ahli gizi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ahli-gizi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 24 Nov 2015 11:45:39 +0000 id hourly 1 Gizi Seimbang Jadikan Hidup Lebih Sehat https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/#respond Tue, 24 Nov 2015 11:33:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12018 Jakarta (Greeners) – Kalimat “Sehat itu pilihan” mungkin tidak asing lagi bagi kita. Bagi orang yang ingin tubuhnya tetap bugar dan tidak mudah sakit dalam jangka waktu lama, tentu akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kalimat “Sehat itu pilihan” mungkin tidak asing lagi bagi kita. Bagi orang yang ingin tubuhnya tetap bugar dan tidak mudah sakit dalam jangka waktu lama, tentu akan memilih menjalankan gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Dewasa ini, ada banyak macam gaya hidup atau pola makan yang diklaim “sehat”. Misalnya saja, tidak memasukan daging dalam menu makan harian, menghindari produk susu hewan (sapi/kambing), tidak mengonsumsi makanan yang digoreng, dan lain sebagainya.

Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM), Titin Kurniasih menyatakan bahwa manusia membutuhkan makanan yang bervariasi. Sebagai makhluk omnivora atau pemakan segala, manusia memang tidak bisa mengandalkan satu ragam makanan saja.

Titin menyontohkan, tubuh manusia membutuhkan protein. Menurutnya, manusia tidak dapat mengonsumsi protein dari hewan atau tumbuhan saja. Baik protein hewani maupun protein nabati, sama-sama dibutuhkan oleh manusia.

“Kalau protein itu porsinya 50-50 kalau memang mau seimbang,” ujar Titin kepada Greeners di Jakarta.

Titin Kurniasih, Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM). Foto: dok. Pribadi

Titin Kurniasih, Ahli Gizi dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangungkusumo (RSCM). Foto: dok. Pribadi

Lebih lanjut Titin menjelaskan bahwa protein hewani maupun nabati memiliki fungsi yang berbeda. Protein nabati, misalnya, memiliki kadar antioksidan yang berguna untuk membatasi jumlah radikal bebas yang berada dalam tubuh. Jumlah radikal bebas yang berlebih dalam tubuh dapat membuat metabolisme menjadi kurang maksimal.

Selain itu, jumlah radikal bebas yang berlebih akibat kurangnya mengonsumsi protein nabati juga dapat menimbulkan penyakit kronis, seperti penyakit iskemik (stress dan penyakit jantung), kanker, atelosklerosis (penyempitan pembuluh darah), dan lain-lain. “Apalagi kita sudah terpapar polusi dan makanan enggak sehat yang kita konsumsi,” imbuhnya.

Sementara itu, makanan dengan protein hewani juga dibutuhkan tubuh. Salah satu kandungan dalam protein hewani adalah kalsium, zat yang diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi. “Ketika pasien atau beberapa orang tidak mengonsumsi protein hewani, kalsiumnya cenderung rendah dan biasanya cenderung berefek pada osteoporosis,” jelasnya.

Selain protein, tubuh manusia juga membutuhkan serat. Serat, lanjutnya, sangat berguna bagi tubuh untuk menurunkan kadar lemak dalam darah dan melancarkan pencernaan.

“Tidak hanya protein saja yang dibutuhkan, pola makan yang seimbang juga harus diimbangi dengan serat dan buah,” katanya.

Titin menjelaskan bahwa tubuh yang kekurangan serat seringkali cepat merasa lapar. Namun, rasa kenyang bukan hanya didapat dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak, tapi juga dari serat.

“Kalau kita makan tanpa ada serat biasanya cepat lapar, karena serat fungsinya memperlama rasa kenyang. Jadi, (mengonsumsi makanan tanpa serat) badan jadi cepat obesitas, kelebihan berat badan,” katanya.

Ia pun menyatakan bahwa makan makanan dengan gizi seimbang akan membantu tubuh berada dalam kondisi baik. Pola makan yang seimbang ini apabila dibarengi dengan olah raga, tambahnya, akan sangat berguna bagi kesehatan tubuh dan menjauhkan kita dari berbagai penyakit.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gizi-seimbang-jadikan-hidup-lebih-sehat/feed/ 0
Atur Asupan Serat Hindarkan Kembung Saat Puasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/atur-asupan-serat-hindarkan-kembung-saat-puasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=atur-asupan-serat-hindarkan-kembung-saat-puasa https://www.greeners.co/gaya-hidup/atur-asupan-serat-hindarkan-kembung-saat-puasa/#respond Thu, 02 Jul 2015 11:03:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10100 (Greeners) – Sedang menjalani puasa namun sudah merasa lapar padahal baru pukul sepuluh pagi? Coba cek menu makanan yang dikonsumsi ketika berbuka puasa dan saat sahur. Jangan-jangan, makanan tersebut kurang […]]]>

(Greeners) – Sedang menjalani puasa namun sudah merasa lapar padahal baru pukul sepuluh pagi? Coba cek menu makanan yang dikonsumsi ketika berbuka puasa dan saat sahur. Jangan-jangan, makanan tersebut kurang serat.

Menurut dr. Nurul Ratna, MGizi, SpGK, umat Muslim yang menjalani puasa dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan prima bergantung pada apa yang dikonsumsi ketika sahur. Salah satu yang wajib dikonsumsi selain karbohidrat adalah makanan yang mengandung serat.

“Saat sahur, sebaiknya memilih asupan serat yang mudah larut, baik pada buah-buahan maupun pada sayuran. Serat dapat memberi energi pada tubuh kita sehingga tidak mudah lemas ketika menjalani puasa,” ujarnya.

Serat yang mudah larut atau serat halus membuat lambung terasa penuh dan kenyang lebih lama. Selain itu, serat dapat membantu menjaga tubuh tidak mudah lemas, tidak mudah hilang konsentrasi, serta menjaga kadar gula darah agar tidak cepat naik.

Serat halus ini bisa didapat pada beberapa jenis sayuran seperti wortel, brokoli dan taoge. Sayur-sayuran ini dapat diolah menjadi hidangan rebus atau tumis. Berbeda dengan serat halus, serat kasar biasanya terdapat dalam sayuran hijau. Sobat Greeners dapat mengesampingkan sayuran jenis ini ketika sahur karena dapat membuat perut menjadi kembung.

Selain sayuran, buah-buahan juga perlu dikonsumsi setiap hari. Namun,saat sahur ada baiknya untuk menghindari buah yang terlalu manis, seperti lengkeng dan sawo. Hindari pula buah yang memicu gas dan menaikan zat asam di lambung, seperti nangka dan durian. Kedua jenis buah ini akan membuat tubuh tidak nyaman saat beraktifitas. Dokter Nurul menyarankan agar mengonsumsi pisang saat sahur karena pisang memiliki serat yang mudah larut dan memberikan efek kenyang pada perut.

Saat mengonsumsi buah, Nurul mengingatkan untuk memberi jeda sebelum mengonsumsinya. Waktu ideal untuk mengonsumsi buah, lanjut Nurul, adalah satu jam setelah makan berat atau bisa dikatakan mendekati waktu imsak. Hal ini guna memberi waktu bagi perut agar dapat memproses terlebih dahulu asupan makanan berat yang sudah masuk. Untuk itu, ia menyarankan agar tidak melaksanakan sahur berdekatan dengan waktu imsak.

Sementara itu, serat kasar yang dimiliki sayuran lebih cocok untuk menjadi teman nasi saat berbuka puasa. Serat kasar dibutuhkan untuk mengisi serta menambah tenaga untuk perut yang sudah berjam-jam tidak terisi.

Saat berbuka, Nurul juga menganjurkan untuk menambah buah-buahan seperti kurma, apel yang tidak terlalu asam, pisang dan lain sebagainya. Buah-buahan ini sebaiknya dinikmati setelah umat Muslim melaksanakan sholat Tarawih agar perut tidak kaget karena terlalu banyak asupan yang masuk.

“Untuk berbuka puasa, biasakan memakan buah yang tidak terlalu asam dan memiliki jeda waktu sehabis makan berat agar perut tidak kaget dan sakit,” katanya.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/atur-asupan-serat-hindarkan-kembung-saat-puasa/feed/ 0
Anak Indonesia Masih Kekurangan Asupan Asam Lemak Esensial https://www.greeners.co/aksi/anak-indonesia-masih-kekurangan-asupan-asam-lemak-esensial/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=anak-indonesia-masih-kekurangan-asupan-asam-lemak-esensial https://www.greeners.co/aksi/anak-indonesia-masih-kekurangan-asupan-asam-lemak-esensial/#respond Fri, 20 Feb 2015 09:38:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=7486 Jakarta (Greeners) – Mungkin sebagian dari orangtua tidak begitu akrab dengan berbagai zat yang terkandung dalam setiap makanan yang di konsumsi anak-anak mereka. Bahkan tidak sedikit yang memberikan makanan tanpa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Mungkin sebagian dari orangtua tidak begitu akrab dengan berbagai zat yang terkandung dalam setiap makanan yang di konsumsi anak-anak mereka. Bahkan tidak sedikit yang memberikan makanan tanpa memerhatikan kecukupan gizi yang dibutuhkan sang buah hati. Tahukah Anda bahwa setiap anak membutuhkan Omega 3 dan 6 setiap harinya?

Omega 3 dan 6 merupakan zat yang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Bahkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), setiap anak dianjurkan untuk mengonsumsi Omega 3 sebesar 0,9 gram dan Omega 6 sebesar 10 gram untuk anak usia tujuh hingga sembilan tahun. Di samping itu, bagi anak usia 10 hingga 12 tahun membutuhkan 1,2 gram Omega 3 dan 12 gram Omega 6 per harinya.

Salah seorang ahli gizi kesehatan masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH menjelaskan bahwa asam lemak esensial Omega 3 dan 6 sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak agar lebih optimal, seperti membuat membran sel dalam tubuh menjadi fleksibel.

“Hal itu bisa membuat nutrisi terserap secara optimal dan diperlukan dalam sistem saraf, pembentukan hormon, serta berperan positif terhadap jantung,” lanjutnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan PT. Unilever Indonesia bersama dengan Ratna Djuwita ditemukan fakta bahwa masih banyak anak Indonesia yang asupan Omega 3 dan 6 tidak tercukupi. “Penelitian ini memang masih dalam tahap finalisasi, tapi kami menemukan data-data yang mengindikasikan masih banyak anak Indonesia yang kekurangan asupan Omega 3 dan 6 setiap harinya,” ujar Marina Pergiwati, R&D Director SEAA mewakili PT. Unilever Indonesia pada peluncuran Blue Band Serbaguna Baru, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Ratna menjelaskan persentase asupan Omega 3 dan 6 pada anak masih kurang dari yang dibutuhkan. “Mungkin dari 10 gram yang dibutuhkan setiap harinya, anak-anak Indonesia hanya memenuhi sekitar 7 gram setiap harinya, dan itu masih kurang,” jelas Ratna.

Namun, sayangnya tubuh kita tidak dapat memproduksi asam lemak essential Omega 3 dan 6, sehingga asam lemak essensial hanya dapat kita peroleh lewat makanan. Contohnya, Omega 3 biasanya dapat kita temukan di dalam ikan salmon, ikan tuna, edamame dan kacang walnut, sedangkan untuk Omega 6 dapat temukan lewat kacang kedelai, minyak bunga matahari, jagung, telur dan juga ayam.

Sebagai informasi, sebagai bentuk kepedulian kepada dunia kesehatan dan edukasi Omega 3 dan 6, PT. Unilever Indonesia meluncurkan produk baru yakni Blue Band Serbaguna yang mengandung asam lemak esensial Omega 3 dan 6 dan dapat disimpan dalam suhu ruangan. Peluncuran produk ini pun dibarengi dengan momentum Pekan Sarapan Nasional (PESAN) yang berlangsung pada 14-20 Februari 2015.

Menurut Brand Manager Blue Band, Johan Mantik, produk terbaru ini diharapkan bisa menjadi alternatif bagi para orang tua untuk melengkapi kebutuhan Omega 3 dan 6 dengan kreasi dan variasi makanan yang diminati oleh anak-anak, serta memenuhi 28% dari yang dibutuhkan dalam satu tangkap roti oles menggunakan margarin tersebut.

(G16)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/anak-indonesia-masih-kekurangan-asupan-asam-lemak-esensial/feed/ 0
Peran Penting Asupan Air Untuk Cegah Obesitas Pada Anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/#respond Thu, 22 Jan 2015 05:40:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7140 Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN. […]]]>

Jakarta (Greeners) – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan bahwa dalam World Children Report tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan tingkat obesitas atau kegemukan pada anak di wilayah ASEAN.

Dalam laporan tersebut tercatat 12,2 persen anak Indonesia mengalami obesitas. Persentase tersebut jauh di atas negara-negara di wilayah Asia Tenggara lainnya yang juga memiliki masalah obesitas seperti Thailand dengan jumlah persentase 8%, Malaysia 6%, Vietnam 4,6% dan Filipina 3,3%.

Dosen dan Ahli Gizi Ibu dan Anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof. DR. Hardinsyah, MS mengatakan bahwa seorang anak sangat membutuhkan asupan gizi seimbang selama masa pertumbuhannya karena tidak sedikit kasus obesitas pada anak terus berlanjut hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

“Kondisi obesitas pada anak ini seharusnya bisa dihindari dengan membiasakan si anak melakukan gaya hidup sehat dengan gizi seimbang, termasuk meminum air putih sebelum memakan makanan utama,” terang Hardiansyah saat memberikan pemaparan pada acara “Asupan Air Seimbang Cegah Obesitas pada Anak dan Remaja” di Jakarta, Rabu (21/01).

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Diagram tumpeng gizi seimbang dari Kemenkes. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ia menerangkan, belakangan ini ada kecenderungan konsumsi minuman bergula atau berkalori (sugar-sweetened beverages) yang semakin meningkat pada anak-anak. Padahal, lanjutnya, minuman mengandung gula berkalori tersebut dapat memicu obesitas. Minuman dengan gula berkalori seperti minuman bersoda, jus, air tebu manis, kopi manis dan sport drink yang menggunakan soda berkalori.

“Padahal, untuk menjaga kondisi fisik luar dan dalam tubuh, konsumsi air putih yang cukup sangat berpengaruh pada kondisi anak maupun dewasa. Ini juga harus diperhatikan oleh orang tua,” tambahnya.

Pentingnya peran air dalam mencegah dan mengatasi obesitas ini pun diamini oleh pakar penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof. DR. Dr. Parlindungan Siregar, Sp. PD-KGH. Ia mengatakan bahwa cairan adalah asupan substansial yang diperlukan dalam komponen gizi seimbang. Sedangkan, volume air yang dibutuhkan anak lebih besar dari orang dewasa. Oleh karena itu, ia meminta kepada orang tua agar mulai menanamkan kepada anak mereka untuk tidak mengabaikan rasa haus yang datang karena itu merupakan bentuk sinyal dari tubuh bahwa ia membutuhkan cairan.

“Kebutuhan volume air dalam tubuh bervariasi sesuai dengan umurnya dan kebutuhan untuk anak itu lebih besar dari orang dewasa,” ujar Parlindungan.

Selain itu, Dokter Spesialis Anak dari RSCM, Dr. Sudung O. Pardede, menerangkan, obesitas pada anak juga dipicu oleh kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak. Menurutnya, anak yang sudah mengalami obesitas cenderung malas bergerak karena berat tubuhnya. Untuk mencegah hal ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membatasi asupan gula berkalori dan memotivasi anak untuk berolahraga.

“Orang tua sudah sebaiknya memonitor apa yang dikonsumsi anak dan mengedukasi mereka sejak dini untuk memilih asupan gizi yang seimbang,” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/peran-penting-asupan-air-untuk-cegah-obesitas-pada-anak/feed/ 0
Indonesia Kaya Akan Olahan Penganan Lokal Tanpa Minyak Sawit https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/#respond Mon, 29 Dec 2014 07:09:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6932 Jakarta (Greeners) – Sawit Watch bersama dengan Green radio Jakarta kembali menyelenggarakan acara tahunan Green Food Festival (GFF). Perhelatan yang diadakan untuk ke tiga kalinya ini mengangkat tema “4 Sehat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sawit Watch bersama dengan Green radio Jakarta kembali menyelenggarakan acara tahunan Green Food Festival (GFF). Perhelatan yang diadakan untuk ke tiga kalinya ini mengangkat tema “4 Sehat Kurang Sempurna Tanpa Pangan Lokal” sebagai upaya untuk mengingatkan publik betapa kayanya Indonesia akan panganan lokal.

Dalam rangkaian kegiatan GFF 2014 ini digelar lomba membuat resep yang menggunakan 4 bahan utama, yaitu sagu, sorgum, bambu, dan rotan, tanpa menggunakan minyak goreng (minyak sawit).

Kepala Departemen Kampanye Sawit Watch Indonesia, Bondang Andriyanu, mengatakan, Indonesia masih sangat kaya akan ragam panganan dan masakan dengan menggunakan metode memasak seperti mengukus, merebus, membakar dan menumis.

“Semua itu (penganan lokal) menggunakan metode dan menu masakan lokal yang sudah diwariskan dari nenek moyang kita, selain menggunakan produk dan bahan dasar lokal juga sangat baik untuk kesehatan,” jelasnya saat disambangi oleh Greeners pada kegiatan GFF di Plaza Atrium Senen, Jakarta, Sabtu (27/12) lalu.

Indonesia memiliki banyak olahan penganan lokal tanpa minyak sawit, namun kepopulerannya masih kalah jauh dibanding dengan penganan impor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Indonesia memiliki banyak olahan penganan lokal tanpa minyak sawit, namun kepopulerannya masih kalah jauh dibanding dengan penganan impor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ahli Gizi yang juga seorang Chef, Ena Lubis pun menyayangkan sikap pemerintah yang terlalu banyak memasukan panganan impor sehingga membuat masyarakat lemah terhadap informasi terkait panganan lokal asli Indonesia.

“Pemerintah sudah seharusnya melakukan pengkajian terhadap kebijakan-kebijakan terkait impor pangan ini,” ujarnya.

Sebagai informasi, Sawit Watch GFF untuk tahun 2014 ini digelar juga di tiga provinsi lain, yaitu Kalimantan Tengah, Riau dan Sulawesi Barat dengan tema serupa yang intinya kembali kepada pangan lokal.

Untuk GFF di Kalimantan Tengah diadakan pada tanggal 16 – 17 Desember lalu di pelataran gedung KONI Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan berkolaborasi bersama beberapa CSO Palangkaraya, seperti WALHI Kalteng, SOB, YBB, AMAN Kalteng, JPIC, FMN, HMPH, POKKER SHK, GMNI dan MAPALA Komodo. Kegiatan dimulai dengan diskusi mengenai pengelolaan SDA di Kalimantan tengah, yang dihadiri oleh masyarakat dari 4 Kabupaten (Murung raya, barito timur, Barito Utara, dan Lamandau). Dalam diskusi dibahas bagaimana upaya masyarakat mempertahankan lahannya dari ekspansi SDA seperti tambang, perkebunan sawit, dan HTI yang secara besar-besaran terjadi di lokasi masyarakat tersebut.

GFF di Palangkaraya diakhiri dengan lomba resep dan memasak menggunakan pangan lokal, yaitu umbut rotan, umbut bambu, keladi dan umbut kelapa. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan serta kalangan umum turut serta dalam lomba memasak ini.

Pengunjung melihat-lihat berbagai penganan lokal yang terbuat dari sumber pangan lokal dalam acara Green Food Festival 2014 di Jakarta, Sabtu (27/12) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pengunjung melihat-lihat berbagai penganan lokal yang terbuat dari sumber pangan lokal dalam acara Green Food Festival 2014 di Jakarta, Sabtu (27/12) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Di Pekanbaru, Riau, GFF 2014 digelar di bawah jembatan Sial III. Kegiatan ini juga hendak memperkenalkan kembali panganan lokal dan cara memasak dengan merebus, mengkukus dan membakar. Metode menggoreng diperbolehkan namun harus menggunakan minyak kelapa atau minyak non sawit lainnya sebagai bentuk kampanye pendidikan publik dengan menyasar kaum ibu.

Provinsi Riau adalah salah satu provinsi yang memiliki luasan perkebunan sawit terbesar di Indonesia. ‎Luasan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 13.5 juta ha, dimana 2,9 juta ha ada di Riau (Sawit Watch, 2013). Luas ini akan terus bertambah sesuai dengan rencana pemerintah untuk memperluas hingga 28 juta hektare pada tahun 2020 akibat dari permintaan pasar dunia yang semakin tinggi terhadap konsumsi CPO.

Sedangkan untuk rangkaian kegiatan GFF yang dilakukan di Desa Alu, Kecamatan Alu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sawit Watch bekerja sama dengan Walhi Sulawesi Barat.

Dalam kegiatan tersebut digelar diskusi mengenai upaya penyelamatan lahan pangan lokal yang disampaikan oleh Sawit Watch, Walhi dan Pemerintahan Kecamatan Alu. Diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa perlu adanya kebijakan yang melindungi pangan lokal sebagai upaya menyelamatkan lahan masyarakat dari ekspansi sumber daya alam secara besar besaran, seperti HTI dan perkebunan sawit.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/feed/ 0