biodegradable - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/biodegradable/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 22 May 2023 00:55:19 +0000 id hourly 1 Antik, Vas Bunga Ini Terbuat dari Cangkang Telur dan Pati Tapioka https://www.greeners.co/ide-inovasi/antik-vas-bunga-ini-terbuat-dari-cangkang-telur-dan-pati-tapioka/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=antik-vas-bunga-ini-terbuat-dari-cangkang-telur-dan-pati-tapioka https://www.greeners.co/ide-inovasi/antik-vas-bunga-ini-terbuat-dari-cangkang-telur-dan-pati-tapioka/#respond Mon, 22 May 2023 04:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=40146 Plastik bukan satu-satunya sumber polusi di planet kita. Tetapi bahan biodegradable seperti cangkang telur pun bisa dapat menjadi masalah jika dibiarkan. Misalnya, sampah makanan mudah menumpuk dan tidak semuanya mudah […]]]>

Plastik bukan satu-satunya sumber polusi di planet kita. Tetapi bahan biodegradable seperti cangkang telur pun bisa dapat menjadi masalah jika dibiarkan. Misalnya, sampah makanan mudah menumpuk dan tidak semuanya mudah kita daur ulang atau gunakan kembali.

Mengingat beragamnya jenis makanan yang menggunakan telur, cangkang telur adalah contoh utama bahan yang tidak hanya menjadi limbah literal. Tetapi juga berpotensi terbuang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Vas bunga Burn’tShell menggunakan dua jenis bahan berkelanjutan. Kulit telur ini telah digunakan sebagai bahan vas bagian bawah. Sedangkan tepung tapioka untuk cangkangnya.

Secara teknis, cangkang telur ini tidak dapat didaur ulang. Namun, mereka dapat terurai secara hayati dan berfungsi sebagai kompos yang sangat baik untuk kebun. Selain itu, sisa telur memiliki beberapa kegunaan lainnya.

Sayangnya, kebanyakan orang, dapur, dan proses produksi makanan tidak memberikan perhatian khusus pada limbah makanan seperti cangkang telur.

Tak heran hal ini bisa menimbulkan masalah. Untungnya, selalu ada cara untuk mendaur ulang beberapa jenis limbah makanan.

Foto: Yankodesign

Desain Vas Bunga dari Cangkang Telur

Keunikan dari vas bunga ini yaitu prosesnya menggunakan sifat, potensi, dan kinerja bawaan materialnya. Hal ini bisa membentuk desain lebih alami dan unik.

Aksesori antik ini bisa menciptakan bentuk organik yang menarik untuk menghiasi meja. Burn’tShell tidak hanya membuat vas bunga, mereka juga memproduksi lampu dengan bentuk yang menarik.

Burn’tShell menggunakan limbah makanan untuk membuat produk biodegradable dan biomaterial yang dapat terurai secara hayati. Kemudian memanfaatkan bagian telur ini sehingga mengurangi efek berbahaya bagi Bumi.

Vas dan lampu menampilkan warna rona cokelat muda yang berpadu dengan bercak putih yang bersahaja. Meskipun bentuk lengkungnya tidak biasa, tetapi aksesori ini menyampaikan karakter organik yang unik.

Asesoris ini pasti akan menjadi centerpieces yang pas untuk meja restoran, terutama di mana telur menjadi hidangan utama. Ini menjadi contoh bahwa cangkang telur bisa menjadi bahan untuk sesuatu yang lebih besar, dan dikreasikan menjadi barang yang unik.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

Sumber : Yankodesign

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/antik-vas-bunga-ini-terbuat-dari-cangkang-telur-dan-pati-tapioka/feed/ 0
NODE, Sepatu Modis Berbahan Baku Limbah Tani https://www.greeners.co/ide-inovasi/node-sepatu-modis-berbahan-baku-limbah-tani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=node-sepatu-modis-berbahan-baku-limbah-tani https://www.greeners.co/ide-inovasi/node-sepatu-modis-berbahan-baku-limbah-tani/#respond Fri, 26 Nov 2021 04:39:33 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=34521 Jakarta (Greeners) – Brand asal Indonesia, NoDeforestation atau NODE mengeluarkan produk sepatu ramah lingkungan. Seri sepatu slip on yang diberi nama NODE-Hari Merdeka ini terbuat dari 100 % bahan alami […]]]>

Jakarta (Greeners) – Brand asal Indonesia, NoDeforestation atau NODE mengeluarkan produk sepatu ramah lingkungan. Seri sepatu slip on yang diberi nama NODE-Hari Merdeka ini terbuat dari 100 % bahan alami dan dapat terdekomposisi setelah masa pakai tiga tahun.

Founder NODE David Chrisnaldi mengatakan, brand sepatunya ini tak hanya 100 % terbuat dari bahan alami, namun juga tidak mengandung solvent berbahaya. NODE juga memiliki sertifikat bebas logam berat, mikroplastik dan bahan kimia berbahaya.

“Komponen kami sudah 100 % berasal dari tanaman. Kami juga satu-satunya jenama alas kaki Indonesia yang membuat beberapa komponennya sendiri dan dapat membuktikan secara ilmiah klaim ramah lingkungan kami,” kata David kepada Greeners, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menambahkan, bagian upper sepatu NODE terbuat dari bahan kenaf dan rami diperkuat dengan goni. Untuk insolenya berasal dari latex foam. Sementara untuk outsolenya berasal dari sekam padi.

Meski begitu, David mengungkapkan pasokan bahan baku yang belum seragam antara kualitas dan kuantitasnya menjadi salah satu kesulitan yang mereka hadapi ketika memproduksi sepatu ramah lingkungan ini.

“Pada pembuatan komponen elastomer bio perlu pendekatan racikan dan proses baru. Pengujian biodegradasi yang ada pun masih diperuntukan untuk polimer atau elastomer sederhana. ISO-14855 hanya dapat digunakan untuk kemasan bioplastik dan bukan elastomer dengan tuntutan performa fisik yang berat,” paparnya.

Komitmen Node Menjaga Alam

David menjelaskan, upaya pertumbuhan ekonomi selalu berbanding lurus dengan eksploitasi hutan yang membawa dampak kerusakan permanen. Oleh sebab itu melalui sepatu ini, pihaknya berupaya mengingatkan bahwa keragaman flora dan fauna dalam bumi harus terus lestari.

“Seri NODE-Hari Merdeka ini kami buat bertepatan dengan santernya perbincangan seputar event COP-26. Kami melihat upaya pertumbuhan ekonomi selalu berbanding lurus dengan eksploitasi hutan yang membawa dampak kerusakan permanen,” ungkap David.

Brand sepatu lokal ini juga berkomitmen dalam menjaga kelestarian alam. David juga bertekad bahwa menjadi modis namun tetap ramah lingkungan dapat publik lakukan bersamaan lewat sepatu NODE ini.

“Mungkin sepatu kami bisa menjadi salah satu solusi penebangan hutan yang masif saat ini. Karena kami berupaya menggunakan bahan baku dari limbah tani, tanaman lahan marjinal dan over produce komoditi. NODE berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam. NODE percaya bahwa kita bisa menjadi modis dan ramah lingkungan pada saat bersamaan,” imbuh David.

David menambahkan, untuk target pasar seri Hari Merdeka ini, NODE menyasar komunitas pecinta lingkungan hidup dan komunitas seniman. Dari segi harga, NODE yakin dapat menekan harga sepatu apabila harga komponen dan produksi menjadi lebih murah. Bahkan jika penjualan meningkat hingga fase skala industri besar sudah tercapai.

NODE ingin kehadiran sepatu ramah lingkungan ini, mengajak generasi muda ikut menjaga alam. Foto: NODE

Pencapaian Tujuan untuk Kelestarian Bumi

Masih sedikitnya pelaku industri yang peduli terhadap lingkungan membuat NODE berkeinginan untuk menyadarkan mereka agar mau bersama-sama menciptakan solusi untuk kelestarian bumi.

“Yang ingin kami capai adalah kesadaran semua pelaku industri untuk bersama-sama menciptakan solusi nyata bagi kelestarian bumi dan isinya,” tutur David.

Selain itu NODE juga ingin mengajak generasi muda menyadari kalau pemenuhan kebutuhan sandang bisa tercapai tanpa harus menebang hutan. 

Di seri sepatu slip on ini, NODE pun menampilkan fauna langka dilindungi di Indonesia yang terancam keberadaannya. Fauna tersebut yakni, bekantan, badak bercula satu, gajah sumatra dan rangkong gading. 

“Proyek kampanye ini juga bertujuan mengingatkan ke semua orang yang melihat visual dalam sepatu tersebut bisa memulai langkah dalam menjaga kelestarian alam dan hutan,” ucapnya.

Koleksi slip on ini akan NODE jual terbatas. Publik bisa memesannya secara preorder di official store Shopee maupun website www.noderorganic.com dengan harga Rp 899.000.

Ke depannya, NODE juga akan terus berinovasi dengan mengeluarkan produk-produk lain yang tentunya ramah lingkungan. Dalam waktu dekat ini, NODE telah berencana mengeluarkan produk sandal. Keistimewaan dari sandal ini yaitu berbahan non polutan.

“Ke depan kami sedang menyiapkan seri sandal biodegradable dengan harga terjangkau. Sandal ini akan di desain dengan grip yang sempurna di lantai basah. Bahan yang kami gunakan juga akan non polutan ketika terbiodegradasi,” tandas David.

Penulis : Fitri Annisa

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/node-sepatu-modis-berbahan-baku-limbah-tani/feed/ 0
Perbedaan Biodegradable dan Compostable: Ayo Kita Bedah! https://www.greeners.co/ide-inovasi/perbedaan-biodegradable-dan-compostable/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perbedaan-biodegradable-dan-compostable https://www.greeners.co/ide-inovasi/perbedaan-biodegradable-dan-compostable/#respond Fri, 19 Feb 2021 12:00:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=31565 Istilah biodegradable dan compostable sering kita temukan di mana-mana. Namun, istilah tersebut sering kali keliru. Terkadang kedua kata itu saling menggantikan satu sama lain, ada juga yang menyesatkan; sehingga menciptakan kebingungan bagi orang-orang yang mencoba menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.]]>

Sobat Greeners, dalam upaya kita memilih gaya hidup ramah lingkungan, seringkali kita mendapati produk dengan label biodegradable (terurai secara hayati) maupun compostable (dapat menjadi kompos). Kali ini, Greeners akan membahas lebih dalam tentang perbedaan kedua label tersebut. Yuk, simak!

Istilah biodegradable dan compostable sering kita temukan di mana-mana. Namun, istilah tersebut sering kali keliru. Terkadang kedua kata itu saling menggantikan satu sama lain, ada juga yang menyesatkan; sehingga menciptakan kebingungan bagi orang-orang yang mencoba menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Untuk memilih produk benar-benar aman untuk bumi, penting untuk memahami apa arti biodegradable dan compostable, apa arti sebenarnya dan bagaimana perbedaannya.

Definisi Biodegradable

Istilah biodegradable mengacu pada bahan apa pun yang dapat terurai oleh mikroorganisme (seperti bakteri dan jamur) dan berasimilasi dengan lingkungan alam. 

Bio-degradasi adalah proses yang terjadi secara alami; ketika suatu benda terdegradasi, komposisi aslinya terurai menjadi komponen sederhana seperti biomassa, karbon dioksida, dan air. 

Proses ini dapat terjadi dengan atau tanpa oksigen, tetapi membutuhkan lebih sedikit waktu ketika ada oksigen yang berperan. Seperti ketika tumpukan daun di halaman Anda rusak dalam satu musim.

Biodegradasi dapat berlangsung mulai dari beberapa hari (untuk sisa sayuran) hingga 500 tahun atau lebih (untuk kantong plastik).

Perbandingan Waktu Terurai Barang Rumah Tangga 

Perbedaan Biodegradable dan Compostable

Perbandingan lama terurai barang rumah tangga. Desainer Grafis: Ordo Dipo.

Sayuran, cangkang telur, kertas, dan sampah taman seperti dedaunan dapat langsung terurai secara hayati. Saat Anda buang, barang-barang tersebut terurai dalam waktu yang relatif singkat; sehingga dapat berasimilasi dengan lingkungan alam.

Berapa lama waktu benda untuk terurai tergantung pada komposisi kimiawi objek dan cara penyimpanannya. Variabel seperti suhu dan keberadaan air, cahaya, dan oksigen memengaruhi kecepatan degradasi. Sebagian besar tempat pembuangan sampah memiliki sedikit cahaya, udara, dan kelembaban sehingga proses biodegradasi sangat lambat.

Bahkan beberapa barang komersial seperti penggosok dari sabut kelapa termasuk dalam kategori ini. Sebagai perbandingan, bahan seperti styrofoam, plastik, dan aluminium biasanya dianggap tidak dapat terurai secara hayati karena memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Membuat kompos

Sayuran, cangkang telur, kertas, dan sampah taman seperti dedaunan dapat langsung terurai secara hayati. Foto: Shutterstock.

Mencari tahu apakah suatu objek benar-benar dapat terurai secara hayati dapat menjadi tantangan, terutama saat Anda menilai objek yang biasanya tidak terbuat dari bahan yang dapat terurai secara hayati, seperti phone case atau tote bags

Federal Trade Commission (FTC) dan berbagai pemberi sertifikasi pihak ketiga telah mengambil langkah untuk memantau pelabelan produk yang masuk dalam kategori produk yang dapat terurai secara hayati.

Jadi, jika Anda mencoba menentukan apakah sesuatu dapat terurai secara hayati, periksa kemasannya dan jangan ragu untuk menghubungi perusahaan jika ingin mengajukan pertanyaan.

Meskipun demikian, sebagian besar produk konsumen yang “dapat terurai secara hayati” tidak akan benar-benar berasimilasi dengan bumi melalui biodegradasi alami. Untuk terurai secara hayati, mereka membutuhkan serangkaian kondisi khusus melalui proses pengomposan.

Definisi Compostable

Istilah compostable mengacu pada produk atau bahan yang dapat terurai secara hayati dalam keadaan tertentu yang dibentuk sedemikian rupa oleh manusia. 

Tidak seperti biodegradasi, yang merupakan proses yang sepenuhnya alami, pengomposan memerlukan campur tangan manusia.

Selama pengomposan, mikroorganisme memecah bahan organik dengan bantuan manusia, yang menyumbangkan air, oksigen, dan bahan organik yang esensial untuk mengoptimalkan kondisi. 

Proses pengomposan umumnya memakan waktu antara beberapa bulan hingga tiga tahun. Tentunya, variabel seperti oksigen, air, cahaya, dan jenis lingkungan pengomposan memengaruhi. Ada dua jenis utama pengomposan:

  • Pengomposan perumahan; melibatkan pengumpulan sisa makanan di tempat sampah atau tumpukan, menggabungkannya dengan sampah halaman, dan secara berkala membalikkan campuran untuk mendorong penguraiannya menjadi bahan organik yang lebih mendasar. Oleh karena itu, Anda tidak dapat mengolah bahan makanan seperti daging, keju, dan ikan di tempat sampah; karena tidak akan ada cukup panas yang dapat mengurainya.
  • Pengomposan komersial; melibatkan penyaringan dan penyortiran bahan menjadi organik dan anorganik, memecahnya dengan pemotong dan penggiling, dan menciptakan kondisi kelembaban, suhu, dan oksigen yang optimal. Hasilnya, kompos komersial mampu memecah produk yang lebih kompleks daripada kompos rumahan.

Jika Anda mempertimbangkan untuk membeli produk yang mengklaim dapat menjadi kompos, pastikan untuk membaca labelnya. 

Seperti halnya barang yang dapat terurai secara hayati, pelabelan bahan yang compostable diatur oleh FTC dan pemberi sertifikasi pihak ketiga. 

Anda pasti ingin mengetahui apakah produk tersebut dapat menjadi kompos di tempat sampah halaman belakang atau memerlukan pengomposan komersial.

Jika Anda baru saja berbelanja untuk phone case, botol minum, atau tas belanjaan yang dapat digunakan kembali; Anda mungkin pernah menemukan plastik yang dapat terurai dan dapat dikomposkan, yang juga dikenal sebagai bioplastik. Foto: Shutterstock.

Plastik Biodegradable dan Compostable

Jika Anda baru saja berbelanja untuk phone case, botol minum, atau tas belanjaan guna ulang; Anda mungkin pernah menemukan plastik yang dapat terurai dan dapat dikomposkan, yang juga dikenal sebagai bioplastik. 

Banyak restoran bahkan beralih ke bioplastik untuk wadah makanan, peralatan makan, dan gelas. Barang-barang ini biasanya terbuat dari bahan seperti pati jagung, selulosa, dan kedelai. Ketika melalui proses komposting dengan benar, mereka terurai menjadi karbon dioksida, biomassa, dan air yang tidak beracun.

Namun, hanya karena plastik dapat terurai secara hayati atau dapat menjadi kompos, bukan berarti plastik akan rusak dalam segala kondisi, atau benar-benar ramah lingkungan. Pertimbangkan pro dan kontra dari plastik compostable sebelum Anda melakukan pembelian berikutnya.

Kelebihan Plastik Biodegradable dan Compostable:

  • Tidak seperti plastik konvensional berbasis minyak bumi, bioplastik berbasis tumbuhan.
  • Manufaktur bioplastik mungkin memiliki jejak karbon yang lebih rendah daripada plastik tradisional (tetapi ada banyak variabel dan ketidakpastian).

Kekurangan Plastik Biodegradable dan Compostable:

  • Mengurai bioplastik membutuhkan panas yang hebat; hanya tersedia di fasilitas pengomposan industri. Di tumpukan kompos di rumah (atau di tempat pembuangan sampah), mereka membutuhkan waktu lama untuk terurai.
  • Bioplastik tidak mengatasi masalah plastik laut, karena tidak cepat terurai dalam kondisi laut.
  • Bioplastik tidak dapat tercampur dengan plastik yang dapat didaur ulang; mereka harus didaur ulang di aliran terpisah.

Baca juga: Green Box: Kit Hotel dari Plastik yang Bisa Terdekomposisi

Memilih Produk Biodegradable vs Produk Compostable

Jika Anda mencoba mengurangi dampak lingkungan, bahan compostable adalah pilihan yang baik. Membuat kompos berarti Anda tidak menambah timbunan di tempat pembuangan sampah.

Jika Anda membuat kompos di rumah, Anda dapat menggunakan bahan organik itu untuk membantu taman Anda (atau tetangga Anda) tumbuh. Pelabelan produk compostable juga sering kali lebih mudah, jadi Anda dapat yakin memilih produk yang lebih ramah lingkungan.

Meskipun demikian, produk compostable membutuhkan kondisi tertentu untuk terurai. Jadi, penting untuk berkomitmen untuk benar-benar membuat kompos dari barang-barang tersebut; daripada mengirimnya ke tempat pembuangan sampah. 

Selain itu, jika suatu barang teridentifikasi sebagai kompos komersial, pastikan Anda memiliki akses ke fasilitas yang dapat menangani limbah tersebut. 

Bioplastik dalam beberapa hal merupakan peningkatan dari plastik konvensional, tetapi masih memiliki dampak negatif terhadap lingkungan jika Anda membuangnya dengan tidak benar. 

Seperti biasa, pilihan terbaik adalah mengurangi konsumsi Anda, menggunakan kembali apa yang sudah Anda miliki, dan sebisa mungkin menghindari produk sekali pakai.

Penulis: Agnes Marpaung

Sumber:

Treehugger

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/perbedaan-biodegradable-dan-compostable/feed/ 0
Mango Materials: Evolusi Metana Menjadi Biopolimer https://www.greeners.co/ide-inovasi/mango-materials-evolusi-metana-menjadi-biopolimer/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mango-materials-evolusi-metana-menjadi-biopolimer https://www.greeners.co/ide-inovasi/mango-materials-evolusi-metana-menjadi-biopolimer/#respond Fri, 18 Dec 2020 08:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=30536 Mango Materials, perusahaan yang berbasis di San Fransisco, memproduksi biopolimer yang berasal dari limbah metana.]]>

Canggihnya teknologi saat ini sangat berbanding terbalik dengan kesehatan lingkungan kita. Cueknya manusia akan tanggung jawab dalam membuang sampah plastik dan bahan-bahan berdasar polimer masih kerap terjadi setiap hari.

Mereka yang katanya peduli lingkungan pun sering tidak sadar telah mencemari saluran air dan tempat pembuangan sampah. Ini terjadi saat kain berbahan dasar polimer terurai saat Anda cuci, atau ketika mencuci muka dengan pembersih yang mengandung mikroplastik.

Faktanya, saat ini jalan kita masih panjang dalam mencapai kepedulian maksimal akan lingkungan. Selama pola pikir kita belum melihat inti permasalahan dan belum ada perubahan kebijakan, maka lingkungan kita akan terus tercemar. Sampai kita mencapai momen itu, kita lebih baik menghadapi kenyataan dan mengurangi kerusakan yang terkait dengan pembuangan material sebanyak mungkin.

Bahan yang Dapat Terurai Secara Hayati

Molly Morse, CEO Mango Materials, telah mendedikasikan sebagian besar dari satu dekade hidupnya untuk belajar dan mengoptimalkan bahan yang dapat terurai secara hayati. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana di Stanford University, dia sangat tertarik dengan materi biodegradable yang digunakan untuk perumahan pertolongan bencana.

Morse yang juga merupakan seorang insinyur, fokus pada PHA (polihidroksialkanoat), yaitu komponen penting dari biokomposit, polimer yang dapat terurai secara hayati. Namun, saat itu sulit untuk mendapatkan PHA. Harganya yang mahal bukan alasan sepele, bahkan untuk lab penelitian akademik di Stanford.

Untungnya, sebuah kelompok di Stanford memelopori cara untuk membuat PHA dari fermentasi bakteri pada metana. Masalah pasokan sumber dayanya teratasi, sehingga Morse dapat fokus mempelajari bagaimana PHA terdegradasi secara alami.

Awalnya dia terinspirasi oleh perumahan pertolongan bencana, namun Morse mulai berpikir mengenai plastik dan bahan berbasis polimer secara mendalam. Dia membayangkan bagaimana caranya membuat bahan yang bisa terurai di tempat pembuangan sampah atau lautan sehingga kerusakan lingkungan tidak semakin bertambah parah?

Mango Materials: Evolusi Metana Menjadi Biopolimer

Mango Materials ciptakan pallet dari plastik alternatif. Foto: Mango Materials.

Hadirnya Mango Materials Untuk Produksi Alternatif Plastic Pellets

Inilah yang melahirkan Mango Materials pada 2010. Perusahaan yang berbasis di San Fransisco, Amerika Serikat ini memproduksi biopolimer alami yang berasal dari limbah biogas metana dengan harga yang diklaim bersaing dengan plastik berbasis minyak konvensional.

Dengan pendanaan pertama dari National Science Foundation pada tahun 2012, Mango Materials berfokus pada produksi PHA dari formulasi metana dan biopolimer. Biasanya plastic pellets dilebur untuk membuat sesuatu, misalnya film untuk kantong plastik atau serat untuk celana yoga. Di Mango, PHA biodegradable berfungsi untuk membuat alternatif plastic pellets, sehingga Anda tidak perlu merasa bersalah ketika menggunakan kantong plastik.

Tim Mango selalu memikirkan akhir masa pakai atau desain untuk penggunaan berikutnya bagi produk mereka, serta di mana produk mereka akan berakhir.

“Kami menghabiskan banyak waktu untuk memperhatikan biodegradablity di lingkungan anaerobik, lingkungan laut, kompos halaman belakang. Kami memastikan semuanya dapat dicerna, dan tidak ada yang mengendap sehingga nantinya malah jadi menghasilkan racun,” kata Morse.

Mango Materials: Evolusi Metana Menjadi Biopolimer

Mango Materials bekerja secara efisien. Tak hanya membantu memenuhi kebutuhan akan bahan ramah lingkungan yang tidak akan mencemari ekosistem Bumi. Foto: Mango Materials.

Penggunaan Metana Sebagai Bahan Baku

Mango Materials bekerja secara efisien. Tak hanya membantu memenuhi kebutuhan akan bahan ramah lingkungan yang tidak akan mencemari ekosistem Bumi. Mereka juga menggunakan metana, yang merupakan gas rumah kaca, sebagai bahan baku.

Menggunakan mikroba untuk memfermentasi gas bukanlah hal yang mudah. Mereka harus menggunakan mikroba yang membutuhkan metana dan oksigen, campuran yang mudah meledak.

Tidak sembarang bioreaktor dapat menangani fermentasi gas. Itulah sebabnya tim Mango memiliki kontainer untuk fermentasinya sendiri.

“Jika Anda melihat konversi karbon dari penggunaan metana sebagai bahan baku, sangat menguntungkan untuk menggunakan metana – terutama jika Anda melihat perbandingan harga karbon dan metana per gramnya, dan hasil penjualan dari PHA,” tutur Morse.

Secara khusus, butuh dua hingga tiga pon metana untuk menghasilkan satu pon PHA.

“Kami melihat ketertarikan dari produsen metana, tak hanya dari anaerobik, tetapi juga tempat pembuangan sampah, tambang batu bara yang ditinggalkan. Apa yang harus mereka lakukan dengan metana mereka, ini adalah masalah bagi produsen,” lanjutnya.

Mango memiliki banyak keuntungan karena menggunakan metana sebagai bahan baku. Mereka mendaur ulang gas rumah kaca yang 30 kali lebih berbahaya daripada karbondioksida.

Mango Materials: Evolusi Metana Menjadi Biopolimer

Mango memiliki banyak keuntungan karena menggunakan metana sebagai bahan baku. Mereka mendaur ulang gas rumah kaca yang 30 kali lebih berbahaya daripada karbondioksida. Foto: Mango Materials.

Baca juga: Polemik Sampah Plastik, Degradable atau Biodegradable?

Iklan dan Aturan yang Menyesatkan

Salah satu alasan mengapa pembuangan yang tidak bertanggung jawab terus terjadi adalah karena kebingungan konsumen akan apa sebenarnya plastik dan polimer. Kekeliruan ini juga tercipta karena iklan yang sesat dan aturan akan pelabelan yang berubah-ubah.

“Sangat penting bagi kami, Mango Materials, dipandang sebagai solusi untuk menciptakan bahan yang dapat terurai secara hayati, atau paling tidak menjadi sumber informasi terpercaya,” jelas Morse.

Fokus Pengembangan Mango Materials

Saat ini mereka fokus akan pengembangan PHA untuk serat tekstil, menggantikan poliester yang berpolusi di industri mode. Selain itu juga memformulasikannya untuk penerapan lain, termasuk pembuatan topi, film, percetakan 3D, dan pengemasan.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

Synbiobeta

Cleantech

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/mango-materials-evolusi-metana-menjadi-biopolimer/feed/ 0
Kaus dengan Perona dari Kelopak Sakura https://www.greeners.co/gaya-hidup/kaus-dengan-perona-dari-kelopak-sakura/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kaus-dengan-perona-dari-kelopak-sakura https://www.greeners.co/gaya-hidup/kaus-dengan-perona-dari-kelopak-sakura/#respond Fri, 17 Jan 2020 02:12:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25433 PANGAIA memanfaatkan bagian tanaman sebagai perona kain alami seperti kelopak Sakura. Produk mereka disebut dengan sakura t-shirt pink. ]]>

Menyadari bahwa limbah industri tekstil begitu besar membuat perusahaan pakaian PANGAIA (dibaca: Pan-guy-ya) memanfaatkan bagian tanaman sebagai perona kain alami. Dengan misi menyelamatkan lingkungan, PANGAIA menggunakan bahan tidak beracun yang terbuat dari sisa makanan, tanaman, buah-buahan, dan sayuran sebagai warna.

Salah satu pewarna alaminya berasal dari kelopak Sakura Jepang yang hanya mekar selama beberapa hari setiap tahun. Kelopak bunga menghasilkan corak merah muda yang terlihat cantik saat diaplikasikan pada katun organik. Sesuai dengan bahan pewarna alami yang dihasilkan, kaus ini disebut dengan sakura t-shirt pink.

Baca juga: Pewarna Alami, Dukung atau Tinggalkan?

Bahan kelopak bunga diperoleh bukan dari menebang pohon Sakura, melainkan dari guguran kembang yang jatuh secara alami atau disebut dengan Sakura Fubuki. PANGAIA bekerja sama dengan perusahaan teh di Nagoya, Jepang untuk mengumpulkan bunga yang tidak digunakan. Hal ini membuat kelopak bunga tersebut menjadi bermanfaat.

Kelopaknya diubah menjadi perona dengan proses bioteknologi yang tidak menggunakan bahan kimia. Pewarna bebas limbah dan kimia ini kemudian digunakan untuk mewarnai baju sakura. Ini merupakan salah satu produk pakaian yang dirancang perusahaan menggunakan bahan alami atau daur ulang.

Sakura t-shirt pink

Kaus yang diwFoto: thepangaia.com

Bahan kaus yang digunakan merupakan katun organik yang sesuai dengan Standar Tekstil Organik Global (GOTS). Katun organik adalah standar pemrosesan tekstil terkemuka dunia untuk serat organik yang didukung oleh sertifikasi independen atas keseluruhan rantai pasokan tekstil. Katun organik dengan label tersebut harus mengandung serat organik bersertifikat minimal 95 persen. Katun GOTS juga harus 100 persen bebas dari bahan kimia.

Baca juga: Bunga Sakura, Tidak Cuma Tumbuh di Jepang

T-shirt Sakura dibuat dengan desain unisex santai dengan harga $85. Tidak hanya kausnya yang ramah lingkungan, proses pengemasannya pun menggunakan kemasan yang dapat terurai (Biodegradable).

Dilansir dari inhabitat.com, PANGAIA mengungkapkan bahwa memasok pewarna tekstil yang menggunakan lebih sedikit air, tidak beracun, dan dapat terurai secara hayati. Mereka menciptakan produk dengan teknologi canggih dan menggunakan elemen yang berkelanjutan serta dapat didaur ulang.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kaus-dengan-perona-dari-kelopak-sakura/feed/ 0
Peruvian Group Luncurkan Piring Kompos Dari Daun Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/peruvian-group-luncurkan-piring-kompos-dari-daun-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peruvian-group-luncurkan-piring-kompos-dari-daun-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/peruvian-group-luncurkan-piring-kompos-dari-daun-pisang/#respond Thu, 17 Oct 2019 23:30:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=24457 Jika mendengar kata daun pisang mungkin yang terlintas di benak kita adalah lontong, pepes, dan berbagai makanan yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Daun pisang yang besar, fleksibel, dan tahan […]]]>

Jika mendengar kata daun pisang mungkin yang terlintas di benak kita adalah lontong, pepes, dan berbagai makanan yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Daun pisang yang besar, fleksibel, dan tahan air seringkali dipilih menjadi pembungkus atau dijadikan sebagai piring untuk menyajikan makanan, bahkan ada juga yang menjadikan daun pisang sebagai atap dan pagar yang dibuat dari jerami dan daun pisang kering.

Dilansir dari intelligentliving sebuah perusahaan yang dipimpin Josué Soto dan Rolf Torres Lizárraga yakni Chuwa Plant Group telah menciptakan wadah biodegradable yang terbuat dari dari daun pisang untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan plastik berlebih.

Produk inovatif mereka yang bernama Bio Plant ini dapat terurai dalam waktu dua bulan dengan terdegradasi secara alami sebelum 60 hari, tidak seperti wadah dari polystyrene (styrofoam) yang membutuhkan waktu hingga 500 tahun yang dapat menyebabkan kerusakan pada makhluk hidup dan lingkungan.

Bio Plant Piring Kompos Daun Pisang - 02

Foto: Facebook/Chuwa Plant

Bio Challenge

Project ini sebagian dibiayai melalui Bio Challenge yakni sebuah kontes yang dibuat oleh program Innovate Peru yang didanai oleh Departemen Produksi. Kontes ini mendukung pengembangan solusi inovatif yang berfokus pada sumber daya keanekaragaman hayati. Dengan dana ini perusahaan dapat memperoleh mesin khusus seperti mesin press, pengiriman, dan pemotong untuk memproduksi wadah tersebut. Dengan mesin ini mereka dapat memproduksi hingga 50.000 wadah setiap bulannya.

Perusahaan juga bekerja sama dengan produsen lokal dari Amazon Peru untuk membuat produk tersebut, dengan memberi pelatihan teknis dan menunjukkan cara mengolah limbah yang berasal dari budidaya pisang.
Daun yang digunakan adalah daun yang rontok ketika pekerja perkebunan memetik pisang sehingga pohon pisang atau daunnya tidak ditebang.

Chuwa Plant Group bertujuan untuk memasarkan produk mereka ke restoran ramah lingkungan dan perusahaan makanan lainnya. Wadah dengan ukuran 22 x 16 x 3 cm ini juga tahan terhadap cairan dan berbagai suhu serta bebas dari karsinogen seperti styrene yang ditemukan di piring-piring sintetis.

Dengan adanya wadah biodegradable ini tentunya dapat meminimalkan ketergantungan terhadap penggunaan produk plastik yang dapat membuat dampak besar pada lingkungan karena saat ini polusi dari plastik sekali pakai mendominasi limbah di darat maupun di lautan.

Selain itu Chuwa Plant Group juga membuat piring dengan kertas selulosa yang mudah terurai serta tahan terhadap berbagai suhu, cairan, dan dapat digunakan untuk semua jenis makanan.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/peruvian-group-luncurkan-piring-kompos-dari-daun-pisang/feed/ 0
Amborella Organics, Lolipop yang Aman Dimakan dan Bisa Tumbuh Jadi Tanaman https://www.greeners.co/ide-inovasi/amborella-organics-lolipop-yang-aman-dimakan-dan-bisa-tumbuh-jadi-tanaman/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=amborella-organics-lolipop-yang-aman-dimakan-dan-bisa-tumbuh-jadi-tanaman https://www.greeners.co/ide-inovasi/amborella-organics-lolipop-yang-aman-dimakan-dan-bisa-tumbuh-jadi-tanaman/#respond Sat, 12 Oct 2019 23:27:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=24367 Jika mendengar kata “lolipop”, mungkin yang terbayang di pikiran kita yaitu sebuah permen yang memiliki stick tongkat dan aneka rasa buah-buahan. Namun, jajanan yang sangat digemari oleh anak-anak ini selain […]]]>

Jika mendengar kata “lolipop”, mungkin yang terbayang di pikiran kita yaitu sebuah permen yang memiliki stick tongkat dan aneka rasa buah-buahan. Namun, jajanan yang sangat digemari oleh anak-anak ini selain menjadi salah satu penyebab rusaknya kesehatan gigi, tongkatnya pun ternyata menjadi salah satu sumber limbah plastik sekali pakai.

Berangkat dari fakta tersebut, sebuah perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat Amborella Organics, tergerak untuk menciptakan lolipop berbahan organik yang aman untuk dikonsumsi dan tongkatnya dapat dibiodegradasi sehingga tidak membahayakan lingkungan.

Dilansir dari Green Matters, Amborella Organics didirikan oleh Taylor Morgan and Brennan Clarke pada tahun 2015. Melalui perusahaannya, Morgan dan Clarke tak hanya menciptakan lolipop yang memiliki rasa unik tapi juga berkelanjutan.

Sesuai dengan namanya, Amborella Organics terbuat dari bahan-bahan organik, harum seperti tanaman herbal atau bunga dan bebas GMO (Genetically Modified Organisms). Berbeda dengan lolipop biasanya yang mengandung bahan pengawet dan pemanis buatan, permen ini terbuat dari campuran ekstrak buah-buahan dan herbal alami dan kemasannya pun sepenuhnya ramah lingkungan. Rasanya pun dibuat dengan menambahkan potongan tanaman yang dapat dimakan seperti mawar, sage, rosemary, lavender, serai, kembang sepatu, dan marigold. Bahkan untuk warnanya sendiri, lolipop ini menggunakan pewarna alami seperti kunyit dan wortel.

Amborella Organics, Lolipop yang Bisa Tumbuh Jadi Tanaman

Foto : amborellaorganics.com

Menariknya, setiap tongkat lolipop Amborella Organics terbuat dari kertas daur ulang dan di dalamnya terdapat benih tanaman yang bisa tumbuh. Cukup tancapkan tongkatnya ke tanah dan disiram setiap hari, kertas akan terurai, dan benih dalam tongkat tersebut akan tumbuh menjadi tanaman herbal atau bunga. Misalnya untuk rasa Green Apple & Chamomile, tongkatnya ketika ditanam akan menumbuhkan bunga Chamomile.

Terinspirasi dari kemiripan lolipop dan bunga

Menurut Clarke, ide untuk membuat permen ini ia dapatkan ketika mengenang pengalaman masa kecilnya di kebun neneknya. Dia mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh kemiripan yang melekat antara lollipop dan bunga, dan ingin membuat makanan organik yang lezat yang bisa menarik perhatian anak muda.

Dengan menciptakan permen yang ramah lingkungan, Morgan dan Clarke ingin menunjukkan bahwa Amborella Organics merupakan perusahaan permen yang peduli dengan rasa, bahan, estetika, pengalaman dan keberlanjutan.

Saat ini, lolipop Amborella Organics telah meluncurkan 9 varian rasa diantaranya, Sage & Marshmallow, Lavender & Lemongrass, Peach & Marigold, Strawberry & Basil, Champagne & Roses, Rosemary & Mint, Lemon & Thyme, Vanilla & Hibiscus dan Watermelon & Borage. Dilansir dari situs resminya, permen Amborella Organics ini dijual mulai dari $6 per bungkusnya.

Penulis: Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/amborella-organics-lolipop-yang-aman-dimakan-dan-bisa-tumbuh-jadi-tanaman/feed/ 0
Indonesian Institute for Sciences Opts Nata De Coco for Bio-plastic https://www.greeners.co/english/indonesian-institute-for-sciences-opts-nata-de-coco-for-bio-plastic/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesian-institute-for-sciences-opts-nata-de-coco-for-bio-plastic https://www.greeners.co/english/indonesian-institute-for-sciences-opts-nata-de-coco-for-bio-plastic/#respond Sat, 20 Apr 2019 13:01:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_english&p=23157 On a latest research, Indonesian Institute for Sciences reveals nata de coco, fermented coconut water, is potential as alternative substance of polymer on plastics.]]>

Bogor (Greeners) – On a latest research, Indonesian Institute for Sciences reveals nata de coco, fermented coconut water, is potential as alternative substance of polymer on plastics.

Myrtha Karina Sancoyorini, research professor of Clean Technology Research at the institute, said that nata de coco, produced by Acetobackter xylinum bacteria, was originally meant for natural polymer substance for single use plastic, back in 2001.

However, current development and improved researches, nata de coco is used for high functional material plastic because of its stiff layer, or high elasticity modulus value and regas or low elasticity modulus value. Nata de coco with tensile strength reaches up to 200 megapascal.

“NDC’s water content is 95 percent and the rest is cellulose. In dry condition, nata which is fermented coconut water is stiff suitable for plastics which is also stiff if you want faster process,” said Sancoyorini in Bogor on Thursday (18/04/2019).

READ ALSO: Ministry of Environment and Forestry to Evaluate Eco-Labels for Plastic Bags 

Furthemore, she said that high functional material plastic made of nata de coco is very easy to compose. The result of nata de coco fermentation added with living bacteria of acid, such as vinegar or fermented tape, then add more glucose and dried. The result is similar to mica or thick plastic.

The process to manage nata de coco to be single use plastic is different with high functional material plastic. It will require long modifier and long result. Hence, she suggested to use natural ingredients to make environmentally friendly plastic bags which already being implemented by plastic industries, such as Ecoplas, Enviplast, Grene and Epi.

Currently, plastic packaging for single use plastic commonly used is thermoplastic polymer, which originates from oil, a limited and not naturally degradable substance.

“For single use plastic, we assess by using natural ingredients, such as cassava, and already being adapted by several companies. Compare to natural ingredients, nata de coco could not be used for single use plastic. It can be used but it requires more modifiers and the process will take long time,” she said.

READ ALSO: Ministry of Environment and Forestry Issued National Ecolabels for Bioplastic 

Furthermore, she said that the research on high potential material plastic if thrown away will be naturally disposable and does not turn into micro-plastic. Unfortunately, the test of natural degradation has yet to be done.

“If our bioplastic is bio-degradable, it means it produces CO2 and H20 and if the ingredient is made of water, it will exhaust as water. From the substance, nata de coco is as strong as conventional plastics for electronics and if it gets thrown away, it will be environmentally friendly. The structure will degrade faster than conventional, though we have yet to test for natural degradation, but we are sure it is degradable,” she said.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/indonesian-institute-for-sciences-opts-nata-de-coco-for-bio-plastic/feed/ 0
Supermarket di Thailand Kemas Produk Pangan Gunakan Daun Pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/supermarket-di-thailand-kemas-produk-pangan-gunakan-daun-pisang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=supermarket-di-thailand-kemas-produk-pangan-gunakan-daun-pisang https://www.greeners.co/ide-inovasi/supermarket-di-thailand-kemas-produk-pangan-gunakan-daun-pisang/#respond Tue, 02 Apr 2019 10:04:11 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=22968 Rimping, salah satu toko bahan pangan yang berlokasi di Chiang Mai, Thailand mulai menggunakan daun pisang untuk membungkus buah dan sayur sebagai pengganti kemasan plastik.]]>

Tren mengurangi penggunaan kemasan plastik belakangan ini sedang meningkat di toko-toko kelontong atau supermarket di seluruh dunia. Banyak toko dan produsen makanan yang berupaya mencari ide dan cara baru untuk memerangi penggunaan kemasan plastik ini. Seperti yang dilakukan oleh Rimping, salah satu toko bahan pangan yang berlokasi di Chiang Mai, Thailand. Toko ini mulai menggunakan daun pisang untuk membungkus buah dan sayur sebagai pengganti kemasan plastik.

Dilansir dari Greenmatters, toko bahan pangan Rimping ini menjadi viral ketika perusahaan real estate yang berbasis di Chiang Mai, Perfect Homes, membagikan foto mentimun, selada, kacang hijau, cabai dan bahan makanan lainnya yang dibungkus dengan kemasan daun pisang di Facebook. Cara toko bahan pangan ini dalam membungkus buah dan sayur cukup unik, selain menggunakan kemasan dari daun pisang, Rimping juga menggunakan tali pengikat dari bambu agar ketika tidak digunakan tali pengikat tersebut tetap dapat dibiodegradasi.

daun pisang

Foto: Perfect Homes Chiangmai via Facebook

Menurut The Epoch Times, pisang tumbuh sepanjang tahun di Thailand akan tetapi daunnya sering dibuang begitu saja karena tidak ada permintaan yang besar untuk memanfaatkannya. Namun untuk menggunakan daun pisang sebagai kemasan produk tetap memerlukan biaya untuk mengumpulkannya.

Penggunaan daun pisang untuk membungkus makanan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam budaya Asia. Hidangan tradisional dari Thailand, India, Cina, Vietnam, dan Malaysia semuanya menggunakan daun pisang sebagai pengganti piring dan membungkus berbagai makanan.

daun pisang

Foto: Perfect Homes Chiangmai via Facebook

Upaya Rimping untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik ini memang belum sempurna. Pasalnya, potongan bungkus plastik bening masih terlihat pada beberapa item dan label plastik menempel di setiap kemasan buah dan sayur. Namun, kemasan daun pisang ini bisa sangat berguna untuk membungkus barang-barang kecil yang hampir selalu dikemas dengan boks plastik, seperti buah beri, jamur, dan tomat ceri.

Rimping, supermarket yang pertama kali didirikan pada tahun 1932 ini bukanlah Stop & Shop biasa. Menurut situs resminya, Rimping adalah “toko hijau” yang mengoperasikan enam supermarket dan dua toko kecil yang menjual bahan pangan di seluruh Thailand. Selain menggunakan kemasan daun pisang untuk buah dan sayur, Rimping juga menawarkan banyak pilihan kemasan berkelanjutan lainnya.

Dalam melayani pelanggannya Rimping tetap mengedepankan upaya keberlanjutan. Rimping menawarkan kantong bioplastik yang dapat dibiodegradasi serta kotak kardus yang digunakan kembali untuk mengemas makanan. Sedangkan untuk pelanggan yang lupa membawa tas jinjing, mereka dapat meminjam tas kain Rimping untuk disimpan dengan membayar biaya donasi sebesar 50 Baht Thailand ($ 1,57 USD).

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/supermarket-di-thailand-kemas-produk-pangan-gunakan-daun-pisang/feed/ 0
Alat Tes Kehamilan Ini Bebas Plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-tes-kehamilan-ini-bebas-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=alat-tes-kehamilan-ini-bebas-plastik https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-tes-kehamilan-ini-bebas-plastik/#respond Thu, 21 Jun 2018 07:36:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=20761 Setelah melihat 2 juta pon sampah plastik dari alat tes kehamilan di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya, sebuah perusahaan asal AS tergerak untuk menciptakan alat tes kehamilan (test pack) yang ramah lingkungan.]]>

Ketergantungan akan plastik sulit dihindari di masa kini. Faktanya, hampir semua kemasan makanan, minuman atau produk yang sering kita konsumsi sehari-hari dibuat menggunakan bahan dasar plastik. Namun, upaya untuk mengurangi penggunaan plastik terus diupayakan, seperti yang dilakukan oleh salah satu perusahaan asal Philadelphia, Pennsylvania, Amerika.

Setelah melihat 2 juta pon (sekitar 907.184,74 Kg) sampah plastik dari alat tes kehamilan di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya, sebuah perusahaan bernama Lia Diagnostics, Inc tergerak untuk menciptakan alat tes kehamilan (test pack) yang ramah lingkungan.

Lia merupakan alat tes kehamilan bebas plastik dan dapat di-biodegradasi pertama di dunia. Awalnya, produk ini merupakan proyek sekolah pascasarjana Bethany Edwards (sekarang CEO Lia) dan dua teman sekelasnya pada program desain produk terpadu di Universitas Pennsylvania.

alat tes kehamilan

Alat tes kehamilan Lia Diagnostics diklaim bebas plastik dan mudah larut dalam air. Foto: meetlia via Instagram

Kelebihan alat tes kehamilan ini yaitu terbuat dari serat alami yang berasal dari tumbuhan yang sama seperti kebanyakan tisu toilet. Selain itu, alat ini menawarkan hasil yang akurat, cara penggunaannya pun sama seperti alat test kehamilan konvensional yang terbuat dari bahan plastik.

“Alat diagnostik plastik hanya digunakan selama beberapa menit, tetapi mereka terbuat dari bahan-bahan yang tidak berkelanjutan,” kata Edwards seperti dilansir situs Fast Company. “Kami percaya bahwa bahan harus sesuai dengan siklus kehidupan produk.”

Dengan adanya Lia, pengguna alat tes kehamilan sekarang tidak perlu khawatir lagi dengan berapa banyak sampah plastik yang akan dibuang ke tempat sampah karena alat ini mudah larut dalam air. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh laboratorium pihak ketiga, alat test kehamilan Lia terurai sepenuhnya dalam tanah hanya dalam 10 minggu jika dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).

Lia adalah pemenang kategori kesehatan World Changing Idea 2018 Fast Company Awards. Produk ini sebelumnya telah menerima persetujuan dari FDA (Food and Drug Administration) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat pada Desember tahun lalu.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/alat-tes-kehamilan-ini-bebas-plastik/feed/ 0
Aqua Vida, Pakaian Olahraga Juga Bisa Ramah bagi Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/aqua-vida-pakaian-olahraga-ramah-bagi-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=aqua-vida-pakaian-olahraga-ramah-bagi-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/aqua-vida-pakaian-olahraga-ramah-bagi-lingkungan/#respond Mon, 05 Mar 2018 05:35:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=20149 Perusahaan fitness asal Philadelphia, Aqua Vida menawarkan celana legging dan celana pendek yang 100 persen dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali.]]>

Bicara mengenai perlengkapan olahraga atau sering disebut juga activewear, terkadang kita lebih mengutamakan nama brand atau desain dari produk itu sendiri. Namun kita lupa bahwa selain nyaman, perlengkapan olah raga juga harus aman dan ramah bagi lingkungan. Perusahaan fitness asal Philadelphia, Aqua Vida menawarkan celana legging dan celana pendek yang 100 persen dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali.

Aqua Vida berbahan dasar Amni Soul Eco, benang cerdas yang telah dikembangkan selama lima tahun oleh perusahaan kimia Rhodia-Solvay. Amni Soul Eco merupakan benang poliamida 6.6 yang telah disempurnakan, memiliki daya tahan yang lebih lama daripada poliamida konvensional dan diklaim sebagai benang poliamida pertama di dunia yang dapat di-biodegradasi. Komposisi uniknya memungkinkan bakteri untuk mendapatkan akses dan mencerna bahan limbah, sehingga mempercepat proses biodegradasi dan akan segera terurai setelah dibuang di tempat pembuangan sampah.

aqua vida

Foto: Aqua Vida via Inhabitat.com

Amni Soul Eco merupakan terobosan besar yang berkesinambungan bagi seluruh industri tekstil , secara drastis mengurangi dampak lingkungan dan jumlah limbah yang tersisa bagi generasi mendatang. Proses produksinya sendiri berkelanjutan, benangnya diproduksi dalam sistem manufaktur siklus tertutup, dimulai dari mengumpulkan dan mendaur ulang sisa-sisa bahan baku, limbah yang ditemukan di air, dan dipanaskan dalam beberapa tahap produksi. Hal ini dilakukan demi menjaga standar lingkungan sepanjang siklus industri sehingga membatasi konsumsi bahan baku alami dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Produk Aqua Vida memiliki kelebihan seperti memberikan perlindungan dari paparan sinar UV dan antibakteri, adapun beberapa kelebihan lainnya: ringan, sangat lentur, cepat kering, memiliki daya tahan yang luar biasa, dan dapat menyerap kelembaban. Pakaian Aqua Vida ini ditujukan untuk menemani anda dalam melakukan aktivitas yoga, berselancar, berolahraga di gym, atau aktivitas olahraga lainnya.

aqua vida

Foto: Aqua Vida via Inhabitat.com

Mengingat “keberlanjutan” sebagai salah satu nilai Aqua Vida, selain menjual pakaian ramah lingkungan, Aqua Vida juga menawarkan kelas yoga stand up paddleboard (SUP) dan mengadakan proyek pembersihan laut dengan tujuan mengeluarkan 10.000 pon sampah dari jalur air pada tahun 2020.

Sejauh ini Aqua Vida telah mengadakan 16 proyek pembersihan laut dan telah menghapus 3.341 pon sampah. Perusahaan ini mengatakan bahwa untuk setiap dolar yang dihabiskan oleh pelanggannya, mereka mengalokasikan satu persen untuk upaya konservasi air setempat yang mencakup pembersihan lingkungan air.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/aqua-vida-pakaian-olahraga-ramah-bagi-lingkungan/feed/ 0
Evoware, Pembungkus Ramah Lingkungan dari Kebaikan Laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/#respond Wed, 24 Jan 2018 15:05:39 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=19882 Evoware, perusahaan yang berbasis di Indonesia, termotivasi untuk membantu pemerintah upaya pembersihan lingkungan perairan dari sampah plastik dengan membuat kemasan makanan yang terbuat dari bahan non-plastik dan 100% dapat di-biodegradasi.]]>

Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti Jenna Jambeck dan sudah dipublikasikan dalam jurnal Science tahun 2015, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. Dari penelitian juga ditemukan fakta bahwa 90 persen sampah di laut merupakan sampah plastik dan diperkirakan akan lebih banyak sampah plastik di laut pada tahun 2050.

Dari isu-isu lingkungan itu, Evoware, perusahaan yang berbasis di Indonesia, termotivasi untuk membantu pemerintah upaya pembersihan lingkungan perairan dari sampah plastik dengan membuat kemasan makanan yang terbuat dari bahan non-plastik dan 100% dapat di-biodegradasi. Sebagai pembungkus makanan alternatif yang ramah lingkungan, kemasan ini diklaim tidak beracun dan bahkan aman untuk dikonsumsi karena berbahan dasar rumput laut.

evoware

Foto: inhabitat.com

Kelebihan kemasan Evoware ini adalah memiliki ketahanan selama dua tahun jika disimpan di atas rak dan dapat dijadikan pupuk tanaman alami. Selain itu, manfaat rumput laut seperti serat, mineral dan vitamin menjadi nilai lebih dari kemasan ini.

Jika digunakan untuk membungkus makanan seperti hamburger, anda tidak perlu mengeluarkan kemasannya terlebih dahulu karena dapat dikonsumsi langsung bersama kemasannya. Atau digunakan untuk membungkus bumbu mie instan, saat konsumen menuangkan air hangat untuk membuat mie, kemasannya akan larut.

evoware

Foto: Evoware via youtube

Seperti tertulis pada situs resminya, pembungkus Evoware tidak berasa dan tidak memiliki bau. Kemasan ini juga bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang non-makanan seperti sabun atau bantalan saniter.

Dalam sebuah video yang diunggah pada channel YouTube resmi Evoware, David Christian selaku co-founder Evoware mengatakan, perusahaannya juga bertujuan untuk membantu petani rumput laut di negara ini. Indonesia merupakan negara penghasil rumput laut terbesar, akan tetapi banyak petani yang sulit menjual rumput laut karena rantai pemasaran yang panjang, tidak menghasilkan cukup uang atau berhutang kepada rentenir. Dan sayangnya, banyak rumput laut yang terbuang saat ini. Evoware bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani ini dengan mengubah rumput laut menjadi kemasan yang bebas limbah.

“Melalui produk Evoware, orang berevolusi untuk lebih dekat dengan alam dan menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tulis mereka.

Penulis: DS/G43

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/evoware-pembungkus-ramah-lingkungan-kebaikan-laut/feed/ 0
Ajakan Mengurangi Kantong Plastik dari Luntian Bags https://www.greeners.co/gaya-hidup/ajakan-mengurangi-kantong-plastik-luntian-bags/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ajakan-mengurangi-kantong-plastik-luntian-bags https://www.greeners.co/gaya-hidup/ajakan-mengurangi-kantong-plastik-luntian-bags/#respond Sat, 03 Jun 2017 12:32:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17175 Dari Filipina, muncul sebuah produsen "tote bag" dengan misi khusus bagi lingkungan. Pendirinya menginginkan prinsip "bring your own bag" diterapkan oleh setiap orang.]]>

Penggunaan kantong plastik memang sudah seharusnya untuk dibatasi. Selain sulit terurai, kantong plastik juga dapat mencemari lingkungan dan dapat merusak ekosistem sungai maupun laut. Kini produk alternatif untuk menggantikan kantong plastik mulai bermunculan. Salah satunya tote bag yang diproduksi oleh Luntian Bags.

Luntian Bags merupakan industri rumahan asal Batangas, Filipina. Luntian Bags diciptakan oleh Ichay Bulaong pada tahun 2007. Alasan Ichay mendirikan Luntian Bags adalah untuk mempromosikan gerakan anti plastik. Selain itu, ia juga ingin mengajak para wanita yang berdomisili di Batangas untuk menjadi lebih produktif dan kreatif. Maka dari itu, seluruh pekerja Luntian Bags merupakan ibu rumah tangga yang ingin mengisi waktu luang.

“Dengan mendirikan Luntian Bags, saya ingin menyelamatkan lingkungan dan ingin membantu para wanita yang tinggal di Batangas untuk dapat hidup dengan mandiri dan kreatif,” ujar Ichay.

Tas yang diproduksi oleh Luntian Bags terdiri dari tiga kategori yaitu klasik, lunch bag atau tas bekal, dan yoga mat bag atau tas untuk membawa alas yoga. Seluruh tas keluaran Luntian Bags terbuat dari kain kanvas. Akan tetapi, kain kanvas yang digunakan bukanlah kain kanvas biasa melainkan biodegradable canvas. Kain kanvas jenis ini dapat terurai dengan sendirinya dan tentu saja ramah terhadap lingkungan. Produk tas yang dihasilkan oleh Luntian Bags juga handmade alias buatan tangan.

“Seluruh proses pembuatan tas ini, mulai dari memotong bahan baku, menjahit, melakukan penyablonan, dan menyulam, seluruhnya dilakukan manual oleh para pekerja,” ungkap Ichay.

Luntian Bags memilih tote bag sebagai produk andalan mereka. Tote bag keluaran Luntian Bags terdiri dari dua macam, yakni klasik dan marine edition. Tote bag versi klasik berwarna dominan putih dengan tali berwarna coklat dan hitam. Sebuah quotes ajakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik melengkapi tampilan tote bag ini. Sedangkan tote bag edisi laut terbuat dari kain kanvas dan kain jutesack untuk talinya. Pada edisi ini, desain yang digunakan berupa lukisan hewan laut.

Ichay menyatakan bahwa produk Luntian Bags terbuat dari biodegradable canvas yang dapat hancur dengan sendirinya, lebih kokoh/tidak mudah robek, dapat dicuci di mesin cuci, dan hasil sablonan tidak akan luntur apabila dicuci. Selain itu, tote bag ini juga memiliki tali pelindung yang berfungsi untuk ‘mengunci’ tas, sehingga lebih aman.

Dengan hadirnya produk Luntian Bags, Ichay berharap tingkat penggunaan kantong plastik dapat berkurang. Selain itu, Ichay juga ingin prinsip “bring your own bag” dapat diterapkan oleh setiap orang.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/ajakan-mengurangi-kantong-plastik-luntian-bags/feed/ 0
Dephan AS Kembangkan Peluru Ramah Lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/dephan-as-kembangkan-peluru-ramah-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dephan-as-kembangkan-peluru-ramah-lingkungan https://www.greeners.co/ide-inovasi/dephan-as-kembangkan-peluru-ramah-lingkungan/#respond Sun, 05 Feb 2017 10:51:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=15839 Departemen Pertahanan AS mengajukan proposal pengadaan peluru biodegradable atau “ramah lingkungan” yang berisi bibit tanaman khusus yang mampu tumbuh untuk menghancurkan sisa selongsong.]]>

Sejak 11 September 2001, kebijakan Amerika Serikat (AS) dalam memerangi teroris telah meningkat secara signifikan. Independent melansir, pada 2005 AS telah meningkatkan permintaan butir peluru kaliber kecil sebanyak 1,8 milyar butir; dua kali lipat lebih banyak dari lima tahun lalu. Permintaan tersebut digunakan untuk latihan militer dan operasi militer di Afghanistan dan Irak.

Dalam latihan atau operasi militer – khususnya di AS, ratusan atau ribuan selongsong peluru berserakan dan menjadi sampah di tanah. Karena tidak ada cara efisien dalam membersihkan selongsong tersebut, mereka tidak dibersihkan sehingga menimbulkan potensi pencemaran lantaran karat atau unsur metal yang dapat mencemari tanah dan air tanah.

peluru

Foto: pixabay.com

Paham akan hal tersebut, Departemen Pertahanan (Dephan) AS mengajukan proposal pengadaan peluru biodegradable atau dapat terurai secara alami, yang berisi bibit tanaman khusus yang mampu tumbuh untuk menghancurkan sisa selongsong dan material-material yang berisiko mengkontaminasi lingkungan.

Live Science melansir, material peluru “ramah lingkungan” tersebut akan menyerupai plastik biodegradable yang digunakan untuk botol dan kontainer plastik. Menurut US Army Corps of Engineers’ Cold Regions Research and Engineering Laboratory, material tersebut telah dikembangkan kedalam komposit yang nantinya akan ditanamkan bibit tanaman tertentu.

Dalam proposal tersebut, bibit tanaman yang tumbuh dari selongsong peluru bisa digunakan untuk menyuburkan tanah dan menjadi pangan satwa liar. Proposal tersebut akan terus dikaji hingga 8 Februari 2017 mendatang.

Penulis: MFA/G41

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/dephan-as-kembangkan-peluru-ramah-lingkungan/feed/ 0