkan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lawalata-ipb-aktif-berpetualang-untuk-selamatkan-lingkungan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lawalata-ipb-aktif-berpetualang-untuk-selamatkan-lingkungan/#respond Sat, 13 May 2023 04:32:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40043 Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 1974, Perkumpulan Mahasiswa Pencinta Alam Institut Pertanian Bogor (Lawalata IPB) menjadi wadah mahasiswa IPB untuk mengekspresikan jiwa di alam bebas. Melalui banyak kegiatan di berbagai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sejak tahun 1974, Perkumpulan Mahasiswa Pencinta Alam Institut Pertanian Bogor (Lawalata IPB) menjadi wadah mahasiswa IPB untuk mengekspresikan jiwa di alam bebas. Melalui banyak kegiatan di berbagai bidang, komunitas ini telah berdedikasi menyelamatkan lingkungan hidup di Indonesia.

Mereka bukan sekadar petualangan di alam bebas saja, melainkan fokus bergerak dalam lingkungan hidup. Visi yang ditanamkan oleh Lawalata IPB yaitu menjadi penggerak, dalam upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan melalui partisipasi aktif di alam terbuka.

Dalam menjalankan kegiatan, mereka memiliki beberapa minat kelompok. Minat tersebut meliputi manusia lingkungan, gunung hutan, flora fauna, panjat tebing, Lawalata Cave Division, dan tirta atau air. Keenam kelompok ini memiliki kegiatan yang berbeda.

Misalnya pada kelompok manusia lingkungan, salah satu kegiatannya mengeksplorasi masyarakat adat. Lalu, melakukan edukasi akademik lingkungan dan membuat kompos.

Ketua Divisi Eksternal Lawalata IPB, Andri Ahmad Mukarom mengatakan, dalam menjalankan kegiatan, para anggota tidak hanya memberikan edukasi. Namun, banyak juga yang bisa dipelajari dari masyarakat adat setempat.

“Kegiatan di kelompok manusia lingkungan yaitu mengunjungi masyarakat adat. Ketika di sana, kita yang belajar ke masyarakat adat misalnya belajar cara penanaman padi hingga panen,” kata Andri kepada Greeners, baru-baru ini.

Ekspedisi Lawalata IPB untuk Selamatkan Lingkungan

Komunitas pencinta alam yang beranggotakan generasi muda ini telah mengembangkan program ekspedisi lintas pulau. Program ekspedisi dibentuk untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan.

Ekspedisi Lawalata IPB merupakan penelitian yang rutin mereka lakukan setiap tahun. Melalui kegiatan ini, para anggota akan menghasilkan sebuah karya ilmiah sebagai pendataan bagi pemerintah setempat dan membantu penelitian selanjutnya.

Salah satu ekspedisi yang berhasil adalah penelitian tentang hewan anoa yang terancam punah di Sulawesi. Demi menyelamatkannya, Lawalata IPB terlibat dalam membantu Taman Nasional Gandang Dewata dengan mengkaji studi populasi dan sebagainya.

“Ini salah satu penerapan kami atau aksi kami untuk membangun lingkungan hidup lebih baik lagi,” ungkap Andri.

Saat ini, Lawalata IPB pun sedang merancang tiga ekspedisi lanjutan yaitu dalam bidang maritim dan pendataan keanekaragaman hayati di Maluku Utara.

Lawalata IPB. Foto: IPB

Tanamkan Prinsip Scientific Adventure

Sebagai komunitas pencinta alam terbaik, Lawalata IPB terus menanamkan prinsip scientific adventure. Prinsip ini artinya selama anggota aktif berkegiatan, harus menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi Lawalata IPB, masyarakat, dan pemerintah setempat.

“Ketika membawa nama Lawalata IPB dalam berkegiatan, minimal harus ada scientific untuk dilaporkan. Sebab, setiap berkegiatan harus ada outputnya,” ucap Andri.

Berkat kiprahnya hingga saat ini, Lawalata IPB telah mengantongi penghargaan. Tahun 2016, Lawalata IPB meraih penghargaan sebagai kelompok pecinta alam terbaik pertama nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/lawalata-ipb-aktif-berpetualang-untuk-selamatkan-lingkungan/feed/ 0