banda aceh - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/banda-aceh/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 01 Mar 2015 01:52:48 +0000 id hourly 1 Banjir Aceh Mulai Surut https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-mulai-surut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-aceh-mulai-surut https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-mulai-surut/#respond Wed, 05 Nov 2014 05:45:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6349 Jakarta (Greeners) – Sembilan kecamatan di Kabupaten Aceh Jaya yang sempat terendam banjir sejak Sabtu (01/11) lalu, kini berangsur mulai surut dan akses jalan pun sudah bisa dilalui kendaraan. Namun, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sembilan kecamatan di Kabupaten Aceh Jaya yang sempat terendam banjir sejak Sabtu (01/11) lalu, kini berangsur mulai surut dan akses jalan pun sudah bisa dilalui kendaraan.

Namun, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, masih ada dua kecamatan yaitu Kecamatan Jaya dan Sampoiniet yang masih tergenang air sekitar 50 sentimeter.

“Yang paling parah banjir di dua kecamatan itu dan genangan banjir juga masih terjadi di lahan perkebunan sawit dan sawah warga,” ujar Sutopo, Jakarta, Rabu (05/11),

Mengenai akses jalan, Sutopo mengungkapkan kalau jalan dari Aceh Jaya hingga ke Aceh Barat yang sebelumnya terputus karena longsor, kini sudah bisa dilalui kendaraan.

Menurut Sutopo, sebelumnya ribuan rumah warga di seluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Jaya terendam banjir setinggi 72 sentimeter hingga 2 meter. Namun sejak tadi malam, air mulai surut dan sebagian warga yang sebelumnya mengungsi sudah mulai kembali ke rumah mereka.

“Kondisi cuaca terakhir di Kabupaten Aceh Jaya sejak Selasa malam sudah mulai kembali cerah,” katanya.

Seperti diketahui sebelumnya, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menetapkan bahwa longsor dan banjir yang menimpa sejumlah kabupaten/kota di Aceh sebagai bencana provinsi. Penetapan bencana provinsi ini disampaikan Gubernur Zaini saat memimpin rapat darurat di Banda Aceh.

Gubernur pun menginstruksikan kepada seluruh jajaran instansi terkait di Aceh untuk melakukan langkah serta tindakan darurat dan khusus kepada Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) agar bisa segera bekerja dengan cepat dan sigap.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-mulai-surut/feed/ 0
Banjir Aceh Timbulkan Kerugian Luar Biasa https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-timbulkan-kerugian-luar-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=banjir-aceh-timbulkan-kerugian-luar-biasa https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-timbulkan-kerugian-luar-biasa/#respond Tue, 04 Nov 2014 09:29:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6337 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.863 kepala keluarga atau 6.892 jiwa harus mengungsi akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh sejak Sabtu (01/11/2014). Di […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.863 kepala keluarga atau 6.892 jiwa harus mengungsi akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh sejak Sabtu (01/11/2014). Di Kabupaten Aceh Jaya sendiri banjir merendam Kecamatan Jaya, Kecamatan Indra Jaya, Kecamatan Sampoiniet, Kecamatan Setia Bakti, dan Kecamatan Darul Hikmah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, selain membuat ratusan orang mengungsi, banjir dan longsor tersebut juga mengakibatkan kerugian materil di banyak tempat. Seperti di Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 1.000 rumah terendam banjir, begitu pula di Kabupaten Aceh Jaya, banjir merendam sebanyak 1.863 rumah.

“6.642 unit rumah di Nagan Raya juga terendam dengan ketinggian 75 sampai 250 sentimeter dan akses jalan ke Kota Banda Aceh terputus total. Kerugiannya luar biasa, ” ungkap Sutopo kepada Greeners, Jakarta, Selasa (04/11).

Di lain tempat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Ramadhana Lubis, mengungkapkan kalau saat ini Pemerintah Provinsi Aceh telah mengirimkan bantuan kepada para korban banjir dan longsor yang melanda Aceh tersebut.

Ia mengatakan kalau upaya pembersihan material batu dan tanah yang menutupi jalan tengah dilakukan mengingat aksen jalan baru bisa dilalui pada hari ini. Salah satunya, tambah Ramadhana, seperti jalan di km 36 Gunung Paro yang masih belum bisa menembus ibu kota Kecamatan Lhoong.

“Hari ini kan jalan baru bisa dilewati, pemerintah dan dari banyak pihak juga sudah memberikan bantuan,” tambahnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga merilis peringatakan kepada masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan besar hingga beberapa hari mendatang terutama wilayah pesisir barat Aceh dan bagian selatan Aceh.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/banjir-aceh-timbulkan-kerugian-luar-biasa/feed/ 0
Satu Bayi Orangutan Berhasil Diselamatkan dari Rawa Tripa Aceh https://www.greeners.co/berita/satu-bayi-orangutan-berhasil-diselamatkan-dari-rawa-tripa-aceh/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=satu-bayi-orangutan-berhasil-diselamatkan-dari-rawa-tripa-aceh https://www.greeners.co/berita/satu-bayi-orangutan-berhasil-diselamatkan-dari-rawa-tripa-aceh/#respond Fri, 22 Feb 2013 06:28:56 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3396 Banda Aceh (Greeners) – Tim dari Program Konservasi Orangutan Sumatera (Orangutan Conservation Programme / SOCP) berhasil menyita satu bayi orangutan (Pongo abelii) pada Selasa (19/2/2013) di Afdeling II perkebunan PT. […]]]>

Banda Aceh (Greeners) – Tim dari Program Konservasi Orangutan Sumatera (Orangutan Conservation Programme / SOCP) berhasil menyita satu bayi orangutan (Pongo abelii) pada Selasa (19/2/2013) di Afdeling II perkebunan PT. Socfindo, Desa Sidojadi, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Penyitaan tersebut dilakukan setelah sebelumnya staf lapangan SOCP berhasil mencium informasi tentang bayi orangutan itu yang ditangkap pada Sabtu (26/1/2013) di daerah Suak Puntung, di dalam areal HGU perkebunan kelapa sawit milik PT Surya Panen Subur 2 (PT SPS-2), yang berlokasi di pinggiran hutan rawa gambut Tripa.

Dokter hewan SOCP, Ikhsani Surya Hidayat mengatakan, waktu disita bayi orangutan tersebut ditemukan dalam kondisi lemah karena kekurangan gizi dan mengalami dehidrasi. “Kami sudah memberi orangutan tersebut minum susu dengan takaran yang cukup. Jadi, dia kemungkinan dapat bertahan hidup,” kata Ikhsan dalam siaran pers bersama  Yayasan PanEco (Swiss), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Medan.

Kronologis keberadaan bayi Orangutan berawal dari sekelompok nelayan setempat melihat seekor orangutan betina dewasa membawa bayi kecil jantan (berusia sekitar 1 tahun) terisolasi dan terjebak pada satu pohon, agak jauh dari pepohonan lainnya, sehingga mustahil bagi mereka untuk pergi tanpa turun ke tanah di dekat para nelayan itu.

Mereka memutuskan untuk mencoba menangkap bayi Orangutan untuk dijual. Bayi Orangutan bisa didapatkan dari induknya yang berhasil melarikan diri setelah dipukuli oleh para nelayan tersebut. Mereka menjual bayi orangutan tersebut dengan harga hanya Rp100.000,- kepada seorang mantri kesehatan setempat yang bekerja pada perusahaan kelapa sawit terdekat yaitu PT Socfindo. Mantri tersebut tinggal di komplek perumahan perkebunan itudi  Abdeling II,  Desa Sidojadi.

Setelah berada di rumah mantri kesehatan tersebut, staf SOCP mengalami kesulitan memantau “peliharaan” baru mantri ini karena memang ditempatkan di dalam kandang berdinding seng di belakang rumah supaya tidak terlihat orang. Bayi orangutan tersebut terlihat orang ketika pintu kandang sedang terbuka pada saat memandikan orangutan.

Sedangkan  Direktur SOCP Dr Ian Singleton mengatakan penyitaan bayi Orangutan illegal itu dapat memberikan kesempatan kedua untuk hidup lama di alam liar. Bayi Orangutan itu direncanakan dikembalikan ke alam liar di hutan yang lebih aman di bagian paling utara Aceh.

“Ini merupakan kasus yang jarang terjadi dimana induk bayi orangutan selamat, tapi ironisnya, dia tidak mungkin bertahan lama lagi di habitatnya. Padahal, dia jelas tergantung pada daerah di mana hutannya sedang dibersihkan dan sebagian besar dari jangkauan huniannya mungkin sudah hancur, maka ia ditemukan di sebuah pohon yang terisolasi, dan tidak di hutan yang baik. Dengan tinggal di sana, prospek untuk hidup sebenarnya lebih buruk daripada bayinya yang ditangkap,” Ian yang juga Direktur Konservasi, Yayasan Ekosistem Lestari.

Sedangkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Amon Zamora mengataka membunuh, menangkap, memperdagangkan atau mememelihara orangutan sebagai hewan peliharaan merupakan tindakan melawan hukum, dimana pelakunya bisa dihukum sampai 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Dia mengingatkan bahwa memelihara orangutan itu tidak baik bagi orangutan dan juga tidak baik bagi manusia itu sendiri.

“Bagi saya, hal yang utama adalah bahwa kita harus menghindari kepunahan orangutan sumatera karena populasinya sekarang sangat sedikit. Anak dan cucu kita juga harus memiliki kesempatan untuk melihat orangutan di alam,” katanya.

SOCP merupakan program kolaboratif yang melibatkan PanEco Foundation, Yayasan Ecosistem Lestari dan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Sampai saat ini SOCP telah mengembalikan ke alam liar lebih dari 180 orangutan  tangkapan ilegal dan menyelamatkan sejumlah orangutan melalui pemindahan dari satu tempat ke tempat lainnya yang lebih aman bagi orangutan. (G011)

]]>
https://www.greeners.co/berita/satu-bayi-orangutan-berhasil-diselamatkan-dari-rawa-tripa-aceh/feed/ 0