demokrasi digital - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/demokrasi-digital/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Sun, 27 Mar 2016 12:29:38 +0000 id hourly 1 Toko Buku Bebas Gawai, Merayakan Kenyamanan Membaca Buku Fisik https://www.greeners.co/ide-inovasi/toko-buku-bebas-gawai-merayakan-kenyamanan-membaca-buku-fisik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=toko-buku-bebas-gawai-merayakan-kenyamanan-membaca-buku-fisik https://www.greeners.co/ide-inovasi/toko-buku-bebas-gawai-merayakan-kenyamanan-membaca-buku-fisik/#respond Sun, 27 Mar 2016 06:26:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_ide_inovasi&p=13279 Meski pembaca buku e-book semakin banyak, namun banyak pula orang yang lebih memilih kenyamanan membaca buku dalam bentuk aslinya.]]>

Saat ini adalah era digital di mana buku sudah tersedia dalam bentuk buku elektronik atau e-book mengalahkan jumlah buku dalam bentuk fisiknya. Meski pembaca buku e-book semakin banyak, namun banyak pula orang yang lebih memilih kenyamanan membaca buku dalam bentuk aslinya.

Buku memang dihasilkan dari kertas yang berarti harus memotong pohon. Tetapi para pembaca e-book juga mempunyai jejak karbon yang cukup besar, bahkan lebih besar ratusan kali dibandingkan dengan sebuah perpustakan milik pribadi pada umumnya.

Jadi bisa dimengerti ketika beberapa perusahaan dan desainer mulai mendukung keberadaan buku cetak. Arsitek dari Spanyol, Jose Selgas dan Lucia Cano dari firma arsitektur SelgasCano, yang menciptakan Serpentine Pavilion tahun lalu, mendesain interior yang indah untuk sebuah toko buku baru di London Timur. Sebuah perwujudan dari masa keemasan buku cetak di mana para pembaca bisa datang dan tenggelam dalam dunia buku tanpa adanya gangguan dari peralatan digital, karena di tempat ini gawai dilarang penggunaannya.

Foto: SelgasCano/treehugger.com

Foto: SelgasCano/treehugger.com

Inspirasi untuk desain toko buku ini berasal dari sebuah karya fiksi berjudul Library of Babel karangan seorang pengarang berkebangsaan Argentina, Jorge Luis Borges. Sebuah perpustakaan umum yang besar yang terdiri dari ruang-ruang heksagonal.

Arsiteknya kemudian menerjemahkan ide ini menjadi ruang buku tak berujung dengan menggunakan rak-rak yang dibuat sendiri dan tidak beraturan serta menambahkan cermin di tempat yang strategis sehingga ruangannya terlihat jauh lebih besar. Walaupun inventorinya dibuat dan diorganisasikan menggunakan komputer, namun ruang yang dibuat di toko buku ini sama sekali tidak menggunakan tekonologi untuk memberikan penghargaan terhadap karya yang dicetak di buku-bukunya.

Foto: SelgasCano/treehugger.com

Foto: SelgasCano/treehugger.com

Pendiri dan pemilik perusahaan tekonologi Second Home, Rohan Silva adalah orang yang membuat proyek ini bersama Sam Aldenton. Seperti dikutip dari Treehugger.com dan dilansir Dezeen, Silva mengatakan, “kami percaya pada nilai dari buku dan literatur. Kami melihat banyak sekali dalam industri ini yang mempunyai gerakan kembali ke benda-benda yang sifatnya material, termasuk diantaranya penghargaan yang baru terhadap karya pertukangan. Hal-hal seperti ini tidak tergantikan di dunia digital dan sekarang mereka mendapatkan kehidupan yang baru.

Salah satu hal yang menyenangkan saat membeli buku dalam bentuk fisik adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa disandingkan dengan rekomendasi algoritma. Kalau dikurasi dengan baik, sebuah toko buku adalah tempat terbaik untuk menemukan ide-ide baru.”

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/ide-inovasi/toko-buku-bebas-gawai-merayakan-kenyamanan-membaca-buku-fisik/feed/ 0
Kebakaran Hutan, Petisi yang Paling Sering Muncul Tahun 2015 https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-petisi-yang-paling-sering-muncul-tahun-2015/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kebakaran-hutan-petisi-yang-paling-sering-muncul-tahun-2015 https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-petisi-yang-paling-sering-muncul-tahun-2015/#respond Tue, 22 Dec 2015 06:14:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=12329 Sepanjang tahun 2015, isu kebakaran hutan menjadi isu yang petisinya paling sering muncul di laman change.org dengan jumlah petisi sebanyak 1.200 petisi. ]]>

Jakarta (Greeners) – Gerakan demokrasi digital tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Jika melihat dari pengguna wadah petisi online, dari 900.000 pengguna pada tahun 2014, angka ini meningkat tajam menjadi 1.900.000 pengguna pada tahun 2015.

Direktur Komunikasi Change.org Indonesia, Desmarita Murni mengatakan, melalui media sosial, jutaan suara masyarakat dapat terafiliasi, terdanai, hingga termobilisasi dengan cepat dan efektif.

Ia menyontohkan isu kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu. Isu ini, menurut Desma, menjadi isu yang petisinya paling sering muncul di laman change.org dengan jumlah petisi sebanyak 1.200 petisi. Hingga akhirnya, menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya Bakar menanggapi petisi ini.

“Kebakaran hutan menjadi isu yang paling sering muncul di tahun 2015. Artinya, banyak orang yang bahkan tidak tinggal di wilayah terdampak turut membuat petisi untuk darurat asap ini,” tuturnya di Jakarta, Senin (21/12).

Acara "Kilas Balik Gerakan Netizen di Tahun 2015" yang diselenggarakan oleh change.org. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Acara “Kilas Balik Gerakan Netizen di Tahun 2015” yang diselenggarakan oleh change.org. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Selain itu, terdapat pula lima kategori petisi terpopuler yang paling banyak mendapat tanda tangan masyarakat. Seperti petisi anti korupsi dengan 501.561 tanda tangan, petisi lingkungan dan satwa dengan 325.353 tanda tangan, petisi olahraga dengan 263.865 tanda tangan, petisi toleransi dengan 210.292 tanda tangan serta keadilan pidana dengan 139.661 tanda tangan.

Sedangkan enam petisi yang mendapatkan kemenangan sepanjang tahun 2015 dengan total 536.099 pengguna yang menang adalah isu pilkada langsung, jaminan hari tua, #Rip Yongki, tarif data di timur, akses obat hepatitis C dan #papa minta saham.

Nur Hidayati, Kepala Divisi Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan bahwa darurat asap menjadi isu yang paling sering muncul bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, kepedulian masyarakat yang begitu tinggi hingga membuat masyarakat merasa harus melakukan sesuatu hingga akhirnya berbondong-bondong membuat petisi. Kedua, sikap pemerintah yang dianggap membingungkan dan seperti tidak melakukan apa-apa sehingga petisi seperti ini bermunculan.

“Kemana saja pemerintah kok baru melakukan sesuatu saat muncul banyak petisi,” tambahnya.

Wisnu Wardana, dokter hewan dan relawan otopsi gajah yang memulai petisi agar toko-toko online tidak lagi menjual produk gading gajah pasca terbunuhnya Yongki, gajah patroli Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), mengaku frustasi setiap kali melakukan otopsi pada gajah-gajah yang ditemukan mati dengan kondisi tanpa gading.

“Titiknya saat Yongki ditemukan mati. Itu saya nangis betul. Apalagi saat gajah sedang banyak yang mati. Eh, di toko-toko online malah banyak yang jual gading gajah. Saya marah dan saya merasa harus melakukan sesuatu. Lalu kita cobalah membuat petisi di change.org ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Change.org adalah wadah petisi online yang terbuka bagi umum. Dalam wadah ini, berbagai petisi berhasil mendorong munculnya upaya-upaya kampanye sosial, seperti isu lingkungan, antikorupsi, HAM, sosial, hingga kesejahteraan satwa.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/kebakaran-hutan-petisi-yang-paling-sering-muncul-tahun-2015/feed/ 0