buku rekomendasi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/buku-rekomendasi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 05:52:21 +0000 id hourly 1 Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengapa-kita-belum-cinta-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengapa-kita-belum-cinta-laut https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengapa-kita-belum-cinta-laut/#respond Thu, 06 Dec 2018 08:19:40 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=21827 Buku “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?” mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat fenomena sosial, budaya dan tradisi masyarakat pesisir dalam mengelola potensi laut.]]>

Judul: Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?

Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin

Penerbit: Penerbit Ombak (Anggota IKAPI)

Jumlah Halaman: 188 + 16 halaman romawi,
Cetakan pertama, 2004; Cetakan kedua, 2013

 

Tidak ada yang bisa menyanggah keindahan dan potensi laut yang dimiliki Indonesia. Sayang, tingginya permintaan dan kebutuhan manusia terhadap sumber daya laut sering sekali melampaui batas sehingga berdampak pada rusaknya laut.

Buku berjudul “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?” menceritakan sisi lain dari persoalan laut Indonesia. Melalui buku ini pembaca diajak untuk mengenal fenomena sosial, budaya dan tradisi masyarakat pesisir dalam mengelola potensi laut yang ada. 

Buku yang terdiri dari 188 halaman ini merupakan kumpulan esai dan catatan perjalanan Muhammad Ridwan Alimuddin selama melakukan riset di lapangan. Ridwan adalah seorang penulis, fotografer, peneliti, jurnalis, dan fixer (pembantu jurnalis). Buku ini mengandung otokritik terhadap generasi muda terutama mahasiswa perikanan dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam berbagai persoalan laut dan perikanan di Indonesia.

Menggunakan gaya penulisan populer, Ridwan mengungkapkan dengan runtut berbagai sisi menarik dari kehidupan masyarakat nelayan dan berbagai persoalan yang dihadapi. Seperti bahasan tentang pemboman ikan, ketertarikan kepada pulau-pulau kecil, pembahasan kapal pinisi, perjuangan menjaga pulau terluar Indonesia, keadilan bagi nelayan, dan aspek dinamika sosial-masyarakat pesisir Nusantara lainnya.

“Sebagai esai atau catatan lapangan bentuk itu cocok karena sebagian isi tulisan ini berdasarkan dari hidup di lapangan,” tulis Ridwan dalam kalimat pengantarnya.

Kumpulan esai terbagi atas beberapa bagian. Bagian awal esai menyampaikan hal-hal mengenai kebudayaan bahari, antara lain mitos pelaut dan nelayan, ketegaran hidup nelayan, suku Bajau, keunikan budaya bahari, kepemimpinan dari laut, dan kebiasaan pemberian nama perahu di kalangan nelayan. Bagian kedua dalam buku ini menuliskan ketidakadilan yang dialami oleh komunitas nelayan, mulai dari wanita penjual ikan yang dituduh sebagai penggusur sampai tekanan perjuangan hidup nelayan.

Pada bagian Prolog, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. turut menyambut baik buku ini. “Kumpulan esai ini merupakan sumbangan yang cukup berharga bagi masyarakat terutama generasi muda untuk lebih dapat mengerti dan memahami kehidupan nelayan, laut, dan kebudayaan bahari,” ungkapnya.

Pengamatan lapangan yang dituangkan oleh penulis dalam buku ini dapat menjadi bahan kajian atau sekadar menambah wawasan pembaca terkait seluk beluk masalah kemaritiman Indonesia, dimana tidak semua pengamat atau peneliti secara spesifik mengkaji isu tersebut. Buku ini juga menjadi masukan bagi pemangku kepentingan (stakeholders), akademisi dan pemerintah untuk memperhatikan permasalahan kemaritiman Indonesia dari aspek sosial dan budaya.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mengapa-kita-belum-cinta-laut/feed/ 0
Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/#respond Wed, 13 Dec 2017 09:15:14 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19585 Buku berjudul "Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan" menjadi salah satu alternatif penyajian informasi yang berharga mengenai bekantan. Ditambah lagi karya ilmiah ini ditulis oleh belasan peneliti yang peduli akan eksistensi bekantan di alam liar.]]>

Judul: Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan
Editor: Prof. Hadi Sukadi Alikodra, Dr. Efransjah, M. Bismark
Penulis: Hadi S. Alikodra, M. Bismark, M. Arief Soendjoto, Reni Srimulyaningsih, Tri Atmoko, Chairul Saleh, Jojo Ontarjo, dkk.
Penerbit: PT Penerbit IPB Press
Jumlah Halaman: 266 + 18 halaman romawi
Cetakan 1, Agustus 2015

Tidak banyak penelitian yang mengangkat bekantan sebagai objek penelitian. Kalaupun ada, publikasinya biasanya hanya sebatas jurnal ilmiah yang akan beredar di kalangan para ilmuwan dan peneliti. Sangat jarang hasil penelitian mengenai primata ini dibukukan. Buku berjudul “Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan” menjadi salah satu alternatif penyajian informasi yang berharga mengenai bekantan. Ditambah lagi karya ilmiah ini ditulis oleh belasan peneliti yang peduli akan eksistensi bekantan di alam liar.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Kalimantan yang sedang menuju kepunahan. Meijaard dan Nijman (2000) melaporkan bahwa bekantan di Pulau Kaget Muara Sungai Barito telah mengalami kepunahan lokal karena hutan mangrove habitatnya terus dikonversi menjadi lahan pertanian.

Satwa yang dikenal sebagai kera belanda ini hidup di ekosistem tepi sungai, terutama di bagian muara sungai. Mereka menempati habitat sampai mencapai 60 – 300 kilometer jauhnya ke arah pedalaman. Ia senang hidup di rawa gelam, yaitu ekosistem hutan rawa yang didominasi pohon gelam (Melaleuca cajuputi) dan rumput rawa. Disanalah bekantan memanfaatkan pohon gelam untuk beristirahat dan mencari makan.

Status perlindungan bekantan berdasarkan IUCN termasuk dalam kategori endangered species (spesies terancam punah). Sedangkan dalam CITES, bekantan terdaftar sebagai Appendix I, artinya spesies yang terancam punah. Di Indonesia sendiri, bekantan sudah termasuk sebagai satwa yang dilindungi undang-undang sejak tahun 1931.

Dalam buku ini dibahas dengan cukup rinci mengenai sumber pakan, habitat, populasi, perilaku, hingga penyebaran bekantan di Kalimantan Timur. Para penulis juga memaparkan upaya penyelamatan bekantan, diantaranya melalui ekowisata bekantan, pengembangan bioprospeksi dan pengelolaan plasma nutfah.

Menurut Hadi dan Jojo Ontarjo di halaman 229, Bab 14 Prinsip-prinsip Ekowisata Bekantan, wisata global telah berkembang menjadi industri raksasa dunia dengan pertumbuhannya yang sangat pesat. Sejak tahun 1999, perkembangannya telah mencapai 12 persen world gross national product (US Dept of Commerce 1990). Namun perkembangan wisata dunia yang pesat ini telah mengancam kelestarian bumi karena banyak memberikan dampak negatif di daerah tujuan wisata.

Meski demikian, banyak pihak yang tertarik untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang tidak merusak lingkungannya yang dikenal sebagai ekowisata. Pembangunan ekowisata bekantan harus dirancang secara terintegrasi dengan pembangunan daerah sehingga kekhawatiran terhadap gangguan lingkungan hidup dapat diatasi, bahkan kelestarian bekantan semakin terjamin. Masyarakat juga mendapat keuntungan dari kegiatan wisata dan dukungan program peningkatan usaha pertanian pemerintah daerah setempat.

Penyajian fakta dan data dalam buku ini membuat buku “Bekantan, Perjuangan Melawan Kepunahan” dapat menjadi referensi yang cukup akurat bagi para peneliti dan pemerhati keanekaragaman hayati, khususnya terkait bekantan. Buku ini juga dapat menjadi masukan berharga bagi pemangku kepentingan (stakeholders) baik pemerintah maupun swasta untuk mengambil langkah nyata menyelamatkan primata endemik Kalimantan yang nyaris punah dari hutan Indonesia.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bekantan-perjuangan-melawan-kepunahan/feed/ 0
Oh, Ternyata… Energi Surya itu Bisa Diperbaharui! https://www.greeners.co/gaya-hidup/oh-ternyata-energi-surya-diperbaharui/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=oh-ternyata-energi-surya-diperbaharui https://www.greeners.co/gaya-hidup/oh-ternyata-energi-surya-diperbaharui/#respond Tue, 18 Jul 2017 12:35:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17753 Melalui buku "Oh, Ternyata... Energi Surya itu Bisa Diperbaharui!" kita akan mengetahui bahwa matahari memberikan energi yang begitu besar dan dapat kita manfaatkan.]]>

Judul: Oh, Ternyata… Energi Surya itu Bisa Diperbaharui!
Penulis: Shoji Ozawa
Alih Bahasa: Mohammad Ali
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama-M&C
Jumlah Halaman: 64 halaman
Cetakan pertama, edisi Juni 2017

Sumber daya alam yang dimilliki oleh Bumi kini sudah kian menipis karena digunakan oleh manusia secara terus-menerus. Apabila keadaan ini dibiarkan, sumber daya alam yang ada akan terkeruk habis dan planet Bumi tak lagi bisa ditinggali. Maka dari itu, kita harus mencari sumber energi lain yang tidak akan habis terkuras, sehingga Bumi tetap dapat ditinggali oleh makhluk hidup. Melalui buku Oh, Ternyata… Energi Surya itu Bisa Diperbaharui!, kita akan mengetahui bahwa matahari memberikan energi yang begitu besar dan dapat kita manfaatkan.

Buku ini merupakan buku anak bergambar yang ditulis oleh Shoji Ozawa, seorang jurnalis dan dosen dalam bidang ilmu lingkungan asal Jepang. Buku yang terdiri dari 64 halaman ini dihiasi dengan ilustrasi yang menarik dan disajikan secara full color. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan namun padat, isi buku ini dapat dipahami oleh anak-anak dengan mudah. Buku yang terbit pada bulan Juni ini juga menarik untuk dibaca oleh orang dewasa.

Dalam buku yang terdiri dari tiga bab tersebut, terdapat penjelasan mengenai apa itu energi matahari dan penggunaan energi matahari dalam kehidupan sehari-hari. Matahari memancarkan energi sebanyak 3,8 x 1023 kW (kilo watt), dan energi matahari yang masuk ke planet Bumi memiliki kekuatan sebesar 1,77 x 1014 kW. Jika 1 kW saja bisa menyalakan lampu neon berkekuatan 12 watt sebanyak 83 buah, bisa dibayangkan kan betapa besar energi yang dihasilkan oleh matahari?

Besarnya energi matahari yang terpancar ke dalam Bumi tentu saja dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Dalam buku ini, Shoji menjelaskan bahwa energi matahari dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, pengganti baterai bagi kalkulator dan jam surya, hingga sebagai sumber energi bagi mobil bertenaga surya.

Di Jepang sendiri, energi matahari sudah dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk menggerakkan solar boat. Sesungguhnya masih banyak lagi manfaat yang dapat kita peroleh dari energi matahari, mulai dari manfaat kecil hingga manfaat yang besar.

Melihat bahwa energi matahari merupakan energi yang tak akan habis terkuras, Shoji memaparkan kepada pembaca bahwa sudah seharusnya kita memanfaatkan energi matahari secara maksimal di masa depan. Dalam bagian akhir buku ini, terdapat pula bagian indeks yang dapat memudahkan pembaca untuk menemukan istilah-istilah tertentu.

Penulis: Anggi Rizky firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/oh-ternyata-energi-surya-diperbaharui/feed/ 0
34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan, Panduan “Wajib” Jurnalis Lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/#comments Sat, 18 Jul 2015 08:38:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=10385 Judul Buku: 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan Penulis: Agus Sudibyo Jumlah Halaman: 219 halaman Terbit: 2014 Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerjasama dengan AQUA Grup Jakarta (Greeners) – Mempelajari masalah […]]]>

Judul Buku: 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan
Penulis: Agus Sudibyo
Jumlah Halaman: 219 halaman
Terbit: 2014
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerjasama dengan AQUA Grup

Jakarta (Greeners) – Mempelajari masalah lingkungan hidup, pastinya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan politik nasional, ekonomi, sosial, dan bahkan hubungan internasional. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat, maupun para profesional swasta untuk melakukan perbaikan kerusakan yang terjadi pada lingkungan.

Tidak ketinggalan, peran media pun dibutuhkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar timbul pemahaman dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pemahaman masyarakat sendiri sangat tergantung pada kemampuan media dalam memotret dan memberitakan kompleksitas permasalahan lingkungan, agar informasi yang disampaikan tidak sekadar menjadi bagian dari perdebatan politik namun juga memiliki keberpihakan terhadap lingkungan.

Sayangnya, meskipun dampak perubahan iklim sudah semakin terasa, namun “pola” jurnalisme lingkungan masih belum banyak diterapkan oleh awak media, khususnya para wartawan. Padahal, jurnalisme lingkungan bisa diaplikasikan sebagai usaha untuk menyampaikan seruan kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan hidup.

Saat berbicara tentang etika dan prinsip, jurnalisme lingkungan selalu terlihat seperti pisau bermata dua. Melalui buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan, para awak media dapat melihat dan mempelajari apa saja prinsip-prinsip dalam menyampaikan informasi lingkungan.

Andi Erna Anastasjia Walinono atau yang lebih dikenal dengan nama Erna Witoelar, dalam pengantarnya di buku 34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan mengatakan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berlangsung sangat cepat dan bahkan lebih cepat daripada pemulihannya. Oleh karena itu, kehadiran jurnalisme lingkungan diharapkan dapat mengawal permasalahan lingkungan yang terjadi.

“Jurnalisme lingkungan adalah jurnalisme yang memotret persoalan lingkungan mulai dari hulu hingga hilir. Jurnalisme ini bukanlah jurnalisme populer yang menulis isu lingkungan hanya ketika sedang menjadi perhatian jutaan umat semata,” jelas Erna seperti dikutip dari buku tersebut.

Buku panduan jurnalisme lingkungan yang dipelopori oleh Aqua Group dan bekerja sama dengan Kompas Gramedia Group ini disusun oleh mantan Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo. Agus mengangkat buah pikiran tokoh yang dikenal peduli terhadap lingkungan, di antaranya Mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah Era Presiden Abdurahman Wahid Erna Witoelar, praktisi media sosial Enda Nasution, dan Oscar Matuloh, fotografer senior LKBN ANTARA.

Buku ini ditujukan untuk para wartawan, kalangan akademisi, mahasiswa serta para blogger. Buku ini akan memandu pewarta untuk mengetahui kode etik dan rambu-rambu dalam konteks jurnalistik yang harus diperhatikan agar permasalahan lingkungan yang diangkat dapat dipahami pula oleh korporasi.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/34-prinsip-etis-jurnalisme-lingkungan-panduan-wajib-jurnalis-lingkungan/feed/ 1
Melihat Warna Warni Indonesia Dalam 100 Hari Keliling Indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/melihat-warna-warni-indonesia-dalam-100-hari-keliling-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=melihat-warna-warni-indonesia-dalam-100-hari-keliling-indonesia https://www.greeners.co/gaya-hidup/melihat-warna-warni-indonesia-dalam-100-hari-keliling-indonesia/#respond Wed, 08 Apr 2015 01:39:38 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=8462 Judul Buku: 100 Hari Keliling Indonesia Penulis: Tim 100 Hari Keliling Indonesia Jumlah Halaman: 232 halaman Terbit: Maret 2015 Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer (BIP) Berpatroli mitigas gajah di Lampung, […]]]>

Judul Buku: 100 Hari Keliling Indonesia
Penulis: Tim 100 Hari Keliling Indonesia
Jumlah Halaman: 232 halaman
Terbit: Maret 2015
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Berpatroli mitigas gajah di Lampung, menembus hutan yang telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit yang masif di Kalimantan Barat, mengunjungi kapal Rainbow Warrior milik Green Peace yang sedang berlabuh di Raja Ampat, hingga bertandang ke salah satu desa termiskin di Bali namun kini warganya menjadi pengolah kacang mete dan rosela. Semuanya itu merupakan bagian dari pengalaman tim 100 Hari Keliling Indonesia (HKI) saat mengelilingi bumi nusantara.

Kisah perjalanan tim 100 HKI tersebut dituangkan dalam buku “100 Hari Keliling Indonesia”. Sebelumnya, 100 HKI merupakan salah satu program acara yang ditayangkan di stasiun televisi swasta Kompas TV dengan judul yang sama. Kini, semua suka duka yang mereka alami selama berkeliling Indonesia, kisah-kisah di balik layar yang tidak diperlihatkan di televisi, tersaji di buku ini.

Buku ini akan mengajak pembacanya untuk melihat warna-warni Indonesia; tidak hanya mengangkat keindahan alamnya saja, tetapi juga masalah-masalah sosial dan budaya yang dialami tiap-tiap daerah.

Fraya Wowiling, produser acara 100 HKI, mengaku tidak cukup hanya 100 hari untuk mengelilingi Indonesia. Ia bersama timnya yang selama melakukan ekspedisi tidak menggunakan pesawat komersial, terpaksa molor dari jadwal yang telah ditentukan. Mereka seharusnya tiba kembali di Jakarta pada hari ke-100, namun justru masih berada di Alor, Nusa Tenggara Timur karena terkendala sarana dan prasarana yang tidak memadai dan menemui banyak “kejutan” yang tidak terprediksi.

Senada dengan Fraya, Ramon Y Tungka, pemandu acara yang juga tim penulis 100 HKI, menyatakan tidak ada waktu yang cukup untuk bisa mengenali dan memahami Indonesia karena Indonesia memiliki keunikan di tiap daerahnya. Menurutnya, masih banyak tempat di nusantara yang memiliki potensi namun belum tergali dan belum ditangani dengan baik.

“Keluar dari rumah. Quit from your comfort zone! Ketika kita datang ke suatu tempat, gunakan kepekaan hati dan kepekaan mata, setelah itu lakukan apa yang harus kamu lakukan, sebarkan ke yang lain, dan konsisten. Kesannya gampang tapi melakukannya berat,” ujar Ramon Y Tungka, saat ditemui Greeners usai peluncuran buku 100 HKI di Central Park, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Buku yang dikemas dengan bahasa yang ringan ini menyajikan secara khusus pengalaman setiap kru tim 100 HKI dalam halaman “Unforgettable Moment”. Selain itu, buku ini juga menyertakan biaya pengeluaran di setiap daerah yang dikunjungi dan satu keping DVD Behind The Scene pembuatan 100 HKI.

Penulis: Renty Hutahaean

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/melihat-warna-warni-indonesia-dalam-100-hari-keliling-indonesia/feed/ 0
Identity https://www.greeners.co/gaya-hidup/identity/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=identity https://www.greeners.co/gaya-hidup/identity/#respond Fri, 18 Jul 2014 00:00:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4766 Judul Buku : Identity Penulis : Milan Kundera, Landung Simatupang (Penerjemah) Jumlah Halaman : 175 halaman, cetakan April 2006 Penerbit : Fresh Book Mulan Kundera benar-benar cerdas meramu sebuah cerita […]]]>

Judul Buku : Identity
Penulis : Milan Kundera, Landung Simatupang (Penerjemah)
Jumlah Halaman : 175 halaman, cetakan April 2006
Penerbit : Fresh Book

Mulan Kundera benar-benar cerdas meramu sebuah cerita menjadi bagian-bagian yang penuh kejutan dengan bahasa yang liar sekaligus tidak lazim. Ia berhasil membawa pembaca merasa berada pada sebuah scene film, dan seakan-akan akan mampu menebak scene selanjutnya dengan mudah. Well, jika itu yang terjadi , maka bersiaplah untuk kecewa. Jangan keburu bernafsu untuk membalik halaman, lebih baik menikmatinya, mengikuti ceritanya, dan dapatkan jawaban dengan perasaan haru sekaligus greget.

Cerita ini berawal dari pantai Normadia, dengan setting hotel yang menghadap pantai. Chantal tiba lebih awal ketimbang Jean-Marc yang akan bergabung dengannya kemudian. Ceritanya dilanjutkan pada sebuah percakapan antara Chantal dan para pramusaji yang akhirnya mempertemukan mereka pada sebuah kegetiran yang sama akan makna diri mereka. Mereka lantas mempertanyakan hakikat dari berbagai kebetulan dari kejadian dan pertemuan dalam hidup mereka. Hal ini membawa Chantal mempertanyakan identitasnya sendiri, karena baginya, pengalaman dan obsesi adalah dua hal yang selalu menjadi rahasia.

Kundera membawa pembaca membedah sebuah wacana dalam keindahan kata seperti Immanuel Kant, hidupnya terkungkung namun pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia, yang ia ceritakan sebagai loncatan-loncatan prospektif dalam memecahkan sebuah cerita menjadi satu bagian yang utuh tanpa meninggalkan sebuah esensi dalam cerita. Loncatan cerita yang dimaksud, diantaranya bisa kita baca pada adegan Chantal menerima sebuah surat dari sosok yang tidak dikenal. Tanpa alamat, tanpa prangko, lalu tiba-tiba kita dibawa pada monolog Chantal tentang prospektif kehidupan yang sedang dialaminya.

Saat Chantal dan Jean-Marc merasa asing satu sama lain, Kundera bercerita mengenai sebuah kesadaran yang tidak disadari oleh orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Sebuah lompatan yang berani disaat mereka menghadapi sebuah problematika kehidupan tentang tercumbui, terkhianati. Kundera begitu cerdas mengembangkan cerita menjadi sangat hidup, liar dan meletup-letup. Setiap percakapan pun hadir bagai spontanitas.

Disini, pembaca akan diajak menganalisa esensi manusia, tentang sebuah keyakinan pada pola perilaku yang terus bermain-main dalam benaknya. Kundera menulis ratusan halaman untuk memaparkan identitas sebuah pasangan yang gagal dalam proses memahami satu sama lain. Pembaca pun disuguhi berbagai percakapan dan refleksi cerdas tentang cinta, kematian, dan persahabatan. (usenk)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/identity/feed/ 0
Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba https://www.greeners.co/gaya-hidup/sokola-rimba-pengalaman-belajar-bersama-orang-rimba/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sokola-rimba-pengalaman-belajar-bersama-orang-rimba https://www.greeners.co/gaya-hidup/sokola-rimba-pengalaman-belajar-bersama-orang-rimba/#respond Fri, 04 Jul 2014 00:00:24 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_review&p=4722 Judul Buku : Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba Penulis : Butet Manurung, Dodi Yuniar (Editor) Jumlah Halaman : 250 halaman, cetakan pertama 2007 Penerbit : Insist Press Buku […]]]>

Judul Buku : Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba
Penulis : Butet Manurung, Dodi Yuniar (Editor)
Jumlah Halaman : 250 halaman, cetakan pertama 2007
Penerbit : Insist Press

Buku ini merupakan catatan dari seorang petualang dan pengabdi lingkungan yang disajikan secara ‘apa adanya’, nyata, hidup, penuh dengan pengalaman langsung tangan pertama. Lewat proses pengalaman langsung ini, Butet tidak saja berhasil mendidik Orang Rimba, tapi juga belajar dari dan diajari oleh orang Rimba tentang cara pandang, budaya, perilaku, dan kehidupan Orang Rimba dengan segala kekayaannya. Sungguh pengalaman luar biasa, yang tidak akan didapat kalau Butet tetap berada diluar komunitas Orang Rimba.

”Saya sangat menghargai dengan tulus kegigihan dan kerja gila si Butet yang telah menjadi “Orang Rimba” tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai orang Batak, yang melalui itu berhasil mendampingi Orang Rimba menjadi terdidik tanpa kehilangan identitasnya sebagai Orang Rimba.”(Sony Keraf, anggota DPR-RI dan pemerhati lingkungan)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sokola-rimba-pengalaman-belajar-bersama-orang-rimba/feed/ 0