bakar - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/bakar/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 01 Mar 2015 02:04:27 +0000 id hourly 1 Penggabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Perlu Penyesuaian https://www.greeners.co/berita/penggabungan-kementerian-lingkungan-hidup-dan-kehutanan-masih-perlu-penyesuaian/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=penggabungan-kementerian-lingkungan-hidup-dan-kehutanan-masih-perlu-penyesuaian https://www.greeners.co/berita/penggabungan-kementerian-lingkungan-hidup-dan-kehutanan-masih-perlu-penyesuaian/#respond Tue, 28 Oct 2014 04:51:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6281 Jakarta (Greeners) – Pada hari Minggu 26 Oktober sekitar pukul 17.15 WIB, Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan susunan kabinet yang diberi nama Kabinet Kerja. Dalam kabinet ini, dua kementerian yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pada hari Minggu 26 Oktober sekitar pukul 17.15 WIB, Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan susunan kabinet yang diberi nama Kabinet Kerja. Dalam kabinet ini, dua kementerian yang cukup krusial, yaitu Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup digabung menjadi satu lembaga dengan nama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dua kementerian yang digabung ini sudah pasti harus segera memulai pengaturan sistem manajerial baru untuk menjalankan satu badan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup, Ilyas Asaad, mengatakan bahwa membutuhkan waktu yang tidak sebentar bagi dua kementerian ini untuk melakukan penyesuaian dalam banyak hal mengingat sebelumnya kedua lembaga ini memiliki peran dan tugas yang berbeda.

Namun meski begitu, lanjutnya, yang paling penting saat ini adalah bagaimana setiap pihak mampu mengarahkan setiap tujuan dari penggabungan dua Kementerian ini sesuai dengan tujuan Presiden maupun Menteri baru, Siti Nurbaya, nantinya.

“Nanti siang akan ada serah terima jabatan, kita lihat saja Ibu Menteri akan mengarahkan kita kemana,” terang Ilyas saat dijumpai oleh Greeners di kantornya, Jakarta, Selasa (28/10).

Selain itu, Ilyas juga mengakui kalau penggabungan dua Kementerian ini seharusnya mampu memperkuat tugas dan wewenangnya untuk menjaga lingkungan hidup. Oleh karena itu, tambahnya, semua harus dilihat dulu bagaimana nanti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini akan dibawa oleh Menteri yang baru.

“Kita akan lihat apakan nantinya hanya membahas kehutanan semata atau tidak, karena lingkungan hidup bukan hanya bicara soal kehutanan saja kan,” tuturnya.

“Selama ini kan kita juga terkait sama ESDM, sama Perindustrian sama yang lain yang sesuai dengan lingkungan hidup.” pungkasnya.

Terkait soal struktural, Ilyas menjelaskan akan ada sebuah pembahasan apakah perlu adanya perampingan struktur atau bagaimana membentuk sebuah Kementerian baru yang efisien dan mampu bekerja dengan segera.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/penggabungan-kementerian-lingkungan-hidup-dan-kehutanan-masih-perlu-penyesuaian/feed/ 0
Daun Buatan Sebagai Sumber Bahan Bakar Hidrogen https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-buatan-sebagai-sumber-bahan-bakar-hidrogen/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=daun-buatan-sebagai-sumber-bahan-bakar-hidrogen https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-buatan-sebagai-sumber-bahan-bakar-hidrogen/#respond Thu, 10 Apr 2014 09:28:11 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_technology&p=4287 Cadangan sumber bahan bakar fosil yang semakin menipis membuat para peneliti di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan sumber energi baru yang ramah dan bersih. Para ilmuwan dan peneliti kini tengah fokus […]]]>

Cadangan sumber bahan bakar fosil yang semakin menipis membuat para peneliti di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan sumber energi baru yang ramah dan bersih. Para ilmuwan dan peneliti kini tengah fokus terhadap pengembangan teknik Biomimicry , yaitu mengadaptasi kemampuan makhluk hidup atau alam dalam menciptakan desain, sistem, dan proses sebuah produk bekerja.

Para peneliti dari State Key Lab of Matrix Composites di Universitas Shanghai Jiaotong China tengah melakukan riset Artificial Inorganic Leaf (AIL) menggunakan metode Biomimicry. AIL adalah sejenis daun buatan yang dibuat menyerupai daun aslinya.

Mereka tengah meneliti kemampuan AIL untuk menghasilkan bahan bakar hidrogen dari proses daun tersebut menyerap energi matahari dan air.

Menggunakan teknik spektroskopik untuk mempelajari daun dari tanaman Anemone vitifolia, tanaman asli China, para peneliti mendapatkan pemahaman baru untuk menyalurkan dan mengarahkan energi matahari pada suatu titik dimana energi tersebut bisa dipanen.

Peneliti juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai photo-katalis tanaman yang mengarah pada desain sempurna dari AIL.

Daun buatan ini masih dalam tahap desain awal. Tapi apabila para peneliti berhasil menciptakan prototipe daun tersebut maka dunia memiliki harapan dalam memproduksi bahan bakar hidrogen dengan cara yang sangat murah dan efektif.

sumber : www.inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/daun-buatan-sebagai-sumber-bahan-bakar-hidrogen/feed/ 0
Desa Kalisari Targetkan Seluruh Limbah Tahu Jadi Biogasari https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/#respond Thu, 28 Mar 2013 04:35:17 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3503 Banyumas (Greeners) -Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) menargetkan seluruh limbah industri tahu di daerah setempat diolah menjadi biogas pada 2014 mendatang. Jika tercapai, maka ada 300 rumah […]]]>

Banyumas (Greeners) -Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) menargetkan seluruh limbah industri tahu di daerah setempat diolah menjadi biogas pada 2014 mendatang. Jika tercapai, maka ada 300 rumah yang bakal teraliri biogas yang digunakan untuk bahan bakar kompor.

Kepala Desa Kalisari H Wibowo mengungkapkan hingga kini desanya telah mampu mencukupi kebutuhan gas untuk 100 rumah lebih. “Biogas tersebut merupakan hasil dari pengolahan limbah tahu. Kebetulan di Desa Kalisari merupakan sentra pembuatan tahu. Karena dari dari seribu keluarga lebih, ada 300 lebih rumah yang menjadi UKM tahu,”jelas Wibowo, Rabu (27/3).

Dikatakan oleh Wibowo, tahun 2013 hingga 2014 mendatang, pihaknya mendapat dana sekitar Rp3,5 miliar untuk pengembangan biogas. “Dana tersebut berasal dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jateng yang dikucurkan secara bertahap selama dua tahun berturut-turut. Tahun ini baru Rp1,5 miliar, sisanya tahun berikutnya,”kata Wibowo.

Menurutnya, dana tersebut untuk pembuatan reaktor atau digester dan infrastruktur teknologi lainnya. “Nantinya, reaktor tersebut bakal mengolah limbah tahu sebanyak 4,5 ton per hari yang berasal dari 148 perajin tahu. Dari hasil tersebut, setidaknya ada 200-an rumah yang bakal dilayani biogas,”tambahnya.

Sebelumnya, pada 2012 lalu, BLH Jateng telah membantu instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang menghasilkan biogas.

“Kapasitasnya mencapai 1,4 ton dengan limbah cair sebanyak 9.800 liter yang berasal dari 45 UKM tahu. Saat sekarang biogas telah melayani 42 keluarga. Tetapi sebetulnya, kapasitasnya masih bisa melayani sampai 71 keluarga. Itu berdasarkan penelitian dari ahli BPPT dan Kementrian Ristek,”ujar Wibowo.

Menurut dia, teknologi biogas di Desa Kalisari pertama kali digarap oleh BPPT dan Kementerian Ristek. “Sebelum teknologi biogas, diawali dengan pembangunan IPAL yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang kemudian dilanjutkan oleh BPPT dan Kementerian Ristek dengan membuat instalasi biogas percobaan. Ternyata hasilnya sangat bagus,”kata Wibowo.

Dikatakannya, biogas mampu mencukupi kebutuhan gas 27 keluarga yang dihasilkan dari 5 ribu liter limbah tahu 19 UKM. “Itu merupakan tonggak pemanfaatkan biogas berbahan baku limbah tahu di Desa Kalisari. Selain menghasilkan biogas, limbahnya juga aman bagi lingkungan. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan limbah dari UKM tanpa diolah. Misalnya pH yang sebelumnya 4,5 kini menjadi 6,9 atau hampir netral,”ujarnya.

Dengan optimalnya fungsi instalasi yang menghasilkan biogas tersebut, lanjut Wibowo, maka dirinya optimis tujuan Kalisari sebagai desa mandiri akan terwujud. “Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dari masyarakat untuk mengelola. Sebab, pengelolaannya diserahkan kepada masing-masing kelompok di sekitar IPAL,”kata Wibowo.

Pemanfaatan biogas mampu menghemat konsumsi elpiji. “Misalnya dalam satu keluarga, setiap bulan konsumsi elpiji 3 kg antara 3-4 tabung. Pemanfaatan biogas tidak hanya warga yang memiliki UKM tahu, tetapi juga keluarga tidak mampu,”tambahnya.

Kepala Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Banyumas Anton Adi Wahyono mengungkapkan bahwa Kalisari menjadi contoh desa mandiri energi. “Di Banyumas, pemanfaatan energi terbarukan paling bagus di Desa Kalisari. Di desa setempat, merupakan sampel industri kecil berwawasan lingkungan dan mampu menghasilkan energi terbarukan.” (G12)

]]>
https://www.greeners.co/berita/desa-kalistargetkan-seluruh-limbah-tahu-jadi-biogasari/feed/ 0
Mobil Irit Nasional Mampu Berkontribusi Untuk Indonesia https://www.greeners.co/berita/mobil-irit-nasional-mampu-berkontribusi-untuk-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mobil-irit-nasional-mampu-berkontribusi-untuk-indonesia https://www.greeners.co/berita/mobil-irit-nasional-mampu-berkontribusi-untuk-indonesia/#comments Wed, 28 Nov 2012 03:00:15 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3220 Surabaya (Greenersmagz) – Setelah melangsungkan race selama dua hari, Indonesia Energy Marathon Competition (IEMC) akhirnya melahirkan para juara berdasarkan perhitungan konsumsi bahan bakar masing-masing mobil di kamar hitung. Bahkan, beberapa […]]]>

Surabaya (Greenersmagz) – Setelah melangsungkan race selama dua hari, Indonesia Energy Marathon Competition (IEMC) akhirnya melahirkan para juara berdasarkan perhitungan konsumsi bahan bakar masing-masing mobil di kamar hitung.

Bahkan, beberapa diantara kategori tersebut justru melahirkan beberapa nama baru yang sebelumnya tidak diperkirakan untuk menjadi jawara di kancah mobil irit nasional ini.

Dua nama dalam lima kategori mobil berdasarkan bahan bakarnya yang menjadi juara dalam kompetisi ini adalah kelas urban dan prototype dengan kategori mesin diesel, gasoline, dan listrik.

Sementara itu, dari kategori mesin diesel untuk kelas prototype dan urban berhasil dimenangkan oleh tim dari ITS, yakni ITS Team 4 dan ITS Team 2, dengan nilai 343,8692 dan 147,834 kilometer per liter. Pada kategori prototype diesel, posisi kedua ditempati oleh Tim Semar Proto Diesel dengan torehan 130,6817 kilometer per liter. Sedangkan untuk kategori urban diesel, ITS Team 4 menjadi juara satu-satunya karena Tim Albert PNJ dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) gagal menuntaskan race.

Hasil unik terjadi pada kategori prototype gasoline. ITS Team 1 dari ITS harus berbagi gelar juara dengan Tim Nakoela Hore dari Universitas Indonesia (UI) karena keduanya memperoleh nilai sama yakni 338,1967 kilometer per liter. Setelah tim juri dan panitia berunding, akhirnya diputuskan bahwa kedua tim menjadi juara pertama dalam kategori tersebut.

“Pada lomba ini, setiap tim diberi kesempatan untuk melakukan race sebanyak lima kali. Itu pun setelah dinyatakan lolos scrutineering atau uji inspeksi teknis yang meliputi bobot kendaraan, jenis bahan bakar, ukuran kendaraan, dan lain-lain. Tapi kalau tim tersebut sudah merasa puas dengan capaian pada race tertentu, ya diperbolehkan untuk tidak melakukan sampai lima kali race,” papar ketua pelaksana, Didit Ardiyanto, Selasa (27/11).

Sementara, untuk kategori prototype listrik, Tim Arjuna Hore dari UI masih mendominasi perolehan nilai dan menjadi juara pertama yakni 165,2474 kilometer per kilowatt jam. Mereka juga sempat mengikuti even Shell Eco Marathon (2012) di Sepang, Malaysia. Sementara itu, pada posisi kedua, pendatang baru dari ITS Tim SAE_ZEV Otomasi ITS Team berhasil menuntaskan lap setelah beberapa kali mengalami gangguan dengan nilai 141,4592 kilometer per kilowatt jam.

Cha-PENS Team dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) harus rela menempati posisi kedua pada kategori urban listrik. Setelah sempat memimpin hingga menjelang akhir sesi race dengan nilai 42,25259 kilometer per kilowatt jam, Tim Nusa Kencana dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) memberi kejutan. Tepat pada percobaan terakhirnya, Nusa Kencana unggul dari Cha-PENS dengan perolehan 45,9823 kilometer per kilowatt jam.

Pada kategori urban gasoline, Tim Horas dari Universitas Sumatera Utara justru keluar sebagai pemenang dengan torehan 139,367 kilometer per liter. ITS Team 3 yang dijagokan akan menjadi juara pada kategori ini justru gagal menyelesaikan race karena masalah pada bagian drivetrain (sistem penggerak). Alhasil, pada posisi kedua ditempati oleh Tim Semar Urban dari Universitas Gadjah Mada dengan nilai 83,2401 kilometer per liter.

“Acara ini dapat menyumbang sedikit kontribusi bagi kemandirian teknologi bangsa hingga mewarisi anak cucu kita. Kami berharap ini bukan sekedar lomba tetapi menjadi inspirasi bagi bangsa untuk menciptakannya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Rektor ITS, Triyogi Yuwono DEA. (G25)

]]>
https://www.greeners.co/berita/mobil-irit-nasional-mampu-berkontribusi-untuk-indonesia/feed/ 1