benih - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/benih/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 10 Apr 2020 15:54:30 +0000 id hourly 1 Sheedo Ciptakan Kertas Berbenih Tanaman https://www.greeners.co/ide-inovasi/sheedo-ciptakan-kertas-berbenih-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sheedo-ciptakan-kertas-berbenih-tanaman https://www.greeners.co/ide-inovasi/sheedo-ciptakan-kertas-berbenih-tanaman/#respond Sat, 11 Apr 2020 00:50:05 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=26759 Produk kertas berbenih milik Sheedo ini, mengganti selulosa dengan kapas sisa dari industri tekstil maupun bahan yang tidak memenuhi standar pemrosesan.]]>

Kertas telah menjadi kebutuhan di kalangan masyarakat Indonesia. Daur ulang kertas untuk mengganti pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas juga telah banyak digunakan. Namun, bagaimana jika produsen membuat kertas berbenih yang dapat tumbuh menjadi tanaman?

Salah satu perusahaan rintisan (start up) Sheedo, merupakan produsen sekaligus inovator yang telah mengembangkan produk kertas berbenih. Diprakarsai oleh tiga pengusaha muda, mereka ingin mewujudkan sebuah ide revolusi di bidang industri kertas. Sebab industri kertas dinilai sebagai salah satu penyebab laju deforestasi dan polusi dunia.

Produk kertas berbenih milik Sheedo ini, mengganti selulosa dengan kapas sisa dari industri tekstil, atau dari kelebihan produksi, maupun bahan yang tidak memenuhi standar pemrosesan. Produsen juga tidak perlu menebang pohon untuk membuat kertas benih atau menggunakan bahan kimia sebagai pemutih.

Baca juga: Wattsun, Energi Hijau untuk Festival Musik

Produsen berbasis di Spanyol ini menghasilkan sebuah kertas yang mudah terurai dan 100 persen berkelanjutan. Kandungan benih di dalam kertas Sheedo terdiri dari empat macam benih seperti tomat, chamomile, lavender, wortel, dan zinna. Namun, menurut pendiri Sheedo, Gloria Gubianas, semua benih tadi tidak berkecambah dengan baik sehingga harus terus diperhatikan.

Melansir situs Sheedo.es, produk berkelanjutan yang ditawarkan Sheedo di antaranya undangan pernikahan, label untuk merek yang berkelanjutan, kartu ulang tahun, kartu pos, tatakan gelas, kartu ucapan, maupun buku catatan.

Para inovatornya mengatakan, kertas benih ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing klien. Dengan peran yang sederhana, perusahaan mampu mentransmisikan nilai-nilai berkelanjutan atau membuat konsep pesan bagi alam. Misalnya, untuk kampanye pemasaran yang ingin menyoroti nilai-nilai lingkungan.

Sheedo

Foto: sheedo.es

Selain dapat terurai secara hayati, kertas benih ciptaan Sheedo ini dapat digunakan untuk menulis atau mencetak. Keunggulan lainnya, setelah digunakan kertas benih tidak perlu didaur ulang. Pengguna cukup memotong dan menyebarnya ke dalam pot dengan sedikit tanah basah serta disiram setiap hari. Hasilnya, beberapa hari tanaman akan mulai tumbuh.

Saat ini perusahaan yang berdiri sejak tahun 2017 ini telah memiliki omset 200.000 euro per tahun. Sheedo juga menggandeng beberapa perusahaan besar seperti Coca-Cola, Danone, Telefónica, dan Oysho untuk menciptakan perusahaan yang berkelanjutan.

Baca juga: Sampo Kelereng Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Tidak hanya berbisnis, perusahaan rintisan ini juga berkomitmen untuk melindungi perdagangan kertas dan berbagai praktik baik lain. Start up Sheedo mendukung perdagangan tradisional yang berkaitan erat dengan kegiatan ekonomi di wilayah mereka berproduksi, yakni di pabrik kertas La Farga.

Sheedo mulai memperkenalkan inovasi di bidan kertas ini terutama kepada kaum muda. Untuk melakukan ini, mereka mengatur kunjungan, loka karya, membuat kursus yang dirancang untuk semua tingkat pendidikan. Upaya ini sebagai bentuk promosi sekaligus mengembangkan kemampuan kreatif dengan berbagai tingkat kecerdasan.

“Kami ingin mentransmisikan penggunaan kertas yang merupakan bahan penting untuk transmisi pengetahuan, teknologi, dan kemanusiaan,” kata Gloria.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/sheedo-ciptakan-kertas-berbenih-tanaman/feed/ 0
Lebah Bisa Tingkatkan Produksi Pangan https://www.greeners.co/berita/lebah-tingkatkan-produksi-pangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lebah-tingkatkan-produksi-pangan https://www.greeners.co/berita/lebah-tingkatkan-produksi-pangan/#respond Sun, 13 Nov 2016 10:14:18 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=15177 Peneliti dari Cambridge Global Food Security Initiative (CGFSI) meneliti fenomena adanya sebuah virus dari tanaman yang mampu mengembangkan cara yang dapat menarik perhatian lebah untuk menambah produktifitas benih.]]>

LONDON, 18 Oktober 2016 − Sebuah virus dari tanaman mampu mengembangkan cara yang dapat menarik perhatian lebah untuk bisa memproduksi banyak benih. Artinya, lebah dapat menyuburkan tanaman yang sudah mati, ketimbang yang masih sehat, sekaligus menjamin kelangsungan hidup manusia dan virus tersebut.

Para peneliti dari Cambridge Global Food Security Initiative (CGFSI) yang meneliti fenomena tersebut menyadari bahwa jika bisa mengungkap rahasia virus tersebut maka mereka bisa menggiring lebah ke tanaman pangan dan menghasilkan panen lebih baik. Dengan demikian, bisa mengatasi persoalan pangan yang dihadapi dunia dikaitkan dengan perubahan iklim dan pertumbuhan populasi.

Penelitian ini menjadi sangat mendesak mengingat jumlah lebah yang semakin menurun akibat penggunaan pestisida dan adanya keruntuhan koloni lebah.

“Lebah menyediakan penyerbukan yang sangat vital bagi sepertiga produksi pangan dunia,” ujar ketua peneliti Dr John Carr yang juga kepala grup Virology and Molecular Plant Pathology di Universitas Cambridge. “Dengan jumlah lebah yang semakin menyusut, para peneliti terus berupaya mencari cara untuk menggali mekanisme penyerbukan yang mampu meningkatkan produktivitas pangan.”

Menarik Perhatian Lebah

Virus yang berhasil menarik perhatian lebah adalah virus mosaik ketimun (cucumber mosaic virus), sesuai dengan namanya ditemukan pada ketimun namun mampu dengan sukses menginfeksi berbagai macam tanaman dan pangan. Virus ini sangat ditakuti oleh petani tomat karena membuat buah menjadi lebih kecil dan mengurangi rasa.

Hal ini biasanya berarti tanaman yang sehat dapat melampaui yang terkena penyakit dan virus akan mati. Namun, itu tidak terjadi. Setelah delapan tahun penelitian, para peneliti menemukan kenapa virus tersebut mengeluarkan aroma yang spesial yang membuat lebah tertarik kepada tanaman yang terinfeksi dan menyuburkan mereka, ketimbang ke tanaman yang lebih sehat.

Beberapa eksperimen dilakukan di Cambridge University Botanic Garden dan berkolaborasi dengan Profesor Beverley Glover di area yang khusus diciptakan sebagai area terbang lebah. Hasilnya, lebah-lebah tersebut terus-menerus kembali ke tanaman yang sudah diinfeksikan virus.

Para penelitu di Universitas Cambridge berhasil mengisolasi bahan kimia organik yang dihasilkan oleh tanaman tersebut dan menemukan apa yang menarik perhatian lebah. Mereka menyukai bau virus tersebut sama seperti manusia menggunakan parfum atau aftershave untuk menarik manusia lainnya.

Setelah berhasil menyelesaikan satu masalah, Dr Carr menyadari masalah lainnya. “Saya mulai berpikir tentang lebah-lebah tersebut,” katanya. “Pasti ada timbal balik untuk lebah tersebut. Apabila tidak ada keuntungannya, mereka tidak akan tertipu terlalu lama.”

Hadiah yang Manis

Para peneliti pun mulai memikirkan hadiah yang sesuai bagi lebah karena berhasil menyuburkan tanaman pangan. Hal ini dilakukan saat mereka berusaha melatih lebah dengan tugas lainnya, seperti mengenali bau peledak atau narkoba, dengan mengadopsi cara yang sederhana yaitu menghadiahi mereka dengan gula yang sangat kuat saat mereka berhasil menyelesaikan tugasnya. Dengan demikian, lebah-lebah tersebut akan merasa puas berada di tempat yang tidak bisa dimakan karena sudah diberikan hadiah.

Penelitian ini masih terus dilakukan, bersama dengan Rothamsted Research di Hertfordshire, di Inggris dan Royal Horticultural Society, yang berkonsentrasi kepada menghadiahi lebah saat berhasil melakukan tugasnya dan mau menyerbuki tanaman yang dikehendaki para petani. – Climate News Network

]]>
https://www.greeners.co/berita/lebah-tingkatkan-produksi-pangan/feed/ 0
Tejo Wahyu Jatmiko, Lebih dari Sekadar “Kepalan Tangan” https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/#respond Fri, 02 Oct 2015 06:27:32 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=11345 Jakarta (Greeners) – Siang itu terasa cukup terik di Jakarta. Namun, di sepanjang sisi timur Kebun Binatang Ragunan, tepatnya di area Jalan Kebagusan Raya terasa sangat sejuk dengan banyaknya pohon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Siang itu terasa cukup terik di Jakarta. Namun, di sepanjang sisi timur Kebun Binatang Ragunan, tepatnya di area Jalan Kebagusan Raya terasa sangat sejuk dengan banyaknya pohon besar yang tumbuh di sekitar area tersebut.

“Masuk aja mas, dorong pintunya,” seru seseorang sambil melambaikan tangannya ketika Greeners tiba di sebuah rumah berhalaman luas dengan pintu pagar yang cukup besar.

Orang yang berseru itu adalah Tejo Wahyu Jatmiko, seorang pegiat lingkungan yang cukup lama malang melintang dalam hal pelestarian lingkungan. Meskipun telah menginjak usia 52 tahun, postur badannya yang tinggi dan gerakannya yang energik membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Mengenakan kaos hitam dengan tulisan ‘Locavore’, ia pun tak sungkan menerima Greeners di rumah yang menjadi sekretariat Aliansi Untuk Desa Sejahtera.

Tejo, begitu ia biasa disapa, dikenal sebagai pegiat lingkungan yang aktif di Aliansi Untuk Desa Sejahtera. Ia menjabat sebagai Koordinator Nasional dalam kepengurusan aliansi yang juga bernaung pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB) itu. Organisasi non pemerintah tersebut ia dirikan bersama enam orang kawannya pada 2005. Sebelum mendirikan PIB, Tejo tergabung dalam sebuah LSM bernama Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) dalam rentang waktu 1999-2004.

Semasa kuliah Tejo lebih memilih memasuki organisasi kampus yang berdasar minat dan bakat. Ia sendiri menyukai olah raga basket dan voli. Mengambil jurusan Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada (UGM), masa kuliahnya pun lebih sering dihabiskan untuk mencari uang di jalur sesuai yang berhubungan dengan ilmunya, yaitu konsultan lingkungan.

“Teman kuliah saya yang jadi aktivis di kampus saja kaget sekarang. Mereka sampai bilang ‘kok sekarang kamu jadi begini sih’,” cerita Tejo sambil sedikit tertawa.

Tejo sendiri memang tumbuh di keluarga pegawai negeri. Pekerjaan bapaknya yang menjadi seorang dosen biologi di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) membuatnya harus mencari uang jajan tambahan. Semasa kuliah, pekerjaan konsultan lingkungan yang ia lakukan semata-mata untuk menambah duit malem mingguan saja. Namun, penghasilannya ternyata justru dapat membiayai uang kuliahnya.

“Hasil dari gambar peta saja Rp 5 ribu. Kalau survei tempat, seminggu saja bisa terima Rp 25 ribu. Sedangkan uang kuliah saat itu per semester Rp 18 ribu,” kenangnya.

Meskipun uang yang diterima terbilang cukup besar, namun lama kelamaan Tejo merasa ada satu titik jenuh yang membuatnya merasa harus meningggalkan pekerjaannya sebagai konsultan lingkungan. Perencanaan lingkungan yang dibuatnya semasa menjadi konsultan lingkungan tidak dilaksanakan secara utuh. Bahkan seringkali tidak dijalankan sama sekali oleh para kliennya yang kebanyakan dari pihak pemerintahan.

“Awalnya, sih, enggak apa-apa, orang kita mikir yang penting dibayar, kan? Tapi lama-lama capek juga. Kita susah-susah survey, bikin analisis lingkungan dan rekomendasinya, tapi enggak dijalanin,” ujarnya.

Menjadi pegawai konsultan lingkungan sejak awal bangku kuliah, membuat Tejo memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, dari pemerintahan hingga aktivis lingkungan. Tejo pun mengakui bahwa pekerjaannya sebagai konsultan lingkungan adalah pintu masuk untuk ‘karier’ di dunia LSM hingga sekarang.

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/tejo-wahyu-jatmiko-lebih-dari-sekadar-kepalan-tangan/feed/ 0
Mentan: Perlu Keterlibatan Semua Pihak untuk Percepat Swasembada Pangan https://www.greeners.co/berita/mentan-perlu-keterlibatan-semua-pihak-untuk-percepat-swasembada-pangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mentan-perlu-keterlibatan-semua-pihak-untuk-percepat-swasembada-pangan https://www.greeners.co/berita/mentan-perlu-keterlibatan-semua-pihak-untuk-percepat-swasembada-pangan/#respond Sat, 28 Feb 2015 11:48:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7570 Malang (Greeners) – Cita-cita Indonesia mencapai swasembada pangan bisa terealiasi lebih cepat dari yang diharapkan jika semua pihak terlibat langsung, baik petani, TNI, PNS, dan semua stake holder lainnya turun […]]]>

Malang (Greeners) – Cita-cita Indonesia mencapai swasembada pangan bisa terealiasi lebih cepat dari yang diharapkan jika semua pihak terlibat langsung, baik petani, TNI, PNS, dan semua stake holder lainnya turun ke sawah dan mendukungnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengharapkan kepada semua penyuluh pertanian di Indonesia bergerak bersama-sama mengedukasi para petani di lapangan dan mengawal program ini.

“Dengan anggaran 16,9 triliun rupiah dan dengan pengawalan yang tepat masuk ke lapangan swasembada pangan bisa cepat tercapai,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang, Kamis (26/2/2015).

Para mahasiswa di Indonesia juga mempunyai peran penting dalam hal ini. Misalnya, dengan ikut memonitoring kualitas dan kuantitas produksi pertanian, benih, pupuk, serta mengawal program dan kegiatan para petani di lapangan. Ia menargetkan bisa menutup impor bahan pangan dari negara lain dan membaliknya. “Yang penting seluruh petani bergerak bersama,” katanya.

Sebelum menjadi pembicara dalam kuliah umum di STPP Malang, Menteri Pertanian juga melakukan panen raya padi di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Malang, JawaTimur, dengan luas lahan sekitar 1.753 hektare. Di Jawa Timur sendiri, katanya, pekan depan akan panen 500 ribu hektare padi. “Kalau bisa menghasilkan 4 juta ton gabah kering giling, beras cukup aman,” katanya.

Menurutnya, target produksi gabah tahun 2015 mencapai 73 juta ton dengan kebutuhan 32 juta ton per tahun. Ia optimis dengan adanya spirit baru para petani dan ditunjang anggaran yang memadai serta bantuan alat-alat teknologi pertanian bisa memacu produksi gabah di Indonesia. Selama sepekan ini, Amran sudah mengunjungi daerah yang sudah waktunya panen raya seperti di Demak, Sragen, dan Malang. Rata-rata ada peningkatan produksi padi sekitar 30 persen dari biasanya.

Peningkatan ini juga tidak lepas dari mundurnya masa panen dan tanam dari akhir tahun 2014 menjadi awal tahun 2015. Serangan hama di Jawa Timur, katanya, di bawah 2 persen dan ini membuat produktifitas padi meningkat.

Di Kabupaten Malang yang menjadi salah satu lumbung padi nasional, produksi gabah kering saat panen mencapai 500.000 ton. Produksi ini masih bisa ditingkatkan lagi menurut Bupati Malang Rendra Kresna saat menemani Menteri Pertanian. Ia menyebutkan, beberapa kendalanya adalah peralatan pertanian yang kurang karena buruh tani berkurang.

Andi juga mengatakan penanganan irigasi tersier yang menjadi beban petani bisa juga ditangani oleh pemerintah daerah guna memacu produktifitas pertanian. “Penggunaan alat-alat teknologi pertanian yang memadai bisa menambah produktifitas,” ujarnya.

(G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/mentan-perlu-keterlibatan-semua-pihak-untuk-percepat-swasembada-pangan/feed/ 0
Awal Musim Tanam Kementan Jamin Persediaan Benih Aman https://www.greeners.co/berita/awal-musim-tanam-kementan-jamin-persediaan-benih-aman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=awal-musim-tanam-kementan-jamin-persediaan-benih-aman https://www.greeners.co/berita/awal-musim-tanam-kementan-jamin-persediaan-benih-aman/#respond Sun, 05 Oct 2014 05:58:00 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6046 Jakarta (Greeners) – Memasuki musim tanam pada bulan Oktober ini, Kementerian Pertanian menjamin persediaan benih di Indonesia akan aman. Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Bambang Budhianto, mengatakan kalau para […]]]>

Jakarta (Greeners) – Memasuki musim tanam pada bulan Oktober ini, Kementerian Pertanian menjamin persediaan benih di Indonesia akan aman. Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Bambang Budhianto, mengatakan kalau para petani tidak perlu khawatir kesulitan untuk mendapatkan benih padi.

Bambang menjelaskan bahwa persiapan benih padi oleh para pelaku usaha perbenihan dalam negeri dan oleh petani sendiri sudah disediakan jauh hari sebelum musim tanam dilakukan oleh petani.

“Ada 150 jenis benih dan 50 persennya adalah benih pelaku usaha, sisanya merupakan benih milik para petani sendiri yang bisa ditukarkan dengan sesama petani yang memiliki benih hortikultura selain benih padi. Ini sebagai antisipasi kekurangan benih padi saat masuk musim tanam melalui cara barter,” terang Bambang kepada Greeners, Jakarta, Jumat (03/10).

Bambang mengaku pihak Kementerian Pertanian juga telah melakukan pemeriksaan hingga ke tingkat perusahaan baik ke Badan Usaha Milik negara (BUMN)maupun ke pihak swasta. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui bahwa benih telah siap didistribusikan ke petani.

“Untuk di tingkat petani sendiri, benih padi memang sudah tersedia cukup untuk siap ditanam,” tambahnya.

Menurutnya, banyak petani yang tidak ingin tergantung dengan benih dari perusahaan-perusahaan benih. Kebanyakan dari petani tersebut lebih memilih menyediakan benih padi sendiri.

Sebagai informasi, Bambang menuturkan musim tanam akan dimulai pada awal Oktober 2014 seiring dengan masuknya musim hujan di sejumlah daerah di Tanah Air.

“Puncak musim kemarau pada Juli-Agustus sudah lewat, tetapi sejumlah daerah di luar Jawa akan mengalami pengunduran mulai menanam padi sekitar 10 hari. Memang tidak serempak, tapi itu normal. Mereka biasanya menunggu dulu pengumuman dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),” katanya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/awal-musim-tanam-kementan-jamin-persediaan-benih-aman/feed/ 0
Pemerintah Diminta Segera Setujui Penggunaan Benih Bioteknologi Lokal https://www.greeners.co/berita/pemerintah-diminta-segera-setujui-penggunaan-benih-bioteknologi-lokal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintah-diminta-segera-setujui-penggunaan-benih-bioteknologi-lokal https://www.greeners.co/berita/pemerintah-diminta-segera-setujui-penggunaan-benih-bioteknologi-lokal/#respond Fri, 22 Aug 2014 05:58:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5515 Jakarta (Greeners) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat (Jabar) menyatakan bahwa peningkatan pendapatan dari hasil pertanian sudah harus didukung dengan penggunaan teknologi dan inovasi, seperti contohnya benih rekayasa […]]]>

Jakarta (Greeners) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat (Jabar) menyatakan bahwa peningkatan pendapatan dari hasil pertanian sudah harus didukung dengan penggunaan teknologi dan inovasi, seperti contohnya benih rekayasa genetika.

Sekretaris Jendral HKTI, Benny Pasaribu menjelaskan bahwa alasan benih rekayasa dibutuhkan karena areal pertanian yang tersedia saat ini kebanyakan merupakan lahan marjinal atau suboptimal.

“Makanya, para petani Jabar yang berhasil dengan benih rekayasa genetikanya harus didukung dan pemerintah sudah harus segera menyetujui penggunaan benih hasil rekayasa genetika atau bioteknologi oleh petani Jabar itu,” ungkap Benny kepada Greeners, Jakarta, Jumat (22/08).

Benny menyesali kenapa hingga saat ini seluruh petani di dalam negeri masih belum diperbolehkan menanam benih bioteknologi. Padahal, lanjutnya, produk benih bioteknologi dari luar negeri sudah banyak yang dikonsumsi masyarakat Indonesia melalui impor pangan dan komoditas jagung dan kedelai.

“Kami masih menunggu agar diberikan kesempatan menggunakan teknologi pertanian termutakhir, dalam hal ini teknologi perbenihan yang ada pada tanaman bioteknologi,” tambahnya.

Seperti diketahui, laju konversi lahan yang dua kali lebih cepat dibanding pencetakan sawah baru per tahun membuat lahan pertanian Indonesia yang tinggal 8,1 juta hektare terancam habis pada 2150.

HKTI juga menilai bahwa Jabar merupakan wilayah yang sulit untuk mencetak sawah baru karena ketiadaan lahan basah, seperti rawa dan hutan, yang merupakan lahan paling mudah untuk dicetak menjadi sawah baru.

Sejak 2013, telah tercetak 500 hektare lahan pertanian baru di Jabar, sedangkan pada 2014 Pemprov Jabar menargetkan dapat mencetak 17.000 hektare sawah. Pemprov Jabar sendiri melalui Dinas Pertanian menargetkan luas lahan pertanian pada 2018 dapat mencapai 1 juta hektare dan menambah produksi padi sebesar 1,2 juta ton.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintah-diminta-segera-setujui-penggunaan-benih-bioteknologi-lokal/feed/ 0
Indonesia Seharusnya Sudah Berdaulat Pangan https://www.greeners.co/berita/indonesia-seharusnya-sudah-mencapai-kedaulatan-pangan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-seharusnya-sudah-mencapai-kedaulatan-pangan https://www.greeners.co/berita/indonesia-seharusnya-sudah-mencapai-kedaulatan-pangan/#respond Tue, 19 Aug 2014 15:08:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5468 Jakarta (Greeners) – Indonesia memiliki sumber pangan yang luar biasa. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, potensi sumber pangan yang dimiliki Indonesia sebanyak 77 jenis sumber karbohidrat, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia memiliki sumber pangan yang luar biasa. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, potensi sumber pangan yang dimiliki Indonesia sebanyak 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis sumber buah-buahan, 228 jenis ayuran, 40 jenis buah minuman dan 110 jenis rempah.

Dr. Vandana Shiva, seorang penggiat pangan dan lingkungan dari India, mengemukakan pendapatnya bahwa kekuatan Indonesia di bidang pangan sudah bisa dikatakan sebagai negara pemberi atau negara produksi karena Indonesia adalah negara dengan mega-biodiversity.

“Indonesia seharusnya sudah mampu mencapai kedaulatan pangan dengan segala potensi pangannya dan sistem hukum yang ada seharusnya mampu melindungi para petani dari kekuatan dominasi kapitalisasi benih agar Indonesia mampu mencapai kedaulatan pangan secara mandiri,” ujar Shiva saat menjadi pembicara utama pada diskusi pakar bertemakan “Pengelolaan Benih Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI di Jakarta, Selasa (19/08).

Kementrian Pertanian mencatat produksi padi, jagung, hingga komoditi kacang tanah, Indonesia sampai menambah lahan produksinya di Cina. Indonesia sudah seharusnya menjadi juara dalam konteks pangan dunia.

“Dengan kekuatan sebegitu besar, bagaimana Indonesia masih juga belum mencapai kedaulatan pangannya?” kata Shiva dengan nada heran.

Menanggapi hal tersebut, Direktorat Perbenihan, Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Bambang Budhianto mengatakan bahwa pemerintah sudah berupaya untuk mengatasi ketahanan pangan bangsa.

“Untuk tanaman padi, kita sudah swasembada dan bahkan surplus sejak tahun 2004 hingga saat ini,” terang Bambang.

Terkait kapitalisasi benih yang dirasa merugikan petani, Bambang juga menegaskan bahwa pemerintah memberikan kesempatan pada siapapun untuk memiliki usaha di bidang perbenihan termasuk juga produsen benih asing sejauh itu untuk kemajuan bangsa.

“Jelas kalau sampai mendominasi tidak akan kita kasih izin. Lagi pula maksimum kepemilikan modal asing sudah diatur hanya 49 persen untuk benih tanaman pangan,” katanya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-seharusnya-sudah-mencapai-kedaulatan-pangan/feed/ 0
Pemerintahan SBY Dianggap Gagal Sejahterakan Petani https://www.greeners.co/berita/pemerintahan-sby-dianggap-gagal-sejahterakan-petani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pemerintahan-sby-dianggap-gagal-sejahterakan-petani https://www.greeners.co/berita/pemerintahan-sby-dianggap-gagal-sejahterakan-petani/#respond Tue, 19 Aug 2014 14:36:07 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5472 Jakarta (Greeners) – Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berlangsung selama hampir 10 tahun, ternyata masih dianggap gagal dalam memberikan kontribusi yang berarti terhadap kesejahteraan petani. Peran penting petani sebagai penyedia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berlangsung selama hampir 10 tahun, ternyata masih dianggap gagal dalam memberikan kontribusi yang berarti terhadap kesejahteraan petani. Peran penting petani sebagai penyedia pangan nasional masih belum diimbangi dengan kesejahteraan hidup rumah tangga mereka.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa menyatakan bahwa peningkatan impor pangan empat kali lipat dari tahun 2003, yaitu sebanyak US$ 3,34 miliar menjadi US$ 14,9 miliar hingga tahun 2013, menjadi bukti bahwa pemerintah telah salah dalam menerapkan kebijakan.

Andreas juga menjelaskan bahwa penyusutan luas lahan pertanian sebanyak lima juta hektar lebih, atau menurun 16,32 % dari 2003 selama 10 tahun terakhir, juga menyebabkan hilangnya 500.000 lebih rumah tangga keluarga tani. Ini menjadi bukti kalau semakin banyak masyarakat pedesaan yang tidak tertarik lagi untuk bertani karena tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarganya.

“Data Sensus Pertanian 2013 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ada penurunan jumlah keluarga tani sebanyak 5,04 juta rumah tangga, dari yang tadinya pada tahun 2003 ada 31,17 juta sekarang pada tahun 2013 menjadi 26.13 juta. Ini kan bahaya,” ungkap Andreas saat ditemui dalam diskusi pakar “Pengelolaan Benih Melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan” yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI di Jakarta, Selasa (19/08).

Padahal, lanjut Andreas, jika pemerintah memang serius dengan kesejahteraan petani, maka bisa saja kesalahan program dan kebijakan tersebut segera dibenahi. Dia memberikan contoh tentang apa yang telah dilakukan oleh AB2TI yang memiliki program untuk membentuk 10.000 pemuliaan tanaman melalui persilangan di beberapa wilayah di Indonesia.

“Program IF8 (Indonesian Farmer) karya petani kita sudah berhasil panen dengan produktivitas 10,4 hingga 13,8 ton Gabah Kering Panen per hektare periode April dan Juni 2014. Kita saja bisa dengan jumlah petani yang tergolong sedikit,” tambahnya.

Selanjutnya Andreas mengungkapkan bahwa benih karya IF8 tersebut sudah dikembangkan di 14 kabupaten seperti Lamongan, Pasuruan, Mojokerto, Sukoharjo, Wonogiri, Gunung Kidul, Kulonprogo, Sragen, Semarang, Pemalang, Brebes, Banyumas dan Cilacap.

“Rata-rata hasil varietasnya dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan varietas milik pemerintah maupun swasta, dan yang lebih baik lagi pendapatan para petani yang terlibat di IF8 meningkat dari 50 hingga 100 persen. Sangat cukup untuk menyejahterakan keluarganya,” ungkap Andreas.

Berdasarkan hasil Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian 2013 yang dirilis Badan Pusat Statistik dengan sampel 418.000 rumah tangga, diperoleh rata-rata pendapatan rumah tangga pertanian sebesar Rp 2,2 juta per bulan atau Rp 550.000 per kapita per bulan (asumsi rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang).

Hanya Rp 1 juta per bulan atau Rp 250.000 per kapita per bulan saja yang berasal dari usaha pertanian. Artinya, petani Indonesia memang miskin jika hanya mengandalkan pendapatan dari usaha pertanian. Ironisnya, 63 persen petani mengandalkan hidupnya dari usaha pertanian.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/pemerintahan-sby-dianggap-gagal-sejahterakan-petani/feed/ 0
Nilai Impor Tinggi, Krisis Pangan Ancam Indonesia https://www.greeners.co/berita/nilai-impor-tinggi-krisis-pangan-ancam-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nilai-impor-tinggi-krisis-pangan-ancam-indonesia https://www.greeners.co/berita/nilai-impor-tinggi-krisis-pangan-ancam-indonesia/#respond Thu, 14 Aug 2014 09:06:31 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5446 Jakarta (Greeners) – Isu kedaulatan pangan sempat hangat dibahas ketika topik ini dimasukan dalam program visi dan misi para calon presiden dan wakil presiden pada masa kampanye Pemilihan Umum Presiden […]]]>

Jakarta (Greeners) – Isu kedaulatan pangan sempat hangat dibahas ketika topik ini dimasukan dalam program visi dan misi para calon presiden dan wakil presiden pada masa kampanye Pemilihan Umum Presiden yang berlangsung beberapa waktu yang lalu. Namun, isu penting ini kembali tenggelam usai masa kampanye berlalu.

“Tahun 2014 ini adalah pemilu, dinyatakan seolah-olah kita mandiri pangan sehingga impor hanya sekitar 350 ribu ton. Tahun ini, saya khawatir impor kita akan meningkat lagi, di atas 1,5 juta ton. Hal ini tidak benar juga,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dwi Andreas Santoso.

Mengutip data BPS, Andreas menyatakan nilai impor pangan pada tahun 2013 sebesar USD 3,3 milyar. Sementara tahun ini meningkat menjadi USD 14,9 milyar.

“Jadi, ada peningkatan sekitar empat setengah kali lipat impor pangan atau pertanian kita,” katanya saat ditemui Greeners usai menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema “Pentingnya Benih Pada Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Rabu (13/08).

Besarnya kuota impor pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tingginya harga pangan di pasar internasional membuat Indonesia mengalami tiga kali krisis pangan dalam delapan tahun terakhir. Krisis pangan tersebut terjadi pada tahun 2008, 2010, dan 2011 dimana nilai impor naik secara signifikan.

Andreas yang juga Ketua Umum Bank Benih Tani Indonesia mengingatkan, “Tren 10 tahun terakhir ini, dimana impor pangan meningkat tajam tapi dibiarkan saja, maka kita akan masuk ke dalam bencana pangan, bukan hanya krisis pangan.”

Ia mengharapkan program pemerintah ke depan memberi prioritas isu kedaulatan pangan, termasuk masalah benih dan kesejahteraan petani kecil untuk meningkatkan daya saing.

“Persoalan pangan ini persoalan serius yang harus diatasi bersama, tidak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh masyarakat,” katanya.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/nilai-impor-tinggi-krisis-pangan-ancam-indonesia/feed/ 0
Kemarau pengaruhi kondisi ikan budidaya https://www.greeners.co/berita/kemarau-pengaruhi-kondisi-ikan-budidaya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kemarau-pengaruhi-kondisi-ikan-budidaya https://www.greeners.co/berita/kemarau-pengaruhi-kondisi-ikan-budidaya/#respond Wed, 12 Sep 2012 03:00:21 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=3022 Yogya (Greenersmagz) – Musim kemarau yang tengah berlangsung berdampak pada penurunan kualitas dan hasil budidaya ikan di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penurunan hasil hingga 25 persen karena daya […]]]>

Yogya (Greenersmagz) – Musim kemarau yang tengah berlangsung berdampak pada penurunan kualitas dan hasil budidaya ikan di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penurunan hasil hingga 25 persen karena daya tahan tubuh ikan tidak optimal.

Kepala Bidang Perikanan, Dinas Petanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Suparmono menyampaikan, hasil budidaya ikan akan merata turun karena pengaruh cuaca dan lingkungan. “Musim kemarau oksigen dalam air terbatas, ikan tidak dalam kondisi baik,” jelasnya di Sleman, Selasa (11/9).

Pada musim panas diketahui pula produksi air tanah juga berkurang. Dengan demikian menurut Suparmono belum tentu semua petani bisa mengusahakan agar air bisa mengalir ke dalam kolam.

Kondisi seperti saat ini menurutnya sudah diantisipasi dengan mengurangi jumlah benih ikan yang dibudidaya baik untuk petani ikan maupun pengusaya budidaya. Biasanya, pembudidaya ikan dalam jumlah besar akan menutup kolam dengan menambah atap plastik yang ditambah semprotan air.

Sementara, untuk mempertahankan kondisi ikan, petani dan pembudidaya ikan disarankan untuk memberikan pangan ikan probiotik. Probiotik berfungsi meningkatkan daya tahan ikan dalam mengatasi pengaruh cuaca. ”Kalau keberatan soal biaya, bisa menggantinya dengan blimbing wuluh yang punya vitamin C tinggi,” lanjutnya.

Menurut pengurus Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Kepis, Suranto, pihaknya membenarkan adanya penurunan produksi. Hal tersebut terlihat dari menurunnya omset KPI Mina Kepis di Dusun Burikan, Sumberadi, Mlati, Sleman itu.

Ia mengatakan, rata-rata omset sehari sebelum lebaran mencapai Rp3 juta. Khusus pada bulan ramadan bisa mencapai Rp5juta. ”Sekarang jauh anjlok, rata-rata omset Mina Kepis Rp2,5 juta per hari,” terang dia saat diubungi kemarin.

Selain keluhan omset yang menurun mencapai 30 persen itu, Suranto juga mengatakan bahwa kondisi ikan saat musim kemarau tidak maksimal. Ia juga telah menyiapkan probiotik untuk mengurangi dampak buruk daya tahan ikan.

Probiotik untuk sumber energi ikan kini tersedia di Dinas Pertanian Kabupaten Sleman. Persediaan probiotik akan disalurkan untuk puluhan kelompok tani di wilayah kabupaten tersebut. (G18)

]]>
https://www.greeners.co/berita/kemarau-pengaruhi-kondisi-ikan-budidaya/feed/ 0