Brazil - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/brazil/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 18:57:29 +0000 id hourly 1 Pohon Tabebuya, Flora Endemik Brazil yang Mirip Sakura https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-tabebuya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=pohon-tabebuya https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-tabebuya/#respond Thu, 24 Dec 2020 00:00:39 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=30679 Pohon tabebuya atau tabebuia memang sangat unik, selain memiliki bunga yang mirip dengan sakura flora tersebut juga terbilang kaya manfaat karena bisa masyarakat gunakan untuk berbagai macam kebutuhan.]]>

Pohon tabebuya atau tabebuia memang sangat unik, selain memiliki bunga yang mirip dengan sakura, flora ini juga terbilang kaya manfaat karena bisa masyarakat gunakan untuk berbagai macam kebutuhan.

Nama tabebuia mulai ramai masyarakat bicarakan saat tanaman ini tumbuh di sekitar jalan protokol Surabaya.

Pada saat itu, kembang dari pohon ini mulai bermekaran dengan dominasi warna merah muda. Hal tersebut sontak membuat warga sekitar kaget dan mengira jika tumbuhan ini adalah pohon sakura.

Secara umum, flora endemik asli Brazil ini sebenarnya tidak hanya mampu mengeluarkan warna pink saja. Ada pula spesies dan jenis lain yang bisa mengeluarkan warna kuning, putih dan sebagainya.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui seluk-beluk pohon tabebuya sebelum Anda menanamnya. Agar tidak keliru, yuk simak ulasan lengkapnya bersama Greeners di bawah ini!

Habitat dan Persebaran Tabebuya

Tabebuya adalah genus neotropis yang termasuk ke dalam famili Bignoniaceae. Tanaman ini banyak tumbuh di kawasan Meksiko Utara dan Selatan, Florida Selatan, serta Argentina Utara.

Tidak cuma daerah-daerah di atas, tumbuhan yang terbagi sekitar 100 spesies ini juga tumbuh di sekitar Kepulauan Karibia, termasuk Republik Dominika dan Haiti, serta negara Kuba.

Berkat persebarannya yang cukup luas, nama dari pohon tersebut berbeda-beda di berbagai negara, misal Amapa di Meksiko, Cortez di Honduras dan Kosta Rika, serta Guayacan di Panama.

Di kawasan Kolombia, tabebuia masyarakat kenali sebagai Guayacan Polvillo, sedang di Venezuela diberi nama Flor Amarillo. Di negara asalnya Brazil, tumbuhan menawan ini masyarakat sebut sebagai Ipe.

Vegetasi pohon tabebuya bisa berupa perdu atau pohon dengan tinggi 5-50 m (tergantung jenisnya). Sebagian jenis menggugurkan daun, sedang yang lain tergolong evergreen atau selalu hijau.

pohon tabebuya di Surabaya

Pohon tabebuya di Surabaya. Foto: Shutterstock.

Morfologi dan Ciri-Ciri Pohon Tabebuya

Berbicara soal morfologi, ciri fisik dari tumbuhan ini sebenarnya bisa kita lihat dari bagian-bagian yang terdapat pada pohon tersebut, contohnya seperti bagian batang.

Batang pohon ini biasanya berwarna cokelat dengan kulit yang terlihat agak mengelupas. Pohon tabebuya sendiri masuk dalam kelompok tumbuhan besar karena bisa tumbuh hingga 5-50 meter.

Selain batang, morfologi dari tumbuhan yang satu ini juga terlihat dari daun, bunga, dan buahnya. Agar tidak penasaran, berikut jabaran lengkapnya.

  • Morfologi Daun

Jenis pohon tabebuia yang sangat banyak membuat morfologi daunnya berbeda-beda. Namun, pada umumnya bagian tersebut terlihat berpasangan menyilang atau komplek dengan jumlah daun 3-7 lembar.

Menariknya daun dan batang tumbuhan ini sebenarnya tergolong majemuk, akan tetapi bagian yang paling mendominasi dari pohon tersebut justru kembang atau bunganya.

  • Morfologi Bunga

Seperti yang kita ketahui, pohon tabebuya termasuk dalam kelompok tumbuhan berbunga. Lebar dari bunga tersebut umumnya antara 3-11 cm, berbentuk padat serta helai kelopak berbentuk terompet.

Bagian kapsul pada bunga ini biasanya berjumlah dua atau lima helai. Helai bunga (corolla) memiliki warna yang bervariasi, mulai dari putih, merah muda, kuning, ungu dan merah tergantung jenisnya.

  • Morfologi Buah

Tak banyak yang mengetahui, bahwasannya pohon ipe mampu menghasilkan buah. Buah dari flora yang satu ini adalah buah polong berbentuk kapsul (dehiscent), dengan panjang berkisar 10-50 cm.

Pada beberapa spesies, biji polong tersebut tampak seperti bersayap. Uniknya, buah dari tanaman ini akan tetap berada di pohonnya sampai akhir musim kemarau dan juga awal musim hujan.

bunga pohon tabebuya

Helai bunga (corolla) memiliki warna yang bervariasi, mulai dari putih, merah muda, kuning, ungu dan merah tergantung jenisnya. Foto: Shutterstock.

Guna dan Manfaat Pohon Tabebuya

Seperti yang telah saya jelaskan, tanaman yang satu ini memang terkenal sebagai tumbuhan kaya guna. Selain sebagai bunga hias, berikut beberapa manfaat dari flora neotropis ini:

  • Sifatnya yang tahan terhadap serangan hewan perusak membuat kayu dari pohon ini sangat cocok sebagai bahan baku pembuat furniture, baik indoor ataupun luar ruangan.
  • Kayu ini juga sering warga lokal gunakan sebagai material pendukung saat membangun rumah.
  • Berkat rona bunganya yang cantik, pohon yang satu ini sangat pas sebagai penghias ruangan.
  • Tanaman ini merupakan sumber nektar yang baik untuk lebah madu – mengingat bunganya yang berlimpah, serta sangat populer bagi jenis burung pengisap madu seperti hummingbird.
  • Teh dari kulit tabebuya bunga pink (Tabebuia impetiginosa) kerap warga manfaatkan sebagai obat flu yang baik saat musim hujan, serta ampuh mengurangi batuk pada pecadu rokok.
  • Dapat menjadi objek jual-beli dengan harga pasaran yang tinggi.

Benar sekali, tingginya pamor pohon tabebuya sedikit banyak melambungkan harga bibitnya. Meski demikian, pasaran harga bibit tabebuia sendiri biasanya dipatok berdasarkan ukurannya, seperti:

  • Ukuran 1-1,5 m dibanderol seharga Rp150-500 per pohonnya;
  • Ukuran 2-3 m dihargai berkisar Rp300-800 per pohon; dan
  • Ukuran 4 m ke atas dibanderol seharga Rp 1,3-2,5 per pohonnya.

Bagaimana, sangat menguntungkan sekali bukan budidaya tabebuya? Selain jadi komoditi tumbuhan hias, usaha budidaya tersebut juga bisa membantu kelestarian tumbuhan ini lho, yuk kita coba!

Taksonomi Tabebuya

taksonomi tabebuya

Referensi: 

Balitek Agroforestry KLHK

Anita Sintia Debby, Universitas Muhammadiyah Malang

Penulis: Yuhan Al Khairi

Editor: Ixora Devi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/pohon-tabebuya/feed/ 0
Hutan Amazon Terbakar, Ancaman Hilangnya Ekosistem Besar di Bumi https://www.greeners.co/berita/hutan-amazon-terbakar-hilangnya-ekosistem-di-bumi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hutan-amazon-terbakar-hilangnya-ekosistem-di-bumi https://www.greeners.co/berita/hutan-amazon-terbakar-hilangnya-ekosistem-di-bumi/#respond Mon, 26 Aug 2019 01:00:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=24051 Jakarta (Greeners) – Menyumbang 20% oksigen untuk dunia, Hutan Amazon Brazil dalam tiga pekan terakhir mengalami kebakaran hutan dan lahan yang luar biasa (karhutla). Menurut The National Institute for Space […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menyumbang 20% oksigen untuk dunia, Hutan Amazon Brazil dalam tiga pekan terakhir mengalami kebakaran hutan dan lahan yang luar biasa (karhutla). Menurut The National Institute for Space Research, Brasil telah mengalami lebih dari 72.000 kebakaran tahun ini, meningkat 84% pada periode yang sama pada tahun 2018 di mana lebih dari setengahnya berada di kawasan Amazon.

Kejadian karhutla di Hutan Amazon ini dianggap menjadi kejadian luar biasa karena peningkatan kebakaran yang signifikan. Banyak publik figur dan masyarakat yang menyayangkan terjadinya kebakaran ini.

Sebelumnya, kepala negara Brazil Jair Bolsonaro memberikan tanggapannya atas terjadinya karhutla di Hutan Amazon. Mengutip dari The Guardian, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menuduh kelompok-kelompok lingkungan telah membakar Hutan Amazon ketika Ia mencoba untuk menangkis kritik internasional yang berkembang atas kegagalannya melindungi Amazon.

Ada beberapa spekulasi penyebab kebakaran hutan dan lahan ini yang mencuat ke publik, salah satunya adalah para petani Brazil yang merasa berani untuk membuka lahan pertanian dan peternakan karena pernyataan pemerintah baru Brasil yang ingin membuka wilayah tersebut untuk kegiatan ekonomi.

BACA JUGA : Pemerintah Stop Beri Izin Baru Hutan Primer dan Lahan Gambut

Yuyun Harmono, selaku Manajer Manajer Kampanye Keadilan Iklim dan Isu Global Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), memberikan pendapatnya bahwa penyebab dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Hutan Amazon ini diakibatkan oleh beberapa hal.

Pertama, memang musim kemarau yang lebih panjang. Kedua, ada faktor manusia terutama korporasi. Ketiga, policy pemerintah Brazil yang saat ini tidak pro terhadap lingkungan hidup.

“Kalau Jair Bolsonaro itu dari sayap kanan, lingkungan dia militer, ketika dia terpilih ya dia bilang Amazon ini untuk kepentingan ekonomi dan kedaulatan Brazil dan tidak membicarakan soal lingkungan hidup. Jadi Amazon yang dulu dilindungi saat ini dibuka untuk investasi terutama perkebunan, peternakan, dan pertambangan,” ujar Yuyun saat dihubungi oleh Greeners, Sabtu (25/08/2019).

Lanjutnya, karena Jair Bolsonaro ini tidak memiliki sense pro terhadap lingkungan sehingga reaksi tindakannya terhdap karhulta ini tidak sebagus Presiden Indonesia, Jokowi. Ketika melihat karhutla terjadi ada tindakan cepat dan koordinasi antara Kementerian dan Lembaga terkait, TNI, Polri, dan Pemda berjalan.

Ilustrasi Sisa Kebakaran Hutan. Foto : Istimewa

Ilustrasi Sisa Kebakaran Hutan. Foto : Istimewa

“Karhutla di Amazon ini intensitasnya sudah naik hingga 80% dari tahun lalu, artinya sudah berlangsung selama 3 minggu terakhir ini dan tidak ada reaksi apa-apa dari pemerintah Brazil. Banyak orang menyebut jika laju deforestasi di Brazil sudah sangat luar biasa besar dibandingkan dengan Indonesia yang menurun deforestasinya sejak 5-10 tahun lalu,” jelas Yuyun.

Yuyun mengatakan jika kebakaran hutan dan lahan di Hutan Amazon ini akan berdampak pada masyarakat adat yang terpapar langsung, adanya kenaikan gas rumah kaca, deforestasi yang mengancam target global terutama dari sektor lahan.

Hal itu pun juga dibenarkan oleh Joeni Setijo Rahajoe selaku Plt. Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan bahwa hutan amazon memiliki luas 6,7 juta hektar yang sebagian besar ditutupi oleh hutan tropis lembab yang terdiri dari berbagai tipe ekosistem. Mempunyai biodiversitas sangat tinggi, di mana salah satu negara yang berada di Amazon Biome Brazil yang keanekaragaman hayatinya tertinggi di dunia.

“Karhutla akan menyebabkan kehilangan ekosistem dan biodiversitasnya, tergantung pada tingkat kebakarannya, bila kebakarannya pada level yang sangat besar dan meluas maka akan berdampak kepada berkurang dan rusaknya ekosistem,” ujar Joeni kepada Greeners.

BACA JUGA : BMKG Serukan Waspada Terhadap Ancaman Bencana Kekeringan 

Jeoni mengatakan Amazon mengandung 90-140 miliar metrik ton karbon, pelepasannya (karena terbakar) walaupun sebagian, akan mempercepat pemanasan global secara signifikan. Saat ini, konversi lahan dan deforestasi di Amazon melepaskan hingga 0,5 miliar metrik ton karbon per tahun, tidak termasuk emisi dari kebakaran hutan, sehingga menjadikan Amazon faktor penting dalam mengatur iklim global (Nepstad et al 2008).

“Asap yang mengandung CO, NO, dan menyebabkan sesak napas dan alergi. Mengingat amazon itu menyimpan karbon yang berbentuk biomasa sangat besar,” ujarnya.

Jeoni melanjutkan, pemulihan untuk hutan amazon ini akan menyita waktu dan biaya yang besar karena untuk memulihkan sebuah ekosistem seperti semula tidaklah mudah. Bumi terbentuk jutaan tahun, sedangkan hutan terbentuk bisa ratusan tahun, tergantung suksesi alaminya.

“Bila sumber-sumber biji masih bagus maka menjadi semula butuh ratusan tahun. Itupun belum tentu komposisi dan struktur pohonnya sama persis untuk mendekati menjadi prestine forest,” pungkasnya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hutan-amazon-terbakar-hilangnya-ekosistem-di-bumi/feed/ 0
Six Governors Committed An International Pledge On Deforestation https://www.greeners.co/english/six-governors-committed-an-international-pledge-on-deforestation/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=six-governors-committed-an-international-pledge-on-deforestation https://www.greeners.co/english/six-governors-committed-an-international-pledge-on-deforestation/#respond Fri, 19 Feb 2016 13:03:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12901 Jakarta (Greeners) – To tackle on deforestation issue in the country, governors of six provinces which account for 58 percent of Indonesia’s forest areas, held a meeting with donors, embassies […]]]>

Jakarta (Greeners) – To tackle on deforestation issue in the country, governors of six provinces which account for 58 percent of Indonesia’s forest areas, held a meeting with donors, embassies and private sectors, in Jakarta, on Thursday. The meeting was a follow up on their previous commitment, Rio Branco Declaration, signed at the Governor’s Climate and Forests Task Force (GCF) in Acre, Brazil, back in 2014.

One issue being discussed in the meeting was about Forest Management Unit (KPH) capacity building.

Revised Regional Autonomy Law had stipulated more authority for provincial government to manage and protect forest areas through KPH.

West Kalimantan Governor Cornelis, who is also Coordinator of GCF Indnesia, said KPH has the authority in managing forest areas, encourage investment in forestry sector as well as public participation. However, to ensure the effectiveness of KPH, provincial governments need support.

Under Rio Branco Declaration, these six governors agreed to reduce deforestation up to 80 percent by 2020 or from  323,749 hectares to 64,749 hectares per year based on 2001-09 baseline.

To achieve the target, it requires funding based performance that is sufficient and long term through partnerships with international donors and private sectors.

“Today, we are celebrating the partnerships and also keep looking for new ones to achieve our targets on deforestation. This partnerships is a significant step to achieve those targets,” said Cornelis as quoted in a press statement.

Furthermore, the governors also talked about collaboration and partnerships with public and private sectors, including partnerships between Central Kalimantan, Seruya district and West Kotawaringin administrations with oil companies to support capacity building, mapping, and certifying the farmers.

It is expected that mapping out all oil palm farmers in Seruyan and West Kotawarining would e finalised within a few years.

In addition, the partnership also encourages farmers to produce sustainable oil palm based on the standards of Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

“The meeting also discuss the development of each governor in tackling forest fires and haze issues which have hit the country last year. West Kalimantan collaborating with Association of Forestry Scholars will develop web basws application as early warning system for forest fires. It will increase local government capacity to deal with forest fires,” he said.

More than 25 percent of tropical forest countries are members of GCF. At least 29 nations, including Brazil, Mexico, Nigeria, Ivory Coast, Peru, Spanyol, and US and six governors, — Aceh, West Kalimantan, Central Kalimantan, East Kalimantan, West Papua, and Papua, in Indonesia signed Rio Branco Declaration in Brazil on Aug 2014.

Reports by Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/english/six-governors-committed-an-international-pledge-on-deforestation/feed/ 0
World Rafting Championship 2015 Ends with Brazil Breaking Home Advantage Myth https://www.greeners.co/english/world-rafting-championship-2015-ends-with-brazil-breaking-home-advantage-myth/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=world-rafting-championship-2015-ends-with-brazil-breaking-home-advantage-myth https://www.greeners.co/english/world-rafting-championship-2015-ends-with-brazil-breaking-home-advantage-myth/#respond Mon, 14 Dec 2015 13:55:52 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12234 Citarik (Greeners) – The 2015 World Rafting Championship (WRC) in Citarik River of Cijambe village, Cikidang subdistrict, Sukabumi district of West Java on November 29 to December 8 is finally […]]]>

Citarik (Greeners) – The 2015 World Rafting Championship (WRC) in Citarik River of Cijambe village, Cikidang subdistrict, Sukabumi district of West Java on November 29 to December 8 is finally over.

The race revealed that host country supposedly has better field advantage did not always win the game.

At the end of 2015 WRC, Brazil reigned at world’s rafting championship for Under 23 years old (U-23) classes both in Men and Women categories and Men Open Class category.

Besides Brazil, gold medals went to Russia, New Zealand, and Chezchs Republic for Men and Women U-19, Men and Women Master Class (above 40 years), and Women Open Class, respectively.

President of International Rafting Federation (IRF) Joe Willie Jones acknowledged Indonesian Rafting Federation (FAJI) for its hard work in hosting the championship.

Joe said FAJI proved to serve pathway for other Asian countries to hold the next race which will be held in Japan.

“Becoming the pioneer of hosting WRC in Asia itself was a huge achievement. Of course, it was not perfect but it can be fixed if they want to host WRC R4,” he said in press release to Greeners in Jakarta (10/12).

Joe also reminded participant to be responsible for their athletes’ best interests.

“The World Championship is not about the organization but for the sake of the sports,” he said.

Furthermore, he was also enthusiastic to see participants in U-19 and U-23 classes were increasing with 11 countries entered the race.

He said that IRF country members should pay attention to their young athletes development.

“Because, they are future champions. The best sport organization is capable to regenerate its athletes. So, let’s encourage young generation to go back to nature through adventure sport. Don’t let them drown in gadget and stay out of the sun,” he added.

The first World Rafting Championship was held in 1998 and Indonesia was the first Asian country to host the race as Citarik river was officially declared eligible for R6/Rafting 6 (six rowers in one boat) category.

As much as 592 rowers from 23 countries participated in the 2015 WRC in Indonesia.

Apart from being the first organization in Asia to have held the race, Indonesia also earned its first gold medal since joining the IRF in 2000.

Indonesia received gold medal in Men U-19 class against UK and Russia in the 300 meters Sprint.

In addition, Indonesia collected two more gold medals through Women U-19 and Men U-23 classes in Down River Race (DRR) category.

Numbers competed in the 2015 WRC were Sprint, Head To Head/H2H (one boat against one boat), Slalom and DRR for Men and Women classes.

Meanwhile, Open Classes are available for all ages to join in one team.

Reports by Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/english/world-rafting-championship-2015-ends-with-brazil-breaking-home-advantage-myth/feed/ 0
Curitiba, Kota Terhijau Di Dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/curitiba-kota-terhijau-di-dunia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=curitiba-kota-terhijau-di-dunia https://www.greeners.co/ide-inovasi/curitiba-kota-terhijau-di-dunia/#respond Sat, 19 Jul 2014 01:15:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5196 Momen Piala Dunia 2014 telah membawa semua mata tertuju pada kota Curitiba, Brasil. Di balik ingar-bingar Piala Dunia, ada cerita lain mengenai kota metropolis terbesar ke-8 di Brasil tersebut. Rezim […]]]>

Momen Piala Dunia 2014 telah membawa semua mata tertuju pada kota Curitiba, Brasil. Di balik ingar-bingar Piala Dunia, ada cerita lain mengenai kota metropolis terbesar ke-8 di Brasil tersebut. Rezim keberlanjutan Curitiba dianggap sebagai eksperimen yang paling awal dilakukan dan paling berhasil dalam hal pembangunan kota yang berkelanjutan. Pendekatan yang dilakukan di Curitiba dalam hal transportasi, konservasi ruang terbuka hijau, pemukiman dan pengelolaan sampah telah menjadi percontohan bagi kota-kota lain di seluruh dunia.

Inisiatif hijau Curitiba dimulai pada tahun 1960-an oleh walikotanya, Jaime Lerner, yang terkenal dengan perkataannya, “Kota ini bukan untuk mobil,” jauh sebelum prinsip smart growth diadopsi oleh kebanyakan negara-negara kaya di Amerika Utara dan Eropa.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

Dengan ruang terbuka hijau di area publik seluas 52 meter persegi per orang – lebih besar daripada kota manapun di dunia – Curitiba merupakan kota terhijau di Bumi. Di beberapa taman kota, rerumputannya dipotong oleh domba, sementara beberapa taman kota lainnya memiliki zona pengelolaan dan tangkapan air hujan alami.

Program pemerintah kota didesain untuk melindungi masyarakat miskin kota dari ketidakadilan sosial, diantaranya program daur ulang dan penukaran sampah dengan bahan makanan segar atau token bis yang dapat digunakan untuk berangkat ke tempat kerja.

Foto: inhabitat.com

Foto: inhabitat.com

Sebuah sistem terbaik yang dikembangkan di Curitiba, yang juga mungkin tak diragukan lagi manfaatnya oleh para penonton Piala Dunia, adalah sistem bus rapid transit atau BRT, sebuah sistem transit cepat bis kota. Lebih dari 70% perjalanan harian di kota ini menggunakan BRT, dengan bis-bisnya yang dicat dengan warna-warna cerah, yang telah memungkinkan Curitiba untuk menurunkan emisi karbon hingga 25% per rata-rata penduduk Brazil.

Sistem BRT tersebut, yang saat ini telah diadopsi oleh ratusan kota di seluruh dunia, menggunakan jalur khusus yang diperuntukan untuk bis dan kendaraan gawat darurat. Sistem ini terbilang cukup murah bila dibandingkan dengan sistem transportasi kereta trem, yang kebanyakan hanya ada di kota-kota maju yang kaya.

Semoga, jutaan mata yang saat ini sedang tertuju ke Curitiba dapat juga melihat sekilas sejarah Curitiba, persembahan yang sebenarnya dari Curitiba untuk dunia, yakni keberlanjutan.

(G33)

Sumber: inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/curitiba-kota-terhijau-di-dunia/feed/ 0
Hasil Survei: Piala Dunia 2014 Bawa Efek Negatif https://www.greeners.co/berita/hasil-survei-piala-dunia-2014-bawa-efek-negatif/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hasil-survei-piala-dunia-2014-bawa-efek-negatif https://www.greeners.co/berita/hasil-survei-piala-dunia-2014-bawa-efek-negatif/#respond Tue, 01 Jul 2014 04:00:08 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=5058 (Greeners) – Pertandingan olah raga sepak bola empat tahunan terbesar sejagat atau Piala Dunia, kali ini digelar di Brasil. Di 12 kota di negara penghasil kopi terbesar dunia itu, kesebelasan dari […]]]>

Logo WC 2014 Greeners(Greeners) – Pertandingan olah raga sepak bola empat tahunan terbesar sejagat atau Piala Dunia, kali ini digelar di Brasil. Di 12 kota di negara penghasil kopi terbesar dunia itu, kesebelasan dari 32 negara termasuk Brasil, berkumpul dan bertanding untuk menentukan tim sepak bola terbaik dunia.

Namun, perhelatan Piala Dunia 2014 bukan hanya hanya sekadar megah dan meriah. Kontroversi sudah menyelimuti penyelenggaraan ini lama sebelum pertandingan resmi dimulai pada tanggal 12 Juni lalu.

Berdasarkan hasil survei dari Pew Research yang dirilis pada 3 Juni 2014, sebanyak 61% warga Brasil yakin penyelenggaraan Piala Dunia lebih membawa efek negatif pada negara tersebut karena turnamen itu mengambil dana dari sekolah, jaminan kesehatan, dan layanan publik lainnya. Publik berdemonstrasi untuk memprotes isu ini sejak Juni 2013.

Berikutnya, sebanyak 72% warga Brasil menyatakan tidak puas terhadap “berbagai hal” yang terjadi di negara mereka.

Infographic Brazil-01

Jejak pendapat tersebut menyatakan mayoritas masyarakat Brasil tidak setuju pada penanganan isu-isu penting yang dilakukan Presiden Dilma Rousseff dan 67% tidak setuju terhadap cara Presiden wanita pertama Brasil ini mempersiapkan Piala Dunia. Untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, diperkirakan Brasil telah menggelontorkan dana sebesar 11,5 miliar dollar Amerika.

Hasil survei juga memperlihatkan kekhawatiran yang meluas terhadap kenaikan harga. Dan, sekitar dua per tiga menyatakan kurangnya kesempatan kerja dan kesenjangan antara kaum kaya dan miskin menjadi masalah serius di negara tersebut. Sementara itu, masalah korupsi masih membelit negara ini.

Sebanyak 83% warga Brasil menyatakan masalah kesehatan dan kriminalitas masih menjadi isu utama yang harus diselesaikan pemerintah mereka ketimbang perhelatan Piala Dunia.

Gelombang demonstrasi terus terjadi pada bulan lalu di sekitar 18 kota di Brasil. Demonstran memprotes semua biaya pembangunan yang digunakan untuk Piala Dunia sementara kemiskinan masih menjerat rakyat Brasil.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/berita/hasil-survei-piala-dunia-2014-bawa-efek-negatif/feed/ 0
Armadillo, Maskot Piala Dunia 2014 yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/#respond Tue, 01 Jul 2014 00:30:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_kehati&p=5041 Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala […]]]>

Armadillo, spesies yang dijadikan sebagai maskot resmi Piala Dunia 2014, merupakan hewan yang terancam punah di alam liar karena perburuan liar, hilangnya habitat asli mereka, dan bahkan karena turnamen Piala Dunia itu sendiri. Hal ini dikatakan para ilmuwan seperti dikutip dari laman Hufingtonpost.com.

Armadillo Tiga Ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) mempertahankan diri dengan cara menggulung dirinya seperti sebuah bola. Bentuk ini terlihat menarik sebagai simbol dari Piala Dunia.

Namun, dijadikannya armadillo sebagai maskot tidak mampu melawan para pemburu yang dapat mengambil hewan ini tanpa susah payah. Dan, ada ketakutan bahwa publikasi Piala Dunia akan menggiring orang untuk mengadopsi hewan lucu ini sebagai peliharaan. Hal ini membuat jumlah armadillo yang sudah sedikit semakin menyusut.

Biodiversity_Armadillo_Three_Banded_Greeners

Saat merasa terancam, armadillo tiga ruas Brasil (Tolypeutes tricinctus) akan ‘melipat’ tubuhnya serupa bola.

Menurut situs untuk spesies yang terancam punah, Red List, spesies ini diyakini semakin menurun lebih dari sepertiganya selama 10 hingga 15 tahun terakhir karena hilangnya 50 persen habitat lahan semak kering “Caatinga“.

Berdasarkan data 2014 menurut versi International Union for Conservation of Nature (IUCN), armadillo merupakan hewan asli asal daerah timur Brasil yang “rentan” (vulnerable) menuju kepunahan, kondisi ini sama dengan penilaian yang dilakukan tahun 2009.

Namun seorang pakar terkemuka mengatakan bukti baru dari Brasil menunjukan bahwa ancaman terhadap hewan yang dapat tumbuh hingga 50 sentimeter ini, semakin meningkat dan ini akan menempatkan hewan tersebut ke kategori ancaman yang lebih tinggi, yaitu “terancam punah” (endangered) pada bulan-bulan mendatang.

“Situasinya bahkan lebih buruk dari yang kita pikirkan,” ujar Mariella Superina, Ketua kelompok spesialis anteater, sloth dan armadillo IUCN, kepada Reuters. “Armadillo tiga ruas sangat mudah untuk ditangkap.”

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

Fuleco, maskot resmi Piala Dunia 2014.

‘Fuleco’, nama maskot FIFA, adalah kombinasi dari kata “Futebol” (football yang berarti sepak bola) dan “Ecologia” (ecology). Mariella mendesak FIFA untuk mendanai usaha untuk melindungi hewan tersebut, termasuk yang mungkin akan mengacaukan publikasi Piala Dunia.

“Orang-orang mungkin melihatnya sebagai makhluk yang lucu karena spesies ini bisa menggulung tubuhnya menjadi seperti bola. Kami khawatir orang-orang akan menginginkan hewan ini sebagai peliharaan. Hewan ini sama sekali bukan hewan peliharaan,” katanya tegas.

Dari 20 jenis armadillo, hanya satu yang habitatnya di luar Amerika Latin. Armadillo bangkit kembali dari jurang kepunahan setelah sebelumnya diyakini punah sampai ditemukan kembali pada awal tahun 1990-an.

Caroline Pollock, Program Officer dari Red List, mengatakan bahwa pembukaan lahan untuk tebu dan kedelai telah memangkas habitat armadillo dalam beberapa waktu belakangan.

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/armadillo-maskot-piala-dunia-2014-yang-terancam-punah/feed/ 0
Sudut Piala Dunia 2014 ala Greeners.co https://www.greeners.co/aksi/sudut-piala-dunia-2014-ala-greeners-co/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sudut-piala-dunia-2014-ala-greeners-co https://www.greeners.co/aksi/sudut-piala-dunia-2014-ala-greeners-co/#respond Sat, 28 Jun 2014 11:54:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_campaign&p=5027 Tahun 2014 adalah penyelenggaraan piala dunia sepakbola yang ke 20 kalinya. Seluruh dunia bergemuruh mendukung tim nasionalnya yang lolos ke babak final di Brazil. Bahkan Indonesia yang belum berkesempatan untuk […]]]>

Tahun 2014 adalah penyelenggaraan piala dunia sepakbola yang ke 20 kalinya. Seluruh dunia bergemuruh mendukung tim nasionalnya yang lolos ke babak final di Brazil. Bahkan Indonesia yang belum berkesempatan untuk tampil berlaga di piala dunia turut serta ramai mengikuti perkembangan kompetisi sepakbola terbesar di dunia ini.

Dari mulai warung di pojokan kompleks sampai kantor-kantor besar di ibukota pasti terpampang jadwal kompetisi World Cup 2014. Bahkan hampir setiap stasiun televisi memiliki segmen khusus liputannya.

Greeners pun ingin turut serta meramaikan momen 4 tahun sekali ini. Tentu melalui kacamata “greeners”, akan kami coba sajikan pantauan pertandingan dengan sedikit racikan “bumbu hijau” menyertai ulasannya.

Tentu ini hanya sekedar hiburan, sebagaimana dampak yang diharapkan dari piala dunia bahwa melalui sportivitas, sepakbola dapat membawa perdamaian di dunia.Tapi kami berharap bahwa selain perdamaian juga terjaga kelestarian lingkungan beserta isinya yang merupakan harta terbesar umat manusia.

Selamat menikmati sajian piala dunia 2014 ala Greeners, salam lestari.

 

]]>
https://www.greeners.co/aksi/sudut-piala-dunia-2014-ala-greeners-co/feed/ 0
Guru Lingkungan Hidup Lima Negara Bahas Rekomendasi Konferensi RIO+20 https://www.greeners.co/berita/guru-lingkungan-hidup-lima-negara-bahas-rekomendasi-konferensi-rio20/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=guru-lingkungan-hidup-lima-negara-bahas-rekomendasi-konferensi-rio20 https://www.greeners.co/berita/guru-lingkungan-hidup-lima-negara-bahas-rekomendasi-konferensi-rio20/#respond Tue, 10 Apr 2012 03:00:05 +0000 http://www.greenersmagz.com/?p=2653 Malang (Greeners) – Puluhan guru lingkungan hidup dari lima negara yaitu Amerika Belanda, Malaysia, Kanada, dan Indonesia bertemu dalam Environmental Teachers International Convention (ETIC 2012) di Lawang, Malang, Jawa Timur, […]]]>

Malang (Greeners) – Puluhan guru lingkungan hidup dari lima negara yaitu Amerika Belanda, Malaysia, Kanada, dan Indonesia bertemu dalam Environmental Teachers International Convention (ETIC 2012) di Lawang, Malang, Jawa Timur, yang akan menyusun rekomendasi untuk dibawa ke Konferensi Lingkungan Hidup Dunia PBB-UNEP: Rio+20 di Brazil pada Juni 2012.

Dalam konvensi yang diikuti sekitar 30 guru lingkungan hidup ini, peserta akan membahas implikasi-implikasi dalam bidang pendidikan, terutama terkait Pendidikan untuk Konsumsi Berkelanjutan (PKB) dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB). Mereka juga akan saling tukar ide dan berbagi pengalaman mengenai metode mengajar tentang isu-isu seperti konsumsi yang berkelanjutan, ekonomi yang ramah lingkungan, perubahan iklim dan pengetahuan tentang adat masyarakat, serta strategi-strategi terbaru.

Menurut pelaksana acara konvensi ini, Stien J. Matakupan, mengutip hasil penelitian yang dilakukan UNEP menunjukkan bahwa 50 persen populasi penduduk dunia adalah kaum muda berusia di bawah 25 tahun. Sayangnya, kata Stien, mereka tidak tahu bahwa gaya hidup dan pola konsumsi manusia memberikan pengaruh besar terhadap kualitas lingkungan. “Guru berperan besar untuk mendidik kaum muda,” katanya kepada Greeners, di sela-sela acara pembukaan konvensi, Senin (09/03/2012).

Sedangkan pembicara utama ETIC 2013, Konsulat Jenderal Amerika Serikat, Kristen F. Bauer mengatakan kaum muda hendaknya diberikan kesempatan memberikan pendapat mengatasi permasalahan lingkungan. “Guru hendaknya mengajarkan siswa cara bagaimana mengatasi permasalahan lingkungan hidup, dan pola konsumsi yang tepat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata Kristen.

Menurut penggagas acara ini, Suryo P. Prawiroatmodjo, diharapkan peserta saling berbagi pengalaman metode mengajar serta menjalin kerjasama antar sekolah, sehingga siswa dapat bertemu dengan siswa dari negara lain yang juga memiliki perhatian yang sama dalam pendidikan lingkungan hidup. Guru mempunyain peranan penting dalam pembentukan sikap siswa terhadap lingkungan hidup. “Peran yang tidak kalah besarnya dengan peran orang tua di rumah,” katanya.

Dalam acara ETIC 2012 ini juga akan disusun rekomendasi yang akan menjadi salah satu masukan dalam Konferensi Lingkungan Hidup Dunia PBB-UNEP: Rio+20 di Brazil pada Juni 2012. Karenanya, semua peserta juga akan berkunjung ke beberapa lokasi untuk mengamati isu-isu konsumsi berkelanjutan yang berkembang di tingkat lokal.

Beberapa peserta juga ada yang bersepakat untuk menggelar pertemuan dan melakukan kegiatan bersama seperti yang dilakukan Phylesia dari Malaysia, Suwena dari Kalimantan, dan Loes Pihjamaa dari Belanda untuk mengadakan kegiatan bersama di sekolahnya sebagai tindak lanjut dari konferensi tersebut. (G17)

]]>
https://www.greeners.co/berita/guru-lingkungan-hidup-lima-negara-bahas-rekomendasi-konferensi-rio20/feed/ 0