bakau - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/bakau/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 01 Dec 2021 06:06:30 +0000 id hourly 1 Bruguiera Sexangular, Tanaman Bakau Asli Asia Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/bruguiera-sexangular-tanaman-bakau-asli-asia-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bruguiera-sexangular-tanaman-bakau-asli-asia-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/bruguiera-sexangular-tanaman-bakau-asli-asia-tenggara/#respond Wed, 01 Dec 2021 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34566 Bruguiera sexangular atau tumu adalah sejenis tanaman bakau yang menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Mereka ahli gabungkan ke dalam genus Bruguiera, sehingga berkerabat dekat dengan spesies bakau putut (Bruguiera […]]]>

Bruguiera sexangular atau tumu adalah sejenis tanaman bakau yang menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Mereka ahli gabungkan ke dalam genus Bruguiera, sehingga berkerabat dekat dengan spesies bakau putut (Bruguiera gymnorrhiza).

Secara penampilan, bakau putut dan tumu terbilang cukup mirip. Mereka tergolong sebagai tanaman perdu atau pohon kecil, yang dapat berkembang biak hingga setinggi 15 meter.

Dalam kondisi prima, pertumbuhan mangrove Bruguiera dapat mencapai 30 meter. Namun hal tersebut jarang terjadi, terutama habitat serta lingkungan hidupnya tidak mendukung.

Sebagai informasi, Bruguiera sexangular dikenal juga dengan sinonim Bruguiera eriopetala. Sedang bagi warga dunia, tumbuhan ini populer dengan julukan upriver orange mangrove.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bakau Bruguiera Sexangular

Daun-daun tumu tampak selalu hijau atau evergreen. Kulit kayunya berwarna cokelat muda keabu-abuan, terkadang memiliki tekstur halus namun ada pula yang bertekstur agak kasar.

Terdapat sejumlah lentisel berukuran besar pada permukaan kayu tersebut. Pangkal batang bakau tampak membengkak, serta mempunyai akar lutut namun terkadang berakar papan.

Supaya lebih rinci, berikut ciri-ciri bakau Bruguiera sexangular yang perlu Anda ketahui:

  • Daun: diameternya agak tebal, berkulit, serta memiliki bercak hitam pada bagian bawah. Letak daun bisanya berlawanan, berbentuk elip dengan ujung yang meruncing. Ukuran daun tersebut antara 8-16 x 3-6 cm.
  • Bunga: terletak di bagian ketiak daun dengan formasi soliter. Terdapat 10-11 helai daun mahkota berwarna putih dan kecokelatan (jika tua) yang panjangnya mencapai 14 mm. Daun bakau ini terkadang berambut halus pada bagian tepinya. Ia memiliki kelopak bunga sebanyak 10-12 helai dengan warna kuning kehijauan, kemerahan, atau cokelat.
  • Buah: Bruguiera sexangular menghasilkan buah hipokotil yang menyempit pada kedua ujungnya. Ukuran buah tersebut antara 6-12 cm dengan diameter berkisar 1,5 cm.

Habitat dan Distribusi Bakau Bruguiera Sexangular

Secara umum, spesies bakau Bruguiera terdistribusi di wilayah Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian barat, yakni mulai dari pantai Afrika Timur dan Madagaskar, hingga ke India.

Kelompok mangrove ini juga jamak pakar temukan di Sri Lanka dan wilayah Asia Tenggara. Lalu, mereka juga menyebar sampai ke Australia utara, Melanesia dan Kepulaun Polinesia.

Bruguiera sexangular merupakan flora asli India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia menyebar ke hampir seluruh wilayah, meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, serta Papua.

Menurut penelitian, habitat bakau ini dapat kita temukan di sepanjang jalur air dan tambak pantai pada berbagai substrat, yang notabene tidak tergenangi oleh air secara langsung.

Kendati begitu, bakau Bruguiera sexangular ahli nilai toleran terhadap air asin, payau, serta tawar. Perbungannya terjadi sepanjang tahun, sebagian diserbuki oleh kelompok burung.

Kegunaan dan Manfaat Bakau Bruguiera Sexangular

Sejak dahulu, spesies tumbuhan bakau jamak publik manfaatkan sebagai bahan baku kayu bakar, konstruksi, serta arang. Karena itu, kayu ini memiliki nilai ekonomi tinggi di pasaran.

Begitu pula dengan bakau Bruguiera sexangular. Buah dari mangrove ini bahkan ahli sinyalir berkhasiat mengobati herpes, sedangkan akarnya berguna untuk mengatasi kulit terbakar.

Di daerah Sulawesi, buah tumu biasa dikonsumsi sebagai cemilan dan pelengkap makanan. Ada pula yang mendidihkan buah tersebut menjadi teh herbal atau jus penghilang dahaga.

Sayangnya, jumlah populasi dan status konservasi Bruguiera sexangular belum ahli ketahui secara pasti. Namun jumlahnya pakar sinyalir cukup stabil, sebab masih banyak ditemukan.

Sama seperti genus Bruguiera lain, di masa lalu bakau ini sering masyarakat anggap serupa. Identifikasi ketiga spesies tersebut paling mudah kita lihat melalui mahkota daunnya.

Taksonomi Spesies Tanaman Bakau Tumu

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bruguiera-sexangular-tanaman-bakau-asli-asia-tenggara/feed/ 0
Aegiceras Corniculatum, Tanaman Bakau yang Selalu Hijau https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/#respond Sun, 28 Nov 2021 03:48:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34531 Aegiceras corniculatum atau bakau hitam adalah spesies tumbuhan semak yang berasal dari famili Primulaceae. Tanaman ini terkenal akan daunnya yang selalu hijau (evergreen), serta memiliki segudang manfaat bagi warga setempat. […]]]>

Aegiceras corniculatum atau bakau hitam adalah spesies tumbuhan semak yang berasal dari famili Primulaceae. Tanaman ini terkenal akan daunnya yang selalu hijau (evergreen), serta memiliki segudang manfaat bagi warga setempat.

Selain bakau hitam, jenis Aegiceras corniculatum publik kenal juga sebagai khalsi atau bakau sungai. Mereka menyebar ke sejumlah wilayah, terutama di daerah India dan Asia Tenggara.

Bakau hitam dapat pula kita temukan di Cina selatan, New Guinea, serta Australia. Mereka ahli golongkan ke dalam genus Aegiceras, sehingga berkerabat dekat dengan spesies kaboa.

Secara klasifikasi, bakau hitam ilmuwan ketahui memiliki empat sinonim binomial. Spesies ini disebut juga sebagai Rhizophora corniculate, A. fragrans, A majus, serta A. malaspinaea.

Morfologi dan Ciri-Ciri Aegiceras Corniculatum

Aegiceras corniculatum berbiak lurus hingga setinggi 7 m. Akarnya menjalar di permukaan tanah, dengan kulit kayu bagian luar berwarna keabu-abuan hingga cokelat kemerahan.

Terdapat sejumlah lentisel (lubang-lubang kecil) pada bagian kulit bakau. Daunnya berwarna hijau cerah dan mengilap di bagian atas, namun tampak hijau pucat pada bagian bawahnya.

Pertumbuhan daun bakau hitam terlihat bersilang dengan bentuk bulat telur terbalik (elips). Ujungnya tampak membundar, serta ada kelenjar pembuangan garam pada permukaannya.

Uniknya, bunga-bunga Aegiceras corniculatum tumbuh bergantung seperti lampion. Masing-masing tangkainya memiliki panjang 8-12 mm, serta terletak di bagian ujung tandan bunga.

Bunga dan mahkotanya berwarna putih sampai hijau. Sedangkan buahnya berwarna hijau hingga kemerahan, dengan bentuk agak membengkok serta memiliki diameter 5-7,5 cm.

Baca juga: Ceriops Tagal, Tengar Kaya Zat Tanin untuk Pewarna Alami

Habitat dan Karakteristik Aegiceras Corniculatum

Bakau hitam terkenal akan toleransinya terhadap salinitas, tanah, serta kondisi cahaya yang beragam. Mereka tumbuh di tepi dataran tergenang oleh pasang surut air yang normal.

Selain itu spesies satu ini juga jamak ahli temukan di tepi jalur air, yang bersifat payau secara musiman. Perbungaannya terjadi sepanjang tahun, sebagian besar diserbuki oleh serangga.

Pertumbuhan biji Aegiceras corniculatum terjadi secara semi vivipar, di mana embrio keluar melalui kulit buah. Saat buah mulai rontok, bibitnya akan tumbuh di bawah pohon dewasa.

Sebagai agen reproduksi, buah dan biji bakau hitam beradaptasi dengan baik di wilayah lain. Mereka terdistribusi berkat bantuan serangga, burung, atau penyebaran melalui perairan.

Menurut IUCN Red List, status konservasi Aegiceras corniculatum berada pada level berisiko rendah (least concern). Tren populasinya makin menurun akibat aktivitas alih fungsi lahan.

Kegunaan dan Manfaat Aegiceras Corniculatum

Sejak dahulu, mangrove dikenal sebagai sumber pangan, bangunan, hingga obat-obatan. Ia juga bertugas menjaga ekosistem perairan, sehingga bermanfaat bagi berbagai jenis biota.

Bakau hitam sendiri mempunyai saponin tinggi, sehingga sangat efektif kita gunakan sebagai racun ikan. Sedangkan, bunganya berguna sebagai hiasan karena memiliki aroma semerbak.

Di sejumlah wilayah, daun muda Aegiceras corniculatum bahkan khalayak konsumsi sebagai lalapan. Kayunya merupakan bahan baku arang yang baik sehingga bernilai ekonomi tinggi.

Berbicara soal kayu, kualitas olahan kayu bakau hitam terbilang cukup mumpuni. Karena itu, material ini sering masyarakat manfaatkan sebagai konstruksi rumah, jalan dan sebagainya.

Dalam sebuah studi, diketahui pula bahwa Aegiceras corniculatum memiliki sifat analgesik. Maka itu, tidak heran jika ilmuwan mulai memanfaatkan ekstraknya sebagai obat diabetes.

Baca juga: Bakau Minyak, Penjaga Ekologis dan Sumber Ekonomi Warga

Taksonomi Spesies Tumbuhan Bakau Hitam

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/aegiceras-corniculatum-tanaman-bakau-yang-selalu-hijau/feed/ 0
Bakau Pasir, Spesies Mangrove Kecil yang Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-pasir-spesies-mangrove-kecil-yang-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bakau-pasir-spesies-mangrove-kecil-yang-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-pasir-spesies-mangrove-kecil-yang-kaya-manfaat/#respond Sat, 20 Nov 2021 03:00:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34435 Bakau pasir (Rhizophora stylosa) merupakan salah satu jenis bakau yang paling terkenal di Indonesia. Dibanding spesies lain, ukuran jenis mangrove ini memang terhitung paling mini. Karena itu, banyak pula yang […]]]>

Bakau pasir (Rhizophora stylosa) merupakan salah satu jenis bakau yang paling terkenal di Indonesia. Dibanding spesies lain, ukuran jenis mangrove ini memang terhitung paling mini. Karena itu, banyak pula yang menyebutnya sebagai bakau kecil.

Bakau adalah tumbuhan kaya guna yang berasal dari famili Rhizophoraceae. Selain menjaga ekosistem pesisir pantai, flora ini juga sering awam manfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Sebagai negara kepulauan, komunitas bakau di Tanah Air ahli ketahui sangat banyak. Flora satu ini dapat kita temukan di hampir seluruh wilayah, mulai dari Sumatra sampai ke Papua.

Bakau pasir sendiri memiliki habitat yang paling unik. Mereka dapat tumbuh di wilayah tepi pantai sampai dataran kering, media tanamnya dapat berupa lumpur, pasir, hingga karang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bakau Pasir

Penampilan spesies bakau kecil memang cukup mirip dengan jenis bakau kurap (Rhizophora mucronata). Karena itu, jangan heran apabila keduanya sering masyarakat anggap serupa.

Bakau pasir bisa berkembang biak dengan satu atau banyak batang. Mereka hanya tumbuh setinggi 10 m, namun mempunyai bunga-bunga kecil berkelompok sebanyak 8-16 kuntum.

Daun mahkota bunga biasanya berwarna putih dan berambut, panjangnya mencapai 8 mm. Buah bakau tersebut tampak kecil dan berwarna cokelat, panjangnya berkisar 2-4 cm saja.

Hipokotil atau bagian batang kecambah terlihat lebih berbintil daripada jenis baku lainnya. Permukaan hipokotil tersebut cukup halus jika tersentuh, panjangnya mencapai 20-35 cm.

Bakau pasir memiliki akar udara dengan percabangan ke bawah. Jangkauan akarnya dapat mencapai 3 m, berbentuk gelombang, dengan bagian kayu berwarna abu-abu kehitaman.

Baca juga: Bakau Minyak, Penjaga Ekologis dan Sumber Ekonomi Warga

Kegunaan dan Manfaat Bakau Pasir

Sudah jadi rahasia umun, jenis kayu dari tumbuhan bakau unggul dijadikan sebagai material bangunan. Ia juga sering warga gunakan sebagai kayu bakar sampai bahan pembuat arang.

Di banyak negara, kulit kayu bakau bahkan awam olah sebagai bahan penyamak. Kulit kayu tersebut pakar sinyalir mampu menghasilkan tanin, sehingga cocok sebagai pewarna alami.

Tidak cuma itu, ahli bahkan mengembangkan bakau pasir sebagai material pembuat kertas. Kualitasnya terbilang unggul, sehingga mempunyai nilai ekonomi tinggi dan laku di pasaran.

Bagi penduduk asli Australia, bakau ini merupakan material utama pembuat bumerang dan tombak. Mereka bahkan mengubahnya menjadi benda-benda penting untuk upacara adat.

Pemanfaatan buah bakau pasir terbilang sangat jarang. Meski begitu, ada pula masyarakat yang mengolahnya menjadi minuman anggur serta ramuan obat untuk kencing berdarah.

Distribusi dan Populasi Bakau Pasir

Distribusi bakau pasir memang sangat luas. Selain di Indonesia, spesiesnya bisa kita jumpai di Taiwan, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Singapura, sampai ke wilayah Australia tropis.

Di Tanah Air sendiri, populasi mangrove ini menyebar mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Lombok. Mereka juga ahli temukan di Sumbawa, Sumba, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Menurut IUCN Red List, status konservasi R. stylosa berada pada level ‘least concern’ atau berisiko rendah. Meski begitu, tren populasinya makin menurun sehingga perlu dilestarikan.

Di Singapura misalnya, otoritas lokal telah mengubah status bakau pasir ini menjadi rentan. Penyebab kelangkaannya disinyalir akibat kerusakan habitat dan tragedi tumpahan minyak.

Sebagai salah satu mekanisme pelindung laut, menjaga kelestarian jenis bakau kecil sangat penting. Karena itu, manfaatkan tumbuhan ini secara bijak serta bertanggung jawab, ya.

Baca juga: Menggali Keunggulan Keberadaan Mangrove di Indonesia

Taksonomi Jenis Rhizophora Stylosa

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-pasir-spesies-mangrove-kecil-yang-kaya-manfaat/feed/ 0
Pidada Putih, Maskot Terbaru Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2021 https://www.greeners.co/flora-fauna/pidada-putih-maskot-terbaru-hari-cinta-puspa-dan-satwa-nasional-2021/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pidada-putih-maskot-terbaru-hari-cinta-puspa-dan-satwa-nasional-2021 https://www.greeners.co/flora-fauna/pidada-putih-maskot-terbaru-hari-cinta-puspa-dan-satwa-nasional-2021/#respond Mon, 15 Nov 2021 03:21:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34396 Pemerintah menetapkan pidada putih sebagai salah satu maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Bersama dengan koral Acropora suharsonoi, tumbuhan ini pakar harapkan mampu mendongkrak kepedulian masyarakat terhadap kekayaan hayati […]]]>

Pemerintah menetapkan pidada putih sebagai salah satu maskot Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Bersama dengan koral Acropora suharsonoi, tumbuhan ini pakar harapkan mampu mendongkrak kepedulian masyarakat terhadap kekayaan hayati Indonesia.

Pidada putih publik kenal juga sebagai perepat. Flora ini ahli golongkan sebagai bakau yang berasal dari keluarga Lythraceae, serta memiliki nama latin atau binomial Sonneratia alba.

Melalui klasifikasinya, dapat kita ketahui bahwa perepat tergabung dalam ordo Myrtales. Ia berkerabat dekat dengan spesies pidada merah (S. caseolaris) serta 18 jenis pidada lainnya.

Selain itu, pidada putih memiliki sejumlah sinonim binomial seperti S. acida, S. caseolaris, S. griffithii, S. iriomotensis, S. mossambicensis, Chiratia leucantha, hingga Mangium caseolare.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pidada Putih

Pohon pidada putih tampak selalu hijau (evergreen), ia memiliki tajuk melebar serta berbiak hingga 20 m. Kulit batang berwarna krem-cokelat dengan pola retak halus yang mendatar.

Akar tumbuhan tersebut cukup tebal, ia berkembang menyerupai kerucut-kerucut runcing dengan tinggi 25 cm. Daunnya yang tebal tumbuh berhadapan dengan bentuk bundar telur.

Jika kita hitung, ukuran daun perepat berkisar 5-12,5 x 3-9 cm. Pangkal daun itu berbentuk baji dengan ujung membulat lebar, serta memiliki tangkai yang ukurannya antara 6-15 mm.

Tangkai pidada putih terbilang unik karena memiliki kelenjar pada bagian pangkalnya. Bunga flora tersebut berkelamin ganda, tumbuh secara soliter, serta memiliki tangkai yang pendek.

S. alba juga mampu menghasilkan buah, bentuknya bulat dan agak gepeng dengan ukuran 3×4 cm. Buah hijau berbiji banyak itu jarang awam konsumsi karena berbau kurang sedap.

Baca juga: Bakau Minyak, Penjaga Ekologis dan Sumber Ekonomi Warga

Habitat dan Persebaran Pidada Putih

Pohon berbatang besar ini dapat kita jumpai pada bagian hutan yang menghadap langsung ke laut lepas. Mereka berkembang baik di wilayah tanah berpasir maupun berbatu karang.

Sebagai pionir hutan bakau, perepat biasanya tidak tahan berlama-lama terendam air tawar. Namun di lokasi jenis bakau lain dibalak, perepat justru dapat berbiak bahkan mendominasi.

Distribusi pidada putih sejatinya cukup luas. Mereka dapat kita temukan di timur Afrika, Asia Tenggara, Kepulauan Seychelle dan Madagaskar, hingga Australia tropis dan Kaledonia Baru.

Daerah kepulauan barat Pasifik sampai Oseanian barat daya juga menjadi pusat penyebaran perapat. Karena itu, jangan heran bila tanaman ini khalayak kenal memiliki banyak julukan.

Di Tanah Air, pidada putih awam kenal sebagai bogem, bidada,pedada, kedada dan bangka. Sedangkan di Filipina, ia populer dengan julukan bunayon, palatpat, payan dan sebagainya.

Kegunaan dan Manfaat Pidada Putih

Pohon pidada putih merupakan area berkumpul kunang-kunang. Bunganya yang nokturnal berkembang sepanjang tahun, serta diserbuki oleh spesies ngengat, burung dan kelelawar.

Bagi masyarakat lokal, kayu perepat dikenal memiliki kualitas mumpuni. Kayunya awet jika terendam air laut, sehingga sering awam gunakan sebagai geladak sampai siku-siku perahu.

Di Minahasa, Sulawesi Utara, kayu pidada berwarna cokelat (muda/tua) publik manfaatkan sebagai material rumah. Sedangkan di Maluku, buahnya berguna sebagai bumbu masakan.

Walau kaya manfaat, kayu pidada putih terkenal mengandung garam yang tinggi. Karena itu ia dapat menimbulkan karat pada paku dan baut, jika kita gunakan sebagai bahan bangunan.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi S. alba berada pada level ‘least concern’ atau risiko rendah. Namun populasinya makin menurun, sehingga penting dilestarikan bersama-sama.

Baca juga: Xylocarpus Granatum, Spesies Bakau yang Kaya Manfaat

Taksonomi Spesies Sonneratia Alba

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pidada-putih-maskot-terbaru-hari-cinta-puspa-dan-satwa-nasional-2021/feed/ 0
Bakau Minyak, Penjaga Ekologis dan Sumber Ekonomi Warga https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-minyak-penjaga-ekologis-dan-sumber-ekonomi-warga/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bakau-minyak-penjaga-ekologis-dan-sumber-ekonomi-warga https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-minyak-penjaga-ekologis-dan-sumber-ekonomi-warga/#respond Sun, 17 Oct 2021 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34013 Bakau minyak atau Rhizophora apiculata adalah satu spesies Rhizophoraceae yang paling sering ahli temukan di Indonesia. Selain menjaga ekosistem pesisir laut, jenis flora ini juga jamak awam manfaatkan untuk berbagai […]]]>

Bakau minyak atau Rhizophora apiculata adalah satu spesies Rhizophoraceae yang paling sering ahli temukan di Indonesia. Selain menjaga ekosistem pesisir laut, jenis flora ini juga jamak awam manfaatkan untuk berbagai keperluan.

Di Tanah Air, populasi bakau R. apiculata terbilang sangat besar. Mereka tersebar ke hampir seluruh wilayah meliputi Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua.

Berkat distribusinya yang luas, tumbuhan ini dikenal memiliki banyak julukan seperti bakau tandok, bakau akik, serta bakau kacang karena tanda merah yang terdapat pada daunnya.

Spesies R. mangle, R. mucronata, R. racemose, dan R. stylosa adalah saudara terdekat bakau minyak. Kelimanya tergabung dalam ordo Malpighiales serta berasal dari genus Rhizophora.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bakau Minyak

Pohon bakau yang satu ini dapat tumbuh hingga setinggi 30 m dengan diameter batang 50 cm. Bentuk perakarannya terbilang cukup khas, serta dapat berbiak sampai setinggi 5 m.

Uniknya, kulit kayu bakau minyak yang berwarna abu-abu tua ternyata dapat berubah-ubah. Nah selain fakta tersebut, berikut ciri-ciri R. apiculata yang berhasil Greeners rangkum.

– Bentuk Daun

Daun bakau tandok terlihat memiliki kulit, warnanya hijau tua dengan corak hijau muda di bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Gagangnya tumbuh sepanjang 17-35 mm.

Letak daun tersebut tampak berlawanan, berbentuk elip menyempit, serta memiliki ujung runcing. Ukurannya berkisar 7-19 x 3,5-8 cm, dengan warna gagang yang agak kemerahan.

– Tampilan Bunga

Bunga bakau minyak tergolong biseksual dengan kepala berwarna kekuningan. Bagian ini umumnya terletak pada bagian gagangnya, serta mempunyai ukuran kurang dari 14 mm.

Jika kita perhatikan, satu kelompok bunga R. apiculata biasanya terdiri atas dua helai. Daun mahkotanya tumbuh sebenyak empat helai dengan corak kuning-putih dan tidak berambut.

Panjang mahkotanya tersebut mencapai 9-11 mm. Empat kelopak bunganya mempunyai warna kuning kecokelatan, berbentuk melengkung, serta dihiasi 11-12 helai benang sari.

– Deskripsi Buah

Bakau akik mampu menghasilkan buah yang berbentuk seperti pir. Permukaan sedikit kasar, berwarna cokelat dengan panjang 2-3,5 cm. Buah ini biasanya mengandung 1-2 biji fertile.

Hipokotilnya silindris, berbintil, serta mempunyai warna hijau jingga. Diameternya mencapai 1-2 cm dengan panjang 18-38cm. Leher kotilodon flora tersebut merah jika sudah matang.

Baca juga: Xylocarpus Granatum, Spesies Bakau yang Kaya Manfaat

Habitat dan Persebaran Bakau Minyak

Bakau minyak menyukai media tanah berlumpur, halus dan tergenang saat pasang normal. Pertumbuhan akarnya cukup dalam, sehingga sulit untuk berbiak pada substrat yang keras.

Tingkat dominasi mereka bisa mencapai 90 % dari total vegetasi yang tumbuh pada lokasi tersebut. Karena itu bila tidak dikontrol, pertumbuhannya akan berlangsung cukup pesat.

Bila kita bandingkan dengan tanaman air lainnya, proses pembiakkan flora ini sejatinya cukup lambat. Akan tetapi, pembungaannya sendiri dapat berlangsung sepanjang tahun.

Perlu Anda ketahui, kumbang dan kepiting bakau merupakan musuh R. apiculata. Kedua hewan itu menghambat pertumbuhan mereka dengan menyerang ujung dan kulit akarnya.

Melansir makalah Universitas Muhammadiyah Malang, populasi bakau minyak dapat kita jumpai mulai dari Sri Lanka, Malaysia, Indonesia, Australia Tropis, serta Kepulauan Pasifik.

Kegunaan dan Manfaat Bakau Minyak

Sejak dahulu kala, spesies bakau R. apiculata telah masyarakat manfaatkan untuk berbagai kebutuhan, misalnya seperti material bangunan, kayu bakar hingga bahan pembuat arang.

Merujuk berbagai sumber, kulit kayu tumbuhan ini juga mengandung zat tanin yang tinggi. Persentasenya bisa mencapai 30% sehingga berguna sebagai pewarna alami dan penyamak.

Untuk masyarakat pesisir, cabang akar bakau bahkan bermanfaat sebagai jangkar kapal. Cabang-cabang tersebut mereka anyam, lalu diikat menggunakan batu sebagai pemberat.

Pemanfaatan bakau minyak sebagai pelindung tambak juga sering khalayak praktikkan. Selain itu, banyak pula yang menjadikannya sebagai tanaman penghijau atau penghias.

Terlepas dari semua manfaat tersebut, hutan bakau seyogianya merupakan penyeimbang ekologis serta sumber pendapatan masyarakat. Karena itu, kelestariannya wajib kita jaga.

Baca juga: Avicennia Marina, Sumber Pangan dan Obat Masyarakat Pesisir

Klasifikasi Tumbuhan Bakau Minyak 

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bakau-minyak-penjaga-ekologis-dan-sumber-ekonomi-warga/feed/ 0
Ceriops Tagal, Tengar Kaya Zat Tanin untuk Pewarna Alami https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/#respond Fri, 15 Oct 2021 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=33983 Ceriops tagal atau biasa awam sebut sebagai tengar adalah sejenis tanaman bakau yang tergabung dalam famili Rhizophoraceae. Ia ahli sinyalir mengandung zat tanin yang tinggi, sehingga sering publik manfaatkan sebagai […]]]>

Ceriops tagal atau biasa awam sebut sebagai tengar adalah sejenis tanaman bakau yang tergabung dalam famili Rhizophoraceae. Ia ahli sinyalir mengandung zat tanin yang tinggi, sehingga sering publik manfaatkan sebagai pewarna alami.

Sejatinya, tengar adalah nama dari sekelompok tumbuhan yang berasal dari genus Ceriops. Di Tanah Air kelompok ini terdiri atas dua spesies, yakni Ceriops tagal dan Ceriops decandra.

Penampilan Ceriops decandra memang tampak lebih kecil daripada saudaranya. Namun ciri dan habitat keduanya terbilang tidak jauh berbeda, bahkan sering khalayak anggap serupa.

Tengar tagal terdistribusi hampir ke seluruh wilayah Nusantara. Ia masyarakat juluki dengan berbagai sebutan meliputi tangar, tengal, tengah, tingi, palun, parun, hingga bido-bido.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ceriops Tagal

Ceriops tagal tergolong sebagai tanaman berpohon kecil atau perdu. Mereka berkembang biak hingga setinggi 25 m, dengan batang menggelembung serta akar tunjang yang kecil.

Baik tengar tagal maupun decandra, keduanya memiliki daun tunggal dengan bentuk bulat telur. Ujungnya terlihat tumpul atau berlekuk dengan permukaan yang cenderung mengilap.

Ukuran daun tingi umumnya tidak lebih dari 4×10 cm. Terdapat daun penumpu berukuran kecil (sekitar 1,5-2,5 cm) yang lekas gugur, serta mampu meninggalkan bekas seperti cincin.

Bunganya tampak duduk atau bertangkai pendek, bagian ini tumbuh secara berkelompok dan terdiri dari 5-10 kuntum. Kelopaknya kehijauan dengan daun mahkota berwarna putih.

Ketika sudah tua, kedua bagian tersebut berubah warna jadi kecokelatan. Tangkai benang sari Ceriops tagal berukuran pendek, dengan proses pembungaan terjadi sepanjang tahun.

Pohon tengar juga memiliki buah berbentuk bulat telur, warnanya cokelat dengan ukuran rata-rata 2 cm. Hipokotilnya silindris, halus dan berbintil, ukurannya bisa mencapai 25 cm.

Habitat dan Distribusi Ceriops Tagal

Tengar jamak pakar temukan di daerah perairan payau pada zona pasang surut. Mereka berkembang biak di estuaria, perbatasan tambak, hingga area mangrove bagian dalam.

Tanah liat merupakan subtrat yang baik bagi spesies ini. Ia menyukai habitat bersalinitas tinggi, kering, serta sering ditemukan tertanam berdampingan dengan Ceriops decandra.

Melihat dari distribusinya, persebaran Ceriops tagal terbilang cukup luas. Flora berkelas Magnoliopsida ini bisa kita temukan di Madagaskar, Seychelles, India, hingga Maladewa.

Kawasan timur dan selatan Afrika, China, Indo-China, serta Malesia juga menjadi sentral distribusi flora ini. Mereka bahkan bisa kita jumpai di Papuasia sampai dengan Australia.

Di Indonesia tingi ahli temukan di Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Mereka tertanam di area pinggiran pantai, serta sering dimanfaatkan oleh warga untuk berbagai keperluan.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi Ceriops tagal berada pada level ‘least concern’ atau risiko rendah. Tren populasinya makin menurun sehingga penting untuk dilestarikan.

Pemanfaatan Spesies Ceriops Tagal

Selain menjaga ekosistem pesisir, manfaat tanaman tengar terbilang cukup banyak. Kayunya sering warga manfaatkan sebagai kayu bakar, sedang kulitnya diolah menjadi pewarna batik.

Kulit kayu tengar ahli sinyalir mengandung zat tanin sebesar 26,5%. Kandungan ini terhitung cukup tinggi, apalagi jika kita bandingkan dengan kayu avaram, hemlock, oak dan chestnut.

Tidak cuma itu, kayu spesies Ceriops tagal terbilang cukup kuat. Mereka bahkan lebih kokoh dari kayu hutan bakau lainnya, sehingga acap publik manfaatkan sebagai konstruksi rumah.

Di sejumlah daerah, kayu tingi publik maksimalkan sebagai bantalan rel kereta dan gagang perkakas. Karena itu, jangan heran jika produk olahan kayunya bernilai tinggi di pasaran.

Filipina adalah salah satu negara yang melestarikan flora ini. Di sana, tengar dimanfaatkan sebagai campuran fermentasi anggur kelapa, dengan cita rasa yang cukup pahit dan tajam.

Berkat campuran ekstrak tengar, minuman tradisional tersebut terlihat berwarna cokelat-oranye. Ini merupakan bukti, bahwa spesies Ceriops tagal memiliki zat tanin yang tinggi.

Taksonomi Jenis Tumbuhan Tengar

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ceriops-tagal-tengar-kaya-zat-tanin-untuk-pewarna-alami/feed/ 0
Avicennia marina, Sumber Pangan dan Obat Masyarakat Pesisir https://www.greeners.co/flora-fauna/avicennia-marina-sumber-pangan-dan-obat-masyarakat-pesisir/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=avicennia-marina-sumber-pangan-dan-obat-masyarakat-pesisir https://www.greeners.co/flora-fauna/avicennia-marina-sumber-pangan-dan-obat-masyarakat-pesisir/#respond Fri, 28 Feb 2020 12:32:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=26308 Avicennia marina atau pohon api-api merupakan jenis bakau sejati dan perintis. Ia banyak ditemukan di ekosistem mangrove paling luar atau dekat lautan.]]>

Kata mangrove berasal dari perpaduan antara bahasa Portugis yaitu mangue dan bahasa Inggris yaitu grove (MACNAE, 1968). Dalam bahasa Portugis, kata mangrove digunakan untuk jenis tumbuhan. Sementara kata mangal dipakai untuk komunitas hutan yang terdiri atas jenis bakau. Dalam bahasa Inggris, kata mangrove, dipergunakan untuk komunitas pohon-pohonan atau rumput-rumputan yang tumbuh di kawasan pesisir maupun jenis tumbuhan lain yang tumbuh berasosiasi dengannya.

Peneliti Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pramudji dalam tulisan ilmiahnya di Jurnal Oseana (2001), menyebut kata mangrove berasal dari bahasa Melayu-kuno, yaitu mangi-mangi. Istilah tersebut digunakan untuk menerangkan marga Avicennia. Sampai saat ini istilah tersebut masih digunakan untuk kawasan Maluku. Adapun bermacam istilah yang digunakan untuk menyebut hutan bakau atau mangrove, antara lain adalah coastal woodland, mangal, dan tidalforest (MACNAE 1968; WALSH 1974).

Baca juga: Keben, Kerabat Mangrove dengan Buah Unik

Di antara berbagai jenis tumbuhan mangrove, Avicennia marina atau dalam penamaan lokal disebut sebagai pohon api-api merupakan jenis bakau sejati dan perintis. Spesies ini banyak ditemukan di ekosistem mangrove paling luar atau dekat dengan lautan. Tanaman ini hidup di tanah berlumpur agak lunak atau dangkal. Dasarnya berpasir dengan sedikit bahan organik dan kadar garam tinggi. Spesies ini ditemukan di daerah hilir hingga pertengahan perairan payau. Contohnya di semua kawasan pasang surut berlumpur hampir mendekati pantai (Bengen, 2000).

Jenis mangrove ini berperan penting dalam menghasilkan berbagai produk kayu dan hasil hutan non kayu. Avicennia marina juga menunjang ketahanan pangan dan obat-obat tradisional bagi masyarakat pesisir serta menjaga keutuhan ekosistem mangrove (Wibowo dkk., 2009).

Avicennia marina

Avicennia marina atau Pohon Api-api. Foto: shutterstock.com

Avicennia marina biasa berasosiasi dengan jenis mangrove Rhizophora sp. Tumbuhan ini mempunyai akar napas, tumbuh dengan tegak, serta memiliki banyak cabang. Buahnya berbentuk seperti mangga, dengan ujung buah tumpul dan panjang satu sentimeter. Daunnya berbentuk elips dengan ujung tumpul. Panjang daunnya sekitar 7 sentimeter, lebar daun 3 sampai 4 sentimeter. Permukaan atas daun berwarna hijau mengilat dan permukaan bawah berwarna hijau abu-abu dan suram.

Sebagian besar dari tumbuhan mangrove digunakan sebagai bahan obat. Ekstrak dan bahan mentahnya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk dijadikan obat berbagai penyakit. Batang Avicennia marina, dijadikan obat rematik dan cacar. Getah kulit batangnya dijadikan obat sakit gigi, bagian buah dijadikan obat untuk sariawan (Bayu, 2009).

Mangrove sejati ini banyak mengandung senyawa aktif yang dapat dimanfaatkan secara maksimal. Daun dan kulit batang api-api mengandung senyawa aktif alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, glikosida, dan flavonoid yang sangat potensial digunakan sebagai antioksidan, antimikroba, antifungi, dan antibiotik (Wibowo et al., 2009). Golongan senyawa ini merupakan bahan obat-obatan modern (Eryanti, 1999).

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/avicennia-marina-sumber-pangan-dan-obat-masyarakat-pesisir/feed/ 0
Mapala UMN Gelar Diskusi Peduli Kelestarian Hidup Bahari https://www.greeners.co/aksi/mapala-umn-gelar-diskusi-peduli-kelestarian-hidup-bahari/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mapala-umn-gelar-diskusi-peduli-kelestarian-hidup-bahari https://www.greeners.co/aksi/mapala-umn-gelar-diskusi-peduli-kelestarian-hidup-bahari/#respond Fri, 24 Apr 2015 08:13:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8702 Jakarta (Greeners) – Selain terkenal sebagai negara kepulauan, Indonesia juga disebut sebagai negara maritim. Jelas terlihat dari sebagian besar wilayah Indonesia yang terdiri dari laut. Kehidupan bahari tersebut yang kemudian […]]]>

Jakarta (Greeners) – Selain terkenal sebagai negara kepulauan, Indonesia juga disebut sebagai negara maritim. Jelas terlihat dari sebagian besar wilayah Indonesia yang terdiri dari laut. Kehidupan bahari tersebut yang kemudian menjadi peluang besar bagi ekonomi Indonesia. Bukan hanya mengundang wisatawan lokal, Indonesia berhasil menarik wisatawan mancanegara untuk datang dan menikmati keindahan laut. Hal ini pula yang menjadi tantangan ekologis bagi Indonesia. Apakah Indonesia mampu mengelolah pariwisata dengan menjaga kelestarian sumber daya alam dan meminimalisir dampak lingkungan dari sektor ini?

Melihat masih banyak yang kurang peduli untuk terjun langsung melestarikan kehidupan bahari di Indonesia, Mapala UMN yang tergabung dalam Aktivis Alam mengadakan forum diskusi yang bertemakan “Generasi Muda Wujudkan Keselarasaan Hidup Bahari Indonesia”. Forum ini diadakan bertepatan dengan Hari Bumi, yaitu tanggal 22 April 2015.

Forum ini diharapkan dapat mengedukasi Aktivis Alam mengenai perkembangan bahari di Indonesia. Bukan hanya itu, Aktivis Alam juga diajak untuk bersama-sama membangun kehidupan bahari menjadi lebih baik di masa depan.

Kegiatan yang digelar di Lecture Hall di Universitas Multimedia Nusantara tersebut menghadirkan Hendra Yusran Siry (Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil), Dithi Sofia (Putri Bahari 2012), dan Muhammad Salim (Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan) sebagai pembicara.

Dalam forum diskusi dijelaskan pula mengenai tanaman bakau dan cara penanaman yang tepat di Kepulauan Seribu. Hal ini dimaksudkan sebagai gambaran dan pengetahuan dasar bagi Aktivis Alam yang akan melakukan penanaman bakau di Pulau Karya tanggal 26 April 2015 mendatang.

(*)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/mapala-umn-gelar-diskusi-peduli-kelestarian-hidup-bahari/feed/ 0
Universitas Widyagama “Sedekah” Oksigen di Ekowisata Kondang Merak https://www.greeners.co/aksi/universitas-widyagama-sedekah-oksigen-di-ekowisata-kondang-merak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=universitas-widyagama-sedekah-oksigen-di-ekowisata-kondang-merak https://www.greeners.co/aksi/universitas-widyagama-sedekah-oksigen-di-ekowisata-kondang-merak/#respond Sat, 04 Apr 2015 06:48:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8403 Malang (Greeners) – Kawasan ekowisata Pantai Kondang Merak di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, diserbu ratusan “penduduk” Universitas Widyagama, Malang. Mereka menggelar “sedekah” oksigen dengan menanam […]]]>

Malang (Greeners) – Kawasan ekowisata Pantai Kondang Merak di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur, diserbu ratusan “penduduk” Universitas Widyagama, Malang. Mereka menggelar “sedekah” oksigen dengan menanam pohon bakau di kawasan estuary serta menanam terumbu karang. Para peserta yang terdiri dari rektor, dosen, karyawan, sopir ini juga melancarkan operasi semut atau bersih-bersih sampah plastikdi sepanjang pantai.

“Yang kita lakukan ini adalah sedekah oksigen dengan menanam pohon bakau yang sangat penting bagi upaya konservasi pantai,” kata Koordinator acara, Purnawan D. Negara, Rabu (1/4/2015).

Menurut Purnawan, yang juga selaku dosen hukum lingkungan, pohon mangrove atau bakau sangat berguna untuk mencegah abrasi serta memfilter air sungai yang masuk ke laut. Pohon ini juga berfungsi menahan angin serta ombak laut sehingga bisa menjadi pelindung bagi warga kampung nelayan atau warga pesisir.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati ulang tahun kampus ini juga termasuk menanam terumbu karang di tempat yang disediakan bagi setiap pengunjung wisata pantai Kondang Merak. Sebab, kondisi terumbu karang di kawasan ekowisata ini perlu dikembangkan dan dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem di laut.

Kegiatan ini juga didukung oleh Sahabat Alam (Salam) yang peduli untuk membina dan menjaga kawasan ekowisata Kondang Merak sejak belasan tahun lalu. Para peserta yang ingin menanam terumbu karang terlebih dulu diterangkan cara membuat media tanam untuk terumbu karang dan metode penanamannya. Baru setelah itu diajak ke lepas pantai dengan membawa terumbu karang yang sudah siap tanam untuk di tempatkan di lokasi yang telah di sediakan.

Foto: greeners.co

Foto: greeners.co

Menurut Andik Syaifudin, Koordinator Salam, kondisi terumbu karang di kawasan pantai Kondang Merak sejak beberapa tahun sudah mulai membaik dengan banyaknya komunitas maupun pengunjung yang peduli terhadap lingkungan. Mereka mulai menyadari pertumbuhan terumbu karang yang butuh waktu lama namun mempunyai peran penting bagi keseimbangan ekosistem laut. “Pengunjung juga bisa menuliskan namanya di terumbu karang yang ditanam,” ujar Andik.

Kepala Resort Pemangku Hutan setempat, Sarbini, menambahkan, lokasi ekowisata Kondang Merak memang berada di kawasan hutan lindung Perhutani yang memiliki luasan sekitar 1.900-an hektare untuk hutan lindungnya. Menurutnya, hutan lindung di wilayah ini juga akan dijadikan lokasi pelepasan lutung jawa yang rencananya akan dilakukan pada bulan April 2015. “Mudah-mudahan acara penanaman ini juga diagendakan pemantauan sehingga perawatannya tetap terjaga,” ujarnya.

Penulis: HI/G17

]]>
https://www.greeners.co/aksi/universitas-widyagama-sedekah-oksigen-di-ekowisata-kondang-merak/feed/ 0
Bekasi Berkebun dan Save Mugo Tanam Bakau di Muara Gembong https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/#comments Fri, 27 Mar 2015 09:42:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8322 Jakarta (Greeners) – Masalah pengikisan daratan di wilayah pesisir pantai oleh gelombang air laut atau yang lebih dikenal dengan nama abrasi pantai kian hari semakin tidak tertahankan. Berbagai tindakan penyelamatan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Masalah pengikisan daratan di wilayah pesisir pantai oleh gelombang air laut atau yang lebih dikenal dengan nama abrasi pantai kian hari semakin tidak tertahankan. Berbagai tindakan penyelamatan terhadap daerah pesisir pun telah banyak dilakukan oleh pemerintah, industri (melalui program Corporate Social Responcibility atau CSR), maupun masyarakat yang memang peduli dan tergerak untuk melakukan penyelamatan lingkungan.

Komunitas Bekasi Berkebun juga tak ketinggalan. Komunitas ini melakukan aksi tanam 700 bakau di daerah pesisir yang kondisinya kian memprihatinkan di Kampung Muara Beting, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Humas Bekasi Berkebun, Annisa Paramita dalam keterangan tertulisnya menyatakan, kegiatan menanam 700 Bakau untuk Muara Gembong yang diinisiasi oleh komunitas Bekasi Berkebun ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas agar lebih peka dengan lingkungan terutama masalah abrasi.

“Muara Gembong merupakan bagian dari Kota Bekasi, maka sudah sepatutnya kami dan masyarakat lainnya lebih peduli tentang masalah abrasi ini. Melalui kegiatan ini juga kami berharap agar lebih banyak lagi komunitas atau bahkan pemerintah daerah yang melakukan perbaikan untuk masyarakat di sana,” jelasnya, Jakarta, Jumat (27/03).

Foto : Bekasi Berkebun

Foto : Bekasi Berkebun

Aksi tanam bakau yang dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015 lalu ini, lanjut Annisa, juga melibatkan relawan Save Mugo (Save Muara Gembong) dalam pelaksanaannya. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat perhatian dari PT Indosurance yang akhirnya menjadikan kegiatan tanam bakau tersebut sebagai program CSR bagi perusahaan mereka.

Menurut Annisa, penanaman 700 bakau bukanlah suatu jumlah yang fantantis karena yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat luas, khususnya kepada masyarakat Bekasi, bahwa Muara Gembong merupakan bagian dari Bekasi dan kondisinya yang memprihatinkan membutuhkan banyak perhatian dari segala lapisan terutama dari pemerintah daerah.

“Seperti yang menjadi keinginan komunitas Bekasi Berkebun dan juga gerakan Save Mugo, harapannya ke depan Muara Gembong lebih baik lagi dengan adanya aksi penanaman bakau ini dan mari bersama membangun Bekasi yang lebih baik dan juga hijau,” tandasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/bekasi-berkebun-dan-save-mugo-tanam-bakau-di-muara-gembong/feed/ 1
OXYEAN Plant Ajak Masyarakat Lestarikan Mangrove dan Koral https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/#respond Tue, 24 Mar 2015 07:51:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8285 Jakarta (Greeners) – London School of Public Relation melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Climate Change Champions Club (LSPR 4C) mengadakan kegiatan bertajuk “OXYEAN Plant Sea Coral and Mangrove Planting”. Kegiatan yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – London School of Public Relation melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Climate Change Champions Club (LSPR 4C) mengadakan kegiatan bertajuk “OXYEAN Plant Sea Coral and Mangrove Planting”. Kegiatan yang merupakan rangkaian ketiga dalam kampanye Environment Month 2015 di lingkungan LSPR tersebut mengajak masyarakat agar lebih peduli akan kelangsungan kehidupan biota laut.

Media Relations LSPR 4C, Ismi Iman menyatakan bahwa kegiatan OXYEAN Plant dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan ekosistem laut dengan melakukan penanaman seribu mangrove dan adopsi baby coral di dasar laut. Kegiatan penanaman mangrove tersebut dilakukan di wilayah pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu, 21Maret 2015 lalu.

Koral yang akan dikembangbiakan oleh mahasiswa LSPR 4C. Foto: dok. LSPR 4C

Koral yang akan dikembangbiakan oleh mahasiswa LSPR 4C. Foto: dok. LSPR 4C

Eksploitasi yang berlebihan pada ekosistem laut saat ini, lanjutnya, menjadi isu kritis. Oleh karena itu, mahasiswa LSPR Jakarta yang tergabung dalam LSPR 4C melakukan aksi nyata untuk melestarikan koral dan membudidayakan mangrove untuk potensi masa depan yang lebih baik.

“Melalui Oxyean Plant, LSPR 4C mengajak masyarakat terutama yang tinggal di kawasan Pulau Harapan untuk memelihara dan melestarikan ekosistem laut, mengendalikan abrasi, serta membantu perkembangbiakan biota laut,” jelas Ismi seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (23/03).

Sejak tahun 2009 hingga saat ini, LSPR 4C berhasil menanam 20.000 pohon mangrove dan total adopsi koral dari tahun 2014 sudah mencapai 1.400 koral.

Peserta kegiatan OXYEAN Plant "Sea Coral and Mangrove Planting" berfoto bersama usai menanam mangrove dan koral di pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu (21/03) lalu. Foto: dok. LSPR 4C

Peserta kegiatan OXYEAN Plant “Sea Coral and Mangrove Planting” berfoto bersama usai menanam mangrove dan koral di pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu (21/03) lalu. Foto: dok. LSPR 4C

Sebagai informasi, LSPR 4C adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa dari LSPR yang memfokuskan diri pada kegiatan lingkungan. Berdiri sejak tahun 2009, telah banyak aktifitas lingkungan yang dilakukan oleh LSPR 4C. Misalnya saja kegiatan Mangrovement (penanaman bakau), pengumpulan kertas bekas untuk didaur ulang, kampanye diet plastik dan 3R (reduce, reuse, recycle), dan masih banyak lagi.

Think Green, Act Green, Start From Our Hands” merupakan tagline yang selalu dengan bangga diteriakkan oleh para Agent of Change, sebutan untuk anggota LSPR 4C.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/feed/ 0
30 Hari untuk “Menghijaukan” Bumi https://www.greeners.co/aksi/30-hari-untuk-menghijaukan-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=30-hari-untuk-menghijaukan-bumi https://www.greeners.co/aksi/30-hari-untuk-menghijaukan-bumi/#respond Tue, 27 Jan 2015 09:18:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=7180 Jakarta (Greeners) – London School of Public Relations Climate Change Champions Club (LSPR 4C), sebuah unit kegiatan mahasiswa dalam STIKOM London School of Public Relations (LSPR), Jakarta akan menggelar acara […]]]>

Jakarta (Greeners) – London School of Public Relations Climate Change Champions Club (LSPR 4C), sebuah unit kegiatan mahasiswa dalam STIKOM London School of Public Relations (LSPR), Jakarta akan menggelar acara tahunan bernama Environment Month. Acara yang akan diadakan pada Maret 2015 ini mengangkat tema “Oxygen” dan akan melakukan berbagai kegiatan penghijauan dan aksi ramah lingkungan selama satu bulan penuh.

Environment Month 2015 akan dimulai dengan 3R3H (Reduce, Reuse, and Recycle in 3 Hours) pada Selasa, 3 Maret 2015. “Menandai bulan lingkungan tersebut, LSPR akan menambah jumlah dispenser di lingkungan kampus agar mahasiswa terdorong untuk membawa botol minum mereka sendiri,” ungkap Nadilla Marsha, salah satu panitia LSPR 4C dalam rilis yang diterima Greeners (22/01).

Masih dalam minggu yang sama, LSPR 4C akan menanam 400 pohon di Gunung Halimun Salak dalam acara OXYPLANT.

Foto: dok. LSPR

OXYMOB merupakan acara yang akan diadakan pada minggu kedua. Dalam aksi ini, anggota dari LSPR 4C akan mengampanyekan green lifestyle melalui aksi flashmob. “Bentuk kampanye yang unik ini bertujuan agar masyarakat lebih memperhatikan dan mengingat pesan yang ingin disampaikan oleh LSPR 4C,” jelas Nadilla.

Pada minggu ketiga, LSPR 4C akan melaksanakan OXYEAN PLANT, yang merupakan aksi menanam pohon bakau dan terumbu karang. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk menyadari bahwa masalah lingkungan tidak hanya terjadi di daratan, namun juga terjadi di lautan.

Sebagai acara puncak, OXYBIKE akan dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Maret. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi pencemaran udara yang disimbolisasikan dengan bersepeda. Aksi bersepeda ini nantinya akan dilakukan pada sore hingga malam hari.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/30-hari-untuk-menghijaukan-bumi/feed/ 0
Donasi Mangrove Untuk Pulihkan Ekosistem Muara Gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/#respond Sun, 25 Jan 2015 10:00:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_community_act&p=7158 Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh […]]]>

Bekasi (Greeners) – Hutan mangrove yang terletak di pesisir utara Kota Bekasi, tepatnya di Muara Gembong sudah mulai mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan wilayah pesisir tersebut sebagian disebabkan oleh pembukaan ekosistem mangrove menjadi areal pertambakan, pemukiman, industri, dan lainnya. Ditambah lagi dengan fenomena abrasi pantai, di mana tercatat pada tahun 2014 lalu ada lebih dari 400 hektar daerah pesisir utara Bekasi tersebut terkena abrasi.

Atas dasar kepedulian terhadap rusaknya ekosistem mangrove tersebut, Annisa Paramitha, Humas dari komunitas Bekasi Berkebun, mengungkapkan bahwa gerakan “700 Pohon Bakau untuk Muara Gembong” diharapkan mampu membantu memulihkan ekosistem mangrove Muara Gembong yang semakin hari semakin menghilang itu.

Perempuan yang akrab disapa Nissa ini menyatakan memang sebelumnya telah banyak perusahaan yang melakukan gerakan penanaman ribuan pohon melalui program corporate social responsibility (CSR). Namun, menurutnya, tidak ada kontrol berkelanjutan setelah penanaman tersebut.

“Di sini kami mencoba mengajak masyarakat melakukan donasi untuk gerakan 700 pohon untuk Muara Gembong. Kenapa 700, karena kami mau memulai dari hal yang bisa kami kontrol keberlanjutannya nanti,” jelas Nissa saat berbincang ringan dengan Greeners, Bekasi, Minggu (25/01).

Selain itu, lanjutnya, aksi yang dilakukan bersama dengan Save Muara Gembong (Save Mugo) dan komunitas Waste4Change ini juga dilakukan untuk menyelamatkan Muara Gembong dari berbagai macam ancaman bencana ekologi seperti banjir yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Gerakan yang akan dilakukan pada tanggal 21 Maret 2015 mendatang tersebut, tambah Nissa, juga akan diisi dengan edukasi pengolahan sampah dari komunitas Waste4Change dan penggalangan dana yang bisa dilihat di situs www.ayopeduli.com.

“Gerakan ini hanya sedikit ide untuk menyelamatkan Muara Gembong dari bencana ekologi yang mungkin sewaktu-waktu bisa terjadi karena rusaknya alam di sana,” ujarnya.

Sebagai informasi, hampir dari sepertiga penduduk Muara Gembong tinggal di pinggir pantai, dan dari wilayah itu pula, sepertiganya kini sudah “hilang” akibat terkena abrasi pantai. Jika musim air laut pasang, ketinggian ombak bisa mencapai 1-2 meter dengan radius berkisar 300 meter ke arah darat. Tak jarang banyak rumah yang rusak karena hempasan ombak tersebut.

Salah satu dari tiga desa yang berada di pesisir pantai adalah Desa Pantai Mekar yang dihuni oleh 600 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan. Sebanyak 200 dari 600 KK tersebut, sudah pindah ke daerah lain akibat bangunan rumah mereka yang terletak persis di pinggir pantai, hilang terkena abrasi.

Selain Desa Pantai Mekar, masih ada dua desa yang juga terkena abrasi. Kedua desa itu adalah Desa Pantai Bakti dan Desa Pantai Bahagia.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/donasi-mangrove-untuk-pulihkan-ekosistem-muara-gembong/feed/ 0
Selamatkan Mangrove Indonesia, Kembalikan Kejayaan Negeri https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selamatkan-mangrove-indonesia https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/#respond Mon, 19 May 2014 06:40:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=4647 Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan ( KIARA ) mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut serta melestarikan Mangrove. Ajakan ini disampaikan dalam acara Festival Negeri Bahari pada Sabtu (10/5) yang mengangkat tema […]]]>

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan ( KIARA ) mengajak masyarakat Indonesia untuk ikut serta melestarikan Mangrove. Ajakan ini disampaikan dalam acara Festival Negeri Bahari pada Sabtu (10/5) yang mengangkat tema “Mengembalikan Kejayaan Negeri Bahari”.

Berdasarkan catatan KIARA, luasan hutan mangrove di Indonesia terus menyusut. Tahun 2009 tercatat luas mangrove di Indonesia 1,9 juta hektare. Padahal pada 1982 luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare. Pusat Data dan Informasi KIARA mendapati fakta bahwa konversi hutan mangrove menjadi kawasan reklamasi, perkebunan sawit, tambang pasir dan ekspansi tambak udang telah menggerus keberadaan mangrove. Hal ini juga berdampak pada menyusutnya jumlah nelayan dari 3,3 juta orang di tahun 2007 menjadikanya 2,7 orang di tahun 2013.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, dalam rangka meningkatkan kepedulian penanaman mangroove di Indonesia. KIARA meluncurkan “Gerakan Turun Tangan Selamatkan Mangrove Indonesia”. Gerakan yang diluncurkan pada pelaksanaan Festival Negeri Bahari ini berupa gerakan donasi untuk penanaman bibit mangroove di daerah Indramayu Jawa Barat.

Ketua Pelaksana Festival Negeri Bahari, Selamet Daroyni mengatakan bahwa mangrove adalah elemen yang paling penting bagi masyarakat nelayan dan sekaligus sebagai banteng penahan abrasi pantai. “Hanya dengan mendonasikan uang sebesar Rp.10.000 melalui gerakan ini, berarti masyarakat telah ikut menanam 1 batang pohon mangrove yang akan tumbuh di Blok Karang Mulya RT.01 RW 01, Desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat.” jelas Selamet.

Festival Negeri Bahari Sabtu lalu itu juga diramaikan oleh berbagai kegiatan mulai dari pameran kuliner dan sandang khas pesisir, demo masak olahan khas pesisir bersama Perempuan Nelayan Indonesia serta Rembug Pangan Pesisir.

(G30)

]]>
https://www.greeners.co/berita/selamatkan-mangrove-indonesia/feed/ 0
Ekosistem Mangrove Dunia Terancam https://www.greeners.co/news/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekosistem-mangrove-dunia-terancam https://www.greeners.co/news/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/#respond Mon, 03 May 2010 13:49:45 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1457

Lebih dari enam spesies Mangrove (rhizophora apiculata) di dunia terancam punah akibat pembangunan pesisir dan faktor lainnya, seperti perubahan iklim, pembalakan, dan pertanian. Hal ini diutarakan dalam laporan penelitian pada jurnal ilmiah, PLoS ONE.

Penelitian ini dilakukan oleh Global Marine Species Assessment (GMSA), sebuah inisiatif kerjasama antara lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Conservation International.

Hasil penelitian tersebut jadi informasi dalam susunan daftar merah spesies terancam versi IUCN. Berdasarkan laporan itu sekitar 11 dari 70 jenis mangrove yang ada di dunia telah tercantum dalam daftar merah spesies terancam.

Mangrove atau bakau adalah bagian vital dari ekosistem pesisir. Hutan bakau melindungi pesisir dari kerusakan akibat gelombang ombak arus laut. Selain itu, hutan bakau juga jadi rumah bagi ikan dan spesies lainnya di pesisir, juga sebagai sumber nutrisi dan membantu sedimen untuk habitat laut perairan pantai lainnya, seperti padang lamun dan terumbu karang.

Hutan bakau pun memiliki kemampuan menakjubkan dalam menyerap karbon dari atsmosfir.

“Potensi hilangnya spesies ini adalah gejala kerusakan luas dan eksploitasi hutan mangrove,” kata Beth Polidoro, peneliti GMSA dari Old Dominion University, AS dalam rilis IUCN.

“Mangrove salah satu bentuk habitat tropis yang paling penting yang mendukung banyak spesies, dan kerugian mereka dapat berpengaruh luas pada keanekaragaman hayati laut dan darat,” tambahnya.

Hutan mangrove tumbuh di pesisir pantai daerah tropis dan subtropis, dan berfungsi sebagai pembatas antara ekosistem darat dan ekosistem laut. IUCN menghitung setidaknya hutan mangrove mampu menyediakan jasa ekosistem senilai US $ 1,6 miliar tiap tahun.

Perlindungan mendesak diperlukan untuk dua jenis mangrove yang terdaftar sebagai spesies sangat terancam punah, yaitu Sonneratia dan Bruguiera hainesii griffithii. Hal ini berdasarkan perhitungan kemungkinan kepunahan IUCN Red List.

Sonneratia griffithii ditemukan di India dan Asia Tenggara. Di wilayah ini diperkirakan 80 persen dari seluruh kawasan mangrove telah hilang selama 60 tahun terakhir. Bruguiera hainesii adalah spesies langka yang hanya tumbuh di beberapa lokasi tertentu di Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Singapura dan Papua Nugini.

Wakil Presiden Senior Program Kelautan di Conservation International, Greg Stone mengutarakan hilangnya hutan bakau akan memiliki konsekuensi merusak lingkungan juga ekonomi. “Ekosistem ini (mangrove) tidak hanya jadi komponen vital dalam upaya memerangi perubahan iklim, tetapi mereka juga melindungi beberapa orang di dunia yang paling rentan dari cuaca ekstrim dan menyediakan mereka sumber makanan serta penghasilan,” tandas Greg. (IUCN)

]]>
https://www.greeners.co/news/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/feed/ 0
Ekosistem Mangrove Dunia Terancam https://www.greeners.co/berita/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ekosistem-mangrove-dunia-terancam https://www.greeners.co/berita/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/#respond Mon, 03 May 2010 13:49:45 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=1457

Lebih dari enam spesies Mangrove (rhizophora apiculata) di dunia terancam punah akibat pembangunan pesisir dan faktor lainnya, seperti perubahan iklim, pembalakan, dan pertanian. Hal ini diutarakan dalam laporan penelitian pada jurnal ilmiah, PLoS ONE.

Penelitian ini dilakukan oleh Global Marine Species Assessment (GMSA), sebuah inisiatif kerjasama antara lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan Conservation International.

Hasil penelitian tersebut jadi informasi dalam susunan daftar merah spesies terancam versi IUCN. Berdasarkan laporan itu sekitar 11 dari 70 jenis mangrove yang ada di dunia telah tercantum dalam daftar merah spesies terancam.

Mangrove atau bakau adalah bagian vital dari ekosistem pesisir. Hutan bakau melindungi pesisir dari kerusakan akibat gelombang ombak arus laut. Selain itu, hutan bakau juga jadi rumah bagi ikan dan spesies lainnya di pesisir, juga sebagai sumber nutrisi dan membantu sedimen untuk habitat laut perairan pantai lainnya, seperti padang lamun dan terumbu karang.

Hutan bakau pun memiliki kemampuan menakjubkan dalam menyerap karbon dari atsmosfir.

“Potensi hilangnya spesies ini adalah gejala kerusakan luas dan eksploitasi hutan mangrove,” kata Beth Polidoro, peneliti GMSA dari Old Dominion University, AS dalam rilis IUCN.

“Mangrove salah satu bentuk habitat tropis yang paling penting yang mendukung banyak spesies, dan kerugian mereka dapat berpengaruh luas pada keanekaragaman hayati laut dan darat,” tambahnya.

Hutan mangrove tumbuh di pesisir pantai daerah tropis dan subtropis, dan berfungsi sebagai pembatas antara ekosistem darat dan ekosistem laut. IUCN menghitung setidaknya hutan mangrove mampu menyediakan jasa ekosistem senilai US $ 1,6 miliar tiap tahun.

Perlindungan mendesak diperlukan untuk dua jenis mangrove yang terdaftar sebagai spesies sangat terancam punah, yaitu Sonneratia dan Bruguiera hainesii griffithii. Hal ini berdasarkan perhitungan kemungkinan kepunahan IUCN Red List.

Sonneratia griffithii ditemukan di India dan Asia Tenggara. Di wilayah ini diperkirakan 80 persen dari seluruh kawasan mangrove telah hilang selama 60 tahun terakhir. Bruguiera hainesii adalah spesies langka yang hanya tumbuh di beberapa lokasi tertentu di Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Singapura dan Papua Nugini.

Wakil Presiden Senior Program Kelautan di Conservation International, Greg Stone mengutarakan hilangnya hutan bakau akan memiliki konsekuensi merusak lingkungan juga ekonomi. “Ekosistem ini (mangrove) tidak hanya jadi komponen vital dalam upaya memerangi perubahan iklim, tetapi mereka juga melindungi beberapa orang di dunia yang paling rentan dari cuaca ekstrim dan menyediakan mereka sumber makanan serta penghasilan,” tandas Greg. (IUCN)

]]>
https://www.greeners.co/berita/ekosistem-mangrove-dunia-terancam/feed/ 0