crustacea - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/crustacea/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 19:07:40 +0000 id hourly 1 Mengincar Kelebihan Lobster Air Tawar https://www.greeners.co/flora-fauna/mengincar-kelebihan-lobster-air-tawar/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengincar-kelebihan-lobster-air-tawar https://www.greeners.co/flora-fauna/mengincar-kelebihan-lobster-air-tawar/#respond Fri, 20 Dec 2019 02:35:44 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=25063 Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) banyak dikembangkan untuk komoditi. Ia memiliki kelebihan tidak mudah stres dan terserang penyakit]]>

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) termasuk ke dalam genus udang tawar (Crustacea). Selain sebagai konsumsi, fauna bercapit merah ini juga cocok dijadikan hewan hias karena memiliki keunggulan pada bentuk tubuh dan warna. Ia banyak dikembangkan untuk komoditi di dalam akuarium atau kolam. Karena ia tidak mudah stres dan terserang penyakit (Jurnal Sains Akuakultur Tropis, 2018).

Habitat asli lobster air tawar ialah danau, rawa, atau sungai air tawar dilengkapi dengan tumbuhan air atau darat. Namun, tanaman tersebut mesti memiliki akar atau batang yang terendam air dengan daun di atas permukaan.

Lobster air tawar memiliki beberapa nama internasional, yaitu crawfish dan crawdad. Berdasarkan persebaran di dunia, terdapat tiga famili yaitu Astacidae, Cambaridae, Parastacidae (Handoko, 2013).

Baca juga: Ikan Patin, Ikan Air Tawar Unggulan Dalam Negeri

Secara morfologi, tubuh lobster dibagi menjadi dua, yaitu kepala dada (chepalothorax) dan badan (abdomen) (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Kepala lobster terdiri dari enam bagian ruas yang tertutup cangkang kepala (carapace). Sedangkan bagian depan kepala memiliki kelopak berbentuk segitiga memipih, lebar, bergerigi, dan dikelilingi duri bernama rostrum. Di kepalanya terdapat lima pasang kaki (periopod). Dengan pasangan kaki pertama, kedua, dan ketiga mengalami perubahan bentuk maupun fungsi menjadi capit.

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)

Lobster air tawar merupakan hewan nokturnal dan omnivora. Foto: shutterstock.com

Capit pertama berfungsi sebagai senjata untuk menghadapi musuh. Capit kedua dan ketiga berfungsi seperti tangan. Kedua pasang kaki berguna sebagai alat bergerak atau kaki jalan (Sukmajaya dan Suharjo 2003). Dibandingkan kaki jalan dan capit, ukuran kaki renang jauh lebih kecil dan pendek.

Baca juga: Pesut Mahakam, Lumba-Lumba Air Tawar Indonesia

Pada lobster betina, empat pasang kaki renang dimanfaatkan untuk mengapit telur yang melekat pada perut. Masing-masing kaki bertautan melingkari kumpulan telurnya. Saat membawa telur, kaki tersebut terkadang bergerak seperti mengipas. Gerakannya dapat memberikan suplai oksigen yang dibutuhkan untuk mengangkut telur (Wiyanto dan Hartono, 2003; Lukito dan Prayugo, 2007).

Lobster air tawar umumnya aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal) dan termasuk jenis pemakan segala (omnivora) (Wiyanto dan Hartono, 2003). Ia menghancurkan makanan melalui mulut dengan cara menggerakkan dari samping kiri ke kanan. Selama pertumbuhan, lobster air tawar melakukan proses pergantian kulit (molting). Kerangka bagian luar (eksoskeleton) perlu diganti bila tumbuh membesar karena sifatnya kaku dan tidak ikut berkembang.

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/mengincar-kelebihan-lobster-air-tawar/feed/ 0
Teritip, Gemar Menempel di Kapal https://www.greeners.co/flora-fauna/teritip-gemar-menempel-di-kapal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=teritip-gemar-menempel-di-kapal https://www.greeners.co/flora-fauna/teritip-gemar-menempel-di-kapal/#respond Fri, 04 Aug 2017 06:21:30 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=17988 Teritip adalah kelompok crustacea dari sub kelas cirripedia, dengan karakteristik bercangkang. Hewan laut ini termasuk kedalam kelompok "biofouling" yang makroskopik yang penempelannya bersifat massive pada tiang dermaga.]]>

Jika anda suka bepergian menggunakan transportasi laut, maka pemandangan sejenis binatang laut dengan tekstur keras seperti cangkang moluska yang suka menempel di tiang-tiang dermaga ataupun di perahu/kapal itu sendiri menjadi pemandangan yang umum kita jumpai di sana.

Binatang laut yang menempel itu dikenal dengan nama “teritip”. Teritip adalah kelompok crustacea dari sub kelas cirripedia, dengan karakteristik bercangkang. Dalam bahasa Inggris, teritip dikenal dengan penamaan ‘barnacle’.

Teritip termasuk dalam hewan laut bersifat sesil (menetap) dari crustacea. Kehidupan teritip melalui dua stadium, yaitu stadium larva yang bersifat planktonis dan stadium dewasa bersifat menempel (Ermaitis 1984).

Hampir semua benda-benda yang terendam dalam air laut merupakan substrat yang baik bagi teritip misalnya batu, besi, dasar perahu, lunas-lunas kapal, pipa saluran sistem pendingin pembangkit tenaga listrik, saluran pendingin pabrik serta alat pengukur arus dan benda-benda lainnya yang ditempatkan di dalam air sepanjang perairan pantai, muara dan teluk yang beriklim sedang, subtropik dan tropik.

teritip

Teritip atau ‘barnacle’. Foto: wikemedia commons

Teritip bersifat menempel permanen pada substrat yang daya tahannya cukup kuat terhadap perubahan lingkungan yang besar. Kemudian biota ini memiliki perkembang-biakannya yang hermaprodit, dimana penyebarannya sangat luas.

Cangkang dewasa teritip berupa mantel yang terdiri dari bagian yang saling berhubungan mengelilingi tubuhnya yaitu: carina, carina lateral, lateral dan rostrum. Di bagian atas terdapat sepasang terga dan sepasang scuta yang membuka dan menutup sewaktu teritip menangkap makanannya. Pada umumnya cangkang dari teritip ini adalah putih, kuning, merah, jingga, ungu dan bergaris dengan ukuran cangkang 1-6 cm atau lebih yang diukur dari dasar carina sampai rostrum.

Menurut pakar kelautan Dr. Anugerah Nontji, teritip memiliki daya tahan yang luar biasa. Beliau mengatakan bahwa di dalam cangkang terdapat tubuh yang sederhana yang disertai dengan 6 umbai-umbai yang berbulu-bulu. Jika terendam air, umbai-umbai tersebut secara beraturan dijulurkan mekar keluar dan ditarik kembali lewat pintu operkulum.

Berdasarkan cara ini teritip menyaring dan menangkap plankton yang terbawa arus kemudian disodorkan kearah mulutnya. Oleh karena itu hanya pada saat arus pasang teritip mempunyai kesempatan mencari makanan.

Apabila air telah surut dan teritip terpapar di udara maka operkulumnya menutup rapat setelah cangkangnya diisi air sebanyak mungkin. Dalam kondisi demikian teritip berdiam diri dalam cangkangnya dan berpuasa untuk sementara. Dalam keadaan terpapar ke udara menyebabkan tekanan lingkungan yang dialaminya cukup berat, misalnya teritip tertimpa hujan atau tersengat panasnya matahari dan ancaman kekeringan.

Massive macrobiofouling 

Teritip termasuk dalam biota-biota yang menimbulkan pengotoran biologis yang disebut juga dengan istilah Biofouling. Mereka termasuk kedalam kelompok biofouling yang makroskopik (macrobiofouling) yang penempelannya bersifat massive pada tiang dermaga.

Indonesia memiliki 85 pelabuhan laut yang terbuka untuk pelayaran internasional. Pelabuhan-pelabuhan tersebut sangat terbuka terhadap kehadiran global invasive species yang hidup sebagai pada kapal-kapal internasional, dimana teritip adalah salah satu komponen utama biofouler pada kapal laut.

Berdasarkan tulisan ilmiah Prabowo dan Ardli, Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (2010) menjelaskan bahwa, kapal laut adalah faktor terbesar dalam penyebaran spesies invasif global. Kapal dapat menjadi ‘media’ batu loncatan yang efektif untuk spesies yang hidup di pelabuhan dan estuaria, karena kapal merupakan substrat yang pas untuk menempel bagi spesies-spesies komunitas biofouling. Oleh karena itu, perhatian dan kewaspadaan terhadap kapal-kapal internasional perlu ditingkatkan karena resiko yang ditimbulkannya bisa sangat menelan biaya.

Kajian Pimentel et al (2000) dikutip dalam Prabowo dan Ardli (2010), melaporkan bahwa kerugian dan biaya yang ditanggung oleh negara Amerika Serikat akibat spesies invasif adalah sebesar US$ 138 juta per tahun, suatu angka dan gambaran yang sangat mahal untuk penanganan hama spesies invasif pertanian dan maritim.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/teritip-gemar-menempel-di-kapal/feed/ 0
Selenting Cerita Tentang Hari Ciliwung https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/#respond Tue, 11 Nov 2014 07:38:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=6390 Jakarta (Greeners) – Menjaga kebersihan bukanlah sebuah program, melainkan sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh setiap orang, siapapun itu dengan tidak mengenal strata sosial. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh Walikota […]]]>

Jakarta (Greeners) – Menjaga kebersihan bukanlah sebuah program, melainkan sebuah keharusan yang wajib dilakukan oleh setiap orang, siapapun itu dengan tidak mengenal strata sosial. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh Walikota Jakarta Timur, H.R Krisdianto saat menyampaikan sambutannya pada peringatan Hari Ciliwung ke 3 di Kelurahan Balekambang, Jakarta Timur.

Kris yang datang menggantikan Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini menceritakan bahwa sudah sejak dahulu Sungai Ciliwung terkenal dengan kebersihannya. Namun, lanjutnya, sangat disayangkan bahwa hal tersebut terhenti sejak kesadaran masyarakat dalam membuang sampah di sungai semakin menurun.

“Kita harus sama-sama berkomitmen untuk mengembalikan Ciliwung seperti dahulu. Nantinya, kalau Ciliwung sudah bersih, bisa menjadi tempat wisata. Ada banyak (tempat) kuliner dipinggirnya. Semua akan kita perindah tapi tidak bisa sekarang karena masih kotor. Jadi, mari kita bersihkan Ciliwung,” terang Kris saat ditemui oleh Greeners usai memberikan sambutan, Jakarta, Selasa (11/11).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Dalam kesempatan tersebut Kris juga menyampaikan bahwa Ahok telah meresmikan tanggal 11 November sebagai Hari Ciliwung. Namun, ia juga meminta bahwa peresmian ini harus membawa dampak positif bagi kelestarian Ciliwung dan bukan hanya menjadi perayaan semata.

Abdul Kodir, selaku Ketua dari Komunitas Ciliwung Condet, menerangkan, pada awalnya pengakuan Hari Ciliwung tersebut ditujukan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang tinggal dan menggantungkan hidupnya pada Sungai Ciliwung. Termasuk dengan mereka yang bercocok tanam, memancing, ataupun melestarikan kebersihan dan keindahan Sungai Ciliwung sejak lama.

“Banyak yang harus diapresiasi dari Ciliwung. Namun, sampai sekarang hanya sedikit orang yang menyadari bahwa Ciliwung adalah situs yang harus diselamatkan. Sekarang, kalau ditanya, banyak yang masih tidak tahu yang mana itu Sungai Ciliwung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kodir menceritakan kenapa tanggal 11 yang dipilih menjadi Hari Ciliwung. Saat itu, terangnya, tepat pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011 lalu, wargaTanjung Barat Selatan, Lenteng Agung, Jakarta menangkap seekor senggawangan atau bulus atau dalam bahasa latinnya Chitra chitra javanensis di Sungai Ciliwung yang masuk daftar terancam punah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Sebelum ditemukan, senggawangan tersebut dianggap mitos kalau hewan itu adalah siluman. Namun setelah tertangkap masyarakat menjadi tahu kalau senggawangan yang muncul di Sungai Ciliwung itu adalah hewan,” tuturnya.

Berbagai permainan menarik diadakan di pinggir Sungai Ciliwung untuk meramaikan perayaan Hari Ciliwung, Selasa (11/11/2014). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Berbagai permainan menarik diadakan di pinggir Sungai Ciliwung untuk meramaikan perayaan Hari Ciliwung, Selasa (11/11/2014). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Atas dasar penemuan itulah maka masyarakat yang peduli dengan konservasi Sungai Ciliwung menjadikan tanggal tersebut sebagai Hari Ciliwung dan menetapkan senggawangan tersebut sebagai maskot untuk mendukung konservasi Sungai Ciliwung.

“Penemuan senggawangan itu adalah momentum untuk peduli pada kegiatan konservasi sungai dan flora faunanya. Makhluk ini diharapkan menjadi simbol masih adanya sumberdaya alam hayati yang tersisa dan hewan langka yang tersisa,” katanya.

Nur Faizah, salah seorang warga Eretan Dua, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Keramat Jati, Jakarta Timur yang juga mengikuti perayaan Hari Ciliwung ketiga ini mengaku tidak berharap banyak dengan keadaan Ciliwung. Menurutnya, selama Sungai Ciliwung tidak menjadi lebih buruk sudah merupakan hal yang lebih baik bagi masyarakat.

“Kalau tidak bisa jadi lebih baik, paling tidak jangan malah semakin buruk deh mas,” tutupnya.

Sebagai informasi, saat ini, sumberdaya alam hayati di Ciliwung kian susut seiring rusaknya ekosistem Ciliwung. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 92 persen ikan Ciliwung telah punah dan sekitar 60 persen spesies mollusca dan crustacea juga telah menghilang.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/selenting-cerita-tentang-hari-ciliwung/feed/ 0