badan penanggulangan bencana daerah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/badan-penanggulangan-bencana-daerah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 15 Mar 2016 12:28:28 +0000 id hourly 1 151 Titik Api Terdeteksi, Pemda Riau Tetapkan Status Siaga Darurat https://www.greeners.co/berita/151-titik-api-terdeteksi-pemda-riau-tetapkan-status-siaga-darurat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=151-titik-api-terdeteksi-pemda-riau-tetapkan-status-siaga-darurat https://www.greeners.co/berita/151-titik-api-terdeteksi-pemda-riau-tetapkan-status-siaga-darurat/#respond Tue, 15 Mar 2016 08:20:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13181 Satelit Modis sensor Terra Aqua dari NASA mendeteksi adanya 151 "hotspot" atau titik api di wilayah Indonesia. Enam kabupaten di Riau juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla.]]>

Jakarta (Greeners) – Satelit Modis sensor Terra Aqua dari NASA mendeteksi adanya 151 hotspot atau titik api di wilayah Indonesia pada Minggu (13/03) pukul 05.00 WIB. Sebaran titik api tersebut berada di Kalimantan Timur sebanyak 76 titik, Riau 45 titik, Aceh 11 titik, Kalimantan Utara 7 titik, Sulawesi Tengah 2 titik, Gorontalo 2 titik, Sulawesi Selatan 2 titik, Sumatera Selatan 1 titik, Sumatera Utara 1 titik, Maluku Utara 1 titik, dan Jawa Timur 1 titik.

“Meskipun berbagai upaya antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan oleh pemerintah bersama pemerintah daerah, dunia usaha dan lainnya, namun karhutla terus terjadi, khususnya di Riau dan Kalimantan Timur,” ungkap Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Senin (14/03).

Menurut Sutopo, rapat koordinasi dan gelar kesiapsiagaan sudah dilakukan berulangkali. Bahkan saat ini Pemerintah Daerah Riau telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak Senin (07/03) hingga tiga bulan ke depan.

Enam kabupaten di Riau juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla yaitu Kabupaten Meranti, Bengkalis, Dumai Rokan Hilir, Siak dan Pelalawan. Penetapan status ini dalam rangka memudahkan untuk koordinasi dan komando dalam penanganan karhutla. Juga untuk kemudahan akses menggunakan potensi yang ada seperti penggunaan anggaran, personel, sumber daya lain dan bantuan dari BNPB.

Ke 45 titik api yang ada di Riau, lanjut Sutopo, tersebar di Kabupaten Bengkalis (16 titik api), Indragiri Hulu (2), Kepulauan Meranti (20), Pelalawan (4), Rokan Hilir (1), dan Siak (2). Sedangkan 76 titik api di Kalimantan Timur tersebar di Kabupaten Berau (9), Kutai Kartanegara (16), Kutai Timur (50), dan Bontang (1).

Kondisi cuaca di Riau dan Kalimantan Timur terpantau kering. Wilayah di Riau saat ini memasuki kemarau periode pertama hingga April mendatang. Namun kemarau yang terjadi tidak sekering saat kemarau periode kedua pada Juli hingga September mendatang. Saat ini kondisi air sumur dan air permukaan sudah mulai menipis sehingga menyulitkan petugas saat memadamkan api.

“Sesungguhnya karhutla di Riau dan Kalimantan Timur sudah berlangsung hampir tiga minggu terakhir dengan jumlah hotspot yang fluktuatif. Jumlah total hotspot di Kalimantan Timur lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Memang terjadi anomali, dimana karhutla sebelumnya di Kalimantan Timur relatif sedikit dibandingkan dengan yang lain,” tambahnya.

Penyebab karhutla dikatakan Sutopo masih tetap sama, yaitu akibat kecerobohan dan pembakaran. Artinya disengaja oleh oknum yang membakar hutan dan lahan untuk pembersihan dan pembukaan lahan. Lokasi karhutla terjadi di lahan masyarakat, perkebunan pada konsesi perusahaan, dan di hutan. Seperti karhutla yang terjadi pada Senin (14/03) di Kabupaten Meranti berada di lahan perkebunan swasta.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei sempat menggulirkan kebijakan insentif bagi desa-desa yang berhasil menjaga wilayahnya tidak terbakar dengan pola pemberdayaan masyarakat. BNPB menyatakan akan membantu BPBD dalam pengendalian karhutla seperti pengerahan helikopter dan pesawat untuk water bombing, hujan buatan, bantuan pendanaan untuk operasional personil, aktivasi posko, dan lainnya.

Willem juga mengatakan antisipasi karhutla pada tahun ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa kejadian karhutla tahun 2015, kemungkinan kecil tidak akan berulang. “Ini dilakukan sebab kondisi tahun 2016 tidak ada fenomena El Nino dan antisipasi sudah jauh lebih baik dilakukan,” ujarnya.

Lebih jauh, Willem mengungkapkan bahwa tidak mungkin menghilangkan seratus persen karhutla di Indonesia, tapi masih bisa dikurangi skala dan intensitasnya. Menurutnya, motivasi oknum masyarakat membakar lahan adalah faktor ekonomi, selain karena lebih murah dan mudah dilakukan bagi mereka untuk membuka lahan. Ia menegaskan harus ada solusi jika ingin masyarakat tidak membakar lahan.

“Lemahnya penegakan hukum juga makin menyulitkan dalam penanggulangan karhutla. Penyelesaian hukum terkait karhutla di Riau pada tahun 2013, 2014, dan 2015 hingga saat ini belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Akhirnya tidak memberikan efek jera bagi para pelaku pembakaran. Perusahaan perkebunan juga harus menyediakan sumberdaya dan personil yang memadai untuk menjaga wilayahnya agar tidak terbakar,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/151-titik-api-terdeteksi-pemda-riau-tetapkan-status-siaga-darurat/feed/ 0
Dampak Meluapnya Sungai Citarum, Dua Warga Tewas https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/#respond Mon, 14 Mar 2016 12:52:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13179 Hujan deras yang berlangsung sejak Selasa (08/03) hingga Senin (14/03) dini hari tadi membuat Sungai Citarum di daerah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, meluap dan sebanyak 15 daerah di Kabupaten Bandung terendam banjir.]]>

Jakarta (Greeners) – Sungai Citarum di daerah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, untuk kesekian kalinya meluap dan menimbulkan banjir tahunan. Hujan deras yang berlangsung sejak Selasa (08/03) hingga Senin (14/03) dini hari tadi telah menyebabkan banjir yang cukup luas. Sebanyak 15 daerah di Kabupaten Bandung terendam banjir yang meliputi Kecamatan Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Pameungpeuk, Banjaran, Arjasri, Cangkuang, Katapang dan Kutawaringin.

Berdasarkan data sementara hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, sebanyak 5.900 KK (24.000 jiwa) terdampak banjir dan lebih dari 3.000 jiwa mengungsi. Tinggi banjir sekitar 80 sampai 300 sentimeter. Daerah di sekitar bantaran Sungai Citarum dan cekungan tinggi juga mengalami banjir hingga mencapai tiga meter.

“Banjir telah menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tiga orang hilang. Korban meninggal adalah Risa (13 tahun) akibat tersengat listrik saat banjir dengan alamat Kampung Ciburuy, Desa Citeureup, Kecamatam Dayeuhkolot dan Ibu Ela (40 tahun) warga Kampung Sawahluhur, RW 10 Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk akibat terseret arus,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat dihubungi oleh Greeners, Jakarta, Senin (14/03).

Sedangkan tiga orang yang hilang, kata Sutopo, adalah suami Ela dan dua anak perempuannya. Saat banjir, ketiganya mengungsi ke bangunan di tepi sungai yang kemudian roboh. Saat ini tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan SAR Nasional (Basarnas) masih melakukan pencarian.

BPBD Kabupaten Bandung, BPBD Provinsi Jawa Barat, TRC BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Tagana, PMI, SKPD, beberapa komunitas penggiat kebencanaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Tabara, Unit Cegah Siaga, relawan dan masyarakat juga saling membantu melakukan penanganan darurat.

“Saat ini pengungsi berada di Kantor Kelurahan Baleendah, Gedung Inkanas, GOR SKB, Gedung Juang dan lainnya,” pungkasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/dampak-meluapnya-sungai-citarum-dua-warga-tewas/feed/ 0
BNPB: Karhutla adalah Kejahatan Kemanusiaan yang Luar Biasa https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/#respond Mon, 26 Oct 2015 04:10:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11658 Sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan terpantau masih terus meluas. Bahkan asap telah menyebabkan kualitas udara menurun di Filipina, Malaysia dan Singapura. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa […]]]>

Sebaran asap di Sumatera dan Kalimantan terpantau masih terus meluas. Bahkan asap telah menyebabkan kualitas udara menurun di Filipina, Malaysia dan Singapura. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pantauan satelit Himawari menunjukkan asap tipis hingga sedang telah menutup Laut Jawa.

Bencana asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebut oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bencana buatan yang terjadi akibat ulah manusia. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan bahwa 99 persen penyebab dari kebakaran adalah disengaja.

“Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Sekarang saatnya kita tidak saling menyalahkan tapi bagaimana mengatasinya secara cepat. Dengan skala kebakaran yang demikian luas, tidak mungkin 1-2 minggu ke depan akan padam. Tapi semua ikhtiar kita lakukan bersama,” jelas Sutopo kepada Greeners, Jakarta, Sabtu (24/10).

Akibat dari karhutla, sebanyak 10 orang meninggal dunia di Sumatera dan Kalimantan. Korban yang meninggal disebabkan ikut terbakar saat memadamkan api dan ada yang sebelumnya memiliki riwayat sakit sehingga asap memperparah sakitnya.

“Sepuluh korban tewas ini di luar dari korban yang tujuh orang meninggal dan dua orang kritis saat mendaki Gunung Lawu itu kemudian terkepung karhutla dan akhirnya terbakar di Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada tanggal 18 Oktober 2015‎ lalu. Ini di luar kejadian di Gunung Lawu, ya,” imbuhnya.

Sutopo juga menyatakan bahwa bencana asap ini telah menyebabkan 503.874 orang sakit ISPA‎ di enam provinsi sejak 1 Juli hingga 23 Oktober 2015. Jumlah masing-masing provinsi adalah 80.263 orang di Riau, 129.229 orang di Jambi, 101.333 orang di Sumatera Selatan, 43.477 orang di Kalimantan Barat, 52.142 orang di Kalimantan Tengah, dan 97.430 orang di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, lanjut Sutopo, lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung di Sumatera dan Kalimantan. Data ini dianalisis dari peta sebaran asap dengan peta jumlah penduduk.

“Kemungkinan jumlah penderita yang sebenarnya lebih daripada itu karena sebagian masyarakat sakit tidak berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Mereka berobat mandiri sehingga tidak tercatat,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bnpb-karhutla-adalah-kejahatan-kemanusiaan-yang-luar-biasa/feed/ 0
BNPB: Kebakaran Gunung Lawu Akibat Api Unggun yang Belum Dipadamkan https://www.greeners.co/berita/bnpb-kebakaran-gunung-lawu-akibat-api-unggun-yang-belum-dipadamkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bnpb-kebakaran-gunung-lawu-akibat-api-unggun-yang-belum-dipadamkan https://www.greeners.co/berita/bnpb-kebakaran-gunung-lawu-akibat-api-unggun-yang-belum-dipadamkan/#respond Tue, 20 Oct 2015 05:28:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11579 Jakarta (Greeners) -Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerangkan kronologi peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di Lereng Gunung Lawu sekitar kawasan Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada Minggu […]]]>

Jakarta (Greeners) -Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerangkan kronologi peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di Lereng Gunung Lawu sekitar kawasan Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada Minggu (18/10) lalu. Dalam kebakaran gunung ini, enam orang pendaki tewas dan dua orang lainnya terluka.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan persnya menjelaskan bahwa peristiwa kebakaran tersebut diduga disebabkan oleh perapian atau api unggun dari pendaki gunung yang ditinggal dan belum dipadamkan.

“Telah terjadi kebakaran hutan akibat api unggun dari pendaki gunung yang ditinggal dan belum dipadamkan,” jelasnya, Jakarta, Senin (19/10).

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.40 WIB di petak 73 KPH Gunung Lawu tersebut, menurut Sutopo, sempat terdeteksi oleh penduduk setempat pada pukul 08.00 WIB, Minggu pagi. Penduduk melihat kepulan asap di sekitar Pos Tiga Semoro Sewu. Upaya pemadaman pun sempat dilakukan oleh petugas gabungan dan masyarakat.

“Nah, pukul 13.40 WIB tim gabungan yang sedang menuju tempat kejadian mendapatkan informasi dari pendaki bernama Mansur Salim (46 Th), bahwa ia telah menolong satu orang pendaki di antara Pos Empat dan Pos Tiga bernama Dita Kurniawan (18 Th). Dari Dita itulah tim mendapat informasi bahwa ada delapan orang korban lagi yang masih terjebak di atas (hutan),” katanya lagi menceritakan.

Pada pukul 14.20 WIB, tim gabungan berhasil menemukan satu orang korban bernama Eko Nurhadi (45 Th) dalam keadaan luka bakar yang mencapai 50 persen atau mengalami luka pada bagian perut, tangan dan wajah. Selanjutnya, pada pukul 14.30 WIB, Eko berhasil dievakuasi menuju Pos Satu pemberangkatan hingga selanjutnya korban dievakuasi menuju RSUD DR Sayidiman Magetan.

Informasi terakhir, kata Sutopo melanjutkan, sampai dengan pukul 18.00 WIB, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) dan juga dibantu Masyarakat Cemoro Sewu dan Singolangu masih terus melakukan penyisiran dan evakuasi.

“Hasil penyisiran sementara sampai dengan saat ini diperoleh infomasi bahwa korban kebakaran hutan yang terjadi diantara Pos Tiga dan Pos Empat berjumlah delapan orang dengan rincian enam orang meninggal dan dua orang dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

Sebagai informasi, pos pendakian Cemoro Sewu sebenarnya telah ditutup sejak hari Jumat, tanggal 16 Oktober 2015, dengan alasan sempat terlihat asap di sekitar Pos Lima namun telah di padamkan. Sedangkan jalur pendakian melalui Cemoro Kandang Tawangmangu, Jawa Tengah, tidak ditutup sehingga para pendaki bisa naik melalui jalur tersebut.

Dita Kurniawan, salah satu korban yang selamat, mulai mendaki pada hari Sabtu, tanggal 17 Oktober 2015, melalui jalur Cemoro Kandang bersama 13 orang pendaki lainnya. Namun 11 orang temannya yang lain masih belum diketahui keberadaanya karena terpisah dalam perjalanan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/bnpb-kebakaran-gunung-lawu-akibat-api-unggun-yang-belum-dipadamkan/feed/ 0
Hujan Salju dan Kekeringan Melanda Tiga Kabupaten di Papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/#respond Wed, 22 Jul 2015 12:28:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10432 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut antara lain, Kabupaten Nduga, Kabupaten Lani Jaya dan Kabupaten Puncak. Hujan salju ini menyebabkan pertanian puso atau gagal panen.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, saat dihubungi oleh Greeners mengatakan kalau sejumlah tanaman umbi-umbian serta hasil kebun tidak ada yang bisa dipanen. Selain itu, cuaca dingin menyebabkan ternak mati dan sebagian warga sakit.

Dari tiga kabupaten tersebut, jelas Sutopo, sebanyak 6 distrik dan 21 kampung yang terdiri dari 20.160 Kepala Keluarga (KK) juga terdampak kekeringan. Wilayah yang terdampak paling parah terletak di Distrik Kuyawage, Wano Barat, Kuwa Balim, Utpagga, Nenggejadin, dan Agundugame.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Lani Jaya, ada 11 orang yang meninggal dunia. Mereka terdiri dari lima balita, dua anak-anak, dan empat dewasa,” jelasnya, Jakarta, Selasa (21/07).

Lokasi ketiga Kabupaten tersebut, lanjutnya, berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Keterbatasan kebutuhan dasar seperti makanan, kebutuhan bayi dan anak, obat-obatan dan radio komunikasi akhirnya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Pada tanggal 17 Juli 2015 lalu, terang Sutopo lagi, Kepala BNPB, Syamsul Maarif telah memerintahkan Deputi Penanganan Darurat BNPB untuk segera mengirimkan bantuan dengan berkoordinasi antara Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua, dan Pemerintah Daerah (pemda) setempat. Bantuan yang dikirmkan antara lain makanan 13,4 ton yang ada di BPBD Papua dan 15 ton beras yang dikirim ke Kabupaten Nduga, Lani Jaya, dan Puncak.

“BNPB menerima laporan kejadian tersebut dari BPBD Papua pada 14 Juli. Lalu pada 17 Juli, bantuan beras dan logistik telah didistribusikan ke Distrik Agundugame, Kabupaten Puncak dan Distrik Kuyawage, Kabupaten Lani Jaya,” ujar Sutopo.

“Pengiriman bantuan dengan pesawat carter Susy Air menggunakan landasan darurat yang ada di dekat daerah terdampak,” imbuhnya.

Selain itu, ia melanjutkan, BNPB juga menyiapkan dana siap pakai sejumlah Rp 250 juta untuk pengiriman logistik. Untuk menjangkau Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Kuwa Balim, Kabupaten Lani Jaya memerlukan waktu 10 hari jalan kaki dari Ibukota Lani Jaya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/feed/ 0
Belasan Desa di Malang Alami Kekeringan https://www.greeners.co/berita/belasan-desa-di-malang-alami-kekeringan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belasan-desa-di-malang-alami-kekeringan https://www.greeners.co/berita/belasan-desa-di-malang-alami-kekeringan/#respond Mon, 22 Sep 2014 01:15:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5891 Malang (Greeners) – Belasan desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami kekeringan sejak Juli hingga akhir September 2014. Desa-desa yang mengalami kekeringan berada di tujuh kecamatan, seperti di Dusun Blandit, […]]]>

Malang (Greeners) – Belasan desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami kekeringan sejak Juli hingga akhir September 2014. Desa-desa yang mengalami kekeringan berada di tujuh kecamatan, seperti di Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari; Desa Putukrejo, Kalipare; Kecamatan Pagak; Bantur, Donomulyo, Jabung dan Lawang.

Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Malang, Aprillijanto mengatakan, PMI sudah melakukan droping air bersih secara rutin kepada daerah-daerah yang mengajukan. Di antaranya di Wonorejo, Kalipare, dan juga Pagak. “Untuk di Kecamatan Lawang, baru mengajukan kemarin, kemungkinan Selasa di drop air bersih,“ kata Aprillijanto, Sabtu (20/9/2014).

Menurutnya, daerah yang paling parah mengalami kekeringan berada di Desa Putukrejo, Kecamatan Kalipare. Di sana ada empat desa yang dihuni sekitar 793 kepala keluarga. Penduduk di wilayah tersebut kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur bor yang biasa digunakan warga mengering.

Pasokan PMI ke beberapa desa sudah dijadwal. Setiap daerah menerima pasokan air bersih dua kali sehari dan disesuaikan dengan jumlah warga. Setiap hari, mobil tangki ukuran 5 ribu liter memasok air dua hingga tiga kali di tempat yang dijadwalkan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang mulai pekan ini sudah membuka posko kekeringan yang ditempatkan di Kantor BPBD Malang. BPBD juga menggandeng instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Pengairan, Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan. “Dengan adanya posko ini diharapkan laporan dari masyarakat bisa segera ditindaklanjuti,” kata Kepala BPBD Malang, Hafi Luthfi.

Dengan adanya kerjasama antar instansi tersebut, diharapkan pemantauan kekeringan dan dampak lainnya seperti dampak ke pertanian, kesehatan, dan juga dampak lainnya bisa segera tertangani.

“Saat ini masih fokus pada penyediaan air untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, MCK, dan air minum,” ujar Hafi.

Selain di Putukrejo, Kalipare, daerah yang mengalami kekeringan dengan jumlah warga hingga 800 kepala keluarga lebih berada di Dusun Blandit, Desa Wonorejo. Hampir setiap musim kemarau warga Balndit mengalami kekeringan. Warga hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah seperti BPBD, PMI, PDAM, dan instansi lainnya.

Perangkat Desa Wonorejo, Kusnan, mengaku sudah mengajukan permohonan sambungan air ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Malang. Namun, pengajuan sejak setahun lalu masih sebatas lisan. Menurut Kusnan, PDAM mengaku tidak bisa memenuhi harapan warga dengan alasan yang tidak pasti.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/belasan-desa-di-malang-alami-kekeringan/feed/ 0
Banjir Bandang Terjang Satu Desa di Malang, Satu Tewas https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/#respond Wed, 10 Jul 2013 08:00:18 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3765 Malang  (Greeners) – Bencana alam berupa banjir bandang menerjang Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/7/2013) malam. Banjir terjadi mulai pukul 20.00 WIB hingga Rabu (10/7) […]]]>

Malang  (Greeners) – Bencana alam berupa banjir bandang menerjang Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/7/2013) malam. Banjir terjadi mulai pukul 20.00 WIB hingga Rabu (10/7) dini hari air baru mulai surut. Ketinggian air mencapai 1-2 meter dan menenggelamkan ratusan rumah serta menghanyutkan ratusan hewan ternak.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang Menyebutkan, total ada 847 keluarga dari 2.928 keluarga di Desa Sitiarjo yang menjadi korban banjir bandang. Saat air mulai menggenangi rumah mereka, warga mencari perlindungan di atap rumah, perbukitan, dan mengungsi di tempat yang lebih tinggi.

Kepala Bidang Tanggap Darurat BPBD Malang, Bagyo Setyono, mengatakan, seorang warga bernama Ngatinah (80) meninggal dunia karena terseret arus air. Ngatinah memang sedang sakit dan saat itu berbaring di atas kasurnya. Ia terseret sejauh 25 meter dan tersangkut di atas pohon saat banjir menerjang rumahnya.

Hingga Rabu siang, hujan masih mengguyur kawasan Sitiarjo dan sekitarnya. PMI Malang juga telah membuka dapur umum di belakang gedung GKJW. Petugas TNI, Polri, Tim SAR gabungan dari SAR Mahameru dan Tagana Basarnas (Taruna Siaga Bencana Badan SAR Nasional), serta relawan lainnya bersama warga sejak pagi tadi bahu-membahu membersihakn sampah dan batang pohon pisang yang berserakan di jalanan dan halaman rumah warga.

Menurut cerita Sriani (42) warga yang rumahnya berjarak beberapa meter dari sungai mengatakan, air meluap dan menerjang apa saja yang didepannya. Ia kemudian menyelematkan diri bersama keluarganya di atas atap rumahnya. Namun, hewan-hewan ternaknya tak bisa terselamatkan dan turut hanyut bersama derasnya arus air. “Tiga ekor kambing sisa banjir tahun 2003 dan  2010 sudah habis sekarang,” katanya saat akan menuju rumahnya dengan membawa ember air bersih, Rabu (10/9/2013).

Bersamaan dengan Sriani, tiga orang tetangganya juga hampir pingsan saat banjir terjadi, Sutris, Bili, Yadi, yang naik kandang hewan ternak hanyut beberapa saat sebelum akhirnya naik pohon kelapa. Karena kecapekan, ketiga tetangganya tadi hampir pingsan. Mereka kemudian ditolong warga lainnya dan ditarik ke tempat aman.

Selain merusak, bangunan, irigasi, jalan, serta pasar, banjir bandang juga meluluhlantakkan sawah seluas 166 hektare dan perkebunan pisang seluas 145 hektare. Selain itu, ratusan hewan ternak juga hanyut dan hanya beberapa saja yang bisa selamat.

Banjir bandang di Desa Sitiarjo datangnya memang seperti musiman. Greeners mencatat, sudah beberapa kali banjir bandang terjadi di wilayah ini. Setiap kali terjadi banjir bandang, hampir bisa dipastikan dampak dan volume air selalu paling besar kejadian yang terakhir. Seperti yang terjadi Selasa kemarin, pengakuan Pak Sikam, mantan ketua RW 15, banjir kali ini merupakan banjir terbesar dari sebelumnya tahun April 2010, November 2003, dan tahun 1997, dan 1985. “Banjir kali ini yang terparah kerusakannya,” katanya.

Kawasan Desa Sitiarjo memang dilalui sungai besar yang muaranya ke arah laut selatan. Desa ini juga berada di lembah dan dikelilingi perbukitan yang sudah tidak banyak lagi pepohonannya. Banyak hutan beralih fungsi menjadi sawah dan kebun-kebun. Jika hujan turun dengan lebat, sementara air sungai tidak bisa mengalir karena air laut pasang, maka luapan air sungai dipastikan menerjang desa, ditambah air yang turun dari perbukitan. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-bandang-terjang-satu-desa-di-malang-satu-tewas/feed/ 0