berita taman - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/berita-taman/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 10 Feb 2016 11:09:42 +0000 id hourly 1 10 Taman Baru dan Plaza Reformasi Diresmikan Gubernur DKI Jakarta https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/#respond Wed, 10 Feb 2016 11:10:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=12802 Pada Selasa (09/02) kemarin, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa.]]>

Jakarta (Greeners) – Pada Selasa (09/02) kemarin, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998. Acara yang bertempat di Taman Jagakarsa, Jl. H. Mahjur, Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini merupakan bagian dari Program #AyoKeTaman yang dicanangkan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta sejak 4 Oktober 2015 lalu dan sebagai wujud kepedulian Pemprov DKI Jakarta akan kebutuhan RTH bagi warga di Ibukota.

Saat ditemui di lokasi acara, Basuki menyatakan Taman Jagakarsa memiliki keunikan tersendiri dengan lokasinya yang diapit pemukiman padat pada bagian utara, barat dan timur.

“Pada bagian Selatan berbatasan dengan Sungai Ciliwung sehingga Taman Jagakarsa berpotensi untuk menjadi waterfront garden. Dengan kontur yang beragam, slooping (menurun) ke Sungai Ciliwung sehingga menimbulkan sensasi tersendiri pada saat berada di taman tersebut,” ujar Basuki, Selasa (09/02).

Taman Jagakarsa memiliki luas 5.981 meter persegi. Taman ini merupakan salah satu RTH yang baru selesai dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta pada akhir Desember 2015.

“Taman Jagakarsa didesain memperhatikan kontekstualitas sekitar, seperti Sungai Ciliwung dan pemukiman padat yang berbatasan langsung dengan taman,” ujar Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Ir. Ratna Diah Kurniati, M.Si. Ratna.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa, Selasa (09/02). Foto: Haris Zakian Husein/dok.panitia

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan sepuluh ruang terbuka hijau (RTH) dan Plaza Prasasti Tragedi Mei 1998 di Taman Jagakarsa, Selasa (09/02). Foto: Haris Zakian Husein/dok.panitia

Pada level tertentu, pengunjung taman dapat melihat Sungai Ciliwung dari kejauhan. Pengolahan sirkulasi, entrance area dan plaza serta fasilitas taman lainnya memanfaatkan profil kontur alami lahan yang berbukit.

Pada titik-titik tertentu Taman Jagakarsa dibangun tempat duduk untuk bercengkrama sambil menikmati pemandangan aliran Sungai Ciliwung. Fasilitas shelter, lapangan olahraga multifungsi, outdoor fitness dan tension membrane merupakan pendukung aktivitas warga di dalamnya. Dengan konsep natural, dibangun pula jembatan gantung di sisi bagian barat taman. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan goyang di taman milik Provinsi DKI Jakarta.

Selain Taman Jagakarsa, sembilan taman baru lainnya adalah Taman Cakung (luas 1.663 meter persegi), Taman Kelapa (1.626), Taman Lebak Bulus (3.249), Taman Maja (4.714), Taman Zodia (4.663), Taman PPA (3.428), Taman Sunter (1.989), Taman Tanjung 2 (2.281), Taman Kalibaru (511,81).

Peresmian ini dihadiri oleh masyarakat di lingkungan Taman Jagakarsa dan berbagai komunitas pegiat lingkungan, antara lain Biological Science Club (BScC)-Fakultas Biologi UNAS, Biological Bird Club “Ardea” Fakultas Biologi UNAS, Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI, Komunitas Hijau, Suar Art Space, IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), dan IMASTA (Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Tarumanegara).

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/aksi/10-taman-baru-dan-plaza-reformasi-diresmikan-gubernur-dki-jakarta/feed/ 0
Taman Kunang-Kunang https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-kunang-kunang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=taman-kunang-kunang https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-kunang-kunang/#respond Wed, 11 Nov 2015 08:06:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11861 Jika masa kecil Anda pernah menghabiskan waktu bermain dengan menangkap kunang-kunang di malam hari, rasa-rasanya saat ini sudah sulit untuk melakukannya lagi. Namun, jika Anda ingin menghidupkan kembali kenangan itu, […]]]>

Jika masa kecil Anda pernah menghabiskan waktu bermain dengan menangkap kunang-kunang di malam hari, rasa-rasanya saat ini sudah sulit untuk melakukannya lagi. Namun, jika Anda ingin menghidupkan kembali kenangan itu, Anda bisa mencoba untuk datang ke taman bermain khusus atau theme park di Cina.

Sebanyak 10.000 kunang-kunang diimpor dari daerah Ningdu di Ganzhou, Provinsi Jiangxi, Cina untuk mengisi Taman East Lake Peony Garden di Kota Wuhan. Hasilnya benar-benar cantik dan surealistik.

Polusi dan hancurnya habitat alami kunang-kunang membuat populasi serangga ini menurun drastis. Sebagai solusinya, pengusaha setempat membuat taman khusus untuk melihat kunang-kunang. Foto: Mao Huifang hubei.gov.cn/inhabitat.com

Polusi dan hancurnya habitat alami kunang-kunang membuat populasi serangga ini menurun drastis. Sebagai solusinya, pengusaha setempat membuat taman khusus untuk melihat kunang-kunang. Foto: Mao Huifang hubei.gov.cn/inhabitat.com

Seperti dikutip dari situs inhabitat.com, taman ini terbagi ke dalam lima zona berbeda. Terdapat zona terbang, zona pengamatan, zona jarak nol, zona pembibitan dan zona untuk mempopulerkan ilmu pengetahuan. Siapapun pengunjungnya, dari mulai pengunjung biasa sampai dengan pengamat dan peneliti, dapat mengoptimalkan pengalaman kunjungan mereka di taman ini.

Turis di Cina membayar harga yang cukup mahal untuk melihat ribuan kunang-kunang ini. Meski demikian, situs Oddity Central melaporkan bahwa tiket masuk taman ini selalu terjual habis. Harga premium tersebut dinilai wajar karena untuk mengembangbiakkan kunang-kunang memerlukan biaya yang tidak murah, sekitar 10 Yuan atau setara dengan Rp 21.500 untuk satu ekor kunang-kunang.

Taman East Lake Peony Garden di Kota Wuhan dipenuhi sekitar 10.000 kunang-kunang. Foto: Mao Huifang hubei.gov.cn/inhabitat.com

Taman East Lake Peony Garden di Kota Wuhan dipenuhi sekitar 10.000 kunang-kunang. Foto: Mao Huifang hubei.gov.cn/inhabitat.com

Kunang-kunang memang bukan hal yang baru di Cina. Serangga yang memancarkan cahaya ini biasanya terlihat saat musim panas, namun polusi dan kehancuran habitat alaminya membuat populasi kunang-kunang semakin menurun. Sebagai solusinya, beberapa pengusaha mulai membuat taman-taman untuk kunang-kunang.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/taman-kunang-kunang/feed/ 0
#AyokeTaman : Hilangkan Pandangan Negatif Taman Kota https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/#respond Sun, 04 Oct 2015 12:02:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11374 Jakarta (Greeners) – Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen penting yang harus tersedia pada sebuah kota. Oleh karena itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan komponen penting yang harus tersedia pada sebuah kota. Oleh karena itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota diwajibkan memiliki RTH paling tidak 30% dari jumlah luasan kota tersebut.

Taman kota, sebagai bagian dari RTH, merupakan komponen yang paling dekat bagi masayarakat. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang enggan untuk pergi ke taman dikarenakan berbagai hal.

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga pada penyelenggaraan kampanye #AyokeTaman mengatakan bahwa taman telah terlanjur mendapatkan pandangan negatif dari masayarakat. Mulai dari taman-taman kecil yang lebih sering dipakai untuk muda-mudi berpacaran hingga kondisi taman yang kotor dan tidak diperhatikan.

Padahal, menurutnya, tanggung jawab masyarakat yang tinggal di sekitar taman menjadi penting apabila mereka (masyarakat) mau menganggap taman sebagai bagian dari kehidupan mereka.

“Image (pandangan) buruk taman itu kan hadir karena masyarakatnya sendiri enggan menjaga keindahan taman. Coba kalau taman itu dijaga dan diperhatikan, mungkin tidak akan ada kegiatan negatif di sana,” jelasnya saat ditemui dikegiatan #AyokeTaman di Taman Ayodia, Jakarta, Minggu (04/10).

Kampanye yang digagas oleh Kemitraan Kota Hijau ini sendiri bermaksud untuk mengajak masyarakat untuk kembali ke taman dengan segala macam kebaikan dan manfaat yang bisa didapatkan oleh masyarakat.

Joga berharap dengan adanya kegiatan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, masyarakat, pedagang atau siapapun yang terlibat di dalam pengembangan sebuah taman dapat kembali menghidupkan taman-taman yang hampir “mati” di Jakarta.

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Pengamat Tata Kota Hijau dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ditemui di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Ratna Diah Kurniati, menjelaskan bahwa ada sekitar 20 persen taman yang tidak aktif di Jakarta. Sedangkan, untuk jumlah RTH yang telah ada masih kurang dari 10 persen.

“Tahun 2015 ini target kita itu 10 persennya bisa tercapai. Sedangkan untuk mencapai target 13,95 persen yang dicanangkan DKI itu masih sangat sulit. Makanya kita juga mengajak swasta untuk membangun taman karena cukup sulit kalau harus pemprov sendiri,” tambahnya.

Untuk menarik minat masyarakat, Diah menyatakan akan menambah beberapa fasilitas seperti outdoor fitnes, lapangan olah raga dan jalur jogging di beberapa taman seperti yang telah ada di taman Situ Lembang, Suropati dan Taman Menteng. Ia juga menyatakan akan menghidupkan taman-taman yang ada di daerah pinggiran jakarta seperti taman-taman yang ada di tengah kota.

Toto Sugito, Ketua Umum Bike2Work Indonesia yang ditemui di kesempatan yang sama juga mengakui bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana nikmatnya berkumpul dan berbincang di taman.

“Fasilitas seperti parkir sepeda itu kan belum ada. Saya minta ke dinas (pertamanan) untuk ada penambahan itu. Kalau sudah ada kan enak. Para pesepeda juga seperti diajak untuk pergi ke taman,” katanya.

Sebagai informasi, gerakan #AyokeTaman sendiri adalah gerakan mengajak masyarakat untuk kembali mengunjungi taman-taman kota yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Habitat Sedunia yang ke 29. Jakarta sendiri memiliki 1173 taman kecil dan besar. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Hanya saja, karena budaya bertaman masih sangat minim, akhirnya keberadaan taman-taman di Jakarta seperti hilang dan tidak diketahui oleh masyarakat.

Padahal, akibat buruk dari tidak diperhatikannya keberadaan taman-taman ini, akan menarik para investor untuk mengambil alih lokasi-lokasi taman tersebut. Menurut Nirono Joga, dari 1173 taman di Jakarta, hampir 50 persennya telah mati. Hal tersebut jauh lebih banyak dari perkiraan yang diutarakan oleh Dinas Pertamanan yaitu 20 persen. Pada tahun 1985 Jakarta masih memiliki 25,85 persen RTH. Namun, pada tahun 2000 menyusut menjadi sembilan persen.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ayoketaman-ajak-masyarakat-hilangkan-pandangan-negatif-taman-kota/feed/ 0