botani - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/botani/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 16 Jan 2023 03:08:23 +0000 id hourly 1 Cannonball Tree, Pohon Unik Kaya Manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/cannonball-tree-pohon-unik-kaya-manfaat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cannonball-tree-pohon-unik-kaya-manfaat https://www.greeners.co/flora-fauna/cannonball-tree-pohon-unik-kaya-manfaat/#respond Mon, 16 Jan 2023 03:08:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38630 Termasuk dalam famili Lecythidaceae, Cannonball memiliki nama ilmiah Couroupita guianensis. Seperti halnya merujuk pada asal tumbuhan ini, nama Couroupita berasal dari nama tumbuhan Amerika Selatan dan guianensis berarti dari The […]]]>

Termasuk dalam famili Lecythidaceae, Cannonball memiliki nama ilmiah Couroupita guianensis. Seperti halnya merujuk pada asal tumbuhan ini, nama Couroupita berasal dari nama tumbuhan Amerika Selatan dan guianensis berarti dari The Guianas.

Keunikan dan keindahannya berhasil membuat para ahli botani terpesona. Terlebih karena tak ada pohon lain yang serupa dengan pohon unik ini. Sebab, sebagian besar pohon menghasilkan bunga dan buah di dahan, bukan di sepanjang batang.

Morfologi dan Ciri-Ciri Umum Cannonball

Muasal nama spesies Couroupita guianensis berasal dari ahli botani Perancis Jean Baptiste Christophore Fusée Aublet pada tahun 1775.

Seperti halnya namanya, batangnya yang besar dan panjang menyambung dengan bunga dan buah bulat besar yang mencolok sehingga terlihat seperti cannonball. Pohonnya pun bisa mencapai ketinggian hingga 35 m.

Daun

Daunnya berkelompok pada bagian ujung cabang dan biasanya memiliki panjang 8 hingga 31 sentimeter. Tapi bisa mencapai panjang hingga 57 sentimeter.

Bunga

Meskipun bunganya kekurangan nektar, tapi sangat menarik bagi lebah. Bunganya menghasilkan dua jenis serbuk sari yakni serbuk sari subur dari benang sari cincin, dan serbuk sari steril dari struktur tudung.

Beberapa pohon berbunga lebat. Satu pohon dapat mencapai sebanyak 1.000 bunga per hari. Bunganya beraroma kuat, dan sangat harum di malam hari dan dini hari.

Diameternya mencapai 6 sentimeter, dengan enam kelopak, dan biasanya berwarna cerah. Kelopak mulai dari warna merah jambu dan merah di dekat pangkal hingga kekuningan ke arah ujung.

Buah

Pohon unik ini memiliki buah berbentuk bulat dan sangat besar hingga mencapai diameter 25 sentimeter, berwarna cokelat keabu-abuan, keras dan tampak seperti bola meriam. Buah tua hancur perlahan untuk melepaskan banyak biji. Daging yang matang memiliki bau yang tidak sedap. Pohon ini juga tampak steril karena pohon yang terisolasi tidak akan berbuah.

Habitat dan Distribusi Cannonball

Couropita guianensis tumbuh hingga ketinggian 20 meter. Tumbuhan ini berasal dari Amerika Selatan bagian utara tropis, terutama hutan hujan Amazon dan Karibia bagian selatan. Juga terjadi di India dan Thailand.

Selain sebagai fitur menarik botani, pohon ini di Singapura juga sebagai pohon hias tepatnya di Singapore Botanic Gardens. Pohon ini juga dimanfaatkan sebagai pohon pinggir jalan masa lalu (di sepanjang Napier Road / Tanglin Road, Connaught Drive dan kampus Kent Ridge dari National University of Singapore). Umat Hindu di negara ini juga kerap memanfaatkannya sebagai bunga untuk pemujaan.

Di Thailand, pohon-pohon ini kebanyakan tumbuh di pekarangan kuil. Sementara di Sri Lanka sebagai persembahan di kuil dan kuil Buddha. Di India, bunga tersebut juga sebagai persembahan kepada Dewa Siwa oleh para pemujanya. Di negara asalnya kulit buahnya bermanfaat sebagai perkakas.

Kandungan dan Manfaat

Meski bagian buahnya memiliki bau tak sedap, tapi bisa untuk pakan ternak seperti babi dan unggas peliharaan.

Pohon ini memiliki kandungan antibiotik, antiseptik, dan analgesik yang berkualitas. Selain itu juga memiliki antimikroba berbasis tanaman yang berpotensi sebagai terapeutik dengan efek samping lebih rendah dan keuntungan untuk pengembangan kemoterapi.

Bagian bunga pohon ini yang berbau harum untuk bahan parfum dan kosmetik. Bagian kayunya untuk membuat mainan, kotak, balok parket, raket, hingga cetakan pengecoran dan lampu artefak.

Taksonomi Cannonball Tree (Couroupita guianensis)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cannonball-tree-pohon-unik-kaya-manfaat/feed/ 0
Perpaduan Sains dan Seni di Pameran Seni Botani Pertama di Indonesia https://www.greeners.co/berita/perpaduan-sains-dan-seni-di-pameran-seni-botani-pertama-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perpaduan-sains-dan-seni-di-pameran-seni-botani-pertama-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/perpaduan-sains-dan-seni-di-pameran-seni-botani-pertama-di-indonesia/#respond Sun, 20 May 2018 10:18:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20617 Indonesia mengambil bagian dalam pameran kolaborasi dunia bernama Botanical Art Worldwide yang bertajuk “Linking People With Plants Through Botanical Arts”. Acara ini merupakan pameran seni botani pertama di Indonesia.]]>

Bogor (Greeners) – Indonesia mengambil bagian dalam pameran kolaborasi dunia bernama Botanical Art Worldwide yang bertajuk “Linking People With Plants Through Botanical Arts”. Pameran ini diikuti oleh 25 negara dari 6 benua untuk merayakan Hari Seni Botani Sedunia sekaligus Hari jadi Kebun Raya Bogor – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tanggal 18 Mei 2018.

Pameran dengan tema “Ragam Flora Indonesia” ini adalah hasil kerjasama antara Indonesia Society of Botanical Artists (IDSBA) dengan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – LIPI dan merupakan pameran seni botani pertama di Indonesia. Acara berlangsung di Gedung Samida, Kebun Raya Bogor pada tanggal 18-20 Mei 2018.

Ketua IDSBA Andiriana Wisnu mengatakan, Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, Indonesia butuh banyak seniman dan ilustrator botani untuk mengabadikan kekayaan floranya.

“Diharapkan melalui rangkaian acara ini, praktik seni botani makin berkembang di Indonesia dan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia dan alam Indonesia,” ujar Andiriana di Bogor, Jumat (18/05/2018).

BACA JUGA: Wajah Baru Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia

Andiriana melanjutkan, Pameran Ragam Flora Indonesia ini menampilkan kurang lebih ada 60 lukisan tumbuhan liar asli Indonesia. Beberapa diantaranya merupakan lukisan spesies endemik, langka atau sempit sebaran alaminya.

Melalui lukisan-lukisan tersebut Andiriana berharap masyarakat dapat menyaksikan karya seni yang memberi pengetahuan, menggugah kesadaran dan membangkitkan apresiasi atas seni botani maupun keanekaragaman hayati Indonesia.

“Selain itu, wawasan mereka akan diperluas dengan menyaksikan kompilasi Botanical Art Worldwide, slideshow 1.000 lukisan karya seni dan ilustrasi dari 25 negara dengan subjek flora asli setempat,” ujarnya menambahkan.

seni botani

Foto: greeners.co/Dewi Purningsih

Wakil Kepala LIPI, Bambang Subiyanto mengatakan bahwa pameran seni botani ini sangat bagus terutama untuk memperkenalkan kekayaan biodiversitas Indonesia khususnya daerah tropis.

“Kalau menurut saya lukisan-lukisan ini jauh lebih bagus daripada foto aslinya, karena ketika waktu melukis pasti pelukisnya memasukan perasaannya ke dalam proses melukis,” ujar Bambang saat ditemui usai acara.

BACA JUGA: Cegah Kepunahan TSL, LIPI Latih Para Pengendali Ekosistem Hutan

Sementara itu, seni dan sains sering kali dianggap sebagai dua kutub yang terpisah. Seni botani membuktikan sebaliknya. Seni botani merupakan perpaduan tak terpisahkan antara sains (kajian botani) dan seni (rupa) sehingga lukisan yang dipamerkan dalam Ragam Flora Indonesia ini diseleksi dengan cara yang unik, yaitu kolaborasi antara kurator seni, ahli botani atau botaniwan dan seniman botani senior.

“Pengertian bahwa kita hidup di tengah keragaman yang luar biasa itu fakta dan kenyataan tidak bisa ditolak. Karya yang ada menyodorkan saya pesona visual, serta kemungkinan makna yang lebih luas bagi dunia ilmu pengetahuan atau sains dan dapat dilihat sebagai salah satu bukti, bahwa seni sesungguhnya adalah sains,” ujar Suwarno Wisetrotomo, Kurator Galeri Nasional Indonesia.

Lebih jauh, Suwarno mengungkap bahwa karya-karya lukisan cermat ini semacam interupsi yang memberikan banyak kejutan di tengah riuhnya seni rupa kontemporer yang seolah tanpa tepi. “Lukisan-lukisan bertema keragaman hayati menyodorkan pengetahuan yang jelas dan pengalaman keindahan (artistik) yang berbeda,” katanya.

Sebagai informasi, negara-negara yang juga menyelenggarakan pameran seni botani ini, yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Bermuda, Brazil, Chili, China, Kosta Rika, Inggris, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Kolombia, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Selandia Baru, Skotlandia, Thailand, dan Ukraina.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/perpaduan-sains-dan-seni-di-pameran-seni-botani-pertama-di-indonesia/feed/ 0
Lampu Peniru Proses Fotosintesis https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-peniru-proses-fotosintesis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lampu-peniru-proses-fotosintesis https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-peniru-proses-fotosintesis/#respond Mon, 04 Apr 2016 11:17:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13362 Lampu Mygdal Plantlamp adalah lampu yang memungkinkan kita untuk menanam tanaman di manapun, bahkan di ruangan yang tidak memiliki akses ke sinar matahari.]]>

Lampu Mygdal Plantlamp adalah lampu yang memungkinkan kita untuk menanam tanaman di manapun, bahkan di ruangan yang tidak memiliki akses ke sinar matahari. Berkebun sekarang bisa dilakukan di ruang kubikal kantor, termasuk ruang bawah tanah. Mygdal Plantlamp mengubah tempat yang paling membosankan menjadi terang benderang dan terasa alami.

Tim desain dari Jerman bernama We Love Eames yang terdiri dari Emilia Lucht dan Arne Sebrantke adalah orang dibalik layar pembuatan Mygdal Plantlamp. Mereka terinsipirasi untuk membuat sebuah lampu yang memungkinkan kita untuk menanam tanaman di dalam ruangan. Keduanya menyadari ketika banyak orang pindah ke kota, mereka seringkali merasa kehilangan hijaunya lingkungan pedesaan dan ingin membawa lebih banyak tanaman ke daerah perkotaan.

Lampu "Mygdal Plantlamp" rancangan Emilia Lucht dan Arne Sebrantke. Foto: We Love Eames/inhabitat.com

Lampu “Mygdal Plantlamp” rancangan Emilia Lucht dan Arne Sebrantke. Foto: We Love Eames/inhabitat.com

Penggunaan lampu LED pada Mygdal Plantlamp dengan cara kreatif ini ternyata mampu menggantikan cahaya matahari. Lebih ekstrim lagi, menurut para desainernya, tanaman di dalam lampu itu tidak membutuhkan air untuk tumbuh walau dalam hitungan tahun.

Keduanya mendesain sebuah wadah yang “self-sustaining ecosystem” atau sebuah ekosistem yang mampu menghidupi diri sendiri. Lampu ini meniru proses fotosintesis hingga pemiliknya tidak perlu menyiram air untuk tanamannya bahkan bisa meminimalkan proses perawatan tanamannya.

Lampu "Mygdal Plantlamp" rancangan Emilia Lucht dan Arne Sebrantke. Foto: We Love Eames/inhabitat.com

Lampu “Mygdal Plantlamp” rancangan Emilia Lucht dan Arne Sebrantke. Foto: We Love Eames/inhabitat.com

We Love Eames mendesain dua jenis lampu, satu lampu bisa dipasang menggantung dari langit-langit sementara satu lagi bisa didudukkan di meja. Kaca dari lampu ini memasukkan tambahan inovasi: lapisan yang bisa mengalirkan listrik jadi lampunya tidak perlu disambungkan dengan kabel. Listrik dialirkan di permukaan lampu dan memberikan tenaga untuk lampunya. Hak paten sedang diurus untuk lapisan kaca ini.

Terinspirasi oleh Charles dan Ray Eames, arsitek, seniman dan desainer furnitur abad ke 20, tim We Love Eames menekankan pada kesederhanaan, ergonomis dan detail pada karyanya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/lampu-peniru-proses-fotosintesis/feed/ 0
Pohon 40 Buah, Pohon Dongeng Yang Nyata https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/#respond Tue, 19 Aug 2014 01:00:34 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5448 Dalam sebuah perpaduan seni dan alam, Sam Van Aken telah menghidupkan sebuah pohon dongeng yang dapat mekar dalam berbagai warna dan menghasilkan 40 jenis buah yang berbeda. Seniman dan professor […]]]>

Dalam sebuah perpaduan seni dan alam, Sam Van Aken telah menghidupkan sebuah pohon dongeng yang dapat mekar dalam berbagai warna dan menghasilkan 40 jenis buah yang berbeda. Seniman dan professor seni Universitas Syracuse ini menciptakan dan menyilangkan pohon buah yang menghasilkan lebih dari 40 jenis buah seperti ceri, plum, persik, aprikot hingga almond.

Menurut My Modern Met, Aken dibesarkan di perkebunan. Ia kemudian membeli sebuah tanaman anggrek di New York yang terancam mati. Dalam prosesnya, ia akhirnya menyelamatkan banyak varietas buah langka dan mulai bereksperimen dengan menyilangkan berbagai pohon buah untuk menciptakan pohon dongengnya, Pohon 40 Buah.

Foto: mymodernmet.com

Van Aken menciptakan pohon ini melalui proses okulasi – ia mengambil sepotong ranting dari pohon buah yang memiliki tunas kemudian menempelkannya ke dalam sayatan di pohon utama. Setelah direkatkan, cabang pohon akan pulih dan kemudian dipangkas kembali untuk merangsang pertumbuhan cabang alami pada pohon.

Pada musim semi, pohon bermekaran menjadi jalinan warna yang berbeda, seperti pink, ungu, dan putih. Ini menjadi pemandangan yang menakjubkan dari buah-buahan langka dan unik di musim panas. Sudah pasti sebuah pengalaman yang layak dinanti setiap musim semi.

Foto: mymodernmet.com

“Pertama dan yang utama adalah saya melihat pohon ini sebagai sebuah karya seni,” ungkap Van Aken pada Epicurious. “Saya ingin pohon ini bertransformasi setiap hari. Ketika pohon ini tanpa diduga mekar dalam berbagai warna, atau ketika anda melihat beberapa jenis buah yang berbeda bergantungan di cabang pohon, itu semua bukan hanya mengubah bagaimana cara anda memandangnya, namun juga mengubah bagaimana cara anda memersepsikan (segala hal) secara umum,” katanya.

Pohon dongeng ini juga menjaga varietas pohon yang berbeda sebagai bentuk konservasi, terutama pohon-pohon buah langka. Van Aken berkata, “Dengan cara seperti ini, pohon ini menjadi arsip sejarah pertanian di tempat dimana pohon ini berada, dan untuk menjaga varietas lokal yang mulai langka.”

Foto: mymodernmet.com

Hingga saat ini, sang seniman telah menumbuhkan 16 jenis “pohon dongeng” yang tersebar di beberapa lokasi di penjuru Amerika Serikat. Diantaranya, di museum, pusat kegiatan komunitas dan menjadi beberapa koleksi seni pribadi. Van Aken kini berencana untuk menumbuhkan sebuah pohon anggrek mini dengan buah hasil persilangan di kota New York.

(G33)

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/pohon-40-buah-pohon-dongeng-yang-nyata/feed/ 0