burung terancam punah - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/burung-terancam-punah/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 12 Jun 2023 07:35:21 +0000 id hourly 1 Bertambah 11 Spesies, Indonesia Kini Miliki 1.826 Spesies Burung https://www.greeners.co/berita/bertambah-11-spesies-indonesia-kini-miliki-1-826-spesies-burung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bertambah-11-spesies-indonesia-kini-miliki-1-826-spesies-burung https://www.greeners.co/berita/bertambah-11-spesies-indonesia-kini-miliki-1-826-spesies-burung/#respond Mon, 12 Jun 2023 06:52:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40408 Jakarta (Greeners) – Jumlah spesies burung di Indonesia pada tahun 2023 bertambah sebanyak 11 spesies menjadi 1.826 spesies. Peningkatan ini juga berdampak pada jumlah jenis burung endemis menjadi 541 jenis. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Jumlah spesies burung di Indonesia pada tahun 2023 bertambah sebanyak 11 spesies menjadi 1.826 spesies. Peningkatan ini juga berdampak pada jumlah jenis burung endemis menjadi 541 jenis.

Pada tahun 2022, jumlah burung di Indonesia sebanyak 1.818 spesies dan 534 spesies endemis. Namun sayangnya, tahun 2023, Indonesia kehilangan 3 spesies burung.

Conservation Partnership Adviser Burung Indonesia, Ria Saryanthi mengatakan, tujuh dari 11 spesies baru yang diperkenalkan tahun ini adalah spesies endemis Indonesia berdasarkan hasil pemecahan taksonomi.

“Revisi taksonomi burung masih menjadi faktor utama terjadinya penambahan spesies di Indonesia, diikuti dengan adanya deskripsi spesies baru,” kata Ria dalam keterangannya, di Jakarta, Senin (12/6).

Tak hanya itu, hal ini sekaligus menambah pemahaman masyarakat tentang keanekaragaman spesies burung di Indonesia yang semakin membaik tiap tahunnya. Deskripsi spesies baru juga turut berkontribusi pada penambahan satu spesies burung, yaitu kacamata wangi-wangi (Zosterops paruhbesar).

Menurut para peneliti yang mendeskripsikan spesies tersebut, kacamata wangi-wangi secara morfologis dan genetik berbeda dari spesies burung berkacamata lainnya. Oleh karena itu, hal inilah yang menjadi dasar utama penetapan spesies burung kacamata di Pulau Wangi-wangi sebagai spesies burung baru.

Indonesia Miliki Burung Endemis Terbanyak

Dengan adanya penambahan jumlah spesies burung, memantapkan posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah spesies burung endemis terbanyak di dunia. Dari 11 spesies yang bertambah pada periode tahun ini, tujuh di antaranya memiliki persebaran yang terbatas di dalam wilayah Indonesia.

Ketujuh burung tersebut antara lain ceret buru (Locustella disturbans, endemis Pulau Buru), ceret seram (Locustella musculus, endemis Pulau Seram), dan cikrak sulawesi (Phylloscopus nesophilus, endemis Pulau Sulawesi).

Selain itu, terdiri juga spesies kacamata wangi-wangi (Zosterops paruhbesar, endemis Pulau Wangi-wangi), kacamata wakatobi (Zosterops flavissimus, endemis Kepulauan Wakatobi), burung-madu wakatobi (Cinnyris infrenatus, endemis Kepulauan Wakatobi), dan cabai flores (Dicaeum rhodopygiale, endemis Pulau Flores).

Berdasarkan data dari Burung Indonesia, jumlah spesies yang dilindungi saat ini sebanyak 558 spesies, 541 jumlah spesies endemis, dan jumlah spesies sebaran terbatas sebanyak 468 spesies. Kemudian burung yang mendekati terancam punah tercatat sebanyak 239 spesies.

Status Burung Indonesia. Foto: Burung Indonesia

Hasil Pemecahan Taksonomi

Setelah diteliti, sebanyak sembilan spesies burung yang bertambah merupakan hasil dari pemecahan taksonomi. Keseluruhan spesies tersebut terdapat di Wallacea dan dua di antaranya juga tersebar di wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Sumatra.

Wallacea merupakan kawasan biogeografis yang meliputi Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Selain ada penambahan spesies, tahun ini terdapat 10 spesies burung di Indonesia yang status keterancamannya belum dievaluasi.

Hal tersebut karena minimnya deskripsi dan informasi. Oleh karena itu, masih butuh lebih banyak penelitian, pemantauan, dan penelusuran untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/bertambah-11-spesies-indonesia-kini-miliki-1-826-spesies-burung/feed/ 0
Elang Jawa, Burung Eksotis Mirip Garuda Bernasib Kritis https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-burung-eksotis-mirip-garuda-bernasib-kritis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-jawa-burung-eksotis-mirip-garuda-bernasib-kritis https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-burung-eksotis-mirip-garuda-bernasib-kritis/#respond Fri, 09 Sep 2022 03:55:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37280 Elang jawa (Nisaetus bartelsi) memang tergolong eksostis. Rupanya mirip Garuda. Karena itulah, perdagangan Elang jawa tinggi dan membuat burung bertulang belakang (vertebrata) ini berstatus terancam punah. Saat menjabat, Presiden Soeharto […]]]>

Elang jawa (Nisaetus bartelsi) memang tergolong eksostis. Rupanya mirip Garuda. Karena itulah, perdagangan Elang jawa tinggi dan membuat burung bertulang belakang (vertebrata) ini berstatus terancam punah.

Saat menjabat, Presiden Soeharto menetapkan Elang jawa menjadi satwa nasional melalui Keputusan Presiden No 4 Tahun 1993 Tentang Flora Fauna Nasional. Kala itu ia menetapkan “Elang Jawa sebagai Satwa Kebanggan Nasional” karena kemiripannya dengan burung Garuda.

Tahun 1820, Van Hasselt dan Kuhl sudah mengoleksi Elang jawa. Saat itu, burung ini mereka anggap Elang botok. Dua spesimen burung ini mereka dapat dari Gunung Salak dan akhirnya berhasil Museum Leiden, Belanda koleksi.

Kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru yang lebih spesifik, yaitu bartelsi. Lalu di akhir tahun 1953, D. Amadon memberi usulan peningkatan jenis menjadi Spizaetus bartelsi dan kini menjadi Nisaetus bartelsi.

Morfologi dan Sebaran Elang jawa

Secara umum, elang asli Indonesia ini mempunyai ukuran tubuh sedang dengan tinggi sekitar 70 cm dengan rentang sayap mencapai 100 cm. Bersayap dan berbulu.

Jika kita amati, pada bagian kepala terdapat jambul bulu berjumlah 2-4 helai dengan panjang sekitar 12 cm. Jambul Elang Jawa adalah bulu berwarna hitam dengan ujung berwarna putih. Keunikan ini menjadi ciri khas unik sehingga kerap dapat julukan Elang Kuncung. Secara umum warna bulu keseluruhan adalah cokelat, terutama pada bagian punggung dan sayap.

Elang adalah burung karnivora, yaitu pemakan daging. Di alam liar, Elang jawa berburu reptil, ayam, mamalia kecil, dan burung-burung lainnya. Kaki Elang Jawa memiliki cakar yang tajam dan paruh yang sangat kuat, organ ini berfungsi untuk mencabik daging mangsanya.

Sebaran burung ini berada di ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) sampai ujung timur (Semenanjung Blambangan Purwo) Pulau Jawa. Bahkan ada temuan terbaru, burung ini juga terdapat di Pulau Bali.

Tapi burung ini hanya terbatas di wilayah hutan primer dan daerah peralihan antara dataran rendah dan pegunungan. Dengan kata lain, kawasan lereng adalah lokasi spesial Elang jawa.

Sarang Elang Jawa berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kecenderungan topografinya curam, seperti lereng tebing atau gunung, dekat dengan sumber air atau sungai, serta berjarak sekitar 500 meter dengan wilayah terbuka.

Menariknya, Elang jawa akan meletakkan sarang burungnya di ketinggian 16 meter. Beberapa pohon menjadi pilihan meletakkan sarangnya tersebut seperti pohon saninten (Castanopsis argentea), pohon rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus sundaicus). Ada pula pohon tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii) dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus) dengan tinggi lebih dari 30 meter dan ditumbuhi banyak liana.

Ancaman dan Statusnya di Alam

Meski menyandang gelar satwa kebanggaan nasional, perlindungan dan statusnya di alam terancam. IUCN menyebut status Elang jawa endangered (EN). Status ini berarti spesies tersebut sangat mungkin punah di daerah asalnya dalam waktu dekat dan populasinya di perkiraanya kurang dari 2.500 individu dewasa.

Beberapa faktor ancaman terhadap Elang jawa antara lain rusaknya habitat, perburuan liar untuk perdagangan satwa. Apalagi perkembangbiakan Elang jawa cenderung lama. Burung ini monogami dan hanya bertelur satu butir tiap 2-3 tahun sekali.

Sementara itu dalam satu tahunnya, perdagangan Elang Jawa dapat mencapai 30-40 ekor. Bahkan pada tahun 2015, sebanyak 121 Elang Jawa oknum perdagangkan secara daring hanya dari lima grup jual beli. Tingginya perdagangannya ini karena eksostisme Elang Jawa sebagai burung Garuda.

Taksonomi Elang jawa (Nisaetus bartelsi)

Penulis : Ady Kristanto

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-jawa-burung-eksotis-mirip-garuda-bernasib-kritis/feed/ 0
Burung Madi Hijau, Ahli Kamuflase yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/#respond Sun, 04 Sep 2022 03:00:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37226 Burung madi hijau kecil pintar bersembunyi. Berkat bulu-bulunya yang berwarna hijau, hewan ini dapat berkamuflase di tengah rimbunnya dedaunan. Meski punya suara yang indah, hewan ini tidak terlalu cerewet seperti […]]]>

Burung madi hijau kecil pintar bersembunyi. Berkat bulu-bulunya yang berwarna hijau, hewan ini dapat berkamuflase di tengah rimbunnya dedaunan. Meski punya suara yang indah, hewan ini tidak terlalu cerewet seperti burung pengicau kebanyakan.

Madi hijau dikenal juga sebagai green broadbill. Hewan ini tergabung ke dalam famili Calyptomenidae dan genus Calyptomena, sehingga memiliki nama ilmiah Calyptomena viridis.

Sebelumnya, spesies satu ini dimasukkan ke dalam famili Eurylaimidae. Namun berkat riset DNA lanjutan, diketahui bahwa spesies C. viridis memiliki lebih banyak kemiripan dengan kelompok Calyptomena.

Genus Calyptomena sendiri membawahi tiga spesies burung, yakni C. viridis, C. hosii, dan C. whiteheadi. Ketiganya sama-sama berasal dari wilayah Indonesia, meski distribusi C. viridis terbilang paling luas.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Madi Hijau

Burung madi hijau dapat kita kenali dari warna bulunya yang khas. Warna hijau tersebut sangat mirip dengan warna dedaunan, sehingga membantu menyamarkan eksistensinya saat sedang bertengger.

Tidak cuma hijau, bulu burung ini juga dihiasi oleh corak hitam pada bagian sayap dan telinganya. Corak pada sayapnya itu terlihat sangat unik karena membentuk seperti tiga garis yang melintang.

Dibandingkan tiga saudaranya, ukuran green broadbill memang tergolong yang paling kecil. Panjang tubuhnya cuma mencapai 17 cm, sedangkan dua spesies lainnya dapat berbiak hingga 20 cm lebih.

Spesies jantan dan betina tidak memiliki perbedaan yang terlalu besar. Namun corak burung betina biasanya lebih kusam, mereka juga tidak memiliki tanda hitam pada bagian sayap dan telinganya.

Paruh burung ini sangat kecil, bahkan hampir tidak terlihat karena tertutupi oleh bulu-bulu wajah. Kaki dan ekor mereka pun demikian, sedangkan kepala dan badannya terlihat membulat atau buntal.

Habitat dan Distribusi Burung Madi Hijau

Burung madi hijau dapat kita temukan di kawasan hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Meskipun sangat jarang, di Pulau Sumatra hewan ini disebut-sebut dapat menjangkau wilayah berketinggian 1.700 meter dpl. Sedangkan di Kalimantan, jangkauan jelajahnya bisa mencapai 1.200 meter dpl.

Distribusinya sendiri terbagi berdasarkan habitat subspesiesnya. Kelompok ini setidaknya mempunyai tiga subspesies, dengan peta penyebaran sebagai berikut:

  • C. v. viridis tersebar di Pulau Sumatra, Nias, Pulau Batu, Kepulauan Lingga, Kepulauan Natuna Utara, dan Kalimantan
  • C. v. caudacuta tersebar di Myanmar selatan, Thailand barat daya dan Semenanjung Malaysia, termasuk kepulauan Rah dan Phuket
  • C. v. siberu tersebar di Kepulauan Mentawai meliputi wilayah Siberut, serta Pagai utara dan selatan.

Beberapa sumber menyebut bahwa green broadbill sempat ditemukan di Singapura dan Pulau Pinang. Namun populasinya semakin jarang terlihat, bahkan hampir bisa dikatakan punah.

Melansir IUCN Red List, status konservasi C. viridis berada pada kategori “near threatened” atau hampir terancam. Tren populasinya pun semakin menipis akibat deforestasi hutan dan kerusakan habitat.

Perilaku dan Kebiasaan Burung Madi Hijau

Burung madi hijau hidup secara soliter atau sendirian. Mereka acap kali terlihat bertengger pada tajuk pohon, berdiam diri sambil memantau makanan yang ada di sekitar hutan.

Jika berkicau, suara burung ini terdengar merdu dan menenangkan. Karena itu pula lah, banyak masyarakat yang tertarik memburu burung tersebut untuk dijadikan hewan peliharaan.

Di alam liar, green broadbill memakan buah-buahan dan spesies invertebrata. Mereka merupakan golongan burung penetap, yang melakukan perpindahan secara lokal mengikuti musim buah di hutan.

Di Pulau Sumatra, satwa ini berbiak pada bulan Januari hingga Juni. Sarangnya mirip seperti buah labu yang terbuat dari serat tumbuhan, menggantung di percabangan pohon setinggi 1–2 meter di atas tanah.

Betina menghasilkan 1–3 butir telur berwarna putih dalam sekali berbiak. Anak-anaknya tetap diasuh oleh sang induk saat masih kecil, sedangkan waktu pendewasaannya dicapai pada usia 22–23 hari.

Taksonomi Spesies Calyptomena Viridis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/feed/ 0
Burung Air, Bertahan di Tengah Kerasnya Cengkraman Aktivitas Manusia https://www.greeners.co/aksi/burung-air-bertahan-di-tengah-kerasnya-cengkraman-aktivitas-manusia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-air-bertahan-di-tengah-kerasnya-cengkraman-aktivitas-manusia https://www.greeners.co/aksi/burung-air-bertahan-di-tengah-kerasnya-cengkraman-aktivitas-manusia/#respond Sun, 09 Jan 2022 03:54:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34944 Jakarta (Greeners) – Semarak kicauan burung air dari balik hutan mangrove Teluk Jakarta, menandai masih adanya kehidupan “hijau” di sana. Dalam bayangan awam, Teluk Jakarta menjadi tempat muara dari sampah […]]]>

Jakarta (Greeners) – Semarak kicauan burung air dari balik hutan mangrove Teluk Jakarta, menandai masih adanya kehidupan “hijau” di sana. Dalam bayangan awam, Teluk Jakarta menjadi tempat muara dari sampah dan limbah yang dibuang oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Mendekati kehidupan burung-burung di Teluk Jakarta, seolah membuka mata dan kesadaran untuk melestarikan dan menjaga habitat dan rumah kita bersama di jantung ibu kota.

Kondisi Teluk Jakarta masih menjadi pilihan “rumah” bagi burung air. Pasalnya, Teluk Jakarta merupakan salah satu lokasi yang mendukung burung-burung air dan laut untuk mencari makan berbiak serta beristirahat.

Namun bisa jadi para satwa ini memang tak punya pilihan rumah ternyaman lainnya. Riuhnya pembangunan dan kondisi udara di ibu kota seolah tak satwa pedulikan demi tetap bertahan hidup.
Tampak burung-burung kuntul saling berkejaran dan mencari makan. Itik benjut yang asik menikmati mandi di pagi hari, serta pecuk ular Asia yang dengan tenang mengepakkan sayapnya.

Pergerakan aktivitas burung-burung itu terekam dalam kamera penggiat satwa Ady Kristanto bersama kawan-kawannya dalam Jakarta Birdwatcher Society (JBS). Tak sekadar memotret, komunitas ini juga mencatat jumlah spesies burung. Sebanyak 19 spesies burung air dan laut yang komunitas catat sebagai bentuk partisipasi sensus burung air Asia (Asian Waterbird Census). Kegiatan ini bagian dari International Waterbird Census yang digelar setiap tahun.

Sensus Rutin Burung Air Setiap Tahun

Sejak tahun 2010, JBS telah berpartisipasi dalam agenda sensus burung air ini. Targetnya, kata Ketua JBS, Ady Kristanto melihat fluktuasi perkembangan jenis-jenis burung yang ada di Jakarta. Data kemudian International Waterbird Census catat dan kumpulkan.

“Dari data yang ada itu kemudian dikembalikan ke daerah masing-masing apakah nantinya akan ada tindak lanjut. Misalnya kalau ada spesies yang berkurang maka harus ada penghijauan, kita analisis lebih lanjut,” Kata Adi kepada Greeners yang ikut serta dalam survei tersebut, di Perairan Jakarta, Sabtu (8/1).

Berdasarkan pencatatan, terdapat 19 spesies burung air dan laut. Di antaranya Cangak abu, Blekok sawah, Itik benjut, Cerek krenyut, Bambangan hitam, serta Gagang bayam timur. Cerek krenyut merupakan spesies burung yang paling banyak (95 individu). Sedangkan, spesies yang paling sedikit yaitu Bambangan hitam dan Gagang bayam timur (1 individu).

Menurut pencatatan, JBS juga menemukan burung-burung migran yang sekadar singgah atau mencari makan di Teluk Jakarta. Misalnya, burung Gagang bayam timur, burung migran yang berkembang biak di Indonesia, Australia hingga Selandia Baru.

Beberapa jenis burung migran lainnya berasal dari belahan Utara, seperti Siberia, Rusia, hingga China. Saat musim dingin di negara asalnya, mereka mengunjungi Indonesia. Awal tahun, sambung Ady merupakan momen yang tepat untuk melakukan sensus burung air dan laut. Mereka JBS sinyalir telah menetap di Indonesia.

“Bulan Oktober mulai datang ke sini lalu menetap hingga Februari, Maret persiapan balik lagi dan April mereka bergerak ke Utara,” ungkapnya.

Komunitas JBS sejak tahun 2010 sudah melakukan survei burung air agar mendapat perlindungan dari ancaman kepunahan. Foto: Ramadani Wahyu

Adaptasi di Tengah Beratnya Ekosistem

JBS telah menghimpun data ragam spesies burung yang ada di Teluk Jakarta sejak 12 tahun yang lalu. Fluktuasi jenis spesies burung imbas adaptasi ekosistem merupakan hal yang tak dapat komunitas pungkiri. Bisa jadi semakin menambah atau mengurangi spesies yang ada.

Terekam dalam kamera, seekor kuntul dengan lahap memakan jeroan. Adapun, burung kuntul biasa memakan ikan, katak hingga serangga. “Beberapa di antara mereka juga tampak mengais sampah,” imbuh Ady.

Penumpukan sampah terlihat saat mengitari kawasan Kali Muara Angke. Tak hanya sampah organik, sampah-sampah plastik terlihat mencolok. Hal senada juga terlihat di kawasan pulau hasil reklamasi. Terlepas sisi negatifnya, menurut Ady adanya proyek reklamasi justru menjadikan habitat baru, khususnya bagi burung-burung pantai. Endapan lumpur bersama penumpukan sampah merupakan tempat ternyaman mereka untuk mencari makan.

“Mulai ada reklamasi tahun 2015-2016 itu kita mulai mencatat burung yang tadinya sulit dijumpai. Mereka juga menyesuaikan dengan banyaknya sampah,” ungkapnya.

Meski begitu kehadiran sampah di satu sisi sangat mengganggu ekosistem yang ada di kawasan Teluk Jakarta. Tahun 2018, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengerahkan pasukan untuk mengangkut 50 ton sampah yang ada di kawasan itu.

Ady tak menampik bahwa sampah yang ada di Teluk Jakarta telah berkurang pesat dibanding sebelumnya. Namun, di sisi lain kehadiran sampah ternyata turut menyeimbangkan habitat dari burung-burung air dan laut.

“Kehadiran sampah tampak terganggu dari definisi kita, tapi kalau melihat perkembangan burung di sana mereka sih nyaman saja. Artinya mereka pun beradaptasi selama mereka masih menemukan pakan di situ mereka bertahan,” kata dia.

Ancaman Kepunahan di Depan Mata

Burung merupakan hewan yang sangat rentan terhadap perubahan habitat. Ancaman kepunahan membuat keberadaan mereka sangat rentan. Utamanya, perburuan yang kian marak yang karena latar belakang kondisi ekonomi dan sosial.

“Kalau di Jakarta masih aman. Tapi di Karawang, Bekasi burung-burung (migran) ditembaki untuk dijual,” tegasnya.

Beberapa jenis burung yang menjadi favorit untuk dijual yaitu burung Kareo. Sementara burung yang terancam punah yaitu Bangau bluwok yang populasinya hanya 500-1000 individu saja.

Upaya perlindungan dan pelestarian burung air tampaknya belum menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah. Mengacu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 20 Tahun 2018, ada sebanyak 919 jenis tumbuhan dan satwa yang pemerintah lindungi. Adapun sebanyak 562 atau 61 % di antaranya merupakan jenis burung.

Ady mendorong agar pemerintah secara maksimal mensosialisasikan peraturan yang ada. “Sudah ada aturannya, tapi tidak tersosialisasi dengan baik. Imbauan di taman kota sudah ada, tapi belum masif,” tandasnya.

Simak hasil survei terbaru burung air di Teluk Jakarta

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/aksi/burung-air-bertahan-di-tengah-kerasnya-cengkraman-aktivitas-manusia/feed/ 0
Konservasi Burung Cikalang Christmas Lewat Seni https://www.greeners.co/aksi/konservasi-burung-cikalang-christmas-lewat-seni/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=konservasi-burung-cikalang-christmas-lewat-seni https://www.greeners.co/aksi/konservasi-burung-cikalang-christmas-lewat-seni/#respond Fri, 07 Jan 2022 05:30:09 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=34927 Jakarta (Greeners) – Kolaborasi gerakan konservasi dengan pelaku seni ternyata punya pengaruh besar untuk mendorong konservasi satwa dan kelestarian lingkungan. Salah satunya untuk melestarikan burung Cikalang Christmas. Peneliti mengugah kesadaran […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kolaborasi gerakan konservasi dengan pelaku seni ternyata punya pengaruh besar untuk mendorong konservasi satwa dan kelestarian lingkungan. Salah satunya untuk melestarikan burung Cikalang Christmas. Peneliti mengugah kesadaran masyarakat lewat berbagai sentuhan seni.

Keberadaan burung asal Pulau Christmas, Australia, Cikalang Christmas mulai terancam punah. Burung Cikalang Christmas kerap mencari makan di perairan Teluk Jakarta. Burung yang populasinya hanya 2.400 hingga 4.800 individu ini amat terpengaruh tekanan aktivitas manusia. Misalnya, mulai dari eksploitasi besar-besaran, pemberian racun, terkena alat pancing, hingga tercemarnya polusi pembuangan limbah.

Setelah 11 tahun meneliti burung Cikalang Chirstmas, Koordinator Burung Laut Indonesia Fransisca Noni merasa perlu mengedukasi masyarakat melalui pembuatan karya-karya seni. Tujuannya, agar masyarakat mudah menerima keberadaan mereka sebagai peneliti.

“Kita biasa hanya bergelut pada data yang kaku dan sulit menjangkau mereka. Tapi melalui karya seni, mungkin pesan kami bisa tersampaikan,” katanya dalam diskusi virtual Komunitas Burung Laut Indonesia bertema Karya Seni untuk Mendukung Konservasi, di Jakarta, Kamis (6/1).

Pin burung Cikalang Chirstmas merupakan karya seni pertama buah karya anak-anak di SDN Pulau Untung Jawa 01 Pagi di Kepulauan Seribu, Jakarta. Karya seni ini lahir bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Setelah itu, turut bermunculan berbagai bentuk karya seni lain, seperti kaos, tas, hingga ajakan pelestarian pelestarian burung langka ini.

Edukasi ke Masyarakat Garda Terdepan Konservasi Cikalang Christmas

Fransisca menambahkan, yang tak kalah penting adalah memastikan edukasi konservasi tersampaikan pada masyarakat sekitar yang terlibat interaksi langsung dengan burung Cikalang Chirstmas di Teluk Jakarta.

Menurutnya, burung Cikalang Christmas kerap menjadi penanda keberadaan ikan yang membantu para nelayan. Berbagai aktivitas kolaborasi seni dan konservasi turut dilakukan bersama dengan para nelayan. Aksi tersebut seperti pembuatan kalender, kaos, hingga workshop yang hasilnya diilustrasikan dalam bentuk visual.

“Sebagai garda terdepan, para nelayan memiliki fungsi penting untuk menjaga habitat Cikalang Chirstmas dan menyebarkan informasi ke sesama nelayan lainnya,” ucapnya.

Abdurrahman atau Doge, Filmmaker Burung Cikalang Christmas di Teluk yang Riuh, menyatakan saat ini, platform teknologi digital sangat berpotensi menyuarakan konservasi burung Cikalang Christmas. Hal ini untuk memastikan kemasan dan bahasa produk seni ciptaannya sesuai dengan karakteristik masyarakat.

“Misalnya, untuk film-film dokumenter selama ini kurang masyarakat lirik. Kemudian saya berpikir bagaimana melalui film setidaknya kita membangun kesadaran konservasi. Pesan utamanya adalah menantang mereka untuk perlu berbagi ruang dengan makhluk hidup di luar,” ungkap Doge.

Peranan Perempuan untuk Keberlanjutan Konservasi

Penyadaran konservasi melalui seni ini juga melibatkan peran perempuan dan anak. “Melalui seni yang lebih fun, konservasi bisa masyarakat awam terima secara luas, mulai dari anak-anak dan orang dewasa,” kata Penggagas Cikalang Project, Anna R. Septiana.

Anna kerap membuat benda-benda yang bernilai seni konservasi melalui kerajinan kreatif Do It Yourself (DIY). Ia melukis di tas dan sepatu yang sasaran utamanya anak-anak. Menariknya, menurut Anna dengan menyasar anak-anak maka dia juga turut menyadarkan orang tua anak-anak tersebut.

“Misalnya, kita mempunyai buku cerita. Nah, anak-anak yang belum bisa baca ini pasti akan dibantu cerita oleh ibu mereka. Dengan cara itu orang tua teredukasi juga,” papar Anna.

Menurut Anna, perempuan memiliki posisi strategis sebagai pelaku edukasi konservasi. Hal itu terungkap pada salah satu jurnal perempuan dalam konservasi. Ada kecenderungan perempuan menjadi pelaku keberlanjutan konservasi.

“Ketika seorang perempuan merasa berdaya di satu komunitas, ia akan mempunyai kemampuan untuk menceritakan kembali melalui edukasi konservasi ke teman sesama perempuannya. Ia juga mampu mengedukasi ke anak-anak,” pungkasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

]]>
https://www.greeners.co/aksi/konservasi-burung-cikalang-christmas-lewat-seni/feed/ 0
Elang Harpy, Burung yang Berbiak Setinggi Manusia Remaja https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-harpy-burung-yang-berbiak-setinggi-manusia-remaja/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=elang-harpy-burung-yang-berbiak-setinggi-manusia-remaja https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-harpy-burung-yang-berbiak-setinggi-manusia-remaja/#respond Thu, 09 Dec 2021 03:00:52 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=34640 Elang harpy adalah salah satu jenis burung terbesar yang ada di dunia. Hewan berordo Accipitriformes ini berkerabat dengan spesies rajawali Papua (Harpyopsis novaeguineae), serta mampu berkembang biak hingga setinggi manusia […]]]>

Elang harpy adalah salah satu jenis burung terbesar yang ada di dunia. Hewan berordo Accipitriformes ini berkerabat dengan spesies rajawali Papua (Harpyopsis novaeguineae), serta mampu berkembang biak hingga setinggi manusia remaja.

Harpia harpyja merupakan nama binomial spesies elang harpy. Secara internasional, burung ini publik kenal juga sebagai American harpy eagle atau Brazilian harpy eagle.

Mereka mempunyai sinonim binomial, yakni Vultur harpyja. Jika kita lihat dari klasifikasinya, genus Harpia bersama dengan Harpyopsis dan Morphnus membentuk subfamili Harpiinae.

American harpy eagle sendiri tergabung dalam famili Accipitridae. Ini merupakan satu dari tiga spesies burung pemangsa, yang mencakup burung-burung berukuran kecil hingga besar.

Morfologi dan Ciri-Ciri Elang Harpy

Tinggi rata-rata elang harpy bisa mencapai 90-100 cm dengan berat 9 kg. Mereka memiliki rentang sayap hingga 2,24 meter, namun tidak bisa digunakan untuk terbang jarak jauh.

Hewan berkelas Aves ini merupakan pemangsa terkuat sekaligus paling besar di area hutan hujan. Uniknya, sang betina biasanya memiliki ukuran tubuh lebih besar daripada pejantan.

Spesies H. harpyja juga dapat kita cirikan melalui corak bulu-bulunya. Mereka mempunyai bulu abu-abu gelap dengan garis putih, serta terdapat garis hitam pada bagian lehernya.

Pada beberapa spesies, bulu kepala burung harpy terlihat abu-abu serta berbentuk seperti mahkota. Ini biasanya akan mengembang, terutama jika burung tersebut merasa terancam.

Ukuran kaki American harpy eagle setidaknya setara dengan diameter lengan anak kecil. Bagian ini dilengkapi dengan cakar panjang dan tajam, yang dapat tumbuh hingga 13 cm.

Karaktersitik dan Kebiasaan Elang Harpy

Berbicara soal elang harpy, tentu tidak bisa dilepaskan dari reputasinya sebagai hewan yang setia. Spesiesnya tergolong monogami dan dapat berkembang biak pada usia 5-30 tahunan.

Di alam liar dan penangkaran, harapan hidup Brazilian harpy eagle mencapai 25-35 tahun. Namun burung betina hanya menghasilkan 1-2 butir telur tiap dua hingga tiga tahun sekali.

Menariknya, mengerami telur adalah tugas induk betina dan jantan. Ini berlangsung selama dua bulan, saat menetas anak akan tetap diberi makan oleh induknya sampai usia 10 bulan.

Untuk memenuhi asupan makanan, H. harpyja berburu monyet, kukang dan satwa arboreal lainnya. Mereka bahkan dapat mengonsumsi rusa muda dan reptil, seperti ular serta iguana.

Saat berburu elang harpy dapat terbang dengan kecepatan 80 km per jam. Pejantan mampu menaklukkan mangsa seberat 7,7 kg, sedang betina dapat membawa buruan seberat 10 kg.

Habitat dan Populasi Elang Harpy

Umumnya, individu Brazilian harpy eagle dapat kita temukan di wilayah hutan hujan tropis dataran rendah sampai pada ketinggian 900-2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Distribusinya terbilang cukup sempit, sebab hanya pakar jumpai di negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil, Ekuador, Guyana, Suriname, Guyana Prancis, Kolombia, serta Bolivia.

Venezuela, Paraguay, Peru dan timur laut Argentina juga termasuk habitat elang Harpy. Ia dapat kita temukan pula di Meksiko dan Amerika Tengah, walau dengan populasi yang kecil.

Tak bisa kita pungkiri, aktivitas perburuan liar berperan besar mengurangi populasi burung tersebut. Kondisi ini bahkan diperparah dengan maraknya deforestasi di Benua Amerika.

Menurut IUCN Red List, status konservasi H. harpyja berada di level ‘near threatened’ atau mendekati terancam. Populasinya diperkirakan hanya ada 50.000 individu di seluruh dunia.

Taksonomi Spesies Harpia Harpyja

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/elang-harpy-burung-yang-berbiak-setinggi-manusia-remaja/feed/ 0
Bangau Tongtong, Burung Kepala Botak Penghuni Lahan Basah https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/#respond Sat, 11 May 2019 07:29:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=23299 Leptoptilos javanicus atau yang dikenal dengan bangau tongtong merupakan salah satu kelas aves yang mempunyai keunikan dari bentuk kepalanya yang botak. Menurut Birdlife Internasional, populasi bangau tongtong di Indonesia pada tahun 2003 diperkirakan tidak lebih dari 2000 ekor.]]>

Leptoptilos javanicus atau yang dikenal dengan bangau tongtong merupakan salah satu kelas aves yang mempunyai keunikan dari bentuk kepalanya yang botak. Menurut Birdlife Internasional, populasi bangau tongtong di Indonesia pada tahun 2003 diperkirakan tidak lebih dari 2000 ekor. Habitat yang terus mengalami gangguan berupa degradasi habitat dan konversi lahan menyebabkan populasi bangau tongtong menurun.

Dalam persebarannya, bangau tongtong tersebar di berbagai wilayah di Indonesia antara lain Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan sampai ke Lombok. Untuk di Pulau Jawa sendiri, bangau tongtong tersebar di Brantas, Solo, dan di Segoro Anakan Cilacap. Bangau berpenampilan unik ini juga dapat dijumpai di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi. TNAP merupakan salah satu kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki 227 jenis burung termasuk didalamnya adalah spesies bangau tongtong dan burung-burung migran.

Bangau tongtong merupakan burung bangau dengan ukuran sangat besar. Burung bangau ini mempunyai panjang leher hingga 36 cm (10,5 sampai 14 inchi), mempunyai berat sekitar 4,6 sampai 8,5 Kg. Rentang sayap mencapai 210 cm, panjang tubuh mencapai 110-115 cm, dan memiliki paruh yang besar. Kepala bangau ini botak dan di bagian bawahnya seperti terdapat rambut halus.

Warna burung ini umumnya didominasi oleh warna hitam, putih, dan sentuhan warna metalik. Paruhnya berwarna kuning suram sampai coklat muda. Leher berwarna kuning kehitam-hitaman. Bagian sayap, punggung dan ekor berwarna hitam dengan permukaan hijau.

bangau tongtong

Foto: wikimedia commons

Selain kepala yang botak dan leher yang panjang, keunikan satwa bersayap ini juga terlihat dari cara berjalan dan terbangnya. Cara berjalan bangau ini seperti gerakan berjalan pada militer (tegap). Sedangkan untuk cara terbang burung ini akan berlari terlebih dahulu layaknya pesawat yang hendak lepas landas.

Bangau jenis ini berada di lahan basah untuk mencari makan maupun beristirahat. Pakan dari hewan ini antara lain ikan, belalang dan kodok. Secara umum, lahan basah yang digunakan adalah area terbuka seperti padang rumput, mangrove, rawa, tambak maupun hutan dataran rendah yang dekat dengan sumber air.

Bangau tongtong hidup soliter (tidak secara kelompok). Saat musim kawin mereka akan membentuk sebuah koloni. Bangau ini dapat menghasilkan sekitar 3-4 butir telur. Sayangnya telur-telur ini sering menjadi incaran predator lain seperti spesies elang ikan kepala abu (Ichtyopphaga ichtyaetus). Untuk melindungi telur-telurnya biasanya bangau ini akan melakukan perlawanan dengan mengepakan sayap dan terkadang membunyikan paruhnya dengan cara mengatupkan paruhnya berkali-kali.

Bangau tongtong termasuk satwa yang dilindungi. Bangau jenis ini tercatat sebagai spesies dilindungi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta termasuk dalam kategori kelangkaan rentan (vulnerable) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist tahun 2017.

bangau tongtong

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bangau-tongtong-burung-kepala-botak-penghuni-lahan-basah/feed/ 0
Tahun 2019 Spesies Burung Indonesia Bertambah 6 Jenis https://www.greeners.co/berita/tahun-2019-spesies-burung-indonesia-bertambah-6-jenis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tahun-2019-spesies-burung-indonesia-bertambah-6-jenis https://www.greeners.co/berita/tahun-2019-spesies-burung-indonesia-bertambah-6-jenis/#respond Sun, 03 Mar 2019 11:01:01 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=22691 Awal tahun 2019 ini keanekaragaman hayati Indonesia patut bergembira. Jumlah jenis burung di Indonesia dikabarkan bertambah enam jenis.]]>

Jakarta (Greeners) – Awal tahun 2019 ini keanekaragaman hayati Indonesia patut bergembira. Jumlah jenis burung di Indonesia dikabarkan bertambah enam jenis. Penambahan ini menjadikan jumlah burung di Indonesia meningkat menjadi 1.777 jenis yang mencakup jenis burung penetap maupun migran yang berkunjung ke wilayah Indonesia setiap tahunnya.

Biodiversity Conservation Specialist dari Burung Indonesia, Ferry Hasudungan, mengatakan bahwa penambahan ini berasal dari adanya perubahan taksonomi dan juga catatan baru untuk Indonesia. Dari penambahan enam jenis burung ini, tiga diantaranya merupakan burung imigrasi dan tiga jenis lainnya diperoleh dari perubahan taksonomi.

“Tiga yang berimigrasi ada burung perancah eurasian oystercatcher (Haematopus ostralegus), burung sikatan zappey’s flycatcher (Cyanoptila cumatilis), dan kedidi paruh-sendok (Calidris pygmaea) yang sebelumnya hanya ditemukan di Singapura dan Malaysia bagian Selatan. Sedangkan tiga jenis lainnya hasil dari perubahan taksonomi ialah poksai kepala-botak (Garrulax calvus), sikatan-burik Sulawesi (Muscicapa sodhii), dan cikrak rote (Phylloscopus rotiensis),” ujar Ferry saat dihubungi Greeners melalui telepon pada Sabtu, (02/03/2019).

BACA JUGA: Permen LHK 20/2018 Jadikan Burung Terbanyak dalam Jenis Satwa Dilindungi 

Ferry mengatakan dari enam jenis burung ini dua jenis sudah memasuki status Critical Danger, yakni kedidi paruh-sendok. Tidak hanya itu, dari keseluruhan 1.777 jenis burung di Indonesia 168 jenis burung dinyatakan terancam punah.

burung indonesia

Sumber: Burung Indonesia

Berdasarkan hasil kajian Burung Indonesia yang dilakukan hingga akhir 2018 jenis burung yang terancam punah berjumlah 163 jenis. Tahun 2019 ini, jumlah tersebut menjadi 168 jenis, di mana 30 jenis dinyatakan berstatus Kritis oleh badan konservasi dunia IUCN, status terakhir sebelumnya dinyatakan punah di alam. Selain itu 44 jenis dinyatakan berstatus Genting dan 94 jenis berstatus Rentan punah di alam.

“Meningkatnya keterancaman kepunahan ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, perburuan yang masih marak terjadi dengan tren meningkat dari tahun ke tahun, khususnya untuk burung kicau. Kedua, akibat hilangnya habitat untuk burung-burung ini karena yang tadinya banyak pohon untuk bersarang atau berkembang biak kini pohon itu semakin sedikit yang di mana kesempatan berkembang biak semakin berkurang,” ujar Ferry.

BACA JUGA: Polisi Amankan Ratusan Burung Langka dari Penangkaran Satwa di Jember 

Ferry mengatakan, dari ribuan jenis burung yang tercatat di Indonesia, 557 jenis di antaranya telah dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018. Sayangnya, dari 14 jenis burung yang status keterancamannya meningkat pada 2018, ada empat jenis yang belum mendapatkan status perlindungan dari pemerintah. Ini terjadi pada perenjak jawa (Prinia familiaris), poksai mantel (Garrulax palliatus), dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus). Sedangkan jenis baru cikrak rote (Phylloscopus rotiensis), status keterancamannya saat ini belum dievaluasi.

“Harapannya ke depan pemerintah bisa lebih peduli kepada satwa burung ini terutama kebijakan untuk melindungi burung yang sudah terancam punah. Apalagi cucak rawa karena sebelumnya sudah dimasukkan ke dalam Permen 92/2018 tapi dikeluarkan kembali dengan alasan pemasukan ekonomi untuk negara,” katanya.

Penulis: Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/berita/tahun-2019-spesies-burung-indonesia-bertambah-6-jenis/feed/ 0
Burung Merak Hijau, Keindahan yang Terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-merak-hijau-keindahan-terancam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-merak-hijau-keindahan-terancam https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-merak-hijau-keindahan-terancam/#respond Tue, 30 May 2017 10:31:09 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17125 Burung merak hijau, khususnya pada jantan, khas dengan bulu ekornya yang jika direntangkan akan nampak seperti kipas raksasa. Sayang, keberadaan burung ini sudah hampir punah.]]>

Burung merak hijau atau dalam bahasa Inggris disebut Green Peafowl, memiliki nama ilmiah Pavo muticus. Umumnya satwa ini tersebar di wilayah Asia dan Afrika.

Ketika mengalami ancaman burung ini akan melebarkan ekornya. Spesies merak hijau jantan memiliki bulu ekor yang sangat indah dan dapat direntangkan seperti kipas raksasa. Apabila direntangkan maka akan terlihat pola berbentuk bulatan seperti mata. Burung ini adalah burung terindah di dunia.

Dalam aplikasi “Burungnesia” dijelaskan bahwa merak terdiri dari tiga sub-spesies dengan daerah persebaran meliputi India Timur-laut dan Bangladesh Tenggara, jenis spicife; tersebar tidak merata di Myanmar Selatan sampai Thailand dan China Selatan, Vietnam serta Laos dengan jenis imperator; dan Jawa, yang terbatas di Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Alas Purwo dengan jenis muticus.

Merak memiliki ukuran sangat besar dan leher yang panjang, sekilas fauna ini berbentuk seperti ayam. Ciri lain yang mencolok adalah pipinya berwarna kuning, terdapat garis alis, dan penutup telinga sekitarnya berwarna putih kebiruan. Uniknya merak mempunyai mahkota berwarna hijau kebiruan dengan jambul.

Pada merak jantan terdapat mantel, leher, dada dan punggung berwarna hijau mengkilap bermotif sisik. Adapun ekornya sangat panjang, bulunya mengkilap dengan bintik berbentuk mata yang khas. Sedangkan pada merak betina ciri-cirinya kurang mencolok, seperti warnanya yang kurang mengilap dengan ekor yang tidak panjang. Segi ukuran, merak jantan memiliki ukuran 180-250 cm dan betina 100-110 cm.

burung merak hijau

Ketika terancam, burung merak hijau jantan akan mengembangkan ekornya. Foto: pixabay.com

Pada merak jantan, mereka mengembangkan ekornya untuk mengusir jantan lain pada saat musim berbiak di bulan Agustus-Oktober. Tipe perkembangannya adalah harem, biasanya 1 ekor jantan hingga 5 ekor betina. Sarangnya terdapat di tanah, biasanya berisi 3-6 butir telur berwarna kekuningan.

Merak jarang terlihat di tengah hutan dan lebih sering terlihat di daerah hutan musim yang lebih terbuka dekat savana. Mereka pun tidur di atas pohon gundul yang tinggi.

Status burung merak hijau berdasarkan IUCN dikategorikan, dari status vulnerable (rentan atau rawan punah) pada 2007, menjadi endangered (terancam punah) sekarang ini. Sementara menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and Flora) burung merak hijau dikategorikan ke dalam Appendix II (Departemen Kehutanan, 2006), artinya perdagangan jenis burung ini harus dikendalikan, antara lain melalui sistem kuota dan pengawasan.

Keberadaan jenis burung ini sudah sangat jarang atau sudah hampir punah. Penyebab merosotnya populasi burung merak hijau terutama disebabkan penangkapan oleh masyarakat, selain penyusutan atau konversi lahan dan rusaknya habitat.

Penangkapan burung merak hijau yang tergolong langka dan bernilai ekonomi tinggi ini, dipacu oleh potensi dan kekhasan yang dimiliki satwa langka tersebut, seperti keindahan bulu, suara yang merdu, keunikan bentuk dan tingkah laku. Keindahan yang dimiliki jenis burung ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai bagian jasa lingkungan suatu kawasan.

Populasi burung merak hijau di alam semakin menurun dengan semakin banyaknya kawasan hutan yang dijadikan sebagai lahan pertanian, perladangan, dan pemukiman penduduk. Disamping itu, perburuan terhadap jenis burung ini semakin tinggi, sehingga akhirnya populasinya semakin menurun.

burung merak hijau

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-merak-hijau-keindahan-terancam/feed/ 0
Harta Karun yang Tersisa di Pesisir Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/#respond Sat, 09 May 2015 09:45:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8922 Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA […]]]>

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Hutan Lindung Angke Kapuk merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 Ha sedangkan Hutan Lindung Angke Kapuk mempunyai luas 44,76 Ha. Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Kedua kawasan ini memiliki banyak keragaman hayati yang sampai saat ini masih terjaga. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki kedua kawasan ini menjadikan lokasi ini sebagai tempat favorit bagi berbagai jenis burung. Sekitar 117 jenis burung terdapat dikawasan tersebut, dan diantaranya ada dua yang dilindungi secara internasional, yaitu Bubut jawa (Centropus nigrorufus) dan Jalak putih (Sturnus melanopterus). Kedua burung tersebut saat ini berstatus terancam punah dan sangat terancam punah.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus) berukuran 46 cm, berwarna gelap. Kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya juga berwarna hitam mengkilat, sedangkan sayapnya merah karat dan iris matanya berwarna merah. Makanan burung ini adalah serangga, siput, kelabang, kepiting kecil, telur burung, katak dan ular pohon, semua disantapnya.

Bubut jawa dapat dijumpai di daerah rawa-rawa di pinggir pantai, semak-semak paku laut, padang ilalang sekitar mangrove, semak dan padang rumput dekat aliran sungai. Burung ini merupakan jenis endemik Pulau Jawa atau hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Bubut jawa (Centropus nigrorufus). Foto: greeners.co/Ahmad Baihaqi

Di Jakarta, bubut jawa hanya dapat ditemukan di kawasan SMMA dan Hutan Lindung Angke Kapuk. Makin sempitnya tempat hidup bubut jawa, dianggap sebagai ancaman utama untuk kelangsungan hidup burung ini. Habitat burung ini yang berada di kawasan pesisir mempunyai nilai ekonomi yang tinggi apabila diubah menjadi kawasan pemukiman, tambak, kawasan perindustrian atau pelabuhan.

Sementara itu, jalak putih (Sturnus melanopterus) berukuran sekitar 20-25 cm. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon. Populasi burung jalak putih sekarang ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu adanya tindakan untuk melestarikan keberadaan jalak putih.

Jalak putih merupakan burung yang sangat terancam punah. Di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta populasi burung ini hanya diperkirakan berjumlah 4-6 individu. Status burung ini menurut IUCN adalah Critical Endangered atau sangat terancam punah. Burung jalak putih termasuk burung langka yang di lindungi oleh pemerintah Indonesia. Semoga kedua harta karun di pesisir Jakarta ini dapat terus terjaga kelestariannya.

Penulis: Ahmad Baihaqi/Indonesia Wildlife Photography

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/harta-karun-yang-tersisa-di-pesisir-jakarta/feed/ 0