amphibi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/amphibi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 03 Feb 2023 14:42:51 +0000 id hourly 1 Katak Pohon Emas, Endemik Indonesia yang Kaya Corak https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-emas-endemik-indonesia-yang-kaya-corak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=katak-pohon-emas-endemik-indonesia-yang-kaya-corak https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-emas-endemik-indonesia-yang-kaya-corak/#respond Sat, 04 Feb 2023 03:00:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38860 Katak pohon emas (Philautus aurifasciatus) merupakan salah satu spesies katak pohon Asia yang berukuran kecil. Spesies ini merupakan endemik Indonesia. Berasal dari genus Philautus, spesies ini masuk dalam famili Rhacophoridae. […]]]>

Katak pohon emas (Philautus aurifasciatus) merupakan salah satu spesies katak pohon Asia yang berukuran kecil. Spesies ini merupakan endemik Indonesia.

Berasal dari genus Philautus, spesies ini masuk dalam famili Rhacophoridae. Uniknya, katak emas pohon memiliki kekayaan dan keragaman corak. 

Philautus  mengacu pada salah satu jenis katak pohon yang berukuran kecil dibandingkan genus lainnya serta tidak memiliki geligi vomer.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum 

Namanya berasal dari bahasa Latin yang artinya mendesain garis-garis keemasan sepanjang tubuh. Tubuhnya sangat kecil, yakni 30 hingga 40 milimeter. Karena tubuhnya yang kecil juga inilah penyebab susah didapatkan saat di alam.

Memiliki kepala yang besar, katak muda akan terlihat kekar tapi saat dewasa menjadi sangat lembut. Tekstur kulit spesies ini halus dan berbintil-bintil. Ia memiliki kepala besar dan moncong pendek serta mancung.

Ukuran tubuh jantan dewasa antara 15-25 milimeter dan betina dewasa antara 25-33 milimeter. Jari-jarinya lebar dengan piringan yang datar. Jari kaki setengahnya berselaput dan jari tangan hanya memiliki selaput pada dasar jarinya saja. Kulitnya berwarna kehijauan, kecokelatan dan kadang berwarna ungu kehitaman.

Dalam studi Observasi Variasi Corak dan Warna Philautus aurifasciatus di Populasi Taman Nasional Gunung Merapi Yogyakarta (2014), Toni Febri menyebut terdapat 12 variasi corak katak ini di TN Gunung Merapi.

Hasil penelitian menemukan 3 kelompok besar dalam variasi corak dan warna serta hasil analisis nilai Red Green Blue (RGB) terdapat 4 variasi warna yaitu ungu, cokelat, hijau dan abu-abu.

Sementara pada penelitian Wicesa berjudul Studi Karakter Morfologi, Pola Distribusi, dan Preferensi Mikrohabitat Katak Pohon Emas (Phialutus aurifasciatus) di Taman Hutan Raya Raden Soerjo (2013) menemukan corak warna kulit bagian dorsal katak ini dari daerah Cangar dan Lemahbang berwarna hijau, cokelat, merah tua, dan kekuningan.

Beragamnya variasi corak dan warna Philautus aurifasciatus menunjukkan tingginya potensi perkawinan secara acak antara individu dengan beda corak dan warna.

Habitat dan Distribusi Penyebaran 

Habitat spesies ini yaitu hutan sub montana dan montana primer dan tidak ada di luar hutan pada ketinggian di atas 900 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Katak dewasa kerap ada di atas pohon yang tak jauh dari lokasi air. Sebaliknya, katak yang masih muda biasanya bersembunyi di balik semak-semak. Spesies ini terdistribusi di Indonesia dan Thailand, Kamboja, Malaysia dan Indo-China.

Di Jawa, katak pohon emas ada di beberapa daerah seperti Pegunungan Tengger, Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Salak. Selanjutnya, Gunung Halimun, Gunung Ungaran dan Gunung Merapi.

Berdasarkan status konservasi dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN), katak pohon emas tergolong least concern (berisiko rendah).

Taksonomi Katak Pohon Emas (Philautus aurifasciatus)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/katak-pohon-emas-endemik-indonesia-yang-kaya-corak/feed/ 0
Glass Frogs, Katak Kaca yang Pandai Kelabui Musuhnya https://www.greeners.co/flora-fauna/glass-frogs-katak-kaca-yang-pandai-kelabui-musuhnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=glass-frogs-katak-kaca-yang-pandai-kelabui-musuhnya https://www.greeners.co/flora-fauna/glass-frogs-katak-kaca-yang-pandai-kelabui-musuhnya/#respond Fri, 20 Jan 2023 03:05:29 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38679 Namanya katak kaca atau glass frogs. Namun, pemilik nama ilmiah Hyalinobatrachium fleishmanni ini tak serapuh seperti kaca. Namun karena bagian abdomen atau perutnya transparan seperti halnya kaca. Organ dalam mereka […]]]>

Namanya katak kaca atau glass frogs. Namun, pemilik nama ilmiah Hyalinobatrachium fleishmanni ini tak serapuh seperti kaca. Namun karena bagian abdomen atau perutnya transparan seperti halnya kaca.

Organ dalam mereka seperti tulang, usus hingga jantung yang berdetak dapat terlihat dengan mata telanjang. Tubuhnya katak kaca yang transparan ini tak lain untuk membantu berkamuflase agar terhindar dari pemangsanya.

Morfologi dan Ciri-Ciri 

Famili Centrolenidae ini merupakan katak dengan ukuran tubuh relatif kecil, berkisar 19,2 hingga 25,5 milimeter (jantan). Sedangkan katak betina mencapai 23 hingga 32 milimeter.

Tubuh katak ini relatif pipih, kepala lebar, moncong bulat, dan mata mengarah ke depan. Sebagian kulit berwarna hijau pucat dengan bintik-bintik kuning atau hijau kekuningan dan perut putih sebagian transparan memperlihatkan tulang putih kecil.

Jantung dan setengah bagian depan hati tertutup oleh lembaran putih guanin. Lapisan guanin ini juga membungkus sistem pencernaannya.

Hyalinobatrachium fleishmanni memiliki ukuran dan warna yang sangat mirip dengan glass frog berbintik kuning (Cochranella albomaculata) dan Powdered Glassfrog (Hyalinobatrachium pulveratum). Namun, dua spesies terakhir memperlihatkan organ pencernaan yang tidak terbungkus selubung guanin putih.

Habitat dan Distribusi Persebaran 

Katak ini mendiami vegetasi dekat dengan arus aliran sedang hingga cepat pada ketinggian yang lebih rendah. Misalnya mulai dari di padang rumput dan situs yang dibuka.

Katak ini tersebar dari Guerrero dan Veracruz, Meksiko, melalui Amerika Tengah hingga Kolombia, Venezuela, Guyana, dan Suriname. Sementara berdasarkan data bade Amphibiaweb, distribusi negara dari katak ini yaitu di Kosta Rika, El Salvador, Honduras, Nikaragua.

Perilaku dan Kebiasaan Katak Kaca

Transparansi mungkin tampak seperti bentuk kamuflase sederhana. Namun, hal tersebut membuat katak susah ditemukan. Katak ini memamerkan semua organ dalamnya dan mencegah transparansi yang sebenarnya.

Saat malam hari, katak kaca ini bersembunyi di tempat yang gelap untuk menghindari para predator. Di siang hari, pigmentasi hijau pada kulit membantu mereka menyatu dengan latar belakang seperti dedaunan.

Ilmuwan Carlos Taboada dari Duke University menyatakan, saat katak kaca sedang istirahat, otot dan kulit mereka menjadi transparan. Tulang, mata dan organ dalam mereka semua terlihat.

Peneliti ini menemukan katak mempertahankan tingkat transparansi yang kira-kira sama saat terjaga, memanggil pasangan, berolahraga, dan di bawah anestesi. Tapi, saat tidur, tubuh mereka menjadi 34 -61 % lebih transparan.

Taksonomi Katak Kaca (Hyalinobatrachium fleishmanni)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/glass-frogs-katak-kaca-yang-pandai-kelabui-musuhnya/feed/ 0
Rana catesbeiana Shaw, Kodok Bersuara Lembu https://www.greeners.co/flora-fauna/rana-catesbeiana-shaw-kodok-bersuara-lembu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rana-catesbeiana-shaw-kodok-bersuara-lembu https://www.greeners.co/flora-fauna/rana-catesbeiana-shaw-kodok-bersuara-lembu/#respond Tue, 17 Oct 2017 10:51:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=19018 Kodok lembu (Rana Catesbeiana Shaw) adalah bagian dari kelas amphibi yang memiliki ciri khas dari suaranya. Suaranya terdengar seperti lenguhan lembu atau banteng.]]>

Hewan yang dapat hidup di dua alam dimaknai sebagai hewan yang dapat beradaptasi pada lingkungan perairan dan juga darat. Sudah tahukan hewan apa saja yang dapat hidup dua alam? Kalau begitu langsung saja kita membahas tentang spesies Rana catesbeiana Shaw.

Dari namanya saja sudah terdengar cantik, tahukah anda hewan apakah Rana Catesbeiana Shaw ini? Hewan cantik ini memiliki panggilan akrab yang tak lain adalah kodok lembu atau Bullfrog. Kodok lembu adalah bagian dari kelas amphibi yang memiliki ciri khas dari suaranya. Suaranya terdengar seperti lenguhan lembu atau banteng.

Dalam daur hidupnya, kodok ini mengalami empat fase yaitu dimulai dari telur, berudu (kecebong), percil dan kodok dewasa. Berudu adalah benih kodok yang memiliki ekor yang akhirnya bermetamorfosa (berubah bentuk) menjadi kodok muda (percil) yang memiliki kaki tanpa ekor dan mulai hidup didua alam. Waktu yang diperlukan untuk mengadakan perubahan bentuk berkisar antara 2-4 bulan tergantung dari kualitas air dan makanan yang tersedia dalam media hidupnya (dikutip pada portal dunia-perairan.com) (baca juga Nyanyian Hidup Kodok di Greeners untuk mengetahui perbedaan kodok dan katak).

Kodok lembu (bullfrog) berasal dari Amerika Utara. Di Indonesia sendiri sudah banyak masyarakat yang mulai melakukan usaha ternak kodok lembu. Hasil ternak kodok ini disinyalir meraup keuntungan hingga jutaan rupiah.

rana catesbeiana shaw

Rana catesbeiana Shaw. Foto: wikemedia commons

Berdasarkan tulisan penelitian Ni Putu Mariani, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, perbedaan jantan dan betina kodok lembu yaitu warna kulit sekitar kerongkongan hitam kekuningan pada kodok jantan, sementara pada kodok betina berwarna putih dengan bintik hitam. Ibu jari kaki bagian depan lebih besar pada kodok jantan (berjari 5 buah) sedangkan kodok betina lebih kecil (berjari 4 buah).

Kantung suara pada kodok jantan terletak diantara selaput gendang dan pangkal kaki depan sedangkan kodok betina tidak punya. Ciri khususnya yaitu bunyi yang dikeluarkan oleh kodok jantan seperti suara lembu, sedangkan kodok betina perutnya membesar pada saat matang kelamin.

Menurut portal fao.org, kodok lembu ini mudah beradaptasi di berbagai macam kondisi iklim. Bullfrog sering ditemukan di wilayah yang beriklim dingin dan sedang berhibernasi untuk menahan suhu di bawah titik beku. Sedangkan di daerah beriklim tropis kodok ini sering ditemukan pada bulan-bulan musim panas yang mencapai suhu 40℃.

Kodok merupakan indikator biologis kerusakan lingkungan. Tidak adanya kodok di sebuah ekosistem baik perairan maupun darat menjadi indikator sederhana kerusakan lingkungan yang bisa disebabkan oleh pemanasan global.

Jika dibandingkan dengan kodok lokal, kodok lembu sifatnya lebih jinak, lebih mudah dibudidayakan dan dapat mencapai ukuran yang lebih besar (500 – 600 gram/ekor). Kodok lembu termasuk komoditas perikanan yang bernilai ekonomis sehingga dapat mencukupi kebutuhan baik dalam negeri maupun ekspor tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Budidaya kodok lembu sudah berkembang sejak tahun 1982. Hewan yang berasal dari Amerika Utara ini mampu memijah secara alami dan cara membudidayakannya juga termasuk mudah atau tidak memerlukan perlakuan khusus.

Keunikan dari kodok ini pun menarik perhatian Presiden Joko Widodo. Beberapa media berita memberitahukan bahwa Presiden Joko Widodo sedang mencari kodok jenis bullfrog (kodok lembu) untuk dipelihara di kolam Istana Bogor. Permintaan hewan ini berkaitan dengan kelangsungan ekosistem alam.

rana catesbeiana shaw

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/rana-catesbeiana-shaw-kodok-bersuara-lembu/feed/ 0
Ikan Gelodok, Ikan yang Senang Muncul di Darat https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-gelodok-ikan-senang-muncul-darat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-gelodok-ikan-senang-muncul-darat https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-gelodok-ikan-senang-muncul-darat/#respond Fri, 23 Jun 2017 06:25:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17451 Ikan gelodok (Periophthalmus sp,) merupakan ikan dengan perilaku yang unik. Ikan yang hidup di sekitar hutan mangrove atau rawa bakau ini senang melompat-lompat ke daratan.]]>

Hutan mangrove dan rawa bakau merupakan daerah yang sangat subur serta menyediakan tempat berlindung juga tempat mencari makan bagi kebanyakan makhluk hidup. Salah satunya adalah ikan gelodok. Ikan gelodok (Periophthalmus sp,) dikenal dengan berbagai macam penamaan lokal seperti tembakul, gabus laut, belodok, belodog atau blodog. Dalam penamaan bahasa Inggris ikan ini disebut ‘mudskipper’ karena kebiasaannya yang senang melompat-lompat ke daratan, terutama di daerah berlumpur di sekitar rawa-rawa bakau ketika air sedang surut.

Jenis ikan ini sering disebut juga ikan amfibi karena alat penglihatan, alat pernapasan dan pergerakannya dominan di darat. Ikan gelodok dikenal sebagai peluncur lumpur yang handal, mereka bergerak di atas tanah dengan meluncurkan tubuhnya menggunakan sirip dada. Hebatnya lagi ikan ini dapat bertahan di luar air sampai sampai 7-8 menit.

Pada ekosistem mangrove dan rawa bakau ikan gelodok merupakan konsumen tingkat pertama maupun tingkat kedua dalam rantai makanan. Ikan gelodok menempati posisi konsumen primer dan sekunder dalam rantai makanan. Pada penelitian Udo (2002) diketahui jenis-jenis makanan ikan gelodok terdiri dari Alga, Arachnida, Crustacea, detritus, ikan, Moluska, Chilopoda, Insekta, zat-zat makrofit, Nematoda, butiran pasir dan Fungi.

Di sisi lain, terkadang ikan ini bergerombol dan bertengger pada akar-akar tunjang pohon bakau Rhizophora atau berada di antara akar-akar tunjang pohon bakau Sonneratia. Sirip perutnya yang menyatu berfungsi sebagai alat penghisap untuk berpegang. Perilaku ikan gelodok yang mampu berada di darat dan di air disebabkan oleh struktur alat gerak khusus yang tersusun atas tulang, otot dan persendian yang mampu menunjang pergerakannya.

ikan gelodok

Ikan gelodok (Periophthalmus sp,). Foto: commons.wikimedia.org

Adapun beberapa ciri-ciri ikan gelodok antara lain bentuk badan bulat panjang seperti torpedo dan memiliki panjang mendekati 30 cm. Matanya besar menonjol (seperti mata kodok) dan mencuat keluar. Ketika berenang, matanya fokus dan berada di atas permukaan air.

Ikan ini mempunyai sirip-sirip punggung terkembang, biasanya akan terkembang apabila sedang bertemu lawan/musuhnya. Sirip punggung pertama memiliki 5 jari-jari dan sirip perut bersatu, rahang atas 4-6 gigi taring. Sirip dadanya pada bagian pangkal berotot, dan sirip ini bisa ditekuk hingga berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat di atas lumpur.

Berdasarkan informasi yang dikutip pada laman indoindifish.blogspot.co.id , bahwa sumber organ pernapasan pada ikan gelodok adalah insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat. Hal ini dilakukan dengan cara memerangkap air di rongga insang dengan menutup rapat mulut dan tutup insang. Ikan ini bisa berada di darat selama air yang di bawahnya masih mengandung oksigen, jika oksigenya telah habis, ikan ini harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang kembali.

Menurut beberapa informasi ikan ini dipercaya sudah ada sejak 22,5 juta tahun yang lalu dan hidup hingga kini. Peran ikan gelodok bagi manusia umumnya adalah sebagai bahan pakan atau umpan untuk memancing Ikan. Uniknya lagi ikan yang tampak “jorok” ini memiliki daging dengan nilai gizi yang tinggi.

Berdasarkan tulisan ilmiah Sabilah Fi Ramadhani dan Ahmad Muhtadi (2016) menjelaskan bahwa di beberapa negara di Asia, seperti Bangladesh, Cina, Jepang, Korea, Filipina, Taiwan, Thailand dan Vietnam spesies ini memiliki daging yang dianggap memiliki kelezatan tersendiri, kemudian ikan ini juga dibudidayakan secara ekstensif. Di India, ikan ini dikonsumsi oleh nelayan sebagai obat tradisional. Menurut Purwaningsih, et al (2013), ikan gelodok memiliki kadar gizi berupa asam amino esensial.

ikan gelodok

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-gelodok-ikan-senang-muncul-darat/feed/ 0
Kodok Ramping Berduri https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-ramping-berduri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kodok-ramping-berduri https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-ramping-berduri/#respond Mon, 12 May 2014 12:28:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=4575 Kodok ramping berduri (Ansonia spinulifer) dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Spiny Slender Toad. Kodok ini merupakan kodok endemik di pulau Borneo atau Kalimantan dan umum ditemukan di sungai ber-arus di […]]]>

Greeners BioDiversity LOGOKodok ramping berduri (Ansonia spinulifer) dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Spiny Slender Toad. Kodok ini merupakan kodok endemik di pulau Borneo atau Kalimantan dan umum ditemukan di sungai ber-arus di hutan dataran rendah, atau pada ketinggian 150 – 750 dpl. Kodok jantan yang bersuara sering ditemukan bertengger di tumbuhan bagian bawah tak jauh dari sungai.

Bentuk tubuh Ansonia spinulifer kecil dan ramping. Panjang tubuh kodok betina mencapai 40-45 milimeter, sedangkan panjang tubuh jantan hanya 30-40 milimeter. Tungkai depan kodok ini sedikit lebih pendek dari tungkai bagian belakang, dimana ujung jari tungkai depan dan belakang bentuknya membulat, lembek dan tidak berselaput (Inger, R.F & Roberts, B.S, 1997). Ciri khas lainnya dari kodok ini adalah kulitnya yang berduri. Kulit Ansonia spinulifer disebut berduri karena teksturnya yang kasar, penuh dengan tonjolan seperti kutil namun dengan ujung yang tajam.

Status amfibi ini menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) adalah Near Threatened (NT) atau mendekati terancam punah karena banyaknya hutan dataran rendah di Kalimantan yang berubah fungsi menjadi perkebunan kayu atau sawit.

 

Photographer : Ady Kristanto
Kamera : Fuji Film Finepix S5700
Lokasi : Ketapang, Kalimantan Barat

 

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kodok-ramping-berduri/feed/ 0