cuaca ekstrim - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/cuaca-ekstrim/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 08 Nov 2017 09:36:26 +0000 id hourly 1 Tahun 2017 Ditetapkan Menjadi Satu dari Tiga Tahun Terpanas https://www.greeners.co/berita/tahun-2017-ditetapkan-menjadi-satu-tiga-tahun-terpanas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=tahun-2017-ditetapkan-menjadi-satu-tiga-tahun-terpanas https://www.greeners.co/berita/tahun-2017-ditetapkan-menjadi-satu-tiga-tahun-terpanas/#respond Mon, 06 Nov 2017 12:10:49 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=19284 Tahun 2017 ditetapkan menjadi satu dari tiga tahun dengan suhu terpanas. Selain itu, rekor cuaca ekstrim paling tinggi juga terjadi di tahun ini.]]>

Bonn (WMO) – Tahun 2017 ditetapkan menjadi satu dari tiga tahun dengan suhu terpanas. Selain itu, rekor cuaca ekstrim paling tinggi juga terjadi di tahun ini. Beragam bencana alam seperti badai, banjir bandang, gelombang panas, dan kekeringan terjadi di tahun ini. Selain itu, kenaikan permukaan air laut juga terus berlanjut.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) dalam Konferensi Perubahan Iklim Bonn 2017 menyatakan bahwa suhu rata-rata dunia pada bulan Januari hingga September 2017 adalah sekitar 1.1°C di atas suhu sewaktu era pra-industri. Hal ini menjadikan tahun 2017 menjadi tahun terpanas setelah tahun 2016 dan tahun 2015. Tahun 2013-2017 telah tercatat sebagai lima tahun terpanas sepanjang sejarah.

“Suhu bumi mengalami peningkatan sejak tiga tahun terakhir. Berbagai bencana yang disebabkan oleh cuaca ekstrim terjadi di mana-mana, seperti suhu yang mencapai hingga 50 derajat Celcius di Asia, badai besar yang terjadi di Karibia dan Atlantik, banjir bandang yang memakan banyak korban, dan kekeringan yang tidak kunjung usai di Afrika Timur,” ujar Sekretaris Jendral WMO, Petteri Taalas seperti dilansir dalam siaran pers yang diterima Greeners, Senin (06/11).

“Berbagai penelitian telah menemukan bahwa munculnya bencana tersebut merupakan tanda dari adanya perubahan iklim yang disebabkan oleh kegiatan manusia dan efek dari gas rumah kaca,” tambahnya.

BACA JUGA: KLHK Pastikan Kepentingan Indonesia Terakomodasi pada COP 23

Sekretaris Eksekutif PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), Patricia Espinosa, mengungkapkan bahwa bencana tersebut dapat terus-menerus terjadi apabila tujuan dan cita-cita dari Kesepakatan Paris gagal tercapai. Akibatnya, kehidupan semua makhluk di Bumi dan segala aspeknya akan terancam.

“Konferensi Perubahan Iklim Bonn 2017 perlu menjadi landasan bagi semua negara untuk menuju ambisi yang selanjutnya. Bonn 2017 bertujuan untuk mengurangi risiko di masa depan memaksimalkan peluang pembangunan dari jalur yang baru, berpandangan ke depan, dan berkelanjutan,” tutur Patricia.

Tidak hanya menyebabkan terjadinya berbagai bencana alam, perubahan suhu Bumi dan cuaca ekstrim rupanya telah memengaruhi ketahanan pangan bagi jutaan masyarakat. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menemukan bahwa di negara-negara berkembang, pertanian (baik berupa hasil panen, peternakan, perikanan, akuakultur dan kehutanan) menyumbang 26% dari semua kerusakan dan kerugian yang terkait dengan badai, banjir, dan kekeringan.

BACA JUGA: Indonesia Dukung Adanya Panduan Pelaksanaan Paris Agreement

Selain itu, meningkatnya suhu Bumi juga telah memengaruhi kesehatan masyarakat global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas dapat berdampak pada kesehatan masyarakat berdasarkan bagaimana gelombang panas tersebut didistribusikan ke suatu wilayah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko kematian atau penyakit yang berhubungan dengan kenaikan suhu mengalami peningkatan secara tetap sejak tahun 1980. Antara tahun 2000 hingga tahun 2016, gelombang panas telah memakan korban jiwa sebanyak 125 juta orang.

Pada tahun 2016, sebanyak 23,5 juta orang mengungsi saat menghadapi bencana alam yang berhubungan dengan perubahan cuaca. Bencana tersebut sebagian besar disebabkan oleh adanya banjir atau badai yang terjadi di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan info yang diperoleh dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), dilaporkan sebanyak 760 ribu kasus pengungsian telah terjadi di Somalia.

Penulis: (*)

]]>
https://www.greeners.co/berita/tahun-2017-ditetapkan-menjadi-satu-tiga-tahun-terpanas/feed/ 0
Warmpod, Tempat Berteduh Portabel untuk Tunawisma https://www.greeners.co/ide-inovasi/warmpod-tempat-berteduh-portabel-untuk-tunawisma/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=warmpod-tempat-berteduh-portabel-untuk-tunawisma https://www.greeners.co/ide-inovasi/warmpod-tempat-berteduh-portabel-untuk-tunawisma/#respond Mon, 09 Nov 2015 06:58:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=11829 Ketika hukum tidak memperbolehkan tunawisma untuk berada di sembarang tempat, Raymond Gulley, seorang pensiunan Jagawana atau penjaga hutan, mencoba memberikan solusi yang lebih positif terhadap masalah tersebut. Ia menciptakan Warmpod, sebuah […]]]>

Ketika hukum tidak memperbolehkan tunawisma untuk berada di sembarang tempat, Raymond Gulley, seorang pensiunan Jagawana atau penjaga hutan, mencoba memberikan solusi yang lebih positif terhadap masalah tersebut.

Ia menciptakan Warmpod, sebuah struktur darurat berukuran kecil dan dapat dipindah-pindahkan. Struktur ini diperuntukkan untuk para tuna wisma yang membutuhkan tempat berteduh saat musim dingin atau pada saat bencana alam. Oleh karena itu, Warmpod dianggap mampu memberdayakan masyarakat dalam proses pembuatannya dan tempat ini juga dapat dimanfaatkan oleh siapapun , tidak hanya tunawisma saja.

Warmpod dapat dirakit oleh satu orang. Struktur ini diperuntukkan bagi tunawisma namun dapat pula digunakan pada kondisi bencana alam. Foto: inhabitat.com

Warmpod dapat dirakit oleh satu orang. Struktur ini diperuntukkan bagi tunawisma namun dapat pula digunakan pada kondisi bencana alam. Foto: inhabitat.com

Warmpod dibuat untuk cuaca ekstrim dan sanggup melindungi penghuninya dari angin kencang. Dinding sampingnya dibuat dari kayu pohon cemara dengan busa untuk insulasi yang bisa kembali ke bentuknya semula bila ditekan. Modul lantainya memiliki bagian mirip lidah yang dapat mengarahkan kelembaban keluar dari struktur ini sambil tetap menjaga modul lantai di tempatnya.

Dalam satu unit Warmpod terdapat enam buah modul yang saling mengunci dan cukup kecil untuk muat dan diletakkan dalam sebuah mobil bak terbuka. Struktur ini dapat dirakit oleh satu orang saja sehingga tiap orang dapat membuat perbedaan dengan menolong orang lain, dimanapun tempatnya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/warmpod-tempat-berteduh-portabel-untuk-tunawisma/feed/ 0
Hujan Salju dan Kekeringan Melanda Tiga Kabupaten di Papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/#respond Wed, 22 Jul 2015 12:28:01 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10432 Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 hingga 10 Juli 2015 lalu telah terjadi hujan salju di tiga kabupaten di Papua. Ketiga kabupaten tersebut antara lain, Kabupaten Nduga, Kabupaten Lani Jaya dan Kabupaten Puncak. Hujan salju ini menyebabkan pertanian puso atau gagal panen.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, saat dihubungi oleh Greeners mengatakan kalau sejumlah tanaman umbi-umbian serta hasil kebun tidak ada yang bisa dipanen. Selain itu, cuaca dingin menyebabkan ternak mati dan sebagian warga sakit.

Dari tiga kabupaten tersebut, jelas Sutopo, sebanyak 6 distrik dan 21 kampung yang terdiri dari 20.160 Kepala Keluarga (KK) juga terdampak kekeringan. Wilayah yang terdampak paling parah terletak di Distrik Kuyawage, Wano Barat, Kuwa Balim, Utpagga, Nenggejadin, dan Agundugame.

“Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Lani Jaya, ada 11 orang yang meninggal dunia. Mereka terdiri dari lima balita, dua anak-anak, dan empat dewasa,” jelasnya, Jakarta, Selasa (21/07).

Lokasi ketiga Kabupaten tersebut, lanjutnya, berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Keterbatasan kebutuhan dasar seperti makanan, kebutuhan bayi dan anak, obat-obatan dan radio komunikasi akhirnya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Pada tanggal 17 Juli 2015 lalu, terang Sutopo lagi, Kepala BNPB, Syamsul Maarif telah memerintahkan Deputi Penanganan Darurat BNPB untuk segera mengirimkan bantuan dengan berkoordinasi antara Kementerian Sosial (Kemensos), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua, dan Pemerintah Daerah (pemda) setempat. Bantuan yang dikirmkan antara lain makanan 13,4 ton yang ada di BPBD Papua dan 15 ton beras yang dikirim ke Kabupaten Nduga, Lani Jaya, dan Puncak.

“BNPB menerima laporan kejadian tersebut dari BPBD Papua pada 14 Juli. Lalu pada 17 Juli, bantuan beras dan logistik telah didistribusikan ke Distrik Agundugame, Kabupaten Puncak dan Distrik Kuyawage, Kabupaten Lani Jaya,” ujar Sutopo.

“Pengiriman bantuan dengan pesawat carter Susy Air menggunakan landasan darurat yang ada di dekat daerah terdampak,” imbuhnya.

Selain itu, ia melanjutkan, BNPB juga menyiapkan dana siap pakai sejumlah Rp 250 juta untuk pengiriman logistik. Untuk menjangkau Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Kuwa Balim, Kabupaten Lani Jaya memerlukan waktu 10 hari jalan kaki dari Ibukota Lani Jaya.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hujan-salju-dan-kekeringan-melanda-tiga-kabupaten-di-papua/feed/ 0
Negara ASEAN Harus Ambil Langkah Ambisius Pada COP 21 https://www.greeners.co/berita/negara-asean-harus-ambil-langkah-ambisius-pada-cop-21/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=negara-asean-harus-ambil-langkah-ambisius-pada-cop-21 https://www.greeners.co/berita/negara-asean-harus-ambil-langkah-ambisius-pada-cop-21/#comments Mon, 06 Jul 2015 05:02:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10175 Jakarta (Greeners) – Negara-negara ASEAN didesak untuk mengambil tindakan yang ambisius untuk mengatasi dampak perubahan iklim pada Konferensi Tingkat Tinggi Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) yang dikenal […]]]>

Jakarta (Greeners) – Negara-negara ASEAN didesak untuk mengambil tindakan yang ambisius untuk mengatasi dampak perubahan iklim pada Konferensi Tingkat Tinggi Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) yang dikenal sebagai Conference of Parties (COP) 21 nanti.

Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ASEAN untuk Kesepakatan Iklim yang Adil, Ambisius dan Mengikat (atau disingkat A-FAB) mengatakan bahwa topan badai mematikan, banjir dan kekeringan menjadi fenomena baru di kawasan ASEAN. Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang substansial untuk mengatasi penyebab dan dampak perubahan iklim tersebut.

Zelda Soriano,Penasihat Hukum dan Politik dari Greenpeace Asia Tenggara, mewakili A-FAB kepada Greeners menyatakan, pembakaran bahan bakar fosil untuk produksi energi bertanggung jawab menghasilkan emisi gas rumah kaca. Itu sebabnya dibutuhkan sebuah reformasi kebijakan ASEAN yang diselaraskan untuk menurunkan subsidi batubara, minyak dan gas bumi. Hal ini untuk mendukung teknologi rendah karbon seperti energi terbarukan dan lainnya, terutama dalam konteks integrasi ekonomi ASEAN.

“Program dan proyek untuk menerapkan kebijakan energi rendah karbon seharusnya dapat dimasukkan dalam intended nationally determined contributions (INDCs) atau rencana aksi iklim bahwa mereka akan bertindak di bawah perjanjian iklim yang baru nanti,” jelasnya, Jakarta, Senin (06/07).

Pada dekade terakhir, lanjutnya, Asia Tenggara telah dihantam oleh kejadian cuaca ekstrim yang menyebabkan korban jiwa, infrastruktur dan hilangnya mata pencaharian. Peristiwa seperti Topan Haiyan tahun 2013 yang menewaskan 6.300 jiwa dan ratusan ribu pengungsi di Filipina, dan tahun 2011 terjadi banjir Thailand yang menyebabkan kerusakan pertanian senilai USD 1,3 miliar diketahui diperburuk oleh meningkatnya suhu global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca.

Negara-negara maju, terangnya, harus menyediakan pembiayaan iklim untuk mendukung adaptasi iklim di negara berkembang sebagai bagian dari aksi iklim mereka. Ia percaya bahwa dalam semangat keadilan iklim, negara-negara yang bertanggung jawab terhadap emisi gas rumah kaca, juga harus bertanggung jawab untuk mengatasi kebutuhan adaptasi korban perubahan iklim.

“Akan sangat lebih baik bagi ASEAN untuk mendesak mereka, negara-negara anggota, melalui deklarasi untuk mencakup tindakan ambisius dalam INDCs dengan indikasi yang jelas tentang bagaimana agar berhasil melaksanakan desakan adaptasi iklim yang mereka (ASEAN) sampaikan,” tutupnya.

Sebagai informasi, A-FAB adalah koalisi yang terdiri dari berbagai LSM seperti Oxfam, Greenpeace dan Eropa yang menyerukan partisipasi yang lebih aktif dan transparan bagi perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/negara-asean-harus-ambil-langkah-ambisius-pada-cop-21/feed/ 1
Ini Alasan Suhu Panas Pakistan Tidak Terjadi di Indonesia https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/#respond Mon, 29 Jun 2015 04:36:48 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=10039 Jakarta (Greeners) – Setelah India, diketahui kini cuaca ekstrim dengan suhu panas yang mencapai 47 derajat Celcius melanda Pakistan. Hingga saat ini diketahui sebanyak 1.011 orang tewas dari total 40.000 […]]]>

Jakarta (Greeners) – Setelah India, diketahui kini cuaca ekstrim dengan suhu panas yang mencapai 47 derajat Celcius melanda Pakistan. Hingga saat ini diketahui sebanyak 1.011 orang tewas dari total 40.000 korban suhu panas yang melanda Pakistan, terutama di kawasan selatan, Provinsi Sindh. Dari total korban tewas itu, sedikitnya 229 orang dilaporkan tewas sepanjang Rabu (24/6) lalu saat berada dalam perawatan di rumah sakit.

Mengenai fenomena cuaca ekstrim ini, Kepala Balitbang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan bahwa suhu panas yang saat ini perlahan mulai membaik di Pakistan tidak akan berdampak apa-apa terhadap Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah negara tropis yang dikelilingi oleh laut sehingga memiliki uap air yang cukup tinggi. Uap air ini sendiri berfungsi sebagai bantalan penyerap panas.

“Saat siang hari saja uap air kita bisa mencapai 70 persen dan uap air tersebut mampu menyerap panas sehingga di kota-kota besar saja suhu panas tertinggi paling mencapai 36 atau 37 derajat. Itu saja sudah maksimal,” jelasnya kepada Greeners,” Jakarta, Senin (29/06/2015).

Selain itu, sirkulasi udara di Indonesia berbeda antara negara tropis seperti Indonesia dengan negara sub-tropis seperti Pakistan. Ditambah Pakistan mengalami gelombang Rossby yang tidak terjadi di Indonesia. Apalagi, negara seperti Pakistan bisa mengalami udara yang sangat kering sehingga menyebabkan suhu panas yang naik tinggi sekali.

“Jadi alasannya dua itu: banyak uap air yang menjadi bantalan di Indonesia dan sirkulasi udaranya berbeda,” tambahnya.

Terkait aktifitas gunung Sinabung di Sumatera yang juga diklaim sebagai pulau terpanas di Indonesia, Edvin mengungkapkan bahwa aktifitas gunung api tersebut masih belum berdampak apa-apa terhadap cuaca di pulau Sumatera karena radius letusan gunung tersebut tidak terlalu jauh.

“Gunung Sinabung tidak berpengaruh apa-apa dengan suhu di Sumatera, itu kan hanya radius berapa kilo saja,” ungkapnya.

Sebagai informasi, seperti dikutip dari surat kabar berbahasa Inggris, Dawn, Kamis (25/06) lalu, korban tewas terbanyak terjadi di Karachi, yaitu berjumlah 950 orang. Dari total korban tewas di Karachi, 729 orang tewas saat dirawat di rumah sakit pemerintah dan 221 orang di rumah sakit swasta. Selain di Karachi, korban tewas di wilayah Hyderabad, Naushahro Feroze, dan Badin yang merupakan kawasan setingkat kabupaten di Provinsi Sindh, bagian selatan Pakistan.

Lebih lanjut, kantor Meteorologi Pakistan menyebutkan, temperatur udara maksimum sepanjang Kamis diharapkan antara 38 derajat Celsius dan 40 derajat Celsius. Sepanjang Rabu (24/06), kawasan Hyderabad tercatat mengalami suhu tertinggi hingga 42 derajat Celsius.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/ini-alasan-suhu-panas-pakistan-tidak-terjadi-di-indonesia/feed/ 0
BMKG, Intensitas Hujan Dua Hari Belakangan Luar Biasa https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/#respond Wed, 11 Feb 2015 05:49:58 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_news&p=7379 Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa intensitas hujan di wilayah Jabodetabek yang terjadi pada Minggu (08/02) malam hingga Selasa (10/2/2015) pagi kemarin, hampir sama banyaknya […]]]>

Jakarta (Greeners) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa intensitas hujan di wilayah Jabodetabek yang terjadi pada Minggu (08/02) malam hingga Selasa (10/2/2015) pagi kemarin, hampir sama banyaknya dengan intensitas hujan dalam kurun waktu satu bulan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) BMKG, Edvin Aldrian saat dihubungi oleh Greeners mengatakan bahwa rata-rata intensitas hujan yang turun dalam waktu satu bulan sekitar 300-400 milimeter. Namun, untuk hujan yang turun pada hari Senin kemarin mencapai 360 mm per hari, sementara hujan yang turun pada hari Selasa mencapai 190 mm.

“Ini (intensitas hujan) kita ukur dari stasiun kita di kantor BMKG dan ini luar biasa. Ini (intensitas hujan) ekstrim sekali makanya langsung banjir,” terangnya, Jakarta, Rabu (11/02).

Untuk hari ini, BMKG memprakirakan hujan akan mengguyur wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Timur sepanjang hari namun dalam intensitas ringan. “Hari ini akan gerimis saja tapi besok dan lusa kemungkinan akan “basah” lagi,” ujarnya.

Peta lokasi potensi banjir di DKI Jakarta dan sekitanya yang dikeluarkan pada 9 Februari 2015. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Peta lokasi potensi banjir di DKI Jakarta dan sekitanya yang dikeluarkan pada 9 Februari 2015. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Di lain sisi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih menganggap jika banjir yang terjadi akibat tingginya intensitas hujan dan beberapa faktor buruknya pengelolaan lingkungan hidup tahun ini tidak lebih buruk dibandingkan puncak hujan yang terjadi pada tahun lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa hingga Selasa siang kemarin, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada penambahan titik genangan air di Jakarta hingga 107 titik genangan.

“Di Jakarta Pusat ada 25 titik genangan, 27 titik di Jakarta Barat, 25 titik di Jakarta Timur, 10 titik di Jakarta Selatan dan 20 titik di Jakarta Utara,” jelasnya.

Akibat banjir ini, 5.986 jiwa korban banjir di 14 lokasi di Ibu Kota mengungsi. Namun, Sutopo menyatakan bahwa mereka telah kembali ke rumah masing-masing.

“Ribuan korban banjir yang berjumlah 2.063 warga di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, masih berada di lokasi pengungsian hingga malam tadi,” kata Sutopo.

Peta potensi banjir. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Peta potensi banjir. Gambar: http://geospasial.bnpb.go.id/

Untuk titik penyebaran pengungsi tersebut, lanjutnya, 1.500 warga mengungsi di Rusun Muara Baru, 168 orang di Kantor Kelurahan Penjaringan, 84 orang di Pos Polisi Pluit, 7 orang di Kantor RW 07, 104 orang di Gedung SD 012, 150 orang di Masjid Nurul Ihwan, dan 50 orang ditempatkan sementara di Rumah Yatim RW 17.

Sebagai informasi, Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya menerangkan hari ini masih terdapat genangan air di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sedangkan sisanya sudah mulai surut.

Salah seorang petugas TMC, Briptu Amung kepada Greeners mengatakan sebaran titik genangan air tersebut antara lain di Jakarta Utara seperti di Pluit Timur (40 cm), depan Lantamal (30 – 40 cm), Jl.RE Martadinata (15 cm), Jl. Jatidia Tj Priok (20 cm), Jl.Batu Ancol (20 cm), KBN Cakung (40 cm), Kebon Baru (15 cm) dan Bundaran Kelapa Gading arah SMR (15 cm).

“Untuk Jakarta Barat ada di Traffic Light Ring Road Purikembangan (50 cm), Depan Univ.Tarumanegara arah Tomang (50 cm), Jl.Tubagus Angke (40 cm), Jl Kyai Tapa (20 cm) dan Jl.Daan Mogot depan Satpas SIM arah Grogol (40 cm),” pungkasnya.

(G09)

]]>
https://www.greeners.co/berita/bmkg-intensitas-hujan-dua-hari-belakangan-luar-biasa/feed/ 0