biodiversitas - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/biodiversitas/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 02 Jan 2026 08:28:05 +0000 id hourly 1 Peneliti IPB: Pulau Sumatra Alami Kehilangan Biodiversitas Tertinggi https://www.greeners.co/berita/peneliti-ipb-pulau-sumatra-alami-kehilangan-biodiversitas-tertinggi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=peneliti-ipb-pulau-sumatra-alami-kehilangan-biodiversitas-tertinggi https://www.greeners.co/berita/peneliti-ipb-pulau-sumatra-alami-kehilangan-biodiversitas-tertinggi/#respond Fri, 02 Jan 2026 07:20:07 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47933 Jakarta (Greeners) – Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia mengungkapkan Pulau Sumatra menunjukkan tren kehilangan biodiversitas tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. “Analisis pada skala […]]]>

Jakarta (Greeners) – Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia mengungkapkan Pulau Sumatra menunjukkan tren kehilangan biodiversitas tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

“Analisis pada skala meso di Pulau Sumatra menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) menunjukkan bahwa berdasarkan data global periode 2017–2020, Sumatra mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia,” ungkap Syartinilia melansir Berita IPB, Rabu (31/12).

Syartinilia menyampaikan bahwa pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen. Sementara, pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen.

Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap habitat spesies kunci dan karismatik, seperti gajah, orang utan, dan harimau sumatra. Ia menjelaskan bahwa pada skenario bisnis, habitat gajah diproyeksikan menurun hingga 66 persen, sedangkan pada skenario keberlanjutan terdapat potensi peningkatan habitat sekitar 5 persen.

“Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” ucapnya.

Berdasarkan hasil kajian, Syartinilia merekomendasikan berbagai aksi adaptasi, seperti restorasi terfokus dan konservasi berbasis masyarakat. Selain itu, perlu pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung, serta investasi konservasi berskala besar dengan Pulau Sumatra sebagai prioritas.

Proyeksi Ekosistem Indonesia 2050

Syartinilia memaparkan kajian proyeksi ekosistem Indonesia dalam perspektif antropogenik dan perubahan iklim. Kajian ini menyoroti dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga tahun 2050, sebagai dasar perumusan prioritas aksi adaptasi perubahan iklim.

Pendekatan dalam riset ini adalah pendekatan multiskala, mulai dari tingkat nasional hingga pulau. Pada skala nasional, tim peneliti melakukan analisis overlay antara keterpaparan iklim dan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi. Dari dua variabel tersebut, disusun tingkat kerentanan lanskap dalam sembilan level.

“Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi,” jelas Syartinilia.

Ketika dianalisis berdasarkan tipe ekosistem, ditemukan bahwa ekosistem lahan basah dan ekosistem pegunungan merupakan dua tipe ekosistem yang paling rentan secara nasional.

Secara spasial, Pulau Sumatra tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi. Kemudian diikuti Papua, Kalimantan, dan Maluku.

Syartinilia menambahkan bahwa kajian ini merupakan bagian dari analisis yang disusun IPB University untuk dokumen National Communication. Khususnya pada sektor adaptasi perubahan iklim di bidang ekosistem. Analisis tidak hanya berbasis data historis, tetapi juga memproyeksikan kondisi ekosistem ke depan berdasarkan dinamika perubahan yang telah terjadi.

“Kajian ini tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga mencoba memproyeksikan ke depan berdasarkan dinamika perubahan yang ada,” ujarnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/peneliti-ipb-pulau-sumatra-alami-kehilangan-biodiversitas-tertinggi/feed/ 0
Pelajar di Bogor Mengisi Waktu Belajar dengan Mendata Biodiversitas https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-bogor-mengisi-waktu-belajar-dengan-mendata-biodiversitas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pelajar-di-bogor-mengisi-waktu-belajar-dengan-mendata-biodiversitas https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-bogor-mengisi-waktu-belajar-dengan-mendata-biodiversitas/#respond Tue, 26 Nov 2024 06:00:46 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=45327 Jakarta (Greeners) – Pelajar SMA Negeri 1 Sukaraja, Kabupaten Bogor, mengisi kegiatan belajarnya dengan mendata biodiversitas pada Selasa (19/11). Dalam kegiatan ini, mereka mengamati dan mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan serta […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pelajar SMA Negeri 1 Sukaraja, Kabupaten Bogor, mengisi kegiatan belajarnya dengan mendata biodiversitas pada Selasa (19/11). Dalam kegiatan ini, mereka mengamati dan mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan serta satwa liar di sekitar sekolahnya.

Kegiatan pendataan keanekaragaman hayati ini merupakan bagian dari implementasi program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) oleh dosen dan mahasiswa Universitas Pakuan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan literasi siswa tentang keanekaragaman hayati Indonesia di SMA Negeri 1 Sukaraja.

Sebanyak 87 siswa mengikuti kegiatan pengamatan biodiversitas ini. Mereka terbagi dalam 10 kelompok. Setiap kelompok memiliki seorang pendamping. Pendamping tersebut akan membantu siswa mengamati satwa serta mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang berhasil mereka temukan.

Pengamatan lapangan berlangsung selama beberapa jam di lingkungan sekolah. Mereka berhasil mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan. Di antaranya pohon rambutan, kersen, mangga, beringin, dan ketapang.

Selain itu, mereka juga menemukan beberapa jenis satwa burung, termasuk burung cucak kutilang, merbah cerukcuk, cabai jawa, bondol haji, walet linchi, dan burung gereja erasia. Tak ketinggalan, jenis kupu-kupu, bunglon, hingga tokek juga teridentifikasi.

BACA JUGA: Kolaborasi Multipihak Kunci Pelestarian Biodiversitas Indonesia

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan edukasi. Hal itu guna menumbuhkan kepedulian serta kecintaan siswa terhadap keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya akan manfaat.

“Siswa sekolah adalah generasi muda yang akan turut menentukan nasib biodiversitas negara kita. Oleh karenanya, kita perlu mulai mengenalkan keanekaragaman hayati mulai dari lingkungan sekolah mereka,” kata Dolly lewat keterangan tertulisnya, Kamis (21/11).

Melalui kegiatan ini, Dolly berharap dapat mengajak siswa untuk mendata, mengidentifikasi, dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah mereka dengan cara yang menyenangkan.

Dengan mengenal biodiversitas di sekitar mereka, Dolly berharap rasa kepedulian dan kecintaan siswa terhadap alam akan tumbuh. Sehingga, nantinya mereka dapat berperan aktif dalam menjaga dan melestarikannya.

Pelajar di Bogor mengisi waktu belajar dengan mendata biodiversitas. Foto: Belantara Foundation

Pelajar di Bogor mengisi waktu belajar dengan mendata biodiversitas. Foto: Belantara Foundation

Dorong Sekolah Manfaatkan Pekarangan

Kegiatan ini sekaligus memberikan inspirasi kepada guru, khususnya di SMA Negeri 1 Sukaraja. Hal ini mendorong mereka untuk memanfaatkan pekarangan sekolah sebagai laboratorium alam yang dapat menjadi sarana pembelajaran, khususnya di bidang biologi.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sukaraja, Emi Rosmiami, mengapresiasi inisiatif Universitas Pakuan dan Belantara Foundation dalam membangun literasi keanekaragaman hayati di kalangan pelajar.

Emi menegaskan bahwa kegiatan inspiratif seperti ini sangat penting. Kegiatan ini dapat mengajak siswa untuk mengoptimalkan kawasan ruang terbuka hijau di lingkungan sekolah sebagai sarana pendidikan yang interaktif.

BACA JUGA: Jangan Lupakan Peran Mikroorganisme di Alam

Salah satu peserta kegiatan, Cici Nurhikmah mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat baru, seru, dan menyenangkan baginya. Pengamatan ini juga memudahkan Cici dan teman-temannya dalam mengingat dan mengenal keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah. Sehingga, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikannya.

“Saya berharap pengamatan biodiversitas ini tidak berhenti sampai di sini dan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” kata Cici.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/pelajar-di-bogor-mengisi-waktu-belajar-dengan-mendata-biodiversitas/feed/ 0
Kolaborasi Multipihak Kunci Pelestarian Biodiversitas Indonesia https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/#respond Fri, 17 May 2024 07:40:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=43806 Jakarta (Greeners) – Biodiversitas atau keanekaragaman hayati saat ini kian terancam. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. “Tidak hanya tugas pemerintah, […]]]>

Jakarta (Greeners) – Biodiversitas atau keanekaragaman hayati saat ini kian terancam. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia.

“Tidak hanya tugas pemerintah, pelestarian keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi multipihak mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi, industri, media, bahkan masyarakat merupakan kunci keberhasilan pelestarian biodiversitas Indonesia untuk generasi kini dan yang akan datang,” ujar Dolly di Bogor, Selasa (14/5).

Menurut artikel yang terbit di jurnal Biological Review awal 2022 lalu, saat ini telah berlangsung kepunahan massal keenam akibat antropogenik. Ancaman kepunahan massal kali ini berbeda. Sebab, intervensi manusia terhadap alam dan biodiversitas telah menyumbang dan mempercepat kepunahan tersebut terjadi.

Ancaman tersebut semakin terlihat dengan tingkat kepunahan spesies yang meningkat secara drastis. Para peneliti sebagian besar menggunakan data spesies yang terdaftar sebagai spesies punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Para peneliti berfokus pada spesies vertebrata (tidak termasuk ikan) karena datanya tersedia lebih banyak.

BACA JUGA: Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050

Setidaknya 5.400 genera (bentuk jamak dari genus) yang terdiri dari 34.600 spesies, para peneliti menyimpulkan dalam 500 tahun terakhir sebanyak 73 genera telah punah. Sebagian besar terjadi dalam dua abad terakhir.

Para ilmuwan mengatakan, kepunahan massal buatan manusia tersebut akibat perusakan habitat. Penyebab lainnya adalah perubahan iklim global, eksploitasi berlebihan, polusi, dan spesies invasif. Menurut IUCN, sampai saat ini terdapat lebih dari 44.000 spesies terancam punah di bumi.

Perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. Foto: Belantara Foundation

Perlu kolaborasi banyak pihak untuk melestarikan biodiversitas Indonesia. Foto: Belantara Foundation

Pelestarian Biodiversitas Perlu Diutamakan

Dolly menyebutkan, saat ini telah terbit Instruksi Presiden (Inpres) Nomor satu Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan. Inpres ini terbit untuk memastikan adanya keseimbangan pemanfaatan ruang untuk kepentingan ekonomi dan konservasi keanekaragaman hayati dalam kebijakan setiap sektor.

“Pelaksanaan kebijakan ini diarahkan melalui pengambilan langkah-langkah kebijakan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan setiap lembaga yang disasar dalam kebijakan ini,” tambah Dolly.

Isi inpres ini menyasar 19 kementerian dan lembaga pemerintahan. Hal itu bertujuan untuk mengarusutamakan keanekaragaman hayati dalam kebijakan pembangunan.

Penelitian Biodiversitas Perlu Tekan Pemanfaatan

Sementara itu, Ketua I-SER (Institute of Sustainable Earth and Resources) FMIPA Universitas Indonesia, Jatna Supriatna mengatakan Indonesia adalah negara yang sangat besar. Selain itu, negara ini juga memiliki perputaran energi yang tidak terputus sejak ratusan juta tahun. Sehingga, telah melewati fenomena-fenomena geologi yang sangat berhubungan dengan keanekaragaman hayati. Menurut Jatna, Indonesia juga memiliki banyak akademisi di kampus-kampus dan pusat penelitian.

BACA JUGA: Jangan Lupakan Peran Mikroorganisme di Alam

“Penelitian biodiversitas perlu lebih menekankan pada tahap pemanfaatan. Misalnya, tentang pemanfaatan biodiversitas untuk pangan yang seharusnya berasal dari biodiversitas Indonesia. Peneliti bisa memperbanyak riset yang lebih mendalam tentang pemanfaatan hayati karena kita punya lebih dari 30.000 spesies,” ujar Jatna.

Jatna menambahkan, upaya-upaya penelitian yang bisa akademisi lakukan adalah terkait valuasi biodiversitas dan ekosistem, degradasi lahan yang menyebabkan defaunasi, serta dampak perubahan iklim pada biodiversitas.

Pelestarian biodiversitas, lanjut Jatna, perlu menekankan kolaborasi tri-sektor dari akademisi, pemerintah, dan sektor privat. Salah satunya bisa melalui pengembangan ekowisata, seperti pengamatan burung atau wisata-wisata yang terkait spesies kharismatik.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/kolaborasi-multipihak-kunci-pelestarian-biodiversitas-indonesia/feed/ 0
146 Spesies Baru Ditemukan Sepanjang Tahun 2022 https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/#respond Mon, 09 Jan 2023 06:38:17 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38549 Jakarta (Greeners) – Sepanjang tahun 2022, para peneliti dari California Academy of Sciences serta berbagai kolaborator international telah menemukan sebanyak 146 spesies baru, mulai dari hewan, tumbuhan dan jamur. Penemuan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sepanjang tahun 2022, para peneliti dari California Academy of Sciences serta berbagai kolaborator international telah menemukan sebanyak 146 spesies baru, mulai dari hewan, tumbuhan dan jamur. Penemuan ini sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati global di tengah punahnya spesies imbas pemanasan global.

Melansir PHYS, spesies baru tersebut yaitu 44 kadal, 30 semut, 14 siput laut, 14 tumbuhan berbunga, dan 13 bintang laut. Selanjutnya, tujuh ikan, empat kumbang, empat hiu, tiga ngengat, tiga cacing. Kemudian, dua kalajengking, dua laba-laba, dua lumut, satu kodok, satu kerang, satu aphid, dan satu biskuit laut.

“Penelitian spesies baru sangat penting untuk memahami keanekaragaman kehidupan di Bumi dan mengidentifikasi ekosistem yang paling membutuhkan perlindungan,” kata Ahli virologi dan Kepala Ilmu Pengetahuan Akademi Shannon Bennett.

Ia menegaskan, dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP15), ilmu pengetahuan keanekaragaman hayati berada di garis depan aksi konservasi global. Selain itu, sebagai kunci membalikkan tingkat kepunahan spesies pada tahun 2030.

“Dengan mengungkap dan mendokumentasikan spesies baru, kita dapat berkontribusi pada tujuan penting ini. Lalu memastikan dunia alami kita tetap kaya dan beragam untuk generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan berdasarkan catatan ilmuwan, kurang lebih terdapat dua juta spesies dari total spesies yang sudah ada di dunia. Sementara, untuk total spesies yang ada di Bumi kurang lebih antara 7-10 juta spesies tumbuhan dan hewan.

Tahun Kepunahan Spesies

Ia memberi catatan bahwa penambahan 146 spesies baru tersebut menambah spesies yang selama ini manusia kenal.

Menurutnya setelah tahun 1970, penemuan ilmuwan terkait biodiversitas telah mengalami peningkatan kecepatan kepunahan atau biodiversity loss. “Dari yang sebelumnya diperkirakan satu per satu juta spesies per tahun atau kecepatan normalnya seperti itu. Tapi belakangan meningkat tajam, para ilmuwan menyebut minimal seratus kali lebih cepat,” kata Mahawan.

Mahawan memberikan catatan, secara alamiah kecepatan kepunahan secara normal bisa terjadi satu per satu juta spesies per tahun. Ini terjadi pada kepunahan ke-5 pada 60 juta tahun lalu. Peningkatan kepunahan semakin tajam karena dipicu oleh faktor antropogenik atau berasal dari aktivitas pembangunan global manusia.

“Kini para ilmuwan memperingatkan kita berpotensi menuju kepunahan massal ke-6,” imbuhnya.

Selain itu, Mahawan menambahkan faktor lain yaitu perubahan iklim yang juga memicu pergeseran distribusi spesies. Misalnya banyak spesies yang bisa tinggal di lembah, tapi karena pemanasan global maka mereka akan bergeser naik ke lereng gunung. “Karena temperaturnya yang lebih sesuai dan nyaman dengan habitat awalnya,” ucapnya.

“Perubahan iklim tentu dapat berdampak pada pergeseran tempat spesies. Hal ini tentunya berdampak pada migrasi karena kapan kemarau, kapan hujan atau perubahan iklim dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sepanjang-tahun-2022-146-spesies-ditemukan/feed/ 0
Jangan Lupakan Peran Mikroorganisme di Alam https://www.greeners.co/berita/jangan-lupakan-peran-mikroorganisme-di-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jangan-lupakan-peran-mikroorganisme-di-alam https://www.greeners.co/berita/jangan-lupakan-peran-mikroorganisme-di-alam/#respond Sun, 13 Nov 2022 05:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37961 Jakarta (Greeners) – Flora dan fauna cenderung masih mendominasi peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2022 lalu. Padahal seharusnya peringatan itu, sekaligus mengingatkan pentingnya biodiversitas secara […]]]>

Jakarta (Greeners) – Flora dan fauna cenderung masih mendominasi peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2022 lalu. Padahal seharusnya peringatan itu, sekaligus mengingatkan pentingnya biodiversitas secara lebih luas, seperti mikroorganisme di alam yang berdampak pada kelangsungan hidup manusia.

Guru besar Fakultas Biologi dan Prodi Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional Dedy Darnaedi menyatakan, sejak peringatan pertama kali Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 1973, Indonesia hanya berfokus pada nilai kharismatik, keunikan dan kelangkaan spesies flora dan fauna. Padahal di balik itu semua ada peran mikroorganisme.

“Keduanya sangat menonjol karena jasa mikroorganisme yang saat itu tidak diutamakan. Lalu muncullah zoonosis,” katanya dalam Webinar Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional “Keanekaragaman Hayati: Yang Muda Berbicara”, Sabtu (12/11).

Zoonosis ada karena mikroorganisme parasit, seperti bakteri, virus, hingga jamur yang berpotensi menyebabkan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hal ini, sambung Dedi mengingatkan akan virus Covid-19 yang dampaknya luar biasa. “Peringatan ini tak hanya berfokus pada spesies, tapi mikroorganisme yang langka, kharismatik dan unik,” jelasnya.

Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2022 harusnya dimaknai lebih luas dengan situasi kondisi bumi saat ini akibat perubahan iklim. Berbagai fenomena alam akibat perubahan iklim berdampak nyata.

“Kita menghadapi perubahan iklim yang sangat cepat dan dinamis. Es di kutub utara mencair, permukaan muka air laut naik hingga oksigen semakin susah didapat,” kata dia.

Ancaman Kepunahan Kehati di Alam

Saat ini menurutnya, Indonesia bukan lagi negara dengan megabiodiversity, tapi menjadi hotspot biodiversity country. Ia menegaskan pentingnya pengelolaan keanekaragaman hayati (kehati) dan ekosistemnya secara lestari untuk menjaga keutuhan jasa ekosistem. Selain itu, juga membuka peluang pemanfaatan kehati secara berkelanjutan.

“Berbagai jenis dan layanan kehati termasuk tumbuhan sudah dimanfaatkan sejak manusia diciptakan. Mulai dari sebagai sumber pangan, obat-obatan, energi dan sandang, jasa penyedia air serta udara bersih, perlindungan dari bencana alam, hingga regulasi iklim,” ungkapnya.

Keberadaan keanekaraganan hayati di alam, tidak luput dari ancaman kepunahan. Hilangnya habitat menjadi ancaman terbesar. Kehilangan habitat itu karena kerusakan habitat, baik karena bencana alam, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim.

Selain itu juga penggunaan hutan atau habitat untuk lahan pertanian, pertambangan, industri maupun permukiman dan perburuan keanekaragaman hayati karena perdagangan secara ilegal.

Masyarakat juga punya tanggung jawab memulihkan dan mengawasi alam dari kerusakan. Foto: Freepik

Motivasi Generasi Muda

Ketua Prodi Biologi Sekolah Pascasarjana Unas, Fitriah Basalamah mengungkapkan, webinar nasional ini dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional dan Dies Natalis Universitas Nasional ke-73.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, perlindungan serta pelestarian puspa dan satwa nasional,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Biologi Unas, Tatang Mitra Setia berharap, webinar nasional ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda berpartisipasi aktif menjaga dan melestarikan kehati Indonesia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/jangan-lupakan-peran-mikroorganisme-di-alam/feed/ 0
Ini Alasan Manusia Lebih Peka ke Hewan Daripada Tumbuhan https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-manusia-lebih-peka-ke-hewan-daripada-tumbuhan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ini-alasan-manusia-lebih-peka-ke-hewan-daripada-tumbuhan https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-manusia-lebih-peka-ke-hewan-daripada-tumbuhan/#respond Sun, 25 Sep 2022 05:00:56 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37444 Jakarta (Greeners) – Temuan ahli mengungkap alasan mengapa manusia lebih peka ke hewan daripada ke tumbuhan. Secara evolusioner, otak manusia merespon sesuai dengan memori genetik. Sehingga penampakan hewan akan lebih […]]]>

Jakarta (Greeners) – Temuan ahli mengungkap alasan mengapa manusia lebih peka ke hewan daripada ke tumbuhan. Secara evolusioner, otak manusia merespon sesuai dengan memori genetik. Sehingga penampakan hewan akan lebih menarik daripada tumbuhan. Manusia pun kerap kali lebih akrab dengan visualisasi hewan dibanding tumbuhan.

Bisa jadi ini menjadi salah satu alasan kuat adanya fenomena buta flora yang tidak hanya terjadi di masyarakat awam tetapi juga kalangan akademik.

Buta flora merupakan ketidakmampuan untuk memperhatikan pentingnya tumbuhan dan tanaman dalam biosfer kehidupan. Fenomena ini sekilas terlihat sepele. Padahal hal ini berdampak besar terhadap kepunahan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Sepasang ahli botani dan guru biologi di Amerika Serikat, Elisabeth Schussler dan James Wandersee pada tahun 1998 mempopulerkan istilah buta flora ini. Mereka mengungkap, otak manusia pada dasarnya mendeteksi perbedaan.

Hal ini membuat otak lebih peka terhadap hewan daripada dengan tanaman dan tumbuhan. Tanaman dan tumbuhan hampir tidak bergerak, saling berdekatan satu sama lain, dan seringkali memiliki warna yang sama.

Mereka juga menyebut, manusia memiliki preferensi dan kesamaan perilaku biologis sebagai primata. Sehingga cenderung memperhatikan makhluk yang paling mirip dengan manusia.

Foto: Shutterstock

Hewan Mirip dengan Manusia?

Hal senada juga Ahli Neurologi Ryu Hasan ungkapkan. Ia menyebut, pada dasarnya otak manusia berevolusi melacak perbedaan berbagai hal, termasuk jenis tumbuhan dan hewan. Bahkan otak dengan tajam mampu membedakan ‘musuh’ dan ‘kawan’ berdasarkan karakteristik visual.

Namun, seiring perkembangan dan pembelajaran selama hidup, seiring banyaknya toleransi membuat otak semakin tumpul melacak perbedaan. “Kecenderungan otak kita melacak perbedaan kemudian ditumpulkan melalui toleransi dan semakin memperluas empati,” katanya kepada Greeners, Sabtu (24/9).

Psikolog kera di Universitas Kyoto Jepang Fumihiro Kano mengungkap, adanya preferensi pada kesamaan perilaku biologis. Sebagai primata, manusia cenderung memperhatikan makhluk paling mirip dengan sesamanya, termasuk bintang. Itulah yang membuat manusia peka ke hewan.

Dalam kehidupan sosial manusia, hewan pada dasarnya lebih menarik dan tampak daripada tumbuhan.
Menanggapi hal ini, Ryu membenarkannya, bahwa manusia memang termasuk binatang, dengan spesies homo sapiens, family great apes, ordo primata, kelas mamalia, phylum vertebra, dan kingdom of animalia. “Secara genetik perbedaan antara homo sapiens dan simpanse hanya 0,7 %,” ujar dia.

Penting mengasah kecerdasan naturalis agar tidak alami buta flora. Foto: Freepik

Beragam Manfaat Tumbuhan

Pada dasarnya tanaman dan tumbuhan memiliki peranan penting di dunia. Tak sekadar sumber pangan, tapi sebagai penyerap karbon dioksida yang mengubahnya menjadi oksigen sehingga membuat udara lebih bersih.

Selain itu, tanaman berperan penting sebagai tempat bernaung beragam satwa sekaligus sebagai “pabrik” penyedia obat, nutrisi, perlindungan bencana alam, hingga nilai estetis yang tinggi. 

“Kalau tidak ada tanaman maka tak ada lagi kehidupan lain di dalamnya. Rantai makanan akan terputus dan makhluk hidup punah,” ungkap Pakar Biodiversitas Universitas Nasional Endang Sukara.

Lebih jauh ia menyatakan, Indonesia memiliki keanekaragaman biodiversitas yang tinggi dan endemis, seperti 60 persen tanaman Indonesia tidak negara lain miliki. Ia menyebut peran tanaman sangatlah krusial, utamanya bagi keberlanjutan makhluk hidup, seperti hewan dan manusia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-manusia-lebih-peka-ke-hewan-daripada-tumbuhan/feed/ 0
Buta Flora Tak Hanya Dialami Masyarakat Awam https://www.greeners.co/berita/buta-flora-tak-hanya-dialami-masyarakat-awam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=buta-flora-tak-hanya-dialami-masyarakat-awam https://www.greeners.co/berita/buta-flora-tak-hanya-dialami-masyarakat-awam/#respond Sun, 28 Aug 2022 05:00:41 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37174 Jakarta (Greeners) – Fenomena buta flora tak hanya terjadi pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, juga para civitas akademik yang seharusnya menjadi garda terdepan pengkajian dan penelitian potensi ini. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Fenomena buta flora tak hanya terjadi pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, juga para civitas akademik yang seharusnya menjadi garda terdepan pengkajian dan penelitian potensi ini.

Buta flora atau ketidakmampuan untuk memperhatikan pentingnya tumbuhan dan tanaman dalam biosfer kehidupan. Hal ini bisa berdampak pada kepunahan lingkungan. Bahkan pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia atau bioprospeksi di masa depan minim.

Guru Besar Program Studi Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Christofora Hanny Wijaya mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas kedua terbesar setelah Brasil. Indonesia, masih banyak potensi keanekaragaman hayati, utamanya di laut yang belum tergali. Potensi tersebut merupakan aset berharga jangka panjang yang harus kita kaji, teliti dan manfaatkan.

“Masih banyak misalnya mahasiswa saya jurusan pangan yang tak mampu mengenali potensi kehati dalam negeri. Mereka justru lebih kenal potensi dari luar negeri,” katanya kepada Greeners baru-baru ini.

Contohnya, para mahasiswa masih banyak yang tak mengenal tumbuhan andaliman dan berbagai varian buah mangga dibanding dengan potensi produk impor. Ironisnya, sambung dia para mahasiswa justru merasa bangga dengan hal itu.

Padahal, kesadaran untuk mengenali potensi keanekaragaman hayati dalam negeri sangat krusial, terutama pemanfaatannya ke depan. Apalagi para mahasiswa ini garda terdepan pemanfaat bioprospeksi untuk pangan dan potensi lainnya.

“Jangan sampai justru pihak luar negeri yang akan mengkaji dan memanfaatkan potensi kehati kita dan kita justru beli dari mereka,” ujar ilmuwan perempuan yang berjuluk “Dosen Jamu” ini.

Masyarakat Lokal Manfaatkan Berbagai Flora Sejak Dulu

Ketua Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetika Indonesia (P3FNI) ini menyebut, potensi bioprospeksi tumbuhan dan tanaman pangan telah masyarakat lokal lakukan sejak dulu.
Mereka, telah memanfaatkannya sebagai makanan fungsional untuk menjaga kesehatan.

“Mereka tak mengenal kandungan bahan aktif di dalamnya, tapi karena kebiasaan dari nenek moyang pendahulu maka mereka memanfaatkannya,” imbuhnya.

Misalnya, potensi andaliman yang banyak masyarakat Sumatra jadikan sebagai bumbu wajib dalam masakan. Kemudian kencur, jahe yang kerap untuk menjaga daya tahan dan kebugaran tubuh.

Namun, sayangnya masih banyak potensi rempah dan bahan makanan yang belum dimanfaatkan secara optimal karena belum adanya standar untuk produk makanan sehat. Oleh karenanya, ia menekankan prinsip makanan fungsional, yang harus memiliki tiga fungsi paten.

Aspek tersebut yakni sumber nutrisi, bercita rasa dan memiliki kemampuan fisiologis untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Hanny juga menyebut, bahwa kesadaran dan kepekaan anak terhadap potensi lingkungan alam sekitar harus kita tanamkan sejak dini. Ia menilai edukasi terhadap nilai-nilai alam pada anak-anak di Indonesia, terutama di perkotaan masih sangat kurang dibandingkan dengan negara maju.

“Terutama anak-anak kota sekarang justru lebih akrab dengan gadget dibanding dengan potensi alam di sekitarnya. Jangan sampai ini berlanjut, lebih parahnya, seperti mereka tak tahu beras itu berasal dari mana,” ujar dia.

Pengenalan lingkungan sejak dini sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam. Foto: Greeners/Ramadani Wahyu

Asah Kecerdasan Naturalis

Pengamat pendidikan Universitas Paramadina Totok Amien Soefijanto menyatakan, setiap anak memiliki kecerdasan yang unik. Akan tetapi, fungsi pendidikan krusial untuk mampu mendorong dan mendeteksi tumbuh cerdasnya anak pada semua jenis kecerdasan, termasuk kecerdasan naturalis.

“Justru pendidikan harusnya mampu mendorong kecerdasan tertentu pada anak, lebih bagus lagi bila unggul di semua kecerdasan. Oleh karena itu anak tetap harus kita latih untuk mengasah kecerdasan yang mereka miliki,” ungkapnya.

Ia menilai pentingnya peran lingkungan keluarga dan sekolah untuk mengasah kecerdasan naturalis sejak dini terhadap flora. Hal sederhana yang dapat semua orangtua rutin lakukan yaitu dengan mengajak anak berjalan kaki mengamati lingkungan sekitar.

“Jangan hanya jalan kaki tapi sembari bercerita tentang potensi alam dan lingkungan di sekitarnya yang menjadi minat anak,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/buta-flora-tak-hanya-dialami-masyarakat-awam/feed/ 0
Bioteknologi Tanaman Pangan Entaskan 17 Juta Petani dari Kemiskinan https://www.greeners.co/berita/bioteknologi-tanaman-pangan-entaskan-17-juta-petani-dari-kemiskinan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bioteknologi-tanaman-pangan-entaskan-17-juta-petani-dari-kemiskinan https://www.greeners.co/berita/bioteknologi-tanaman-pangan-entaskan-17-juta-petani-dari-kemiskinan/#respond Wed, 24 Aug 2022 06:32:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=37133 Jakarta (Greeners) – Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Teknologi Pengujian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Prasetya menyebut, kontribusi bioteknologi tanaman pangan tak sekadar meningkatkan produktivitas. Akan tetapi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Peneliti Ahli Utama pada Pusat Riset Teknologi Pengujian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Prasetya menyebut, kontribusi bioteknologi tanaman pangan tak sekadar meningkatkan produktivitas. Akan tetapi turut berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan.

“Kontribusi bioteknologi sangat nyata kita rasakan, mulai dari produktivitas, kehati, pengelolaan lingkungan, hingga membantu mengentaskan kemiskinan,” katanya dalam Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XXII 2022 di BRIN, Selasa (23/8).

Ia menyoroti, kontribusi bioteknologi tanaman pangan dari tahun 1996 hingga 2018. Di antaranya mampu meningkatkan produktivitas tanaman sebesar 822 juta ton senilai US$ 225 miliar. Selain itu, juga turut serta melestarikan keanekaragaman hayati dengan menyelamatkan seluas 231 juta hektare (ha) lahan. Bioteknologi tanaman pangan juga mampu mengentaskan kemiskinan sekitar 16-17 juta petani kecil di beberapa negara berkembang.

Sementara untuk kontribusi terhadap pengelolaan lingkungan mampu menghemat 776 ribu ton pestisida dan bahan kimia pelindung tanaman lainnya. Bambang menyebut, kontribusi lain yaitu turut mengurangi emisi CO2.

“Misalnya tahun 2018 kita mampu mengurangi sebesar 23 juta ton atau setara dengan asap 15,3 juta mobil dalam satu tahun,” tuturnya.

Lebih jauh, ia mengungkap bahwa Indonesia masih harus banyak mengejar bioteknologi, termasuk bioetika, biosafety dan conformity assessment agar bisa bersaing dengan dunia global.

“Bioteknologi tanaman memberikan peluang dalam mengkopi cepat dan akurat proses mutasi di alam untuk mendapatkan varietas yang lebih unggul mengikuti kebutuhan. Misalnya proses fermentasi, pelapukan bahkan hingga genom editing dan rekayasa genetik,” paparnya.

Subak

Aktivitas petani di lahan pertanian. Foto: pexels.com

Peluang Tanaman Pangan di Megadiversity Countries

Indonesia, sambungnya merupakan salah satu dari 17 negara “Megadiversity Countries” dengan penghasil terbesar rempah-rempah dunia, penghasil cokelat terbesar dunia ketiga. Selanjutnya, penghasil tembakau terbesar ke 6 di dunia dan penghasil teh ke 7 terbesar di dunia. “Ini menjadi PR bagaimana kita mengembangkan lebih baik lagi, misalnya rempah-rempah,” ujar dia.

Selain itu ia menyebut, sumber daya mineral dan tambang Indonesia juga sangat besar dan belum keseluruhan terhitung. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai sepanjang tidak kurang dari 95.181 km yang di kelilingi oleh laut tropis sehingga menambah tingginya keanekaragaman hayati (kehati).

Dalam kesempatan itu, Bambang Prasetya menerima penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2022. Prof Bambang memiliki bidang kepakaran bioproses-bioteknologi.

Dua bidang penelitian terkaitnya antara lain biosafety produk rekayasa genetik, standardisasi dan penilaian kesesuaian. Prof Bambang pernah meraih jabatan fungsional peneliti tertinggi sebagai Profesor Riset bidang Bioproses tahun 2006.

Masih dalam acara itu, Guru Besar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Hanny Wijaya juga meraih BRIN Sarwono Award. Hanny telah berjasa dalam mengembangkan bidang pangan yang ia lakukan lebih dari 35 tahun.

Sementara itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko memacu dunia riset dan inovasi memberikan kontribusi besar dalam menangani pandemi Covid-19. Selain itu juga menangani dampaknya terhadap perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

“Riset dan inovasi selama pandemi merupakan gambaran motivasi dan langkah awal kolaborasi periset BRIN untuk bergerak bersama membangun iklim riset yang kondusif,” katanya.

Handoko berharap, ke depan akan muncul lebih banyak SDM iptek unggul sebagai tokoh-tokoh periset nasional. Harapannya mereka menunjukan karya nyatanya untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bioteknologi-tanaman-pangan-entaskan-17-juta-petani-dari-kemiskinan/feed/ 0
Perubahan Iklim Bakal Punahkan 37 % Spesies di Tahun 2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050 https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/#respond Wed, 01 Jun 2022 05:01:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36327 Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon […]]]>

Jakarta (Greeners) – Hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim tak sekadar berimbas pada kebutuhan pangan, energi dan kesehatan, tapi juga keajegan bumi. Apabila tak ada aksi nyata pengelolaan stok karbon dan melawan perubahan iklim, keanekaragaman hayati tak lama lagi akan terancam punah.

Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) FMIPA Universitas Indonesia, Jatna Supriatna menyatakan berdasarkan Journal Nature Climate Change bila tak ada aksi nyata dalam melawan perubahan iklim, 37 % spesies akan punah pada tahun 2050. Lalu pada tahun 2100 nanti 70 % biodiversitas akan terancam punah.

“Artinya jika kita tetap pada business as usual dan tanpa ada perubahan yang berarti dalam me-manage climate change maka biodiversitas kita akan punah,” katanya dalam Webinar “Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia”, Selasa (31/5).

Keanekaragaman hayati tak hanya menyokong kebutuhan pangan, energi, kesehatan, tapi juga kestabilan bumi.

“Karena keanekaragaman hayati menyokong keajegan planet bumi. Kalau keanekaragaman hayati punah mungkin kita akan sulit untuk bisa menghuni planet bumi ini,” ucapnya.

Jamin Cadangan Karbon Tekan Dampak Perubahan Iklim

Aksi untuk melawan perubahan iklim tak lepas dari target pencapaian net zero emission (NZE) pada tahun 2060 nanti. Hal yang tak kalah penting, lanjutnya memastikan pengelolaan cadangan karbon yang besar sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati.

“Kita harus memastikan berapa stok karbon. Terutama pada wilayah hutan, gambut, mangrove hingga blue carbon di pesisir yang menjadi kontributor besar untuk penyelamatan biodiversitas kita,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menyatakan Hari Keanekaragaman Hayati setiap 22 Mei menjadi peringatan penting. Khususnya membagikan pengetahuan kepada seluruh stakeholders dan masyarakat luas pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem termasuk pelestarian keanekaragaman hayati, serta hubungannya dengan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan.

Laporan komprehensif bertajuk Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019 oleh IPBES (The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) memaparkan status keanekaragaman hayati bumi kini semakin mengkhawatirkan.

Para ilmuwan mengungkap saat ini, bumi telah kehilangan lebih dari 80 % satwa menyusui (terdiri dari satwa mamalia dan primata). Pemicunya kerusakan ekosistem alami 100 kali lebih cepat dari yang terjadi selama 10 juta tahun terakhir.

Ia juga mengatakan, keanekaragaman hayati memiliki nilai intrinsik yang berhak untuk tetap hidup. Walau tidak memberikan manfaat langsung bagi manusia. “Kehilangan atau penurunan kondisi keanekaragaman hayati dapat membahayakan nilai dan fungsi tersebut. Serta mempengaruhi kesejahteraan manusia,” imbuhnya.

Dolly menegaskan, upaya untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah saja. Namun butuh dukungan aktif semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat dengan pendekatan bentang alam.

Keanekaragaman Hayati Indonesia Unik dan Endemik

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Direktur Pusat Studi Etika Lingkungan Universitas Nasional, Endang Sukara mengingatkan, keanekaragaman hayati Indonesia sangat unik dan sebagian besar endemik. Kondisi ini tidak dapat ditemukan di negara lain.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengungkapkan potensi ekonomi keanekaragaman hayati terutama untuk bisnis farmasi multi miliar dolar.

“Oleh karena itu, kita harus betul-betul menyadari pentingnya keanekaragaman hayati. Tidak hanya melindunginya tetapi yang lebih penting memanfaatkannya dan keuntungan bagi sebesar-besarnya bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Direktur Daemeter Consulting, Aisyah Sileuw menyebut, pendekatan nilai konservasi tinggi dan stok karbon tinggi membantu untuk menyeimbangkan antara kegiatan pembangunan dan konservasi.

“Jika dilakukan secara konsisten, seharusnya tidak ada lagi dikotomi antara pilihan pembangunan dan konservasi karena masing-masing tujuan akan terpenuhi,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-bakal-punahkan-37-spesies-di-tahun-2050/feed/ 0
BRIN : Kolaborasikan Riset Biodiversitas dan Energi di G20 https://www.greeners.co/aksi/brin-kolaborasikan-riset-biodiversitas-dan-energi-di-g20/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-kolaborasikan-riset-biodiversitas-dan-energi-di-g20 https://www.greeners.co/aksi/brin-kolaborasikan-riset-biodiversitas-dan-energi-di-g20/#respond Sun, 08 May 2022 04:00:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=36108 Jakarta (Greeners) – Pertemuan Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG) dalam Presidensi G20 menjadi tantangan bagi Indonesia untuk membangun kolaborasi riset di sektor biodiversitas dan energi. Kepala Badan Riset dan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Pertemuan Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG) dalam Presidensi G20 menjadi tantangan bagi Indonesia untuk membangun kolaborasi riset di sektor biodiversitas dan energi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan, terdapat dua fokus yang RIIG tekankan. Pertama, bagaimana Indonesia bisa memperkuat kolaborasi sharing fasilitas.

Kedua, bagaimana mengatur tata kelola kolaborasi riset multinegara. “Keduanya difokuskan agar kita bisa melakukan kolaborasi riset di masa mendatang,” katanya dikutip dari laman BRIN, Sabtu (7/5).

Terdapat dua topik yang masih menjadi tantangan sebagai topik yang sulit terwujud selama ini. Pangan dan energi, termasuk biodiversitas, sambung dia adalah modal dasar di negara masing-masing.

“Sehingga ada kekhawatiran di masing-masing negara dan potensi penyalahgunaan tinggi. Energi juga demikian. Energi terkait kedaulatan negara,” ungkapnya.

Selain itu, pangan dan energi sulit terkolaborasikan karena tata kelolanya yang selama ini belum pernah ada. “Untuk itu momen G20 dinilai tepat untuk mendukung inisiatif Indonesia melakukan tata kelola tersebut,” imbuhnya.

Kolaborasi Riset Berskala Global

Melalui RIIG, BRIN membangun, berinisiatif menjual kolaborasi riset di seputar topik pangan dan energi bersama Indonesia.

Indonesia memiliki hampir 30.000 spesies di darat. Selama ini hanya 50 spesies yang sudah benar-benar jadi obat. “Mengapa hanya sedikit? Karena kita belum mampu melakukan riset sendirian hingga menjadi produk. Untuk itu perlu kolaborasi riset,” tegasnya.

Mengenai kolaborasi riset, menurutnya, komunitas periset sudah mulai menyadarinya sejak mulai pandemi. “Sejak itu, kita mulai mengubah cara berfikir bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian,” ujarnya.

Setelah integrasi di BRIN, Indonesia punya fasilitas infrastruktur riset yang diperhitungkan. Misalnya, Indonesia memiliki armada kapal riset yang terbesar di antara negara G20. Ia berharap hasil riset nantinya bukan hanya untuk Indonesia, tapi hingga ke skala global dunia.

Indonesia Lebih Percaya Diri

Ia menyebut saat ini Indonesia jauh lebih percaya diri karena kita punya kapasitas dan kompetensi dan sumber daya yang sudah terintegrasi. “Kita punya standing position yang lebih kuat sebagai inisiator dan leader tata kelola riset kolaborasi,” tandasnya.

Adapun dalam kesempatan Presidensi G20 Indonesia, BRIN melakukan pertemuan RIIG. Ini merupakan sebuah pertemuan para menteri riset dan inovasi dari berbagai negara.

Handoko menegaskan sebagai lembaga baru, BRIN merupakan role model lembaga yang melakukan aktivitas riset dan inovasi, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di dunia.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-kolaborasikan-riset-biodiversitas-dan-energi-di-g20/feed/ 0
BRIN Dorong Kolaborasi Riset Biodiversitas dengan Negara Anggota G20 https://www.greeners.co/aksi/brin-dorong-kolaborasi-riset-biodiversitas-dengan-negara-anggota-g20/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=brin-dorong-kolaborasi-riset-biodiversitas-dengan-negara-anggota-g20 https://www.greeners.co/aksi/brin-dorong-kolaborasi-riset-biodiversitas-dengan-negara-anggota-g20/#respond Mon, 18 Apr 2022 04:57:35 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35915 Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong peningkatan kolaborasi riset dan inovasi negara-negara anggota G20. Salah satunya yaitu pemanfaatan riset biodiversitas yang BRIN munculkan dalam Research and […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong peningkatan kolaborasi riset dan inovasi negara-negara anggota G20. Salah satunya yaitu pemanfaatan riset biodiversitas yang BRIN munculkan dalam Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG).

“Pada G20 kali ini, RIIG akan difokuskan pada kesadaran dan membuat kesepakatan bagaimana kita berkolaborasi memanfaatkan biodiversitas berbasis pada kolaborasi riset. Selain itu sharing infrastruktur dan pendanaan secara sederajat,” kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, baru-baru ini.

Terdapat dua prioritas agenda utama dalam RIIG yang akan BRIN selenggarakan. Pertama, meningkatkan kolaborasi riset dan inovasi melalui sharing fasilitasi, infrastruktur dan pendanaan. Kedua, penggunaan biodiversitas untuk mendukung green and blue economy.

Adapun latar belakang Handoko memilih dua prioritas tema pada RIIG, yaitu adanya keinginan membentuk platform terbuka yang bisa menjadi penghubung antar anggota G20. Hal ini sekaligus mencapai pemahaman untuk mencapai tujuan dalam dunia riset dan inovasi.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman di masa pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir tiga tahun terakhir, kolaborasi riset biodiversitas dan pemanfaatannya memegang peranan penting.

Namun dalam kenyataannya selama ini biodiversitas masih masing-masing pihak kelola sendiri. “Kehadiran BRIN dengan sumber daya yang ada mampu merepresentasikan Indonesia dalam pemanfaatan biodiversitas secara sederajat dengan negara lain,” ujar Handoko.

Biodiversitas Merupakan Isu Penting

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN sekaligus Co-Chair RIIG, Ocky Karna Radjasa menyatakan, biodiversitas merupakan isu yang sangat penting. Beberapa pemerintahan di dunia sendiri telah mengadopsi mix digital green and blue economy.

Oleh karena itu, perlu mengaitkan pemanfaatan biodiversitas untuk mendukung green and blue economy dengan pendekatan platform digital agar memaksimalkan capaian hasilnya.

“Selain itu diperlukan pula capacity building untuk meningkatkan kemampuan peneliti. Sehingga nantinya bisa mewujudkan adanya research station yang mengarah pada research framework knowledge sharing and technology transfer,” ucap Ocky.

Ocky juga menegaskan, butuh suatu kerangka kerja untuk berkolaborasi di antara negara-negara G20. “Hal ini penting karena ada circle yang harus dikoordinasikan. Ketika bicara mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, kita harus memikirkan bagaimana kita menjaganya bukan hanya untuk masa depan, tapi untuk planet kita. Karena itu, kita butuh pendekatan green and blue economy,” paparnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/brin-dorong-kolaborasi-riset-biodiversitas-dengan-negara-anggota-g20/feed/ 0
Prihatin! Tumbuhan Non-Ikonik Punah Sebelum Diketahui Manfaatnya https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/#respond Mon, 07 Mar 2022 05:22:20 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35500 Jakarta (Greneeres) – Eksistensi tumbuhan non-ikonik terancam punah. Salah satunya karena aktivitas eksploitasi manuasia. Celakanya, belum manusia ketahui manfaatnya, tumbuhan sudah punah. Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati […]]]>

Jakarta (Greneeres) – Eksistensi tumbuhan non-ikonik terancam punah. Salah satunya karena aktivitas eksploitasi manuasia. Celakanya, belum manusia ketahui manfaatnya, tumbuhan sudah punah.

Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung Arifin Surya Dwipa Irsyam, prihatin akan kondisi tersebut. Menurutnya, tumbuh-tumbuhan lokal atau non-ikonik memiliki posisi terpinggirkan. Pasalnya, tumbuhan non ikonik kurang mendapat perhatian dari masyarakat umum maupun dunia.

Padahal, sama halnya dengan aneka jenis tumbuhan-tumbuhan lain mereka mengambil peran sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam ekosistem, tumbuh-tumbuhan berperan sebagai penyedia oksigen, penyerap karbon dan logam berat, serta pengendali tanah. Lebih dari itu, perannya kepada manusia yaitu sebagai penghasil bahan pangan, bahan obat, kosmetika, serta bahan bangunan.

“Sayangnya akibat aktivitas manusia, seperti misalnya pertambangan maka tumbuhan ini punah begitu saja,” katanya dalam Webinar Meliput Ragam Biodiversitas Non-Ikonik Indonesia, baru-baru ini.

Arifin mengungkapkan, Indonesia memiliki ragam tumbuhan non-ikonik yang kaya dan beragam. Misalnya, Castanopsis tungurrut (Blume) A.DC yang tersebar di Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Adapun jenis tumbuhan ini memiliki habitat di hutan pada ketinggian hingga 1.920 meter di atas permukaan laut.

Kayu pada tumbuhan ini biasa masyarakat manfaatkan sebagai bahan bangunan. Bijinya bisa masyarakat konsumsi. Karena eksploitasi berlebih hingga penebangan liar, tumbuhan ini mengalami ancaman kepunahan. Tumbuhan ini masih bisa ditemukan meski populasinya di alam saat ini menurun hingga 30 %.

Jahe Liar dan Pacar Air Jenis Tumbuhan Non-ikonik yang Terancam Punah

Zingiber odoriferum Blume atau jahe liar biasa tersebar di Jawa dan Sunda. Pada bagian daun mudanya berguna untuk memperindah rambut dan pembasmi ketombe secara alami. Saat ini Zingiber odoriferum Blume hanya terdapat di satu lokasi di alam, yakni di Sumberjaya, Sukabumi dan menjadi koleksi di Kebun Raya Bogor.

Sementara, Impatiens arriensii (Zoll.) T. Shimizu atau pacar air hanya hidup di perbukitan kapur Madura. Ini berbeda dengan tumbuhan pacar air di Jawa yang hidup di tanah dan biasa masyarakat tanam di samping rumah. Namun sayang, imbas aktivitas pertambangan, tumbuhan hias ini telah punah.

Demi mencegah kepunahan, Arifin menekankan pentingnya edukasi pemanfaatan biodiversitas kepada masyarakat hingga lingkup terkecil. Keluarga, lingkaran pertemanan, sambung Arifin dapat menjadi wadah pertama untuk mengenalkan keanekaragaman, terutama tumbuhan lokal non-ikonik yang jarang diperhatikan.

Misalnya, mulai dengan mengenalkan karakteristik, manfaat dan pentingnya menjaga tumbuhan tersebut. “Kalau sudah menimbulkan rasa ingin tahu maka bentuk kepedulian dan kecintaan akan tumbuh dengan sendirinya,” imbuhnya.

Indonesia Negara Kaya Biodiversitas

Ketua Lembaga Sains Terapan (LST) Jatna Supriatna menyatakan, kekayaan dan keberagaman biodiversitas Indonesia terlihat karena berada dalam urutan kedua terkaya untuk mamalia (700 spesies). Kemudian keempat terbanyak untuk keragaman burung (>1500 spesies), serta menyimpan sekitar 1400 spesies ikan air tawar yang setengahnya endemik.

Potensi biodiversitas ini, sambung Jatna bisa bermanfaat dalam berbagai hal, seperti pangan, serat, obat, produk industri (lemak, minyak), serta sumber energi alternatif. Namun sayangnya, belum banyak tersentuh oleh sains.

“FAO pada tahun 2012 menyatakan Indonesia sebagai produsen nomor tiga terbesar ikan di dunia, setelah China dan Peru,” kata Jatna.

Dalam bidang kesehatan, Jatna menyebut Indonesia memiliki potensi bioprospeksi yang sangat besar. Tapi kurang tersentuh oleh sains. Dalam bidang pangan dan obat, terdapat 400 tanaman penghasil buah, 370 spesies tanaman, 60 spesies tanaman penyegar, 55 spesies tanaman rempah-rempah, serta 2.500 jenis tanaman obat-obatan.

Sementara, negara-negara lain masih sangat bergantung terhadap obat-obatan yang berasal dari alami. Misalnya, 50 obat resep di Amerika Serikat 118 berdasarkan sumber alami. Rinciannya 74 % dari tumbuhan, 18 % dari jamur, 5 % pada bakteri, serta 3 % dari spesies vertebrata (ular).

“Potensi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia khususnya untuk mengembangkan risetnya,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/prihatin-tumbuhan-non-ikonik-punah-sebelum-diketahui-manfaatnya/feed/ 0
Burung Jalak Bali, Si Putih Bermata Biru dari Pulau Dewata https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-jalak-bali https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/#respond Fri, 26 Mar 2021 03:00:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=14756 Siapa sih yang enggak kenal Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)? Dibanding spesies Sturnidae lainnya, nama satwa tersebut mungkin menjadi yang paling populer di masyarakat. Saking terkenalnya, gambar burung ini bahkan sempat tercantum di dalam uang logam kita!]]>

Siapa sih yang enggak kenal Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)? Bila kita bandingkan dengan spesies Sturnidae lainnya, nama satwa tersebut mungkin menjadi yang paling populer di masyarakat. Saking terkenalnya, gambar burung ini bahkan sempat tercantum di dalam uang logam kita!

Jalak Bali atau Curik Bali merupakan satwa endemik Tanah Air yang hanya bisa kita temukan di bagian barat Pulau Dewata. Mereka terkenal sebagai burung pengicau yang memiliki ukuran tubuh sedang.

Sejak tahun 1991, curik mendapat penobatan sebagai fauna identitas dari Provinsi Bali. Mereka juga satu-satunya hewan endemik yang berasal dari pulau tersebut setelah harimau Bali dinyatakan punah. 

Jika Anda perhatikan, pada uang logam nominal Rp200 keluaran tahun 2003, terdapat gambar satwa ini dan garuda yang menjadi simbol kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Jalak Bali

Secara morfologi, unggas bergenus Leucopsar ini bisa kita kenali dari warna bulunya yang putih bersih. Mereka dapat berkembang biak hingga sepanjang 25 cm, dengan bobot berkisar 107,75 g.

Pelupuk matanya yang berwarna biru tua juga jadi ciri khas dari burung jalak Bali. Berkat kombinasi corak tersebut, spesies mereka awam percayai sebagai salah satu burung tercantik yang ada di Indonesia.

Bagian paruhnya dapat tumbuh antara 2 – 3 cm. Pada ujung paruhnya terlihat corak berwarna kuning kecokelatan, dengan bagain rahang yang berwarna abu-abu kehitaman.

Umumnya, kelompok Leucopsar rothschildi mempunyai bulu ekor berwarna hitam selebar 25 mm. Jumlah bulu tersebut mencapai 17 – 18 helai, dengan jumlah bulu sayap berkisar 11 – 12 helai.

Jika kita ukur, panjang rata-rata kepala curik Bali mencapai 5 cm. Lehernya hanya berukuran 2 cm, bagian sayap 13 cm, panjang ekor 6 cm, serta panjang kaki (tidak termasuk paha) sekitar 4 cm.

burung jalak bali

Pelupuk matanya yang berwarna biru tua juga jadi ciri khas dari burung jalak Bali. Foto: Shutterstock.

Perbedaan Burung Jalak Bali Jantan dan Betina

  • Jambul pejantan relatif lebih panjang daripada sang betina.
  • Ukuran tubuh jantan lebih besar dan gagah. Sedangkan betina tampak lebih ramping.
  • Kepala jantan terlihat lebih panjang dan besar. Sedangkan kepala betina lebih kecil dan cenderung lebih bulat.
  • Secara tampilan, burung jalak Bali jantan disinyalir lebih indah daripada sang betina. Mereka mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih.

Kebiasaan dan Karakteristik Burung Jalak Bali

Untuk mengetahui kebiasaan dan karakteristik burung jalak Bali, kita bisa mengidentifikasinya berdasarkan suara, reproduksi hingga aktivitas hariannya. Agar tidak salah, berikut selengkapnya.

1. Pola Reproduksi

Ciruk Bali tergolong sebagai satwa monogamous, sehingga ia hanya memiliki satu pasangan pada satu musim perkawinan. Usia perkawinan sendiri mereka capai pada umur dua tahun.

Seekor jalak betina mampu menghasilkan telur sebanyak tiga butir. Telur-telur tersebut nantinya akan dierami oleh kedua induk selama kurang lebih 16 hari.

2. Suara Burung Jalak Bali

Suara burung jalak bali terdengar sangat khas, yakni campuran antara bersiul dan lengkingan. Mereka tergolong sebagai burung bersuara bising, yang terkadang meniru suara burung lainnya.

3. Aktivitas Harian

Di habitatnya, spesies Leucopsar rothschildi termasuk senang berkelompok. Mereka terbang berpasang-pasangan utnuk mencari makan, lalu bersarang di dalam lubang pohon setinggi 2,5 – 7 m.

Aktivitas sehari-hari mereka cenderung sama dan berulang. Menurut pakar, setelah matahari terbit mereka akan terbang menuju tempat makan, lalu kembali untuk tidur saat matahari terbenam.

Perlu kita ketahui, curik Bali adalah salah satu jenis burung yang senang kebersihan. Ia senang bermain di air untuk membersihkan diri, kemudian berjemur untuk mengeringkan bulu-bulunya.

jalak bali

Jalak bali (Leucopsar rothschildi) atau disebut juga Curik Bali merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Pulau Bali bagian Barat. Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi (Indonesia Wildlife Photography).

Habitat Burung Jalak Bali serta Status Konservasinya

Ingin melihat fauna ini langsung di habitatnya? Maka, Anda harus menyambangi wilayah-wilayah seperti hutan mangrove, hutan rawa, hutan musim dataran rendah, serta padang savana.

Meski saat ini hanya bisa dijumpai di Taman Nasional Bali Barat, mulanya mereka tersebar di daerah Tegal Bunder, Lampu Merah, Batu Gondang, Prapat Agung, Batu Licin, hingga Teluk Brumbun.

Sebagai informasi, jalak Bali merupakan satwa dengan populasi amat langka dan terancam punah. Menurut perkiraan pakar, hanya tinggal belasan ekor yang mampu bertahan hidup di alam liar.

Berdasarkan PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, burung jalak Bali adalah fauna yang dilarang perdagangannya kecuali hasil penangkaran dari generasi ketiga.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sendiri memasukkan buruk ini pada kategori “Critically Endangered” atau satwa liar berstatus terancam punah.

Melansir berbagai sumber, penurunan populasi jalak Bali disebabkan oleh maraknya deforestasi (penggundulan hutan), perburuan, serta perdagangan liar.

Untuk menghindari kepunahan satwa tersebut, pemerintah lantas mendirikan beberapa pusat penangkaran Leucopsar rothschildi – salah satunya terletak di Buleleng, Bali – sejak tahun 1995.

Taksonomi Burung Jalak Bali

taksonomi burung jalak bali

Referensi

Laman Portal Informasi Indonesia

Laman KSDA Bali

Putu Indra Pramana Wirastika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Penulis: Yuhan Al Khairi, Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-jalak-bali/feed/ 0
Bunga Mawar, Simbol Cinta yang Bermanfaat bagi Kesehatan https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bunga-mawar https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/#respond Sat, 13 Mar 2021 03:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=15823 Tidak hanya indah dilihat, mawar juga sebagai sarana untuk mengkomunikasikan perasaan yang tidak bisa diucapkan. Bunga ini pun bukan sekadar hiasan, ada khasiat obat yang terkandung di tiap kuntumnya.]]>

Tidak hanya cantik sebagai tanaman hias, sekuntum atau seikat bunga mawar yang Anda berikan kepada seseorang juga bisa menjadi simbol cinta dan ungkapan rasa sayang. Mau tahu fakta menarik lain terkait bunga bergenus Rosa ini? Yuk, simak ulasan lengkap dari Greeners di bawah!

Rose atau mawar adalah sejenis tumbuhan semak yang memiliki lebih dari 100 ragam spesies. Bunga ini tumbuh subur di kawasan yang sejuk, serta mampu merambat sampai pada ketinggian 20 m.

Sejak dulu kala, bunga berordo Rosales ini menjadi lambang cinta dan persahabatan. Dalam bahasa bunga, ia adalah media untuk mengkomunikasikan perasaan yang tak bisa kita utarakan dengan kata-kata.

Itu sebabnya, jangan heran jika bunga mawar laris-manis saat perayaan Hari Kasih Sayang. Berkat nilai ekonomisnya, banyak publik yang tertarik membudidayakan flora yang satu ini.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bunga Mawar

Ciri-ciri bunga mawar tentu dapat kita kenali dari warnanya. Corak tanaman tersebut sangat khas dengan variasi warna yang beragam, seperti merah, kuning, putih, oranye dan sebagainya.

Sama seperti tinggi dan panjang daunnya, perbedaan warna bunga bergantung pada spesiesnya. Sebagian besar memiliki daun sepanjang 5-15 cm, dengan jumlah anak daun berkisar 3-13 helai.

Daun tersebut tumbuh secara bersilangan dan berkelamin ganda. Ia juga mempunyai daun penumpu yang tampak kuncup di bagian pangkal, serta memiliki banyak benang sari dan juga putik.

Dari sekian banyak varietas mawar, hanya Rosa sericea yang memiliki empat daun mahkota. Sedang, biasanya daun mahkota yang terdapat pada bunga tersebut berjumlah lima helai.

Panjang tangkai bunga mawar bisa mencapai 2,5 cm, warnanya tampak abu-abu dengan kelopak berbentuk lonceng. Bentuk bunga sendiri umumnya bulat, terletak di ujung batang atau cabang.

Secara umum flora ini sebenarnya tidak beracun, akan tetapi kita perlu waspada terhadap bagian batangnya. Sebab terdapat duri-duri tajam yang menjadi organ pelindung bagi tumbuhan tersebut.

bunga mawar

Corak tanaman ini sangat khas dengan variasi warna yang beragam, seperti merah, kuning, putih, oranye dan sebagainya. Foto: Shutterstock.

Habitat, Persebaran, dan Jenis Bunga Mawar

Menurut penelitian, bunga mawar mulanya berasal dari dataran Cina, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Dalam perkembangannya mereka menyebar luas di daerah beriklim dingin dan juga panas.

Proses masuknya tanaman mawar ke Indonesia sendiri dibawa oleh orang-orang Belanda. Saat itu, orang-orang Belanda menanam bunga ini di daerah beriklim sejuk, seperti di Lembang dan Cipanas. Dari daerah-daerah tersebut mawar lantas menjadi komoditas yang beredar sampai ke pelosok negeri. Setelah Indonesia merdeka, orang Belanda meninggalkan kebun-kebun bunga yang kembali ke tangan para pribumi.

Berdasarkan jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, pengelompokkan berbagai jenis bunga mawar terbagi berdasarkan habitat dan persebarannya. Agar lebih jelas, berikut penjabarannya.

Jenis-Jenis Bunga Mawar berdasarkan Asalnya

  • Eropa: Rosa alba, Rosa canina, Rosa gallica, Rosa chnamomea, Rosa cettifolia, Rosa spinosissma, dan Rosa wichuraiana.
  • Amerika Serikat: Rosa cinemoemea, Rosa nitida, dan Rosa california.
  • Timur Tengah: Rosa fetida, Rosa fetida bicolor, Rosa fetida perciana, Rosa feicikoana, dan Rosa damascena.
  • Cina: Rosa chinensis, Rosa liviegata, Rosa gigantean, Rosa primula, Rosa mulluganii, Rosa sericana pteracantha, Rosa hugonis, dan Rosa banksiae lutea.
  • Jepang: Rosa roxburghii, Rosa roxburghii hirthua, Rosa aciculaisis nipponensis, Rosa mulitiflora, Rosa wichuraina, Rosa rugosa, Rosa uchiyamana, Rosa jasminoidesu, dan Rosa fujisanesis.
bunga mawar

Menurut penelitian, bunga mawar mulanya berasal dari dataran Cina, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Foto: Pixabay.

Cara Menanam dan Merawat Bunga Mawar

Melansir laman Distan Kabupaten Buleleng, setidaknya ada dua cara menanam bunga mawar, yakni langkah pembibitan dan langkah penanaman.

1. Mempersiapkan Bibit

Kita bisa menghasilkan bibit bunga tersebut melalui stek batang, okulasi, cangkok hingga menanam bijinya. Bila lewat media polybag, cara menanamnya mirip seperti menanam cabai di dalam pot.

2. Persiapkan Lahan dan Media Tanam

Buatlah lubang-lubang dengan diameter 15 cm dan kedalaman 35 cm pada lahan yang telah disediakan. Lalu, tanam bibit bunga tersebut dan siram dengan air sampai tanah cukup basah.

Langkah dan Cara Merawat Bunga Mawar:

  • Bersihkan permukaan tanah dari rumput liar dan gulma secara teratur;
  • Tambahkan pupuk 3-4 bulan sekali dengan dosis sesuai kondisi tanaman. Langkah pemupukan sendiri bisa menggunakan jenis pupuk NPK sebanyak 5 g per tanaman;
  • Sirami lahan pada pagi dan sore hari saat suhu udara tidak terlalu panas; dan
  • Lakukan langkah pemangkasan secara teratur untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Cara ini juga dilakukan demi mengaja keremajaan dan kesehatan tumbuhan.

Manfaat Bunga Mawar bagi Kesehatan

Menurut Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI), mawar merupakan salah satu tanaman yang memiliki ekonomi tinggi serta dapat dibudidayakan secara komersial sesuai permintaan pasar.

Budidaya bunga ini dapat Anda lakukan sebagai hobi ataupun untuk kegiatan agrobisnis. Sudah banyak sumber dan penelitian yang menonjolkan keunggulan dari bunga yang satu ini.

Bunga mawar mengandung vitamin A, B3, C, D dan E yang bertindak melawan infeksi, serta mengandung fenolat yang diyakini memiliki sifat anti-inflamasi.

Berdasarkan penelitian para ahli, bagian kelopak mawar mampu mengurangi risiko penyakit jantung, membantu melawan kanker dan diabetes, serta meningkatkan penglihatan.

Di pasaran, produk teh berbahan dasar Rosa juga marak kita temui. Biasanya bagian yang menjadi bahan olahan teh adalah petalnya, sedang kelopak bunga tidak terpakai karena rasanya yang pahit.

Taksonomi Bunga Mawar

taksonomi bunga mawar

 

Referensi

Nur Hidayah, Universitas Muhammadiyah Malang

Basrulah, Universitas Negeri Yogyakarta

Dinas Pertanian Kabupatan Buleleng

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

 

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bunga-mawar/feed/ 0
Ciplukan, Buah Favorit Masa Kanak-Kanak yang Ternyata Beracun https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ciplukan https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/#respond Wed, 06 Jan 2021 00:00:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16208 Meski sering dianggap gulma, nyatanya tanaman Ciplukan (Physalis angulata Linn.) memiliki segudang manfaat. Hanya saja, awasi anak Anda ketika memakan buahnya, sebab flora ini mengandung racun solanine yang bisa berbahaya bagi kesehatan. ]]>

Meski sering dianggap gulma, nyatanya tanaman Ciplukan (Physalis angulata Linn.) memiliki segudang manfaat. Hanya saja, awasi anak Anda ketika mencoba memakan buahnya, sebab flora ini mengandung racun solanine yang bisa berbahaya bagi kesehatan. 

Gulma adalah kelompok flora pengganggu yang sering tidak diharapakan pertumbuhannya. Masifnya perkembangbiakkan tumbuhan ini bahkan dapat menurunkan hasil produksi dari lahan perkebunan.

Melansir laman CCRC (Cancer Chemoprevention Research Center) Farmasi, Universitas Gadjah Mada, ciplukan merupakan tumbuhan herba anual (tahunan) yang bisa tumbuh antara 0,1-1 m.

Jenis tumbuhan ini termasuk dalam famili Solanaceae, sebuah tumbuhan hijau yang kerap menjadi campuran obat herbal, serta sumber obat-obatan alami bagi masyarakat lokal.

Walau sangat bermanfaat, pemanfataan Physalis angulata Linn. tidak boleh sembarangan. Bentuk mentah dari tumbuhan ini mengandung zat aktif yang mengancam kesehatan manusia.

Habitat dan Persebaran Pohon Ciplukan

Pohon ciplukan merupakan tanaman asli dari Selatan Amerika yang tersebar secara luas ke daerah-daerah tropis di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tumbuhan ini mempunyai banyak nama.

Masyarakat Jawa mengenal tumbuhan ini sebagai Ceplukan, masyarakat Sunda menyebutnya sebagai Cecendet, di Madura dikenal sebagai Yor-yoran, sedang suku Sasak memanggilnya sebagai Dedes.

Di kawasan Bali, tumbuhan gulma tersebut memiliki tiga nama berbeda yakni Angket, Kepok-kepokan, dan Keceplokan. Sedang warga Minahasa menyebut tumbuhan ini dengan nama Leletokan.

Umumnya, ciplukan tumbuh dengan sendirinya atau liar di daerah semak-semak, pinggir kebun, tepi jalan, tepi hutan hingga ladang pertanian atau perkebunan warga.

Cukup jarang masyarakat yang khusus menanam flora ini dalam upaya budidaya. Jika Anda memerlukannya, tumbuhan yang satu ini dapat kita temukan dengan mudah di sekitar area yang telah saya sebutkan.

Tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl. Tanaman yang menyukai lahan subur dan agak basah ini tumbuh subur saat musim hujan, dengan panjang usia berkisar satu tahun saja.

Morfologi dan Ciri-Ciri Ciplukan

Ciplukan memiliki daun tunggal dan berwarna hijau. Pertulangan daunnya tidak teratur, memiliki tulang daun menyirip serta menjari. Batang tidak jelas, dengan percabangan yang terlihat menggarpu.

Ditambah lagi, batang pohon ini juga tampak bersegi tajam, berusuk, berongga dengan bagian hijau yang berambut pendek atau gundul.

Batangnya sendiri dapat berdiri tegak atau merunduk hingga menyentuh lantai tanah. Keunikan dari pohon ini juga dapat kita lihat dari buahnya yang terbungkus oleh kelopak daun.

Bagian kelopak daun ciplukan tampak menggelembung, berbentuk seperti telur dan berujung runcing. Buah tersebut dapat tumbuh sepanjang 14 mm, berwarna hijau-kuning serta memiliki cita rasa manis.

Bunga dari pohon ini tergolong tunggal, terletak di ujung atau ketiak daunnya. Bentuk bunga tersebut simetri banyak, tangkai bunga tegak dengan ujung yang mengangguk, langsing dan lembayung.

Pertumbuhan bunga tersebut dapat mencapai 8-23 mm pada usia muda. Saat sudah mulai dewasa, bagian tersebut biasanya berkembang atau tumbuh kembali hingga 3 cm.

buah ciplukan

Pakar menyarankan masyarakat agar hanya mengonsumsi buah ciplukan saat sudah matang saja. Foto: Shutterstock.

Manfaat Pohon Ciplukan

Seperti yang telah saya sebutkan, meskipun tergolong sebagai tanaman liar ciplukan memiliki banyak sekali manfaat dan khasiat khususnya di bidang kesehatan tradisional.

Tidak cuma itu, tumbuhan yang satu ini juga bermanfaat bagi bidang pendidikan tanaman herbal, terutama sebagai acuan ilmu pengetahuan tentang kimia bahan-bahan alam.

Berdasarkan beberapa penelitian, senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam Physalis angulata Linn. di antaranya saponin, flavanoid, polifenol hingga fisalin.

Senyawa-senyawa ini merupakan antioksidan alami yang terkandung dalam tumbuhan. Antioksidan dapat mengeliminasi radikal bebas dalam tubuh sehingga tidak menginduksi suatu penyakit.

Jika demikian, bagian apa saja sih yang bisa kita manfaatkan dari pohon tersebut? Berikut di antaranya:

  • Akar ciplukan pada umumnya berguna sebagai obat cacing dan penurun demam;
  • Daunnya sebagai penyembuh patah tulang, busung air, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut serta kencing nanah; serta
  • Apabila Anda mengonsumsinya, pakar obat herbal percaya buah ciplukan dapat mengobati epilepsi, susah dan penyakit kuning.

Bahkan di kawasan selatan benua Amerika (seperti Peru dan Chili), flora ini banyak awam olah menjadi saus/sambal untuk kudapan dan isian salad.

Bahaya Ceplukan dan Cara Mengolahnya

Melansir berbagai sumber, ahli menyimpulkan jika buah ciplukan mengandung solanine atau racun alami yang jamak terdapat pada tanaman solanaceae atau jenis sayuran Nightshades.

Solanine sendiri dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk kram dan diare. Bahkan dalam kasus yang sangat parah, sayuran ini juga berpotensi mengancam kesehatan hidup seseorang.

Dalam sebuah penelitian, tikus jantan menerima suntikan jus buah ceplukan dengan dosis 2.227 mg setiap hari. Hasilnya, tikus tersebut mengalami kerusakan jantung, meski tidak terjadi pada tikus betina.

Maka dari itu, pakar menyarankan kepada masyarakat agar mengonsumsi buah tersebut saat sudah matang saja. Hal ini dapat terlihat dari warna buah yang sudah berubah menjadi kuning keemasan.

Pada dasarnya, manfaat dari tumbuhan ini dapat kita rasakan jika dikonsumsi dan diolah secara benar. Supaya tidak keliru, berikut langkah-langkah yang harus Anda ketahui:

  • Untuk mengetahui tingkat kematangan buah ceplukan, Anda bisa mengupas daun yang menjadi kuncup buahnya, lalu perhatikan warna dari buah tersebut;
  • Jika sudah cukup matang, cuci menggunakan air sampai benar-benar bersih;
  • Kita bisa memakan secara langsung buah ciplukan yang sudah matang dan dicuci;
  • Apabila ingin mengolahnya menjadi makanan, Anda dapat mencampur buah tersebut ke dalam salad atau diblender dengan buah-buahan lainnya hingga menjadi jus.

Perlu Anda ketahui, buah ciplukan sendiri mengandung karbohidrat, protein, serat, riboflavin, vitamin A, lemak, vitamin C, zat besi, fosfor serta vitamin K yang penting bagi kesehatan tulang, gigi, dan kulit.

Taksonomi Ciplukan

ciplukan

Referensi:

Alifah Hasna, Universitas Muhammadiyah Malang

Laman LIPI 

Laman Farmasi, Universitas Negeri Gajah Mada

Ratna Frida Susanti, Ph.D, dkk., Universitas Katolik Parahyangan

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ciplukan/feed/ 0
Padang Lamun, Flora Laut Penting yang Terus Tergerus https://www.greeners.co/flora-fauna/padang-lamun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=padang-lamun https://www.greeners.co/flora-fauna/padang-lamun/#respond Fri, 18 Dec 2020 00:00:45 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16015 Umumnya masyarakat sering terkecoh antara tanaman lamun dan rumput laut. Perlu diketahui bahwa lamun dan rumput laut merupakan dua jenis flora yang berbeda.]]>

Memiliki tampilan yang cukup mirip, padang lamun sering disamaratakan dengan ramput laut. Meski begitu, tak banyak yang mengetahui jika kedua tumbuhan ini memiliki perbedaan ciri yang signifikan.

Padang lamun merujuk pada kumpulan tanaman lamun yang tumbuh di dasar laut. Flora ini adalah satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae), yang mampu beradaptasi dengan perairan pantai.

Selain cukup kuat, tanaman ini juga sangat penting bagi area pesisir. Bahkan, pakar mencatat lamun sebagai salah satu ekosistem utama penunjang kawasan pantai, di luar mangrove dan juga terumbu karang.

Uniknya, para ilmuwan kerap menyebut tumbuhan ini sebagai seagrasses. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan lamun dengan ‘rumput laut,’ yang notabenenya tergolong sebagai ganggang.

Di Tanah Air, ilmuwan Malikusworo Hutomo pertama kali memperkenalkan nama lamun kepada masyarakat ilmiah melalui disertasinya di Institut Pertanian Bogor pada 1985.

Sebelumnya, lamun terlebih dahulu memiliki nama khas tersendiri di setiap daerah. Contohnya masyarakat lokal Kepulaun Seribu menyebut flora ini dengan istilah ‘samo-samo’, adapun istilah ‘lalamong’ di Maluku Tengah, dan ‘setu’ di Pulau Bintan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Lamun

Salah kaprah antara padang lamun dan rumput laut sudah terjadi sejak lama. Rumput laut sendiri pada mulanya dibudidayakan sebagai bahan baku makanan pembuat agar-agar.

Sebab bentuknya yang cukup mirip dengan rumput – serta keduanya yang tumbuh di dasar laut– lantas masyarakat menyebutnya sebagai ‘rumput.’ Padahal, jika ditelaah lebih jauh flora ini tidak tergolong demikian.

Alih-alih memiliki struktur bunga dan biji, flora ganggang seperti rumput laut biasanya tidak memiliki akar serta tergolong sebagai tumbuhan primitif yang belum memiliki deferensiasi organ canggih.

Berbeda dengan rumput laut, tanaman yang satu ini terdiri dari akar, biji, batang, daun dan bunga. Masing-masing organ tersebut juga memiliki ciri dan fungsi yang berbeda, seperti:

  • Akar Lamun

Kita dapat membedakan morfologi akar berdasarkan spesiesnya, misalnya spesies Halophila dan Halodule yang memiliki karakteristik tipis (fragile) layaknya rambut serta berdiameter kecil.

Sedang, spesies Thalassodendron memiliki akar yang kuat, berkayu dengan sel epidermal. Fungsi akar lamun dan tumbuhan darat sebenarnya sama, namun akar ini tidak berguna sebagai penyalur air.

  • Rimpang dan Batang

Hampir seluruh spesies seagrasses memiliki rimpang atau rizoma berjenis herbaceous, hanya spesies Thallasodendron ciliatum sajalah yang diketahui memiliki rizoma berkayu.

Struktur rizoma dan batang tumbuhan ini memiliki sangat bervariasi. Ditambah lagi, rimpang sendiri kerap terbenam di dalam substrat, serta memiliki peran penting bagi reproduksi tumbuhan.

  • Daun Lamun

Sebagian besar dari tanaman ini memiliki struktur daun pita yang panjang dan sempit (ciri tumbuhan monokotil). Namun, ada pula beberapa genus yang memiliki daun berbentuk bulat dan juga silindris.

Sama seperti batang, luas dan ketebalan daun tergantung pada spesies dan fungsinya. Anatomi yang khas daun tersebut, yakni tidak adanya stomata dan keberadaan kutikel yang tipis.

Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi karbon, sehingga daun tersebut biasanya menyerap kandungan nutrien secara langsung dari air laut.

Perlu diketahui, lamun berkembang biak dengan mengeluarkan biji. Semakin banyak biji yang tumbuh maka semakin tebal tampilan tanaman, hal inilah yang menjadi cikal-bakal dari padang lamun.

Persebaran Padang Lamun di Indonesia

Ekosistem lamun adalah kawasan perairan pantai dengan lantai pasir, yang memiliki kedalaman antara 0-10 m. Jenis perairan ini biasanya cukup jernih, hingga cahaya matahari bisa masuk ke dalamnya.

Gerakan arus air umumnya cukup tenang sekitar 0,5 m per detik. Idealnya, kadar garam pada perairan tersebut biasanya cukup rendah, dengan tingkat suhu air rerata 20-30 derajat Celsius.

Karakter perairan seperti ini banyak kita temukan di Tanah Air, bahkan dari 60 spesies lamun yang ada di dunia 15 spesies di antaranya berada di sekitar laut Indonesia.

padang lamun

Di Tanah Air, laju kerusakan padang lamun mencapai 2-5% per tahunnya. Foto: Shutterstock.

Berdasarkan peta penyebarannya, padang lamun bisa kita temukan di area Aceh, Nias, Belitung Barat, Batam, Lampung, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku Utara serta Pulau Biak.

Sayangnya, populasi padang lamun di tanah air semakin menipis. Hal ini berkenaan dengan aktivitas industri di kawasan pesisir, serta lenyapnya ekosistem bakau di sekitar kawasan tersebut.

Bahkan para peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Oseanografi LIPI memprediksi, populasi lamun yang masih bertahan hingga tahun 2018 hanya berkisar 1,8 juta ha dari 3 juta ha.

Laju kerusakan lahan seagrasses sendiri diketahui sangat tinggi di tanah air, yakni mencapai 2-5% per tahunnya. Tentunya kita perlu menyesali hal ini mengingat tumbuhan ini memiliki segudang manfaat.

Manfaat Padang Lamun bagi Kelestarian Alam

Usaha budidaya padang lamun tentu tidak bisa kita tawar lagi, pasalnya tumbuhan yang satu ini jelas memiliki segudang manfaat bagi kelestarian alam serta makhluk laut yang ada di sekitarnya.

Melansir dari berbagai sumber, setidaknya ada empat fungsi utama dari tumbuhan lamun baik bagi biota laut maupun manusia. Apa sajakah itu? Berikut Greeners rangkum untuk Anda:

  • Tempat Berlindung dan Produsen Pakan

Menurut Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, padang lamun berfungsi sebagai tempat pemijahan (spawing ground) dan sekaligus menjadi tempat asuhan (nursery ground) serta tempat mencari makan (feeding ground) bagi biota laut.

Jenis biota laut seperti ikan baronang, ikan kwe, ikan biji nangka, ikan lencam, udang, lobster, kepiting dan ranjungan kerap ditemukan berlindung di bawah padang lamun.

Selain itu, tumbuhan ini juga berperan penting sebagai penyedia makanan bagi hewan penyu, dugong, invertebrata herbivora, serta ikan-ikan herbivora.

  • Padang Lamun Melindungi Kawasan Pesisir Pantai

Dalam jurnal Status Padang Lamun Indonesia (tahun 2018), peneliti Puslitbang Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nurul Dhewani Mirah Sjafrie, dkk., menyebutkan bahwa seagrasses efektif sebagai penahan deburan ombak.

Bila perairan di sekitarnya menjadi tenang, maka rimpang dan akar lamun bisa lebih mudah mengikat sedimen air. Hal ini secara otomatis membuat area dasar laut menjadi lebih kuat serta lebih stabil.

  • Padang Lamun Menekan Ancaman Perubahan Iklim

Menurut beberapa penelitian, komunitas lamun di dasar laut juga berguna sebagai pengikat karbon. Nantinya, tumbuhan tersebut akan menahan kenaikan konsentrasi CO2 dan gas rumah kaca lainnya.

Bahkan menurut tim peneliti Puslitbang Oseanografi LIPI, dalam satu tahun setiap 1 hektare padang lamun dapat menyimpan sekitar 6,6 ton karbon atau setara dengan 24,2 ton gas CO2.

  • Nilai Ekonomis

Mulanya, warga menganggap flora ini tidak mempunyai nilai ekonomis, namun belakangan telah ditemukan beberapa bahan aktif yang berasal dari daun lamun. Beberapa manfaat dari ekosistem lamun di antaranya yaitu tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan, dan tiram; tempat rekreasi atau pariwisata; sumber pupuk hijau; sumber bahan aktif obat-obatan dan kosmetik; dan sumber bahan pangan.

Baca juga: Mengenal Tokek: Berbagai Jenis dan Mitos di Tengah Masyarakat

Taksonomi Lamun

tanaman lamun

Referensi:

Laman Fakultas Biologi UGM

Portal Informasi Indonesia

Umar Tangke dalam “Ekosistem Padang Lamun”

Laman LIPI

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/padang-lamun/feed/ 0
Ikan Sidat, Karnivora Mirip Belut yang Bernutrisi Tinggi https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-sidat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ikan-sidat https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-sidat/#respond Tue, 15 Dec 2020 00:00:42 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=15803 Ikan Sidat memang unik karena mampu beradaptasi di perairan estuari, laut hingga air tawar. Sekilas, bentuk hewan ini cukup mirip dengan belut, namun keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.]]>

Ikan Sidat memang unik karena mampu beradaptasi di perairan estuari, laut hingga air tawar. Sekilas, bentuk hewan ini cukup mirip dengan belut, namun keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.

Belut sendiri bisa kita temukan hidup di perairan rawa dan persawahan. Selain itu, belut tidak butuh kondisi geografis dan iklim spesifik, sehingga bisa hidup di perairan dengan oksigen yang rendah.

Meninjau dari morfologinya, tubuh kedua fauna ini sama-sama berlapis lendir, namun belut tidak bersisik ataupun bersirip. Sedang sidat, memiliki sisik pada bagian kepalanya yang bekerja sebagai telinga.

Di luar beberapa fakta tersebut, ada faktor lain yang membedakan antara belut dan ikan sidat. Agar tidak salah, yuk kita simak ulasan lengkap mengenai hewan bernama latin Anguilla spp ini!

Morfologi dan Ciri-Ciri

Tubuh ikan sidat berbentuk silindris, kepalanya bulat telur, letak mulut terminal serta memiliki ekor pipih meruncing. Panjang tubuh maksimal ikan ini bervariasi, antara 15 cm sampai dengan 200 cm.

Sidat dewasa dapat tumbuh hingga berat 22 kg (tergantung jenis). Tubuhnya sangat lentur dan berlapiskan sejenis lendir yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri dari predator alam.

Ikan yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini tergolong jenis ikan karnivora. Berdasarkan penelitian, hewan ini akan memakan ikan dan binatang air lain, yang berukuran lebih kecil dari bukaan mulutnya.

Beberapa organisme bentik yang kerap jadi santapan fauna unik tersebut adalah udang dan kepiting (crustacea), cacing dan larva chironomide (polichaeta), kerang-kerangan (bivalva) serta molusca.

Terkadang ikan sidat juga memiliki sifat kanibal, hewan yang satu ini kerap memangsa sidat kecil yang ada di sekitar dengan mencabik-cabik hingga bangkainya hancur, lalu memakannya secara perlahan.

Siklus dan Habitat Ikan Sidat

Dalam siklus hidupnya ikan sidat mengalami enam fase, yakni telur, pre-leptocephalus, eptocephalus, glass eel, dewasa dan induk. Biasanya, hewan ini akan bermigrasi ke tengah laut saat akan memijah.

Sifat ini merupakan kebalikan dari sifat ikan salmon yang bersifat anadromus, yaitu hidupnya di laut dan bermigrasi jauh ke hulu sungai yang jernih untuk proses reproduksi.

Studi penandaan menunjukkan, ikan sidat dapat berenang lebih dari 3.000 mil ke Laut Sargasso. Perlu waktu yang lama memang, namun begitulah siklus hidup ikan tersebut untuk berkembang biak.

Tak jarang untuk sampai ke muara sungai sidat harus mengikuti aliran sungai yang deras, menuruni air terjun yang tinggi, serta menentang gelombang air yang sangat besar.

Perjuangan hewan tersebut bahkan belum selesai, saat tiba di tengah laut ikan bertubuh panjang ini masih harus beradaptasi dengan tingginya kadar garam yang ada di perairan laut.

Perlu Anda ketahui terdapat 18 spesies ikan sidat yang ada di dunia, 12 spesies di antaranya tersebar di daerah tropis, sedang 7 spesies berada di Pasifik Barat hingga perairan Indonesia.

Bahkan, perairan Indonesia sendiri diduga merupakan asal muasal Anguilla borneensis yang ada di dunia. Adapun spesies sidat lain di perairan Indonesia, seperti:

1. Anguilla celebesensis(endemik Kalimantan dan Sulawesi);

2. Anguilla interioris;

3. Anguilla obscura(endemik Papua);

4. Anguilla marmorata;

5. Anguilla bicolor bicolor; dan

6. Anguilla bicolor pacifica.

Unagi, ikan sidat ala Jepang

Masyrakat Jepang gemar mengonsumsi ikan sidat, mengolahnya menjadi makanan yang nikmat. Salah satunya unagi don. Foto: Shutterstock.

Ikan Sidat yang Mulai Terancam

Anguilla marmorata merupakan jenis sidat yang masih sering dijumpai di perairan Poso, Sulawesi Tengah.

Dalam daftar merah International Union for The Conservation of Nature (IUCN), jenis A. marmorata termasuk beresiko rendah, sedang A. celebensis yang dikategorikan kondisinya hampir terancam.

Keterancaman populasi sidat sendiri berkaitan dengan pola penangkapan ikan, di mana perhatikan masyarakat terhadap aspek lingkungan masih sangat minim terutama saat menangkap ikan.

Sidat yang tertangkap biasanya berukuran dewasa yang akan memijah ke laut, akibatnya populasi sidat dewasa yang bermigrasi ke laut menjadi sangat terbatas bahkan terus berkurang.

Penggunaan racun, setrum, serta pagar perangkap dari bambu disinyalir jadi penyebab terhalangnya jalur migrasi ikan, untuk bereproduksi hingga mengganggu keberlangsungan hidup fauna.

Perlu diingat, penggunaan alat perangkap seperti di atas dapat membunuh biota laut yang ada di sekitarnya, seperti ikan-ikan kecil, kepiting, siput, katak dan hewan lain yang menjadi makanan sidat.

Baca juga: Pohon Kesemek, Berasal dari Cina Populer hingga Indonesia

Manfaat Ikan Sidat bagi Kesehatan

Tidak cuma dijadikan komoditas ekspor, kandungan vitamin yang terdapat pada ikan yang satu ini juga sangat baik bagi manusia. Beberapa manfaat kesehatan ikan yang dalam bahasa inggris disebut freshwater eel ini antara lain:

  • Kandungan DHA dan EPA yang tinggi pada ikan sidak ampuh meningkatkan kecerdasan otak;
  • Omega 3 pada ikan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah penyakit seperti lupus dan kolitis ulserativa;
  • Zink yang terdapat pada sidak 9 kali lebih banyak daripada susu sapi, sehingga daging ikan ini sangat baik dikonsumsi oleh anak-anak untuk menjaga tumbuh kembangnya.
  • Zink pada ikan tersebut juga bermanfaat untuk mencegah tekanan darah tinggi. Sebab, kandungan tersebut secara aktif mengatur angiotensin dan endotelin pada tekanan darah; dan
  • Terakhir, fauna yang satu ini diketahui mengandung vitamin B1, B2 dan A. Sehingga, tidak hanya baik sebagai antioksidan, daging ikan tersebut juga efektif mencegah penyakit gangguan mata.

Nah, sekarang Anda sudah tahukan apa saja manfaat ikan sidat? Sebab perannya yang sangat penting bagi manusia dan keseimbangan alam, yuk sama-sama kita jaga kelestariannya!

Taksonomi Ikan Sidat

taksonom ikan sidat

Referensi:

Penulis: Yuhan Al Khairi, Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ikan-sidat/feed/ 0
Studi: Keanekaragaman Hayati Papua Terkaya di Dunia https://www.greeners.co/berita/studi-keanekaragaman-hayati-papua-terkaya-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=studi-keanekaragaman-hayati-papua-terkaya-di-dunia https://www.greeners.co/berita/studi-keanekaragaman-hayati-papua-terkaya-di-dunia/#respond Sat, 08 Aug 2020 05:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=28110 Balitbangda Papua Barat mempublikasikan hasil penelitian terbaru yang menyebut Pulau Papua sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat mempublikasikan hasil penelitian terbaru yang menyebut Pulau Papua sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Kolaborasi global yang melibatkan 99 ahli dan 56 institusi di 19 negara tersebut mengidentifikasi 13.634 spesies tumbuhan yang ada di daratan Bumi Cenderawasih itu. Wilayah Papua juga dinilai memiliki biodiversitas lebih banyak dibanding Pulau Madagaskar, di Afrika Timur.

Penemuan yang diterbitkan dalam Jurnal New Guinea Has The World’s Richest Island Flora pada Rabu, (5/8) lalu mencatat adanya 1.747 genus dan 264 famili tumbuhan. Sebanyak 68 persen di antaranya merupakan flora endemis di Papua dan tidak dapat ditemukan di tempat lain. Hal tersebut membuat Pulau Papua menjadi satu-satunya kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki tumbuhan endemis terbanyak.

Kepala Sub Bidang Diseminasi dan Publikasi Balitbangda Provinsi Papua Barat, Ezrom Batorinding, mengatakan bahwa penelitian ini ditujukan untuk mengekspos flora di tanah Papua dan sebagai rangkuman data. Informasi tersebut, kata dia, dijadikan sebagai acuan literatur maupun informasi dasar bagi penentuan kebijakan maupun perencanaan konservasi.

Baca juga: Rapid Test Dinilai Tak Bisa Dijadikan Diagnosis Corona

“Selama ini literatur yang ada menerka bahwa flora di Papua berkisar antara 15 hingga 25 ribu. Namun, secara resmi yang teridentifikasi ada 13.634 jenis. Jumlah tersebut ada yang endemis Papua serta jenis tumbuhan yang ada di Malaysia dan Filipina karena memang masih satu bentang,” ujar Ezrom ketika dihubungi Greeners melalui telepon, Jumat, (07/08/2020).

Ia menuturkan data jurnal ilmiah juga berpotensi membuka peluang pencurian flora di Pulau Papua. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Provinsi Papua Barat telah membuat Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pembangunan Berkelanjutan di Papua Barat. Ezrom mengatakan poin utama dari perdasi yakni konservasi yang menjadi landasan dari seluruh rencana kegiatan pemerintah daerah.

“Peraturan tersebut menjadi satu upaya menjaga kekayaan keanekaragaman hayati Papua. Di dalam pemanfaatannya mengacu kepada aspek-aspek kelestarian. Karena manfaat dari penemuan ini lebih utamanya untuk ilmu pengetahuan dan juga perencanaan daerah Papua,” ujarnya.

Foto Satelit Wilayah Penelitian di Papua Barat

Foto Satelit Wilayah Penelitian di Papua Barat. Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) ProvinsI Papua Barat

Para ilmuwan berharap bahwa hasil identifikasi flora dapat membantu perencanaan konservasi di masa depan. International Union for Conservation of Nature juga mengharuskan spesies dengan kategori daftar merah atau yang terancam punah memiliki nama tumbuhan yang valid. Sedangkan data penyebaran secara geografis berguna untuk menentukan penilaian konservasi yang meliputi pemodelan dampak perubahan iklim dan penggunaan lahan tumbuhan.

“Data ini yang dapat digunakan oleh IUCN akan membantu memastikan kelestarian flora di Pulau Papua,” tulis Charlie D. Heatubun, Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, dalam rilis resminya.

Ia menambahkan bahwa Pulau Papua telah menarik perhatian para peneliti selama berabad-abad. Menurutnya penelitian terhadap flora telah berlangsung mulai dari abad ke-17, tetapi karena kompilasi data yang tak optimal banyak yang belum tercatat sehingga tidak terpublikasikan. “Pihak Balitbangda menyadari bahwa keragaman hayati di Pulau Papua tidak begitu diketahui secara sains,” tulisnya.

Baca juga: Rapid Test Dinilai Tak Bisa Dijadikan Diagnosis Corona

Para ahli botani selanjutnya melakukan verifikasi dan menemukan sekitar 23.000 spesies tumbuhan dengan lebih dari 704.000 spesimen. Observasi tersebut juga menyebut bahwa Pulau Papua memiliki hampir tiga kali lebih banyak atau 4.598 spesies tumbuhan berpembuluh di Pulau Jawa. Jika dibandingkan dengan Filipina, jumlahnya 1,4 kali lebih banyak atau mencapai 9.432 spesies. Kedua daerah tersebut merupakan wilayah di Asia Tenggara yang telah merilis data floranya.

Tanaman anggrek merupakan flora yang menyumbang 20 persen keanekaragaman hayati di Papua Nugini dan 17 persen dari wilayah Indonesia. Angka tersebut dinilai sebanding dengan negara-negara yang memiliki biodiversitas tinggi seperti Ekuador dan Kolombia. Sementara spesies pohon berkontribusi 29 persen dari semua flora.

Sejak 1970, sebanyak 2.812 spesies baru dipublikasikan dari Pulau Papua. Para penulis memperkirakan
bahwa dalam 50 tahun jumlahnya akan mencapai 4.000 spesies dan akan ditambahkan ke dalam daftar tersebut.

Penulis: Dewi Purningsih dan Maria Soterini

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/studi-keanekaragaman-hayati-papua-terkaya-di-dunia/feed/ 0
Myzomela irianawidodoae Burung Penyerbuk dari Pulau Rote https://www.greeners.co/flora-fauna/myzomela-irianawidodoae-burung-penyerbuk-dari-pulau-rote/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=myzomela-irianawidodoae-burung-penyerbuk-dari-pulau-rote https://www.greeners.co/flora-fauna/myzomela-irianawidodoae-burung-penyerbuk-dari-pulau-rote/#respond Tue, 14 Jan 2020 04:25:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=25295 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan spesies burung baru Myzomela rote asal kepulauan Rote Nusa Tenggara Timur pada akhir tahun 2017.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah bahkan menjadi megabiodiversitas kedua dunia. Namun, peneliti mengatakan bahwa biodiversitas di Indonesia bersifat abstrak dan tidak dapat dihitung menggunakan database. Seakan membenarkan pernyataan tersebut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan spesies burung baru asal kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur.

Myzomela rote (Myzomela irianawidodoae) ditemukan oleh LIPI akhir tahun 2017 di kawasan hutan NTT. Sebelumnya LIPI menganggap bahwa Myzomela irianawidodoae sejenis dengan Myzomela dammermani dari kepulauan Sumba. Dalam kajiannya terhadap morfologi dan pola suaranya menunjukkan perbedaan dan menyimpulkan bahwa takson ini merupakan spesies baru yang belum bernama.

Baca juga: Burung Anis Merah, Maskot Para Penghobi Burung Kicau

Bentuk fisik Myzomela dammermani dengan Myzomela irianawidodae dapat diidentifikasi melalui perbedaan pita hitam di dadanya. Pada Myzomela irianawidodoae berukuran sempit, sedangkan pada Myzomela dammermani melebar hingga ke perut.

Habitat Myzomela irianawidodoae banyak ditemukan di hutan, semak-semak, dan kebun pekarangan. Terkadang burung penghisap madu tersebut mengunjungi pohon yang berbunga dan menghisap nektar di sekitar perkampungan.

Myzomela Irianawidodoae

Myzomela irianawidodoae) ditemukan pada akhir 2017 di kawasan hutan Nusa Tenggara Timur. Foto: lipi.go.id

Spesies alami Myzomelia irianawidodoae jantan memilki panjang tubuh holotipe 118 mm dan bobotnya 32,23 gram. Panjang paruh 17,94 mm; panjang sayap 58 mm dan bentangan sayap 172 mm; panjang tungkai bawah (tarsus) 16,66 mm, dan panjang ekor 37 mm.

Myzomela irianawidodoae memiliki ciri bulu-bulu di bagian kepala hingga dada atas dan tengkuk berwarna merah darah, warna bagian kekang hitam dan terdapat garis hitam tipis di sekeliling mata. Kemudian di bawah warna merah di dada melintang pita hitam, yang secara bertahap menjadi warna abu-abu dengan sapuan warna zaitun pada dada bawah, perut, paha dan sekitar tungging. Sayap berwarna hitam bercampur abu-abu gelap. Punggung dan ekor burung berwarna hitam, sementara pertengahan punggung sampai tunggir berwarna merah. Burung betina berwarna abu-abu zaitun polos. Paruhnya berwarna hitam iris mata cokelat gelap, warna kaki dan jari hitam dengan bantalan kuku warna kuning.

Baca juga: Burung Weris, Burung Cantik Khas Minahasa

Myzomela irianawidodoae masuk dalam keluarga Meliphagidae sebagai satwa burung yang dilindungi oleh Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP Nomor 7 Tahun 1999.

Menurut peneliti Myzomela irianawidodoae memiliki manfaat sebagai penyerbuk tumbuhan di habitatnya. Tetapi penyebaran wilayah yang semakin sempit membuat burung ini terancam punah. Perubahan lingkungan dan habitat alami yang terus terjadi di Pulau Rote mengancam kelestarian burung ini. Penyediaan kawasan konservasi untuk melindungi semua keanekaragaman hayati di Indonesia juga dinilai kurang. Padahal dengan cara itu flora dan fauna yang dimiliki dapat terjaga kelestariannya.

Taksonomi Myzomela Irianawidodoae

Penulis : Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/myzomela-irianawidodoae-burung-penyerbuk-dari-pulau-rote/feed/ 0
Indonesia Usulkan Tiga Cagar Biosfer Baru di ICC MAB UNESCO https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/#respond Tue, 15 May 2018 05:08:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20571 Indonesia akan mengusulkan tiga cagar biosfer baru dalam sidang “30th Session of the International Co-ordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere Programme (MAB)-UNESCO”.]]>

Jakarta (Greeners) – Indonesia akan mengusulkan tiga cagar biosfer baru dalam sidang “30th Session of the International Co-ordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere Programme (MAB)-UNESCO”, yang akan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan pada 23-28 Juli 2018 mendatang. Tiga cagar biosfer yang diajukan yaitu Berbak Sembilang (Sumatera Selatan-Jambi), Betung Kerihun Danau Sentarum, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), dan Rinjani Lombok (Nusa Tenggara Barat).

Enny Sudarmonowati, Ketua Komite Nasional MAB UNESCO yang juga Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, mengatakan bahwa ketiga cagar biosfer ini memiliki keunikan masing-masing. Keunikan tersebut yaitu ekosistem gambut di Barbak Sembilang, biodiversitas khas danau di Danau Sentarum, dan ekosistem pegunungan di Rinjani.

“Kami berharap ketiganya dapat disetujui dan ditetapkan UNESCO saat sidang ke-30 di Indonesia pada Juli mendatang. Alasan kami memilih ketiga cagar tersebut ialah keunikan biodiversity dari masing-masing daerah dan komitmen pemerintah daerah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Status Pulau Sempu Tetap Cagar Alam, Aktivitas Wisata Dilarang

Enny menyebutkan, sidang ICC MAB UNESCO memberi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan adanya pengakuan dan peran Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam hayati di dunia. Utamanya adalah dalam mengembangkan cagar biosfer sebagai wahana penerapan pembangunan berkelanjutan dengan tetap melestarikan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan iptek.

“Sebagai tuan rumah, Indonesia perlu mengambil peran dengan mengusulkan rekomendasi berupa Palembang Recommendation untuk disetujui di sidang dan diacu dunia. Rekomendasi tersebut terkait dengan salah satu nominasi Cagar Biosfer baru Indonesia, yakni Berbak Sembilang. Untuk itu, pemerintah memilih Palembang sebagai kota untuk tuan rumah penyelenggaraan, selain juga karena komitmen pemerintah daerah setempat yang baik dalam cagar biosfer, ” ujarnya.

Jumlah cagar biosfer dunia saat ini sebanyak 669 yang tersebar di 120 negara. Indonesia sendiri hingga kini memiliki 11 cagar biosfer dan mengusulkan nominasi tiga cagar biosfer baru.

“Momen ini juga menjadi ajang promosi keunggulan Indonesia dalam pengembangan cagar biosfer untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan kelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya, yang berbasis multipihak dan lintas sektoral,” kata Enny.

BACA JUGA: KLHK Berharap Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia Meningkatkan Kinerja

Sebagai informasi, LIPI merupakan lembaga yang ditunjuk sebagai national focal point untuk memberikan masukan ilmiah terkait terlaksananya keseimbangan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Sehubungan dengan peran ini dan juga persiapan pelaksanaan sidang ICC MAB UNESCO, LIPI yang didukung oleh Kementerian dan lembaga lainnya menyelenggarakan Launching “30th Session of the ICC of the MAB-UNESCO” pada 14 Mei 2018 di LIPI Pusat Jakarta.

Penyelengaraan sidang ICC MAB UNESCO kali ini juga istimewa bagi Indonesia karena Indonesia menjadi negara kelima di luar Perancis yang menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Sebelumnya, penyelenggaraan pertemuan di negara di luar Perancis pernah dilakukan di Jeju (Korea Selatan), Dresden (Jerman), Jönköping (Swedia), dan Lima (Peru).

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-usulkan-tiga-cagar-biosfer-baru-di-icc-mab-unesco/feed/ 0