coral bleaching - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/coral-bleaching/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Fri, 30 Jun 2023 04:58:53 +0000 id hourly 1 Nuansa Pulau Selamatkan Terumbu Karang dari Kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/#respond Fri, 30 Jun 2023 04:58:53 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_sosok_komunitas&p=40616 Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas […]]]>

Klungkung (Greeners) – Perairan Nusa Penida terkenal dengan terumbu karangnya yang indah. Berdekatan dengan kawasan konservasi terumbu karang tersebut, kaum muda di Desa Ped, Nusa Penida pun tergerak membentuk komunitas Nuansa Pulau untuk melindungi terumbu karang di wilayah mereka.

Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, Komunitas Nuansa Pulau terbentuk. I Nyoman Karyawan menjadi komandan gerakan ini dan mengajak anak muda setempat berpartisipasi aktif dalam kegiatan perlindungan terumbu karang.

Sejauh ini, sebanyak 25 anggota telah bergabung dengan Nuansa Pulau. Semua anggota komunitas pun sudah memiliki keahlian menyelam karena sebagian besar aktivitas mereka berada di laut, sehingga terlatih untuk bisa ikut mengawasi terumbu karang.

Anggota Nuansa Pulau, I Gede Ranta Widya mengatakan sebagai anak pulau, ia termotivasi untuk bergabung dengan komunitas ini karena hidupnya hanya bergantung pada laut dan sektor pariwisata.

“Motivasinya kan kita anak pulau, jadi bergantung sama ini dan pariwisata juga. Jadi ngapain sih kita kayak enggak peduli sama laut-laut kita. Karena kita juga kan nyari makan di sana,” katanya saat Greeners temui di lokasi Komunitas Nuansa Pulau, di Klungkung, Bali.

Kegiatan mereka fokus pada terumbu karang. Mereka membersihkan karang dari patok dan mengganti karang-karang yang rusak.

Metode Reef Star untuk Penyelamatan Terumbu Karang

Selama tiga tahun, Komunitas Nuansa Pulau aktif bekerja melindungi terumbu karang dan menerapkan metode reef star dalam merawatnya. Metode tersebut merupakan metode restorasi dengan material berbentuk kerangka baja yang dilapisi pasir.

Luas wilayah konservasi terumbu karang ini cukup luas, mencapai 1 kilometer dan tercatat telah ditanam sebanyak 30.000 bibit karang. Bibit tidak disemai sembarangan, anggota Nuansa Pulau sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan mengimplementasikan penanaman karang.

Beberapa NGO lingkungan juga mengajarkan metode dan pengetahuan ini. Ranta menambahkan, dia sudah lama diberi edukasi bagaimana cara membuat metode perawatan terumbu karang di sini.

Anggota komunitas Nuansa Pulau. Foto: Greeners/Dini Jembar Wardani

Sigap Hadapi Tantangan

Terumbu karang seringkali mati akibat terjadinya bleaching atau pemutihan. Dalam mengatasinya, Nuansa Pulau pun bertindak cepat dengan mengambil karang-karang tersebut.

“Dari karang yang bleaching itu, kita ambil. Kemudian habis bleaching tunggu dulu, kalau dia bisa tumbuh, tidak diambil. Kalau cukup besar pemutihannya, karang ini akan mati kemudian kita potong, buang, lalu tanam yang baru,” kata Ranta.

Pengawasan terumbu karang komunitas lakukan satu kali setiap minggu. Mereka merawat dan menanam terumbu karang pada kedalaman 10-15 meter.

Sebagai pecinta karang yang giat mencegah kerusakan karang, komunitas ini menghadapi berbagai tantangan. Ranta menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah aktivitas masyarakat dan wisatawan yang berpotensi merusak karang.

Dalam mengatasinya, komunitas ini mengedukasi perusahaan diving dan snorkeling bahwa di kedalaman 10 meter banyak karang yang perlu dilindungi. Harapannya, setelah ada edukasi wisatawan lebih berhati-hati supaya tidak merusak terumbu karang.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/nuansa-pulau-selamatkan-terumbu-karang-dari-kerusakan/feed/ 0
Kenaikan Suhu Laut Picu Pemutihan Terumbu Karang https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-picu-pemutihan-terumbu-karang/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kenaikan-suhu-laut-picu-pemutihan-terumbu-karang https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-picu-pemutihan-terumbu-karang/#respond Sun, 14 May 2023 05:00:58 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=40040 Jakarta (Greeners) – Naiknya suhu permukaan laut memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Perubahan iklim turut memicu kenaikan suhu permukaan laut tersebut. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut, suhu […]]]>

Jakarta (Greeners) – Naiknya suhu permukaan laut memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Perubahan iklim turut memicu kenaikan suhu permukaan laut tersebut.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut, suhu laut selama April 2023 mencapai rekor terpanas yakni 21,1 derajat Celcius.

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yaitu zooxanthellae. Terumbu karang juga menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan laut, hewan laut dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2019, tercatat sebanyak 1.000 titik terumbu karang tersebar di perairan Indonesia. Sekitar 31 % terumbu karang memiliki kondisi baik-sangat baik. Kemudian, dengan kondisi sedang-kurang bagus sebanyak 69 %.

Kawasan terumbu karang yang relatif baik tersebar di wilayah timur Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Sulawesi, Papua dan perairan tengah sepanjang utara serta timur Sumatra.

Di sisi lain, kondisi terumbu karang dengan kondisi rusak yaitu berada di sepanjang pesisir barat Sumatra sampai perairan selatan Indonesia.

Peneliti Senior Terumbu Karang Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Abrar mengatakan, dengan adanya perubahan iklim ini, warna terumbu karang akan memutih.

“Jadi, salah satu yang merusak karang adalah naiknya suhu permukaan laut. Dampak atau respon karangnya itu terjadi pemutihan warna karang berubah menjadi terlihat putih,” ungkap Abrar kepada Greeners, baru-baru ini.

Peningkatan suhu ini merupakan kombinasi dari faktor perubahan iklim dengan adanya pemanasan global dan fenomena El Nino.

Tak Hanya Pemutihan Terumbu Karang 

Menurut data BRIN, selain perubahan iklim, ada faktor lain yang membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang. Penyebab lainnya yakni pemangsaan karang besar-besaran yang menyebabkan kepunahan.

Efek dari perubahan kondisi lingkungan di perairan juga dapat menyebabkan penyakit terumbu karang. Penyakit ini juga menjadi salah satu ancaman yang berbahaya.

Melansir berbagai jurnal ilmu kelautan, penyakit karang adalah gangguan kesehatan karang yang menyebabkan gangguan secara fisiologis bagi biota karang. Penyakit ini juga memicu kegagalan fungsi vital hewan karang sehingga mengurangi keanekaragaman spesies.

Smilling Coral Indonesia konsisten merehabilitasi terumbu karang di Kepulauan Seribu. Foto: IG Smilling Coral Indonesia

Ketatkan Regulasi

Perlindungan terumbu karang kini telah diperkuat melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk konservasi perairan, perlindungan laut terutama ekosistem terumbu karang.

“Luas konservasi juga semakin ditingkatkan targetnya mencapai 30 juta hektare di tahun 2030. Saat ini mungkin sudah mencapai 26 juta hektare dan masih terus ditingkatkan,” tutur Abrar.

Regulasi di tingkat nasional dan daerah juga telah ada, seperti pelarangan atau pemanfaatan terumbu karang sebagai bahan bangunan dan bibit panen. 

Pemerintah juga berupaya melindungi terumbu karang melalui restorasi dan rehabilitasi, untuk mengembalikan terumbu karang ke kondisi semula.

“Data terakhir ada sekitar 500 proyek restorasi yang berjalan di perairan Indonesia. Indikasi ini cukup bagus dalam upaya restorasi rehabilitasi terumbu karang,” imbuh Abrar.

Pada tahun 2020 Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) merupakan salah satu program restorasi ekosistem terumbu karang pada lima lokasi pada perairan di Provinsi Bali.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/kenaikan-suhu-laut-picu-pemutihan-terumbu-karang/feed/ 0
Perubahan Iklim Picu Gelombang Panas di Dasar Laut https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/#respond Tue, 28 Mar 2023 06:08:14 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=39494 Jakarta (Greeners) – Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications menemukan adanya gelombang panas di dasar lautan bumi karena perubahan iklim. Gelombang panas yang bertahan lebih lama ini akan menjadi […]]]>

Jakarta (Greeners) – Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications menemukan adanya gelombang panas di dasar lautan bumi karena perubahan iklim. Gelombang panas yang bertahan lebih lama ini akan menjadi masalah besar terhadap keberlanjutan spesies di dalam dan sekitarnya.

“Ini adalah fenomena global. Kami melihat gelombang panas laut terjadi di sekitar Australia dan di tempat-tempat seperti laut Mediterania dan Tasmania. Ini bukan sesuatu yang unik di Amerika Utara,” kata ilmuwan peneliti di Laboratorium Ilmu Fisika NOAA Dillon Amaya dilansir Live Science.

Gelombang panas dasar laut ini mampu bertahan lebih lama daripada gelombang panas permukaan. Sehingga akan memengaruhi spesies utama seperti lobster dan ikan kod.

Lonjakan suhu air permukaan telah lama merusak ekosistem. Pada tahun 2013 hingga 2016 misalnya, perairan permukaan Samudera Pasifik di sepanjang garis pantai Amerika Utara menghangat dan menyebabkan kematian satu juta burung laut. Ini karena sumber pangan mereka (ikan) telah mati.

Lautan telah menyerap sekitar 90 % kelebihan panas dari pemanasan global akibat perubahan iklim. Menurut NASA hal ini menyebabkan peningkatan sekitar 1,8 derajat Fahrenheit (1 derajat Celsius) selama 100 tahun terakhir.

Kenaikan ini telah menghasilkan peningkatan 50 % gelombang panas permukaan laut dalam dekade terakhir.

Suhu Laut Abnormal

Peneliti ahli utama bidang Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir BRIN Widodo Setiyo Pranowo menyatakan, fenomena marine heat wave (MHW) adalah penjalaran massa air laut yang suhunya di atas rata-rata normal musiman pada area ekosistem laut tertentu.

“Kita sebut abnormal apabila suhu laut tersebut 0,5 hingga 5 derajat Celcius lebih tinggi dari suhu laut rata-rata musiman atau klimatologis (rata-rata lebih dari 10-30 tahun),” katanya kepada Greeners, Selasa (28/3).

Fenomena ini bukanlah seperti gelombang di permukaan karena angin. Sebab, suhu laut abnormal tersebut menjalarnya cukup lama mirip periode gelombang.

“Periode ini menggambarkan intensitas dari penjalaran suhu laut yang abnormal secara temporal. Periodenya bisa mingguan (atau lebih dari lima hari), bulanan, hingga tahunan,” kata dia.

Karang ini rumah bagi seperempat biota laut dan mampu mengurangi dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Dampak Buruk Gelombang Panas terhadap Biota Laut

MHW memicu ‘shock temperature’ yang berdampak pada biota laut yang hidup atau berada di dasar laut. Misalnya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), tumbuhnya alga beracun secara masif (harmfull alga bloom) hingga penyakit pada komunitas bintang laut.

“Dampak terburuknya apabila MHW berlangsung lama yaitu kematian terumbu karang, bintang laut dan biota-biota lain yang hidup di dasar laut dangkal,” kata dia.

Sebagai contoh fenomena MHW yang terjadi di perairan dangkal di sepanjang pantai barat Amerika hingga Alaska adalah saat El Nino 2015-2016. Suhu laut memanas menyebabkan coral bleaching masif.

MHW di Indonesia Saat La Nina

Fenomena coral bleaching akibat suhu laut memanas juga pernah terjadi di perairan dangkal barat Australia pada tahun 2011. Sebaliknya, MHW di Indonesia justru pernah terjadi saat terjadinya La Nina. Ini menyebabkan coral bleaching masif pada tahun 1998, 2002 dan 2016.

MHW juga berdampak pada biota di kolom lapisan permukaan laut seperti ikan. “Fenomena kasus menghilangnya ikan sarden lemuru di Laut Bali pada tahun 2010 dan 2016, kita duga akibat dari penjalaran MHW ini pada periode La Nina,” ungkapnya.

Belum diketahui secara pasti penyebab utama MHW karena masih dalam studi lebih lanjut. Namun, fenomena ini disinyalir imbas dari perubahan iklim.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-di-dasar-laut/feed/ 0
Replantasi Pulihkan Kerusakan Terumbu Karang di Raja Ampat https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/#respond Tue, 22 Feb 2022 04:54:36 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=35367 Papua (Greeners) – Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle). Kawasan ini juga merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Keindahan bawah […]]]>

Papua (Greeners) – Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di pusat segitiga karang dunia (coral triangle). Kawasan ini juga merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia.

Keindahan bawah laut di Raja Ampat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan wisata andalan Indonesia bagi dunia. Kerusakan terumbu karang harus cepat disudahi dengan replantasi. Namun di balik itu, kerusakan terumbu karang terus mengancam sehingga perlu antisipasi agar kerusakan tidak meluas.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama ICCTF, PKSPL IPB, Pemprov Papua Barat dan Pemkab Raja Ampat melakukan studi di tiga lokasi. Kawasan itu yakni Suaka Alam dan Perairan (SAP) Kepulauan Raja Ampat, Taman Wisata Perairan (TWP) Selat Dampier dan SAP Kepulauan Waigeo.

Data pengamatan di seluruh lokasi studi perairan Raja Ampat, menunjukan hasil total jenis terumbu karang terbanyak berada di perairan SAP Kepulauan Raja Ampat yaitu sebanyak 25 genus karang dan jenis ikan terumbu sebanyak 114 jenis.

Jenis terumbu karang untuk perairan TWP Selat Dampier tercatat sebanyak 20 genus karang, dengan jenis ikan terumbu karang yang dijumpai sebanyak 95 jenis. Sedangkan untuk perairan SAP Kepulauan Waigeo sebelah Barat memiliki jumlah genus yang terendah yaitu sebanyak 18 genus karang dan 94 jenis ikan terumbu.

Direktur Program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Ferry Kurniawan menyebut, beberapa aktivitas manusia berpotensi menjadi penyebab kerusakan terumbu karang. Aktivitas tersebut yakni penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau dengan kompresor sampai dengan penggunaan jangkar di area terumbu karang.

“Terumbu karang Raja Ampat juga banyak mengalami kerusakan akibat penangkapan udang karang (lobster). Penangkapannya dengan mencongkel karang sehingga mengakibatkan kerusakan parah,” kata Ferry.

Sedangkan ancaman terhadap ekosistem terumbu karang karena kondisi alam adalah adanya pemutihan karang akibat dari meningkatnya suhu perairan.

Raja Ampat Pusat Terumbu Karang Dunia

Pulau Yensawai sebagai bagian Kabupaten Raja Ampat memiliki posisi penting dan strategis sebagai pusat terumbu karang dunia (coral center) dari segitiga karang dunia (coral triangle center).

Keberadaan ekosistem laut di Yensawai tidak sekedar menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan dunia, namun juga perlu menjadi modal bagi tercapainya kesejahteran masyarakat. Jika sumber daya rusak maka dampaknya akan terasakan langsung oleh masyarakat Yensawai.

Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonvitner mengatakan, jika tidak ada intervensi atau perbaikan, maka dalam 10 tahun ke depan terumbu karang di Raja Ampat akan rusak parah dan bahkan hilang.

“Untuk itu, Bappenas bersama ICCTF, kemudian PKSPL IPB, Pemda Raja Ampat dan Pemprov Papua Barat melakukan kegiatan replantasi terumbu karang. Banyak kegiatan replantasi yang sudah pihak lain lakukan, tetapi kurang berhasil,” kata Yonvitner.

Yonvitner menjelaskan, replantasi yang diaplikasikan di kepulauan Raja Ampat menggunakan metode baru berupa rak PVC yang dengan berbagai inovasi.

“Metode Rak PVC berhasil dengan baik. Tingkat keberhasilannya mencapai sekitar 90 %. Replantasi terumbu karang ini sangat bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat,” imbuhnya.

Terkait replantasi, Ferry Kurniawan yang juga Koordinator tim kampanye lingkungan dan replantasi terumbu karang di Pulau Yensawai menjelaskan, prosesnya tim mulai sejak Februari 2021 lalu. 

Bibit-bibit terumbu karang yang tim tanam ini berada di pesisir pantai Kampung Yensawai di Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat dengan media paralon. Wilayah ini juga menjadi wilayah percontohan untuk konservasi terumbu karang di Raja Ampat.

“Jadi pertumbuhan semua terumbu karang itu hanya 5 centimeter dalam setahun. Bayangkan kalau yang rusak tingginya 20 centimeter, butuh berapa tahun terumbu karang itu tumbuh? Ini mengapa betapa pentingnya menjaga terumbu karang,” imbuhnya.

Penulis : Sol

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/replantasi-pulihkan-kerusakan-terumbu-karang-di-raja-ampat/feed/ 0
KKP Pushes For More Coral Reef Conservation Areas https://www.greeners.co/english/kkp-pushes-for-more-coral-reef-conservation-areas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kkp-pushes-for-more-coral-reef-conservation-areas https://www.greeners.co/english/kkp-pushes-for-more-coral-reef-conservation-areas/#respond Mon, 05 Mar 2018 11:08:29 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=20154 To save coral reefs, Ministry of Marine and Fisheries (KKP) have been campaigning, provide assistance to reduce people's activities in the sea, and expanding coral reefs conservation areas.]]>

Jakarta (Greeners) – Climate change impacts on coral reefs marked by massive bleaching resulting to vanishing thousands of fish species and other organisms, along with threats to ecosystem and marine related livelihood.

To save coral reefs, Ministry of Marine and Fisheries (Kementerian Kelautan dan Perikanan/KKP) have been campaigning, provide assistance to reduce people’s activities in the sea, and expanding coral reefs conservation areas.

“For the coral reef protection program, we have included coral reef conservation development which targeted 20 million hectares by 2020 but for 2018-2019, they need to achieve the target as instructed by Minister Susi. Currently, the number reaches up to 19.17 million hectares,” said Director of Conservation and Marine Biodiversity, Andi Rusandi, in Jakarta, on Thursday (22/2).

READ ALSO: Ministry of Marine and Fisheries Affairs To Finalize National Strategic Zoning Plans in 2018

Conservation areas being announced and managed, said Rusandi, were recommendations from scientists, local government and ministry. These areas must get approval from KKP.

Currently, coral reef conservation areas are spread into 172 locations with a total of 19.17 million hectares, such as Sabu Raijua of East Nusa Tenggara, Anambas in Riau islands, Banda and Aru of Maluku.

READ ALSO: Avoid Overlapping Authorities in Conservation Law

Based on LIPI data, Indonesia’s coral reef areas cover a total of 2,517,858 hectares, — Bali with 8,837 hectares, Java with 67,869 hectares, Kalimantan with 119,304 hectares, Maluku with 439,110 hectares, Nusa Tenggara with 272,123 hectares, Papua with 269,402 hectares, Sulawesi with 862,627 hectares and Sumatra with 478,857 hectares –.

“Coral reef with excellent condition is 6.3 percent while bad condition is 63 percent. If there’s no coral reef management, this condition will continue to decline,” he said.

Furthermore, he said that lack of campaign was one of the obstacle in coral reef conservation. As result, conservation areas is considered as exclusive areas with less benefit to local people. Local government, he added, does not fully understood about conservation areas.

Reports by Dewi Purningsih

]]>
https://www.greeners.co/english/kkp-pushes-for-more-coral-reef-conservation-areas/feed/ 0
90 Percent of Coral Reefs Vanished in 2050 https://www.greeners.co/english/90-percent-of-coral-reefs-vanished-in-2050/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=90-percent-of-coral-reefs-vanished-in-2050 https://www.greeners.co/english/90-percent-of-coral-reefs-vanished-in-2050/#respond Mon, 27 Feb 2017 12:32:06 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=16053 Nearly 90 percent of world's coral reefs would be gone by 2050 which poses threats for millions of people in developing countries.]]>

Nusa Dua (Greeners) – Nearly 90 percent of world’s coral reefs would be gone by 2050 which poses threats for millions of people in developing countries.

To prevent the disastrous event, philanthropic organization, government, nongovernmental organization, scientists, conservationists launched a global plan to save coral reefs from climate change, pollution and bad fishing practices.

The movement, dubbed as 50Reefs, was launched at the second day of The Economist : World Ocean Summit 2017, in Bali, on Friday (24/2).

Professor Ove Hoegh-Guldberf of University of Queensland said that the movement would be the first global plan to save the most vulnerable biodiversity ecosystem in the planet.

“Coral reefs criteria for 50Reefs will be announced by the end of this year,” said Prof Hoegh-Guldberf. “In the future, the movement will increase awareness on climate change impacts to oceans. Eventually, we would come up with investment strategy needed to protect coral reefs.”

READ ALSO: Less Fish Catch Increases Food Security

Furthermore, he said that climate change impacts on coral reefs can be seen through massive bleaching resulted from increasing sea temperature.

Scientists predict that coral reefs ecosystem could be vanished in 30 years, which included the loss of thousands of fishes and other important organisms.

The loss of coral reefs will eventually pose threat to humans, especially livelihoods related to marine and fisheries.

Over-fishing, coastal development and pollution also threatening coral reefs. In several places, the ecosystem was already completely destroyed. In addition, climate change put more burden on the destruction but now was placed as the number one threat for coral reefs.

“Coral reefs are important but without us knowing, they are struggling to fight against extinction,” he said.

READ ALSO: UNEA-2 Supports Indonesia’s Sustainable Coral Reef Management

Michael R. Bloomberg, UN Special Envoy for Cities and Climate Change, in a recorded message, said that people was starting to think about climate change, they think about extreme heat, storms, and forest fires. However, not much people know or even care about the impacts on oceans.

“It happens because we couldn’t see the impacts in the lands. But, without coral reefs, we would lose a quarter of world’s biodiversity and hundreds of millions poor people will lose their source of food and livelihood,” said Bloomberg.

Based on new report from World Wide Fund For Nature (WWF) 2015, coral reefs hold conservative value of one trillion dollar which generates at least 300-400 billion dollars per year in food and livelihood from tourism, fisheries and medicines.

The 50Reefs is initiated by The Ocean Agency and Global Change Institute of University of Queenslands and collaborating with Google and XL Catlin, which conducted a comprehensive global survey on coral reefs and bleaching.

The survey was the subject of a documentary, Chasing Coral, which was the winner of Audience Award at Sundance Film Festival 2017. The documentary soon to be released at Netflix.

Reports by Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/english/90-percent-of-coral-reefs-vanished-in-2050/feed/ 0
50 Persen Terumbu Karang di Perairan Bulukumba Mengalami Pemutihan https://www.greeners.co/berita/50-persen-terumbu-karang-di-perairan-bulukumba-mengalami-pemutihan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=50-persen-terumbu-karang-di-perairan-bulukumba-mengalami-pemutihan https://www.greeners.co/berita/50-persen-terumbu-karang-di-perairan-bulukumba-mengalami-pemutihan/#respond Sun, 13 Mar 2016 13:26:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13159 Peneliti dari Marine Science Diving Club Universitas Hasanuddin (MSDC UNHAS) menemukan adanya kejadian pemutihan karang atau coral bleaching secara massal di perairan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.]]>

Makassar (Greeners) – Peneliti dari Marine Science Diving Club Universitas Hasanuddin (MSDC UNHAS) menemukan adanya kejadian pemutihan karang atau coral bleaching secara massal di perairan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Mengutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, peneliti MSDC UNHAS, Nirwan Dessibali menyatakan bahwa kejadian ini ditemukan oleh lima peneliti MSDC UNHAS saat melakukan pemantauan ekosistem terumbu karang di sekitar perairan Tanjung Bira dan perairan Pulau Liukang Loe Kabupaten Bulukumba pada Sabtu (05/03/2016) hingga Selasa (08/03/2016).

“Kami memperkirakan 50 persen terumbu karang di perairan Tanjung Bira dan perairan Pulau Liukang Loe mengalami pemutihan,” ujar Nirwan, Makassar, (12/03).

Nirwan menduga hal ini terjadi karena meningkatnya suhu permukaan laut akibat perubahan iklim sehingga polip karang kehilangan alga simbiotik zooxantela didalamnya dan mengubah warna terumbu karang menjadi putih. Dugaan ini, katanya, didasari rilis National Ocean Atmospheric Administration (NOAA) yang mengungkapkan bahwa sebagian wilayah Indonesia mengalami suhu air laut yang akan terus meningkat di atas rata-rata awal hingga pertengahan tahun 2016.

Foto: dok.MSDC UNHAS

Foto: dok.MSDC UNHAS

Saat terjadi pemutihan, lanjutnya, karang akan berpeluang mengalami kematian secara massal. Sebab, karang yang tidak mampu untuk bertahan hidup tanpa alga simbiotiknya dan melakukan pemulihan pasca memutih akan tertutupi oleh alga sehingga karang mengalami kematian.

Sebagai informasi, lima peneliti MSDC UNHAS yang melakukan pemantauan tersebut adalah Sumarjito, Nirwan Dessibali, Syamsu Rizal, Nugraha Maulana dan Mochyudo Eka Prasetya.

Dihubungi terpisah, pakar terumbu karang Universitas Hasanuddin, Dr. Syafiuddin Yusuf membenarkan peningkatan suhu pada perairan memberikan dampak terhadap terganggunya pertumbuhan terumbu karang yang bersimbiosis dengan zooxanthella. Peningkatan suhu ini mengakibatkan terjadinya bleaching pada terumbu karang. Ia menyampaikan pemutihan massal ini terjadi secara global. Dimana perairan yang dilewati arus panas, terumbu karangnya akan terancam memutih.

Untuk penanganan pemutihan massal ini, terusnya, Syafiuddin mengungkapkan belum ada langkah spesifik untuk melawan arus global panas yang memberikan ancaman terhadap terumbu karang. Namun, ia berharap pemantauan secara berkala harus tetap dilakukan untuk melihat besaran dampak yang ditimbulkan.

“Kita hanya berharap, pemerintah harusnya telah menyiapkan langkah-langkah strategis menghadapi bleaching massal. Sebab akan berdampak tehadap potensi laut, perikanan dan wisata bawah laut Indonesia,” tutupnya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/50-persen-terumbu-karang-di-perairan-bulukumba-mengalami-pemutihan/feed/ 0