ahmad baihaqi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/ahmad-baihaqi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 25 Feb 2019 18:19:20 +0000 id hourly 1 Jakarta is Home to 13 Endangered Birds https://www.greeners.co/english/jakarta-is-home-to-13-endangered-birds/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jakarta-is-home-to-13-endangered-birds https://www.greeners.co/english/jakarta-is-home-to-13-endangered-birds/#respond Thu, 19 Nov 2015 10:26:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11949 Jakarta (Greeners) – Not many Jakartans are aware that the city is home to at least 13 endangered birds as stipulated by the 1990 Law on Conservation and 1999 Government […]]]>

Jakarta (Greeners) – Not many Jakartans are aware that the city is home to at least 13 endangered birds as stipulated by the 1990 Law on Conservation and 1999 Government Regulation.

Capture Nature Jakarta, Cap(na)ture, recorded 58 types of bird of which 13 types are protected by the law, 28 types of dragonfly, 29 types of butterfly, 17 herpetofauna species, 8 mammals, and seven fungus.

“Based on its extinction status, one type of bird is listed as critically endangered which is the yellow-crested cockatoo. One type is listed as endangered such as milky stork, and three vulnerable types, which are red-breasted parakeet, javan plover, and oriental darter,” said Ahmad Baihaqi, coordinator of Cap(na)ture) in Jakarta on Saturday (14/11).

In addition, Ahmad or Abay, said they also found rare fungus in Jakarta, such as bamboo fungus (Phallus indusiatus) and the city’s nearly extinct mascot flora, due to Ciliwung river normalization, salak condet.

“Salak condet is now can only be found in Balai Kembang of South Jakarta and Batu Ampar or East Jakarta as they are close to riverside,” he said.

The findings have been documented in a book dubbed ‘Raid Jakarta, Uncover The Capital’s Biodiversity Potentials’. The book was filled with pictures and explanations to identify the species. The event was initiated by Biodiversity Warriors KEHATI Foundation in collaboration with Biology Faculty, National University and Green Map Jakarta Community, along with Biological Science Clud (BScC), Indonesia Wildlife Photography, and Jakarta Birdwatcher Society (JBS). The book, said Abay, has yet to include all biodiversity of Jakarta because observations did not cover all green spaces in the city.

Reports by Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/english/jakarta-is-home-to-13-endangered-birds/feed/ 0
Jakarta Habitat Bagi 13 Jenis Burung yang Dilindungi https://www.greeners.co/berita/jakarta-habitat-bagi-13-jenis-burung-yang-dilindungi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jakarta-habitat-bagi-13-jenis-burung-yang-dilindungi https://www.greeners.co/berita/jakarta-habitat-bagi-13-jenis-burung-yang-dilindungi/#respond Wed, 18 Nov 2015 05:55:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11932 Jakarta (Greeners) – Jakarta ternyata masih menyimpan keanekaragaman hayati, baik disadari atau tidak oleh warganya. Dari sekian banyak keanekaragaman hayati tersebut, Ibukota Indonesia ini masih memiliki 13 jenis burung yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jakarta ternyata masih menyimpan keanekaragaman hayati, baik disadari atau tidak oleh warganya. Dari sekian banyak keanekaragaman hayati tersebut, Ibukota Indonesia ini masih memiliki 13 jenis burung yang dilindungi oleh UU nomor 5 tahun 1990 dan PP nomor 7 tahun 1999.

Capture Nature Jakarta atau biasa disingkat dengan Cap(na)ture, melalui hasil pengamatannya mencatat terdapat 58 jenis burung, 28 jenis capung, 29 jenis kupu-kupu, 17 jenis herpetofauna, 8 jenis mamalia dan 7 jenis jamur. Dari 58 jenis burung tersebut, terdapat 13 jenis burung yang dilindungi oleh undang-undang.

“Berdasarkan status keterancamannya sendiri, ada satu jenis burung yang sangat terancam punah yaitu kakatua jambul kuning, satu jenis yang terancam punah yaitu bangau bluwok dan tiga jenis yang hampir terancam punah yaitu betet biasa, cerek jawa dan pecuk ular asia,” jelas Ahmad Baihaqi selaku koordinator dari Cap(na)ture Jakarta, Sabtu (14/11).

Pria yang akrab disapa Abay ini menyatakan, dari hasil pengamatan, terdapat juga jenis jamur yang sudah mulai langka di Jakarta, yaitu jamur tudung pengantin dan salah satu maskot Jakarta yang hampir punah akibat pembangunan proyek normalisasi Sungai Ciliwung, yaitu salak condet.

“Salak condet hanya bisa ditemukan di Balai Kembang, Jakarta Selatan dan Batu Ampar, Jakarta Timur karena dekat wilayah sungai,” katanya.

Sebagai informasi, kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati bertajuk Cap(na)ture Jakarta ini telah dituangkan dalam bentuk buku bertajuk “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota”. Buku ini dilengkapi dengan foto-foto dan keterangan yang sangat membantu untuk melakukan identifikasi.

Kegiatan ini juga diinisiasi oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Komunitas Peta Hijau Jakarta, serta komunitas peduli lingkungan lainnya seperti Biological Science Club (BScC), Indonesia Wildlife Photography (IWP) dan Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Buku ini diakui Abay belum memuat seluruh biodiversitas di ruang terbuka hijau Jakarta karena pengamatan belum difokuskan untuk seluruh biota di seluruh kawasan tersebut.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/jakarta-habitat-bagi-13-jenis-burung-yang-dilindungi/feed/ 0
Keanekaragaman Hayati Jakarta Menanti untuk Diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/#respond Fri, 06 Nov 2015 12:06:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11806 Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki oleh DKI Jakarta ternyata tidak menghilangkan keberadaan biodiversitas (keanekaragaman hayati) baik flora maupun fauna yang dimiliki oleh Ibukota. Terbukti dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa, kelompok pecinta alam, siswa SMA, dan masyarakat umum, menunjukkan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Jakarta masih cukup banyak.

Ahmad Baihaqi, lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta yang juga Koordinator dari kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati di Jakarta ini mengatakan bahwa dari hasil pemantauan yang dilakukan di 28 titik RTH di DKI Jakarta selama empat bulan dari bulan April hingga Juli 2015, telah dijumpai 58 jenis burung, 28 jenis capung, 29 jenis kupu-kupu, 17 jenis herpetofauna dan 8 jenis mamalia.

Pemuda yang akrab disapa Abay ini menyatakan kemungkinan besar masih terdapat banyak keanekaragaman hayati lainnya yang belum teramati dan jumlah jenisnya kemungkinan dapat bertambah.

“Keanekaragaman hayati yang diamati itu meliputi burung, capung, kupu-kupu, herpetofauna (amfibi, dan reptil) serta mamalia,” jelas Abay saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (06/11).

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Peserta kegiatan Cap(na)ture Jakarta. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography)

Sebagai informasi, kegiatan pengamatan keanekaragaman hayati yang dikoordinir oleh Abay ini bertajuk Cap(na)ture Jakarta telah dituangkan dalam bentuk buku “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” lengkap dengan foto-foto dan keterangan yang sangat membantu untuk melakukan identifikasi.

Kegiatan ini juga diinisiasi oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Komunitas Peta Hijau Jakarta, serta komunitas peduli lingkungan lainnya seperti Biological Science Club (BScC), Indonesia Wildlife Photography (IWP) dan Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Buku ini diakui Abay belum memuat seluruh biodiversitas di RTH Jakarta karena pengamatan belum difokuskan untuk seluruh biota di seluruh kawasan RTH.

Meski demikian, Rosyid Nurul Hakim, Officer Edukasi dan Outrech Yayasan KEHATI, menyatakan bahwa buku ini tetap dapat dijadikan sebagai referensi awal tentang biodiversitas RTH Jakarta. Buku ini juga mampu menjadi bukti bahwa meski terkadang anak muda terkesan kurang serius, tetapi mereka dapat menghasilkan karya ilmiah yang serius.

“Kesimpulannya kami menemukan ada banyak potensi keanekaragaman hayati yang menarik di setiap RTH di Jakarta, oleh karena itu sangat penting untuk menjaga atau menambah RTH di jakarta,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/keanekaragaman-hayati-jakarta-menanti-untuk-diungkap/feed/ 0
Ironi Bondol Peking https://www.greeners.co/flora-fauna/ironi-bondol-peking/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ironi-bondol-peking https://www.greeners.co/flora-fauna/ironi-bondol-peking/#respond Thu, 25 Jun 2015 07:56:37 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=9966 Burung bondol peking (Lonchura punctulata) dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Scaly-Breasted Munia atau biasa disebut burung emprit, merupakan jenis burung yang dapat dijumpai di Sunda besar (Pulau Sumatera, Kalimantan, […]]]>

Burung bondol peking (Lonchura punctulata) dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Scaly-Breasted Munia atau biasa disebut burung emprit, merupakan jenis burung yang dapat dijumpai di Sunda besar (Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali), Nusa Tenggara dan Sulawesi. Di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, burung emprit sangat umum dijumpai. Hal ini dikarenakan populasinya masih sangat tinggi.

Bondol peking memiliki tubuh berwarna coklat, iris coklat, paruh kecil dan tebal berwarna abu-abu kebiruan. Bagian tenggorokan burung ini berwarna coklat kemerahan, tubuh bagian bawahnya berwarna putih, bersisik coklat pada dada dan sisi tubuh. Tungging berwarna putih dan kaki berwarna hitam abu-abu.

Burung bondol peking dapat ditemukan di lahan pertanian, padang rumput, kebun, semak, dan daerah sekitar perumahan yang masih banyak pepohonan. Burung ini mencari makan secara berkelompok baik dalam kelompok kecil (2-4 individu) maupun kelompok besar di atas tanah, memakan biji dan bulir rumput atau padi.

Burung bondol peking yang bulunya sudah diwarnai. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Burung bondol peking yang bulunya sudah diwarnai. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Jumlah bondol peking di alam lebih melimpah bila dibandingkan dengan burung bondol lainnya, seperti bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dan bondol haji (Lonchura maja). Namun, burung ini sering terlihat berbaur dengan jenis burung bondol lainnya. Di Ibu Kota, burung ini dapat ditemukan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) DKI Jakarta, seperti di Taman Tanjung, Jakarta Selatan dan Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Bondol peking bukan termasuk burung hias, namun ada saja yang menangkap burung bertubuh kecil ini untuk dijual sebagai mainan anak-anak. Sebelum dijual, bulu burung ini diwarnai dengan cat warna-warni seperti warna merah muda, hijau, dan kuning. Burung bondol peking, bondol jawa, dan bondol haji biasanya dijual dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 2.000 kepada anak-anak.

Sangat disayangkan jika burung ini diwarnai dan kakinya diikat hanya untuk menyenangkan hati anak-anak. Alangkah baiknya jika burung ini tetap dibiarkan bebas hidup di alam sehingga populasi dan ekosistem tetap terjaga.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ironi-bondol-peking/feed/ 0
Harta Karun yang Tersisa di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/#respond Sat, 09 May 2015 09:45:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8922 Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA […]]]>

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 Ha sedangkan Hutan Lindung Angke Kapuk mempunyai luas 44,76 Ha. Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kedua kawasan ini memiliki banyak keragaman hayati yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki kedua kawasan ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat favorit bagi berbagai jenis burung. Sekitar 117 jenis burung terdapat dikawasan tersebut, dan diantaranya ada dua yang dilindungi secara internasional, yaitu Bubut jawa (Centropus nigrorufus) dan Jalak putih (Sturnus melanopterus). Kedua burung tersebut saat ini berstatus terancam punah dan sangat terancam punah.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus) berukuran 46 cm, berwarna gelap. Kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya juga berwarna hitam mengkilat, sedangkan sayapnya merah karat dan iris matanya berwarna merah. Makanan burung ini adalah serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon, semua disantapnya.

Bubut jawa dapat dijumpai di daerah rawa-rawa di pinggir pantai, semak-semak paku laut, padang ilalang sekitar mangrove, semak dan padang rumput dekat aliran sungai. Burung ini merupakan jenis endemik Pulau Jawa atau hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Di Jakarta, bubut jawa hanya dapat ditemukan di kawasan SMMA dan Hutan Lindung Angke Kapuk. Makin sempitnya tempat hidup bubut jawa, dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup burung ini. Habitat burung ini yang berada di kawasan pesisir mempunyai nilai ekonomi yang tinggi apabila diubah menjadi kawasan pemukiman, tambak, kawasan perindustrian atau pelabuhan.

Sementara itu, jalak putih (Sturnus melanopterus) berukuran sekitar 20-25 cm. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon. Populasi burung jalak putih sekarang ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya tindakan untuk melestarikan keberadaan jalak putih.

Jalak putih merupakan burung yang sangat terancam punah. Di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta populasi burung ini hanya diperkirakan berjumlah 4-6 individu. Status burung ini menurut IUCN adalah Critical Endangered atau sangat terancam punah. Burung jalak putih termasuk burung langka yang di lindungi oleh pemerintah Indonesia. Semoga kedua harta karun di pesisir Jakarta ini dapat terus terjaga kelestariannya.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/feed/ 0