Anak-anak - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/anak-anak/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 04 Jan 2023 07:04:22 +0000 id hourly 1 Krisis Iklim Bakal Turunkan IQ 744 Juta Anak di Dunia https://www.greeners.co/berita/iq-744-juta-anak-di-dunia-diprediksi-rendah-dampak-ganda-krisis-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=iq-744-juta-anak-di-dunia-diprediksi-rendah-dampak-ganda-krisis-iklim https://www.greeners.co/berita/iq-744-juta-anak-di-dunia-diprediksi-rendah-dampak-ganda-krisis-iklim/#respond Wed, 04 Jan 2023 06:59:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38496 Jakarta (Greeners) – Temuan Save the Children Generation Hope tahun 2022 mengungkap sekitar  774 juta anak atau sepertiga dari populasi anak di dunia terancam dampak ganda krisis iklim dan kemiskinan. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Temuan Save the Children Generation Hope tahun 2022 mengungkap sekitar  774 juta anak atau sepertiga dari populasi anak di dunia terancam dampak ganda krisis iklim dan kemiskinan. Hal ini berisiko besar menurunkan kecerdasan intelektual atau intelligence quotient (IQ) selama tumbuh kembang mereka.

Indonesia menempati peringkat ke-9 tertinggi secara global terkait jumlah anak yang mengalami ancaman ganda tersebut.

Berbagai sumber menyebut, krisis iklim memiliki konsekuensi dramatis pada semua aspek kehidupan, mulai dari banjir, kekeringan hingga perubahan kualitas dan polusi udara, tanah dan air. Bahkan, krisis iklim berdampak buruk pada kesehatan dan otak.

Kenaikan suhu terutama serangan hipotermia dapat menyebabkan perubahan pada metabolisme otak, inflamasi, hingga demensia (neurodegenerasi). Tak hanya itu, paparan polusi memicu rendahnya IQ.

Media & Brand Manager Save The Children Indonesia Dewi Sri Sumanah mengatakan, dampak ganda krisis iklim dan kemiskinan tak hanya berpengaruh pada lingkungan. Tapi berpengaruh tak langsung pada rendahnya IQ.

“Hal ini karena beban ganda yang berpengaruh pada keterbatasan akses pada pendidikan dan kesehatan,” katanya kepada Greeners, Rabu (4/1).

Ia mengungkap, krisis iklim merupakan krisis terhadap hak-hak anak. “Krisis iklim adalah krisis hak-hak anak juga, seperti kemiskinan jangka panjang dan imbasnya pada hak pendidikan, kesehatan dan perlindungan,” imbuhnya.

Ia menceritakan, pernah bertemu dengan anak di pesisir pantai Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah berusia 17 tahun. Imbas banjir rob, membuatnya terpaksa harus berpindah-pindah selama 15 tahun hidupnya. Ayahnya seorang nelayan pun terpaksa harus menerima kenyataan menurunnya pendapatan.

“Yang sedianya tangkapan ikan mendapatkan Rp 100.000, dua tahun terakhir hanya Rp 45.000 sehari. Itu pun harus mencukupi 7 anaknya,” kata dia.

Bencana dan perubahan iklim pengaruhi psikis anak. Mitigasikan untuk halau risikonya. Foto: Shutterstock

Kesehatan dan Pendidikan Anak Terancam

Dampak nyata krisis iklim juga terasa pada kesehatan. Anak tersebut harus rela menelan kenyataan saat kondisi tak ada uang, di tengah banjir rob ia tak bisa menyeberang saat orang tuanya sakit.

“Anak-anak pun tak bisa berangkat ke sekolah karena banjir rob yang meluas. Dalam jangka waktu lama, dampak krisis iklim ini menyebabkan anak kehilangan hak belajarnya,” papar dia.

Ia menambahkan, butuh peran berbagai pihak untuk mengendalikan dampak buruk krisis iklim ini. Misalnya, mulai melakukan berbagai gaya hidup minim energi dengan mengurangi penggunaan energi fosil pada kendaraan.

Hal yang sama juga seharusnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan agar mengendalikan pencemarannya. Sementara pemerintah, harus merumuskan kebijakan yang concern pada upaya mengatasi agar suhu bumi tak lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Menurut dia, sudah saatnya melakukan aksi adaptasi dan mitigasi untuk memperbaiki keadaan untuk masa depan anak-anak di Indonesia.

Selain itu, laporan Generation Hope juga menunjukkan bahwa lebih dari 60 juta anak di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu kali kejadian iklim ekstrem dalam setahun.

Fakta ini memperjelas bahwa anak-anak menanggung beban yang tidak proporsional, sebab tumbuh dalam situasi yang mengancam dan anak memiliki faktor-faktor yang membuatnya lebih rentan secara fisik, sosial dan ekonomi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/iq-744-juta-anak-di-dunia-diprediksi-rendah-dampak-ganda-krisis-iklim/feed/ 0
Cat Mengandung Timbal Hantui Anak Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/cat-mengandung-timbal-hantui-anak-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cat-mengandung-timbal-hantui-anak-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/cat-mengandung-timbal-hantui-anak-indonesia/#respond Wed, 26 Oct 2022 03:01:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=37772 Jakarta (Greeners) – Penasihat Senior Nexus3 Yuyun Ismawati prihatin melihat jutaan anak Indonesia terpapar cat beracun setiap hari di taman bermain dan sekolah. “Selama beberapa dekade, lebih dari 30 juta […]]]>

Jakarta (Greeners) – Penasihat Senior Nexus3 Yuyun Ismawati prihatin melihat jutaan anak Indonesia terpapar cat beracun setiap hari di taman bermain dan sekolah.

“Selama beberapa dekade, lebih dari 30 juta anak Indonesia terus terpapar cat beracun setiap hari di taman bermain dan sekolah. Sungguh memprihatinkan melihat anak dan cucu kita, tak berdaya menghirup debu beracun sementara otak mereka masih tumbuh,” ungkap Yuyun dalam acara “Say No To Lead Poisoning” baru-baru ini.

Sebelumnya pada tahun 2019, Nexus3 Foundation melakukan penelitian pada 32 taman bermain dan ruang terbuka ramah anak yang berada di Jakarta. Hasilnya mereka temukan sekitar 69 % peralatan main di sana mengandung timbal dengan konsentrasi tinggi.

Oleh karena itu, Nexus3 Foundation bergabung dengan Global Alliance to Eliminate Lead Paint (selanjutnya disebut the Alliance) mengadakan Pekan Pencegahan Keracunan Timbal Internasional (ILPPW) pada 23-29 Oktober 2022.

Kegiatan ini merupakan kampanye publik untuk mendesak perlindungan kesehatan anak-anak Indonesia melalui aksi untuk menghilangkan penggunaan cat bertimbal.

Selama periode aksi tersebut, Nexus3 Foundation akan mengecat ulang sepuluh taman bermain di TK dan PAUD di lima kota di besar di Indonesia. Lokasinya yakni di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar.

Aksi ILPPW tahun ini menandai peringatan tahun kesepuluh kampanye tahunan untuk meningkatkan kesadaran publik di seluruh dunia dari ancaman keracunan timbal. Termasuk dari cat bertimbal, yang masih terus Indonesia serta sebagian besar negara di dunia produksi dan gunakan.

Yuyun Ismawati beberkan hasil riset Nexus3 dalam sebuah kesempatan. Foto: Greeners/Fitri Annisa

Bisa Sebabkan IQ Anak Indonesia Menurun

Timbal merupakan racun yang sangat berbahaya dan dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh pada anak. Bahkan meski dosis rendah, timbal dapat memengaruhi perkembangan otak anak-anak, mengakibatkan penurunan IQ. Selain itu juga perubahan perilaku seperti berkurangnya rentang perhatian dan peningkatan perilaku antisosial.

Paparan timbal juga dapat merusak ginjal, organ reproduksi, dan sistem kekebalan tubuh serta mengakibatkan anemia dan hipertensi. Efek neurologis dan perilaku timbal biasanya tidak dapat diubah.

Yuyun meminta perusahaan berhenti menggunakan pigmen dan pengering berbasis timbal. Ia menilai bahwa sudah seharusnya perusahaan mengadopsi standar baru terkait batas aman kandungan timbal dalam cat yakni 90 ppm.

Desak Buat Cat Tanpa Timbal

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, pihaknya mendorong pemerintah segera membuat kebijakan yang mengatur produksi cat tanpa timbal.

“YLKI juga mendorong meminta kepada pemerintah membuat regulasi terkait cat tanpa timbal. Produsen juga harus punya komitmen membuat cat tanpa timbal. Bagi konsumen juga harus menggunakan cat tanpa timbal jangan mencari yang murah tetapi membawa petaka bagi konsumen itu sendiri,” jelasnya.

Dengan aksi ini, YLKI juga mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan anak-anak dan lingkungan agar tidak tercemar limbah timbal ini.

“Bersama-sama mewujudkan cat tanpa timbal di Indonesia demi kesehatan masyarakat, kesehatan anak-anak dan lingkungan. Jangan sampai itu menjadi tercemar,” pungkasnya.

Penulis : Fitri Annisa

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/cat-mengandung-timbal-hantui-anak-indonesia/feed/ 0
Project Child Indonesia Dampingi Anak-Anak Pahami Alam https://www.greeners.co/sosok-komunitas/project-child-indonesia-dampingi-anak-anak-pahami-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=project-child-indonesia-dampingi-anak-anak-pahami-alam https://www.greeners.co/sosok-komunitas/project-child-indonesia-dampingi-anak-anak-pahami-alam/#respond Sat, 13 Aug 2022 03:00:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=37007 Jakarta (Greeners) – Sebagai sebuah NGO yang berdiri 11 tahun lalu, Project Child Indonesia ingin terus membangun iklim pendidikan anak-anak yang menyatu pada alam. Dalam setiap programnya, NGO ini membuka […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sebagai sebuah NGO yang berdiri 11 tahun lalu, Project Child Indonesia ingin terus membangun iklim pendidikan anak-anak yang menyatu pada alam. Dalam setiap programnya, NGO ini membuka ruang anak-anak Indonesia memahami dan menyatu dengan alam.

Adalah Surayah Ryha dan Marvin Kiefer para inisiator berdirinya Project Child Indonesia. Awalnya, organisasi ini dibentuk secara tak sengaja, tepatnya di Kricak Kidul, Tegalrejo, Yogyakarta. Saat itu, Surayah dan Marvin tengah mengajari ibu-ibu menjahit.

Selama kegiatan menjahit, keduanya bertemu dengan anak-anak di lokasi yang ingin diajari bahasa Inggris oleh Marvin. Bermula dari sinilah, Project Child Indonesia berkembang luas, termasuk aktif pada isu-isu pendidikan lingkungan dan alam.

Program Manager Project Child Indonesia Benna Salsabila menyatakan, beberapa rekan Marvin dari Jerman kemudian berdonasi dan ikut mengajar anak-anak.

Bahkan saat ini, Project Child Indonesia tak hanya memiliki kantor pusat di Yogyakarta tapi juga di Pacitan, Jawa Timur.

Dalam perjalanannya, Project Child Indonesia juga menyasar programnya untuk anak-anak daerah rawan bencana.

“Ini tak lain agar mereka bisa belajar tentang kondisi alam yang dekat dengan mereka misalnya di Kricak Kidul. Ke depan mereka bisa semakin sadar menjaga lingkungan dan bisa lebih siap terhadap ancaman bencana,” katanya dalam Kupas Komunitas bersama Greeners, baru-baru ini.

Pengenalan terhadap alam tidak anak-anak sepenuhnya dapat di pendidikan formal. Foto: Project Child Indonesia

Kenalkan Alam di Luar Pendidikan Formal

Lebih jauh Benna menyebut, sasaran target dari Project Child Indonesia tak lain ingin menjangkau pengetahuan yang tidak anak-anak peroleh dalam pendidikan formal, seperti pendidikan langsung ke lapangan.

Dengan demikian anak-anak memiliki gambaran konkret terkait masalah kebencanaan dan lingkungan. “Kita ingin anak-anak lebih kritis terhadap fenomena alam dan bencana, misalnya banjir yang juga sangat berdampak pada kondisi sosial ekonomi mereka,” jelas Benna.

Menurutnya, pendekatan pendidikan di Indonesia selama ini belum menjawab permasalahan yang anak-anak alami sekarang. Padahal, sambung dia anak-anak membutuhkan pendidikan yang bermakna dan tentang lingkungan yang jarang didiskusikan di sekolah-sekolah.

“Mungkin ini yang tak bisa ditemukan di pendidikan formal yang selama ini sesuai kurikulum dan bersifat kurang fleksibel,” imbuhnya.

Berdasarkan visi tersebut, Project Child Indonesia mengkategorikan fokus mereka menjadi tiga hal, yaitu kesehatan praktis, lingkungan serta pendidikan bencana. Ketiga hal tersebut, tambahnya merupakan fondasi akar permasalahan bagi masyarakat pinggiran selama ini.

Anak-anak dapat banyak pengetahuan dari 4 program unggulan Project Child Indonesia. Foto: Project Child Indonesia

Empat Program Besar Project Child Indonesia

Terkait serangkaian program, beberapa program utama dalam Project Child Indonesia, yaitu Sekolah Sungai, Sekolah Pantai, Drinking Water Programme, serta Internet Literacy Programme. Program Sekolah Sungai menyasar masyarakat bantaran sungai yang sangat rentan pada kerugian ekonomi, bencana alam dan polusi. Kini program ini ada di tiga bantaran sungai, Kricak, Gajah Wong dan Code.

Program kedua yaitu Sekolah Pantai. Program ini mereka mulai sejak tahun 2014 untuk memfasilitasi pembelajaran anak-anak di sekitar pantai. Seperti halnya Sekolah Sungai, program ini memfokuskan pada informasi seputar kesehatan dan lingkungan pantai, serta ancaman potensi kebencanaan.

Selanjutnya Drinking Water Programme (DWP) yang mereka mulai tahun 2016. Tujuan program ini agar seluruh anak bisa mendapatkan asupan air yang cukup, mengingat krusialnya asupan air dalam tubuh anak.

Benna menyebut, Project Child Indonesia turut memasang sistem filter yang memungkinkan anak untuk mengisi ulang botol air minum dengan tujuan pengurangan sampah plastik. Pemasangan filter air juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan pasokan air yang bersih.

Program keempat yaitu Internet Literacy Programme yang menekankan pentingnya penyaringan informasi terhadap anak melalui konten digital di era pesatnya teknologi. “Melalui program ini kami juga menargetkan edukasi, terutama para orang tua untuk memberikan pemahaman dan pengawasan pada anak-anak,” tuturnya.

Menariknya, Project Child Indonesia selalu memberikan pre test dan post test terhadap program ini. Hal ini merupakan bentuk evaluasi untuk memastikan keberlanjutan empat program tersebut ke depan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/project-child-indonesia-dampingi-anak-anak-pahami-alam/feed/ 0
Krisis Iklim Bisa Picu Jutaan Anak dan Keluarga Jatuh Miskin https://www.greeners.co/berita/krisis-iklim-bisa-picu-jutaan-anak-dan-keluarga-jatuh-miskin/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=krisis-iklim-bisa-picu-jutaan-anak-dan-keluarga-jatuh-miskin https://www.greeners.co/berita/krisis-iklim-bisa-picu-jutaan-anak-dan-keluarga-jatuh-miskin/#respond Sun, 01 May 2022 05:00:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36053 Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan secara berjenjang dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Hal ini penting untuk membangun pelibatan dan kesadaran anak-anak terhadap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan secara berjenjang dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Hal ini penting untuk membangun pelibatan dan kesadaran anak-anak terhadap dampak krisis iklim. Sebab dalam sebuah laporan, tapi aksi pencegahan, krisis iklim berpotensi membuat jutaan anak dan keluarga jatuh miskin.

Ketua Satgas Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kurniawan Taufiq Kadafi menyatakan, permasalahan iklim sangat nyata anak Indonesia rasakan. Langkah memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan ini merupakan investasi jangka panjang. “Karena kesadaran (permasalahan iklim) tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu yang singkat,” katanya kepada Greeners, baru-baru ini.

Adapun bentuk-bentuk impelementasi pembelajaran terkait kurikulum ini sangat bervariasi. Misalnya pada tingkat pendidikan usia dini dan dasar bisa dengan praktek lapangan dengan melihat langsung ke hutan. Ajarkan mereka membuat simulasi sederhana kebakaran hutan dan dampaknya pada lingkungan dan kesehatan tentu jadi edukasi yang efektif.

Selain itu, perkenalkan anak sejak dini terhadap dampak perubahan iklim, bencana alam dan kesehatan. Termasuk, dampaknya bagi alam, lingkungan dan wabah hingga penyakit. “Anak bisa diajarkan dengan metode sederhana dan tetap konsisten baik di sekolah maupun di luar sekolah,” ucapnya.

Pengajaran sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga penting. Misalnya, dengan meminimalkan penggunaan plastik dalam berkegiatan di sekolah, penghematan dalam pemakaian listrik dan air hingga meminimalisasi konsumsi makanan junk food.

Dampak Nyata Krisis Iklim Bagi Anak-Anak

Sebelumnya, berdasarkan laporan global organisasi “Save the Children” berjudul “Born into the Climate Crisis” menyebut krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan anak-anak rasakan saat ini.

“Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam. Anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial dan ekonomi,” kata Ketua Pengurus Yayasan Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan laporan global yang mereka rilis September 2021 tersebut, anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai.

Selanjutnya 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan serta 3 kali lebih banyak gagal panen dan lebih buruk lagi. Dampak krisis iklim membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.

Secara nasional, hasil prediksi iklim sepuluh tahunan laporan global “Save the Children” menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino.

Laporan itu pun mengungkapkan jika kenaikan suhu manusia jaga tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius, dampak dari ancaman iklim pada generasi mendatang dapat berkurang. Misalnya, kekeringan berkurang sebesar 39 %, 38 % untuk banjir sungai, 28 % hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

“Investasi pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak,” tambah Selina.

Upaya Anak Muda Adaptasi dan Mitigasi

Sebelumnya, Save the Children Indonesia menggandeng sejumlah pihak yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meluncurkan kampanye Aksi Generasi Iklim bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2022 lalu.

Aksi generasi iklim ini harus menyentuh anak-anak Indonesia terutama mereka yang berhadapan dan terdampak langsung dari krisis iklim. Anak-anak tersebut berasal dari Provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Aksi generasi iklim sendiri, menurut Selina, merupakan gerakan inisiasi anak-anak dan orang muda. Tujuannya, untuk memastikan anak-anak dan keluarga terutama mereka yang terdampak secara langsung dari krisis iklim dapat melakukan upaya-upaya bertahan hidup dan beradaptasi. Selanjutnya mereka bisa memperkuat sistem terkait penanganan perubahan iklim yang lebih berpihak pada anak.

Perwakilan ‘Child Campaigner’ Jawa Barat “Save the Children” Indonesia menyatakan pemerintah harus melibatkan anak-anak dalam membangun kesadaran dampak krisis iklim.

“Harusnya, semua anak bisa mulai berpartisipasi. Tapi sayangnya masih banyak anak-anak belum tahu tentang krisis iklim dan bagaimana mereka bisa berperan untuk membuat perubahan. Sebagai ‘Child Campaigner’, saya ingin mengajak semua anak bergerak dan tidak takut untuk bersuara,” ungkap Ranti.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/krisis-iklim-bisa-picu-jutaan-anak-dan-keluarga-jatuh-miskin/feed/ 0
Polusi Rumah Tangga Ancam Pneumonia pada Anak-Anak https://www.greeners.co/berita/polusi-rumah-tangga-ancam-pneumonia-pada-anak-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=polusi-rumah-tangga-ancam-pneumonia-pada-anak-anak https://www.greeners.co/berita/polusi-rumah-tangga-ancam-pneumonia-pada-anak-anak/#respond Mon, 11 Apr 2022 05:51:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35850 Jakarta (Greeners) – Paparan polusi rumah tangga hampir dua kali lipat berisiko menimbulkan pneumonia atau peradangan paru-paru terhadap anak-anak. Data World Health Organization (WHO) mengungkap, 45 % kematian akibat pneumonia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Paparan polusi rumah tangga hampir dua kali lipat berisiko menimbulkan pneumonia atau peradangan paru-paru terhadap anak-anak. Data World Health Organization (WHO) mengungkap, 45 % kematian akibat pneumonia anak di bawah lima tahun disebabkan oleh polusi udara rumah tangga.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Cynthia Centauri menyatakan, pneumonia merupakan infeksi saluran napas akut pada parenkim paru. Sel paru-paru atau alveoli yang berisi nanah dan cairan menyebabkan kesulitan bernapas dan mengganggu asupan oksigen.

“Patogen yang masuk akan memicu respon imun tubuh dan menyebabkan reaksi peradangan. Ada patogen yang masuk melalui pernapasan atau terhirup secara tidak sengaja. Hal ini secara tidak langsung dapat masuk melalui aliran darah,” katanya kepada Greeners, di Jakarta, Senin (11/4).

Faktor risiko pneumonia ini berasal dari imunitas yang rendah, penyakit yang menyertai pada anak sebelumnya, serta imunisasi yang belum lengkap. Selain itu, ia menegaskan, faktor lingkungan juga sangat krusial misalnya pencemaran udara dari asap rokok hingga padatnya pemukiman sehingga sirkulasi udara tak maksimal.

“Ini sangat penting agar udara yang terhirup anak benar-benar bersih. Orang tua harus menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk mencegah pneumonia,” ucapnya.

Indonesia termasuk dalam negara dengan kasus pneumonia peringkat tinggi. Tahun 2017, Indonesia menempati peringkat ke-7 dunia dengan kasus pneumonia tertinggi.

Anak di Lingkungan Berbahan Bakar Padat Berisiko Tinggi Idap Pneumonia

Ketua Satgas Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Kurniawan Taufiq Kadafi mengungkapkan, risiko anak yang tumbuh di rumah dengan penggunaan bahan bakar padat lebih tinggi dibanding penggunaan bahan bakar gas maupun listrik.

“Ini terlihat dari penelitian di Sri Langka. Sebanyak 262 anak yang mengalami asma akibat infeksi 1,6 kali lebih tinggi berisiko pada anak yang tinggal di rumah dengan bahan bakar minyak tanah dibandingkan menggunakan gas atau listrik untuk memasak,” paparnya.

Dampak polusi udara rumah tangga, sambung dia yaitu dapat menyebabkan terjadinya infeksi saluran pernapasan akibat bakteri Streptococcus pneumoniae. Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya edukasi terhadap orang tua mengenai pengaruh polusi udara rumah tangga. Dengan pengetahuan tersebut harapannya, dapat menurunkan kejadian atau dampak negatif akibat polusi udara rumah tangga.

Sementara itu, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) Ahmad Safruddin menyebut, pencemaran yang berasal dari dapur dan aktivitas rumah tangga menyumbang 11 % pencemaran udara ambient di DKI Jakarta. Sementara, kendaraan bermotor 47 %, Industri 22 %, debu jalanan 11 %, pembakaran sampah 5 % dan proses konstruksi 4 %.

Ia menambahkan, dapur masih menjadi kontributor utama indoor air pollution di pemukiman perkotaan. Sebagian besar seluruh masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan tak lagi menggunakan bahan bakar padat, seperti kayu. Mereka menggantinya dengan bahan bakar LPG. Akan tetapi, sambung Ahmad, masyarakat harus memiliki ventilasi udara yang baik meskipun menggunakan LPG.

“Dapur sekalipun sudah memakai LPG, LNG hingga kompor listrik, tapi karena buruknya ventilasi dapur atau tak ada exhaust fan maka terjadi potensi terjebaknya polutan dari dapur yang sering terakumulasi sampai tingkat yang membahayakan,” imbuhnya.

Rumah Adat Berkonsep Dapur Terpisah Hindari Polusi Rumah Tangga

Sebagai perbandingan, kendati aktivitas dapur di pedesaan juga masih menggunakan biomass seperti kayu bakar dan arang tapi relatif tak menimbulkan dampak indoor air pollution. Selain kualitas udara ambient dari sekitar yang relatif masih lebih baik. Rumah adat juga memiliki kaidah yang mengharuskan dapur terpisah dari rumah utama dengan ventilasi yang cukup.

Jarak antar rumah di perdesaan kerap terpisah oleh kebun dengan pepohonan yang menjadi penyerap polusi udara. Demikian pula masih sedikitnya penggunaan kendaraan bermotor, AC sehingga minim kontribusi terhadap indoor air pollution.

Kontributor pencemaran udara indoor air pollution dari sumber lain juga harus masyarakat perhatikan. Misalnya penggunaan AC yang jarang diservis (yang seharusnya dibersihkan per tiga bulan) mengekspos PM 2.5 akibat penumpukan debu pada filter AC dan tak jarang dihuni mikroorganisme yang membahayakan.

Debu yang terserap dalam plafon dan di bawah karpet yang sering menjadi problem akut dan kronis karena mengekspos paparan debu termasuk PM2.5 secara terus menerus.

Selain itu perhatikan juga penggunaan material pest control yang punya side effect terhadap indoor air pollution. Perhatikan pula konstruksi ruangan dengan material bangunan dan cat yang membahayakan dan tanpa metode pencegahan yang baik.

Selanjutnya, loading dan unloading barang yang sering terpapar debu, penempatan genset yang tidak baik sehingga emisi genset masuk ke dalam. Serta pengelola gedung yang abai terhadap indoor air quality management sehingga indoor air pollution terjadi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/polusi-rumah-tangga-ancam-pneumonia-pada-anak-anak/feed/ 0
Waspada Sindrom Inflamasi Multisistem Setelah Covid-19 https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-sindrom-inflamasi-multisistem-setelah-virus-covid-19/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-sindrom-inflamasi-multisistem-setelah-virus-covid-19 https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-sindrom-inflamasi-multisistem-setelah-virus-covid-19/#respond Sat, 06 Jun 2020 04:00:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=27433 Sindrom inflamasi multisistem ini menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Penyakit tersebut menyebabkan peradangan pada dinding arteri.]]>

Selain ancaman virus corona, masyarakat juga perlu waspada terhadap risiko sindrom inflamasi multisistem. Kasus baru tersebut dilaporkan menyerang 150 anak di New York, Amerika Serikat. Tim peneliti dari Rumah Sakit Papa Giovanni XXIII di Bergamo, Italia, mengamati kasus anak-anak yang didiagnosis dengan penyakit kawasaki dan penyakit “mirip-kawasaki” baru di rumah sakit antara 1 Januari 2015 hingga 20 April 2020.

Sindrom inflamasi multisistem ini menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Penyakit tersebut menyebabkan peradangan pada dinding arteri berukuran sedang dan dapat merusak jantung.  Gejalanya meliputi demam persisten, ruam, mata merah, peradangan, dan kerusakan fungsi satu organ atau lebih.

Baca juga: Waspada Kolesterol Tinggi saat Mengonsumsi Hati Sapi

Dr. Jeffrey Burns, dokter spesialis perawatan kritis di Rumah Sakit Anak, di Boston mengatakan bahwa sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak tampaknya merupakan sindrom pasca-virus. Sindrom tersebut, kata dia, tidak secara langsung disebabkan oleh virus.

Melansir edition.cnn.com, baru-baru ini seorang dokter dan konsultan imunologi dan penyakit menular pada anak di Rumah Sakit Anak Evelina London, Dr. Julia Kenny mengatakan, pasien anak-anak menunjukkan gejala jantung yang signifikan dan terbukti sulit untuk mengevaluasinya secara klinis. Penderita sering kali terlihat kurang sehat padahal tes darah dan pemeriksaan jantung menunjukkan keadaan yang sangat tidak normal.

Sindrom Inflamasi Multisistem

Foto: shutterstock.com

Menurutnya, karena sindrom baru ini baru dapat teridentifikasi dalam empat Minggu terakhir, akan sangat penting untuk mempelajari lebih lanjut gejala dan pengobatannya. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui mekanisme penyakit tersebut berkaitan dengan Covid-19.

Meski demikian, Burns meyakini bahwa kasus akan muncul lebih banyak ketika Covid-19 memengaruhi lebih banyak orang. Menurutnya ini merupakan kondisi langka, tetapi memiliki konsekuensi besar jika jutaan orang terinfeksi. Ia juga mengatakan bahwa hipotesis didasarkan pada respons imun pasien. Sebagian besar anak-anak tidak terkena sindrom ini, bahkan tidak memerlukan perawatan di unit perawatan intensif  meskipun sangat sedikit yang meninggal.

Baca juga: Sehat Berpuasa di Saat Pandemi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sedang menyiapkan pemberitahuan jejaring kesehatan untuk dikirim ke dokter di seluruh negara. Burns mengatakan World Health Organization juga bekerja untuk mendefinisikan sindrom dan memperingatkan dokter sehingga mereka akan tahu apa yang harus dicari dan bagaimana mengobatinya.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/waspada-sindrom-inflamasi-multisistem-setelah-virus-covid-19/feed/ 0