COP16 CBD - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/cop16-cbd/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sat, 02 Nov 2024 05:02:55 +0000 id hourly 1 Masyarakat Adat Kalimantan Perjuangkan Wilayahnya di COP16 https://www.greeners.co/berita/masyarakat-adat-kalimantan-perjuangkan-wilayahnya-di-cop16-cbd/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=masyarakat-adat-kalimantan-perjuangkan-wilayahnya-di-cop16-cbd https://www.greeners.co/berita/masyarakat-adat-kalimantan-perjuangkan-wilayahnya-di-cop16-cbd/#respond Sat, 02 Nov 2024 05:02:55 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45123 Jakarta (Greeners) – Minimnya pengakuan terhadap masyarakat adat Kalimantan memicu semangat masyarakat di sana terus memperjuangkan hak tanah adat mereka. Suara perjuangan ini juga turut mereka sampaikan pada konferensi keanekaragaman […]]]>

Jakarta (Greeners) – Minimnya pengakuan terhadap masyarakat adat Kalimantan memicu semangat masyarakat di sana terus memperjuangkan hak tanah adat mereka. Suara perjuangan ini juga turut mereka sampaikan pada konferensi keanekaragaman hayati tingkat dunia, Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity yang ke-16 (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, untuk meminta keadilan bagi alam dan tanah adat yang telah mereka lindungi selama berabad-abad.

Data dari PADI Indonesia dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) menunjukkan bahwa pengakuan masyarakat adat di Kalimantan Utara baru terdapat di tiga kabupaten, yakni Malinau, Nunukan, dan Bulungan. Direktur Eksekutif PADI Indonesia, Among, menyampaikan hingga saat ini hanya ada 19 komunitas adat yang mendapatkan pengakuan di ketiga kabupaten tersebut.

Among menjelaskan, pengakuan formal bagi masyarakat adat sangat penting. Ia juga menekankan perlunya dukungan dari masyarakat dunia terhadap peran dan kontribusi masyarakat adat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

“Masyarakat adat adalah kelompok yang paling terdepan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mencegah perubahan iklim. Mereka bukan penyebab kehilangan keanekaragaman hayati, melainkan garda terdepan dalam melindungi biodiversitas dan akan terdampak langsung oleh kehilangan tersebut,” ucap Among lewat keterangan tertulisnya, Rabu (30/10).

BACA JUGA: BRIN dan APHA Lakukan Kajian terkait RUU Masyarakat Adat

Menurut Among, masyarakat adat di Kalimantan bukan satu-satunya yang berusaha mendapatkan pengakuan atas status dan ruang hidup mereka. Proses negosiasi dalam COP16 CBD juga mencakup penghormatan dan pengakuan hak masyarakat adat serta komunitas lokal yang telah terbukti berkontribusi pada perlindungan keanekaragaman hayati. Namun, pencapaian target Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KM GBF) dalam proses ini masih berjalan cukup alot.

“Penghormatan terhadap hak dan pengakuan terhadap ruang hidup masyarakat adat serta komunitas lokal merupakan prasyarat utama bagi mereka. Hal ini penting agar masyarakat adat dapat melangsungkan praktik pengelolaan ekosistem berkelanjutan yang terbukti berhasil melindungi keanekaragaman hayati,” ujar Among.

Masyarakat adat Kalimantan memperjuangkan wilayahnya di COP16. Foto: Contentro

Masyarakat adat Kalimantan memperjuangkan wilayahnya di COP16. Foto: Contentro

Masyarakat Adat Berperan Penting

Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, Pulau Kalimantan memiliki lebih dari 15.000 jenis tanaman. Kemudian, terdapat 288 jenis mamalia, 350 jenis burung, serta 150 jenis reptil dan amfibi. Keanekaragaman hayati ini menjadikan Kalimantan sebagai daerah penting bagi pertemuan berbagai kebudayaan.

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati juga tidak bisa lepas dari peran serta masyarakat adat dan lokal yang menjadi bagian integral dari ekosistem di wilayah mereka. Praktik pemantauan keanekaragaman hayati (biodiversity monitoring) sejatinya sudah dilakukan oleh masyarakat adat di sana.

Kepala Desa Batu Lintang dan Ketua Gerempong Menuajudan, Raymundus Remang, menjelaskan berbagai kelompok masyarakat adat secara turun-temurun melindungi keanekaragaman hayati di wilayahnya.

BACA JUGA: Masyarakat Gelar Aksi Minta Pemerintah Baru Sahkan RUU Masyarakat Adat

“Seluruh masyarakat adat di Indonesia harus terus menjaga dan mengelola hutan beserta isinya. Sebab, lebih baik menjaga mata air daripada meneteskan air mata,” tuturnya.

Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, terdapat masyarakat adat Dayak Punan Tugung. Masyarakat di sana berkomitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati di wilayah adat mereka, meskipun seluruh wilayah tersebut berada dalam izin konsesi perusahaan.

Rahmat Sulaiman dari JKPP menyatakan bahwa kondisi wilayah adat Dayak Punan Tugung cukup memprihatinkan. Sebab, keseluruhan wilayah adat berada dalam konsesi PT. Intracawood yang bergerak dalam Hak Pengelolaan Hutan (HPH).

Namun, perbedaan pengelolaan hutan oleh korporasi dan masyarakat adat sangat mencolok. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat adat Dayak Punan Tugung mampu melindungi keperawanan hutan adat mereka.

“Dengan demikian, peran masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati sangat penting. Pengakuan serta dukungan terhadap mereka menjadi krusial untuk keberlangsungan ekosistem yang ada,” ungkap Rahmat

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/masyarakat-adat-kalimantan-perjuangkan-wilayahnya-di-cop16-cbd/feed/ 0
Menanti Penguatan Hukum untuk Cegah Kerusakan di Kepulauan Aru https://www.greeners.co/berita/menanti-penguatan-hukum-untuk-cegah-kerusakan-di-kepulauan-aru/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=menanti-penguatan-hukum-untuk-cegah-kerusakan-di-kepulauan-aru https://www.greeners.co/berita/menanti-penguatan-hukum-untuk-cegah-kerusakan-di-kepulauan-aru/#respond Wed, 30 Oct 2024 03:00:03 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=45098 Jakarta (Greeners) – Wilayah Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, yang sebagian besar terkategori sebagai hutan produksi konversi, masih terancam kerusakan, terutama pada keanekaragaman hayati. Bertepatan dengan Conference of the Parties to […]]]>

Jakarta (Greeners) – Wilayah Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, yang sebagian besar terkategori sebagai hutan produksi konversi, masih terancam kerusakan, terutama pada keanekaragaman hayati. Bertepatan dengan Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity yang ke-16 (COP16 CBD) di Cali, Kolombia, masyarakat adat Aru menuntut pemerintah untuk melindungi kekayaan alam mereka dengan memberikan payung hukum yang kuat.

Kepulauan Aru merupakan salah satu area kaya keanekaragaman hayati di Indonesia. Kepulauan ini memiliki 832 gugus pulau dan total luas daratan 800 ribu hektare, dikelilingi 4 juta hektare laut dan selat.

Wilayah tersebut juga memiliki 156 ribu hektare mangrove, 550 ribu hektare hutan tropis dataran rendah, 22 ribu hektare padang savana, 19 ribu hektare padang lamun, dan 53 ribu hektare terumbu karang. Bahkan, 21% potensi perikanan nasional (771.600 ton per tahun) berada di laut Aru.

Namun, keanekaragaman hayati di Kepulauan Aru terus terancam. Sejak tahun 1970, setidaknya sudah ada empat gelombang izin yang terbit untuk eksploitasi hutan, perkebunan tebu, dan eksploitasi berlebih di wilayah laut.

Pemerintah juga memberikan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam atau IUPHHK-HA (2007-2013), peternakan sapi (2014-2021), serta Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) karbon dan hutan alam (2022-sekarang). Sejarah kelam ini mendorong masyarakat Aru untuk berjuang mempertahankan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati di wilayah adat mereka.

BACA JUGA: Enam Pemuda Indonesia Suarakan Isu Biodiversitas di COP16 CBD

Mewakili masyarakat Aru, Monika Maritjie Kailey hadir di Cali untuk menyuarakan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di daerahnya. Ia mengatakan masyarakat adat terbukti mampu menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman hayati melalui praktik-praktik kearifan lokal dan budaya leluhur.

“Berkali-kali kami berhasil mempertahankan hutan dan laut kami dari ancaman industri ekstraktif yang masuk,” kata Monika lewat keterangan tertulisnya, Senin (28/10).

Menurut Monika, sudah saatnya pemerintah Indonesia dan masyarakat global mengakui peran masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati. Mereka juga perlu memastikan mobilisasi sumber daya yang adil.

Masyarakat Kepulauan Aru butuh hukum yang kuat untuk melindungi kekayaan alam yang kian rusak. Foto: Forest Watch Indonesia

Masyarakat Kepulauan Aru butuh hukum yang kuat untuk melindungi kekayaan alam yang kian rusak. Foto: Forest Watch Indonesia

Aksi Pemuda Adat di Kepulauan Aru

Seruan untuk melindungi keanekaragaman hayati di Kepulauan Aru juga datang dari pemuda-pemuda adat yang ada di Kepulauan Aru. Dalam aksi damainya, mereka menuntut komitmen serius pemerintah untuk melindungi keanekaragaman hayati di sana.

Mereka meminta pemerintah untuk mencabut izin-izin ekstraktif yang dapat membahayakan keanekaragaman hayati di daerah tersebut. Selain itu, mereka juga mendesak percepatan implementasi peraturan daerah mengenai pengakuan hak masyarakat adat.

Koordinator Aksi Damai di Kepulauan Aru, Johan Djamanmona mengatakan bahwa menjadi orang Aru bukan hanya hak, melainkan kewajiban. Sebab, menjaga Aru berarti menjaga kehidupan yang di dalamnya hidup manusia Aru.

“Jadi, aksi hari ini adalah bentuk perjuangan masyarakat adat dan pemuda Aru untuk menolak investasi yang merusak lingkungan Aru. Kemudian, mendorong pemerintah pusat untuk mencabut segala izin eksploitasi hutan di Kepulauan Aru yang sudah ada,” ucap Johan.

Menurutnya, dalam COP16 CBD, negosiasi mengenai pengakuan kontribusi masyarakat adat dalam menjaga keanekaragaman hayati berlangsung cukup alot. Salah satu isu utama adalah penghormatan terhadap hak masyarakat adat dan komunitas. Mereka berperan penting dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global atau Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) yang disepakati dua tahun lalu.

BACA JUGA: Kolaborasi Multipihak Kunci Pelestarian Biodiversitas Indonesia

Masyarakat adat di COP16 juga mendorong negara-negara yang hadir untuk memberikan pengakuan penuh atas kontribusi mereka dalam perlindungan keanekaragaman hayati global. Mereka juga mendesak pembentukan badan permanen atau subsidiary body yang mengikat terkait pasal 8j, yang mengatur pengetahuan lokal, inovasi, dan praktik-praktik tradisional dalam perlindungan keanekaragaman hayati.

Sayangnya, beberapa negara, termasuk perwakilan delegasi Indonesia, menolak pendirian subsidiary body tersebut. Padahal, kontribusi masyarakat adat dan komunitas lokal dalam mencapai target KM-GBF sangat signifikan. Pemerintah sudah seharusnya mendukung peran masyarakat adat sebagai penjaga hutan dan keanekaragaman hayati.

Perlunya Revisi Kebijakan

Sementara itu, peneliti dari Perkumpulan HuMa, Bimantara mengatakan ada dua landasan kebijakan di Indonesia untuk melindungi keanekaragaman hayati ini, yaitu Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2023 dan UU Nomor 32 Tahun 2024. Namun, kedua kebijakan tersebut belum memenuhi kebutuhan dan hak-hak masyarakat adat.

“Instruksi presiden kurang memiliki kekuatan hukum yang mengikat, sehingga sejatinya bentuk aturan yang lebih baik adalah Peraturan Presiden,” ujarnya.

Bimantara menambahkan, ke depannya pemerintah juga perlu mempertimbangkan revisi terhadap regulasi ini. Tujuannya untuk menyesuaikan dengan struktur dan penanggungjawab terhadap kebijakan biodiversitas ini pascapemerintahan baru.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/berita/menanti-penguatan-hukum-untuk-cegah-kerusakan-di-kepulauan-aru/feed/ 0