badan meteorologi klimatologi dan geofisika - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/badan-meteorologi-klimatologi-dan-geofisika/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 17 Jan 2021 07:21:13 +0000 id hourly 1 Delapan Provinsi Diprediksi Berawan Saat Gerhana Matahari Total Berlangsung https://www.greeners.co/berita/delapan-provinsi-diprediksi-berawan-saat-gerhana-matahari-total-berlangsung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=delapan-provinsi-diprediksi-berawan-saat-gerhana-matahari-total-berlangsung https://www.greeners.co/berita/delapan-provinsi-diprediksi-berawan-saat-gerhana-matahari-total-berlangsung/#respond Tue, 08 Mar 2016 09:23:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13104 BMKG memprediksikan saat gerhana matahari total terjadi, delapan provinsi cenderung akan berawan. Meski demikian, fenomena alam ini masih aman untuk dinikmati oleh masyarakat dan para peneliti.]]>

Jakarta (Greeners) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyatakan bahwa kondisi cuaca di delapan provinsi saat gerhana matahari total terjadi cenderung akan berawan. Meski demikian, fenomena alam ini masih aman untuk dinikmati oleh masyarakat dan para peneliti.

Andi menjelaskan, saat gerhana matahari total terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang, Provinsi Bengkulu akan tertutup awan sekitar 75 persen. Diperkirakan matahari akan terbit pada pukul 06.16 WIB pagi dan terbenam pada 18.25 WIB sore. Sementara itu, di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, matahari diperkirakan akan tertutup awan sekitar 50 persen dan matahari diprediksi akan terbit pada pukul 06.07 WIB lalu tenggelam pada pukul 18.16 WIB.

“Kalau di Tanjung Pandan, Belitung, 25 persen daerahnya akan tertutup awan. Matahari akan terbit pada pukul 06.09 WIB dan terbenam pukul 18.15 WIB,” tutur Andi kepada Greeners, Jakarta, Selasa (08/03).

Selanjutnya untuk Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah, saat gerhana Matahari Total terjadi, 50 persen wilayahnya diprediksi akan tertutup awan. Lalu mataharinya akan terbit pada pukul 05.31 WIB dan terbenam pukul 17.39 WIB.

Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, lanjutnya, sekitar 90 persen wilayahnya akan tertutup awan dan matahari akan terbit pada pukul 05.33 WIB dan terbenam pada pukul 17.41 WIB. Untuk Balikpapan, Kalimantan Timur, 50 persen wilayahnya akan tertutup awan saat terjadi gerhana matahari total, sementara matahari akan terbit pada pukul 06.18 Wita dan terbenam pada pukul 18.25 Wita.

“Untuk Palu, Sulawesi Tengah, 50 persen akan tertutup awan. Mataharinya akan terbit pada pukul 06.07 Wita dan terbenam pada pukul 18.14 Wita. Lalu di Ternate, Maluku, 25 persen wilayahnya tertutup awan dan matahari akan terbit pada 06.38 WIT dan terbenam pada 18.44 WIT,” katanya menjelaskan.

Prakiraan cuaca pada saat Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016. Sumber: BMKG

Prakiraan cuaca pada saat Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016. Sumber: BMKG

Meskipun tertutup awan, Andi mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh wisatawan maupun para peneliti yang akan menyaksikan fenomena alam tersebut. Ia berharap agar kondisi cuaca ini tidak menghilangkan rasa penasaran dan kepuasan masyarakat dalam menyaksikan gerhana matahari total.

“Cenderung aman. Mudah-mudahan tidak mengurangi curiosity (rasa penasaran) dan kepuasan masyarakat nantinya,” ujarnya.

Sebagai informasi, Andi mengatakan bahwa selama berlangsungnya Gerhana Matahari Total 2016, BMKG akan melakukan pengamatan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi mengenai perubahan terhadap variasi medan magnet bumi dan perubahan anomali gravitasi serta efeknya yang diukur dari tempat-tempat tertentu di permukaan Bumi sebagai dampak dari gerhana matahari total.

Gerhana matahari total, lanjut Andi, akan berlangsung sekitar 1,5 sampai dengan tiga menit. Di pusat jalur gerhana, gerhana total terpendek akan terjadi di Seai, Pulau Pagai Selatan, Sumatera Barat, yaitu selama 1 menit 54 detik dan terpanjang di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, yaitu selama 3 menit 17 detik.

Gerhana matahari total yang akan berlangsung pada tanggal 9 Maret 2016 bersamaan dengan hari raya Nyepi. Untuk wilayah Indonesia bagian Barat, gerhana sebagian akan terjadi mulai pukul 06.20 WIB, sedangkan di Indonesia bagian Tengah dan Timur terjadi pada pukul 07.25 Wita dan 08.35 WIT.

Andi juga menjelaskan, dalam satu tahun, gerhana matahari bisa terjadi dua sampai lima kali, namun tidak semua merupakan gerhana matahari total, melainkan perpaduan gerhana matahari total, cincin atau hibrid, atau tidak ada gerhana matahari total sama sekali dalam satu tahun. Selain itu, tidak semua daerah juga bisa melihat gerhana matahari. Jadi, sejak tahun 1980 hingga 1990, ada tiga kali gerhana matahari total yang melewati Indonesia.

“Pada tahun 1983, 1984 dan 1988, masyarakat di luar jalur total bisa menikmati gerhana matahari sebagian. Gerhana matahari total sendiri untuk kembali berlangsung di tempat yang sama membutuhkan waktu selama periode 350 tahun,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/delapan-provinsi-diprediksi-berawan-saat-gerhana-matahari-total-berlangsung/feed/ 0
Gerhana Matahari Total 1983, Masa Kelam Fenomena Alam https://www.greeners.co/berita/gerhana-matahari-total-1983-masa-kelam-fenomena-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gerhana-matahari-total-1983-masa-kelam-fenomena-alam https://www.greeners.co/berita/gerhana-matahari-total-1983-masa-kelam-fenomena-alam/#respond Tue, 08 Mar 2016 06:20:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13094 Bila saat ini fenomena Gerhana Matahari Total mendapat perhatian luar biasa baik dari masyarakat Indonesia maupun internasional, suasana yang sangat berbeda terjadi pada di tahun 1983.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang, sebagian wilayah Indonesia akan menjadi jalur yang dilewati oleh Gerhana Matahari Total. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 11 Provinsi akan menjadi tuan rumah fenomena eksotis tersebut. Bila saat ini fenomena Gerhana Matahari Total mendapat perhatian luar biasa baik dari masyarakat Indonesia maupun internasional, suasana yang sangat berbeda terjadi pada di tahun 1983.

Pada tanggal 11 Juni 1983, Gerhana Matahari Total melintasi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, pada saat itu, fenomena alam ini tidak bisa dinikmati oleh masyarakat. Saat itu, pemerintah gencar melakukan pelarangan dan kampanye kepada masyarakat agar tidak menatap matahari saat gerhana matahari terjadi. Kampanye yang pemerintah lontarkan saat itu adalah menyaksikan Gerhana Matahari Total dapat menyebabkan kebutaan.

“Himbauan ini disampaikan oleh Menteri Penerangan Harmoko yang menginstruksikan masyarakat agar menyaksikan gerhana lewat siaran langsung TVRI atau mendengarkan siaran di Radio Republik Indonesia (RRI) saja,” cerita Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat kepada Greeners, Jakarta, Senin (07/03).

Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ahli Astronomi Indonesia yang juga Guru Besar Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Bambang Hidayat. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Bambang sendiri adalah satu dari beberapa astronom Indonesia yang menentang pelarangan tersebut. Menurutnya, melalui himbauan tersebut, pemerintah justru menimbulkan ketakutan seolah matahari berubah menjadi berbahaya ketika gerhana terjadi. Padahal, ia menegaskan kalau gerhana adalah peristiwa yang lazim terjadi.

“Setiap tiga kali dalam setahun bisa terjadi gerhana (matahari) sebagian dan setiap 18 bulan sekali ada gerhana total. Tempatnya saja yang berpindah-pindah. Sedangkan setiap kali gerhana matahari melewati Indonesia, peristiwanya selalu terekam dengan baik dalam berbagai dokumen, termasuk pemberitaan di media massa. Dari semua kejadian itu, tak ada catatan adanya kebutaan karena gerhana,” tegasnya yang kala itu menjabat sebagai Direktur Observatorium Bosscha Lembang.

Parahnya, lanjut Bambang, himbauan yang menurut Harmoko adalah instruksi langsung dari Presiden Soeharto itu diulangi oleh pejabat di pusat hingga pengurus RT di daerah yang dilintasi gerhana seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kampanye larangan menonton gerhana ini dipimpin langsung oleh gubernur atau wakil gubernur.

Setiap kelurahan di provinsi-provinsi itu bahkan menyiapkan 75 orang penyuluh yang berkeliling setiap hari mengingatkan agar jangan menonton gerhana. Kecemasan akan naiknya angka orang buta akibat gerhana juga muncul di media cetak. Harian Kedaulatan Rakyat pada 10 Juni 1983 memuat artikel berjudul “Kini di Indonesia Ada 1.911.000 Orang Buta, Setelah GMT Berapa?”

“Kampanye ini berjalan ampuh karena saat gerhana jalan-jalan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur sepi. Mayoritas orang sembunyi di dalam rumah,” katanya melanjutkan.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/berita/gerhana-matahari-total-1983-masa-kelam-fenomena-alam/feed/ 0
Waspadai Hujan Lebat dan Angin Kencang Hingga Akhir Februari https://www.greeners.co/berita/waspadai-hujan-lebat-dan-angin-kencang-hingga-akhir-februari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspadai-hujan-lebat-dan-angin-kencang-hingga-akhir-februari https://www.greeners.co/berita/waspadai-hujan-lebat-dan-angin-kencang-hingga-akhir-februari/#respond Wed, 17 Feb 2016 03:00:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12865 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap angin kencang dan hujan lebat yang akan melanda wilayah Jabodetabek.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap angin kencang dan hujan lebat yang akan melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, dari perkembangan kondisi dinamika atmosfer menunjukkan dalam seminggu ke depan, hujan lebat berpotensi kembali terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

Sejumlah wilayah yang berpotensi dilanda hujan lebat antara lain, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bangka-Belitung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Banten, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah serta Papua bagian Selatan.

“Melihat masih tingginya potensi curah hujan di Indonesia, masyarakat terutama di daerah yang termasuk dataran tinggi atau pegunungan diimbau untuk mengantisipasi kejadian banjir bandang dan tanah longsor,” katanya kepada Greeners, Jakarta, Selasa (16/02).

Di sisi lain, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mengimbau masyarakat DKI Jakarta agar mewaspadai potensi terjadinya banjir pada pekan ke tiga dan ke empat bulan Februari 2016.

Sutopo menyatakan, berdasarkan prakiraan BMKG, pertumbuhan awan hujan di Indonesia diperkirakan akan meningkat beberapa pekan ke depan, seiring dengan indeks fenomena seruak dingin (cold surge index/fenomena angin kencang) dan fenomena fase basah Madden Julian Oscillation (MJO/anomali curah hujan).

“Kedua fenomena itu berkolaborasi dan diperkirakan kembali menimbulkan potensi kejadian cuaca ekstrem di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan untuk Jakarta, sesuai prakiraan hujannya, potensi banjir akan terjadi pada minggu ke tiga hingga ke empat Februari 2016,” katanya lagi.

BNPB sendiri, terusnya, bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mengambil langkah-langkah antisipasi kemungkinan terjadinya banjir di ibu kota. Di sisi lain, kata dia, BMKG terus memonitor kondisi atmosfer dan menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/waspadai-hujan-lebat-dan-angin-kencang-hingga-akhir-februari/feed/ 0
Badai Tropis Belum Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/badai-tropis-belum-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=badai-tropis-belum-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/badai-tropis-belum-terjadi-di-indonesia/#respond Tue, 26 Jan 2016 09:06:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12648 Saat ini, siklon atau badai tropis bernama Corentin masih bergerak ke arah Selatan dan menjauhi Indonesia sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan pada wilayah Indonesia.]]>

Jakarta (Greeners) – Saat ini, siklon atau badai tropis bernama Corentin masih bergerak ke arah Selatan dan menjauhi Indonesia sehingga tidak memberikan dampak yang signifikan pada wilayah Indonesia. Badai Corentin saat ini masih tumbuh di sekitar Samudera Hindia sekitar Barat dan Barat Daya Australia.

Terkait beredarnya informasi tentang dampak dinamo siklon tropis yang terjadi di Samudera Hindia tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan pernyataan. Dalam pernyataan resminya, Dr. Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menyatakan bahwa tertanggal 25 Januari 2015, siklon tropis Corentin tumbuh di Samudera Hindia pada posisi sekitar 75.9 BT 27.2 LS (Barat-Barat Daya Australia) dan bergerak ke arah Selatan dan menjauhi wilayah Indonesia.

“Memperhatikan posisi siklon tersebut yang cukup jauh, siklon tersebut tidak memberi dampak signifikan pada cuaca di Indonesia saat ini,” jelasnya, Jakarta, Selasa (26/01).

Yunus menjelaskan, pada kondisi yang terjadi pada akhir Januari 2016, terpantau beberapa fenomena atmosfer yang dapat memengaruhi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia, seperti peningkatan aktifitas monsoon dingin (Muson Asia) yang berpotensi menguat dalam beberapa hari ke depan. Angin muson berembus dari Asia menuju Australia dan membawa massa udara dingin.

Sedangkan pada fase basah (Osilasi Madden Julian) yang akan masuk ke wilayah Indonesia, angin baratan akan kembali muncul dan berlaku dominan seiring dengan menguatnya angin dingin yang memberikan penambahan pasokan uap air, khususnya di wilayah Indonesia bagian Barat.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, diperkirakan potensi hujan akan meningkat dalam beberapa hari kedepan khususnya di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Jabodetabek, Bali, NTB, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Maluku bagian Tengah dan Papua bagian Tengah. Diprediksikan juga akan terjadi peningkatan tinggi gelombang laut di wilayah perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat, Laut Natuna, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Perairan Kep. Sangihe, Laut Maluku, Perairan utara Papua dan Papua Barat.

“Memperhatikan kondisi atmosfer saat ini, masyarakat diharapkan mewaspadai potensi peningkatan curah hujan yang dapat mengakibatkan dampak lanjutan terjadinya bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang dan angin kencang, terutama di daerah yang tersebut di atas serta wilayah yang rentan terjadi bencana,” terangnya.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, menyatakan, secara khusus El Nino dalam skala moderat hingga kuat sejak Juni 2015 masih mengakibatkan curah hujan pada musim hujan tahun ini tergolong rendah. Penurunan curah hujan hingga akhir musim hujan yang diprediksi jatuh pada April 2016 ini sedikit banyak disebabkan oleh pengaruh El Nino.

“Rendahnya curah hujan di sepanjang musim hujan 2016 ini ditunjukkan dengan adanya penyimpangan pembentukan siklon tropis di Selatan dan Utara Indonesia,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/badai-tropis-belum-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
El Nino Akan Kembali, Produksi Gabah Kering Giling Tetap Ditingkatkan https://www.greeners.co/berita/el-nino-akan-kembali-produksi-gabah-kering-giling-tetap-ditingkatkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=el-nino-akan-kembali-produksi-gabah-kering-giling-tetap-ditingkatkan https://www.greeners.co/berita/el-nino-akan-kembali-produksi-gabah-kering-giling-tetap-ditingkatkan/#respond Sun, 03 Jan 2016 06:57:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12420 Terpaan El Nino diprediksi kembali terjadi tahun 2016, namun Kementerian Pertanian tetap optimis dengan menaikkan target produksi gabah kering giling.]]>

Jakarta (Greeners) – Terpaan El Nino yang terjadi cukup panjang di tahun 2015 diakui oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Gardjita Budi memberikan dampak yang sangat berat bagi dunia pertanian. Meski demikian, ia menyatakan target produksi gabah kering geling (GKG) pada tahun 2016 diharapkan meningkat sebanyak satu juta ton dibanding GKG tahun 2015 dimana GKG yang dihasilkan sebanyak 75 juta ton.

“Insya Allah 2016 lebih baik iklimnya. Meski kemungkinan musim kemarau akan maju,” ujarnya kepada Greeners, Jakarta, pada Senin (28/12) lalu.

Iklim kemarau panjang yang diprediksi kembali terjadi tahun 2016 dikhawatirkan akan membuat proses pertanian dan perkebunan menurun drastis. Hal ini nantinya akan berdampak pada ketersediaan bahan pangan.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyatakan bahwa fenomena El Nino baru akan melunak pada April 2016 dan puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2016.

Andi juga menyatakan bahwa di wilayah Aceh dan Riau, curah hujan akan berkurang pada Januari dan Februari dan puncak musim kemarau di wilayah tersebut akan terjadi sebanyak dua kali. Untuk wilayah timur Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dua wilayah ini akan memasuki musim hujan pada Desember 2015.

“Menurut analisis BMKG sendiri, EL Nino akan dimulai pada Februari 2016 dan akan terjadi kemarau yang mencakup wilayah pesisir Timur Aceh, pesisir Timur Sumatera Utara, dan pesisir Timur Riau. Namun pengaruhnya ke Indonesia sudah selesai dan yang akan terjadi pada Februari 2016 adalah normal kemarau biasa saja,” tukasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/el-nino-akan-kembali-produksi-gabah-kering-giling-tetap-ditingkatkan/feed/ 0
Perlu Ada Mitigasi Bencana Banjir Bagi Warga Jakarta https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/#respond Mon, 16 Nov 2015 08:34:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11910 Jakarta (Greeners) – Peralihan musim kemarau ke musim hujan sudah mulai dirasakan di beberapa tempat, tidak terkecuali dengan DKI Jakarta. Masuknya musim hujan mendatangkan kekhawatiran terhadap bencana banjir yang kerap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peralihan musim kemarau ke musim hujan sudah mulai dirasakan di beberapa tempat, tidak terkecuali dengan DKI Jakarta. Masuknya musim hujan mendatangkan kekhawatiran terhadap bencana banjir yang kerap melanda Ibukota.

E. Peter, Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta menerangkan, jika memperhatikan informasi cuaca pada laman milik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), seminggu terakhir selalu menampilkan wilayah DKI Jakarta yang diguyur hujan. Hal ini tentu perlu diwaspadai apalagi bila Kota Bogor mengalami hal serupa dengan intensitas hujan lebih besar.

“Menanggapi hal ini, tentu perlu dilakukan upaya persiapan bersama-sama, baik oleh pihak pemerintah maupun masyarakat, dalam rangka mitigasi bencana banjir yang bertujuan mengeliminir korban jiwa dan kerugian harta benda,” terangnya, Jakarta, Sabtu (14/11).

Pantauan Walhi Jakarta pada peristiwa bencana banjir tahun lalu, Jakarta selalu merenggut korban jiwa karena kecelakaan seperti tersengat listrik, balita yang luput dari pengawasan orang tua atau kaum lansia penderita penyakit kronis yang kesulitan akses menuju rumah sakit.

Menurut Peter, perlu ada edukasi intensif kepada masyarakat korban banjir agar lebih peka terhadap keselamatan diri. Edukasi yang diberikan diantaranya cara mematuhi instruksi petugas pelaksana tanggap darurat manakala banjir telah membahayakan dan masyarakat diwajibkan mengevakuasi dirinya ke tempat yang telah disediakan.

Masyarakat juga harus disadarkan bahwa lingkungan pada saat banjir membutuhkan banyak sarana yang menunjang atau ketrampilan khusus, sehingga keselamatan dapat menjadi terabaikan dan membahayakan jiwa jika tidak berhati-hati.

Peter juga menekankankan bahwa hal ini perlu menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar lebih pro-aktif melibatkan masyarakat terdampak langsung sebagai wujud program mitigasi bencana banjir agar dampak yang ditimbulkan menjadi terkendali dan tidak lagi merenggut korban jiwa.

“Kami mengimbau agar pelaksana penanggulangan kebencanaan menggunakan pemetaan sebaran banjir yang ada dan segera memberikan pelatihan tanggap darurat singkat yang melibatkan unsur masyarakat terdampak,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perlu-ada-mitigasi-bencana-banjir-bagi-warga-jakarta/feed/ 0
Antisipasi Banjir, Dinas Tata Air Rekrut Tim Pembersih Gorong-Gorong https://www.greeners.co/berita/antisipasi-banjir-dinas-tata-air-rekrut-tim-pembersih-gorong-gorong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antisipasi-banjir-dinas-tata-air-rekrut-tim-pembersih-gorong-gorong https://www.greeners.co/berita/antisipasi-banjir-dinas-tata-air-rekrut-tim-pembersih-gorong-gorong/#respond Wed, 11 Nov 2015 02:00:40 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11850 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi masuknya awal musim hujan di tahun 2015 akan dimulai pada awal bulan November 2015 dengan ditandai datangnya masa pancaroba. Seperti […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi masuknya awal musim hujan di tahun 2015 akan dimulai pada awal bulan November 2015 dengan ditandai datangnya masa pancaroba.

Seperti yang terjadi satu minggu ke belakang, intensitas hujan yang cukup tinggi mulai tejadi di beberapa wilayah Indonesia, khususnya DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun tengah bersiap guna mengantisipasi bencana banjir yang selalu terjadi setiap kali memasuki musim hujan.

Kepala Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta, Tri Djoko Margianto saat dihubungi oleh Greeners menyatakan, untuk persiapan musim hujan yang diperkirakan bakal terjadi di akhir tahun 2015 mendatang, telah ada petugas khusus pembersih gorong-gorong yang telah dipersiapkan.

Nantinya, kata Tri, petugas yang hanya khusus direkrut untuk musim penghujan ini akan bekerja untuk mengantisipasi banjir yang diakibatkan penyumbatan saluran air pada musim penghujan. Tim ini akan ditempatkan di gorong-gorong yang rawan banjir. Tugas mereka membersihkan sampah yang terbawa aliran air di gorong-gorong saat hujan turun.

“Saya telah mengecek gorong-gorong dari Sabang hingga ke Thamrin. Di dalam gorong-gorong tersebut banyak utilitas yang dapat mengakibatkan sampah tersangkut, kemudian menjadi penghambat bagi kelancaran aliran air,” terangnya, Jakarta, Senin (09/11).

Tri menyatakan telah menginstruksikan setiap suku dinas agar menyiapkan sebanyak 50 tenaga untuk bergabung dalam Tim Pembersih Gorong-gorong. Tim ini akan bersiaga di titik gorong-gorong yang berpotensial meluap karena tersumbat sampah setelah terjadinya hujan besar.

“Pembayarannya pun akan sesuai dengan UMP (Upah Minimum Provinsi) sebesar 2,7 juta per kepala yang pada tahun 2016 akan meningkat menjadi 3,1 juta. Nanti dibayarkannya langsung ke rekening mereka. Kontraknya bisa sampai bulan Maret tahun 2016 nanti,” pungkasnya.

Selain menyelesaikan strategi penanganan banjir seperti pengerukan sungai, waduk dan saluran air serta perbaikan pompa, Dinas Tata Air juga memprioritaskan pembangunan sumur resapan di permukiman kumuh. Saat ini permukiman kumuh yang terbanyak ada di Jakarta Utara.

Tri menyatakan, pada tahun 2014 pihaknya sudah membangun sumur resapan sebanyak 2.673 sumur. Lalu pada tahun ini, Dinas Tata Air telah membangun 5.545 sumur resapan. Kemudian pada tahun 2016, direncanakan ada sebanyak 26 ribu sumur resapan sudah terbangun diseluruh wilayah Jakarta.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/antisipasi-banjir-dinas-tata-air-rekrut-tim-pembersih-gorong-gorong/feed/ 0
Semua Pihak Diminta Antisipasi Bencana di Musim Hujan https://www.greeners.co/berita/semua-pihak-diminta-antisipasi-bencana-di-musim-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=semua-pihak-diminta-antisipasi-bencana-di-musim-hujan https://www.greeners.co/berita/semua-pihak-diminta-antisipasi-bencana-di-musim-hujan/#respond Tue, 10 Nov 2015 06:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11840 Jakarta (Greeners) – Sesuai perkiraan yang pernah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan mulai berlangsung pada awal bulan November 2015. Intensitas hujan yang fluktuatif dan melanda […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sesuai perkiraan yang pernah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan mulai berlangsung pada awal bulan November 2015. Intensitas hujan yang fluktuatif dan melanda sebagian wilayah Indonesia belakangan ini pun telah mengindikasikan bahwa musim akan berganti.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sendiri telah menyatakan bahwa di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan telah masuk musim penghujan. Sedangkan di wilayah lain, seperti sebagian pulau Jawa, diperkirakan awal musim penghujan akan dimulai pada akhir November hingga awal Desember 2015.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa pengaruh El Nino masih dirasakan cukup besar sebagai penyebab dari mundurnya musim penghujan. Selain itu, bergantinya musim ini pun, kata Sutopo, harus dipersiapkan dengan baik karena kecenderungan yang terjadi adalah setiap kali pergantian musim maka berganti pula jenis bencananya.

“Jika sebelumnya didera kekeringan dan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan, bencana di musim penghujan juga akan berganti dengan banjir, longsor, dan puting beliung,” jelasnya, Jakarta, Senin (09/11).

Pemerintah provinsi dan daerah, menurutnya, sudah harus segera mengantisipasi wilayahnya menghadapi banjir dan longsor. Ada 64 juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan yang berstatus sedang hingga tinggi dari ancaman banjir. Mereka tersebar di 315 kabupaten/kota. Sementara ada 41 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan sedang hingga tinggi dari ancaman longsor di 274 kabupaten/kota.

Untuk itu, lanjutnya, perlu segera dilakukan rapat koordinasi teknis guna antisipasi banjir dan longsor. BNPB dan BPBD juga perlu segera menyusun rencana kontinjensi menghadapi banjir longsor yang memuat kebijakan, strategi, peta bencana, komando, upaya, pengerahan sumber daya, dan lainnya. Rencana kontinjensi ini harus disepakati oleh semua pihak sehingga saat terjadi bencana dapat diaktivasi menjadi rencana operasi. Rencana kontinjensi akan memudahkan semua pihak melakukan upaya sesuai tupoksi masing-masing.

“Peringatan dini dari berbagai pihak seperti BMKG, PU Pera, Lapan dan lainnya perlu dicermati sehingga dapat memperoleh informasi yang update. Sosialisasi dan gladi juga harus diintensifkan. Karena pola banjir dan longsor umumnya berlangsung selama penghujan dan puncaknya dari Desember, Januari hingga Februari. Banjir dan longsor ini juga sesungguhnya adalah bencana yang dapat diantisipasi karena dapat diprediksi dan dikenali sehingga korban dapat dihindari,” pungkas Sutopo.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/semua-pihak-diminta-antisipasi-bencana-di-musim-hujan/feed/ 0
El Nino Diprediksi Kembali Menguat pada Februari 2016 https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016 https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/#respond Sat, 07 Nov 2015 12:11:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11817 Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi El Nino yang diprediksi akan kembali menguat pada bulan Februari 2016 mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan membuat petunjuk pelaksanaan (Juklak). Juklak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guna mengantisipasi El Nino yang diprediksi akan kembali menguat pada bulan Februari 2016 mendatang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan akan membuat petunjuk pelaksanaan (Juklak). Juklak ini terkait regulasi dan tata kelola gambut sebagai bentuk antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan bahwa resiko tertinggi dari El Nino pada bulan Februari mendatang adalah terjadinya kebakaran lahan dan hutan kembali. Apalagi tingkat kekuatannya mencapai 2,8 derajat di atas rata-rata normal.

“Kalau dilihat dari perilaku alamnya, di minggu ketiga Februari cukup rawan. Kita akan terus lakukan antisipasi, kalau ada keluar api segera kita matikan,” kata Menteri Siti pada Kamis (05/11).

Dihubungi secara terpisah, Kepala Seksi Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Rubidianto menyebutkan bahwa El Nino yang akan terjadi nanti diprediksi berlangsung pada bulan Februari hingga April 2016. El Nino ini merupakan lanjutan dari El Nino sebelumnya. “Jadi bukan El Nino baru, tapi lanjutan dari El Nino saat ini,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan BMKG, pada November 2015 hingga Januari 2016, masih terjadi anomali gelombang panas di Samudera Pasifik tengah dan timur. Hal tersebut diperkirakan masih berdampak pada Indonesia, tapi tidak terlalu kuat karena sudah masuk musim hujan dan banyak penguapan. Kondisi ini disebabkan karena letak matahari berada di selatan khatulistiwa.

Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono menyebutkan bahwa salah satu intrumen yang akan menjadi fokus antisipasi kebakaran hutan dan lahan adalah revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah bersama pejabat daerah, katanya, akan merumuskan petunjuk pelaksanaan dalam pembukaan lahan dengan cara membakar dan tata kelola gambut sebagaimana disebutkan dalam bagian penjelasan pasal 69 ayat (2).

“Poin tambahan terbaru juga dirumuskan tentang moratorium pada lahan gambut, bukan hanya di lahan gambut primer tapi juga di lahan nonprimer. Ada juga usulan pelarangan membuat saluran drainase kanal pada lahan gambut. Siapapun kalau sudah itu namanya gambut tidak boleh dibakar,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/el-nino-diprediksi-kembali-menguat-pada-februari-2016/feed/ 0
BNPB: Karhutla adalah Kejahatan Kemanusiaan yang Luar Biasa https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/#respond Mon, 26 Oct 2015 04:10:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11658 Sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan terpantau masih terus meluas. Bahkan asap telah menyebabkan kualitas udara menurun di Filipina, Malaysia dan Singapura. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa […]]]>

Sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan terpantau masih terus meluas. Bahkan asap telah menyebabkan kualitas udara menurun di Filipina, Malaysia dan Singapura. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pantauan satelit Himawari menunjukkan asap tipis hingga sedang telah menutup Laut Jawa.

Bencana asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebut oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bencana buatan yang terjadi akibat ulah manusia. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan bahwa 99 persen penyebab dari kebakaran adalah disengaja.

“Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Sekarang saatnya kita tidak saling menyalahkan tapi bagaimana mengatasinya secara cepat. Dengan skala kebakaran yang demikian luas, tidak mungkin 1-2 minggu ke depan akan padam. Tapi semua ikhtiar kita lakukan bersama,” jelas Sutopo kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (24/10).

Akibat dari karhutla, sebanyak 10 orang meninggal dunia di Sumatera dan Kalimantan. Korban yang meninggal disebabkan ikut terbakar saat memadamkan api dan ada yang sebelumnya memiliki riwayat sakit sehingga asap memperparah sakitnya.

“Sepuluh korban tewas ini di luar dari korban yang tujuh orang meninggal dan dua orang kritis saat mendaki Gunung Lawu itu kemudian terkepung karhutla dan akhirnya terbakar di Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada tanggal 18 Oktober 2015‎ lalu. Ini di luar kejadian di Gunung Lawu, ya,” imbuhnya.

Sutopo juga menyatakan bahwa bencana asap ini telah menyebabkan 503.874 orang sakit ISPA‎ di enam provinsi sejak 1 Juli hingga 23 Oktober 2015. Jumlah masing-masing provinsi adalah 80.263 orang di Riau, 129.229 orang di Jambi, 101.333 orang di Sumatera Selatan, 43.477 orang di Kalimantan Barat, 52.142 orang di Kalimantan Tengah, dan 97.430 orang di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, lanjut Sutopo, lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung di Sumatera dan Kalimantan. Data ini dianalisis dari peta sebaran asap dengan peta jumlah penduduk.

“Kemungkinan jumlah penderita yang sebenarnya lebih daripada itu karena sebagian masyarakat sakit tidak berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Mereka berobat mandiri sehingga tidak tercatat,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/feed/ 0
Baskom Berisi Air Garam Tidak Bisa Memancing Hujan https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/#respond Sun, 25 Oct 2015 12:08:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11656 Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu belakangan, beredar pesan berantai yang mengimbau agar masyarakat meletakkan satu baskom air yang dicampur dengan garam untuk memancing hujan untuk membantu masyarakat di Sumatera dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Beberapa waktu belakangan, beredar pesan berantai yang mengimbau agar masyarakat meletakkan satu baskom air yang dicampur dengan garam untuk memancing hujan untuk membantu masyarakat di Sumatera dan Kalimantan yang sedang dilanda kebakaran hutan dan lahan.

Menanggapi pesan berantai tersebut, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menegaskan bahwa apa yang disampaikan dalam pesan berantai tersebut tidak benar dan tidak masuk akal. Menurutnya, penguapan air di lautan dan samudera yang ada di perairan Indonesia saja tidak mampu memproduksi uap air yang akan berkondensasi di atmosfer hingga membentuk awan-awan.

“Pesan berantai itu tidak masuk akal, mohon jangan disebarluaskan karena membodohi masyarakat. Justru malah seharusnya masyarakat menyebarluaskan berita agar jangan membakar hutan dan lahan lagi,” terangnya, Jakarta, Sabtu (24/10).

Dihubungi terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya pun menanggapi isi pesan berantai tersebut. Andi menyatakan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan imbauan agar masyarakat melakukan sebagaimana yang terisi dalam pesan berantai tersebut.

Imbauan agar meletakkan baskom berisi air pada siang hari tersebut, lanjut Andi, tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Penguapan air dari baskom yang terjadi (meskipun jumlah baskom berisi air dalam jumlah banyak) sangat jauh dari memadai bila dibandingkan dengan jumlah uap air hasil penguapan yang diperlukan untuk proses kondensasi pembentukan awan di atmosfer.

“Hujan yang terjadi di bumi sebagian besar berasal dari kondensasi uap air dari hasil penguapan di lautan,” jelas Andi.

Namun, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, menyampaikan hal yang berbeda. Menurutnya, meletakkan air di dalam sebuah baskom mampu menarik partikel debu di udara yang masuk ke ruangan.

“Taruh air satu baskom itu mampu menarik partikel debu kotor di ruangan. Itu sangat bagus jadi tidak usah pakai air purifier (penyaring udara) lagi,” katanya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/baskom-berisi-air-garam-tidak-bisa-memancing-hujan/feed/ 0
BMKG: Asap di Jakarta Bukan Asap Karhutla https://www.greeners.co/berita/bmkg-asap-di-jakarta-bukan-asap-karhutla/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-asap-di-jakarta-bukan-asap-karhutla https://www.greeners.co/berita/bmkg-asap-di-jakarta-bukan-asap-karhutla/#respond Sun, 25 Oct 2015 10:30:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11651 Jakarta (Greeners) – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa berdasarkan pantauan satelit Himawari, diketahui sebaran kabut asap di wilayah Sumatra dan Kalimantan masih terus […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa berdasarkan pantauan satelit Himawari, diketahui sebaran kabut asap di wilayah Sumatra dan Kalimantan masih terus meluas. Bahkan asap tipis pun sempat menutup Laut Jawa dan menyapu sebagian wilayah Jakarta.

“Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan ini juga telah menurunkan kualitas udara di negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Singapura,” ujar Sutopo, Jakarta, Sabtu (24/10) kemarin.

Dari catatan BNPB, sedikitnya terdapat sepuluh warga meninggal dunia gara-gara bencana kabut asap. Selain itu, 503.874 jiwa penduduk terserang infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Namun, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyatakan bahwa kabut tipis yang terlihat di Jakarta bukanlah kabut asap yang datang dari Sumatera maupun Kalimantan melainkan polutan.

“Kita melihat polutan itu sejak kemarin siang dan tidak perlu dikhawatirkan. Justru, angin yang menuju ke selatan itu merupakan tanda-tanda transisi musim kemarau ke musim hujan,” katanya.

Ia menerangkan, bahwa pergerakan angin di setiap lapisan diukur berdasarkan tekanan udara yang dikonversikan dengan ketinggian. Partikel asap yang terbawa dari lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada pada ketinggian 750 sampai 850 atau bergerak 2,5 kilometer ke atas. “Partikel asap itu tidak membahayakan,” katanya.

Sebagai informasi, pada Jumat (23/10), berdasarkan peta sebaran asap dari BMKG, BNPB menyatakan memang ada sebagian asap tipis mulai memasuki wilayah Jakarta. Kabut terlihat sampai jelang sore. Bahkan di kawasan utara Jakarta, ketebalan kabut akibat asap bisa terlihat jelas.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-asap-di-jakarta-bukan-asap-karhutla/feed/ 0
Musim Hujan Diprediksi Terjadi Bulan Depan, Jakarta Keruk Waduk https://www.greeners.co/berita/musim-hujan-diprediksi-terjadi-bulan-depan-jakarta-keruk-waduk/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=musim-hujan-diprediksi-terjadi-bulan-depan-jakarta-keruk-waduk https://www.greeners.co/berita/musim-hujan-diprediksi-terjadi-bulan-depan-jakarta-keruk-waduk/#respond Fri, 23 Oct 2015 10:09:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11632 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi masuknya awal musim hujan di tahun 2015 akan bermula pada awal bulan November mendatang dengan ditandai datangnya masa pancaroba. Kepala […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi masuknya awal musim hujan di tahun 2015 akan bermula pada awal bulan November mendatang dengan ditandai datangnya masa pancaroba.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya menjelaskan, ada beberapa proses awal yang menandakan masuknya musim hujan setelah masa pancaroba, diantaranya adalah tiupan angin yang dirasakan cukup kencang serta berubah arah.

Pada saat itu, katanya, hujan akan mulai turun perlahan pada sore hari, kemudian berhenti dan hujan lagi secara terus-menerus. Kemudian, pola hujan berganti menjadi pagi hari, begitu seterusnya sampai kemudian benar-benar memasuki musim hujan.

“Anginnya itu nanti berubah arah. Itu sudah tanda-tanda mulai masuk musim hujan dan ini bisa berlangsung selama dua mingguan,” jelas Andi kepada Greeners, Jakarta, Jumat (23/10).

Prediksi awal musim hujan yang datang terlambat ini, menurut Andi, sebagian besar disebabkan oleh dampak El Nino di Indonesia. Keterlambatan ini akan berlangsung selama dua bulan, yaitu Oktober dan November.

“Prediksi kami, awal November seharusnya sudah mulai masuk musim hujan. Ini terlambat karena beberapa faktor seperti salah satunya El Nino ini,” jelasnya.

Terkait persiapan menghadapi musim hujan dan kemungkinan banjir di wilayah Jakarta, Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Tri Djoko Margianto menyatakan hingga saat ini pihaknya tengah mempersiapkan waduk sebagai tempat menampung air hujan sebanyak-banyaknya. Selain itu, Pemprov DKI juga melakukan antisipasi banjir dengan mengeruk dasar sungai dan waduk yang berada di wilayah Jakarta.

“Pengerukan dasar sungai dan waduk ini untuk antisipasi banjir di wilayah DKI Jakarta dan akan mulai dilaksanakan hingga Maret 2016,” tambah Tri.

Mengenai kondisi pompa penyaringan air di Jakarta, Tri mengakui adanya kerusakan sekring di pompa Waduk Pluit. Meski demikian, ia menyatakan telah memesan sekring yang baru ke perusahaan Jepang untuk memperbaikinya.

Sebagai informasi, DKI Jakarta memiliki 76 waduk dan 554 unit pompa yang tersebar di seluruh Jakarta. Dari keseluruhan jumlah tersebut, beberapa waduk mengalami kendala, seperti di Waduk Pluit dan pompa air di Sunter, Jakarta Utara.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/musim-hujan-diprediksi-terjadi-bulan-depan-jakarta-keruk-waduk/feed/ 0
Petani Garam Diminta Bersiap Hadapi La Nina https://www.greeners.co/berita/petani-garam-diminta-bersiap-hadapi-la-nina/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=petani-garam-diminta-bersiap-hadapi-la-nina https://www.greeners.co/berita/petani-garam-diminta-bersiap-hadapi-la-nina/#respond Fri, 23 Oct 2015 07:24:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11630 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di tahun 2015 akan dimulai pada awal bulan November. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di tahun 2015 akan dimulai pada awal bulan November. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan berakhir dan berganti dengan fenomena La Nina yang diperkirakan akan datang pada bulan Mei 2016 saat kembali memasuki awal musim kering.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya, menyatakan, dampak El Nino yang terjadi belakangan ini seharusnya memberikan keuntungan bagi mereka yang berprofesi sebagai petambak garam dengan mendapatkan potensi panen garam yang sangat tinggi. Namun, saat memasuki musim hujan nanti justru sebaliknya, panen garam akan berkurang.

“Oleh karena itu, sebelum musim hujan tiba, sudah seharusnya masyarakat pesisir ini dipersiapkan sebuah profesi alternatif agar tetap mampu bekerja dan produktif dikala (panen) garam sedang terganggu,” jelas Andi saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Jumat (23/10).

Baik atau tidaknya kualitas garam yang dihasilkan oleh petani garam, lanjut Andi, akan ditentukan oleh kelembapan dan sinar matahari yang baik. Sementara, saat terjadi La Nina, kelembapan udara akan sangat tinggi dan sinar matahari justru berkurang.

Mengenai bencana yang dikhawatirkan akan terjadi pada masyarakat pesisir, Andi menyatakan bahwa antisipasi bencana seharusnya sudah harus dipikirkan dan direncanakan sejak dini dan disesuaikan dengan prediksi datangnya La Nina.

“Biasanya, ancamannya kalau air pasang itu naik sementara air yang datang dari hujan itu sangat tinggi, maka penggelontoran air dari hulu ke hilir akan terhambat. Itu potensi terjadinya banjir besar. Ini yang harus diantisipasi mulai dari sekarang,” kata Andi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/petani-garam-diminta-bersiap-hadapi-la-nina/feed/ 0
BMKG: Tidak Perlu Khawatir La Nina, Asalkan… https://www.greeners.co/berita/bmkg-tidak-perlu-khawatir-la-nina-asalkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-tidak-perlu-khawatir-la-nina-asalkan https://www.greeners.co/berita/bmkg-tidak-perlu-khawatir-la-nina-asalkan/#respond Fri, 23 Oct 2015 03:28:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11627 Jakarta (Greeners) – Selain El Nino, Indonesia juga akan mengalami fenomena La Nina yang dalam bahasa latin berarti “gadis cilik”, namun secara umum biasa diartikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Selain El Nino, Indonesia juga akan mengalami fenomena La Nina yang dalam bahasa latin berarti “gadis cilik”, namun secara umum biasa diartikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik. La Nina sendiri tidak dapat dilihat secara fisik dan periodenya pun tidak tetap.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya menerangkan, fenomena La Nina menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bertambah dan berpotensi menyebabkan banjir. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina.

“La Nina ini boros air. Debit airnya banyak dan potensi banjirnya cukup besar,” ujar Andi, Jakarta, Jumat (23/10).

Bagi Indonesia, kata Andi, dampak paling signifikan bisa dilihat dari banjir di beberapa wilayah serta merusak sawah-sawah padi milik petani. Namun, hal ini seharusnya bisa diatasi dengan mekanisme antisipasi perancanaan yang bagus dan terukur.

Andi menjelaskan andai para petani memiliki varietas padi yang tahan pada ketinggian dan cuaca tertentu, sebetulnya La Nina ini bukanlah sebuah masalah. Bahkan, lanjut Andi, La Nina ini bisa saja diubah menjadi berkah karena curah hujan yang tinggi datang di saat musim kemarau. Oleh karena itu La Nina banyak disebut sebagai kemarau basah. Untuk potensi banjir di perkotaan sendiri masih sangat besar apabila gorong-gorong, saluran irigasi dan lainnya tidak ditangani dengan baik.

“Jadi, secara garis besar tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan datangnya La Nina dalam konteks apabila mekanisme antisipasinya jalan,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-tidak-perlu-khawatir-la-nina-asalkan/feed/ 0
BMKG Berangkatkan Peneliti Menuju Puncak Jaya dan Antartika https://www.greeners.co/berita/bmkg-berangkatkan-peneliti-menuju-puncak-jaya-dan-antartika/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-berangkatkan-peneliti-menuju-puncak-jaya-dan-antartika https://www.greeners.co/berita/bmkg-berangkatkan-peneliti-menuju-puncak-jaya-dan-antartika/#respond Fri, 16 Oct 2015 00:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11518 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan memberangkatkan tim penelitinya menuju area es abadi di Puncak Jaya, Papua dan Kutub Selatan atau Antartika guna menggali informasi tentang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan memberangkatkan tim penelitinya menuju area es abadi di Puncak Jaya, Papua dan Kutub Selatan atau Antartika guna menggali informasi tentang pengaruh laut terhadap kondisi iklim dan cuaca Indonesia.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menyatakan bahwa kedua ekspedisi tersebut akan menjadi sumbangan yang berharga secara global dan merupakan batu tapak pemahaman hubungan telekoneksi iklim antara wilayah tropis dengan Antartika.

“Penelitian di Antartika akan dilakukan selama sepekan dengan fokus penelitian adalah luasan dan ketebalan es di Antartika,” jelas Andi saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Rabu (14/10).

Untuk penelitian ke Antartika, lanjut Andi, BMKG akan memberangkatkan dua penelitinya, Wido Hanggoro dan Kadarsah sedangkan empat peneliti yang akan berangkat ke Puncak Jaya di antaranya, Dyah Sari, Ferdika A Harapak, Najib Habibie, dan Donny Kristianto.

Dua peneliti yang berangkat menuju Antartika akan memulai perjalanannya 14 Oktober 2015 menuju Hobart, Australia, untuk penyesuaian iklim (aklimatisasi) selama sepekan. Selanjutnya, mereka akan menuju Stasiun Meteorologi Davis, Antartika, yang ada di koordinat 68 derajat 35 menit Lintang Selatan, 77 derajat 58 menit Bujur Timur.

Sedangkan untuk dua peneliti Antartika akan bergabung dengan tim ekspedisi Bureau of Meteorology (BoM)-Australian Antartic Division (AAD) yang juga akan melakukan ekspedisi di Antartika.

“Ekspedisi Puncak Jaya ini merupakan program bersama BMKG, Ohio University, Columbia University, dan PT Freeport Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-berangkatkan-peneliti-menuju-puncak-jaya-dan-antartika/feed/ 0
Memasuki Musim Hujan, BNPB Siapkan Antisipasi Bencana https://www.greeners.co/berita/memasuki-musim-hujan-bnpb-siapkan-antisipasi-bencana/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=memasuki-musim-hujan-bnpb-siapkan-antisipasi-bencana https://www.greeners.co/berita/memasuki-musim-hujan-bnpb-siapkan-antisipasi-bencana/#respond Tue, 13 Oct 2015 00:00:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11474 Jakarta (Greeners) – Memasuki musim penghujan pada bulan Oktober ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan langkah-langkah khusus untuk mengantisipasi ancaman bencana. Kepala BNPB, Willem Rampangilei memprediksikan ada tiga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Memasuki musim penghujan pada bulan Oktober ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan langkah-langkah khusus untuk mengantisipasi ancaman bencana. Kepala BNPB, Willem Rampangilei memprediksikan ada tiga ancaman bencana yang akan dihadapi oleh masyarakat pada musim penghujan. Tiga ancaman bencana tersebut adalah banjir, puting beliung dan tanah longsor. Meski demikian, “Kita telah siapkan semua itu,” ujar Willem saat dihubungi Greeners via telepon, Sabtu (10/10).

Menurut Willem, ada empat langkah antisipasi yang dilakukan oleh BNPB untuk mengantisipasi ancaman bencana. Keempat langkah tersebut adalah adalah early warning, peringatan kepada masyarakat, koordinasi dengan pemerintah daerah dan mempersiapkan alat-alat evakuasi bencana.

Dari semua langkah antisipasi di atas, Willem menyatakan bahwa early warning atau peringatan dini merupakan langkah terpenting untuk mengantisipasi potensi bencana. Willem menyebut tingginya tingkat degradasi lingkungan di banyak daerah menjadi faktor yang membuat potensi bencana meningkat secara signifikan. Hal ini membuat sistem peringatan dini sangat mutlak dibutuhkan.

Early warning paling penting karena drainase dan tata ruang kota yang buruk membuat potensi bencana jadi tinggi,” jelasnya.

Mengenai daerah yang memiliki potensi bencana banjir, Willem menyebutkan ada tiga daerah yang memiliki potensi bencana di Pulau Jawa, yaitu pantura, daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo yang mengaliri Wonogiri sampai Gresik, dan Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, Aceh, Roka Hilir (Riau) dan Luwuk yang berada di Sulawesi Selatan juga merupakan daerah dengan potensi bencana banjir.

Untuk bencana puting beliung, Willem mengatakan bahwa daerah yang berada di lintang yang tinggi sebagai daerah yang paling berpotensi terserang bencana alam tersebut. Namun, lanjutnya, saat ini bukan tidak mungkin puting beliung merambah ke daerah yang berada di selatan equator.”Beberapa tahun lalu, DKI pernah mengalami puting beliung kan?” sebut Willem.

Sementara itu, Ketua Forum Relawan Bencana Alam Jakarta (FRBAJ), Heru Supriyatno, menyatakan bahwa pihaknya telah membentuk pusat komando lapangan (PUSKOMDAL) di seluruh wilayah Jakarta. Pembentukan PUSKOMDAL ini sebagai antisipasi bencana banjir di Jakarta. Ia juga menyatakan sedang mengkaji pembentukan tim dan posko yang nantinya akan di sebar ke seluruh wilayah Jakarta. “Mungkin nanti di bulan November,” pungkasnya.

Terkait prediksi musim hujan tahun ini, Kepala Bidang Informasi Iklim dan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Evi Lutfiati menyatakan bahwa musim hujan akan memasuki sebagian besar daerah di Indonesia pada bulan November mendatang.

Hujan yang terjadi di beberapa daerah beberapa hari lalu, menurutnya, belum dapat dikatakan sebagai indikasi masuknya musim hujan. “Kalau peralihan iya, tapi musim hujan belum,” jelas Evi.

Evi mengatakan bahwa curah hujan pada bulan Oktober masih di bawah angka rata-rata curah hujan minimal. Menurutnya, suatu daerah dapat dikatakan telah memasuki musim hujan jika rata-rata curah hujannya mencapai 55 mm per sepuluh hari.

Meski demikian, Evi mengakui beberapa daerah di Indonesia telah memasuki musim hujan, khususnya daerah yang berada di daerah Utara equator. Bahkan, daerah seperti Aceh dan Sumatera Utara telah memasuki musim hujan sejak bulan Agustus. Beberapa daerah seperti Jawa Barat bagian Selatan, Kalimantan Utara dan Kalimantan Selatan disebutnya akan memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober. “Daerah lain paling banyak di bulan November,” imbuhnya.

Penulis: TW/G37

]]>
https://www.greeners.co/berita/memasuki-musim-hujan-bnpb-siapkan-antisipasi-bencana/feed/ 0
Hadapi La Nina, Indonesia Harus Belajar Dari Dampak Musim Kemarau https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/#respond Mon, 12 Oct 2015 09:43:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11468 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikia (BMKG) memprediksikan musim kemarau akan berakhir pada akhir November mendatang. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan berakhir dan berganti dengan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikia (BMKG) memprediksikan musim kemarau akan berakhir pada akhir November mendatang. Selain itu, pengaruh El Nino juga diprediksikan akan berakhir dan berganti dengan fenomena La Nina yang diperkirakan akan datang pada bulan Mei 2016 saat masuk musim kering.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya menyatakan bahwa apa yang terjadi pada masa datangnya EL Nino yang melanda Indonesia beberapa waktu belakangan harus menjadi peringatan dan proses pembelajaran untuk lebih pintar mengetahui kebutuhan air saat musim kemarau.

Untuk itu, sebelum datangnya fenomena La Nina, ia mengatakan harus ada proses manajemen perencanaan yang baik pada musim kering untuk mengantisipasi datangnya La Nina agar tidak menjadi bencana.

“Saat musim kemarau ini kita sudah coba siapkan sumur-sumur resapan, embung-embung penampung air, membersihkan bantaran sungai, menguruk endapannya dan banyak lagi. Sehingga nantinya dampak negatif dari kelebihan air yang dihasilkan oleh La Nina dapat diredam dan dimanfaatkan sehingga tidak menjadi bencana seperti banjir dan longsor,” terang Andi saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon,” Jakarta, Senin (12/10).

Menurut Andi, kejadian kekeringan yang terjadi belakangan ini seharusnya bisa diatasi dengan tendon-tendon air yang sudah dibuat. Artinya, ketika musim hujan datang seharusnya tendon-tendon air dapat menampung limpahan air yang berlebihan sehingga saat kemarau kembali datang, simpanan air tesebut dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan.

“Tanpa ingin menyalahkan berbagai pihak, kita ini kan punya dua siklus musim. Hujan dan kemarau. Kalau tata cara berpikir kita itu adalah proses manajemen perencanaan, maka dengan sendirinya ketika musim hujan kita mempersiapkan musim kemarau dan sebaliknya,” ujarnya.

La Nina sendiri terjadi setelah El Nino berakhir dan berlangsung cukup panjang. Menurut Andi, El Nino hanya berlangsung selama tiga sampai empat bulan, sementara La Nina bisa terjadi hingga tujuh atau delapan bulan. Di Indonesia, La Nina datang saat musim kemarau oleh karena itu sering disebut kemarau basah.

“Maksudnya, kemarau tapi hujan terus. Nah, itu yang dimaksud dengan kemarau basah. Ini juga bisa jadi potensi masalah terhadap petani,” pungkasnya.

Sebagai informasi, fenomena La Nina yang dalam bahasa latin berarti “gadis cilik” adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik. La Nina tidak dapat dilihat secara fisik dan periodenya pun tidak tetap.

Fenomena La Nina menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bertambah dan berpotensi menyebabkan banjir. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hadapi-la-nina-indonesia-harus-belajar-dari-dampak-musim-kemarau/feed/ 0
Kabut Asap, WWF Minta Pemerintah Segera Intervensi Rekayasa Hujan https://www.greeners.co/berita/kabut-asap-wwf-minta-pemerintah-segera-intervensi-rekayasa-hujan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kabut-asap-wwf-minta-pemerintah-segera-intervensi-rekayasa-hujan https://www.greeners.co/berita/kabut-asap-wwf-minta-pemerintah-segera-intervensi-rekayasa-hujan/#respond Thu, 01 Oct 2015 02:30:15 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11327 Jakarta (Greeners) – Kabut asap pekat masih terlihat melingkupi Kalimantan. Dalam satu minggu terakhir, kualitas udara di Palangkaraya dan Pontianak berulang kali mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan. Data konsentrasi partikulat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kabut asap pekat masih terlihat melingkupi Kalimantan. Dalam satu minggu terakhir, kualitas udara di Palangkaraya dan Pontianak berulang kali mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan. Data konsentrasi partikulat PM10 untuk kota Palangkaraya yang dilansir dalam website Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG), mencatat rerata konsentrasi PM10 pada Senin (28/09) masih mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan, yaitu 463 µg/m3.

Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia kepada Greeners mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan penanganan lebih terpadu bersama pemerintah daerah dan warga masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalimantan. Kebanyakan titik api saat ini teridentifikasi berada di lahan gambut dan sejauh ini upaya pencegahan dan penanggulangan di lapangan nampak belum efektif.

“Dengan masih terjadinya kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan, pemerintah perlu segera menempuh intervensi rekayasa hujan yang ditargetkan pada wilayah yang menyumbang titik api terbanyak. Usaha sejauh ini dengan menggunakan bom air terbukti di lapangan belum mampu meredam jumlah titik api yang banyak diidentifikasi berada pada lahan gambut,” terang Arnold, Jakarta, Selasa (29/09).

Pasca kunjungan Presiden Jokowi ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu, lanjut Arnold, kebakaran lahan dan hutan masih terus terjadi di Kalimantan. Hingga hari ini, kegiatan belajar-mengajar di Palangkaraya sudah diliburkan setidaknya selama dua minggu. Selain itu, sepanjang bulan September 2015, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sekurangnya 15.000 orang mengalami ISPA sebagai dampak dari kabut asap.

Rosenda Chandra Kasih, Program Manager Kalimantan Tengah WWF Indonesia juga menyatakan bahwa kejadian tahunan yang menimpa Kalimantan Tengah ini terjadi karena lemahnya persiapan dalam mengantisipasi musim kemarau selama ini.

“Pembangunan dam yang dikenal oleh masyarakat lokal dengan istilah penabatan itu perlu dilakukan sejak sekarang untuk menjaga kestabilan kandungan air dan kelembaban gambut sepanjang tahun. Dengan kondisi gambut yang tetap mengandung air, maka kecil kemungkinan dapat terjadi kebakaran pada kawasan tersebut. Upaya ini juga musti dibarengi dengan restorasi hutan gambut dalam rangka mengembalikan fungsi tata air,” ujarnya.

Selain intervensi pembangunan dam, WWF Indonesia, katanya lagi, perlu menyerukan perlindungan lebih serius terhadap lahan gambut dengan meninjau kembali kebijakan pembangunan di wilayah gambut. Tindakan pencegahan dilakukan secara berkesinambungan untuk mengurangi potensi terulangnya kembali kebakaran hutan dan lahan di masa mendatang.

“Termasuk dengan mempersiapkan jajaran pemda dan masyarakat melalui pembentukan kelompok-kelompok masyarakat peduli api,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kabut-asap-wwf-minta-pemerintah-segera-intervensi-rekayasa-hujan/feed/ 0
Penyebab Kanker Kulit, BMKG dan Dokter Kulit Beda Pendapat https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/#respond Sun, 27 Sep 2015 09:11:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11245 Jakarta (Greeners) – Paparan sinar Ultra Violet (UV) yang dipancarkan oleh sinar matahari diyakini oleh sebagian orang sebagai penyebab dari timbulnya kanker kulit, termasuk di Indonesia. Namun ternyata anggapan tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Paparan sinar Ultra Violet (UV) yang dipancarkan oleh sinar matahari diyakini oleh sebagian orang sebagai penyebab dari timbulnya kanker kulit, termasuk di Indonesia. Namun ternyata anggapan tersebut dibantah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofosika (BMKG) Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Prof. Dr. Edvin Aldrian, Beng., MSc., menyatakan bahwa hubungan antara paparan sinar UV terhadap kanker kulit hanyalah sebuah mitos belaka.

Kanker kulit akibat paparan sinar UV, dikatakan Edvin, mungkin memang akan terjadi di negara-negara beriklim non-tropis (kering) seperti Amerika dan Eropa, namun tidak untuk negara beriklim tropis seperti Indonesia.

“Untuk Indonesia itu hanya mitos saja. Banyak anak-anak yang bermain di pantai maupun sungai atau di mana pun yang langsung terpapar sinar matahari tidak ada yang mengalami kanker kulit,” tegas Edvin kepada Greeners, Jakarta, Senin (21/09).

Terlebih, menurut pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG ini, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak sekali uap air yang berfungsi sebagai bantalan peredam panas.

“Lihat saja orang-orang asing yang datang ke Indonesia, mereka tidak pernah pulang membawa kanker kulit ke negaranya. Paling-paling, ya, menghitam saja,” ujarnya.

Di lain sisi, tanggapan yang berbeda disampaikan oleh Dr. Amaranila Lalita Drijono, Sp.KK. Dermatologist dan Venereologist dari Perempuan Clinic. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memang memiliki banyak sekali bantalan air yang mampu meredam uap panas dan menepis sinar matahari.

Indonesia, dikatakan Nila, sebagai negara khatulistiwa memiliki sifat matahari yang berbeda dengan negara-negara empat musim yang cenderung beriklim kering, yaitu tegak lurus dengan spektrum cahaya yang memiliki sinar Ultra Violet A (UV-A) yang lebih banyak.

“UV-A memang tidak menyebabkan kanker. UV-B itu yang justru menyebabkan kanker karena bisa terjadi mutasi. Tapi untuk di Indonesia sendiri, UV-A yang paling banyak dan sifatnya bisa menembus kaca sedangkan UV-B tidak. Nah, UV-A ini mampu menyebabkan kulit menjadi kecoklatan dan kulit jadi cepat menua,” tuturnya.

Namun, walau dikatakan lebih jinak, UV-A juga bisa sangat berbahaya jika kulit terpapar dalam waktu yang berlebihan. Apalagi jika paparan tersebut didapati tanpa perlindungan, jelas akan merusak sistem kekebalan pada imun di kulit.

“Memang benar UV-B yang ditakutkan itu yang menyebabkan kanker, tapi untuk UV-A itu juga harus dilihat dari berapa lama kulit terpapar sinar tersebut. Dan, jika dikatakan di Indonesia kanker kulit tidak tinggi, sebetulnya ada benarnya karena pigmen pada kulit orang yang tinggal di daerah khatulistiwa memiliki sistem kekebalan yang lebih baik dari orang yang tidak tinggal di daerah khatulistiwa. Namun, tetap tidak bisa dijadikan dasar kalau di Indonesia tidak ada kanker kulit karena paparan sinar matahari,” ungkapnya.

Indonesia sendiri, terangnya, memiliki beberapa kasus Basal Cell Carcinoma yang merupakan salah satu jenis kanker kulit yang paling sering terjadi. Basal Cell Carcinoma (BCC) sendiri adalah jenis kanker kulit yang terjadi pada sel basal dimana sel ini terletak di bawah lapisan kulit terluar yang paling sering terpapar sinar UV.

Ciri kanker kulit BCC biasanya terlihat pada wajah, telinga, dan kulit kepala. Ciri ini dapat berupa benjolan berbentuk mutiara atau seperti lilin, atau bisa juga terlihat seperti bekas luka yang rata dengan kulit berwarna-warni atau coklat.

“Jadi tidak bisa dikatakan kita tidak punya kasus kanker kulit karena paparan sinar matahari. Memang sistem kekebalan kita lebih baik, tapi kalau terpaparnya itu sangat berlebihan dan berlangsung bertahun-tahun seperti yang terjadi pada petani dan nelayan, itu bisa saja merusak sistem kekebalan tubuh dan sel dalam kulit pun berubah sifat menjadi ganas. Itu lah yang nantinya mampu menyebabkan kanker kulit,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/penyebab-kanker-kulit-bmkg-dan-dokter-kulit-beda-pendapat/feed/ 0