bambu - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/bambu/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 20 Sep 2025 05:23:18 +0000 id hourly 1 Besarnya Potensi Bambu untuk Penggerak Ekonomi dan Target Iklim https://www.greeners.co/berita/besarnya-potensi-bambu-untuk-penggerak-ekonomi-dan-target-iklim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=besarnya-potensi-bambu-untuk-penggerak-ekonomi-dan-target-iklim https://www.greeners.co/berita/besarnya-potensi-bambu-untuk-penggerak-ekonomi-dan-target-iklim/#respond Sun, 21 Sep 2025 03:00:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47356 Jakarta (Greeners) – Bambu merupakan tumbuhan dengan potensi besar sebagai solusi lingkungan dan penggerak ekonomi. Namun, produktivitasnya di Indonesia masih tergolong rendah. Perlu optimalisasi agar bambu dapat berkembang menjadi komoditas […]]]>

Jakarta (Greeners) – Bambu merupakan tumbuhan dengan potensi besar sebagai solusi lingkungan dan penggerak ekonomi. Namun, produktivitasnya di Indonesia masih tergolong rendah. Perlu optimalisasi agar bambu dapat berkembang menjadi komoditas unggulan.

Saat ini, mayoritas pasokan masih mengandalkan bambu alam dengan hasil panen rata-rata hanya sekitar 2–6 ton per hektare. Padahal, bambu memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO₂) yang sangat tinggi, bahkan 1–2 kali lebih besar dibandingkan pohon kayu.

Keunggulan tersebut menjadikan bambu sebagai salah satu tanaman kunci dalam mitigasi perubahan iklim. Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH),  Haruki Agustina mengakui bahwa bambu punya peran penting dalam mendukung target iklim nasional.

“Target National Determined Contribution (NDC) Indonesia tahun 2030 adalah menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri. Bambu dapat berperan penting melalui kapasitasnya sebagai carbon sink, sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem dan sosial di tingkat lokal,” kata Haruki dalam kegiatan Forum Bumi di Jakarta, Kamis (18/9).

Menurut Haruki, dalam ranah industri, peluang ekonomi dari bambu juga sangat menjanjikan. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa pasar global produk berbasis bambu diproyeksikan tumbuh dari USD 74 miliar pada 2024 menjadi USD 118,3 miliar pada 2034.

Indonesia saat ini berada di peringkat 12 besar dunia dengan pangsa pasar sebesar 0,9%. Pertumbuhan pasar produk bambu nasional diprediksi meningkat rata-rata 6,2% setiap tahun pada periode 2020–2028. Keunggulan lain, bambu tumbuh jauh lebih cepat dibanding kayu. Dalam 3–5 tahun bambu sudah dewasa dan dapat dipanen dalam kurun 4–7 tahun.

“Artinya, bambu mampu menjawab kebutuhan bahan baku berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah di pasar global,” tambah Haruki.

Selain itu, bambu juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan. Salah satunya melalui pengolahan menjadi biochar, yang memiliki berbagai manfaat ekologis.

Besarnya potensi bambu untuk penggerak ekonomi dan target iklim. Foto: Freepik

Besarnya potensi bambu untuk penggerak ekonomi dan target iklim. Foto: Freepik

Bambu Penopang Ketahanan Nasional

Tak hanya penting secara ekologis dan ekonomi, bambu juga merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus penopang ketahanan nasional. Di Indonesia, ada sekitar 175 jenis bambu dan 50 persen di antaranya endemik.

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Keanekaragayaman Hayati (Kehati), Rika Anggraini mengatakan bahwa sejak 2012 pihaknya terus mendukung pelestarian bambu berbasis masyarakat di Jawa Barat, Bali Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dengan besarnya potensi bambu di Indonesia, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian menilai bahwa bambu bisa mendukung transformasi industri hijau.

“Bambu dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, mulai dari furnitur, tekstil, hingga material ramah lingkungan yang dapat bersaing di pasar global,” ungkapnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/besarnya-potensi-bambu-untuk-penggerak-ekonomi-dan-target-iklim/feed/ 0
Bambu Raksasa, Terbesar di Dunia Tingginya Bisa Capai 42 Meter https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-raksasa-terbesar-di-dunia-tingginya-bisa-capai-42-meter/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bambu-raksasa-terbesar-di-dunia-tingginya-bisa-capai-42-meter https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-raksasa-terbesar-di-dunia-tingginya-bisa-capai-42-meter/#respond Fri, 03 Mar 2023 03:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39180 Bambu raksasa atau sembilang (Dendrocalamus giganteus) merupakan bambu terbesar yang ada di dunia. Tak hanya buluhnya yang besar, famili Poaceae ini juga memiliki rumpun yang besar. Secara alamiah, spesies ini […]]]>

Bambu raksasa atau sembilang (Dendrocalamus giganteus) merupakan bambu terbesar yang ada di dunia. Tak hanya buluhnya yang besar, famili Poaceae ini juga memiliki rumpun yang besar.

Secara alamiah, spesies ini berasal dari Myanmar dan Thailand. Di daerah asalnya tersebut, tumbuhan ini masyarakat manfaatkan untuk tempat mengambil air.

Pemanfaatan lain yakni untuk konstruksi bangunan dan perumahan, pipa air, cinderamata, hingga bahan perlengkapan rumah.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum 

Bambu ini sangat tinggi, berbatang besar dan berwarna hijau keabu-abuan. Mereka tumbuh mencapai ketinggian hingga 30 meter. Namun, satu rumpun di Arunachal Pradesh, India hingga mencapai 42 meter.

Pertumbuhan bambu ini sangat cepat, hingga 40 sentimeter per hari. Rekor untuk spesies ini yakni dapat tumbuh 46 sentimeter dalam 24 jam ditetapkan pada 29-30 Juli 1903 di Peradeniya Royal Botanical Gardens di Ceylon (Sri Lanka).

Batangnya lurus dan berwarna hijau keabu-abuan dan menjadi hijau kecokelatan saat kering. Tunas muda berwarna ungu kehitaman.

Panjang ruasnya mencapai 25-40 sentimeter dengan diameter 10-35 sentimeter. Dinding batangnya tipis, bercabang hanya di bagian atas.

Saat muda, selubung batang berwarna kehijauan dan berubah menjadi cokelat tua saat dewasa. Sarungnya besar dan lebar dengan panjang 24 hingga 30 sentimeter dengan lebar 40 hingga 60 sentimeter.

Bagian bilahnya berbentuk segitiga dengan panjang 7 hingga 10 sentimeter. Bagian atas sarungnya membulat.

Habitat dan Distribusi Penyebaran

Habitat spesies ini berada di hutan dan tepi sungai dari permukaan laut hingga ketinggian 2.000 meter. Spesies ini berasal dari India, Myanmar, Thailand dan Provinsi Yunnan di China.

Di Kebun Raya Bogor, tumbuhan bambu ini berbunga setelah 30 tahun. Usai berbunga mereka akan berangsur-angsur mati.

Pemanfaatan Bambu Raksasa

Merujuk strukturnya yang besar dan juga cabangnya, tumbuhan ini berpotensi sebagai bahan bangunan. Buluhnya yang besar dan tegak bisa untuk tiang rumah tradisional yang cukup kuat.

Sementara batang mudanya (rebung) dapat kita makan. Penanaman dalam jumlah banyak dan bergerombol dapat berfungsi untuk mengurangi erosi tanah.

Taksonomi Bambu Raksasa (Dendrocalamus giganteus)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-raksasa-terbesar-di-dunia-tingginya-bisa-capai-42-meter/feed/ 0
Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serat-bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/#respond Mon, 21 Dec 2020 10:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9363 Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?]]>

Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?

Bambu adalah flora yang pertumbuhannya cepat, maka dari itu sangat masuk akal apabila menjadi bahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Namun, praktik budidaya bambu skala besar erat kaitannya dengan sejumlah masalah lingkungan, dan proses untuk mengubah serat bambu menjadi kain sangat intensif secara kimiawi. Masalah ini menimbulkan pertanyaan apakah kain bambu benar-benar bahan yang ramah lingkungan?

Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode

Jenis Bambu untuk Kain

Tumbuhan bambu biasa kita temukan di Cina, Taiwan, Jepang, dan bagian Asia lainnya. Bambu adalah sejenis rumput yang tumbuh dengan cepat – sebanyak 3 kaki per hari, dengan total tinggi 75-100 kaki. Ada sekitar 1.400 spesies bambu, tetapi sub-spesies yang paling umum penggunaannya untuk kain adalah Bambu Moso (Phyllostachus edulis).

Pembuatan Kain Bambu Secara Mekanis

Pemanenan bambu dengan cara dipotong, kemudian olah secara mekanis ataupun kimiawi menjadi serat. Bambu yang prosesnya dengan cara mekanis masyarakatn kenal sebagai linen bambu (atau serat kulit pohon) dan menggunakan proses yang sama seperti linen rami.

Namun, karena teksturnya yang kasar dan membutuhkan usaha yang intensif (yang tentunya mahal) untuk produksinya, maka kain bambu yang terbuat dengan cara mekanis hanya sebagian kecil dari pasaran.

Pemrosesan Kain Bambu Kimiawi

Bambu dengan proses kimiawi jauh lebih umum. Pembuatannya melarutkan serat tumbuhan dalam campuran natrium hidroksida (alkali atau soda api) dan karbon sulfida.

Hasil campurannya keluar melalui lubang kecil menjadi larutan asam sulfat, yang membekukan serat dan memungkinkannya untuk ditenun menjadi kain. Proses ini serupa dengan pembuatan kain rayon dari sumber nabati lainnya, seperti serpihan kayu dan kayu putih. 

Dampak Lingkungan Kain Bambu

Selama beberapa tahun, terutama pada pertengahan 2000an, bambu sering mendapatkan pujian sebagai bahan yang ajaib. Ini karena tingkat pertumbuhannya luar biasa.

Scientific American menyatakan, “bambu dapat dibudidayakan dengan sedikit atau tanpa pupuk, pestisida, mesin pemanen berat atau irigasi, dan sistem akar bambu dapat melindungi tepian yang curam dari erosi.”

Bambu memiliki sistem akar yang dalam dan memotongnya saat panen tidak akan mengganggu tumbuhan dan tanahnya. Bambu juga menyerap karbon lima kali lebih banyak dan menghasilkan oksigen 35 kali lebih banyak daripada sebatang pohon berukuran serupa.

serat bambu

Hanya karena terbuat dari bahan alternatif, tidak berarti produk tersebut berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tinjau bersama, ya! Foto: Shutterstock.

Tekstil Serat Bambu: Masalah dengan Kultivasi

Budidaya Bambu Moso di Cina telah meningkat pesat sejak tahun 2000, menyebabkan banyak petani menebang habis lahan hutan alami untuk memberi ruang bagi pertanian bambu baru.

Hal ini merusak keanekaragaman hayati dan melepaskan karbon dalam jumlah besar. Meskipun bambu tidak membutuhkan banyak pupuk atau pestisida untuk tumbuh, tetapi para petani tetap menambahkannya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil sehingga mendapatkan profit yang lebih banyak. Tentu ini menyebabkan masalah bagi lingkungan.

Proses Produksi Beracun

Dalam produksi kain pun terdapat masalah. Proses kimiawi yang menggunakan karbon sulfida sangat beracun. Paparannya menyebabkan kerusakan sistem saraf dan reproduksi, serta memiliki sejumlah kaitan masalah kesehatan.

Dalam Fake Silk: The Lethal History of Viscose Rayon, Paul D. Blanc, seorang profesor occupational dan environmental medicine, menulis bahwa, “Untuk pekerja di pabrik rayon viscose, keracunan menyebabkan kegilaan, kerusakan saraf, penyakit parkinson, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.”

Produksi viskosa berbasis karbon sulfida tidak lagi diizinkan di Amerika Serikat karena bahaya ini.

Situs mode etis Good On You menuturkan, sekitar setengah dari limbah berbahaya dari produksi rayon (termasuk bambu) tidak dapat digunakan kembali, dan langsung menyatu dengan lingkungan. Senyawa organik yang mudah menguap serta klorin terlepas ke atmosfer, dan limbah dari fasilitas pemutihan mengarah ke saluran air, merusak ekosistem akuatik.

Seiring berjalannya waktu, kain bambu sudah tidak benar-benar terbuat dari bambu. Federal Trade Commission (FTC) menyatakan, “Ketika bambu diolah menjadi rayon, tidak ada jejak tanaman asli yang tersisa. Jika sebuah perusahaan mengklaim produknya terbuat dari bambu, harus memiliki bukti ilmiah yang dapat diandalkan untuk menunjukkan bahwa itu dibuat dengan serat bambu.”

Klaim bahwa kain mempertahankan sifat antimikroba dari tanaman bambu juga salah, menurut FTC.

Perbandingan Viscose Bambu dengan Bahan Viscose Lainnya

Viscose berbahan dasar bambu atau rayon, lebih banyak penggemarnya daripada viscose konvensional. Viscose konvensional biasanya menggunakan bulir kayu yang dapat bersumber dari pohon yang panennya tidak secara berkelanjutan, bahkan hutan purba.

Keduanya dapat terurai secara hayati. Selama tidak ada tambahan pewarna beracun, mereka lebih ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis berbasis minyak bumi.

Ada juga opsi yang lebih baik, yaitu dengan mencari kain bambu yang pembuatannya dengan proses Lyocell. Sistem produksi pengulangan tertutup ini menggunakan lebih sedikit bahan kimia beracun dan hampir tidak memproduksi limbah sampingan.

Meskipun biasanya penggunaannya dengan kayu putih. Kain bambu dengan proses Lyocell bermerek Monocel.

Baca juga: Indonesia Pulangkan Sebelas Orang Utan Korban Perdagangan Ilegal

Alternatif untuk Tekstil Serat Bambu

Jika Anda menggunakan bambu, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam merekomendasikan untuk memilih linen bambu sebagai pengganti viscose.

Jika memungkinkan, pilih linen yang proses pemisahan serat dari bambunya melalui proses dew-retted. Proses ini hanya menggunakan udara, embun, matahari, dan jamur untuk melarutkan bagian yang tidak kita inginkan dari rami dan membuka serat linen. Sehingga membutuhkan lebih sedikit energi dan air daripada water-retted. Pilih juga linen yang memakai pewarnaan alami.

Kapas organik dan rami adalah dua opsi untuk pengganti bambu. Walaupun bambu lebih berkelanjutan dari kapas, namun proses pembuatan kainnya sangat merusak lingkungan.

Ini membuat kapas organik terlihat jauh lebih baik. Di sisi lain, rami, menjadi pilihan yang paling baik. Ia membutuhkan sedikit air dan tumbuh dengan cepat.

Klaim kain bambu yang keberlanjutan ternyata tidak sesederhana itu. Manfaat tumbuhan yang pertumbuhannya cepat ini terkikis karena proses produksinya yang beracun.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Treehugger

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/feed/ 0
Plus Ultra Luncurkan Sikat Gigi dari Bambu Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/plus-ultra-luncurkan-sikat-gigi-dari-bambu-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=plus-ultra-luncurkan-sikat-gigi-dari-bambu-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/plus-ultra-luncurkan-sikat-gigi-dari-bambu-ramah-lingkungan/#respond Fri, 26 Apr 2019 14:12:49 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=23197 Sekitar 4,2 miliar sikat gigi plastik dibeli setiap tahun, banyak di antaranya akan dibuang setelah digunakan. Peduli akan kondisi ini, Plus Ultra terinspirasi untuk membuat sikat gigi bebas plastik yang terbuat dari bambu dan tentu saja ramah lingkungan.]]>

Sama halnya dengan sedotan plastik, limbah dari sikat gigi nyatanya merupakan ancaman serius bagi lingkungan kita. Sekitar 4,2 miliar sikat gigi plastik dibeli setiap tahun, banyak di antaranya akan dibuang setelah digunakan. Peduli akan kondisi ini, sebuah perusahaan rintisan (start-up) asal Amerika, Plus Ultra terinspirasi untuk membuat sikat gigi bebas plastik yang terbuat dari bambu dan tentu saja ramah lingkungan.

Dilansir dari CNN, Plus Ultra didirikan oleh Christina Ramirez pada tahun 2012. Melalui Plus Ultra Ramirez ingin mewujudkan misinya untuk mengganti sikat gigi plastik yang digunakan sehari-hari dengan bambu.

“Sama seperti sedotan plastik, kita menggunakan sikat gigi beberapa kali sehari. Sama seperti sedotan pula, mereka (sikat gigi) berakhir di tempat pembuangan sampah dan lautan dan kita tidak memikirkan dampaknya yang berbahaya,” kata Ramirez kepada CNN.

Ramirez memulai proyek Plus Ultra ketika dia bekerja sebagai kasir di Whole Foods di Venice Beach, California. Namun, konsep pembuatan sikat gigi bambu sebenarnya sudah ada ketika dia kuliah di jurusan Studi Global di University of California, Santa Barbara. Pada tahun 2006 dia diberi tugas untuk membuat konsep perusahaan yang akan mengatasi masalah global. Ramirez mendapat ide untuk perusahaan sikat gigi yang “memiliki filantropi dalam DNA-nya,” katanya.

Melalui pengalamannya bekerja di industri retail membuat Ramirez mengenal produk budaya hidup sehat. Disana dia juga belajar tentang dampak lingkungan hingga menemukan makanan dan suplemen sehat, Ramirez mengatakan dia diperkenalkan ke dunia yang sama sekali baru.

sikat gigi bambu

Foto kiri: Christina Ramirez, pendiri dan CEO Ultra Plus. Foto kanan: sikat gigi bambu Ultra Plus. Foto: Plus Ultra via liveplusultra.com

Dalam mencari sumber bahan bakunya, Ramirez menggunakan bambu dari Cina dan tetap mengedepankan standar tinggi, sama halnya dengan produk sikat gigi konvensional. Plus Ultra menggunakan bahan bambu mentah, tidak seperti bambu olahan, untuk dijadikan pegangannya.

Ketika produknya pertama kali diluncurkan, Ramirez berpendapat bahwa Plus Ultra merupakan sikat gigi berbahan bambu pertama yang dijual di pasar AS dan dia juga memastikan bahwa produknya sesuai dengan pedoman produk sikat gigi di negaranya.

Dalam proses pembuatannya, Ramirez berfokus pada upaya untuk menciptakan produk pilihan yang paling ramah lingkungan dan dapat terdegradasi secara alami (biodegradasi). Bambu yang dijadikan bahan sikat gigi ini dikeringkan secara alami, dibilas dengan larutan hidrogen peroksida yang telah memenuhi persyaratan food grade, lalu disegel dengan pelapis lilin yang aman untuk mencegah kelembaban dan kemudian dikemas dalam kotak yang menggunakan bahan daur ulang dan alami.

sikat gigi bambu

Foto: Plus Ultra via liveplusultra.com

Plus Ultra dijual dengan paket bio-PET (polyethylene therepthalate) yang terdiri dari bahan campuran 30% tebu non-GMO dan 70% PET. Kemasan terbarunya terbuat dari 100% kertas cardstock bersertifikasi FSC yang dikemas dalam kotak origami untuk menghindari panas atau perekat beracun yang digunakan dalam kemasan dan menghilangkan limbah.

Meskipun produknya sendiri tidak sepenuhnya dapat terbiodegradasi, bulu sikat gigi Plus Ultra ini terbuat dari bahan nilon yang dapat dipisahkan dari pegangan bambu, yang memungkinkan sebagian besar produk tersebut dapat terurai secara hayati.

“Kami akan terus menjadi inovator produk-produk bijaksana yang baik untuk Anda dan baik untuk planet ini,” ujar Ramirez. “Dalam lima tahun, saya ingin Plus Ultra menjadi lebih besar dengan koleksi lengkap produk ramah lingkungan yang memberi konsumen alternatif produk plastik yang terjangkau,” tambahnya.

Saat ini, sikat gigi bambu Plus Ultra sudah tersedia di lebih dari 20 negara bagian dan lebih dari 300 lokasi toko ritel. Anda juga dapat membelinya secara daring di Whole Foods dan Amazon. Paket sikat gigi Plus Ultra yang berisi empat bungkus untuk persediaan setahun dijual seharga $ 24. Selain itu, perusahaan juga menyumbangkan sikat giginya ke tempat penampungan tuna wisma, sekolah dan organisasi seperti UNICEF.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/plus-ultra-luncurkan-sikat-gigi-dari-bambu-ramah-lingkungan/feed/ 0
Jatnika Nanggamiharja, Abah Bambu Indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/#respond Fri, 01 Feb 2019 09:44:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=22471 Jatnika Nanggamiharja sudah bergelut dengan bambu puluhan tahun lamanya. Tidak hanya melestarikan berbagai spesies bambu asli Indonesia, ia juga memopulerkan manfaat rumput raksasa ini. Kini ia akrab disapa dengan sebutan "Abah Bambu".]]>

Serumpun Bambu Sejuta Makna,
Serumpun Bambu Sejuta Manfaat,
Serumpun Bambu Sejuta Karya,
Serumpun Bambu Sejuta Pesona,
Dengan Serumpun Bambu
Mari Kita Perkenalkan Indonesia Kepada Dunia.

Bogor (Greeners) – Kalimat di atas dilontarkan Jatnika Nanggamiharja saat Greeners mewawancarainya di kediamannya di kawasan Bogor. Jatnika atau akrab disapa Abah Bambu (dalam Bahasa Sunda “Abah” berarti orang tua atau orang yang disegani) merupakan aktivis lingkungan yang fokus terhadap pemeliharaan dan perlindungan bambu.

Abah lahir di Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 2 Oktober, 62 tahun silam. Sejak tahun 1995, Abah aktif melakukan penanaman bambu di sejumlah kawasan yang tersebar di Jabodetabek, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTB, Jatim, Jateng, dan Jabar. Kegiatannya itu ia lakukan bekerjasama dengan kementerian, lembaga terkait dan kelompok masyarakat peduli lingkungan.

Bersama keluarga dan 40 muridnya beserta 73 pengrajin yang dibinanya, Abah tinggal di kompleks Yayasan Bambu Indonesia menjalankan agenda pengembangan bambu, spiritualitas, dan Senam Hijaiyah Indonesia (SHI).

Sejak Sekolah Dasar (SD) Abah sudah mengenal bambu dan belajar menganyam bambu untuk dijual. Bagi Abah, bambu menjadi bagian dari hidupnya dan kebutuhan hidup masyarakat karena bambu sangat berperan terhadap kelestarian lingkungan.

“Saya mengenal bambu ini sudah 50 tahun lebih. Masa kecil saya di daerah Sukabumi sudah belajar membuat perkakas dari bambu, seperti bilik, bedek, alat rumah tangga, permainan seperti enggrang, dan layang-layang. Menurut saya, orang yang lahir sampai meninggal masih membutuhkan bambu di hidupnya karena bambu bagian dari kehidupan,” kata Abah.

Pada rentang tahun 1994 hingga 2002, Abah Jatnika telah menjalin kerjasama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknlogi) dalam pembibitan, pelestarian, dan penanaman berbagai jenis bambu lokal di sepanjang bantaran sungai Ciliwung.

“Lahan penanaman bambu sudah berkurang banyak, makanya saya mempertahankan lahan yang masih ada ini yakni di rumah saya sendiri untuk mengembangkan bambu. Ketika itu banyak orang yang menyarankan agar tempat tinggal saya dijadikan tempat wisata bambu tapi saya tidak mau karena nanti akan rusak,” ujarnya sambil tertawa.

Meski demikian, Abah Jatnika sangat terbuka kepada orang-orang yang ingin belajar menanam bambu. Menurutnya, nilai edukasi harus terus ditumbuhkan dan disebarkan.

Tahun 1990, Abah Jatnika menemukan konstruksi rumah bambu dengan perpaduan unsur klasik, modern dan sentuhan estetika yang optimal. Ketika dipamerkan pertama kali tahun 1995, konstruksi rumah bambu ini langsung mendapat respon luar biasa. Banyak pesanan dan undangan pameran datang menghampiri Abah, baik dari dalam dan luar negeri.

Sampai tahun 2018, Abah Jatnika telah menghasilkan lebih dari 7.000 rumah bambu yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Atas prestasinya ini, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) memberikan penghargaan untuk kategori Pembuatan Rumah Tradisional Sunda Terbanyak.

Abah juga diminta untuk membuat rumah bambu di berbagai negara, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, Qatar, Abu Dhabi, dan Ukraina. Rumah bambu Abah Jatnika ini telah mendapatkan Hak Paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kemenkumham, Nomor C00200601900-1952.

Pengerjaan rumah bambu ini telah melahirkan banyak pengrajin pendukung, antara lain pengrajin bilik (600 orang), hateup (400 orang), dan juru tebang (220 orang). Total keseluruhan jumlah pengrajin yang terlibat sebanyak 1.220 orang.

“Untuk menurunkan kecintaan bambu supaya tidak punah, saya dengan rumah bambu memiliki pengrajin di mana mereka ada yang belajar dari awal sekali untuk menganyam bambu, menanam bibit dan akhirnya menjadi sumber penghasilan untuk mereka,” ujar Abah.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/jatnika-nanggamiharja-abah-bambu-indonesia/feed/ 0
Kota Banjar, Ladang Bambu untuk Ekonomi Rakyat https://www.greeners.co/berita/kota-banjar-ladang-bambu-untuk-ekonomi-rakyat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kota-banjar-ladang-bambu-untuk-ekonomi-rakyat https://www.greeners.co/berita/kota-banjar-ladang-bambu-untuk-ekonomi-rakyat/#respond Sat, 13 Oct 2018 05:18:25 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=21498 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya berkunjung ke Rumah Kreatif Indonesia di Kota Banjar, Jawa Barat untuk menjaring berbagai inisiatif masyarakat dalam mengembangkan produksi bambu di Kota Banjar.]]>

Banjar (Greeners) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya berkunjung ke Rumah Kreatif Indonesia di Kota Banjar, Jawa Barat. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjaring berbagai inisiatif masyarakat dalam mengembangkan produksi bambu di Kota Banjar.

“Hasil produksi bambu di Banjar skalanya harus lebih diperbesar lagi menjadi skala industri dan membuat masyarakat lebih makmur. Saya kira potensi prestasi ini harus kita formulasikan dan realisasikan,” jelas Siti saat berdialog dengan masyarakat di tempat pelatihan pengolahan bambu yang dikelola oleh komunitas “Sahabat Bambu Banjar” binaan Rumah Kreatif Indonesia di Cibentang, Kota Banjar, Jawa Barat, pada Jumat (12/10/2018).

Siti mengatakan bahwa tahun lalu Presiden Joko Widodo telah berkomitmen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan pemerataan ekonomi masyarakat. Hal ini bisa diwujudkan dengan tiga hal yaitu akses lahan, fasilitas seperti perbankan dan bantuan bibit, serta pelatihan untuk masyarakat. Sejalan dengan komitmen tersebut, Siti meminta komunitas Sahabat Bambu Banjar terus diperluas dan diperkaya supaya makin banyak produksinya.

“Saya minta kepada Pak Sekjen untuk disiapkan pada bulan November nanti 15.000 bibit bambu yang siap dikirim ke Kota Banjar. Kemudian kalau bisa Garut, Banjar, Cianjur, Tasikmalaya dibuat satu cluster supaya skala ekonominya lebih bagus lagi, serta nanti harus dibuat arboretum bambu di Banjar ini supaya punya koleksi bibit-bibit bambu yang berasal dari Jawa Barat,” ujar Siti.

BACA JUGA: Perhutanan Sosial untuk Kesejahteraan Masyarakat 

Walikota Banjar Ade Uu Sukaesih menyambut niat baik Menteri Siti Nurbaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat melalui bantuan bibit bambu. Ade mengatakan bahwa para pelaku industri kecil yang menggunakan bahan baku bambu di Banjar sudah difasilitasi pelatihan bersertifikasi produk. Hal ini bertujuan untuk mendukung perkembangan produksi bambu yang lebih baik lagi.

“Bambu sebagai bahan baku sangat mudah didapat di kota Banjar dan beberapa jenis bambu (sudah) dibuat kerajinan yang sangat prospektif seperti sekarang yang diproduksi oleh bapak-bapak di komunitas Sahabat Bambu Banjar ini,” ujar Ade.

kota banjar

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menginstruksikan agar KLHK mengirimkan 15.000 bibit bambu ke Kota Banjar pada November mendatang. Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Bambang Supriyanto mengatakan bahwa bambu memiliki nilai ekonomi, budaya, dan sosial. Melalui salah satu program Perhutanan Sosial yaitu Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) dan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK), masyarakat dapat mengelola sumber daya hutan, termasuk bambu.

“Pemerintah memfasilitasi akses lahan seluas satu hektar kepada petani hutan. Selanjutnya, dilakukan pendampingan untuk membuat rencana usaha kerja, menentukan komoditas, dan membuka akses permodalan agar memiliki produktifitas dan nilai tambah,” jelas Bambang.

BACA JUGA: Kementerian Pertahanan dan Yayasan Kehati Bangun Laboratorium Khusus Bambu 

Dalam acara ini, Bambang menyerahkan bantuan alat ekonomi produktif kepada Kelompok Tani Karya Mukti I berupa 500 unit kotak/stup madu, 1 unit ekstraktor madu, 25 buah pisau madu, 10 unit alat sedot madu trigona, dan 1 unit alat tes kadar air madu.

Komunitas Sahabat Bambu Banjar sendiri menjadi tempat untuk memberikan dan menyiapkan serta menyediakan pelatihan terkait bambu. Berbagai produk yang dikerjakan seperti pemotongan dan pengawetan bambu, kerajinan tangan, hingga konstruksi bangunan berbahan dasar bambu. Sejak tahun 2013, komunitas ini juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk membuat berbagai desain produk berbahan dasar bambu.

“Kami sudah memproduksi berbagai macam produk seperti bambu awet untuk konstruksi, bambu laminasi, bambu deking (lantai), bambu partisi, angklung, suling, kipas, topi petani. Kami juga sudah mengekspor hasil produksi kami ke Guangzhou, Cina dan Australia untuk bahan baku konstruksi bambu awet, serta deking dan partisi yang dijual ke Bali,” jelas Amin Hambali, Ketua Divisi Sahabat Bambu Kota Banjar kepada Greeners.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kota-banjar-ladang-bambu-untuk-ekonomi-rakyat/feed/ 0
Kementerian Pertahanan dan Yayasan Kehati Bangun Laboratorium Khusus Bambu https://www.greeners.co/berita/kementerian-pertahanan-dan-yayasan-kehati-bangun-laboratorium-khusus-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kementerian-pertahanan-dan-yayasan-kehati-bangun-laboratorium-khusus-bambu https://www.greeners.co/berita/kementerian-pertahanan-dan-yayasan-kehati-bangun-laboratorium-khusus-bambu/#respond Fri, 10 Feb 2017 07:58:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15881 Kementerian Pertahanan dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) berencana membangun laboratorium hayati yang akan dikhususkan untuk tanaman bambu.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) berencana membangun laboratorium hayati di kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC), Sentul, Kabupaten Bogor. Laboratorium tersebut akan dikhususkan untuk tanaman bambu yang jenisnya mencapai lebih dari 150 jenis di Indonesia.

Kepala Badan Instalasi Strategis Nasional (Baintranas), Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Mayor Jenderal TNI Heros Paduppai mengatakan, bentuk kerjasama yang akan dilakukan adalah dalam bentuk penanaman bambu dan pemanfaatannya secara sosial dan ekonomi oleh masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk melakukan konservasi keanekaragaman hayati yang mendukung komitmen nasional untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

“Penanaman bambu di kawasan IPSC ini tidak hanya memberikan manfaat untuk ilmu pengetahuan dari sisi laboratorium hayati yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, tetapi juga memberi manfaat ekologi,” katanya seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Jumat (10/02).

BACA JUGA: LIPI: Penggunaan Bambu Lebih Tepat Atasi Banjir Dibanding Betonisasi

Bambu memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida setidaknya 8 kali lebih besar dari hutan tropis. Jika kemampuan hutan tropis menyerap karbon sebesar kurang lebih 7 ton per hektar per tahun, maka bambu mampu menyerap sekitar 62 ton per hektar per tahun.

Mengutip dari keterangan yang sama, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, M.S Sembiring pun mengatakan, penanaman bambu dapat membantu pengurangan emisi yang signifikan. Selain itu, kawasan Sentul merupakan daerah tangkapan dan resapan air yang jika dikelola dengan baik akan menambah cadangan air dan mengurangi risiko banjir.

“Kerjasama ini tidak hanya sekadar menanam tetapi juga merupakan upaya penghijauan dan memberikan manfaat secara sosial dan ekonomi,” ujar Sembiring.

BACA JUGA: LIPI Kembangkan Kawasan Biovillage

Bambu sendiri sudah dikenal sebagai tanaman yang mampu memberikan dampak ekologi yang besar, seperti penyerap air dan pencegah erosi. Selain itu tanaman ini juga mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi.

Dari sisi sosial, bambu sudah sangat lekat dengan budaya Indonesia. Banyak perkakas yang menjadi bagian dari budaya berbahan dasar bambu. Kemudian dari sisi ekonomi, bambu menjadi salah satu bahan baku furnitur yang memiliki kualitas tinggi, ditambah lagi dengan rebungnya yang juga memiliki nilai jual.

“Dari manfaatnya yang sangat banyak ini, konservasi bambu di kawasan IPSC diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan tetapi juga bagi masyarakat,” kata Sembiring.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kementerian-pertahanan-dan-yayasan-kehati-bangun-laboratorium-khusus-bambu/feed/ 0
Furnitur Bambu Pengisi Daya Nirkabel https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-bambu-pengisi-daya-nirkabel/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=furnitur-bambu-pengisi-daya-nirkabel https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-bambu-pengisi-daya-nirkabel/#respond Thu, 08 Oct 2015 07:29:35 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11399 Menggabungkan teknologi dan cita rasa adalah salah satu tantangan terbesar untuk desainer saat ini. FurniQi menjawab tantangan tersebut. Mereka menciptakan produk yang merupakan gabungan terbaik dari teknologi dan keindahan dalam rangkaian […]]]>

Menggabungkan teknologi dan cita rasa adalah salah satu tantangan terbesar untuk desainer saat ini. FurniQi menjawab tantangan tersebut. Mereka menciptakan produk yang merupakan gabungan terbaik dari teknologi dan keindahan dalam rangkaian furnitur. Furnitur canggih tersebut mampu melakukan pengisian daya dengan cara nirkabel.

Furnitur FurniQi menggunakan bambu mao zhu (Phyllostachys edulis) untuk produknya. Foto: FurniQi/inhabitat.com

Furnitur FurniQi menggunakan bambu mao zhu (Phyllostachys edulis) untuk produknya. Foto: FurniQi/inhabitat.com

Sebagai salah satu pemimpin di teknologi ini, sistem pengisian daya nirkabel buatan FurniQi mulai tersedia dalam beberapa variasi yang dapat digunakan untuk mengisi daya berbagai alat elektronik. IKEA juga mulai menggunakan teknologi nirkabel yang sama dalam produk furniturnya yang diluncurkan musim semi kemarin.

Sekarang, FurniQi meluncurkan produk baru untuk rangkaian produk yang terinspirasi oleh alam namun dengan suntikan teknologi khas Qi di dalamnya. Salah satunya adalah meja kecil dari bambu mao zhu (Phyllostachys edulis).

Furnitur FurniQi. Foto: FurniQi/inhabitat.com

Furnitur FurniQi. Foto: FurniQi/inhabitat.com

Penggabungan sistem pengisian daya nirkabel ke dalam furnitur yang bisa kita jumpai sehari-hari adalah sebuah pendekatan desain yang unik untuk menjawab ketergantungan kita terhadap telepon-pintar dan tablet. Pengisian daya nirkabel memungkinkan pengguna untuk melakukan pengisian daya tanpa harus berurusan dengan charger dan kabel-kabelnya. Apalagi kalau kita pindah ruangan, charger tersebut harus dipindahkan juga, sementara dengan memiliki beberapa furnitur ini, kita semakin bebas dari charger.

Meja bambu FurniQi dipamerkan di pameran DigitalFocus Global pada 4 September 2015 lalu di Hotel Grand Hyatt Berlin.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/furnitur-bambu-pengisi-daya-nirkabel/feed/ 0
Kue Putu Bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/kue-putu-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kue-putu-bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/kue-putu-bambu/#respond Fri, 29 May 2015 14:59:33 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9335 Menikmati jajanan tradisional di kota modern seperti Jakarta terbilang cukup sulit karena tidak sedikit penjual penganan tradisional yang beralih menjual penganan modern. Namun sebenarnya kita dapat membuat sendiri penganan tradisional […]]]>

Menikmati jajanan tradisional di kota modern seperti Jakarta terbilang cukup sulit karena tidak sedikit penjual penganan tradisional yang beralih menjual penganan modern. Namun sebenarnya kita dapat membuat sendiri penganan tradisional karena banyak diantara kue tersebut yang mudah dalam pembuatannya, seperti kue putu bumbu.

Untuk membuat kue putu bambu, menggunakan beras sangat disarankan dibandingkan menggunakan tepung beras. Selain hasilnya lebih lembut, kue pun lebih wangi. Yuk, coba resep kue putu bambu di bawah ini.

Bahan:
– 400 gr beras yang sudah digiling
-150 gr parutan kelapa
-125 gr gula merah, iris tipis
-300 ml air
-1 sdt garam
-2 lbr daun pandan
-Cetakan dari bambu diameter 3-5 cm.
-Daun pisang secukupnya untuk alas.

Cara membuat :
1. Siapkan panci, didihkan air, masukan garam, daun pandan, aduk sebentar. Angkat dan diamkan sampai hangat.
2. Masukan tepung beras dalam wadah, tuangkan air pandan hangat sedikit demi sedikit sambil aduk terus dengan tangan hingga tercampur rata. Lakukan sampai air pandan habis.
3. Siapkan saringan kasar, ayak tepung beras hingga berbentuk butiran halus. Angin-anginkan tepung hingga terasa kering.
4. Ambil cetakan bambu, masukan 1/2 adonan tepung beras yang sudah diayak, lubangi bagian tengahnya, masukan irisan gula merah, tutup kembali hingga penuh dengan adonan tepung, lalu ratakan. Tidak perlu menekan adonan terlalu padat.
5. Balikan cetakan, taruh diatas loyang untuk mengukus yang sudah diberi alas daun pisang. Ulangi sebanyak yang diinginkan.
6. Kukus dengan api besar selama 10 menit, angkat, keluarkan kue putu dari cetakan. Sajikan kue putu bambu yang sudah matang dengan taburan kelapa parut.

Penulis: Gloria Safira

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kue-putu-bambu/feed/ 0
Menara Bambu Pengumpul Air Untuk Ethiopia https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bambu-pengumpul-air-untuk-ethiopia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menara-bambu-pengumpul-air-untuk-ethiopia https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bambu-pengumpul-air-untuk-ethiopia/#respond Tue, 27 Jan 2015 13:13:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_technology&p=7183 Di Ethiopia, akses untuk mendapatkan air bersih masih menjadi masalah. Diperkirakan sekitar 60 juta penduduknya masih kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk membantu menghadapi masalah ini, sebuah menara pengumpul air telah […]]]>

Di Ethiopia, akses untuk mendapatkan air bersih masih menjadi masalah. Diperkirakan sekitar 60 juta penduduknya masih kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk membantu menghadapi masalah ini, sebuah menara pengumpul air telah terpasang di salah satu dataran tinggi di timur laut Ethiopia.

Proyek menara ini diberi nama Warka Water. Kata “Warka” merupakan nama pohon berukuran besar yang tumbuh liar di Ethiopia. Pohon warka (Ficus vasta) menjadi bagian penting dari budaya lokal dan ekosistem dengan menyediakan buah dan tempat berkumpul bagi warga di sana.

Menara Warka Water memiliki tinggi sekitar 10 meter dan lebar 4 meter. Bilah-bilah bambu yang dijalin dengan bio-plastic berwarna oranye dan dibuat berkisi membuat menara ini terlihat seperti karya seni. Namun, menara Warka Water didesain untuk menyaring air dari udara (termasuk air hujan, kabut, dan embun) dan menjadi sumber air berkelanjutan.

Ilustrasi: www.architectureandvision.com

Proyek Warka Water dimulai pada tahun 2012 lalu oleh Arturo Vittori dan tim arsitek yang tergabung dalam Architecture and Vision. Berdasarkan pengujian laboratorium di Italia, menara ini mampu memanen air sebanyak 50 – 100 liter air per hari. Jumlah yang masih sedikit namun cukup signifikan.

Vittori dan timnya sudah membuat versi terbaru Warka Water dan perkembangan ini dikampanyekan di Kickstarter.com untuk mendanai uji lapangan di Ethiopia akhir tahun ini.

Prototipe terbaru tersebut telah memperbaiki beberapa hal, diantaranya pemakaian bambu yang menggantikan juncus (sejenis ilalang tinggi), melengkapi puncak menara dengan benda mengkilap untuk mengusir burung, dan strukturnya dua kali lebih besar. Struktur yang besar memungkinkan jaring plastik (dalam gambar berwarna oranye ) menangkap air dua kali lebih banyak.

Ilustrasi: www.architectureandvision.com

Untuk membuat menara Warka Water diperlukan biaya sekitar 1.000 dollar dan sama sekali tidak membutuhkan listrik. Vittori mengatakan, dibutuhkan kurang dari satu jam untuk merangkai lima modul yang menyusun menara Warka Water, sehingga mudah untuk mengepak dan memindahkan menara ini saat dibutuhkan.

Tujuan praktis alat ini adalah menciptakan “mesin” produksi air yang efisien dan mampu bekerja terus menerus. Meski begitu, Vittori juga mendasain alat ini menjadi sesuatu yang ikonik, lebih dari itu menara ini dapat menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi warga dusun setempat.

Dengan kanopi yang terbuat dari kain yang terbentang mengembang, menara ini akan menjadi tempat dimana orang berkumpul untuk bersosialisasi dan mencari keteduhan dari sengatan matahari, seperti yang biasa mereka lakukan di bawah keteduhan pohon Warka.

(G15)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/menara-bambu-pengumpul-air-untuk-ethiopia/feed/ 0
Indonesia Kaya Akan Olahan Penganan Lokal Tanpa Minyak Sawit https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/#respond Mon, 29 Dec 2014 07:09:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_event&p=6932 Jakarta (Greeners) – Sawit Watch bersama dengan Green radio Jakarta kembali menyelenggarakan acara tahunan Green Food Festival (GFF). Perhelatan yang diadakan untuk ke tiga kalinya ini mengangkat tema “4 Sehat […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sawit Watch bersama dengan Green radio Jakarta kembali menyelenggarakan acara tahunan Green Food Festival (GFF). Perhelatan yang diadakan untuk ke tiga kalinya ini mengangkat tema “4 Sehat Kurang Sempurna Tanpa Pangan Lokal” sebagai upaya untuk mengingatkan publik betapa kayanya Indonesia akan panganan lokal.

Dalam rangkaian kegiatan GFF 2014 ini digelar lomba membuat resep yang menggunakan 4 bahan utama, yaitu sagu, sorgum, bambu, dan rotan, tanpa menggunakan minyak goreng (minyak sawit).

Kepala Departemen Kampanye Sawit Watch Indonesia, Bondang Andriyanu, mengatakan, Indonesia masih sangat kaya akan ragam panganan dan masakan dengan menggunakan metode memasak seperti mengukus, merebus, membakar dan menumis.

“Semua itu (penganan lokal) menggunakan metode dan menu masakan lokal yang sudah diwariskan dari nenek moyang kita, selain menggunakan produk dan bahan dasar lokal juga sangat baik untuk kesehatan,” jelasnya saat disambangi oleh Greeners pada kegiatan GFF di Plaza Atrium Senen, Jakarta, Sabtu (27/12) lalu.

Indonesia memiliki banyak olahan penganan lokal tanpa minyak sawit, namun kepopulerannya masih kalah jauh dibanding dengan penganan impor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Indonesia memiliki banyak olahan penganan lokal tanpa minyak sawit, namun kepopulerannya masih kalah jauh dibanding dengan penganan impor. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ahli Gizi yang juga seorang Chef, Ena Lubis pun menyayangkan sikap pemerintah yang terlalu banyak memasukan panganan impor sehingga membuat masyarakat lemah terhadap informasi terkait panganan lokal asli Indonesia.

“Pemerintah sudah seharusnya melakukan pengkajian terhadap kebijakan-kebijakan terkait impor pangan ini,” ujarnya.

Sebagai informasi, Sawit Watch GFF untuk tahun 2014 ini digelar juga di tiga provinsi lain, yaitu Kalimantan Tengah, Riau dan Sulawesi Barat dengan tema serupa yang intinya kembali kepada pangan lokal.

Untuk GFF di Kalimantan Tengah diadakan pada tanggal 16 – 17 Desember lalu di pelataran gedung KONI Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan berkolaborasi bersama beberapa CSO Palangkaraya, seperti WALHI Kalteng, SOB, YBB, AMAN Kalteng, JPIC, FMN, HMPH, POKKER SHK, GMNI dan MAPALA Komodo. Kegiatan dimulai dengan diskusi mengenai pengelolaan SDA di Kalimantan tengah, yang dihadiri oleh masyarakat dari 4 Kabupaten (Murung raya, barito timur, Barito Utara, dan Lamandau). Dalam diskusi dibahas bagaimana upaya masyarakat mempertahankan lahannya dari ekspansi SDA seperti tambang, perkebunan sawit, dan HTI yang secara besar-besaran terjadi di lokasi masyarakat tersebut.

GFF di Palangkaraya diakhiri dengan lomba resep dan memasak menggunakan pangan lokal, yaitu umbut rotan, umbut bambu, keladi dan umbut kelapa. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan serta kalangan umum turut serta dalam lomba memasak ini.

Pengunjung melihat-lihat berbagai penganan lokal yang terbuat dari sumber pangan lokal dalam acara Green Food Festival 2014 di Jakarta, Sabtu (27/12) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pengunjung melihat-lihat berbagai penganan lokal yang terbuat dari sumber pangan lokal dalam acara Green Food Festival 2014 di Jakarta, Sabtu (27/12) lalu. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Di Pekanbaru, Riau, GFF 2014 digelar di bawah jembatan Sial III. Kegiatan ini juga hendak memperkenalkan kembali panganan lokal dan cara memasak dengan merebus, mengkukus dan membakar. Metode menggoreng diperbolehkan namun harus menggunakan minyak kelapa atau minyak non sawit lainnya sebagai bentuk kampanye pendidikan publik dengan menyasar kaum ibu.

Provinsi Riau adalah salah satu provinsi yang memiliki luasan perkebunan sawit terbesar di Indonesia. ‎Luasan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 13.5 juta ha, dimana 2,9 juta ha ada di Riau (Sawit Watch, 2013). Luas ini akan terus bertambah sesuai dengan rencana pemerintah untuk memperluas hingga 28 juta hektare pada tahun 2020 akibat dari permintaan pasar dunia yang semakin tinggi terhadap konsumsi CPO.

Sedangkan untuk rangkaian kegiatan GFF yang dilakukan di Desa Alu, Kecamatan Alu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Sawit Watch bekerja sama dengan Walhi Sulawesi Barat.

Dalam kegiatan tersebut digelar diskusi mengenai upaya penyelamatan lahan pangan lokal yang disampaikan oleh Sawit Watch, Walhi dan Pemerintahan Kecamatan Alu. Diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa perlu adanya kebijakan yang melindungi pangan lokal sebagai upaya menyelamatkan lahan masyarakat dari ekspansi sumber daya alam secara besar besaran, seperti HTI dan perkebunan sawit.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/aksi/indonesia-kaya-akan-olahan-penganan-lokal-tanpa-minyak-sawit/feed/ 0
64 Ribu Sumpit Bekas Sebagai Hadiah Ulang Tahun Jackie Chan https://www.greeners.co/ide-inovasi/64-ribu-sumpit-bekas-sebagai-hadiah-ulang-tahun-jackie-chan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=64-ribu-sumpit-bekas-sebagai-hadiah-ulang-tahun-jackie-chan https://www.greeners.co/ide-inovasi/64-ribu-sumpit-bekas-sebagai-hadiah-ulang-tahun-jackie-chan/#respond Sun, 13 Apr 2014 13:42:35 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_art_design&p=4332 Jackie Chan aktor laga kawakan dari China pada 7 April lalu tepat menginjak usia 60 tahun. Dalam rangka memeriahkan perayaan ulang tahun aktor senior tersebut, tim manajemen Jackie mengundang seorang […]]]>

Jackie Chan aktor laga kawakan dari China pada 7 April lalu tepat menginjak usia 60 tahun. Dalam rangka memeriahkan perayaan ulang tahun aktor senior tersebut, tim manajemen Jackie mengundang seorang seniman asal China Hong Yi yang dikenal dengan panggilan Red untuk membuat sebuah instalasi seni yang akan dipersembahkan pada puncak perayaan ultah Jackie Chan.

Material sumpit bekas dipilih dalam menyelesaikan karya portrait Jackie Chan, karena Red memperhatikan Jackie sering memanfaatkan sumpit dalam adegan aksinya di beberapa film. Dan ketika Red mengetahui bahwa Jackie adalah seorang pecinta lingkungan yang aktif, Red semakin yakin menggunakan sumpit bambu bekas untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang terbuang bisa diguna ulang menjadi sebuah karya yang indah.

RedHongYi

Portrait ini menghabiskan 64.000 sumpit bambu bekas yang dikumpulkan Red selama sebulan penuh dari daerah Zhejiang dan Beijing. Red mengikat sumpit sumpit tersebut dalam berbagai ukuran kelompok ikatan. Dan ia menggantungkan kelompok ikatan tersebut pada sebuah dudukan frame terbuat dari besi. “Saya harus memastikan struktur ini kuat menahan beban sumpit sebanyak ini” jelas Red yang ia tulis pada blog pribadinya.

Portrait Jackie Chan ini kemudian dipresentasikan Red pada konser perayaan ultah Jackie pada 6 April dihadapan 10 ribu pengunjung. Konser ulang tahun dengan tema “Peace Love & Friendship” ini dipenuhi oleh artis ternama seperti Coco Lee, Jay Chou, Kim Hee Sun dan masih banyak lagi.

sumber : redhongyi.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/64-ribu-sumpit-bekas-sebagai-hadiah-ulang-tahun-jackie-chan/feed/ 0