burung migran - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/burung-migran/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 16 May 2023 05:59:58 +0000 id hourly 1 Perubahan Iklim Turut Mengancam Migrasi Burung https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-turut-mengancam-migrasi-burung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-turut-mengancam-migrasi-burung https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-turut-mengancam-migrasi-burung/#respond Tue, 16 May 2023 05:59:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40062 Jakarta (Greeners) – Berdasarkan hasil pengamatan dari para pemerhati dan komunitas peneliti burung, perubahan iklim telah mengubah aktivitas migrasi burung. Migrasi burung adalah pergerakan populasi burung dari tempat berkembang biaknya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berdasarkan hasil pengamatan dari para pemerhati dan komunitas peneliti burung, perubahan iklim telah mengubah aktivitas migrasi burung.

Migrasi burung adalah pergerakan populasi burung dari tempat berkembang biaknya menuju lokasi tertentu untuk mencari makan. Hal ini terjadi setiap tahun pada waktu tertentu. Proses migrasi burung ini melibatkan sebagian besar kelompok spesies tertentu.

Oleh sebab itu, 13 Mei menjadi peringatan hari migrasi burung sedunia. Burung migrasi di alam berperan sebagai penanda kesehatan lingkungan dan juga pengendali hama alam. 

Biodiversity and Conservation Senior Officer Burung Indonesia, Jihad mengatakan, perubahan iklim menyebabkan pergesaran musim dan cuaca ekstrem. Hal ini bisa mengganggu waktu keberangkatan dan kepulangan burung.

“Pola perkembangbiakan di wilayah menjadi tak teratur. Kemudian pola hidupnya juga terganggu hingga menimbulkan kematian,” kata Jihad kepada Greeners, Senin (15/5).

Burung Migran Air Rasakan Dampaknya

Indonesia merupakan salah satu wilayah yang burung migran singgahi. Jalur migrasi ke Indonesia berada pada jalur terbang Asia Timur atau Australasia. Di Indonesia, burung air yang bermigrasi menggantungkan hidupnya pada lahan basah, dan akan hinggap cari makan di lokasi-lokasi tersebut.

Executive Coordinator Asian Waterbird Census Indonesia, Wetlands International Indonesia, Ragil Satrio menyebut, jenis burung migran air merupakan spesies yang terganggu ketika mencari makan, karena adanya pengaruh kenaikan air laut. Selain itu, hal tersebut juga membuat burung migran kekurangan pakan dan kehilangan habitat.

“Kalau kondisi normal mereka mencari makan pada air sedang surut. Nah perubahan iklim ini ada pengaruhnya dalam kenaikan air laut. Jadi pada tempat tertentu mengurangi lahan mereka untuk mencari makan,” kata Ragil.

Burung bermigrasi juga akan menyesuaikan musim dan waktu, misalnya pada bulan Mei hingga Agustus, mereka berada di tempat berkembang biaknya di belahan utara dunia. Kemudian, di Indonesia akan terlihat pada bulan September hingga November.

Sebagian besar para burung migran ini hinggap di wilayah Sumatra Selatan tepatnya di Taman Nasional Berbak Sembilan. Khususnya pada bagian pesisir timur Sumatra hingga ke Sumatra Utara. Tetapi, tidak hanya pada lokasi tersebut, burung migran juga tersebar di wilayah lainnya.

burung kuntul

Burung Kuntul, Burung Air yang Mampu Seberangi Benua. Foto: Shutterstock.

Ancaman Alih Fungsi Lahan dan Perburuan

Perubahan iklim bukanlah sebagai ancaman utama, terdapat sejumlah ancaman lainnya. Menurut Ragil, ancaman terbesar saat ini adalah alih fungsi lahan untuk migrasi burung air di lahan basah.

Lahan merupakan komponen penting untuk melindungi habitat burung migrasi. Ketika habitat tidak lagi nyaman, burung migrasi akan terganggu.

Selain itu, perburuan juga masih menjadi ancaman. Para pemburu bisa menduga waktu burung akan bermigrasi. Mereka pun telah memasang jaring untuk menangkapnya.

Kemudian, ada hal yang perlu diupayakan untuk melindungi burung bermigrasi, di antaranya tidak mengalihkan fungsi lahan basah dan memerhatikan upaya konservasi burung saat melakukan pembangunan.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-turut-mengancam-migrasi-burung/feed/ 0
Hari Migrasi Burung Dunia: Deforestasi dan Perburuan Ancam Spesies Burung Migran https://www.greeners.co/berita/hari-migrasi-burung-dunia-deforestasi-dan-perburuan-ancam-spesies-burung-migran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-migrasi-burung-dunia-deforestasi-dan-perburuan-ancam-spesies-burung-migran https://www.greeners.co/berita/hari-migrasi-burung-dunia-deforestasi-dan-perburuan-ancam-spesies-burung-migran/#respond Sun, 10 May 2020 00:00:18 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=27130 Terdapat penambahan jumlah spesies burung migrasi. Tahun lalu jumlahnya 1.777 spesies, kini meningkat menjadi 1.794 spesies.]]>

Setiap tahun, burung-burung bermigrasi untuk singgah maupun bertahan hidup di suatu wilayah. Riset yang dilakukan oleh Burung Indonesia mencatat, Indonesia termasuk ke dalam jalur terbang Asia-Timur Australasia dari 33 negara yang berada di Asia.

Spesies burung migran biasanya bergerak pada Oktober hingga akhir September. Umumnya, burung bermigrasi dari utara ketika memasuki musim gugur dan bergerak ke selatan secara bertahap. Puncak migrasi diketahui saat Desember hingga Januari. Sementara, pada bulan Maret, mereka akan kembali ke utara.

Baca juga: Pemerintah Didesak Usut Tuntas Pelanggaran HAM pada ABK Indonesia

Ferry Hasudungan, Manajer Konservasi Burung Indonesia menuturkan, terdapat penambahan jumlah spesies burung. Tahun lalu jumlahnya 1.777 spesies, kini meningkat menjadi 1.794 spesies. “Sebenarnya penambahan ini bukan temuan baru, tetapi ada yang di-split dan sub spesies tersendiri,” ucapnya, dalam webinar Hari Migrasi Burung Sedunia 2020, Jumat, 8 Mei 2020.

Menurut Ferry, spesies burung migran terbagi menjadi beberapa kriteria. Sekitar 262 spesies, kata dia, singgah dan menjadikan Indonesia sebagai tujuan migrasinya. Dari jumlah spesies tersebut 124 di antaranya telah termasuk ke dalam jenis yang dilindungi. “Dari jumlah 262 spesies ini ada 19 spesies yang terancam punah secara global,” ujarnya.

Ancaman Bagi Burung yang Bermigrasi

Burung merupakan hewan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat degradasi hutan dan krisis iklim. Burung yang bermigrasi juga sangat tergantung pada hutan untuk tempat mencari makan dan berkembang biak.

Ady Kristanto, dari Fauna & Flora International, Indonesia Programme menyebut, keterkaitan hutan sebagai ekosistem dengan burung migran sangat erat sekali. Ia menuturkan, secara alami, keseimbangan lingkungan telah tercipta di alam. Namun, ketika terjadi deforestasi keseimbangan tersebut otomatis hilang. “Burung juga merupakan indikator perubahan kualitas lingkungan,” ucapnya.

Hari Migrasi Burung Dunia

Burung Berkecet Siberia, Kerak Besi Alis Hitam, dan Kecici Belalang merupakan spesies yang diburu dan diperdagangkan. Foto: Flora & Fauna International

Ia menambahkan, apabila suatu habitat hewan hilang, akan ada penumpukan spesies tertentu di suatu tempat dan memengaruhi tempat tinggal burung lokal. Dampaknya, kata Ady, akan terjadi persaingan untuk bertahan hidup di suatu lokasi.

Masalah perburuan dan perdagangan juga menjadi salah satu yang sangat berdampak terhadap habitat burung. Pada 7 Mei lalu, Organisasi Konservasi Burung, Flight Indonesia bersama Direktorat Penegakan Hukum (Gakkum) Sumatera Utara menggagalkan penyelundupan 1.200 burung dari Aceh menuju Sumatera Utara.

Menurut Ady dampak deforestasi tidak hanya menghilangkan area mencari makan dan singgah selama burung bermigrasi, tetapi juga terjadi perubahan siklus rantai makanan, peningkatan persebaran hama, hingga terjadinya fenomena hutan sunyi.

Kawasan Konservasi

Tahun 2017 Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem telah menetapkan Surat Keterangan mengenai Kemitraan Nasional Konservasi Burung Migrasi dan Habitatnya.

Kepala Subdit Bidang Pengawetan Jenis Ditjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sri Mulyani mengatakan, pemerintah telah menyusun kemitraan nasional dengan berbagai pihak. Tugas kemitraan di tingkat nasional, di antaranya menyiapkan kebijakan kerja sama di tingkat global, mengomunikasikan dan mengoordinasikan pelaksanaan kemitraan, mensosialisasi program, mengelola data dan informasi seluruh kegiatan, hingga menghimpun bahan informasi nasional.

Sebagian wilayah di Indonesia telah menjadi tujuan lokasi burung migran. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kata dia, telah menetapkan sebagian lokasi sebagai wilayah perlindungan. “Salah satu kawasan konservasi, yaitu Taman Nasional Berbak, Sembilang, dan Taman Nasional Wasur,” kata dia.

Baca juga: Penanganan Karhutla di Daerah Butuh Pendampingan

Menurut Sri Mulyani, diperlukan usaha yang besar dalam menentukan kawasan, seperti koordinasi dengan stakeholder. Sebab, lokasi potensi berada di luar kawasan konservasi dan statusnya dapat menjadi hak milik maupun hak usaha. “Diperlukan koordinasi dengan pemerintah setempat untuk menjadikannya menyerupai kawasan konservasi,” ucapnya.

Ia mengatakan diperlukan rencana aksi untuk menominasikan lokasi kawasan baru sebagai tempat singgah burung migrasi. Informasi atau data, kata dia, dapat diperoleh dari hasil sensus wilayah yang belum teridentifikasi. “Sehingga akan banyak data yang mengidentifikasi jalur migrasi burung untuk pemantauan,” ujarnya.

Penulis: Ridho Pambudi

Editor: Devi Anggar Oktaviani

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-migrasi-burung-dunia-deforestasi-dan-perburuan-ancam-spesies-burung-migran/feed/ 0
Tikusan Kerdil, Pengembara Musim Dingin yang Pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/#respond Tue, 24 May 2016 10:55:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=13758 Tikusan kerdil (Porzana pusilla) merupakan burung pengembara yang berasal dari Siberia dan Asia timur. Burung pemalu ini lebih suka berjalan walaupun termasuk pelari yang baik.]]>

Tikusan kerdil termasuk dalam suku Rallidae yang merupakan kelompok ayam-ayaman berukuran sedang dan tersebar luas di dunia yang hidup di daerah rawa. Nama lain tikusan kerdil adalah baillon’s crake (Inggris).

Burung ini berukuran kecil, yaitu 18 cm dan memiliki paruh yang pendek berwarna kuning. Iris mata berwarna merah, mahkota dan tubuh bagian atas berwarna cokelat, bercoret hitam dan putih. Dagu berwarna putih, dada dan muka berwarna abu-abu dengan garis mata gelap. Tubuh berwarna cokelat keabu-abuan dengan coretan putih pada punggung. Pada sisi bagian bawah tubuh dan ekornya terdapat garis putih halus dengan tungkai berwarna kuning kehijauan.

Tikusan kerdil termasuk burung pemalu yang suka menyusup untuk berlindung dan bersembunyi di daerah rawa yang lebat daripada mencoba lari dari pemangsa.

Burung pemalu ini lebih suka berjalan walaupun termasuk pelari yang baik. Ia menghuni rawa-rawa dipinggir danau dan paya berumput. Jika terancam, satwa ini akan berjalan dengan cepat, tetapi secara halus dan masuk ke rumpun buluh.

Tikusan kerdil merupakan burung pengembara yang berasal dari Siberia dan Asia timur, ke selatan sampai Iran dan India utara, kadang di Sumatera dan Sulawesi. Pada musim dingin, bermigrasi ke India, Sri Lanka dan Myanmar, dan dari China selatan sampai Indonesia dan Filipina.

Faktor cuaca yang sangat ekstrim di negara asalnya membuat burung tikusan kerdil bermigrasi ke daerah yang memiliki suhu yang mendukung dan menyediakan sumber pakan. Kebanyakan merupakan pengunjung musim dingin yang jarang ke daerah dataran rendah dan berbukit. Di Pulau Jawa, burung migrasi ini dapat dijumpai di Bandung dan Jakarta.

Di Jakarta sendiri, tikusan kerdil teramati di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan hutan mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 hektare.

Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kehadiran burung migrasi di Jakarta tidak semulus perjalanan dari negara asalnya, keberadaan makhluk bersayap ini tidak luput dari perburuan, baik untuk diperdagangkan maupun menjadi santapan di meja makan. Perburuan satwa liar, terutama burung migrasi, di Indonesia masih kerap terjadi. Perlu kerjasama berbagai pihak untuk menekan angka perburuan tersebut, salah satunya melalui sosialisasi peran ekologis satwa liar di alam.

FAUNA Tikusan Kerdil, Pengembara Musim Dingin yang Pemalu_02

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/tikusan-kerdil-pengembara-musim-dingin-pemalu/feed/ 0
Ancaman Pencakar Langit Bagi Burung Migran https://www.greeners.co/ide-inovasi/ancaman-pencakar-langit-bagi-burung-migran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ancaman-pencakar-langit-bagi-burung-migran https://www.greeners.co/ide-inovasi/ancaman-pencakar-langit-bagi-burung-migran/#respond Sat, 16 Aug 2014 01:08:43 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_art_design&p=5431 Diperkirakan 1 dari 10 burung migran mati per tahun per gedung. Ya, per gedung! Dan angka tersebut merupakan angka rata-rata kota. Artinya, ada banyak burung yang mati. Toronto saja tercatat […]]]>

Diperkirakan 1 dari 10 burung migran mati per tahun per gedung. Ya, per gedung! Dan angka tersebut merupakan angka rata-rata kota. Artinya, ada banyak burung yang mati.

Toronto saja tercatat telah membangun lebih dari 950.000 gedung, yang artinya ancaman terhadap 9 juta burung setiap tahun. Bagaimana dengan Jakarta? Saat ini tercatat ada 700 gedung pencakar langit di Jakarta.

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa 100 juta dari 1 milyar burung migran mati akibat menabrak gedung di Amerika Utara setiap tahunnya.

Toronto merupakan kota yang tepat berada di tengah-tengah salah satu jalur migrasi terpadat di dunia. Kebanyakan spesies burung bermigrasi pada malam hari dan bergantung pada rasi bintang sebagai alat bantu navigasi.

Foto: news.buzzbuzzhome.com. Foto Insert: flap.org

Namun, banyak burung yang terkecoh dengan lampu-lampu silau perkotaan ketika malam hari hingga akhirnya menyebabkan burung menabrak gedung. Ketika siang hari, kaca gedung menipu burung migran. Burung-burung tidak dapat melihat kaca, yang dilihatnya hanya pantulan bayangan pohon dan langit. Akibatnya, tabrakan fatal!
Tidak heran karena jendela ada dimana-mana: gedung kantor, pertokoan, rumah makan, bahkan di rumah anda. Seperti yang diungkapkan banyak ornitologis bahwa tabrakan dengan bangunan yang dialami oleh burung menjadi penyebab utama kematian pada burung migran di Amerika Utara.

BuzzBuzz Home melaporkan bahwa FLAP (Fatal Light Awareness Program) berkomitmen untuk mengatasi masalah tersebut, dengan memastikan gedung-gedung memasang kaca ramah burung. Michael Mesure, penggagas FLAP, memiliki sebuah misi untuk menyelamatkan teman berbulunya ini, dan Kanada menyambut misi ini.

Pada tahun 2007, pemerintah kota Toronto menerapkan Panduan Pembangunan Ramah Burung untuk memastikan gedung-gedung di Toronto, baik gedung lama ataupun baru, agar lebih ramah terhadap burung, dengan menggunakan kaca bercorak yang terlihat oleh penglihatan burung. Panel kaca pada bangunan lama yang selama ini menjadi penyebab terjadinya tabrakan telah diganti, dan pengembang sekarang diharuskan untuk menggunakan kaca ramah burung baik di bangunan pemukiman juga gedung komersil.

(G33)

Sumber: inhabitat.com

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/ancaman-pencakar-langit-bagi-burung-migran/feed/ 0
Indonesia Berpotensi Kembangkan Ekowisata Pengamatan Burung Migran https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-kembangkan-ekowisata-pengamatan-burung-migran/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=indonesia-berpotensi-kembangkan-ekowisata-pengamatan-burung-migran https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-kembangkan-ekowisata-pengamatan-burung-migran/#comments Mon, 12 May 2014 07:45:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=4561 Bandung (Greeners) – Pengembangan potensi ekowisata di Indonesia sangatlah besar, salah satunya adalah ekowisata yang menyertakan kegiatan pengamatan burung (birdwatching). Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Johan Iskandar, Ph.D., Guru Besar […]]]>

Bandung (Greeners) – Pengembangan potensi ekowisata di Indonesia sangatlah besar, salah satunya adalah ekowisata yang menyertakan kegiatan pengamatan burung (birdwatching).

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Johan Iskandar, Ph.D., Guru Besar Etnobiologi Fakultas Matematika & IPA, Universitas Padjadjaran (Unpad), dalam sebuah acara peringatan Hari Burung Migran Se-Dunia yang digelar oleh komunitas Bird Conservation Society (Bicons) dan Be Wildlife Photography (BWP) di Kampus Pascasarjana Ilmu Lingkungan, Unpad, Bandung pada hari Sabtu (10/5) lalu.

Kegiatan yang bertajuk “Migrasi Burung Di Parahyangan” ini digelar dalam rangka menyambut musim migrasi burung dari daerah belahan bumi utara menuju belahan bumi selatan yang jalurnya melalui kawasan Pulau Jawa.

Menurut Johan, di beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa, momentum migrasi burung sudah dikembangkan menjadi salah satu konten ekowisata dan sangat mungkin diterapkan di Indonesia.

“Potensinya sangat besar, apalagi banyak turis baik asing maupun domestik kini sudah mulai menempatkan ekowisata sebagai pilihan utama dalam berlibur. Misalnya, kunjungan ke suatu desa yang sekaligus bisa menikmati budaya lokal, pangan lokal dengan ditambah jasa guide untuk kegiatan pengamatan burung” jelasnya.

Burung migran melakukan perjalanan (migrasi) dari belahan bumi utara menuju selatan dalam rangka mencari daerah yang lebih hangat serta suplai makanan. Ketika musim dingin tiba, mereka secara berkelompok (ribuan) bergerak menuju daerah yang lebih hangat.

Terdapat banyak jenis burung migran yang “mampir” di kawasan Indonesia setiap tahunnya. Bahkan beberapa diantaranya terancam perburuan liar untuk dikonsumsi. Seperti disampaikan Prof. Johan kepada Greeners, wilayah yang paling dominan tinggi dalam hal ancaman perburuan liar burung migran berada pada lokasi Cirebon dan Indramayu.

Johan berharap apabila ekowisata yang mengikutsertakan pengamatan burung migran bisa dikembangkan, akan membantu meningkatkan edukasi yang benar kepada masyarakat dan mengarah kepada konservasi burung di Indonesia pada umumnya.

Kegiatan “Migrasi Burung Di Parahyangan” ini digelar dalam dua hari. Talkshow dan diskusi hari pertama (Sabtu 10/5), hari kedua (Minggu 11/5) dilanjutkan dengan pengamatan burung di daerah Panaruban, Subang, dipandu oleh komunitas BWP sebagai komunitas fotografi pecinta hidupan liar.

(G03)

]]>
https://www.greeners.co/berita/indonesia-berpotensi-kembangkan-ekowisata-pengamatan-burung-migran/feed/ 1