burung - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/burung/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Tue, 30 Dec 2025 08:39:28 +0000 id hourly 1 Mengamati dan Memotret Burung, Cara Akademisi Bersuara untuk Konservasi https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/#respond Mon, 29 Dec 2025 08:49:28 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=47901 Jakarta (Greeners) – Kegiatan memotret dan mengamati burung (birding) kini tak lagi sekadar hobi para pencinta alam. Aktivitas ini perlahan menjadi cara menyenangkan bagi akademisi dan perempuan untuk bersuara tentang […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kegiatan memotret dan mengamati burung (birding) kini tak lagi sekadar hobi para pencinta alam. Aktivitas ini perlahan menjadi cara menyenangkan bagi akademisi dan perempuan untuk bersuara tentang konservasi sekaligus mengedukasi publik mengenai kekayaan burung di Indonesia.

Salah satunya adalah Elis Zuliati Anis (49), akademisi asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung, di sela-sela kesibukan mengajarnya. Melalui karya fotografinya, Elis berhasil meraih juara dua dalam Lomba Fotografi “Menjaga Sayap Garuda: Konservasi Elang Jawa untuk Masa Depan”.

Foto tersebut menampilkan sepasang elang jawa yang terbang berdampingan di bawah langit biru Bukit Turgo, kawasan Gunung Merapi. Bukit Turgo menjadi lokasi yang kerap Elis kunjungi hampir setiap akhir pekan. Di kawasan ini, ia berjalan kaki, berolahraga, sekaligus memotret satwa liar yang singgah di lereng Merapi.

“Pada hari ketika foto sepasang elang jawa itu saya ambil, mereka seperti menari di udara. Momen itu terasa sangat utuh dan jarang terjadi. Bagi saya, itu salah satu pengalaman terbaik yang pernah saya temui,” ujar Elis kepada Greeners.

Sebagai dosen komunikasi di salah satu perguruan tinggi di DIY, Elis memandang aktivitas mengamati dan memotret burung sebagai bentuk academic life balance. Di tengah padatnya aktivitas akademik, fotografi satwa liar memberinya ruang untuk bermain di alam sekaligus menyegarkan pikiran.

Seiring waktu, hobi tersebut tumbuh menjadi kegiatan yang lebih bermakna. Elis membuktikan bahwa sebagai akademisi sekaligus ibu rumah tangga, perempuan memiliki ruang dan peran yang setara dalam upaya konservasi, salah satunya melalui medium fotografi.

Ketertarikan Elis pada fotografi satwa liar bermula saat ia menempuh studi doktoral di Australia pada 2018. Lingkungan kampus yang kaya akan burung menjadi pengalaman awal yang mendorongnya mencoba memotret, sekaligus membuka cara pandangnya terhadap alam dan kehidupan satwa liar.

Elis Zuliati Anis (49), akademisi asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung. Foto: Burung Indonesia

Elis Zuliati Anis (49), akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menekuni fotografi satwa liar, khususnya burung. Foto: Istimewa

Memotret dengan Etika dan Kesabaran

Memotret satwa liar bagi Elis adalah hal yang paling mengesankan. Namun, memotret satwa liar juga bukanlah hal yang mudah atau menggunakan peralatan paling canggih. Fotografer perlu memahami ekosistem dan perilaku satwa yang akan mereka potret.

Elis menekankan bahwa ada etika dalam memotret burung, mulai dari menjaga jarak, memahami sensitivitas satwa, hingga memilih pakaian yang tidak mencolok agar tidak menganggu satwa.

“Ini bukan sekadar datang lalu memotret saja. Di balik satu foto, tentu ada cerita tentang perilaku burung, relasinya dengan manusia, dan kondisi lingkungannya,” ujarnya.

Baginya dalam memotret satwa liar memerlukan kepekaan, kesabaran, ketelitian, dan empati terhadap alam. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam proses memotret.

Ke depan, Elis berharap semakin banyak perempuan terlibat dalam fotografi satwa liar, tidak hanya untuk berkarya, tetapi juga menyuarakan konservasi. Ia percaya fotografi memiliki kekuatan edukatif yang besar, terutama di era media sosial.

Kegiatan edukasi, mengamati dan memotret burung. Foto: Istimewa

Kegiatan edukasi, mengamati dan memotret burung. Foto: Burung Indonesia

Edukasi Burung Terbatas

Sementara itu, kini edukasi tentang burung masih cenderung terbatas pada kalangan tertentu, seperti komunitas pengamat burung, akademisi, atau pegiat konservasi. Di tingkat masyarakat umum, khususnya di perkotaan, pemahaman tentang peran ekologis burung, status keterancamannya, serta ancaman nyata seperti perburuan dan perdagangan masih relatif rendah.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan burung tertinggi di dunia. Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah spesies burung tertinggi, dengan lebih dari 1.800 spesies tercatat.

Keunikan lainnya, Indonesia memiliki tingkat endemisitas burung yang sangat tinggi, dengan lebih dari 500 spesies yang hanya ditemukan di wilayah kepulauan Nusantara dan tidak ada di tempat lain di dunia. Namun, besarnya kekayaan ini belum diimbangi dengan tingkat edukasi publik yang memadai mengenai burung dan upaya konservasinya.

Conservation Engagement Officer Burung Indonesia, Ivanna Febrissa mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif edukasi melalui media sosial kegiatan pengamatan burung, dan kampanye kreatif mulai bermunculan. Namun, upaya tersebut belum berlangsung secara masif, berkelanjutan, dan terintegrasi dalam sistem pendidikan formal maupun ruang publik. Akibatnya, burung masih sering dipandang sebatas sebagai komoditas atau hiburan, bukan sebagai bagian penting dari ekosistem yang perlu dilindungi bersama.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam memperluas edukasi burung yang inklusif, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, agar kesadaran dan kepedulian terhadap konservasi burung dapat tumbuh secara lebih luas dan berdampak jangka panjang,” kata Ivanna.

Ia menilai bahwa edukasi burung sangat penting bagi publik. Khususnya anak-anak muda dan pelajar untuk bisa memahami peran burung bagi ekosistem. Menurutnya, kelompok usia ini merupakan generasi yang akan menentukan arah hubungan manusia dengan alam di masa depan, sehingga pengetahuan dan nilai yang mereka miliki hari ini akan berpengaruh besar terhadap praktik konservasi ke depan.

Tantangan Mengubah Persepsi

Dalam mengedukasi publik tentang burung dan konservasi juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah mengubah persepsi masyarakat, terhadap budaya pemeliharaan burung yang sudah mengakar kuat dan diwariskan lintas generasi. Praktik ini kerap dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan bernilai budaya dan ekonomi.

Selain itu, burung sering kali tidak dipandang sebagai satwa ikonik atau prioritas konservasi dibandingkan satwa besar lainnya. Akibatnya, isu perlindungan burung kurang mendapatkan perhatian luas dari masyarakat, media, maupun pembuat kebijakan, meskipun ancaman terhadap populasi burung terjadi secara masif.

Ivanna berharap ke depan burung dapat memperoleh perhatian yang lebih besar sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam. Burung tidak lagi dipandang sebagai satwa yang hanya ditempatkan di dalam sangkar. Sebab, burung memiliki peran ekologis yang hanya dapat berjalan ketika mereka hidup bebas di alam. Dengan demikian, perubahan cara pandang masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya konservasi.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/mengamati-dan-memotret-burung-cara-akademisi-bersuara-untuk-konservasi/feed/ 0
BKSDA Bengkulu Gagalkan Pengiriman Ilegal 787 Ekor Burung https://www.greeners.co/berita/bksda-bengkulu-gagalkan-pengiriman-ilegal-787-ekor-burung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bksda-bengkulu-gagalkan-pengiriman-ilegal-787-ekor-burung https://www.greeners.co/berita/bksda-bengkulu-gagalkan-pengiriman-ilegal-787-ekor-burung/#respond Wed, 10 Jan 2024 04:33:10 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=42757 Jakarta (Greeners) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menggagalkan upaya pengiriman ilegal 787 satwa liar jenis burung. Sebanyak 75 ekor di antaranya merupakan hewan terlindungi. Sebelumnya, BKSDA Bengkulu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menggagalkan upaya pengiriman ilegal 787 satwa liar jenis burung. Sebanyak 75 ekor di antaranya merupakan hewan terlindungi. Sebelumnya, BKSDA Bengkulu mendapat informasi dari masyarakat akan ada pengiriman satwa liar jenis burung dari Kabupaten Way Kanan menuju ke Jakarta.

Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Lampung BKSDA Bengkulu lantas melakukan operasi gabungan. Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Lampung dan Yayasan Flight Bird ikut membantu. Satu unit kendaraan roda enam jenis bus penumbang berhasil tim amankan.

BACA JUGA: Penyu Tempayan, Simbol Laut Mediterania dan Yunani

Mobil yang membawa satwa liar tersebut berhasil petugas hentikan pada Sabtu (6/1) sekitar pukul 00.30 WIB. Tepat di kilometer (Km) 87 Tol Terbanggi–Besar Bakauheni mobil tersebut petugas amankan.

“Setelah kami periksa dan geledah pada pintu bagian belakang sebelah kiri, serta sekitar toilet dalam kendaraan tersebut, kami menemukan 11 keranjang buah warna putih. Selain itu, ada juga 11 kardus warna cokelat yang berisi 787 ekor burung dari berbagai jenis,” kata Kepala BKSDA Bengkulu, Hifzon Zawahiri melalui keterangan resminya, Senin (8/1).

Berdasarkan informasi materi (pulkabet), hewan-hewan tersebut akan diangkut ke Jakarta. Biaya pengangkutan burung liar mencapai Rp1.100.000. Ketika satwa liar jenis burung tersebut sampai di tujuan, sejumlah pihak langsung melakukan pembayaran.

Mapolres Lampung Amankan Barang Bukti

Mapolres Lampung lantas mengamankan barang bukti seperti pengemudi dan burung liar untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Selain atas dasar penemuan hewan terlindungi, polisi juga tidak menemukan dokumen valid. Dokumen tersebut berupa SATS-DN yang BKSDA berikan, serta sertifikat kesehatan hewan jenis yang tidak dilindungi dari badan karantina.

“Sebanyak 75 ekor hewan terlindungi akan kami titip rawat sementara di Aviari UPTD KPHK Tahura Wan Abdul Rachman. Burung tersebut akan mendapatkan rehabilitasi sebelum kami lepas liarkan. Sementara, satwa liar jenis burung yang tidak terlindungi Undang-undang (UU) sebanyak 712 ekor langsung kami lepas liarkan,” tambah Hifzon.

BACA JUGA: Restorasi Ekosistem Harus Perkuat Perlindungan Satwa dan Hutan

Pelepasliaran pada Sabtu (6/1) sore langsung Petugas SKW III Lampung Balai KSDA Bengkulu lakukan. Tak sendirian, pelepasliaran juga bersama personel Polda Lampung, Petugas Tahura Wan Abdul Rahman Bandar Lampung, dan Yayasan Flight Bird Indonesia. Pelepasliaran tersebut mereka lakukan di Sekitar Air Terjun Gunung Betung kawasan Tahura Wan Abdul Rahman, Kabupaten Pesawaran.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/bksda-bengkulu-gagalkan-pengiriman-ilegal-787-ekor-burung/feed/ 0
Burung Kuntul Besar, Lehernya Membentuk Kurva S saat Terbang https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kuntul-besar-lehernya-membentuk-kurva-s-saat-terbang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-kuntul-besar-lehernya-membentuk-kurva-s-saat-terbang https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kuntul-besar-lehernya-membentuk-kurva-s-saat-terbang/#respond Tue, 19 Sep 2023 03:10:08 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=41642 Burung kuntul besar atau great egret (Casmerodius albus) merupakan salah satu burung besar dari famili Ardeidae. Berkerabat dengan burung cangak abu (Ardea cinerea), Ardea goliath, Ardea herodias, Egretta thula, dan […]]]>

Burung kuntul besar atau great egret (Casmerodius albus) merupakan salah satu burung besar dari famili Ardeidae. Berkerabat dengan burung cangak abu (Ardea cinerea), Ardea goliath, Ardea herodias, Egretta thula, dan masih banyak lagi. Selain itu, burung ini juga memiliki nama ilmiah sinonim, yakni Ardea alba atau Egretta alba.

Di alam liar, burung ini tercatat hidup hingga berusia 15 tahun, sedangkan di penangkaran tercata hingga berusia 22 tahun. Satwa ini aktif pada siang hari untuk mencari makan (diurnal), dan akan berkumpul saat sore hari bersama kelompoknya untuk membuat sarang tidur.

Lehernya Membentuk Kurva S saat Terbang

Tubuhnya berukuran panjang sekitar 1 meter dari ujung paruh hingga ujung ekor. Tingginya juga mencapai 1 m dengan lebar sayap hingga 1,5 m dan berat tubuh 1kg. Umumnya, kuntul besar jantan berukuran lebih besar dari betinanya. Bulu burung ini berwarna putih dengan paruh berwarna kuning dan kaki abu-abu gelap.

Ketika terbang, leher mereka terlihat berbentk seperti kurva “S”. Selama musim kawin, terdapat bulu-bulu panjang (hingga 50 cm) yang tumbuh di tulang belikatnya. Anakan burung kuntul besar terlihat mirip dengan dewasanya, hanya saja mereka memiliki paruh kuning yang ujungnya kehitaman.

Spesies kosmopolitan ini bersarang secara berkelompok dan mencari makan bersama ataupun masing-masing. Mereka merupakan burung monogami musiman. Dalam sekali bertelur, para betina akan menghasilkan 3-4 telur saja.

BACA JUGA: Simpanse, Kera Besar yang Cerdas dari Benua Afrika

Setelah menetas, anak mereka akan mulai belajar terbang ketika berusia 42 hari. Ikan, tikus, jangkrik, serangga air, belalang, katak, ular, hingga lobster air menjadi makanan burung kuntul besar. Mereka juga bersifat sangat teritori atau mempertahankan wilayahnya saat mencari makan dan membuat sarang.

Dilansir Animal Diversity Web, suatu studi menemukan bahwa ketika keadaan diam, burung kuntul besar dapat menelan lebih banyak mangsa berukuran sedang daripada ketika mereka bergerak. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan mereka bukanlah menangkap makanan dalam jumlah banyak, melainkan untuk menangkap makanan  berkualitas tinggi.

Taksonomi Burung kuntul besar atau great egret (Casmerodius albus). Foto: Greeners

Taksonomi Burung kuntul besar atau great egret (Casmerodius albus). Foto: Greeners

Burung Kuntul Besar Menyukai Habitat Perairan

Burung ini menyukai perairan seperti sungai, danau, kolam, rawa lumpur, rawa air asin, hingga rawa air tawar. Mereka berada di Nearctic hingga selatan texas, negara bagian pantai Teluk, Florida, Maine, Kanada, bagian selatan, dan di Great Lakes.

Telah Dilindungi Sejak Tahun 1918

Sebelum abad ke-20, populasi kuntul besar hampir musnah karena tingginya permintaan bulu renda untuk topi wanita dan mode pakaian. Kemudian, di tahun 1918 satwa ini berada di bawah perlindungan Migratory Bird Treaty Act. Akhirnya, populasi burung ini mengalami peningkatan dan masih dapat kita temukan sampai saat ini. Status konservasinya menurut IUCN masih dikategorikan pada spesies yang sedikit diperhatikan (least concern).

 

Penulis: Anisa Putri

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kuntul-besar-lehernya-membentuk-kurva-s-saat-terbang/feed/ 0
Kasuari Kerdil, Tubuhnya Paling Mungil di Antara Kasuari Lainnya https://www.greeners.co/flora-fauna/kasuari-kerdil-tubuhnya-paling-mungil-di-antara-kasuari-lainnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kasuari-kerdil-tubuhnya-paling-mungil-di-antara-kasuari-lainnya https://www.greeners.co/flora-fauna/kasuari-kerdil-tubuhnya-paling-mungil-di-antara-kasuari-lainnya/#respond Mon, 08 May 2023 03:24:54 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39979 Tidak semua jenis burung dapat terbang, salah satunya yaitu burung kasuari kerdil. Tak seperti burung lain yang umum kita kenal dapat terbang bebas di udara. Satwa yang memiliki nama ilmiah […]]]>

Tidak semua jenis burung dapat terbang, salah satunya yaitu burung kasuari kerdil. Tak seperti burung lain yang umum kita kenal dapat terbang bebas di udara.

Satwa yang memiliki nama ilmiah Casuarius bennetti ini justru tak bisa terbang. Berasal dari famili Casuariidae dan berkerabat dengan kasuari gelambir ganda (Casuarius casuarius) dan kasuari gelambir tunggal (C. unappendiculatus).

Burung kasuari jenis C. bennetti dikenal juga dengan sebutan kasuari kerdil. Hal ini karena ukuran tubuhnya yang paling kecil di antara dua jenis burung kasuari yang lainnya. Melansir Avibase, terdapat beberapa subspesies dari burung kasuari kerdil. Subspesies tersebut di antaranya Casuarius bennetti bennetti, Casuarius bennetti goodfellowi, Casuarius bennetti claudii, Casuarius bennetti picticollis, dan lainnya.

Di samping itu, burung kasuari kerdil yang hidup di alam dapat hidup hingga berumur 60 tahun. Sedangkan yang hidup di penangkaran dapat hidup hingga berumur 40 tahun. Umur mereka dapat dilihat dari penampilan casque (jambul), ukuran telapak kaki, serta keriput pada lehernya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Burung kasuari kerdil berukuran tubuh paling kecil di antara kasuari lainnya. Tingginya hanya berkisar antara 99 cm hingga 135 cm dengan berat tubuh sekitar 18 kg saja. Sedangkan kasuari gelambir ganda dapat berukuran tinggi mencapai 170 cm dengan bobot hingga 59 kg. Bulunya cenderung bertekstur kasar dan berwarna hitam.

Selain itu kasuari kerdil memiliki sayap yang berukuran sangat kecil, sehingga ia tidak bisa terbang. Kepala dan bagian lehernya tidak memiliki bulu serta berwarna biru dan merah. Sementara di bagian kepalanya terdapat casque, yang mirip dengan helm namun bertulang.

Di samping itu, kasuari kerdil juga tak terlihat seperti kerabatnya yang memiliki gelambir menggantung di leher. Kakinya kokoh serta kuat dan tidak memiliki bulu. Burung ini memiliki tiga jari kaki dan jari kaki paling dalam memiliki cakar yang membesar, panjangnya bisa mencapai 10 cm. Meskipun betina dan jantan kasuari kerdil adalah monomorfik, umumnya betina berukuran tubuh lebih besar dari jantan.

Saat merasa terancam, burung ini akan membela dirinya dengan tendangan yang kuat dari kakinya. Burung ini aktif pada siang hari (diurnal) dan banyak menghabiskan waktunya untuk mencari makan.

Kasuari kerdil menggunakan jambulnya untuk memilah serasah dan mencari sumber makanan seperti jamur, serangga, jaringan tanaman, dan vertebrata kecil, termasuk kadal dan katak. Namun makan utamanya ialah buah yang jatuh di lantai hutan atau buah yang mereka petik dari semak.

Habitat dan Distribusi Burung kasuari kerdil

Burung ini dapat kita temukan di dataran tinggi seperti pegunungan curam hingga ketinggian 3000 mdpl yang bervegetasi lebat dengan hutan subtropis hingga tropis. Hal ini berbeda dengan burung kasuari lainnya yang menempati daerah dataran rendah. Sementara itu, burung kasuari kerdil terdistribusi di Papua Nugini tepatnya di sisi timur pulau tersebut. Selain itu dapat kita temukan juga di Indonesia (Papua).

Ancaman dan Konservasi

Di habitat aslinya, burung ini menghadapi berbagai ancaman, terutama kerusakan habitat. Selain itu perburuan dan pemangsaan tingkat rendah juga menjadi ancaman bagi populasinya.

Meskipun begitu jumlah populasinya di alam masih cukup banyak sehingga IUCN memasukannya dalam status konservasi kurang diperhatikan (least concern) dengan populasi stabil. Sementara itu, di Indonesia burung kasuari kerdil telah dilindungi lewat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi.

Taksonomi Burung kasuari kerdil

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kasuari-kerdil-tubuhnya-paling-mungil-di-antara-kasuari-lainnya/feed/ 0
Great Potoo, Burung Malam Amerika yang Monogami https://www.greeners.co/flora-fauna/great-potoo-burung-malam-amerika-yang-monogami/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=great-potoo-burung-malam-amerika-yang-monogami https://www.greeners.co/flora-fauna/great-potoo-burung-malam-amerika-yang-monogami/#respond Fri, 14 Apr 2023 03:00:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39686 Salah satu burung malam dari Amerika yakni Nyctibius grandis atau yang dikenal juga dengan nama great potoo berasal dari famili Nyctibiidae. Nama great potoo diambil dari suaranya yang unik seperti […]]]>

Salah satu burung malam dari Amerika yakni Nyctibius grandis atau yang dikenal juga dengan nama great potoo berasal dari famili Nyctibiidae. Nama great potoo diambil dari suaranya yang unik seperti sedang meratap berbunyi “po-TOO”.

Terdapat tujuh spesies burung genus Nyctibius dari famili Nyctibiidae, mereka berkerabat dengan burung Eastern whip-poor-will (Antrostomus vociferus) yang juga termasuk dalam ordo Caprimulgiformes, sekelompok burung yang aktif saat fajar dan senja.

Penampilan burung ini memang mirip dengan burung hantu, namun sebenarnya mereka tidaklah berkerabat. Selain itu, burung great potoo juga mampu berkamuflase dengan baik dan sulit kita kenali saat sedang bertengger di batang pohon.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Burung great potoo memiliki kepala yang relatif besar daripada ukuran tubuhnya. Selain itu, mereka juga memiliki mata yang besar dengan iris berwarna cokelat muda hingga kekuningan. Memiliki paruh yang pendek dan lebar serta bulu-bulu yang sedikit peda area wajahnya.

Di samping itu, burung ini juga memiliki sayap berbentuk elips dan ekor yang agak panjang, berguna untuk kemudi saat akan bertengger di dahan.

Bulu berwarna putih hingga abu-abu dengan corak hitam dan merah anggur menutupi tubuhnya. Warna ekornya senada dengan warna bulu di tubuhnya, kecuali 8 atau 9 garis putih yang memanjang ke arah samping.

Sementara itu, sangat sulit untuk kita dapat membedakan burung great potoo jantan dan betina karena memiliki morfologi yang sangat mirip. Mereka juga termasuk burung yang monogami, yakni hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya. Burung ini biasa memangsa serangga hingga kelelawar.

Saat siang hari, mereka biasanya bertengger atau bersarang setinggi 12 m di atas permukaan tanah. Namun saat malam hari, mereka biasanya bertengger pada ketinggian 1,5 m untuk berburu mangsa.

Habitat dan Distribusi Great Potoo

Burung ini hidup di daerah hutan hujan (tropis), tepi hutan, dan lahan pertanian. Distribusi burung ini yaitu mulai dari tenggara Meksiko ke selatan hingga utara Kolombia, dan Amerika Selatan di sebelah timur Andes hingga timur Bolivia dan Brasil tengah.

Status Konservasi

Hingga saat ini status konservasi burung ini menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) yakni sedikit diperhatikan (least concern).

Melansir laman Bird Life International, meskipun tren populasi burung ini menurun, jumlah populasinya di alam masih cukup besar dan belum mendekati kepunahan. Namun, menjaga kelestarian burung great potoo di alam tetaplah menjadi tugas kita agar populasinya terus bertambah dan tetap lestari.

Taksonomi Great Potoo

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/great-potoo-burung-malam-amerika-yang-monogami/feed/ 0
Burung Camar Perak, “Pemulung” yang Mudah Beradaptasi https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-camar-perak-pemulung-yang-mudah-beradaptasi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-camar-perak-pemulung-yang-mudah-beradaptasi https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-camar-perak-pemulung-yang-mudah-beradaptasi/#respond Thu, 30 Mar 2023 03:01:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=39518 Burung camar perak yang kita kenal dengan sebutan Silver Gull atau Australian seagull memiliki nama ilmiah Larus novaehollandiae. Berasal dari famili Laridae dan berkerabat dengan European herring gull (Larus argentatus) […]]]>

Burung camar perak yang kita kenal dengan sebutan Silver Gull atau Australian seagull memiliki nama ilmiah Larus novaehollandiae. Berasal dari famili Laridae dan berkerabat dengan European herring gull (Larus argentatus) yang sekilas terlihat mirip dengan camar perak.

Perbedaanya terletak pada ukuran tubuh Herring gull yang lebih besar dan warna paruhnya yang tidak merah. Selain itu, berkerabat juga dengan Common gull (Larus canus), camar kepala hitam (Chroicocephalus ridibundus) dan lainnya.

Morfologi dan Ciri-ciri Umum

Burung camar perak dewasa memiliki paruh dan kaki berwarna merah, sedangkan saat remaja paruh dan kakinya berwarna hitam. Semakin tua usia burung camar perak, maka warna paruhnya akan semakin merah terang.

Sayap atas camar perak dewasa berwarna abu-abu pucat dengan ujung bulu primernya berwarna hitam lebar dengan 2-3 corak “cermin” putih. Sedangkan warna bulu primer terluarnya dan penutup sayapnya putih.

Burung camar perak remaja tengkuknya berwarna cokelat, bagian punggung, mantel dan penutup sayap dalamnya bersisik cokelat. Corak pada bulu primernya menyerupai camar perak dewasa, namun pada bagian ujungnya berwarna hitam.

Panjang tubuh camar perak dewasa berkisar antara 40-45 cm dengan rentang sayap berkisar antara 91-96 cm. Berat tubuhnya berkisar antara 26 hingga 350 gram.

Burung camar perak biasanya memangsa ikan, serangga, krustasea, dan cacing. Bahkan pernah ditemukan burung-burung ini berkumpul di dekat tempat sampah dan memakan sampah-sampah manusia. Oleh karena itu, burung ini kerap kali disebut juga sebagai “pemulung” karena memakan apa saja.

Habitat dan Distribusi Burung Camar Perak (Silver Gull)

Burung camar perak merupakan spesies yang umum ditemukan. Mereka mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan perkotaan. Biasanya burung ini juga menempati area pantai, muara, dan terkadang di daerah sekitar danau, kolam, dan saluran air.

Keberhasilan adaptasi burung camar perak menyebabkan populasinya meningkat di area aktivitas manusia. Hanya ketersediaan tempat bersarang yang menjadi faktor pembatas pertumbuhan populasinya.

Burung ini dapat kita temukan di semua negara bagian Australia, serta Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Sementara itu, burung camar perak juga dapat kita temukan di Indonesia saat mereka melakukan migrasi.

Ancaman dan Konservasi

Meskipun populasi burung camar perak masih terus mengalami peningkatan, tetap saja mereka menghadapi ancaman. Melansir dari berbagai sumber, kegagalan reproduksi burung camar perak terjadi karena serangan predator seperti musang dan kucing liar.

Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) status konservasi burung camar perak ialah kurang diperhatikan (least concern).

Taksonomi Burung Camar Perak (Silver Gull)

Penulis : Anisa Putri

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-camar-perak-pemulung-yang-mudah-beradaptasi/feed/ 0
Burung Emu, Si “Flightless Bird” yang Kerap Diburu https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-emu-si-flightless-bird-yang-kerap-diburu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-emu-si-flightless-bird-yang-kerap-diburu https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-emu-si-flightless-bird-yang-kerap-diburu/#respond Mon, 13 Feb 2023 03:14:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38967 Burung Emu (Dromaius novaehollandiae) telah menjadi objek perburuan manusia sejak masa Pleistosen tengah dan atas selama lebih dari 60.000 tahun di sebagian besar pedalaman Australia. Spesies ini kerap menjadi sasaran […]]]>

Burung Emu (Dromaius novaehollandiae) telah menjadi objek perburuan manusia sejak masa Pleistosen tengah dan atas selama lebih dari 60.000 tahun di sebagian besar pedalaman Australia. Spesies ini kerap menjadi sasaran penganiayaan oleh penggembala permukiman di Eropa seperti dalam “The Great Emu War” yang populer pada 1932 di Australia Barat.

Anggota tunggal dalam genus Dromaius ini merupakan burung asli di Australia. Meski demikian, burung terbesar di Australia ini tak dapat terbang seperti halnya burung unta. Oleh karena itu, burung ini berjuluk “Flightless Bird”. Burung ini banyak diternakkan untuk memenuhi kebutuhan daging, minyak dan kulit.

Morfologi dan Ciri-Ciri 

Famili Dromiidae terbatas hanya memiliki satu spesies yang masih ada yakni Dromaius novaehollandiae, salah satu komponen paling khas dari avifauna Australia modern. Tiga subspesies yang masih hidup adalah Dromaius novaehollandiae novaehollandiae di Queensland Tengah dan Selatan, Victoria dan Australia Selatan.

Selanjutnya, Dromaius novaehollandiae woodwardi di Australia Barat Laut dan Barat dan Wilayah Utara, dan Dromaius novaehollandiae rothschildi di Australia Barat Daya.

Emu betina mencapai berat hingga 55 kilogram dengan tinggi 1,8 meter. Sementara jantan mencapai 38 kilogram dan tinggi 1,5 meter.

Bulu burung emu sangat mirip dengan burung kasuari yakni berlipat ganda, masing-masing dengan batang belakang yang panjangnya hampir sama dengan bulu utama. Burung ini mempunyai bulu lembut yang berwarna cokelat. Bulu-bulu tebal yang berwarna keabu-abuan dan kecoklatan burung ini didesain khusus supaya sinar matahari tidak bisa menembus dan masuk ke kulit.

Emu memiliki 54 vertebra pada kerangka aksial sedangkan burung unta memiliki 56 vertebra. Berbeda dengan dua jari di kaki burung unta, kaki emu, mirip dengan rhea dan kasuari yakni memiliki tiga jari.

Ukuran sayap burung ini tak lebih dari 20 sentimeter. Australian Academy of Science menjelaskan, sayap burung-burung tak terbang, seperti emu, burung unta, hingga penguin, disebut struktur vestigial. Meski tak bisa terbang, tapi mereka mempunyai kaki yang powerful, yakni berupa otot betis yang bisa melesat hingga 50 kilometer per jam. Spesies ini juga jago melompat dan berenang.

Habitat dan Distribusi Penyebaran 

Burung ini merupakan spesies asli Australia. Sebelumnya, burung ini banyak berada di pantai timur Australia tapi lambat laun mereka mulai menyingkir.

Mereka menghindari kawasan-kawasan sesak penuh aktivitas manusia, kawasan hutan padat dan wilayah kering. Misalnya seperti padang rumput, hutan yang teduh dekat dengan sumber air.

Perilaku Burung Emu

Spesies ini merupakan salah satu burung yang unik. Jika biasanya telur burung dierami oleh betina maka hal ini tak berlaku bagi burung ini.

Burung emu jantan biasa mengerami telurnya yang berwarna gelap hijau kehitaman. Bahkan, mereka tidak makan dan minum saat mengerami telur. Tak hanya itu, burung jantan juga membesarkan anak-anaknya dari lima hingga 18 bulan.

Sebaliknya emu betina lebih agresif dan bisa memiliki beberapa pasangan alias poliandri. Menariknya, burung ini memiliki rasa penasaran yang tinggi, baik pada sesama maupun spesies lain. Menurut Animal Diversity, mereka suka mematuk lalu kabur hanya untuk melihat seperti apa respons kita.

Namun, perilaku ini hanya berlaku khusus untuk burung yang tinggal di lingkungan penangkaran, bukan yang ada di alam liar. Bagian-bagian burung ini seperti daging, minyak dan kulit banyak bermanfaat untuk manusia.

Taksonomi Burung Emu (Dromaius novaehollandiae)

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-emu-si-flightless-bird-yang-kerap-diburu/feed/ 0
Puffin Atlantik, Spesies Burung Laut yang Menggemaskan https://www.greeners.co/flora-fauna/puffin-atlantik-spesies-burung-laut-yang-menggemaskan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=puffin-atlantik-spesies-burung-laut-yang-menggemaskan https://www.greeners.co/flora-fauna/puffin-atlantik-spesies-burung-laut-yang-menggemaskan/#respond Wed, 14 Dec 2022 03:22:16 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38277 Puffin atlantik adalah hewan yang sangat unik. Sayapnya tidak hanya berguna untuk terbang tapi juga berenang. Spesies burung laut ini dapat kita tandai corak bulunya yang mirip seperti penguin. Paruhnya […]]]>

Puffin atlantik adalah hewan yang sangat unik. Sayapnya tidak hanya berguna untuk terbang tapi juga berenang. Spesies burung laut ini dapat kita tandai corak bulunya yang mirip seperti penguin. Paruhnya pun memiliki warna yang sangat cerah.

Puffin adalah sebutan bagi tiga spesies alcids (auk) yang tergabung dalam genus Fratercula. Mereka dapat kita temukan di dua tempat; Samudra Atlantik Utara dan Samudra Pasifik Utara.

Seperti namanya, puffin atlantik adalah penghuni lepas pantai Samudra Atlantik Utara. Hewan ini memiliki nama ilmiah F. arctica, sebab merupakan satu-satunya puffin di wilayah tersebut.

Sedangkan kerabatnya, Tufted Puffin (F. cirrhata) dan Horned Puffin (F. corniculata) bermukim di Samudera Pasifik Utara. Ketiga spesies ini terlihat mirip, walau memiliki sejumlah perbedaan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Puffin Atlantik

Puffin atlantik dapat kita tandai dari badannya yang cukup kekar, serta mempunyai leher yang tebal. Burung ini juga memiliki ekor dan sayap pendek, dengan panjang bentangan 47–63 cm.

Panjang tubuh dari ujung paruh hingga ke ekor berkisar 28–30 cm. Spesies betina dan jantan mempunyai corak bulu serupa, tetapi sang pejantan umumnya memiliki ukuran lebih besar.

Dahi, mahkota dan tengkuk berwarna hitam, begitu pula sayap, ekor dan bagian atas belakang tubuhnya. Sedangkan bagian bawah terlihat putih, mulai dari dada, perut, sampai ke ekor.

Kaki burung ini terlihat sangat pendek, berwarna oranye, serta memiliki selaput. Warna oranye itu cukup mirip dengan corak paruhnya, sehingga sangat kontras dengan cakarnya yang hitam.

Berbicara soal paruh, warna oranye pada paruh puffin terlihat sangat cerah ketika musim kawin. Ini memudar saat musim tersebut usai, bahkan ukurannya pun tampak lebih kecil atau menciut.

Habitat dan Distribusi Puffin Atlantik

Puffin atlantik merupakan burung dari perairan dingin yang berkembang biak di wilayah pantai Eropa barat laut, pinggiran Kutub Utara, sampai ke perairan Amerika Utara bagian timur.

Lebih dari 90 % populasi globalnya dijumpai di Benua Eropa. Mereka bersarang di bagian utara Islandia dan wilayah Selatan Rusia, serta hampir 60 % ditemukan di sekitar perairan Greenland.

Saat berada di laut, burung ini dapat melakukan perjalanan jauh dari wilayah Samudra Atlantik Utara (termasuk Laut Utara) sampai memasuki Lingkaran Arktik untuk mencari makanan.

Di musim panas, batas selatannya membentang dari Prancis Utara sampai Maine. Sementara di musim dingin, burung itu bisa mencapai selatan hingga Laut Mediterania dan Carolina Utara. 

Seperti jenis puffin lain, spesies F. arctica menyelam ke dalam laut untuk memburu ikan kecil. Hewan ini juga dikenal mempunyai umur yang panjang karena dapat mencapai usia 20 tahun.

Perilaku dan Kebiasaan Puffin Atlantik

Puffin atlantik mencapai kematangan seksual pada usia 4–5 tahun. Mereka tergolong sebagai hewan monogami, artinya puffin hanya mempunyai satu pasangan untuk seumur hidupnya.

Sepasang puffin akan membangun sarang di antara bebatuan atau menggali lubang di dalam tanah. Dalam masa inkubasi, telur-telur puffin akan menetas dalam waktu antara 7–8 minggu.

Selain itu, seluruh spesies puffin dikenal mempunyai sifat sosial yang tinggi. Selain hidup dalam koloni besar, mereka juga punya cara khusus untuk menjaga keharmonisan antar-anggotanya.

Melansir Oceanwide Expeditions, satu individu puffin akan menundukkan paruhnya hingga ke dada saat melewati sarang puffin lain. Ini sebenarnya bertujuan untuk mencegah perselisihan.

Di satu sisi, genus Fratercula ialah kelompok hewan yang sangat teritorial. Mereka tidak segan untuk berkelahi satu sama lain, demi memperebutkan sarang maupun wilayah kekuasaannya.

Taksonomi Fratercula Arctica

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/puffin-atlantik-spesies-burung-laut-yang-menggemaskan/feed/ 0
Mengenal Elang Tikus, Satwa Dilindungi yang Mengagumkan https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-elang-tikus-satwa-dilindungi-yang-mengagumkan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengenal-elang-tikus-satwa-dilindungi-yang-mengagumkan https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-elang-tikus-satwa-dilindungi-yang-mengagumkan/#respond Fri, 09 Dec 2022 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38221 Seperti namanya, elang tikus gemar memburu hewan pengerat layaknya tikus. Mereka sering terlihat melayang di atas padang rumput terbuka, sehingga acap kali disalahartikan sebagai spesies kestrel atau alap-alap dari famili […]]]>

Seperti namanya, elang tikus gemar memburu hewan pengerat layaknya tikus. Mereka sering terlihat melayang di atas padang rumput terbuka, sehingga acap kali disalahartikan sebagai spesies kestrel atau alap-alap dari famili Falconidae.

Elang tikus berasal dari famili Accipitridae dan genus Elanus. Nama latinnya ialah E. caeruleus, serta masih berkerabat dengan elang bahu hitam Australia dan elang ekor putih Amerika.

Secara taksonomi, sudah jelas bahwa spesies E. caeruleus tidak berkerabat dengan alap-alap dari famili Falconidae. Pasalnya, mereka mempunyai DNA dan ciri fisik yang berbeda.

Kestrel memiliki sayap yang cenderung sempit dan runcing, serta iris mata berwarna gelap. Sedangkan spesies E. caeruleus mempunyai iris mata terang dan sayap yang membulat.

Morfologi dan Ciri-Ciri Elang Tikus

Elang tikus tergolong sebagai pemangsa diurnal berukuran kecil, dengan panjang tubuh sekitar 30 cm. Burung ini dapat kita tandai dari warna putih, abu-abu, dan hitam pada bulunya.

Selain itu, terdapat bercak hitam pada bahu burung tersebut. Bulu primernya juga berwarna hitam, ini terlihat sangat khas karena memiliki pola yang memanjang.

Saat dewasa, burung dengan nama asing black-winged kite itu memiliki bulu seperti mahkota pada punggungnya. Ada pula sayap pelindung dengan bagian pangkal ekor berwarna abu-abu.

Wajah, leher, dan bagian tubuh bawah berwarna putih. Paruhnya berwarna hitam dengan kaki berwarna kuning. Iris mata warna merah, sementara burung muda biasanya berwarna kuning.

Menurut IUCN Red List, status konservasi E. caeruleus berada pada kategori “least concern” atau risiko rendah. Tren populasinya cukup stabil, tetapi masuk dalam daftar Appendix II.

Habitat dan Distribusi Elang Tikus

Walau sering ditemukan di area padang rumput terbuka, cakupan habitat elang tikus meliputi kawasan semi-gurun di sub-Sahara Afrika dan wilayah tropis Benua Asia.

Selain itu, mereka juga dapat berpindah ke daerah pegunungan. Cakupannya meliputi dataran tinggi di Sikkim (3.650 meter), Nilgiris (2.670 meter), dan Nagaland (2.020 meter).

Namun, black-winged kite sejatinya bukan hewan pengembara. Mereka melakukan pergerakan pendek sebagai respon cuaca, seperti bermigrasi ke Ghat Barat saat musim dingin.

Setidaknya ada empat subspesies elang tikus yang berhasil ahli temukan di seluruh dunia. Dua di antaranya berada di Indonesia, dengan peta persebaran yang sangat beragam.

Subspesies Elanus Caeruleus

  • Subspesies E.c. caeruleus ditemukan di Semenanjung Iberian barat daya, seluruh daratan benua Afrika dan Arabia barat daya.
  • Subspesies E.c. vociferus berada di Timur Pakistan sampai bagian timur dan selatan China, serta wilayah Indochina dan Semenanjung Malaya.
  • Subspesies E.c. wahgiensis bermukim secara ekslusif di wilayah Pulau Papua.
  • Subspesies E.c. hypoleucus dijumpai di kawasan Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, wilayah Sunda Kecil, Kalao, dan Filipina.

Di Indonesia, spesies E. caeruleus masuk kategori sebagai hewan yang pemerintah lindungi lewat peraturan perundang-undangan. Hal ini tertuang pada Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 1999.

Perilaku dan Kebiasaan Elang Tikus

Elang tikus hidup atau bersarang secara berkelompok pada pohon berdaun lebat. Dalam satu koloninya, jumlah individu yang dapat kita temukan berkisar 15–35 ekor.

Sarangnya sendiri terdiri atas susunan ranting pohon yang longgar. Sebagian besar sarang tersebut betinalah yang membuat. Lalu di sana ia meletakkan telur-telurnya.

Black-winged kite menghasilkan 3–4 telur dalam sekali berbiak. Musim kawinnya bervariasi tergantung wilayah, biasanya terjadi pada bulan Juni sampai Desember di Jawa Barat.

Pejantan akan mengeluarkan pekikan bernada tinggi atau siulan lembut seperti “whiip..whiip..” untuk memikat betina. Suaranya cukup bising, sambil terlihat berkejar-kejaran di udara.

Jantan dan betina punya tugas mengerami telur . Namun saat anak sudah menetas, hanya sang ayahlah yang bertugas untuk mencari makan, termasuk serangga, kadal, dan ular.

Taksonomi Elanus Caeruleus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengenal-elang-tikus-satwa-dilindungi-yang-mengagumkan/feed/ 0
Burung Tekukur, Bunyi Kicaunya Unik seperti Namanya https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-tekukur-bunyi-kicaunya-unik-seperti-namanya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-tekukur-bunyi-kicaunya-unik-seperti-namanya https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-tekukur-bunyi-kicaunya-unik-seperti-namanya/#respond Wed, 30 Nov 2022 03:00:34 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=38119 Siapa sih yang enggak kenal burung tekukur? Satwa dengan nama asing spotted dove ini populer karena kemerduan kicaunya. Selain itu, tekukur juga mempunyai corak bulu yang indah, sehingga menjadi salah […]]]>

Siapa sih yang enggak kenal burung tekukur? Satwa dengan nama asing spotted dove ini populer karena kemerduan kicaunya. Selain itu, tekukur juga mempunyai corak bulu yang indah, sehingga menjadi salah satu peliharaan favorit bagi para kicau mania.

Walau ukurannya relatif kecil, spotted dove sejatinya termasuk keluarga burung merpati. Hewan ini ahli gabungkan ke dalam famili Columbidae, serta tergolong sebagai salah satu anggota genus Streptopelia.

Secara klasifikasi, famili atau suku Columbidae terdiri atas 31 genus. Ini menyebar ke berbagai daerah di seluruh dunia, meliputi wilayah India sampai Asia Tenggara, Afrika, Australia, dan juga Karibia.

Melansir berbagai sumber, tekukur yang ada di Indonesia merupakan keturunan dari tekukur yang ada di daratan China. Mereka dibawa oleh para pedagang sebagai hewan ternak maupun peliharaan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Tekukur

Burung tekukur mempunyai nama ilmiah Spilopelia chinensis. Burung ini dapat kita tandai dari ukuran tubuhnya yang kecil, berparuh runcing, berekor agak panjang, berdarah panas, serta bersifat ovipar.

Jika diukur, panjang tubuh tekukur hanya mencapai 30 cm. Warna bulu punggung cokelat kemerah-jambuan, sedangkan ekornya terlihat lebih tebal dengan corak putih pada bagian pinggirnya.

Bulu punggung atau sayap cenderung lebih gelap daripada bulu badan. Ada bercak hitam putih yang khas pada bagian lehernya. Sementara iris berwarna jingga, paruh hitam, dan kaki-kakinya berwarna merah.

Jenis jantan dan betina spotted dove juga memiliki sejumlah perbedaan. Burung betina umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan jantan, kemudian iris matanya pun terlihat kekuningan alih-alih jingga.

Sang betina juga tidak memiliki bercak putih-hitam di bagian lehernya. Sementara pejantan dapat berkembang biak sampai seberat 130 gram, lalu bulu di bagian bawah tubuhnya berwarna merah anggur.

Habitat dan Distribusi Burung Tekukur

Burung tekukur hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dapat kita jumpai di kawasan hutan, agroforest, perkebunan, pemukiman dan persawahan, serta biasa mencari makan di atas permukaan tanah.

Tidak cuma habitat, distribusi burung yang hidup secara berpasangan ini juga terbilang sangat luas. Populasinya mencakup wilayah Wallacea, mulai dari Kepulauan Talaud, Sangihe, Siau, Sulawesi, sampai ke Flores.

Selain itu, burung Columbiformes ini juga dapat kita temukan di Pulau Komodo, Sumbawa, Timor, Tidore, dan Ambon. Mereka sangat populer di Jawa dan Bali, bahkan telah diperkenalkan hingga ke Amerika Serikat.

Merujuk IUCN Red List, status konservasi S. chinensis berada pada level “least concern” atau berisiko rendah. Tren populasinya pun meningkat, sehingga tidak tergolong sebagai satwa dilindungi oleh negara.

Di tanah air, tekukur jamak dimanfaatkan sebagai burung sangkar dan atau burung kontes. Kicauannya cukup merdu dengan iramanya yang diulang-ulang, terdengar seperti ter-kuk-kur atau der-kuk-ku.

Perilaku dan Kebiasaan Burung Tekukur

Burung tekukur memiliki kebiasaan berdiam diri dengan pasangannya di jalan-jalan terbuka dan sepi dari lalu lintas. Ia bersarang sepanjang tahun pada ranting yang disusun di semak-semak yang rendah.

Untuk menarik burung betina, tekukur jantan biasanya mengeluarkan kicauan yang nyaring sambil menganggukkan kepala dan menari-nari. Sang betina dapat menghasilkan dua butir telur dalam sekali berbiak.

Spesies S. chinensis mencapai kematangan seksual pada umur 6 bulan, sedangkan usia produktifnya mencapai 5 tahun. Waktu pengeraman telur-telurnya bervariasi, tetapi biasanya tak lebih dari 14 hari.

Umur anak disapih sekitar 1 bulan. Namun sekitar 14 hari sesudahnya, induk sudah dapat bertelur kembali. Karena itu, jarak antara dua masa bertelur sekitar 45–50 hari, bahkan bisa lebih cepat yakni 30–40 hari.

Menariknya bila merasa terganggu, spotted dove akan terbang rendah di atas tanah dengan kepakan sayap yang pelan. Burung ini menyukai kedamaian dan ketenangan, sehingga cukup mudah untuk dipelihara.

Taksonomi Spilopelia Chinensis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-tekukur-bunyi-kicaunya-unik-seperti-namanya/feed/ 0
Kokokan Laut, Burung Pemalu yang Gemar Menyendiri https://www.greeners.co/flora-fauna/kokokan-laut-burung-pemalu-yang-gemar-menyendiri/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kokokan-laut-burung-pemalu-yang-gemar-menyendiri https://www.greeners.co/flora-fauna/kokokan-laut-burung-pemalu-yang-gemar-menyendiri/#respond Sun, 11 Sep 2022 03:00:23 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37297 Meski tergolong pemalu, burung ini pintar mengelabui mangsanya saat mencari makan. Saat mencari mangsa burung ini tampak tenang. Berdiam diri seolah memperhatikan setiap gerakan mangsanya di dalam air. Ini salah […]]]>

Meski tergolong pemalu, burung ini pintar mengelabui mangsanya saat mencari makan. Saat mencari mangsa burung ini tampak tenang. Berdiam diri seolah memperhatikan setiap gerakan mangsanya di dalam air. Ini salah satu keunikan Kokokan Laut (Butorides striata).

Ikan, udang, serangga, katak dan bahkan ular kecil adalah pakan Kokokan laut. Uniknya, seperti halnya manusia, burung ini juga bisa mencari makanan dengan menggunakan umpan cacing. Seolah-olah sedang memancing dengan menggerak-gerakan cacing tersebut hingga ikan akan tertarik untuk mendekat.

Kokokan laut adalah burung air yang umum bisa kita temukan di kota-kota besar di dekat pesisir seperti Jakarta, Medan dan Makassar. Berbeda dengan burung air lainnya yang berkelompok, burung ini lebih suka menyendiri. Tak heran burung ini kerap dapat julukan burung pemalu.

Kerap kali Kokokan laut berdiam diri di pinggir perairan, menunggu ikan lewat di depannya dan ditombak ketika berada di jangkauan paruhnya. Sayangnya burung ini sangat sensitif dengan kehadiran manusia, jika merasa terganggu burung ini akan segera terbang rendah dengan suara khasnya “kek, kek, kek”.

Morfologi dan Persebarannya 

Umumnya burung ini berukuran 35–48 cm dengan bentangan panjang sayap 52–60 cm. Tubuhnya berwarna abu-abu gelap. Kepalanya seperti memiliki mahkota hitam kehijauan mengkilap dengan jambul panjang berjuntai.

Memiliki garis hitam mulai dari pangkal paruh ke bawah sampai mata dan pipi. Sayap dan ekor biru berwarna kehitaman, mengkilap kehijauan dan di pinggirnya kuning tua. Perutnya berwarna abu-abu sedikit kemerahmudaan dan dagu berwarna putih.

Dari data Birds Of The World, Kokokan laut mempunyai 26 sub spesies yang tersebar dari Benua Amerika, Afrika, Asia, Australia hingga Melanesia. Di Indonesia sendiri terdapat 6 jenis sub spesies kokokan laut.

Sub spesies Kokokan laut di Indonesia antara lain Butorides striata javanica terdistribusi di Sunda besar (Sumatra, Jawa dan Kalimantan). Butorides striata spodiogaster mencakup pulau Nicobars dan pulau-pulau di barat Sumatra (Simeulue hingga Pagai). Butorides striata carcinophila di sebagian besar pulau Sulawesi.

Kemudian Butorides striata steini di kawasan pulau-pulau Nusa Tenggara. Butorides striata moluccarum mencakup Maluku dan pulau-pulau sekitarnya. Lalu Butorides striata papuensis di pulau-pulau di Raja Ampat dan pesisir utara Papua.

Habitat dan Kebiasaan Kokokan laut

Habitat burung ini berada di kawasan hutan pesisir pantai, hutan mangrove, danau, sungai hingga area persawahan. Sebagian besar di dataran rendah hingga di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun di Cuzco, Peru tercatat di ketinggian 4050 mdpl.

Untuk perkembangbiakan burung ini bersarang sendiri atau dalam koloni kecil. Sarang dari tumpukan ranting mereka buat di pohon-pohon bakau atau yang lainnya. Telur berwarna hijau kebiruan pucat, berjumlah 2-3 butir. Kokokan laut tercatat berbiak di bulan Maret, Mei dan Juni.

Di Indonesia, sub spesies Butorides striata javanica punya perbedaan tingkat kecerahan warna bulunya. Bahkan burung yang ada di Muara Angke, Jakarta dengan di Semenanjung Kampar Riau memiliki corak dan warna bulu berbeda.

Kokokan laut yang ada di Jakarta berwarna lebih cerah dan buram. Sedangkan yang ada di Riau warnanya lebih pekat. Habitat, gangguan manusia serta nutrisi makanan memengaruhi warna bulu.

Dari beberapa penelitian, daerah dengan urbanisasi yang tinggi menyebabkan penurunan jenis warna burung. Hal ini berkaitan dengan penurunan tutupan vegetasi. Selain itu, kualitas dan kuantitas sumber makanan dan nutrisi berpengaruh pada warna bulu burung.

Taksonomi Kokokan Laut (Butorides striata)

Penulis : Ady Kristanto

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kokokan-laut-burung-pemalu-yang-gemar-menyendiri/feed/ 0
Burung Madi Hijau, Ahli Kamuflase yang Terancam Punah https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/#respond Sun, 04 Sep 2022 03:00:38 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=37226 Burung madi hijau kecil pintar bersembunyi. Berkat bulu-bulunya yang berwarna hijau, hewan ini dapat berkamuflase di tengah rimbunnya dedaunan. Meski punya suara yang indah, hewan ini tidak terlalu cerewet seperti […]]]>

Burung madi hijau kecil pintar bersembunyi. Berkat bulu-bulunya yang berwarna hijau, hewan ini dapat berkamuflase di tengah rimbunnya dedaunan. Meski punya suara yang indah, hewan ini tidak terlalu cerewet seperti burung pengicau kebanyakan.

Madi hijau dikenal juga sebagai green broadbill. Hewan ini tergabung ke dalam famili Calyptomenidae dan genus Calyptomena, sehingga memiliki nama ilmiah Calyptomena viridis.

Sebelumnya, spesies satu ini dimasukkan ke dalam famili Eurylaimidae. Namun berkat riset DNA lanjutan, diketahui bahwa spesies C. viridis memiliki lebih banyak kemiripan dengan kelompok Calyptomena.

Genus Calyptomena sendiri membawahi tiga spesies burung, yakni C. viridis, C. hosii, dan C. whiteheadi. Ketiganya sama-sama berasal dari wilayah Indonesia, meski distribusi C. viridis terbilang paling luas.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Madi Hijau

Burung madi hijau dapat kita kenali dari warna bulunya yang khas. Warna hijau tersebut sangat mirip dengan warna dedaunan, sehingga membantu menyamarkan eksistensinya saat sedang bertengger.

Tidak cuma hijau, bulu burung ini juga dihiasi oleh corak hitam pada bagian sayap dan telinganya. Corak pada sayapnya itu terlihat sangat unik karena membentuk seperti tiga garis yang melintang.

Dibandingkan tiga saudaranya, ukuran green broadbill memang tergolong yang paling kecil. Panjang tubuhnya cuma mencapai 17 cm, sedangkan dua spesies lainnya dapat berbiak hingga 20 cm lebih.

Spesies jantan dan betina tidak memiliki perbedaan yang terlalu besar. Namun corak burung betina biasanya lebih kusam, mereka juga tidak memiliki tanda hitam pada bagian sayap dan telinganya.

Paruh burung ini sangat kecil, bahkan hampir tidak terlihat karena tertutupi oleh bulu-bulu wajah. Kaki dan ekor mereka pun demikian, sedangkan kepala dan badannya terlihat membulat atau buntal.

Habitat dan Distribusi Burung Madi Hijau

Burung madi hijau dapat kita temukan di kawasan hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Meskipun sangat jarang, di Pulau Sumatra hewan ini disebut-sebut dapat menjangkau wilayah berketinggian 1.700 meter dpl. Sedangkan di Kalimantan, jangkauan jelajahnya bisa mencapai 1.200 meter dpl.

Distribusinya sendiri terbagi berdasarkan habitat subspesiesnya. Kelompok ini setidaknya mempunyai tiga subspesies, dengan peta penyebaran sebagai berikut:

  • C. v. viridis tersebar di Pulau Sumatra, Nias, Pulau Batu, Kepulauan Lingga, Kepulauan Natuna Utara, dan Kalimantan
  • C. v. caudacuta tersebar di Myanmar selatan, Thailand barat daya dan Semenanjung Malaysia, termasuk kepulauan Rah dan Phuket
  • C. v. siberu tersebar di Kepulauan Mentawai meliputi wilayah Siberut, serta Pagai utara dan selatan.

Beberapa sumber menyebut bahwa green broadbill sempat ditemukan di Singapura dan Pulau Pinang. Namun populasinya semakin jarang terlihat, bahkan hampir bisa dikatakan punah.

Melansir IUCN Red List, status konservasi C. viridis berada pada kategori “near threatened” atau hampir terancam. Tren populasinya pun semakin menipis akibat deforestasi hutan dan kerusakan habitat.

Perilaku dan Kebiasaan Burung Madi Hijau

Burung madi hijau hidup secara soliter atau sendirian. Mereka acap kali terlihat bertengger pada tajuk pohon, berdiam diri sambil memantau makanan yang ada di sekitar hutan.

Jika berkicau, suara burung ini terdengar merdu dan menenangkan. Karena itu pula lah, banyak masyarakat yang tertarik memburu burung tersebut untuk dijadikan hewan peliharaan.

Di alam liar, green broadbill memakan buah-buahan dan spesies invertebrata. Mereka merupakan golongan burung penetap, yang melakukan perpindahan secara lokal mengikuti musim buah di hutan.

Di Pulau Sumatra, satwa ini berbiak pada bulan Januari hingga Juni. Sarangnya mirip seperti buah labu yang terbuat dari serat tumbuhan, menggantung di percabangan pohon setinggi 1–2 meter di atas tanah.

Betina menghasilkan 1–3 butir telur berwarna putih dalam sekali berbiak. Anak-anaknya tetap diasuh oleh sang induk saat masih kecil, sedangkan waktu pendewasaannya dicapai pada usia 22–23 hari.

Taksonomi Spesies Calyptomena Viridis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-madi-hijau-ahli-kamuflase-yang-terancam-punah/feed/ 0
Bondol Haji, Si Kepala Putih yang Suka Mencuri Padi Petani https://www.greeners.co/flora-fauna/bondol-haji-si-kepala-putih-yang-suka-mencuri-padi-petani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bondol-haji-si-kepala-putih-yang-suka-mencuri-padi-petani https://www.greeners.co/flora-fauna/bondol-haji-si-kepala-putih-yang-suka-mencuri-padi-petani/#respond Sat, 06 Aug 2022 04:24:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36940 Burung bondol atau pipit adalah salah satu kelompok burung kecil yang tergabung ke dalam famili Estrildidae. Hewan ini dapat kita kenali dari warna bulunya yang indah, seperti halnya spesies bondol […]]]>

Burung bondol atau pipit adalah salah satu kelompok burung kecil yang tergabung ke dalam famili Estrildidae. Hewan ini dapat kita kenali dari warna bulunya yang indah, seperti halnya spesies bondol haji.

Lonchura maja atau bondol haji dikenal juga sebagai pipit haji. Mereka memiliki warna putih di bagian kepalanya, sehingga mirip orang-orang yang memakai peci setelah melakukan haji.

Selain keunikan tersebut, burung ini juga dapat kita kenali dari kicaunya yang indah. Mereka mempunyai nada suara tinggi seperti seruling, yang bunyinya “puip…puip” jika berkelompok.

Dalam kehidupan sehari-hari spesies L. maja memang senang berkumpul. Eksistensinya juga cukup mudah kita temukan karena hidup di sekitar pemukiman, kebun, sampai persawahan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Bondol Haji

Ukuran tubuh bondol haji hanya sekitar 11 cm. Burung ini memiliki warna bulu dasar cokelat putih seperti burung bondol oto-hitam (L. ferruginosa) tapi dengan warna yang lebih terang.

Seluruh kepala dan tenggorokannya sendiri berwarna putih. Spesies burung muda dapat kita kenali dari tubuh bagian atasnya yang berwarna cokelat, tapi kuning tua pada bagian bawah.

Tidak cuma itu, spesies muda juga memiliki bulu wajah berwarna kekuningan. Iris burung ini bercorak cokelat, paruhnya berwarna abu-abu kebiruan, sedangkan kakinya kebiruan pucat.

Spesies burung muda juga dapat kita tandai dari warna keputihan pada bagian belakang dan bawah telinga. Bentuk mata mereka bulat telur atau agak bundar dengan corak hitam pekat.

Berkat keunikan warnanya, banyak orang tertarik memelihara burung pipit haji. Populasinya di alam liar terhitung masih banyak, sehingga tidak tergolong sebagai hewan yang dilindungi.

Habitat dan Distribusi Bondol Haji

Habitat burung bondol haji berada di wilayah tropis. Populasinya menyebar mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Sulawesi di Indonesia, serta Thailand, Vietnam dan Malay Peninsula.

Bahkan, spesies ini telah diperkenalkan sampai ke Okinawa dan Osaka di Jepang. Habitatnya tidak jauh berbeda dengan bondol lain, yang hidup di dataran terbuka maupun perkebunan.

Di Sumatra, Jawa dan Bali, burung ini terdistribusi sampai pada kawasan berketinggian 1.500 meter di atas laut. Mereka sering mengunjungi rawa dan persawahan untuk mencari makan.

Karena itu bagi sebagian orang spesies L. maja adalah hama. Padahal mereka dapat menjadi perameter kualitas lingkungan, mengingat mereka cuma tinggal di area yang masih asri saja.

Burung yang dikenal sebagai emprit haji atau emprit kaji oleh warga Jawa ini memiliki sarang berupa anyaman. Itu terbuat dari rumput kering yang ditumpuk serta tergulung seperti bola.

Pola Hidup dan Perilaku Bondol Haji

Bondol haji pada dasarnya senang berkumpul. Saat musim panen padi tiba, kawanan burung ini datang dalam jumlah yang besar, lalu menyerbu biji padi para petani di area persawahan.

Selain itu, mereka juga berpasang-pasangan saat memasuki musim kawin. Waktu reproduksi sendiri terjadi pada bulan Februari, yang selanjutnya diikuti oleh perilaku bersarang mereka.

Emprit kaji mendiami sarangnya selama bertelur, pengeraman, penetasan dan pengasuhan. Mereka bisa membangun sarangnya sendiri, tapi sering pula menempati sarang burung lain.

Meskipun tinggal di antara manusia, kehadiran spesies L. maja sudah semakin jarang terlihat. Ini bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya adalah perilaku pemalu mereka.

Emprit kaji menghindari keberadaan manusia. Spesies juga bisa menetap dalam satu daerah dengan bondol lain, tapi mereka tidak mampu bersaing dan berbaur dengan burung lainnya.

Taksonomi Spesies Lonchura Maja

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/bondol-haji-si-kepala-putih-yang-suka-mencuri-padi-petani/feed/ 0
Cici Merah, Burung Pengicau yang Pintar Menjahit https://www.greeners.co/flora-fauna/cici-merah-burung-pengicau-yang-pintar-menjahit/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=cici-merah-burung-pengicau-yang-pintar-menjahit https://www.greeners.co/flora-fauna/cici-merah-burung-pengicau-yang-pintar-menjahit/#respond Fri, 10 Jun 2022 03:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36399 Ada banyak jenis burung pengicau di Indonesia. Tidak cuma bernyanyi, beberapa burung itu bahkan memiliki tampilan yang indah. Contohnya saja kelompok cici merah, burung berbulu kuning yang punya suara lantang. […]]]>

Ada banyak jenis burung pengicau di Indonesia. Tidak cuma bernyanyi, beberapa burung itu bahkan memiliki tampilan yang indah. Contohnya saja kelompok cici merah, burung berbulu kuning yang punya suara lantang.

Cisticola exilis merupakan nama ilmiah spesies cici merah. Mereka ahli gabungkan ke dalam famili Cisticolidae dan genus Cisticola, sehingga berkerabat dengan cici padi atau C. juncidis.

Dalam bahasa asing, spesies hewan ini dikenal juga sebagai golden-headed cisticola. Hal itu merujuk pada mahkota kuning sang jantan, yang baru dapat terlihat saat musim kawin tiba.

Penampilan C. exilis dan C. juncidis sejatinya cukup mirip. Keduanya sama-sama punya bulu berwarna kuning, walaupun warna tersebut terlihat lebih terang pada bagian mata cici padi.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Cici Merah

Ukuran tubuh golden-headed cisticola umumnya tidak terlalu besar. Mereka hanya berbiak sampai sepanjang 11 cm, dengan sisi atas tubuh berwarna kecokelatan serta bergaris hitam.

Sisi bawah tubuh burung tersebut tampak kuning tua. Kelompok jantan bisa kita tandai dari mahkota atau cambulnya, sedangkan sang betina hanya memiliki corak bergaris kehitaman.

Burung cici merah mempunyai ekor pendek berwarna cokelat tua dengan ujung kuning. Iris matanya tampak berwarna cokelat, sedangkan kakinya berwarna cokelat muda atau terang.

Bagian paruh memiliki dua corak warna; cokelat tua di bagian atas dan merah muda bagian bawah. Badan mereka membulat dan agak buntal, sedangkan bola matanya kecil dan hitam.

Secara kasat mata, burung-burung dari keluarga Cisticola memang sangat sulit diidentifikasi. Ciri khas masing-masing spesies tidak terletak pada corak bulu, namun suara atau kicaunya.

Habitat dan Distribusi Burung Cici Merah

Perlu Anda ketahui, burung cici merah sejatinya memiliki 12 anak jenis. Berbagai subspesies tersebut menyebar ke berbagai daerah mulai dari wilayah India sampai ke Australia, seperti:

  • Subspesies C. e. erythrocephalus bermukim di wilayah India selatan (Karnataka tengah dan selatan, Tamil Nadu barat dan Kerala)
  • Subspesies C. e. tytleri berada di India utara dan Nepal selatan, Burma barat dan utara, serta Cina selatan (Xizang tenggara dan Yunnan barat)
  • Subspesies C. e. equicaudatus menghuni wilayah Burma timur, Thailand (kecuali bagian selatan), Laos, Kamboja, dan Vietnam selatan
  • Subspesies C. e. courtoisi berada di Cina selatan dan timur (Yunnan tenggara, Anhui selatan dan Fujian barat laut, serta Guanxi dan Guangdong)
  • Subspesies C. e. volitans memiliki distribusi terbatas di kawasan Taiwan
  • Subspesies C. e. semirufus hanya ada di Filipina (kecuali Palawan) dan Kepulauan Sulu
  • Subspesies C. e. lineocapilla bermukim di wilayah Pulau Sumatra, Kalimantan barat daya, Jawa, Sunda Kecil dan Australia barat laut.
  • Subspesies C. e. rusticus ditemukan di Pulau Sulawesi, Peleng, Buru dan Seram
  • Subspesies C. e. diminutus menghuni dataran rendah Papua Nugini, pulau-pulau di Selat Torres, sampai ke Queensland utara
  • Subspesies C. e. polionotus terbatas di Kepulauan Bismarck (New Britain, New Ireland, serta pulau-pulau di sekitarnya
  • Subspesies C. e. alexandrae Australia utara (Australia Barat bagian utara, pedalaman Northern Territory ke timur hingga Queensland tengah)
  • Subspesies C. e. exilis bermukim di Australia tenggara (Queensland tenggara, New South Wales, Australia Selatan bagian tenggara, Victoria tenggara dan King Island).

Di tanah air, spesies cici merah jamak ditemukan di kawasan bukit dan pegunungan. Mereka dapat terbang sampai daerah berketinggian 1.200-1.830 meter di atas permukaan laut (dpl).

Perilaku dan Kebiasaan Burung Cici Merah

Golden-headed cisticola mempunyai kemampuan yang unik. Mereka bisa menata sarangnya dengan rumput serta serat tumbuhan, lalu menjahit bagian luarnya dengan jaring laba-laba.

Sarang yang berbentuk bola itu dibuat memanjang namun berongga di bagian dalamnya. Ini biasanya diletakkan pada batang-batang rumput, alang-alang, maupun daerah persawahan.

Karena itu, spesies cici merah sendiri dijuluki sebagai burung penjahit. Mereka mencari ulat dan serangga sebagai makanan, sambil sesekali terdengar berkicau dari balik semak belukar.

Pejantan biasanya mengeluarkan suara nyaring seperti dengingan serangga. Suara tersebut diikuti oleh bunyi seperti “pluk” keras, serta kicauan mencaki-maki yang tinggi dan lantang.

Di Pulau Jawa, musim kawin kelompok C. exilis terjadi sekitar bulan Mei. Induk betina dapat menghasilkan 3-4 butir telur; warnanya biru pucat tapi kadang-kadang dihiasi bintik merah.

Taksonomi Spesies Cisticola Exilis

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/cici-merah-burung-pengicau-yang-pintar-menjahit/feed/ 0
Gagang Bayam Timur, Burung Rawa yang Bisa Pura-Pura Cedera https://www.greeners.co/flora-fauna/gagang-bayam-timur-burung-rawa-yang-bisa-pura-pura-cedera/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gagang-bayam-timur-burung-rawa-yang-bisa-pura-pura-cedera https://www.greeners.co/flora-fauna/gagang-bayam-timur-burung-rawa-yang-bisa-pura-pura-cedera/#respond Fri, 20 May 2022 03:00:12 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36214 Bagi warga pesisir, nama gagang bayam timur mungkin sudah tidak asing terdengar. Namun bagi masyarakat luas, burung ini sedang hangat menjadi perbincangan seiring pelibatannya sebagai salah satu mekanisme pembersih hama […]]]>

Bagi warga pesisir, nama gagang bayam timur mungkin sudah tidak asing terdengar. Namun bagi masyarakat luas, burung ini sedang hangat menjadi perbincangan seiring pelibatannya sebagai salah satu mekanisme pembersih hama di Jakarta International Stadium (JIS).

Spesies gagang bayam ahli gabungkan dalam famili Recurvirostridae dan genus Himantopus. Hewan ini merupakan salah satu pemakan invertebrata, yang hidup di sekitar ekosistem air.

Berdasarkan klasifikasinya, gagang bayam memiliki nama ilmiah Himantopus leucocephalus. Mereka berkaitan dengan black-winged stilt, bahkan sering dianggap sebagai subspesiesnya.

Selain saudara se-marga, gagang bayam timur juga cukup mirip dengan kareo padi. Mereka sama-sama penghuni daerah rawa, hanya saja burung kareo terlihat lebih bulat atau buntal.

Morfologi dan Ciri-Ciri Himantopus Leucocephalus

Panjang tubuh spesies H. leucocephalus biasanya berkisar 37 cm. Mereka memiliki bulu bercorak hitam dan putih, dengan kaki-kaki panjang dan kurus berwarna merah hingga merah jambu.

Bagian bulu kepala dan tubuh berwarna putih, sedangkan bagian sayap, tengkuk serta leher belakang berwarna hitam. Mereka bisa kita cirikan dari paruhnya yang runcing dan panjang.

Ketika masih muda, bulu burung tersebut cenderung berwarna abu-abu kecokelatan. Kepala dan perutnya berwarna abu-abu, sedangkan punggung dan sebagian sayapnya kecokelatan.

Gagang bayam timur punya iris mata merah jambu, yang akan berubah menjadi hitam pekat saat dewasa. Cakarnya juga berwarna hitam, dengan bulu-bulu ekor berwarna keabu-abuan.

Di alam liar, burung berordo Charadriiformes ini hidup berpasang-pasangan. Mereka dapat kita temukan dalam kelompok kecil, mencari makan di sekitar perairan dangkal atau pesisir.

Habitat dan Distribusi Gagang Bayam Timur

Secara spesifik, habitat gagang bayam timur berada di kawasan rawa payau dan tawar, tepi sungai, danau yang dangkal, sawah, beting lumpur, tambak garam, hingga perairan muara.

Kelompoknya sendiri terbagi atas dua golongan, yakni burung migran dan penetap. Di Tanah Air kedua kelompok tersebut sejatinya dapat ditemukan, tapi di wilayah yang berbeda-beda.

Kawanan burung migran biasanya berasal dari Australia dan Selandia Baru, yang pada waktu musim dingin bermigrasi ke wilayah pesisir Pulau Sumatra, Sulawesi, sampai ke Pulau Jawa.

Sedangkan spesies penetap, populasinya dapat kita jumpai mulai dari Pulau Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Proses migrasi terjadi mulai dari bulan Mei hingga Agustus.

Melansir IUCN Red List, status konservasi burung gagang bayam timur berada di level risiko rendah. Tren populasinya bahkan meningkat sehingga tidak tergolong sebagai satwa langka.

Perilaku dan Pola Hidup Gagang Bayam Timur

Spesies H. leucocephalus punya jiwa sosial yang tinggi. Mereka hidup berkelompok, bahkan acap kali berkoloni dengan kawanan burung lainnya, seperti dari spesies H. novaezelandiae.

Saat mencari mangsa, burung tersebut menggunakan paruhnya yang tajam untuk mematuk permukaan lumpur. Mereka kebanyakan mengonsumsi serangga air dan jenis moluska kecil.

Saat terbang, gagang bayam timur mengeluarkan suara pekikan keras untuk berkomunikasi. Mereka terbang dengan kaki-kaki yang mengarah ke belakang dan bergoyang dari sisi ke sisi.

Sarang spesies H. leucocephalus terbuat dari tumpukan serasah di atas permukaan lumpur atau semak. Mereka menaruh telur-telurnya di sana, yang umumnya berjumlah sekitar 3–4 butir.

Anak-anak meninggalkan sarang setelah menetas. Untuk melindungi mereka, sang induk tak jarang harus berpura-pura cedera kaki untuk menarik perhatian predator dari anak-anaknya.

Taksonomi Spesies Himantopus Leucocephalus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/gagang-bayam-timur-burung-rawa-yang-bisa-pura-pura-cedera/feed/ 0
Burung Kacamata, Ada Suara Lantang di Balik Tubuh Kecilnya https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kacamata-ada-suara-lantang-di-balik-tubuh-kecilnya/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-kacamata-ada-suara-lantang-di-balik-tubuh-kecilnya https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kacamata-ada-suara-lantang-di-balik-tubuh-kecilnya/#respond Mon, 16 May 2022 03:34:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=36171 Meski memiliki tubuh yang kecil, suara burung ini ternyata cukup nyaring dan juga merdu. Tampilannya juga sangat unik, sebab identik dengan corak keputihan di sekitar area mata. Bagi Anda yang […]]]>

Meski memiliki tubuh yang kecil, suara burung ini ternyata cukup nyaring dan juga merdu. Tampilannya juga sangat unik, sebab identik dengan corak keputihan di sekitar area mata. Bagi Anda yang belum familiar, inilah spesies burung kacamata.

Burung kacamata atau dikenal juga sebagai pleci, merupakan salah satu spesies burung yang berasal dari genus Zosterops, famili Zosteropidae dan ordo Passeriformes (burung tengger).

Ini merupakan keluarga burung yang sangat besar, dengan total anggota inti sekitar 75 jenis. Sebagian spesiesnya juga terbagi atas beberapa subspesies, salah satunya kacamata biasa.

Burung kacamata biasa mempunyai nama ilmiah Zosterops palpebrosus. Jenis ini setidaknya terbagi atas empat ras atau subspesies, yang sebagian besar bisa kita temukan di Indonesia.

Subspesies dan Distribusi Burung Kacamata Biasa

Distribusi burung kacamata biasa terbilang cukup luas, menyebar mulai dari India, Cina dan Indonesia. Di Tanah Air, empat anak jenisnya dapat kita temukan di berbagai daerah seperti:

  • Z. p. auriventer di Pulau Sumatra dan Kalimantan
  • Z. p. buxtoni di Sumatra, Kalimantan dan Jawa Barat
  • Z. p. melanurus di Pulau Jawa dan Bali
  • Z. p. unicus di Sumbawa dan Flores.

Spesies Z. palpebrosus tidak melakukan migrasi, sehingga jarang dijumpai di luar habitatnya. Burung satu ini juga hidup dalam kelompok besar, umumnya tak kurang dari empat anggota.

Secara umum, burung kacamata biasa menetap di hutan terbuka sekitar Asia Tropis. Mereka disebut sebagai oriental white-eye oleh warga dunia, yang merujuk pada lingkaran matanya.

Menurut IUCN Red List, status konservasi Z. palpebrosus berada di level “least concern” atau risiko rendah. Karena itu, berbagai rasnya masih sering diperjualbelikan sebagai peliharaan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Kacamata Biasa

Burung kacamata dapat kita tandai dari ukuran tubuhnya yang kecil, dengan panjang sekitar 10–11 cm. Mereka tergolong sangat lincah, memiliki sayap membundar serta kaki yang kuat.

Bulu bagian atas burung tersebut dominan bercorak hijau atau hijau kekuningan. Sedangkan bagian bawah bervariasi tergantung ras, dengan leher dan dadanya berwarna kuning terang.

Berbicara soal ras, terdapat sejumlah perbedaan ciri fisik antara keempat subspesies Z. palpebrosus. Namun fitur- fitur utama biasanya sama saja sehingga sulit dibedakan, misalnya:

  • Perut atau sisi bawah p. auriventer berwarna putih, namun terapa corak bermotif pita kecil atau sempit berwarna kuning pada bagian tengahnya
  • Bagian perut p. melanurus berwarna dominan kuning, sedangkan punggung berwarna hijau zaitun. Dibanding spesies lain, ukuran tubuh ras ini terbilang cukup besar. Mereka dapat kita tandai dari warna paruhnya yang hitam pekat
  • Subspesies p. unicus sangat mirip dengan Z. p. melanurus. Hanya saja, rasa ini memiliki tunggir berwarna kuning terang
  • Sisi bagian bawah p. buxtoni berwarna abu-abu keputihan. Ini memiliki corak bergaris kuning membujur di tengah dada sampai ke perut, dengan paha berwarna putih dan iris mata kecokelatan.

Tidak cuma ras, burung kacamata betina dan jantan juga bisa dibedakan melalui ciri fisiknya. Pejantan biasanya mempunyai garis “kacamata” lebih tebal serta tubuh yang lebih panjang.

Pola Hidup dan Kebiasaan Burung Kacamata Biasa

Burung kacamata biasa merupakan hewan pemakan serangga. Meski begitu mereka sesekali mengonsumsi nektar dan buah-buahan, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan vitaminnya.

Di alam liar, spesies burung ini berburu dengan cara berkelompok. Mereka terbang dari satu dahan ke dahan lainnnya sambil berkicau keras, untuk berkomunikasi dengan kelompoknya.

Di Pulau Jawa, burung kacamata berkembang biak mulai dari Januari hingga Oktober. Betina mampu menghasilkan telur antara 2–5 butir, yang diletakkan pada sarang berbentuk cawan.

Sarangnya ini terbuat dari akar-akaran, tangkai dan tulang daun, serta bagian tanaman lain. Rumah mereka juga dihiasi oleh lumut, diletakkan pada cabang pohon atau rumpun bambu.

Perlu diingat, memelihara serta memperjualbelikan spesies Z. palpebrosus bukan kegiatan terlarang. Namun rawatlah mereka sebaik mungkin, agar kelestariannya senantiasa terjaga.

Taksonomi Spesies Zosterops Palpebrosus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-kacamata-ada-suara-lantang-di-balik-tubuh-kecilnya/feed/ 0
Kuntul Kecil, Burung Cantik yang Senang Menjelajah https://www.greeners.co/flora-fauna/kuntul-kecil-burung-cantik-yang-senang-menjelajah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kuntul-kecil-burung-cantik-yang-senang-menjelajah https://www.greeners.co/flora-fauna/kuntul-kecil-burung-cantik-yang-senang-menjelajah/#respond Wed, 13 Apr 2022 03:00:13 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35857 Kuntul kecil adalah jenis burung berukuran sedang yang berasal dari suku Ardeidae. Hewan ini berkerabat dengan burung cangak (genus Ardea), namun secara penampilan lebih mirip kuntul salju atau snowy egret […]]]>

Kuntul kecil adalah jenis burung berukuran sedang yang berasal dari suku Ardeidae. Hewan ini berkerabat dengan burung cangak (genus Ardea), namun secara penampilan lebih mirip kuntul salju atau snowy egret dari Karibia.

Egretta garzetta merupakan nama latin burung kuntul kecil. Spesies ini setidaknya memiliki tiga anak jenis (subspesies) di antaranya E. g. garzetta, E. g. nigripes, serta E. g. immaculata.

Seluruh spesies E. garzetta sendiri sebenarnya bisa kita temukan di berbagai belahan dunia. Distribusinya sangat luas, sehingga terbilang cukup umum dibandingkan jenis kuntul lainnya.

Dari 24 spesies Ardeidae di dunia, setengah di antaranya tergolong sebagai satwa dilindungi. Peran mereka dianggap sangat penting, yakni sebagai komponen keseimbangan lingkungan.

Morfologi dan Ciri-Ciri Kuntul Kecil

Meskipun disebut sebagai kuntul kecil, burung satu ini mempunyai ukuran tubuh agak besar dan ramping. Ia tergolong lebih besar dari kuntul kerbau, tetapi lebih kecil dari kuntul perak.

Rata-rata ukuran tubuhnya berkisar 55–65 cm, sedangkan panjang bentang sayap mencapai 88–106 cm. Hampir seluruh tubuh E. garzetta tertutup oleh bulu-bulu halus berwarna putih.

Mereka bisa kita kenali dari paruhnya yang hitam keabu-abuan. Tungkai dan kaki berwarna hitam, sedangkan kulit wajah tampak kuning kehijauan atau kemerahan saat musim berbiak.

Tidak cuma itu, pada musim kawin hewan ini memiliki dua bulu putih tipis yang memanjang di bagian tengkuk. Bulu punggung juga tampak lebih panjang sampai melewati bagian ekor.

Melansir berbagai sumber, warna putih kuntul kecil cenderung lebih bersih ketika memasuki waktu berbiak. Bulu dadanya pun relatif lebih lebat, sehingga tampak lebih besar dan indah.

Habitat dan Distribusi Kuntul Kecil

Populasi burung kuntul kecil tersebar di benua Afrika, Eropa, Asia dan Australasia. Di Tanah Air, hewan cantik ini dapat pula kita jumpai di Pulau Jawa, Bali, Sumatra, hingga Kalimantan.

Spesies E. garzetta sendiri dikenal memiliki kemampuan terbang yang kuat. Satwa ini dapat berpindah dari satu daerah ke daerah lain, bahkan mampu terbang menyebrangi samudera.

Burung kuntul asal Australia disinyalir menjadi ras pengunjung di wilayah Papua. Sedangkan di Sulawesi dan Ambon, subspesies yang ditemukan berasal dari ras garzetta berkaki kuning.

Benua Amerika tak luput dari “jajahan” spesies kuntul kecil. Mereka pertama kali terlihat di Barbados pada April 1954, lalu mulai berkembang sampai ke Suriname, Brasil dan Quebec.

Secara alami habitat E. garzetta meliputi sawah, tepi sungai, beting pasir dan sungai-sungai kecil di pesisir. Mereka hidup dalam kelompok, tetapi dapat berbaur dengan burung lainnya.

Pola Hidup dan Kebiasaan Kuntul Kecil

Saat mencari makan, burung kuntul kecil akan berkumpul dalam kelompok yang terpencar-pencar. Kadang-kadang terlihat memangsa di tepi pantai yang dangkal atau area berlumpur.

Jika sudah saatnya pulang, burung-burung ini akan terbang dengan membentuk formasi ‘V’. Mereka memangsa berbagai jenis ikan, kodok, krustasea, serangga, hingga spesies belalang.

Sarang burung kuntul kecil sendiri berupa ranting-ranting yang ditumpuk seperti panggung. Biasanya terletak di atas pohon, terutama pohon-pohon yang tanahnya tergenangi oleh air.

Saat memikat pasangan, burung-burung ini memperlihatkan gerakan-gerakan indah dengan bulu-bulu yang ditegakkan. Perkawinan dapat menghasilkan 3-4 telur berwarna biru pucat.

Di Jawa Barat, spesies E. garzetta berkembang biak di sepanjang bulan Februari hingga Juli. Sedangkan di Jawa Timur, musim kawin berlangsung dari bulan Desember sampai ke Maret.

Taksonomi Spesies Egretta Garzetta

Penulis : Yuhan Al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/kuntul-kecil-burung-cantik-yang-senang-menjelajah/feed/ 0
Dua Spesies Burung Baru Ditemukan di Kalimantan Tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/dua-spesies-burung-baru-ditemukan-di-kalimantan-tenggara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dua-spesies-burung-baru-ditemukan-di-kalimantan-tenggara https://www.greeners.co/flora-fauna/dua-spesies-burung-baru-ditemukan-di-kalimantan-tenggara/#respond Sun, 03 Apr 2022 03:00:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35773 Jakarta (Greeners) – Dua spesies burung baru ditemukan di Kalimantan Tenggara. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi bersama mitra internasional ini berawal sejak […]]]>

Jakarta (Greeners) – Dua spesies burung baru ditemukan di Kalimantan Tenggara. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi bersama mitra internasional ini berawal sejak tahun 2016 dan berhasil mereka publikasi tahun 2022. Dua spesies burung tersebut yaitu Cyornis kadayangensis (Sikatan Kadayang) dan Zosterops meratusensis (Kacamata Meratus).

“Sebelumnya pada tahun 2020, kami mendeskripsikan satu burung jenis baru dari lokasi yang sama,” ungkap peneliti senior BRIN Dewi M. Prawiradilaga dalam keterangannya baru-baru ini.

Mitra internasional yang berkolaborasi bersama dengan BRIN yaitu Lousiana State University, USA. Dewi merupakan Principal Investigator dari kerja sama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN yang saat itu masih bernama Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Mohammad Irham menyatakan, penelitian burung jenis baru ini dilakukan melalui serangkaian proses.
Adapun prosesnya melalui studi morfologi, DNA, hingga vokalisasi dari jenis baru ini dan kerabatnya.

“Hasil kajian tersebut menunjukkan populasi Zosterops dan Cyornis di Pegunungan Meratus berbeda dari kerabatnya, sehingga kami anggap sebagai spesies yang terpisah dan baru,” kata Mohammad.

Deskripsi Bagian Fisik Spesies Burung Baru

Sementara itu peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN lainnya Tri Haryoko mendeskripsikan bagian fisik. Kacamata Meratus fisiknya berwarna hijau zaitun dengan corak zaitun kekuningan pada tubuh bagian bawah.

Oleh karenanya, keduanya dapat dibedakan. Kerabat yang paling dekat yaitu Kacamata Laut (Z. chloris) yang memiliki warna kuning yang lebih terang.

Sedangkan Sikatan Kadayang memiliki warna yang lebih khas. Tubuh bagian atas berwarna biru dan bagian bawah bewarna cokelat jingga terang sampai putih.

“Sikatan Kadayang berbeda dari Sikatan Dayak (C. montanus) yang memiliki warna biru lebih pekat dan tubuh bawah kecokelatan tanpa warna putih,” kata dia.

Ancaman dan Potensi Kerusakan Habitat Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus yang terisolasi dari rantai pegunungan lain di Kalimantan, membentuk komunitas fauna yang unik seperti yang terlihat pada kelompok burung. Status konservasi, kelestarian burung di Pegunungan Meratus memiliki potensi ancaman dari perubahan dan kerusakan habitat.

Wilayah dataran rendah dari Pegunungan Meratus telah mengalami perubahan. Hal ini menyisakan habitat yang relatif utuh di zona pegunungan di atas 500 m di atas permukaan laut dengan luasan yang cukup terbatas.

Ancaman lain yakni adanya perburuan burung untuk memenuhi pasar burung berkicau. Perburuan ini mendorong populasi burung di Meratus ke jurang kepunahan. Oleh karena itu konservasi habitat dan spesies di Pegunungan Meratus sangat penting untuk dilakukan.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/dua-spesies-burung-baru-ditemukan-di-kalimantan-tenggara/feed/ 0
Burung Shoebill, Si Pemalu yang Ternyata Sangat Kejam https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-shoebill-si-pemalu-yang-ternyata-sangat-kejam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-shoebill-si-pemalu-yang-ternyata-sangat-kejam https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-shoebill-si-pemalu-yang-ternyata-sangat-kejam/#respond Mon, 14 Feb 2022 03:29:31 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35287 Burung shoebill memang sangat unik. Selain hidup sejak zaman prasejarah, burung besar ini awam nilai memiliki rupa yang menyeramkan. Paruhnya yang besar juga tampak seperti sepatu, sehingga spesies ini kerap […]]]>

Burung shoebill memang sangat unik. Selain hidup sejak zaman prasejarah, burung besar ini awam nilai memiliki rupa yang menyeramkan. Paruhnya yang besar juga tampak seperti sepatu, sehingga spesies ini kerap dijuluki sebagai shoe-billed stork.

Meskipun sering diasosiasikan dengan kelompok bangau, shoebill nyatanya lebih berkerabat dengan pelikan. Mereka tergabung dalam ordo Pelecaniformes dan famili Balaenicipitidae.

Secara klasifikasi, shoebill mempunyai nama ilmiah Balaeniceps rex. Spesiesnya pertama kali dideskripsikan oleh ilmuwan dan ahli burung asal Inggris, John Gould, pada tahun 1850.

Melansir berbagai sumber, burung shoebill bisa berkembang biak hingga seukuran manusia remaja. Warna bulunya kecokelatan saat muda, namun berubah jadi abu-abu saat dewasa.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Shoebill

Tinggi shoebill dapat mencapai 110-140 cm, dengan panjang berkisar 100-140 cm dari ekor ke paruh. Bentang sayapnya sekitar 230-260 cm, sedangkan bobot tubuh mencapai 4-7 kg.

Sang betina berbiak hingga 4,9 kg, sedangkan pejantan rata-rata 5,6 kg. Spesies ini memiliki paruh berwarna kecokelatan dengan bercak hitam, panjangnya bahkan mencapai 24 cm.

Tidak cuma panjang, lebar paruh burung shoebill mencapai 20 cm. Ukurannya lebih besar dibanding burung pada umumnya, terkenal sangat kuat serta memiliki ujung yang tajam.

Sebagai spesies pelikan, burung shoebill lahir dengan ukuran kaki jenjang dan cukup kokoh. Kaki kurusnya itu mempunyai jari tengah yang cukup besar, yakni mencapai 16,8-18,5 cm.

Di sejumlah daerah, shoebill dikenal juga sebagai whalehead atau whale-headed stork. Ini merujuk pada kata balaena (genus Balaeniceps), yang berarti “puas” dalam bahasa Latin.

Habitat dan Distribusi Burung Shoebill

Spesies B. rex terkonsentrasi di wilayah Afrika, mulai dari Sudan, Zambia, Rwanda, sampai Uganda. Mereka suka mendiami wilayah lembap dan basah, seperti sungai dan rawa-rawa.

Sebagai burung penetap, shoebill menempati suatu area dalam waktu yang lama. Mereka pindah jika pasokan makanannya habis, atau wilayah tersebut telah disambangi manusia.

Dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa burung shoebill tergolong sebagai satwa pemalu. Ia bahkan hidup secara soliter, yang terkadang bisa kita jumpai di sekitar padang papyrus.

Di alam liar, whalehead memangsa berbagai jenis ikan seperti lungfish, tilapia dan bichir. Mereka juga gemar memakan reptil kecil seperti ular air, kodok, kadal, hingga anak buaya.

Karena hidup di area yang sama, burung shoebill kerap kali harus “berebut” wilayah dengan spesies buaya. Ia tergolong pemberani, bahkan tak segan-segan menyerang reptil tersebut.

Kebiasaan dan Pola Hidup Burung Shoebill

Kebiasaan soliter burung whalehead telah terlihat sejak dini. Ia bahkan enggan bersaudara, sampai-sampai dapat membunuh kerabatnya agar bisa menguasai seluruh stok makanan.

Selain itu, perkawinan burung shoebill hanya terjadi sekali dalam setahun. Sang induk akan berpisah selepas perkawinan berakhir, kemudian melanjutkan hidupnya masing-masing.

Dalam sekali perkawinan, induk betina sejatinya mampu menghasilkan tiga telur. Tapi tidak semua anak bisa jadi dewasa, sebab sang induk pun kerap membunuh anakan yang lemah.

Sifat kejam burung shoebill sedikit banyak memengaruhi populasinya. Menurut IUCN Red List, saat ini status konservasi burung tersebut berada pada level vulnerable atau rentan.

Di luar sifat alaminya, B. rex juga kerap diburu oleh warga lokal karena dianggap pembawa sial. Mereka bahkan dibunuh untuk diambil paruhnya, yang pakar sinyalir bernilai tinggi.

Taksonomi Spesies Balaeniceps Rex

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-shoebill-si-pemalu-yang-ternyata-sangat-kejam/feed/ 0
Burung Elang Bondol, Maskot Jakarta yang Memesona https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/#respond Thu, 10 Feb 2022 03:00:04 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=35243 Sebagai Ibu Kota negara, tidak banyak yang mengetahui bahwa Jakarta menjadikan burung elang bondol sebagai maskot wilayah. Ini merupakan spesies elang yang sangat umum ditemui, sebab menyebar di berbagai daerah […]]]>

Sebagai Ibu Kota negara, tidak banyak yang mengetahui bahwa Jakarta menjadikan burung elang bondol sebagai maskot wilayah. Ini merupakan spesies elang yang sangat umum ditemui, sebab menyebar di berbagai daerah di Indonesia.

Brahminy kite atau burung elang bondol memiliki nama ilmiah Haliastur indus. Hewan ini tergolong sebagai burung pemangsa, yang berasal dari keluarga Accipitridae dan ordo Accipitriformes.

Seperti namanya, brahminy kite pakar gabungkan ke dalam genus Haliastur. Kelompoknya berkerabat dengan elang siul (H. sphenurus), bahkan memiliki morfologi yang cukup mirip.

Tubuh elang Haliastur biasanya berukuran sedang, yakni mulai dari 44-60 cm. Kepala elang ini juga tampak kecil, serta mempunyai warna cokelat kegelapan di bagian atas tubuhnya.

Morfologi dan Ciri-Ciri Burung Elang Bondol

Burung Elong bondol sendiri berbiak mulai dari 43-51 cm. Mereka memiliki sayap lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Kepala, leher dan dadanya berwarna putih.

Bulu-bulu lainnya berwarna merah bata pucat, dengan bagian ujung bulu primer berwarna hitam. Anakan didominasi oleh warna cokelat gelap, dengan corak garis berwarna putih.

Tungkai H. indus berwarna kuning, paruhnya melengkung tajam dengan warna keabuan. Ia berkembang biak sepanjang bulan Januari sampai Agustus, serta di bulan Mei sampai Juli.

Waktu pengeraman telur berlangsung selama 28-35 hari, sedangkan sang anak mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 40-56 hari. Usia dewasa dicapai 2 bulan setelahnya.

Secara sifat, burung elang bondol sejatinya lebih mirip dengan burung bangkai. Mereka memakan hewan-hewan kecil seperti ikan, kepiting, kerang, katak, pengerat, reptil, bahkan serangga.

Pola Hidup dan Kebiasaan Burung Elang Bondol

Burung brahminy kite mencari makan di atas daratan maupun permukaan air. Ia mengintai mangsanya dengan terbang melayang di ketinggian 20-50 meter di atas permukaan tanah.

Meski memburu hewan air, burung elang bondol tidak memiliki kemampuan berenang. Ia biasanya memanfaatkan cakarnya yang runcing untuk mengait, lalu membawanya terbang ke udara.

Tidak cuma itu, spesies elang ini pakar ketahui memakan bangkai dan sisa-sisa makanan. Ia cukup mudah kita temukan di sekitar pelabuhan maupun pesisir tempat pengolahan ikan.

Walau suka memakan bangkai, H. indus bukan pemangsa yang pasif. Burung ini mendirus burung-burung di area pantai sambil terbang untuk mengidentifikasi kelemahan mangsa.

Bahkan dalam beberapa kasus, burung elang bondol ahli sinyalir mampu menyerang mangsa yang lebih besar. Ini mereka lakukan untuk mencuri makanan, misalnya dari spesies elang lain.

Habitat dan Distribusi Burung Elang Bondol

Area tepi laut seperti hutan mangrove, muara sungai, hingga pesisir pantai adalah habitat burung ini. Namun, mereka juga kerap ditemukan di lahan basah seperti sawah dan rawa.

Melansir berbagai sumber, burung elang bondol terdistribusi mulai dari India, China, Asia Tenggara, sampai Australia. Di Indonesia, ia dapat kita jumpai di Jawa, Bali, Sumatra, hingga Papua.

Di Kalimantan sendiri, spesies H. indus melimpah di daerah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Keberadaannya dilindungi karena dianggap berjasa bagi kelestarian ekosistem setempat.

Burung elang bondol memang cukup erat dengan beberapa kebudayaan dunia. Di India, hewan ini warga anggap suci karena representasi kontemporer Garuda, burung suci Dewa Wisnu.

Sedang di Pulau Bougainville, brahminy kite dikisahkan sebagai burung jelmaan dari bayi yang ditinggalkan oleh ibunya. Ia lalu melayang ke langit dan berubah menjadi burung.

Taksonomi Spesies Haliastur Indus

Penulis : Yuhan al Khairi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/burung-elang-bondol-maskot-jakarta-yang-memesona/feed/ 0