biota laut - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/biota-laut/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 11 Dec 2023 06:44:50 +0000 id hourly 1 YKAN Dukung Upaya Pemerintah Lindungi Mamalia Terdampar https://www.greeners.co/aksi/ykan-dukung-upaya-pemerintah-lindungi-mamalia-terdampar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ykan-dukung-upaya-pemerintah-lindungi-mamalia-terdampar https://www.greeners.co/aksi/ykan-dukung-upaya-pemerintah-lindungi-mamalia-terdampar/#respond Mon, 11 Dec 2023 06:44:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=42490 Jakarta (Greeners) – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mendukung pemerintah dalam melindungi mamalia terdampar. Hal itu YKAN lakukan melalui pelatihan penanganan mamalia dan biota laut jenis dilindungi. Kegiatan ini merupakan […]]]>

Jakarta (Greeners) – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mendukung pemerintah dalam melindungi mamalia terdampar. Hal itu YKAN lakukan melalui pelatihan penanganan mamalia dan biota laut jenis dilindungi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan(KKP) melalui Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (PSPL) Sorong.

Pelatihan berlangsung pada 28–30 November di Saoka Beach Resort, Sorong, Papua Barat Daya. Tema kegiatan ialah “Bimbingan Teknis dan Pelatihan Penanganan Kejadian Mamalia dan Biota Laut Jenis Dilindungi Terdampar”.

Pelatihan itu bertujuan untuk mengidentifikasi mamalia laut, perlindungan mamalia laut secara umum, dan tata cara penanganan mamalia laut terdampar. Ada pula teknik pelaporan data dan informasi bagi mamalia laut terdampar.

BACA JUGA: Balai Konservasi Identifikasi Penyebab Kematian Paus Biru di Kupang

“Bimbingan teknis terkait penanganan kejadian mamalia dan biota laut terlindungi yang terdampar ini sangat penting. Sebab, wilayah perairan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) menjadi alur migrasi mamalia dan biota laut lainnya. Sehingga, banyak kami temui kejadian keterdamparan,” kata Ahli Pertama Loka PSPL Sorong, Prehadi.

Prehadi menjelaskan, pelatihan ini merupakan salah satu upaya untuk melindungi dan melestarikan biota laut yang terancam punah, langka, dan dilindungi (endangered, threated and protected–ETP). Misalnya, duyung (dugong), berbagai jenis penyu, pari manta, beberapa jenis hiu, dan lumba-lumba. Selain itu, pelatihan juga bisa melindungi habitat penting dan keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut.

Masih Banyak Pelanggaran Hukum terhadap Satwa Laut

Prehadi menambahkan, meskipun satwa-satwa laut ini mendapat perlindungan lewat sejumlah aturan, tetapi masih banyak satwa yang terdampar di perairan.

“Di samping itu, masih banyak pelanggaran hukum terhadap jenis biota terlindungi tersebut. Hal ini yang mendorong kami untuk selalu berupaya dalam penyadartahuan masyarakat pesisir yang berkaitan langsung dengan biota laut,” terang Prehadi.

Sejumlah pihak mengikuti pelatihan ini. Di antaranya kepolisian, kelompok masyarakat pengawas, masyarakat hukum adat, nelayan, dan pegian konservasi. Kegiatan berisi pemaparan materi terkait peraturan dan situasi terkini mengenai konservasi mamalia laut dan spesies lainnya.

Peserta pelatihan juga diajarkan tentang identifikasi spesies mamalia laut, pengenalan mamalia laut yang kerap terdampar di Indonesia. Lalu, mengenai tata cara pengumpulan data live stranding mamalia laut, aspek medis dari terdamparnya mamalia laut, hingga sesi praktik penyelamatan.

YKAN mendukung pemerintah dalam melindungi mamalia terdampar. Foto: YKAN

YKAN mendukung pemerintah dalam melindungi mamalia terdampar. Foto: YKAN

Masyarakat Perlu Ikut Menangani Mamalia Terdampar

YKAN berharap masyarakat bisa ikut terlibat membantu pemerintah. Khususnya, dalam menangani kejadian terdamparnya mamalia dan biota laut terlindungi di wilayah Perairan BLKB.

“Dengan penanganan tepat, kesempatan hidup mamalia terdampar dapat meningkat dan risiko kematiannya berkurang. Kami berharap bimbingan teknis ini mampu meningkatkan kemandirian, kecakapan, dan kesadaran akan pentingnya melindungi mamalia laut dan biota laut lainnya,” ujar Manajer Senior Bentang Laut Kepala Burung YKAN, Lukas Rumetna.

BACA JUGA: Belasan Ekor Paus Pilot Ditemukan Terdampar di NTT

Selain itu, pelatihan ini juga memberikan banyak manfaat bagi pihak kepolisian. Sebab, kepolisian menjadi kelompok yang terlibat dalam penanganan satwa terdampar tersebut.

“Pelatihan ini sangat tepat untuk kami terapkan di lapangan. Terutama, bagi pihak kepolisian yang selama bertugas kerap menerima informasi terkait mamalia laut yang terdampar. Melalui pelatihan ini, kami dan nelayan mendapatkan bekal dan mekanisme penanganan yang tepat saat terjadi kondisi tersebut,” tutup Kapolsek Misool, Suhardi.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ykan-dukung-upaya-pemerintah-lindungi-mamalia-terdampar/feed/ 0
Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas di Dasar Laut https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/#respond Tue, 28 Mar 2023 06:08:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39494 Jakarta (Greeners) – Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications menemukan adanya gelombang panas di dasar lautan bumi karena perubahan iklim. Gelombang panas yang bertahan lebih lama ini akan menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications menemukan adanya gelombang panas di dasar lautan bumi karena perubahan iklim. Gelombang panas yang bertahan lebih lama ini akan menjadi masalah besar terhadap keberlanjutan spesies di dalam dan sekitarnya.

“Ini adalah fenomena global. Kami melihat gelombang panas laut terjadi di sekitar Australia dan di tempat-tempat seperti laut Mediterania dan Tasmania. Ini bukan sesuatu yang unik di Amerika Utara,” kata ilmuwan peneliti di Laboratorium Ilmu Fisika NOAA Dillon Amaya dilansir Live Science.

Gelombang panas dasar laut ini mampu bertahan lebih lama daripada gelombang panas permukaan. Sehingga akan memengaruhi spesies utama seperti lobster dan ikan kod.

Lonjakan suhu air permukaan telah lama merusak ekosistem. Pada tahun 2013 hingga 2016 misalnya, perairan permukaan Samudera Pasifik di sepanjang garis pantai Amerika Utara menghangat dan menyebabkan kematian satu juta burung laut. Ini karena sumber pangan mereka (ikan) telah mati.

Lautan telah menyerap sekitar 90 % kelebihan panas dari pemanasan global akibat perubahan iklim. Menurut NASA hal ini menyebabkan peningkatan sekitar 1,8 derajat Fahrenheit (1 derajat Celsius) selama 100 tahun terakhir.

Kenaikan ini telah menghasilkan peningkatan 50 % gelombang panas permukaan laut dalam dekade terakhir.

Suhu Laut Abnormal

Peneliti ahli utama bidang Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir BRIN Widodo Setiyo Pranowo menyatakan, fenomena marine heat wave (MHW) adalah penjalaran massa air laut yang suhunya di atas rata-rata normal musiman pada area ekosistem laut tertentu.

“Kita sebut abnormal apabila suhu laut tersebut 0,5 hingga 5 derajat Celcius lebih tinggi dari suhu laut rata-rata musiman atau klimatologis (rata-rata lebih dari 10-30 tahun),” katanya kepada Greeners, Selasa (28/3).

Fenomena ini bukanlah seperti gelombang di permukaan karena angin. Sebab, suhu laut abnormal tersebut menjalarnya cukup lama mirip periode gelombang.

“Periode ini menggambarkan intensitas dari penjalaran suhu laut yang abnormal secara temporal. Periodenya bisa mingguan (atau lebih dari lima hari), bulanan, hingga tahunan,” kata dia.

Karang ini rumah bagi seperempat biota laut dan mampu mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Dampak Buruk Gelombang Panas terhadap Biota Laut

MHW memicu ‘shock temperature’ yang berdampak pada biota laut yang hidup atau berada di dasar laut. Misalnya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), tumbuhnya alga beracun secara masif (harmfull alga bloom) hingga penyakit pada komunitas bintang laut.

“Dampak terburuknya apabila MHW berlangsung lama yaitu kematian terumbu karang, bintang laut dan biota-biota lain yang hidup di dasar laut dangkal,” kata dia.

Sebagai contoh fenomena MHW yang terjadi di perairan dangkal di sepanjang pantai barat Amerika hingga Alaska adalah saat El Nino 2015-2016. Suhu laut memanas menyebabkan coral bleaching masif.

MHW di Indonesia Saat La Nina

Fenomena coral bleaching akibat suhu laut memanas juga pernah terjadi di perairan dangkal barat Australia pada tahun 2011. Sebaliknya, MHW di Indonesia justru pernah terjadi saat terjadinya La Nina. Ini menyebabkan coral bleaching masif pada tahun 1998, 2002 dan 2016.

MHW juga berdampak pada biota di kolom lapisan permukaan laut seperti ikan. “Fenomena kasus menghilangnya ikan sarden lemuru di Laut Bali pada tahun 2010 dan 2016, kita duga akibat dari penjalaran MHW ini pada periode La Nina,” ungkapnya.

Belum diketahui secara pasti penyebab utama MHW karena masih dalam studi lebih lanjut. Namun, fenomena ini disinyalir imbas dari perubahan iklim.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/feed/ 0
Sampah Plastik Sebarkan Mikroalga Laut Beracun https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-sebarkan-mikroalga-laut-beracun/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-plastik-sebarkan-mikroalga-laut-beracun https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-sebarkan-mikroalga-laut-beracun/#respond Thu, 24 Nov 2022 05:12:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=38064 Jakarta (Greeners) – Sekitar 8 juta ton sampah plastik memenuhi lautan dunia setiap tahun. Sampah plastik bukan hanya menjadi polusi utama dalam ekosistem laut, tapi juga sebagai media penyebaran mikroalga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Sekitar 8 juta ton sampah plastik memenuhi lautan dunia setiap tahun. Sampah plastik bukan hanya menjadi polusi utama dalam ekosistem laut, tapi juga sebagai media penyebaran mikroalga laut berbahaya. Hal ini berdampak buruk pada makhluk hidup lain, termasuk manusia.

Mikroalga beracun yang muncul di perairan dapat membahayakan organisme laut, seperti ikan dan avertebrata hingga manusia yang mengkonsumsi mikroalga tersebut. Bahkan mikroalga beracun ini memicu sejumlah kasus kematian.

Beberapa jenis mikroalga berbahaya di perairan Indonesia yaitu A-Trichodesmium erythraeum, B-Noctiluca scintillans, dan D-Prorocentrum lima.

Peneliti Indonesian Culture Collection (InaCC), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Danang Ambar Prabowo mengatakan, peranan plankton sangat vital dalam ekosistem perairan. Berbagai organisme nabati mampu menghasilkan bahan organik. Akan tetapi, ternyata juga ada mikroalga beracun yang berbahaya.

Dalam konteks ini, plastik sebagai polutan laut dapat bertahan selama lebih dari 100 tahun. Itulah kenapa sampah plastik dapat berpotensi memicu penyebaran mikroalga laut beracun semakin luas.

“Dibandingkan dengan sampah jenis lain, potensi penyebaran mikroalga laut menggunakan plastik lebih tinggi karena sifatnya yang tahan lama di lingkungan,” katanya dalam diskusi bertajuk “Melalui Bioteknologi, Bioengineering, dan Biodiversitas Terapan, BRIN Perkuat Bioekonomi Indonesia”, Rabu (23/11).

Pembuangan Sampah Plastik ke Pantai

Ia menyorot masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah plastik ke pantai. Padahal, begitu plastik tenggelam ke dasar laut maka akan ditempeli mikroalga dan menyebar menuju habitatnya yang baru. “Mereka terus berkembang dan berpotensi menjadi spesies invasif berbahaya,” imbuhnya.

Terdapat setidaknya 200 jenis spesies mikroalga berbahaya yang ada di dunia, mulai dari mikroalga yang menghasilkan racun atau toksin hingga memicu banyak ikan mati. Selain itu, ada banyak ikan mati karena ledakan beberapa mikroalga Harmful Algal Bloom (HAB) seperti Skeletonema costatm, Prorocentrum sp., dan Thalassiosira sp.

“Populasi mikroalga yang tumbuh meledak itu ada yang menghasilkan racun (toksik) dan non toksik. Meskipun begitu ini dapat menyebabkan terganggunya kondisi lingkungan,” kata dia.

Bahkan, beberapa jenis biota laut dapat mengakumulasi racun yang dihasilkan oleh berbagai jenis mikroalga lewat rantai pakan. “Jika manusia memakan makanan laut seperti kerang dan udang yang mengandung racun dari mikroalga itu maka menimbulkan berbagai gejala keracunan bahkan dapat mematikan,” paparnya.

Fenomena HAB pernah terjadi diikuti dengan peristiwa matinya ikan secara besar-besaran. Seperti di Teluk Jakarta pada tahun 2004, 2005 dan 2007. Tak hanya ikan yang mati, tapi juga kerang, krustasea dan biota lainnya.

Berdasarkan penelitian Danang berjudul “Potensi Penyebaran Mikroalga Laut Berbahaya melalui Sampah dan Sampah Plastik di Perairan Indonesia” yang dilakukan di Pantai Tanjung Pasir dan Pulau Tidung, sampah plastik mendominasi dengan temuan 20 macam spesies mikroalga laut berbahaya di dalamnya.

Sampah plastik memicu perkembangan mikroalga beracun yang mengancam ekosistem laut dan manusia. Foto: Freepik

Wujudkan Bioindustri

Dalam kesempatan itu, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (OR HL) BRIN Iman Hidayat menyatakan, Indonesia adalah negara megabiodiversity dan sudah seharusnya menjadi negara bioindustri. Dengan begitu bisa meningkatkan nilai ekonomi negara.

Setidaknya terdapat tiga faktor yang menjadi tantangan Indonesia. Pertama, masih belum optimalnya kolaborasi lintas sektor antar peneliti.

Kedua, belum optimalnya kolaborasi antara peneliti dan sektor swasta. Iman menekankan adanya kepekaan peneliti dalam menyediakan permintaan sektor industri yang merupakan kebutuhan banyak orang.

Terakhir yakni penguasaan teknologi. Peneliti Indonesia tak sekadar mampu menggunakan teknologi tapi terus menciptakan teknologi terbaru untuk menghadapi tantangan zaman.

“Tantangan kita mulai dari kesehatan, pangan, perubahan iklim dan masalah lingkungan. Ini semua tugas besar kita,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/sampah-plastik-sebarkan-mikroalga-laut-beracun/feed/ 0
Kehidupan Laut Terancam Punah Jika Pemanasan Global Terus Berlanjut https://www.greeners.co/berita/kehidupan-laut-terancam-punah-jika-pemanasan-global-terus-berlanjut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kehidupan-laut-terancam-punah-jika-pemanasan-global-terus-berlanjut https://www.greeners.co/berita/kehidupan-laut-terancam-punah-jika-pemanasan-global-terus-berlanjut/#respond Tue, 03 May 2022 04:54:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36068 Jakarta (Greeners) – Kehidupan di lautan terancam mengalami kepunahan massal. Kepunahan ini bisa saja menyaingi kepunahan masa lalu di bumi, jika tak bisa menahan emisi gas rumah kaca. Hal ini […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kehidupan di lautan terancam mengalami kepunahan massal. Kepunahan ini bisa saja menyaingi kepunahan masa lalu di bumi, jika tak bisa menahan emisi gas rumah kaca. Hal ini terungkap dari sebuah penelitian baru yang Science terbitkan akhir April 2022.

Pembakaran bahan bakar fosil membuat peningkatan kondisi panas yang ada di bumi. Hal ini turut meningkatkan suhu air laut. Sementara tingkat oksigen di lautan turun dan air menjadi asam karena penyerapan karbon dioksida dari atmosfer.

Laut yang panas, kekurangan oksigen telah meningkat empat kali lipat sejak tahun 1960-an. Akibatnya laut menjadi tak lagi bersahabat bagi kehidupan di dalamnya. Kerang, remis dan udang pun tidak dapat membentuk cangkang dengan baik karena pengasaman air laut.

Peningkatan panas dan hilangnya oksigen di lautan kata para peneliti, mengingatkan peristiwa kepunahan massal di laut sekitar 250 juta tahun yang lalu. Bencana alam ini adalah kematian hebat. Kala itu terjadi kematian hampir 96 % hewan laut.

“Bahkan jika besaran kepunahan spesies tidak pada tingkat yang sama seperti itu, mekanisme kepunahan spesies akan tetap sama,” kata Justin Penn, seorang ilmuwan iklim di Universitas Princeton yang ikut menulis penelitian baru tersebut dilansir The Guardian, baru-baru ini.

Kenaikan Suhu akan Mempercepat Kepunahan Kehidupan Laut

Sejatinya, ia menambahkan, masa depan kehidupan di lautan sangat bergantung pada langkah apa yang dilakukan terhadap gas rumah kaca hari ini. “Ada dua lautan sangat berbeda yang bisa kita lihat. Laut tanpa kehidupan yang kita lihat hari ini, bergantung pada pergerakan emisi CO2 ke depan,” ucapnya.

Tingkat kepunahan dahsyat dapat terjadi jika dunia memancarkan panas yang semakin membuat planet ini semakin panas. Kenaikan suhu tak terkendali lebih dari 4 derajat Celcius akan memicu kepunahan kehidupan laut beberapa abad lagi.

Bahkan lebih dari itu, dalam skenario yang lebih baik dunia masih akan kehilangan sebagian besar kehidupan lautnya. Pada pemanasan 2 Celcius di atas norma pra-industri, bahkan di bawah janji iklim pemerintah dunia saat ini, sekitar 4 % dari sekitar dua juta spesies di lautan akan musnah.

Ikan dan mamalia laut yang hidup di daerah kutub paling rentan. Menurut penelitian, mereka tidak akan dapat bermigrasi ke iklim yang lebih sejuk, tidak seperti spesies tropis. “Mereka tidak akan punya tempat untuk pergi,” kata Penn.

Perubahan Iklim Ancaman Besar Kehidupan di Air

Ancaman perubahan iklim juga memperkuat bahaya besar lainnya bagi kehidupan air, seperti penangkapan ikan yang berlebihan dan polusi. Studi tersebut juga menemukan, berdasarkan data International Union for Conservation of Nature, antara 10 % dan 15 % spesies laut sudah berisiko kepunahan karena berbagai ancaman ini.

Ahli Ekologi Kelautan di University of North Carolina, John Bruno mengatakan, penelitian baru tentang pola geografis kepunahan di laut ini sangat menantang.

Bruno mengatakan, pemanasan ekstrem membuat kepunahan di masa depan. Pembuat kebijakan dan masyarakat harus prihatin dengan dampak perubahan iklim ini. Bahkan ia sangat khawatir, kenaikan suhu kurang dari 1 derajat Celcius saja sudah bisa menyebabkan degradasi ekosistem.

“Kita sudah kehilangan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan dengan pemanasan yang relatif sederhana selama 50 tahun terakhir,” imbuhnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kehidupan-laut-terancam-punah-jika-pemanasan-global-terus-berlanjut/feed/ 0
KLHK: Kontaminasi Paracetamol Masih Kategori Emerging Pollutant https://www.greeners.co/berita/klhk-kontaminasi-paracetamol-masih-kategori-emerging-pollutant/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=klhk-kontaminasi-paracetamol-masih-kategori-emerging-pollutant https://www.greeners.co/berita/klhk-kontaminasi-paracetamol-masih-kategori-emerging-pollutant/#respond Wed, 06 Oct 2021 06:34:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=33991 Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, kontaminasi paracetamol di Perairan Jakarta perlu kajian lanjutan. Kontaminasi ini belum masuk kategori pencemaran air permukaan dan laut, namun sebagai […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, kontaminasi paracetamol di Perairan Jakarta perlu kajian lanjutan. Kontaminasi ini belum masuk kategori pencemaran air permukaan dan laut, namun sebagai polutan yang baru Indonesia pelajari (emerging pollutant).

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, paracetamol tidak termasuk sebagai perhitungan pencemaran air di Jakarta. Hal itu karena paracetamol masuk ke dalam emerging pollutant.

“Paracetamol itu bukan, belum atau tidak menjadi baku mutu atau standar untuk pencemaran air, baik pencemaran air laut maupun pencemaran air permukaan. Sebab paracetamol dan sejenisnya ini disebut sebagai pencemaran yang sifatnya emerging pollutant,” kata Vivien pada media briefing virtual di Jakarta, Selasa (5/10).

Menanggapi hasil riset tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang pencemaran limbah paracetamol di Perairan Jakarta itu, Vivien berpendapat, paracetamol memiliki konsentrasi yang sangat kecil dan belum terdapat baku mutu yang terkait.

WHO Belum Mendeteksi

World Health Organization (WHO) juga belum mendeteksi paracetamol sebagai salah satu unsur pencemar lingkungan. Sehingga, paracetamol itu memiliki kemungkinan yang kecil untuk mengganggu kesehatan. Tetapi lanjutnya, KLHK tetap memantau emerging pollutant ini dengan penelitian dan analisis lebih lanjut.

“Kita memiliki perhatian terhadap isu kontaminan of emerging concern ini. Kita memiliki kemampuan peneliti dengan menggunakan peralatan advanced analytics teknik untuk mendeteksi bahan kimia yang konsentrasinya sangat kecil,” ucapnya.

Sebelumnya, BRIN menemukan konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta yang relatif tinggi (420-610 ng/L). Penelitian tersebut terkonsentrasi pada lima titik perairan di Pantai Eretan dan Teluk Jakarta, yaitu Muara Angke, Ancol, Tanjung Priok, dan Cilincing. Dari lima titik, dua titik terdeteksi terkontaminasi paracetamol, yaitu Muara Angke dan Ancol.

Peneliti BRIN Zainal Arifin mengungkapkan, penelitiannya pada kerang selama 24 hari. Hasilnya, kandungan paracetamol dapat menyebabkan kerusakan sistem reproduksi pada kerang.

Namun, Zainal menambahkan, hasil tersebut berdasarkan penelitian di laboratorium dan belum terdapat data pasti apabila paparan pada kerang terjadi langsung di alam.

Pencemaran paracetamol

Perlu kajian lanjutan untuk memastikan cemaran paracetamol di perairan Jakarta. Foto: Shutterstock

Penelitian Lanjutan Polutan 

Pencemaran paracetamol di Jakarta butuh kajian mendalam untuk agar melahirkan penanganan tepat. Apalagi transisi emerging pollutant menjadi bahan mutu lingkungan membutuhkan beberapa tahapan dan penelitian lanjutan.

“Untuk emerging pollutant dan kemudian menjadi bahan mutu lingkungan itu biasanya harus ada data series, pemantauan series sehingga kita menemukan polanya, dari situ kita bisa menentukan baku mutu lingkungannya,” tutur Vivien.

Sependapat dengan itu, Peneliti Institut Pertanian Bogor Etty Riani menilai, kadar paracetamol yang di Teluk Jakarta masih terhitung kecil. Selain itu, paracetamol juga memiliki waktu paruh atau turunnya kadar obat relatif pendek. Hal ini memungkinkan tubuh memetabolisme paracetamol sebanyak 95 % dan sekitar 5 % akan luruh ke lingkungan.

“Karena memang waktu paruhnya pendek dan jumlahnya juga sedikit, sehingga akumulasinya pun juga kemungkinan potensinya akan sangat sedikit,” imbuh Etty.

Terkait penyebab ekosistem perairan terkontaminasi, menurut Etty pembuangan obat kedaluwarsa sembarangan menjadi salah satu penyebabnya. Untuk mencegah pencemaran secara terus-menerus, ia menilai sosialisasi penanganan pembuangan obat pada masyarakat perlu penguatan agar tidak menimbulkan gangguan ke lingkungan.

“Jangan abai, kita sebaiknya melakukan sosialisasi secara kontinu bahwa obat ini adalah racun yang nanti bisa menjadi emerging pollutant. Barangkali yang perlu lagi adalah kita harus membatasi peredaran paracetamol,” ucapnya.

Kolaborasi Perbaiki Kualitas Perairan

Dalam kesempatan itu, Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro mengungkapkan, tantangan penanganan pencemaran air di Teluk Jakarta. Ia menyebut, Teluk Jakarta merupakan muara dari 13 sungai. Melihat dari segi daya dukung dan daya tampung memang sebagian besar dari Jakarta, yang juga dapat pengaruh oleh daerah di sekitarnya.

“Upaya paling efisien untuk penanganannya sejak dari sumbernya. Jadi masing-masing daerah melakukan identifikasi sumber pencemarnya. Jadi kunci utamanya yaitu kolaborasi untuk perbaikan kualitas air laut di Jakarta khususnya,” kata Sigit.

Sebagai tindakan lanjutan, KLHK dan BRIN akan membentuk working group pengelolaan contaminants of emerging concern, bekerja sama dengan kementerian terkait dan perguruan tinggi. KLHK juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk sosialisasi ke masyarakat tentang penggunaan obat-obatan terutama obat yang tersedia bebas di pasaran.

Penulis : Zahra Shafira

]]>
https://www.greeners.co/berita/klhk-kontaminasi-paracetamol-masih-kategori-emerging-pollutant/feed/ 0
Riset: Membiarkan Ikan Besar di Laut Bantu Kurangi CO2 https://www.greeners.co/flora-fauna/riset-membiarkan-ikan-besar-di-laut-bantu-kurangi-co2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=riset-membiarkan-ikan-besar-di-laut-bantu-kurangi-co2 https://www.greeners.co/flora-fauna/riset-membiarkan-ikan-besar-di-laut-bantu-kurangi-co2/#respond Sat, 14 Nov 2020 00:00:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=29940 Penelitian menemukan meninggalkan lebih banyak ikan besar di laut mengurangi jumlah karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Ketika seekor ikan mati di lautan, dia tenggelam ke kedalaman lautan dan menyerap semua karbon yang mereka kandung. Inilah bentuk ‘karbon biru’. Karbon biru yakni karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir dunia.]]>

Mungkin kita sudah sering mendengar tentang betapa berbahayanya overfishing, memancing ikan berlebihan. Tidak hanya menghindari memancing berlebihan, temuan terbaru juga menunjukkan nelayan maupun pengusaha perikanan baiknya selektif menangkap ikan. Penelitian menemukan meninggalkan lebih banyak ikan besar di laut mengurangi jumlah karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Ketika seekor ikan mati di lautan, dia tenggelam ke kedalaman lautan dan menyerap semua karbon yang mereka kandung. Inilah bentuk ‘karbon biru’. Karbon biru yakni karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir dunia.

“Tapi ketika nelayan menangkap ikan, ikan mengeluarkan karbon yang mereka kandung. Sebagian lepas ke atmosfer sebagai CO2 beberapa hari atau minggu setelahnya,” kata salah satu peneliti, Gaël Mariani.

Tak hanya karbon yang lepas ketika nelayan menangkap ikan, kapal penangkap ikan juga menghasilkan gas rumah kaca dengan mengonsumsi bahan bakar.

“Sekarang kita tahu bahwa mengekstraksi ikan melepaskan CO2 tambahan, yang jika tidak ada pendaratan, CO2 itu akan tetap tertahan di laut,” tutur David Mouillot selaku peneliti lainnya.

Mouillot menjelaskan, ikan besar seperti tuna, hiu, dan mackerel mengandung sekitar 10 hingga 15 persen karbon dalam tubuhnya. Saat mereka mati, mereka tenggelam dengan cepat. Hal ini mengakibatkan sebagian besar karbon yang ada dalam tubuh mereka tersimpan di dasar laut selama ribuan atau bahkan jutaan tahun. Ikan-ikan besar ini merupakan salah satu penyerap karbon yang skala penyerapannya tidak terperkirakan sebelumnya.

Baca juga: Paus Pilot, Si Ahli Navigasi yang Setia Kawan

Ikan Laut dan Fenomena Blue Carbon Pump 

Selain itu, Mouillot juga mengatakan bahwa fenomena ‘blue carbon pump’ ini semakin terganggu oleh industri perikanan. Para peneliti lainnya juga mengungkapkan bahwa fenomena ini tak hanya terabaikan sampai sekarang, namun juga terjadi di daerah di mana penangkapan ikan tidak menguntungkan secara ekonomi, contohnya di Pacific Tengah, Atlantic Selatan, dan Utara Samudra Hindia.

“Penghancuran fenomena pompa karbon biru yang terwakilkan oleh ikan besar ini membutuhkan tindakan perlindungan dan pengelolaan baru. Hal ini bertujuan lebih banyak ikan besar dapat tetap menjadi penyerap karbon dan tidak lagi menjadi sumber CO2 tambahan,” tutur Mariani.

Penelitian ini merupakan penelitian pertama di dunia yang menunjukkan bagaimana perikanan laut telah melepaskan setidaknya 730 juta metrik ton CO2 ke atmosfer sejak 1950. Pada 2004, peneliti memperkirakan 20,4 juta metrik ton CO2 lepas dari sektor perikanan. Jumlah ini setara dengan emisi tahunan 4,5 juta mobil.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/riset-membiarkan-ikan-besar-di-laut-bantu-kurangi-co2/feed/ 0
Bebuyutan Hiu ini Punya Moncong Bergerigi, Si Pari Gergaji https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-gergaji/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pari-gergaji https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-gergaji/#respond Fri, 06 Nov 2020 00:00:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=29799 Pari gergaji hidup di laut, payau dan air tawar di seluruh daerah tropis dan subtropis. Mereka mengonsumsi moluska, krustasea dan ikan.]]>

Perairan laut Indonesia terkenal dengan kekayaan biodiversitasnya. Salah satu biota yang terkenal dengan diversitas jenis dan nilai ekonomi yang tinggi adalah ikan pari. Berdasarkan teori evolusi, ikan pari adalah cabang dari ikan hiu yang telah beradaptasi dengan kehidupan di dasar laut.

Mengacu tulisan ilmiah Nurdin Manik dari UPT Loka Konservasi Biota Laut Bitung, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, dalam jurnal Oseana (2003), tekanan air di dasar laut merupakan faktor utama yang merangsang dan mengarahkan arus revolusi ikan pari. Bergesernya celah insang ke sisi bawah tubuh tidak hanya memungkinkannya untuk lepas landas dengan “daya dorong semburan”, melainkan juga memungkinkan sirip dada ikan pari terbentang di sekitar kepala. Terciptalah ikan pari zaman modern dengan sirip dada mirip sayap.

Umumnya ikan pari senang tinggal di perairan pantai berpasir, lumpur, laguna, teluk, reef flat (rataan terumbu karang), dan muara sungai. Uniknya, tubuhnya yang sangat pipih dan sirip dadanya yang besar memungkinkan ikan pari hidup di dasar air. Ketika berada di dasar air, dia diam tak bergerak. Dia pun dapat menjelajah hingga dekat permukaan air.

Secara geografis, habitat ikan pari yaitu di seluruh perairan tropis, subtropis, dan daerah iklim sedang. Famili Dasyatidae merupakan salah satu famili pari yang memiliki kelimpahan tertinggi sering berada di daerah perairan dekat pantai di sub tropis dan tropis di dunia bersama dengan famili ikan bertulang rawan lainnya.

Baca juga: Binahong, Khasiatnya Beken dari Korea Sampai Hawaii

Pari Gergaji Masuk dalam Daftar Hewan Dilindungi

Dari begitu banyak ragam jenis pari, pari gergaji memiliki bentuk fisik yang unik. Sutarno dkk., (2017) dalam jurnal Biodiversitas yang berjudul “Sequence variation among populations of sawfishes (Pristiformes: Pristidae) from Indonesia and Australia”, menjelaskan di perairan Asia Tenggara tercatat lima spesies ikan gergaji antara lain Pristis pristis (P. microdon), Pristis clavata, Pristis zijsron, Pristis pectinata, dan Anoxypristis cuspidate. Pari gergaji merupakan ikan bertulang rawan pipih dengan moncong sangat panjang. Dia memiliki 16 sampai 32 buah gigi pada setiap sisinya yang kemungkinan dia gunakan untuk berburu dan pertahanan.

Satwa ini hidup di laut, payau, dan air tawar di seluruh daerah tropis dan subtropis. Mereka mengonsumsi moluska, krustasea, dan ikan. Bersumber dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, tubuh pari gergaji agak mirip ikan hiu. Lebih jauh, spesies ini masuk dalam daftar perlindungan nasional sejak 1999 melalui Peraturan Pemerintah No. 7 1999 yang sekarang menjadi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 2018. Berdasarkan Permen LHK No. P.106 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, semua jenis ikan pari gergaji ditetapkan dalam status perlindungan penuh.

Tidak hanya dalam skala nasional, pada skala internasional Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) telah menetapkan semua jenis ikan pari gergaji memiliki status Appendix I. Masuknya pari gergaji dalam kategori hewab langka, berarti masyarakat wajib melindungi. Selain itu, satwa ini juga tidak boleh masuk dalam perdagangan internasional. Selain penyulundupan, fauna laut ini menghadapi sejumlah ancaman lain. Di antaranya tingginya eksploitasi sumberdaya perikanan, alat tangkap tidak ramah lingkungan, degradasi lingkungan habitat, serta berkurangannya mangsa.

Taksonomi Pari Gergaji

Bebuyutan Hiu ini Punya Moncong Bergerigi, Si Pari Gergaji

Penulis: Sarah R. Megumi

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pari-gergaji/feed/ 0
KKP Tetapkan Prioritas Konservasi bagi Biota Laut yang Terancam Punah https://www.greeners.co/berita/kkp-tetapkan-prioritas-konservasi-bagi-biota-laut-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-tetapkan-prioritas-konservasi-bagi-biota-laut-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/berita/kkp-tetapkan-prioritas-konservasi-bagi-biota-laut-yang-terancam-punah/#respond Thu, 16 Jul 2020 09:01:59 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=27884 Peta jalan ini akan menjadi panduan bagi KKP dan para pegiat konservasi untuk menetapkan prioritas perlindungan terhadap biota laut.]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat peta jalan pengelolaan jenis ikan yang dilindungi dan terancam punah. Peta jalan ini akan menjadi panduan bagi KKP dan para pegiat konservasi untuk menetapkan prioritas perlindungan terhadap biota laut dalam lima tahun ke depan.

Sebanyak 20 spesies yang akan menjadi target prioritas di antaranya hiu, pari, hiu paus, pari perlindungan penuh (manta, pari gergaji, pari air tawar), penyu, karang keras, napoleon, sidat, duyung, Cetacea (paus dan lumba-lumba), teripang, hiu berjalan, kima dan lol, Banggai cardinalfish (BCF), arwana, biota endemis danau purba, kuda laut, bambu laut, dan akar bahar, terubuk, dan belida.

Baca juga: Kecoak Laut Raksasa Pertama Ditemukan di Laut Dalam Indonesia

“Secara khusus peta jalan akan fokus pada tiga aspek penting yaitu, merumuskan permasalahan jenis ikan terancam punah, menentukan 20 jenis biota perairan yang perlu diprioritaskan konservasinya, dan menentukan strategi pengelolaannya,” ucap Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Aryo Hanggono, di Jakarta, (14/7/2020).

Ia mengatakan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dari pemerintah pusat, daerah, masyarakat, pegiat lingkungan, swasta, peneliti, dan akademisi. Tujuannya untuk mengawal implementasi Peta Jalan Konservasi Jenis Ikan Terancam Punah 2020-2024 sehingga sasaran yang telah ditargetkan dapat dicapai.

Biota Laut

Daftar Biota Laut dengan status terancam dan sangat terancam punah. Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Sementara Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Andi Rusandi mengatakan lembaganya melakukan kajian terhadap status biota perairan yang terancam punah untuk prioritas perlindungan. Analisis itu merupakan kerja sama antara Direktorat KKHL bersama Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Kelompok Kerja Perlindungan Biota Perairan Terancam Punah Prioritas pada akhir 2019.

LIPI merekomendasikan sebanyak 308 spesies dari 7 taksa pisces, coral, mimi atau xiphosura, krustase, reptile, amfibi, teripang, dan moluska, sebagai spesies biota perairan prioritas perlindungan. Sementara 20 jenis ikan utama akan dikelola selama lima tahun ke depan. “Tidak mungkin dilakukan semuanya karena sulit mempertimbangkan kebutuhan pengelolaan, skala prioritas, isu yang paling krusial, termasuk indikator dan capaian. Jadi dilakukan bertahap,” ujar Andi.

Baca juga: KIARA: Reklamasi Ancol Bukan untuk Mencegah Banjir

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Atit Kanti mengatakan kepunahan spesies akuatik disebabkan oleh berbagai macam faktor. Misalnya perubahan iklim, ekosistem, komunitas ekologi, biomassa, dan situasi yang tidak terkendali. Ledakan populasi yang begitu cepat di dunia membuat pangan dan sumber laut menjadi sumber eksploitasi secara besar-besaran. Menurutnya semua faktor tersebut akan memengaruhi secara tidak langsung seluruh individu yang hidup di perairan indonesia

“Persentase perubahan alam tersebut berpengaruh terhadap kepunahan spesies perairan. Kerusakan ekosistem mulai terjadi di Papua, keanekaragaman genetik mulai hilang. Di Sumatera ada pembalakan liar, di Jawa laju perubahan lahan terjadi karena padatnya populasi,” ujarnya.

Atit menuturkan berdasarkan data IUCN Red List 2019, sebanyak 167 jenis ikan di dunia atau sekitar 13,07 persen terancam punah. Sementara 3,49 persen di antaranya berada di Indonesia. “Jika dibandingkan dengan mamalia lain, jenis ikan tertentu mengalami hilang lumayan besar,” ucapnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/kkp-tetapkan-prioritas-konservasi-bagi-biota-laut-yang-terancam-punah/feed/ 0
Mikroplastik Mengontaminasi Habitat Biota Laut https://www.greeners.co/berita/mikroplastik-mengontaminasi-habitat-biota-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mikroplastik-mengontaminasi-habitat-biota-laut https://www.greeners.co/berita/mikroplastik-mengontaminasi-habitat-biota-laut/#respond Wed, 05 Feb 2020 03:15:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=26029 LIPI menyebut bahwa mikroplastik ditemukan di dasar ekosistem pantai di Teluk Banten dan dasar samudera di kedalaman 500 meter, pantai barat Pulau Sumatera.]]>

Jakarta (Greeners) – Dampak pencemaran plastik terhadap keanekaragaman hayati di perairan semakin tinggi. Terganggunya keseimbangan ekologi akibat kontaminasi plastik membuat biota laut kian punah. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut bahwa mikroplastik ditemukan di dasar ekosistem pantai. Temuan tersebut berada di Teluk Banten dan dasar samudera di kedalaman 500 meter, pantai barat Pulau Sumatera.

Peneliti Biologi Kelautan LIPI Zainal Arifin mengatakan rata-rata sampah yang masuk ke Teluk Jakarta sebanyak 16 hingga 30 ton per hari. Persentasenya mencapai 6 sampai 10,5 ton untuk sampah plastik. Sementara mikroplastik yang mengendap di Teluk Banten, kata Zainal, rata-rata 267 potongan per kilogram dengan mayoritas sampah styrofoam dan polistirena.

“Lalu juga ditemukan pada tahun 2015 mikroplastik di Samudera Hindia. Sangat jauh dari daratan. Namun ditemukan kontaminasi tinggi mikroplastik di kedalaman 500 meter dengan 17 potongan per sentimeter kubik berupa butiran kecil dan serat yang biasanya berasal dari industri,” ujar Zainal, di Jakarta, Kamis lalu.

Baca juga: Ancaman Mikroplastik Dari 600 Ribu Ton Sampah Tiap Tahun Ke Laut

Hasil ekspedisi perairan bawah laut Ahli Biologi Kelautan dan Aktivis Lingkungan Hidup UNSEEN, Alexis Chappui mencatat, plastik berdampak terhadap ekosistem karang mesofotik. Atau habitat yang umumnya ditemukan pada kedalaman 40 sampai 150 meter.

“Kami mendokumentasikan misi lapangan dengan foto dan video. Melalui dokumentasi tersebut kami sebarkan informasi bahwa dampak polusi telah menjangkau lingkungan dasar laut,” ucap Alexis.

Menurut Alexis, rata-rata 8 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun di seluruh dunia. Jutaan hewan laut secara langsung dibunuh oleh puing-puing plastik termasuk jaring dari serat plastik yang tenggelam dan membusuk. Partikel plastik mikro dan nano hasil dari degradasi limbah plastik makro juga mengancam kehidupan biota jangka panjang.

Mikroplastik

Anton Wijonarno, Marine Protected Area Manager WWF Indonesia, Alexis Chappui, Ahli Biologi Laut, Penyelam, dan Aktivis Lingkungan, Zainal Arifin, Peneliti Polusi Laut LIPI, Dr. I Gede Hendrawan Peneliti Oseanografi Universitas Udayana, di Jakarta, Kamis, 30 Januari 2020. Foto: Institut Francais Indonesia (IFI).

“Mikroplastik dan nanoplastik ini mengikat polutan organik sebelum akhirnya tertelan oleh zooplankton. Bahkan masuk ke tingkat sel dan terakumulasi. Polutan juga berasal dari limbah pertanian, akuakultur, tabir surya, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Ikan Terkontaminasi Mikroplastik

 Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia, IPTEK, dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin tidak menampik bahwa kebocoran sampah ke laut sudah sangat besar hingga mengakibatkan kerusakan biota laut.

Menurutnya, hal ini terjadi karena tingginya populasi berbanding lurus dengan tingkat pencemaran khususnya sampah di suatu wilayah. Sebanyak 13,16 persen komposisi sampah kota di Indonesia adalah plastik dan juga berdasarkan pada variabel ekonomi maupun sosial. Kota dengan Produk Domestik Bruto dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan diperkirakan memiliki peningkatan terhadap penggunaan plastik dan kertas. Secara keseluruhan, 10 persen sampah plastik akhirnya tumpah ke badan air.

Safri menuturkan dari data Bank Dunia 2017, dengan jumlah populasi 150 juta orang dapat meningkatkan 38 juta ton sampah per tahun. Sebanyak 80 persen dari sampah tersebut mengalami kebocoran. Sampah plastik berasal dari daratan, masing-masing 17 ton juta sampah per tahun tidak terorganisir. Sementara 45 persen limbah dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada akhirnya terdapat 1,29 juta ton matriks per tahun kebocoran sampah plastik ke lautan. “Setidaknya 80 persen ikan kecil di Indonesia sudah terkontaminasi mikroplastik,” ujar Safri.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/mikroplastik-mengontaminasi-habitat-biota-laut/feed/ 0
Ubur-Ubur, Ada yang Mematikan Ada yang Berevolusi https://www.greeners.co/flora-fauna/ubur-ubur-ada-yang-mematikan-ada-yang-berevolusi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ubur-ubur-ada-yang-mematikan-ada-yang-berevolusi https://www.greeners.co/flora-fauna/ubur-ubur-ada-yang-mematikan-ada-yang-berevolusi/#respond Wed, 10 Apr 2019 08:45:47 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23050 Tubuh ubur-ubur lunak seperti gelatin, transparan, dan mengandung banyak air. Bentuk tubuhnya yang unik ini menjadikan ubur-ubur berbeda dari jenis koelenterata lainnya.]]>

Tubuh satwa laut satu ini memang unik karena transparan. Ya, satwa laut yang dimaksud adalah ubur-ubur. Sayangnya kini satwa predator kerap mengira sampah plastik sebagai ubur-ubur dan memakannya.

Ubur-ubur tergolong pada hewan kelas Scyphozoa dan merupakan koelenterata (hewan berongga) yang hidup di laut. Nama scyphozoa berasal dari kata “Skyphos” (bahasa Gerika) yang artinya cawan atau mangkok. Ubur-ubur memiliki banyak sekali jenis dari ordo dan famili yang berbeda-beda. Dalam penamaan bahasa Inggris hewan ini disebut jellyfish karena bentuknya mirip agar-agar. Meski demikian perlu diingat bahwa ubur-ubur bukan sejenis ikan.

Tubuh ubur-ubur lunak seperti gelatin, transparan, dan mengandung banyak air. Sebagian besar tubuhnya tersusun dari zat yang menyerupai lendir. Bentuk tubuhnya yang unik ini menjadikan ubur-ubur berbeda dari jenis koelenterata lainnya.

Secara morfologi tubuh ubur-ubur menyerupai payung atau lonceng, dengan sisi cembung di bagian atas (aboral) dan mulut terdapat di tengah sisi cekung yang berada di bagian bawah. Sebagian besar ubur-ubur jenis Scyphozoa mempunyai diameter lonceng antara 2-40 sentimeter, beberapa spesies bahkan lebih lebar. Seperti pada jenis ubur-ubur Cyanea capillata, diameter lonceng ubur-ubur jenis ini mencapai lebih dari dua meter dengan panjang tentakel lebih dari 36 meter.

Bagian tepi lonceng pada ubur-ubur biasa dilengkapi dengan tentakel dan organ indera, biasanya berjumlah empat atau kelipatannya. Di dalam tubuhnya terdapat rongga yang bernama gastrovascular. Rongga ini merupakan rongga luas yang berfungsi baik sebagai alat pencernaan maupun peredaran cairan tubuh. Rongga ini hanya mempunyai satu bukaan yang berfungsi baik sebagai mulut maupun pembuangan sisa pencernaan.

Ubur-ubur hidupnya soliter atau berkelompok, berenang bebas dengan bantuan kontraksi payungnya yang bekerja seperti pompa, beraturan dan berirama. Beberapa jenis juga tergantung dari arus dan ombak, bila keadaan ombak cukup besar mereka cenderung bergerak ke pantai. Umumnya mereka berenang lebih lama pada siang hari.

Ubur-ubur termasuk hewan karnivora, mereka mengonsumsi invertebrata kecil dalam ukuran tertentu, telur, larva, dan yang paling digemari adalah ikan-ikan kecil. Mangsa tersebut ditangkap dengan bantuan tentakel yang mengandung nematosis (penyengat), kemudian dibawa ke mulut dan siap untuk ditelan. Di dalam mulut, makanan tadi akan melalui benang-benang gastrik dan septa yang mengeluarkan enzim yaitu semacam larutan asam yang akan melarutkan protein dan kitin.

ubur-ubur totol

Sama dengan ubur-ubur yang ada di Danau Kakaban, sengat ubur-ubur totol (Mastigias papua) telah berevolusi sehingga sengatnya tidak efektif menyengat mangsa. Foto: wikimedia commons

Bagi beberapa orang ubur-ubur dikenal sebagai binatang pengganggu di perairan dekat pantai terutama pada tempat-tempat rekreasi. Sengatan ubur-ubur dapat menyebabkan rasa terbakar, sesak napas, bahkan kematian bila tidak mendapat penanganan yang tepat.

Ubur-ubur menyengat melalui tentakel yang berbentuk seperti sulur. Tentakel yang dimiliki ubur-ubur mengandung sel-sel penyengat atau nematosis. Sel penyengat jika mengenai tubuh manusia akan mengeluarkan racun. Racun kemudian menyebar melalui pembuluh darah, menuju paru-paru dan menyebabkan kerusakan jaringan.

Ubur-ubur yang dikenal memiliki sengatan yang mematikan dan berbahaya berasal dari ordo Cubomedusae atau dinamakan sea wasps. Jenis ini ditemukan di perairan Australia. Bersinggungan dengan tentakel sea wasps dapat menyebabkan kerja jantung terhenti yang berujung pada kematian dalam waktu tiga menit atau kurang.

Akan tetapi di Indonesia juga terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat, tepatnya di Danau Kakaban yang terletak di Pulau Kakaban, gugus Kepulauan Derawan di Provinsi Kalimantan Timur. Danau Kakaban telah dimasukkan sebagai salah satu daerah Kawasan Konservasi Laut di Kabupaten Berau dan diusulkan sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site). Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, danau ini memiliki ubur-ubur yang yang populasinya sangat mencolok, sampai-sampai danau ini pun populer disebut sebagai danau ubur-ubur.

Danau Kakaban memiliki setidaknya empat jenis ubur-ubur antara lain ubur-ubur bulan Aurelia aurita (5-50 cm), ubur-ubur totol Mastigias papua (1-20 cm), ubur-ubur kotak Tripedalia cystophora (7-10 mm) dan ubur-ubur terbalik Cassiopea ornata (15-20 cm).

Alasan mengapa rata-rata jenis ubur-ubur di Danau Kakaban tidak menyengat adalah bukan dikarenakan morfologinya, melainkan karena satwa ini mengalami evolusi sehingga karakter fisiknya berbeda dengan saudaranya yang hidup di laut.

Berdasarkan kajian ilmiah yang dikutip dari oseanografi.lipi.go.id, kurangnya predator menyebabkan kelenjar sengat pada ubur-ubur ini mengalami reduksi sehingga berukuran sangat kecil dan tidak efektif lagi sebagai senjata penyengat mangsa.

Meskipun banyak orang awam menyebutkan satwa ini berbahaya, ubur-ubur merupakan salah satu sumber daya laut yang dapat diekspor dan dapat menambah penghasilan kaum nelayan. Dibeberapa negara di Asia Tenggara, Jepang, Hongkong dan Korea, ubur-ubur telah dikenal sebagai salah satu bahan makanan bergizi karena mengandung kadar protein yang cukup tinggi.

ubur-ubur totol

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/ubur-ubur-ada-yang-mematikan-ada-yang-berevolusi/feed/ 0
Kima, Kerang Berukuran Gigantis https://www.greeners.co/flora-fauna/kima-kerang-berukuran-gigantis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kima-kerang-berukuran-gigantis https://www.greeners.co/flora-fauna/kima-kerang-berukuran-gigantis/#respond Fri, 23 Nov 2018 07:08:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=21789 Kima atau giant clams merupakan salah satu jenis bivalvia yang dapat ditemukan pada perairan ekosistem karang. Satwa laut yang dilindungi ini panjang cangkangnya bisa mencapai 1,5 m dengan berat badan lebih dari 300 kg.]]>

Pada bulan April 2018 lalu publik sempat dihebohkan oleh tayangan di televisi nasional bergenre petualangan. Dalam acara tersebut dua orang host memasak dan menyantap kerang spesies kima (giant clams). Disebut giant clams atau kerang raksasa dikarenakan ukuran cangkangnya sangat besar dan berat.

Kima menjadi salah satu hewan laut yang dilindungi di Indonesia. Dilansir pada laman bpsplpadang.kkp.go.id, hewan bercangkang ini telah dilindungi sejak tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan dan Jenis Tumbuhan dan Satwa menetapkan tujuh jenis kima yang hidup di Indonesia ke dalam kategori satwa dilindungi.

Ketujuh kima yang dilindungi tersebut yaitu kima tapak kuda/kuku beruang (Hippopus hippopus), kima Cina (Hippopus porcellanus), kima kunia (Tridacna crocea), kima selatan (Tridacna derasa), kima raksasa (Tridacna gigas), kima kecil (Tridacna maxima), dan kima sisik/seruling (Tridacna squamosa). Peraturan tersebut ditetapkan karena populasi kima di alam sudah sangat menurun disebabkan tingginya pemanfaatan kima (over exploitation) pada tahun-tahun sebelumnya.

Kima merupakan salah satu jenis bivalvia (kerang-kerangan) yang sering ditemukan pada perairan ekosistem karang. Tubuhnya lunak dan dilindungi sepasang cangkang bertangkup. Cangkang kima terdiri dari 2 tangkup simetris yang terbuat dari zat kapur atau kalsium karbonat (CaCO3) dan umumnya berwarna putih kekuningan. Kima dapat tumbuh menjadi sangat besar di lingkungan terumbu karang.

Di antara tujuh jenis kima yang tersebar di perairan terumbu karang Indo Pasifik, Tridacna gigas merupakan jenis terbesar yang dapat mencapai panjang cangkang sampai 1,5 m dengan berat badan lebih dari 300 kg (Panggabean, 1990). Menariknya, kima merupakan ciri khas kerang-kerangan terumbu karang yang sudah berevolusi dan hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan terumbu karang yang tidak subur dan miskin akan nutrien dan fitoplankton.

kerang kima

Morfologi dari setiap jenis kima ditentuan oleh bentuk bagian luar cangkangnya. Foto: wikimedia commons

Morfologi dari setiap jenis kima ditentukan oleh bentuk bagian luar cangkangnya. Perbedaan bentuk cangkang ini biasanya digunakan sebagai petunjuk identifikasi kima sampai ke tingkat jenisnya. Kima mempunyai dua organ utama yaitu organ keras berupa cangkang sebagai identifikator spesies kima, dan organ lunak yang dilindungi mantel luar berwarna cemerlang (hijau, biru, ungu, dan kuning).

Organ bagian dalam kerang kima dilapisi oleh mantel yang relatif tebal. Bagian permukaan mantel terdapat dua lubang yang berperan sebagai tempat keluar dan masuknya air. Lubang yang berfungsi sebagai alat masuknya air disebut inhalant siphon atau incurrent siphon, bagian ini terletak dekat posterior (belakang tubuh) dan bentuknya agak memanjang. Sedangkan lubang yang berfungsi sebagai alat keluarnya air disebut exhalant siphon atau excurrent siphon, terletak di bagian dorsal (punggung) dan bentuknya bulat.

Kima bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran yang berlapis-lapis.  Alat geraknya berupa kaki perut yang termodifikasi, fungsinya untuk menggali pasir atau dasar perairan.  Hewan laut ini mempunyai kaki otot berbentuk seperti lidah, mulut dengan palps (lembaran berbentuk seperti bibir), tidak memiliki radula (gigi), insang dilengkapi dengan silis untuk filter feeding (makan dengan menyaring larutan). Bagian perut terdapat lubang tempat keluarnya alat perekat (byssus) yang disebut byssal orifice. Bagian punggung merupakan bagian yang membuka dan menutup jika kima disentuh oleh rangsangan.

Secara tradisional kima dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar pantai untuk bahan makanan, material bangunan, kebutuhan rumah tangga, suvenir dan biota akuarium. Walaupun biota ini dilarang untuk diambil namun pemanfaatannya masih saja berlangsung.

Berdasarkan Pedoman Monitoring Populasi Kima (Tridacna Sp.) Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2015, di beberapa wilayah bahkan hingga saat ini masih bisa ditemukan daging kima segar yang dijual di pasar tradisional dan internasional. Di luar negeri biota ini juga masih diperdagangkan dengan harga yang sangat tinggi.

kima

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kima-kerang-berukuran-gigantis/feed/ 0
Siput Gonggong, Menandingi Escargot namun Tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/#respond Fri, 16 Jun 2017 09:50:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17365 Kepopuleran siput gonggong dinilai menandingi ‘escargot’, hidangan keong dari Perancis. Namun nilai ekonomisnya yang tinggi dan kegiatan penambangan timah di laut membuat populasi dan habitat siput gonggong terancam.]]>

Pemanfaatan sumberdaya kerang-kerangan oleh masyarakat yang hidup di sekitar wilayah pesisir selama ini tidak dibarengi dengan upaya-upaya pelestarian, sehingga lambat-laun mulai terasa ada efek dan tekanan terhadap populasi biota kerang-kerangan di alam.

Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day yang dirayakan setiap tanggal 8 Juni bertujuan untuk mengingatkan seluruh orang di dunia tentang peranan penting laut dan keanekaragaman hayati yang terkandung didalamnya bagi kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah kerang-kerangan, biota laut yang memiliki komponen penting dalam ekosistemnya.

Familiar kah Anda dengan fauna siput? Ternyata jenis fauna siput tidak hanya hidup di darat, namun fauna ini juga hidup di wilayah perairan dan pesisir laut. Dikenal dengan nama “Siput gonggong”, biota laut ini termasuk kedalam jenis kerang-kerangan (moluska) yang dijumpai di perairan Indonesia, khususnya banyak ditemukan di Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan wilayah Indonesia Timur.

Kekhasan tersebut menjadikan siput gonggong sebagai ikon Kepulauan Bangka Belitung. Kepopulerannya terletak pada dagingnya yang menandingi ketenaran ‘escargot’, hidangan keong dari Perancis. Kelezatan rasa serta kaya akan kandungan protein yang tinggi pada daging siput gonggong, menjadikan biota ini sebuah peluang pasar pada bidang kuliner.

Biota ini sering diburu untuk diambil dagingnya. Daging siput gonggong dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun diolah menjadi keripik. Ditambah lagi, beberapa restoran di wilayah Batam dan Tanjungpinang, Riau menyajikan siput gonggong rebus sebagai menu utama.

siput gonggong

Bentuk cangkang siput gonggong (famili Strombidae) memiliki karakteristik menyerupai gasing dan tutup cangkang berbentuk sabit. Foto: commons.wikimedia.org

Dr. Ir. Safar Dody,M.Si, merupakan seorang Periset/Peneliti Ahli dari di Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), LIPI yang meneliti siput gonggong. Penelitian beliau mengenai siput gonggong telah banyak di publikasi dalam bentuk artikel dan jurnal ilmiah. Dalam penelitiannya menjelaskan bahwa siput gonggong yang memiliki nilai ekonomis tinggi sering dieksploitasi oleh masyarakat pesisir sebagai sumber protein alternatif dari laut.

Selain itu, kegiatan penambangan timah di laut yang berpotensi merusak lingkungan sekitar semakin menambah tekanan terhadap populasi biota yang ada. Karena semakin intensifnya biota ini dieksploitasi, populasinya di alam pun semakin terancam.

Pada karakteristik dan morfologinya, biota ini merupakan gastropoda laut famili Strombidae. Ada 3 jenis siput dari famili Strombidae yang disemati nama siput gonggong antara lain Strombus turturella, Strombus canarium, dan Strombus luhuanus.

Habibat ketiga jenis biota laut ini serupa, yaitu umumnya mendiami daerah pasir berlumpur berkedalaman 3 – 4 meter yang banyak ditumbuhi tumbuhan bentik seperti lamun/rumput laut/makro algae sebagai sumber pakan. Untuk jenis Strombus turturella dan Strombus canarium, banyak ditemukan di bagian barat wilayah Indonesia terutama di perairan Kepulauan Riau dan Bangka Belitung. Sedangkan untuk Strombus luhuanus berlimpah di wilayah perairan Indonesia bagian timur.

Pada tingkat individu dewasa cangkangnya berwarna coklat kekuningan atau emas dan abu-abu. Siput gonggong memiliki karakteristik yaitu cangkang menyerupai gasing dan tutup cangkang berbentuk sabit, panjang maksimum cangkang dapat mencapai 100 mm, tetapi umumnya berukuran 65 mm. Permukaan luar cangkang mulus. Pada bagian tubuh menegak berbentuk kerucut, berkerut dan halus.

Siput gongong memiliki kelamin terpisah. Menurut Davis (2005) dalam Dody (2012), fauna ini memiliki kelamin terpisah dan akan mengalami kematangan seksual setelah tepi luar cangkangnya (lip) berkembang secara penuh.

Untuk mencegah terjadinya degradasi habitat dan menurunnya populasi siput gonggong maka berdasarkan kajian penelitian Dody (2012) diperlukan upaya restorasi dan pembentukan daerah perlindungan laut (DPL) yang dikelola oleh masyarakat.

siput gonggong

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-gonggong-menandingi-escargot-namun-tereksploitasi/feed/ 0
Kerang Mutiara, Penghasil Perhiasan dari Dasar Laut https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/#respond Tue, 09 May 2017 04:28:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16977 Kerang mutiara (Pinctada) merupakan salah satu komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi sebagai penghasil mutiara. Proses yang panjang untuk menghasilkan mutiara, membuat mutiara air laut memiliki harga yang mahal.]]>

Diamonds are a girl’s best friend…

Sepenggal lirik jazz yang terkenal ini pernah dinyanyikan oleh Marilyn Monroe. Lirik ini mengisyaratkan bahwa kaum hawa sangat menyukai perhiasan. Sebagai alat untuk menunjang penampilan, salah satu elemen perhiasan yang digemari perempuan adalah mutiara.

Kerang mutiara (Pinctada) merupakan salah satu komoditas ekspor dalam bidang budidaya laut yang bernilai ekonomis tinggi sebagai penghasil mutiara. Kerang mutiara merupakan salah satu biota laut yang hampir semua bagian dari tubuhnya mempunyai nilai jual, baik mutiara, cangkang, daging dan organisme kerang itu sendiri (benih maupun induk).

Jenis-jenis kerang mutiara yang ada di Indonesia adalah Pinctada maxima, Pinctada margaritifera, Pinctada chimnitzii, Pinctada fucata dan Pteria penguin. Dari kelima spesies tersebut yang dikenal sebagai penghasil mutiara terpenting yaitu P.maxima, P. margaritifera dan Pteria penguin.

Kerang mutiara merupakan hewan laut yang bertubuh lunak, tidak bertulang punggung dan dilindungi oleh dua belah keping cangkang yang tidak simetris, tebal dan sangat keras. Bentuk luar kerang mutiara tampak seperti batu karang yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan.

kerang mutiara

Foto: wikimedia.org

Sepasang cangkang pada mutiara memiliki bentuk yang tidak sama, dimana salah satu cangkang agak pipih sedangkan cangkang lainnya lebih cembung. Cangkang kerang mutiara memiliki ketebalan berkisar antara 1-5 mm. Kerang mutiara juga tergolong kedalam ‘filter feeder’ untuk proses makannya, dimana hanya mengandalkan makanan dengan menangkap plankton dari perairan sekitar.

Kerang membentuk mutiara atas respon pembelaan diri dari objek asing. Seperti dilansir pada laman global.liputan6.com, proses pembentukan bermula ketika pasir, parasit, atau material organik lainnya menyusup masuk dari cangkang kerang yang terbuka, dan mengenai bagian mantel, lapisan yang melindungi organ dalam kerang.

Tubuh kerang pun menganggap objek asing sebagai potensi ancaman, dan mantelnya menghasilkan lapisan yang disebut ‘nacre’ (ibu mutiara) yang menyelubungi objek asing tersebut. Zat nacre terdiri dari kalsium karbonat, dalam bentuk mineral aragonite dan calcite. Sedangkan protein conchin dan perlucin, yang membentuk zat conchiolon kurang lebih berfungsi sebagai ‘lem’ yang merekatkan lapisan-lapisan. Jika mineral aragonite memiliki sifat mirip kristal, conchiolin berpori digabungkan dengan lapisan-lapisan yang nyaris transparan, jadilah mutiara yang berkilau.

Mutiara air laut menjadi salah satu kekayaan komoditas Indonesia, seperti kesohoran mutiara air laut khas Lombok, NTB yang sudah terkenal hingga ke luar negeri. Jenis kerang yang banyak dibudidayakan di pulau ini adalah spesies Pinctada maxima atau biasa dikenal sebagai ratu mutiara.

Fase budidaya mulai dari pembenihan sampai bisa dipanen pertama kali membutuhkan waktu hingga empat tahun. Dalam satu kerang mutiara terdapat 1 atau 2 butir mutiara. Setelah panen pertama kerang mutiara air laut baru bisa dipanen dua tahun kemudian, hingga 2-3 kali dipanen. Kondisi perairan laut secara fisik dan kimia juga berpengaruh besar terhadap susunan dan kelimpahan organisme di dalam air, termasuk bagi kehidupan kerang mutiara. Proses panjang inilah yang membuat mutiara air laut memiliki harga yang mahal.

kerang mutiara

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kerang-mutiara-penghasil-perhiasan-dasar-laut/feed/ 0
Bambu Laut, Biota yang Terancam Kelangsungan Hidupnya https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-laut-biota-terancam-kelangsungan-hidupnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bambu-laut-biota-terancam-kelangsungan-hidupnya https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-laut-biota-terancam-kelangsungan-hidupnya/#respond Fri, 31 Mar 2017 05:21:19 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16507 Hasil kajian dan survei status populasi bambu laut yang dilakukan peneliti UNHAS dan BPSPL Makassar menunjukan populasi satwa laut ini sudah jarang ditemukan di perairan Sulawesi.]]>

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan Keputusan Menteri tentang moratorium bambu laut pada tahun 2014. Perlindungan terhadap satwa ini telah ditetapkan oleh pemerintah yang tercantum dalam KEPMEN-KP No. 46/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp.). Peraturan yang diambil pemerintah ini merupakan langkah nyata dalam upaya pengelolaan bambu laut beserta ekosistemnya agar tetap lestari.

Berdasarkan artikel yang dikutip pada laman kkji.kp3k.kkp.go.id, bambu laut (Isis hippuris) adalah salah satu jenis oktokoral yang hidup diperairan tropis Indo – Pasifik. Oktokoral, merupakan biota penyusun terumbu karang kedua sesudah karang batu. Bentuk pada oktokoral pada umumnya seperti pohon, muncul dari substrat/melekat di dasar perairan yang keras. Fauna ini termasuk kelompok gorgonia dengan tekstur tubuh kokoh karena disangga oleh kerangka yang keras.

Nama lokal dari fauna ini pun beragam, seperti patah tulang, sariawan dan karang bambu. Berdasarkan beberapa sumber, bambu laut memiliki berbagai macam warna seperti warna keemasan, kuning terang kehijau-hijauan atau coklat.

Pola percabangannya pun bervariasi. Secara sepintas koloni bambu laut terlihat mirip dengan koloni akar bahar Rhumpella sp., karena memiliki pertumbuhan yang seperti semak dan permukaan koloninya halus. Namun koloninya terkadang tampak melengkung dan berbentuk seperti busur atau tempat lilin.

Bambu laut terdiri dari kumpulan individu karang atau polip yang tersusun pada tangkai karang lunak berupa jaringan berdaging yang diperkuat suatu matriks dari partikel-partikel kapur mikroskopis yang disebut sklerit. Bentuk tangkai makhluk laut ini adalah bercabang, dan kebanyakan dari cabang-cabangnya sangat pendek.

Tubuhnya didominasi oleh kalsium karbonat, namun terdapat beberapa jenis yang tidak mengandung zat kapur. Teksturnya pun agak kaku dan hanya sedikit bergoyang jika terkena ombak. Koloni dari bambu laut dapat di pisah-pisahkan sesuai dengan tangkai utamanya di terumbu karang.

Umumnya bambu laut tersebar luas di perairan dangkal yang jernih. Di Great Barrier Reef, Australia, karang jenis ini biasanya terdapat pada bagian mid-shelf terumbu karang, yaitu di perairan dangkal yang aman dari aksi gelombang. Jenis ini biasanya melimpah di bagian tengah Barrier Reef, dan keberadaannya hampir tidak dijumpai pada perairan yang keruh.

Di Indonesia jenis ini mendominasi perairan Indonesia bagian timur, terutama perairan Sulawesi, Maluku dan Papua. Pemanfaatannya banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingginya permintaan pasar yang berasal dari pedagang atau pengumpul yang membeli langsung, sehingga bambu laut banyak diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat.

Bambu laut diketahui juga mengandung senyawa antivirus dan banyak dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat sebagai bahan baku farmasi. Laporan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pangkep bambu laut juga dicari untuk bahan campuran pembuatan keramik porselen.

Oleh masyarakat setempat, bambu laut diambil dengan peralatan yang sederhana, yaitu dengan linggis dan parang. Cara atau teknik pengambilan dengan mematahkan batang dan ranting bambu laut, agar dapat menyisakan koloni supaya tetap hidup. Namun tidak semua pengambilan bambu laut sebatas batang dan ranting. Adapun hampir sebagian besar pengambilan dilakukan dengan mengambil koloni bambu laut secara utuh dan merusak karang keras di bawahnya. Kegiatan eksploitasi bambu laut ini dilakukan dengan penangkapan ikan maupun khusus untuk mengambil biota ini.

Berdasarkan situs resmi kkji.kp3k.kkp.go.id, hasil kajian dan survei status populasi bambu laut yang dilakukan peneliti UNHAS dan BPSPL Makassar menunjukan bahwa populasi satwa laut ini sudah jarang ditemukan di perairan Sulawesi. Gubernur Sulawesi pun telah menindaklanjuti hasil kajian dari UNHAS dengan mengeluarkan SK Pelarangan Pemanfaatan Bambu Laut pada tahun 2009.

bambu laut

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-laut-biota-terancam-kelangsungan-hidupnya/feed/ 0
Crinoid, Lili Laut yang Serupa Bunga Lili https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/#respond Fri, 17 Mar 2017 05:49:53 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=16244 Crinoid atau sering dikenal dengan nama lili laut (Comaster sp.), memiliki bentuk menyerupai bunga lili atau pakis. Namun jangan terkecoh, lili laut bukan tanaman!]]>

Crinoid atau sering dikenal dengan nama lili laut, merupakan salah satu anggota fillum echinodermata yang memiliki bentuk menyerupai bunga lili atau pakis. Asal usul Crinoidae diambil dari bahasa Yunani, yaitu krinon yang artinya ‘lili’ dan eidos yang artinya adalah ‘bentuk’. Crinoid dapat ditemukan diseluruh perairan laut dunia, namun beberapa spesies ditemukan pada kedalaman 200 meter. Adapun jenis crinoid yang tidak bertangkai sering disebut dengan bintang bulu.

Sekilas hewan unik ini dapat mengecoh pandangan orang awam saat pertama kali melihatnya karena bentuknya yang mirip tanaman laut. Warna pada bagian tangan hewan ini beraneka ragam, seperti hijau, hitam, kuning, merah, bahkan kombinasi keduanya atau lebih warna.

Lili laut (Comaster sp.) hidup menempel pada dasar laut pada kedalaman lebih dari 100 meter, namun ada juga beberapa spesies yang hidup di perairan dangkal. Umumnya mereka sering dijumpai bertengger pada terumbu karang.

Lili laut juga dapat dijadikan indikator kesehatan suatu terumbu karang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yusri et al, lili laut memiliki kelimpahan maksimum di perairan yang masih baik, sedangkan pada perairan yang buruk lili laut tidak dapat bertahan hidup.

Beberapa dari lili laut termasuk hewan nokturnal. Mereka akan melipatkan diri dan membentuk sebuah bola lalu bersembunyi di celah-celah karang pada siang hari. Biasanya mereka akan menyatu dengan tempat persembunyiannya pada senja hari dan bertengger pada tempat yang mereka sukai, seperti di karang, spons yang besar, kipas laut (sea fan), dimanapun tempat yang dapat menjangkarkan dirinya dengan baik. Kemudian pada malam hari, mereka meluruskan tangannya yang berbulu dan keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan.

Makanan lili laut adalah plankton dan partikel melayang. Berdasarkan tulisan Dr. Azis Aznam, dkk yang dipublikasikan pada Jurnal Oseana, lili laut pada umumnya mempunyai cara dan kebiasaan makan yang sama dengan teripang, bulu babi, bintang laut, dan bintang mengular yang termasuk dalam kelompok biota penyaring (filter feeders).

Lili laut umumnya melekat pada dasar perairan, disamping itu lili laut juga memiliki kulit yang tersusun dari zat kitin. Apabila dalam kondisi makanan habis ataupun keselamatannya terancam maka lili laut akan berpindah ke tempat lain yang lebih sesuai dan aman.

Lili laut mempunyai susunan tubuh bersimetri lima (pentraradial simetri) atau lebih karena memiliki lengan yang bercabang. Dalam tubunya terdapat sistem pencernaan, sistem respirasi dan sistem saraf. Anus dan mulut lili laut terletak pada permukaan oral, sementara untuk kaki tabungnya tidak mempunyai saluran penghisap, dan alur ambulakralnya terbuka. Tubuhnya dilindungi oleh lempeng kapur yang berbentuk perisai (osscles).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dian Rahma Safitri, seorang lulusan dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 2010 melalui hasil uji sampel lili laut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, terungkap bahwa lili laut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri farmasi dan pangan fungsional karena memiliki senyawa antioksidan.

crinoid

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/crinoid-lili-laut-serupa-bunga-lili/feed/ 0
Siput Lola, Penghasil Kancing yang Tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/#respond Tue, 14 Feb 2017 11:58:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=15902 Siput lola (Trochus niloticus) merupakan salah satu jenis moluska berukuran besar dari kelas gastropoda. Cangkangnya yang berukuran besar membuat biota laut ini sempat dieksploitasi untuk keperluan industri kancing.]]>

Moluska (keong laut, kerang-kerangan dan cumi-cumi) merupakan kelompok biota perairan laut Indonesia yang memiliki tingkat keragaman paling tinggi. Spesies moluska banyak hidup di daerah ekosistem karang, mangrove dan padang lamun.

Lola atau siput lola atau bisa disebut siput susu bundar (Trochus niloticus) merupakan salah satu jenis moluska berukuran besar dari kelas gastropoda yang hidup di rataan terumbu dan dipengaruhi pasang surut air laut. Lola merupakan gastropoda primitif yang memiliki dua insang, dua auricula dan dua nephridia. Lola hidup sebagai pengeruk alga (grazer) yang menempel pada karang-karang mati.

Cangkang lola berbentuk kerucut dengan 10 sampai 12 buah ulir (suture). Panjang cangkang bervariasi antara 50 mm dan 165 mm, diameternya antara 100 mm dan 120 mm. Cangkangnya berwarna dasar krem keputihan dengan corak bergaris merah lembayung, sementara dasar cangkang berbintik merah muda. Hewan ini mempunyai penutup cangkang yang disebut operculum atau epiphragma.

Lola dapat hidup sampai 15 tahun dan mampu berproduksi setelah umur dua tahun. Siput lola merupakan hewan diesius (kelamin terpisah), dan masing-masing individu memiliki kelamin tunggal. Pada betina lola, mereka dapat melepaskan lebih dari satu juta telur, lho!

Lola adalah jenis moluska komersial yang diperdagangkan di Maluku Tengah sejak tahun 1950-an. Negara konsumen utama jenis ini adalah Jepang, diikuti oleh Korea dan negara-negara Eropa. Selain dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat, cangkangnya digunakan dalam industri kancing, industri cat dan kerajinan tangan. Berdasarkan hasil penelitian oleh pakar peneliti oseanografi LIPI Bapak Zainil Arifin, Jepang memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan siput lola untuk industri kancing dan kerajinan. Cangkang lola kemudian diekspor ke Jepang, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Italia.

Penduduk lokal di Maluku dan beberapa tempat di Papua pernah memanen jenis ini secara massif sehingga menjadi punah di beberapa tempat. Nelayan lokal di Pulau Banda pada tahun 1950-an dapat memanen sekitar 50 ton setahun, namun pada tahun 1992 mereka hanya memanen sekitar 1,5 ton. Penurunan yang tajam ini disebabkan oleh eksploitasi berlebihan terhadap jenis ini.

Meski demikian, di beberapa daerah seperti di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, terdapat upacara adat yang menggunakan siput lola. Pengambilan lola secara adat/sistem tradisional ini dinamakan ‘sasi lola’. Sasi dimaksudkan agar terjadi regenerasi dari biota-biota laut yang sering dikonsumsi oleh warga desa sehingga kapasitas penangkapannya bisa terjaga.

Lola yang dipanen berdasarkan sistem sasi perlu mempertimbangkan waktu panen yang tepat, dengan memperhatikan puncak waktu pemijahan dan ukuran lola. Lola menjadi dewasa kelamin pada ukuran 40-50 mm, dan ukuran optimum yang direkomendasikan untuk panen sebaiknya 75 mm, ketika kulit lola mencapai umur sekitar dua tahun.

Perlindungan dan pelarangan perdagangan biota lola telah ada sejak Keputusan Menteri Kehutanan No. 12/KPTS II/1987. Meskipun lola merupakan biota yang dilindungi, akan tetapi perdagangan ilegal satwa laut ini masih terus berlangsung.

siput lola

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/siput-lola-penghasil-kancing-tereksploitasi/feed/ 0
Indonesia Akan Miliki Dua Management Authority CITES https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/#respond Thu, 12 Nov 2015 11:56:25 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=11879 Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa hingga saat ini, masih ada dua permasalahan yang tengah dalam pembahasan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa hingga saat ini, masih ada dua permasalahan yang tengah dalam pembahasan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait penerapan mandat Undang-Undang Perikanan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Direktur Kawasan Konservasi dan Jenis-jenis Ikan Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Agus Dermawan kepada Greeners mengatakan bahwa dua permasalahan yang tengah dibahas tersebut adalah tentang mandat berbagi tanggung jawab pengelolaan konservasi sumberdaya ikan atau spesies akuatik, termasuk Management Authority daftar Convention on International Trade in Endangered Species (MA CITES), dan proses pengalihan tujuh taman nasional laut sebagai mandat undang-undang nomor 1 tahun 2014.

“Sekretariat CITES di Jenewa, Swiss sangat mendukung KKP menjadi Management Authority CITES untuk spesies akuatik. Kedepan, Indonesia akan memiliki dua MA CITES. KLHK untuk spesies terestrial dan KKP untuk spesies akuatik,” jelas Agus, Jakarta, Rabu (11/11).

Kementerian Luar Negeri, lanjut Agus, diharapkan dapat berperan sebagai focal point dalam mendukung penerapan mandat bagi ke dua kementerian tersebut. Sementara, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga bisa berperan selaku Scientific Authorithy (SA). Sedangkan peran KKP sendiri, lanjutnya, adalah sebagai MA spesies akuatik yang sangat diperlukan mengingat lalu lintas perdagangan biota laut dunia semakin meningkat dan perlu penanganan khusus.

“Diperlukan kementerian atau lembaga yang kompeten dalam mengelola sumberdaya hayati di laut. Tidak perlu membentuk badan baru karena mandat regulasi pelaksanaan CITES sudah ada dalam PP nomor 60 tahun 2006 pasal 53. KKP di Direktorat Konservasi dan keanekaragaman hayati akan melaksanakan mandat tersebut,” tambahnya.

Terkait penyerahan pengelolaan tujuh taman nasional laut dari KLHK kepada KKP, Direktur Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Tachrir Fathoni, masih harus menunggu revisi Undang-Undang No 5 Tahun 1990.

Hingga saat ini, lanjut Tachrir, kewenangan perubahan-perubahan personel, sarana dan prasarana, dokumen serta lainnya, harus melalui Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara – Reformasi Birokrasi (Menpan – RB), kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Menteri Koordinator Kemaritiman.

“Menko Maritim sebenarnya sudah meminta untuk diadakan pertemuan untuk menyelesaikan peralihan itu. Tapi sampai sekarang masih belum ada rapat yang dimaksudkan,” jelasnya.

Selain itu, Tachrir juga ingin memastikan bahwa misi konservasi pada taman nasional laut yang sejak awal dibangun oleh KLHK sebagai tempat untuk melindungi berbagai jenis ikan, terumbu karang dan banyak spesies laut lainnya tersebut, tidak berubah fungsi menjadi wilayah eksploitasi.

“Kita hanya ingin memastikan kalau tidak ada eksploitasi besar-besaran di wilayah taman nasional laut nantinya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, tujuh taman nasional laut yang akan dikelola oleh KKP tersebut adalah TN Kepulauan Seribu di Provinsi DKI Jakarta, TN Karimun Jawa di Provinsi Jawa Tengah, TN Bunaken di Provinsi Sulawesi Utara, TN Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara, TN Togean di Provinsi Sulawesi Tengah, TN Teluk Cendrawasih di Provinsi Papua Barat, dan TN Takabonerate di Provinsi Sulawesi Selatan.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-akan-miliki-dua-management-authority-cites/feed/ 0
Pipa Pertamina Bocor, Teluk Penyu Cilacap Tercemar Minyak Mentah https://www.greeners.co/berita/pipa-pertamina-bocor-teluk-penyu-cilacap-tercemar-minyak-mentah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pipa-pertamina-bocor-teluk-penyu-cilacap-tercemar-minyak-mentah https://www.greeners.co/berita/pipa-pertamina-bocor-teluk-penyu-cilacap-tercemar-minyak-mentah/#respond Thu, 28 May 2015 04:11:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=9281 Jakarta (Greeners) – Ratusan nelayan di Cilacap, Jawa Tengah terpaksa tidak melaut lantaran minyak mentah (crued oil) tumpah ruah mencemari laut hingga kawasan pantai Teluk Penyu. Hal ini akibat kebocoran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Ratusan nelayan di Cilacap, Jawa Tengah terpaksa tidak melaut lantaran minyak mentah (crued oil) tumpah ruah mencemari laut hingga kawasan pantai Teluk Penyu. Hal ini akibat kebocoran yang terjadi dari fasilitas Single Point Mooring (SPM) atau sarana bongkar muat kapal tanker milik Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap.

Public Relations Section Head Pertamina RU IV Cilacap, Musriyadi menduga kalau minyak mentah yang mengotori pantai Teluk Penyu merupakan sisa rembesan yang keluar dari sambungan pipa karet (rubber hose) SPM yang mengalami kerusakan pada Rabu (20/5) pukul 22.54 WIB. Minyak tersebut mencemari laut dan mengakibatkan aktifitas nelayan menjadi terganggu.

Minyak mentah di Pantai Teluk Penyu, lanjut Musriyadi, ada kemungkinan berasal dari minyak-minyak yang sebenarnya sudah terlokalisasi, namun terlepas akibat gelombang laut dan hujan besar. Minyak tersebut akhirnya justru menepi ke kawasan pantai Teluk Penyu di Cilacap.

“Menurut dugaan, area yang terkena tumpahan diperkirakan mencapai radius tiga kilometer dengan ketebalan minyak sekitar 10 hingga 15 sentimeter. Kami menduga meluasnya areal itu karena arus deras dan turunnya hujan di kawasan tersebut,” jelasnya saat dihubungi oleh Greeners melalui sambungan telepon, Jakarta, Rabu (27/05).

Di lain pihak, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah sangat menyayangkan lambannya pihak Pertamina dalam menangani kebocoran yang terjadi sejak Rabu tersebut. Direktur Eksekutif Walhi Jateng, Indriyaningrum Fitri menyatakan bahwa seharusnya saat diketahui ada kebocoran, Pertamina sudah langsung melakukan lokalisir terhadap wilayah tumpahan agar tidak menyebar melalui gelombang air laut maupun hujan.

Lebih lanjut, wanita yang akrab di sapa Ning ini pun mempertanyakan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan yang dimiliki Pertamina mengingat kebocoran atau tumpahnya minyak ke lautan seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi.

“Kami jadi mempertanyakan kenapa Pertamina bisa lalai dalam melakukan penanganan ini, padahal kita sama-sama tahu dampak yang ditimbulkan akibat kebocoran ini kan sangat serius terhadap biota laut, terumbu karang dan pantai yang butuh proses panjang untuk pemulihannya. Belum lagi dampak yang ditimbulkan bagi nelayan-nelayan di sini (Cilacap),” katanya.

Sebagai informasi, fasilitas SPM Pertamina RU IV Cilacap yang berlokasi sekitar 16 mil laut sebelah selatan Cilacap atau sekitar perairan selatan Pulau Nusa Kambangan mengalami kerusakan saat sedang ada aktivitas bongkar muat minyak mentah dari sebuah kapal tanker. Akibatnya, sekitar 14.000 minyak mentah yang disalurkan melalui pipa karet bawah laut itu merembes keluar dari sambungan sehingga tercecer di perairan selatan Nusakambangan.

Pertamina RU IV Cilacap pun segera menerjunkan tim penyelam untuk memperbaiki sambungan pipa karet (rubber hose). Sementara, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap merumuskan permintaan ganti rugi untuk diajukan kepada Pertamina Refinery Unit IV Cilacap akibat tumpahan minyak mentah di perairan Nusakambangan dan sekitarnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/pipa-pertamina-bocor-teluk-penyu-cilacap-tercemar-minyak-mentah/feed/ 0
Menteri Agraria Tolak Reklamasi Laut di Indonesia https://www.greeners.co/berita/menteri-agraria-tolak-reklamasi-laut-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menteri-agraria-tolak-reklamasi-laut-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/menteri-agraria-tolak-reklamasi-laut-di-indonesia/#comments Wed, 29 Apr 2015 05:45:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8758 Jakarta (Greeners) – Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan mendukung penuh rencana Presiden Joko Widodo yang tidak merestui rencana reklamasi laut yang diajukan oleh banyak pengusaha di Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan mendukung penuh rencana Presiden Joko Widodo yang tidak merestui rencana reklamasi laut yang diajukan oleh banyak pengusaha di Indonesia sebagai bentuk program pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Melalui keterangan tertulis yang diterima oleh Greeners, Ferry mengatakan bahwa banyaknya pengusaha yang meminta izin rekomendasi reklamasi laut di Indonesia adalah pemikiran yang keliru dari masyarakat negara kelautan. Karena, menurutnya, kegiatan reklamasi laut justru akan mempersempit dan merusak tata ruang laut di Indonesia.

“Kita harus mengembalikan kejayaan negara maritim. Kami menentang habis bila ada pengusaha yang mau reklamasi laut,” ujar Ferry, Jakarta, Selasa (28/04) lalu, saat menjadi pembicara dalam Workshop Nasional di Gedung Mina Bahari III KKP.

Lebih lanjut ia juga mengemukakan bahwa tidak perlu melakukan reklamasi jika hanya berujung pada kerugian dan kehancuran biota laut di Indonesia. Selain itu, ia juga mengingatkan agar reklamasi tidak hanya dilihat dari aspek komersil tapi juga dampak sosial yang muncul bagi wilayah dan masyarakat di wilayah yang terkena reklamasi tersebut.

Ferry juga menambahkan, seharusnya biaya reklamasi laut dibuat sangat mahal karena hal tersebut jelas merusak lingkungan. Ia juga sempat menyindir soal murahnya biaya reklamasi laut daripada pembangunan di darat. Oleh karena itu ia pun mengusulkan agar aturan reklamasi laut diperketat.

“Secara geopolitik kita kan negara kepulauan, makanya reklamasi laut itu memang harus dibuat sulit,” tegasnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/menteri-agraria-tolak-reklamasi-laut-di-indonesia/feed/ 10
OXYEAN Plant Ajak Masyarakat Lestarikan Mangrove dan Koral https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/#respond Tue, 24 Mar 2015 07:51:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8285 Jakarta (Greeners) – London School of Public Relation melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Climate Change Champions Club (LSPR 4C) mengadakan kegiatan bertajuk “OXYEAN Plant Sea Coral and Mangrove Planting”. Kegiatan yang […]]]>

Jakarta (Greeners) – London School of Public Relation melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Climate Change Champions Club (LSPR 4C) mengadakan kegiatan bertajuk “OXYEAN Plant Sea Coral and Mangrove Planting”. Kegiatan yang merupakan rangkaian ketiga dalam kampanye Environment Month 2015 di lingkungan LSPR tersebut mengajak masyarakat agar lebih peduli akan kelangsungan kehidupan biota laut.

Media Relations LSPR 4C, Ismi Iman menyatakan bahwa kegiatan OXYEAN Plant dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan ekosistem laut dengan melakukan penanaman seribu mangrove dan adopsi baby coral di dasar laut. Kegiatan penanaman mangrove tersebut dilakukan di wilayah pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu, 21Maret 2015 lalu.

Koral yang akan dikembangbiakan oleh mahasiswa LSPR 4C. Foto: dok. LSPR 4C

Koral yang akan dikembangbiakan oleh mahasiswa LSPR 4C. Foto: dok. LSPR 4C

Eksploitasi yang berlebihan pada ekosistem laut saat ini, lanjutnya, menjadi isu kritis. Oleh karena itu, mahasiswa LSPR Jakarta yang tergabung dalam LSPR 4C melakukan aksi nyata untuk melestarikan koral dan membudidayakan mangrove untuk potensi masa depan yang lebih baik.

“Melalui Oxyean Plant, LSPR 4C mengajak masyarakat terutama yang tinggal di kawasan Pulau Harapan untuk memelihara dan melestarikan ekosistem laut, mengendalikan abrasi, serta membantu perkembangbiakan biota laut,” jelas Ismi seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (23/03).

Sejak tahun 2009 hingga saat ini, LSPR 4C berhasil menanam 20.000 pohon mangrove dan total adopsi koral dari tahun 2014 sudah mencapai 1.400 koral.

Peserta kegiatan OXYEAN Plant "Sea Coral and Mangrove Planting" berfoto bersama usai menanam mangrove dan koral di pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu (21/03) lalu. Foto: dok. LSPR 4C

Peserta kegiatan OXYEAN Plant “Sea Coral and Mangrove Planting” berfoto bersama usai menanam mangrove dan koral di pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu (21/03) lalu. Foto: dok. LSPR 4C

Sebagai informasi, LSPR 4C adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa dari LSPR yang memfokuskan diri pada kegiatan lingkungan. Berdiri sejak tahun 2009, telah banyak aktifitas lingkungan yang dilakukan oleh LSPR 4C. Misalnya saja kegiatan Mangrovement (penanaman bakau), pengumpulan kertas bekas untuk didaur ulang, kampanye diet plastik dan 3R (reduce, reuse, recycle), dan masih banyak lagi.

Think Green, Act Green, Start From Our Hands” merupakan tagline yang selalu dengan bangga diteriakkan oleh para Agent of Change, sebutan untuk anggota LSPR 4C.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/oxyean-plant-ajak-masyarakat-lestarikan-mangrove-dan-koral/feed/ 0