aplikasi zoo recapp - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/aplikasi-zoo-recapp/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 15 May 2016 13:28:57 +0000 id hourly 1 ISAW Ajak Warga Berpartisipasi Pantau Kondisi Satwa Melalui Zoo Recapp https://www.greeners.co/berita/isaw-ajak-warga-berpartisipasi-pantau-kondisi-satwa-melalui-zoo-recapp/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=isaw-ajak-warga-berpartisipasi-pantau-kondisi-satwa-melalui-zoo-recapp https://www.greeners.co/berita/isaw-ajak-warga-berpartisipasi-pantau-kondisi-satwa-melalui-zoo-recapp/#respond Sun, 15 May 2016 07:21:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13676 Direktur Eksekutif Indonesia Society for Animal Welfare (ISAW), Kinanti Kusumawardani mengajak masyarakat turut serta memantau dan menilai kondisi satwa di kebun binatang melalui aplikasi Zoo Reporting for Citizens Application (Zoo Recapp). ]]>

Malang (Greeners) – Kasus gajah Yani yang mati di Kebun Binatang Bandung, Rabu (11/5/2016) lalu, menarik perhatian semua pihak. Kasus tersebut menambah daftar panjang kematian satwa di kebun binatang.

Sebelumnya, pada Juli 2014 lalu, harimau Sumatera, Melanie, mati di Taman Safari Bogor, Jawa Barat. Satwa yang dilindungi itu sebelumnya tinggal di Kebun Binatang Surabaya. Tahun 2013, Melanie sempat dikirim ke Taman Safari Cisarua, Bogor, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Melanie mati pada usia 16 tahun. Di usia tersebut, berat tubuhnya mencapai 40-50 kilogram, sangat kurus untuk ukuran harimau tua.

Direktur Eksekutif Indonesia Society for Animal Welfare (ISAW), Kinanti Kusumawardani mengatakan bahwa kasus ini menunjukkan betapa memprihatinkannya kondisi pemeliharaan satwa di kebun binatang yang tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dan kesejahteraan satwa.

“Kondisi ini bisa dicegah manakala fasilitas dan kondisi kebun binatang layak,” katanya, Jumat (13/5/2016).

Menyikapi kondisi ini, Kinanti mengajak masyarakat turut serta memantau dan menilai kondisi satwa di kebun binatang melalui aplikasi Zoo Reporting for Citizens Application (Zoo Recapp). Zoo Recapp merupakan platform penilaian yang memberdayakan warga (citizen assessment) untuk menilai kondisi satwa di kebun binatang secara mudah dan sistematis.

Kinanti menjelaskan, proses penilaian dalam Zoo Recapp mengacu pada metode penilaian terstandar Zoo Exhibit Quick Audit Process (ZEQAP). Aplikasi ini dirancang sebagai metode ilmiah bagi publik untuk melakukan monitoring dan penilaian kebun binatang secara berkala.

Caranya, publik cukup login menggunakan nama dan alamat email. Aplikasi Zoo Recapp dapat langsung menjawab serangkaian pertanyaan terkait kesejahteraan satwa pada kandang atau area tertentu di kebun binatang.

“Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Melalui Zoo Recapp ini nantinya rutin melakukan monitoring, penilaian, dan pelaporan kondisi kesejahteraan satwa di kebun binatang,” ujarnya.

Dikatakan Kinanti, regulasi terkait pemeliharaan satwa di lembaga konservasi sebenarnya telah diatur dalam Permenhut Nomor 31 Tahun 2002 tentang Lembaga Konservasi dan Peraturan Dirjen PHKA Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pedoman Etika dan Kesejahteraan Satwa di Lembaga Konservasi.

Pasal 9 Permenhut Nomor 31 tahun 2012 disebutkan bahwa ketersediaan dokter hewan dan paramedik sebagai tenaga kerja permanen merupakan salah satu kriteria yang mutlak dimiliki oleh kebun binatang.

Di pasal 29 juga disebutkan bahwa lembaga konservasi dilarang memperagakan satwa sakit atau menelantarkan satwa dengan cara yang tidak sesuai dengan etika dan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa.

“Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut bisa berakibat sanksi administratif seperti pencabutan izin operasi atau penghentian layanan sementara,” jelasnya.

Kendati demikian, kata Kinanti, masih terdapat celah dalam regulasi tersebut yang dapat memperlambat proses penindakan. Semisal, sanksi bisa dijatuhkan apabila kebun binatang atau lembaga konservasi diberi peringatan tertulis dari Dirjen PHKA sebanyak tiga kali berturut-turut. Peringatan tertulis diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan tim yang dibentuk oleh Dirjen.

“Sayangnya, jangka waktu pemeriksaan kebun binatang itu setiap 5 tahun sekali, sehingga tidak mencerminkan keadaan terkini dari sebuah lembaga konservasi. Misalnya, Kebun Binatang Bandung terakhir berhasil mendapat Akreditasi B tahun 2011, mengacu pada hasil pemeriksaan,” ungkapnya.

Kinanti juga menambahkan bahwa persoalan kepemilikan dan pengelolaan kebun binatang di Indonesia adalah masalah krusial. Terkadang menjadi sulit bagi pihak otoritas untuk mengambil tindakan. “Regulasi sudah ada, tapi pelaksanaan di lapangan perlu dievaluasi kembali. Hal ini tidak lain semata-mata untuk menjaga satwa yang ada di kebun binatang,” jelasnya.

Langkah ISAW mengajak masyarakat terlibat aktif dalam pengecekan kebun binatang disambut positif lembaga yang bergerak untuk perlindungan satwa liar dan hutan, Protection of Forest & Fauna (Profauna) Indonesia.

“Masyarakat harus partisipatif dalam memantau dan menilai. Langkah ini perlu digalakkan di semua daerah di Indonesia,” kata Koordinator Profauna Jawa Barat, Rindu Aunillah Sirait, melalui rilisnya.

Dalam kasus kematian gajah Yani di Kebun Binatang Bandung, Rindu mengimbau agar semua elemen hendaknya disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai terjebak pada informasi yang justru jauh dari fokus utama dalam melindungi satwa-satwa yang ada di Indonesia.

“Fokus utama adalah keselamatan dan kesejahteraan satwanya, jangan dibawa ke ranah kepentingan ekonomi, apalagi politik,” tandasnya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/isaw-ajak-warga-berpartisipasi-pantau-kondisi-satwa-melalui-zoo-recapp/feed/ 0
ISAW Galang Dana Kembangkan Aplikasi Penilaian Kebun Binatang https://www.greeners.co/berita/isaw-galang-dana-kembangkan-aplikasi-penilaian-kebun-binatang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=isaw-galang-dana-kembangkan-aplikasi-penilaian-kebun-binatang https://www.greeners.co/berita/isaw-galang-dana-kembangkan-aplikasi-penilaian-kebun-binatang/#respond Sat, 02 May 2015 12:12:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8802 Malang (Greeners) – Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) mulai tanggal 1 Mei 2015 menggalang dana melalui situs indiegogo.com untuk pengembangan aplikasi penilaian kebun binatang yang bernama Zoo Recapp atau […]]]>

Malang (Greeners) – Indonesian Society for Animal Welfare (ISAW) mulai tanggal 1 Mei 2015 menggalang dana melalui situs indiegogo.com untuk pengembangan aplikasi penilaian kebun binatang yang bernama Zoo Recapp atau Zoo Reporting for Citizens Application. Aplikasi interaktif ini untuk membangun platform pelaporan kolektif warga (crowdsourcing) mengenai kondisi satwa di kebun binatang.

Direktur Eksekutif ISAW, Kinanti Kusumawardani menyampaikan dalam rilisnya jika Zoo Recapp merupakan aplikasi interaktif untuk melakukan penilaian kebun binatang secara mudah dan sistematis melalui perangkat telepon genggam.

Pengembangan aplikasi ini, kata Kinanti dilatarbelakangi masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap animal welfare atau kesejahteraan satwa serta kondisi kebun binatang di Indonesia yang memprihatinkan. Selain untuk menilai kondisi kebun binatang, kata Kinanti, aplikasi ini juga bisa menjadi media edukasi interaktif mengenai standar-standar kesejahteraan satwa yang mengacu pada metode penilaian Zoo Exhibit Quick Audit Process (ZEQAP).

Menurutnya, kondisi kebun binatang di Indonesia sangat jauh dari standar kesejahteraan satwa. Ia menyontohkan, kasus satwa yang mati di kebun binatang yang tak lazim seperti kasus singa mati, jerapah mati dengan sampah di perutnya, dan harimau sakit karena mengonsumsi daging berformalin menunjukkan kondisi satwa di kebun binatang sangat buruk.

Selain itu, perilaku abnormal satwa-satwa di kebun binatang juga terjadi seperti menggigit kawat kandang, berjalan mondar-mandir tanpa tujuan mengindikasikan tingkat kesejahteraan satwa buruk. Dengan adanya aplikasi ini, katanya, diharapkan masyarakat bisa berperan aktif mengamati, menilai, dan melaporkan kondisi satwa di kebun binatang yang dikunjunginya. “Kami ajak masyarakat lebih peka dan berperan aktif memantaunya,” kata Kinanti.

ISAW saat ini sudah berhasil mengembangkan prototipe aplikasi Zoo Recapp untuk smartphone dengan sistem operasi Android. Uji coba juga sudah dilakukan pada 22 April lalu, saat peringatan Hari Bumi oleh 25 siswa Bandung Independent School dan komunitas anak jalanan Bandung Street Children Program. Penggalangan dana selama dua bulan kedepan akan digunakan untuk menyempurnakan aplikasi Zoo Recapp pada sistem Windows dan iOS.

Organisasi Protection of Forest & Fauna (Profauna) juga mendukung penggalangan dana serta pengembangan aplikasi ini. Menurut pendiri Profauna, Rosek Nursahid, dengan adanya aplikasi ini, masyarakat bisa lebih mudah berperan aktif dalam memantau dan menilai kebun binatang serta lebih mudah belajar nilai-nilai kesejahteraan satwa.

“Kami sangat mendukung pengembangan aplikasi ini agar masyarakat lebih peduli terhadap kelestarian satwa,” pungkasnya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/berita/isaw-galang-dana-kembangkan-aplikasi-penilaian-kebun-binatang/feed/ 0