depresi - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/depresi/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 20 Jan 2021 14:33:48 +0000 id hourly 1 5 Tanda Tubuh Kelebihan Karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/#respond Tue, 04 Aug 2020 01:58:00 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=28066 Karbohidrat menjadi salah satu unsur yang harus dipenuhi sebagai sumber energi saat beraktivitas atau berolahraga. Umumnya zat gizi ini dapat ditemukan dalam nasi, roti, gandum, dan umbi-umbian. Namun, konsumsi karbohidrat berlebih dapat berdampak terhadap kesehatan.

Melansir thedailymeal.com, sejumlah penelitian American Heart Association dan Harvard University, Amerika Serikat mencatat bahwa memakan terlalu banyak karbohidrat menyebabkan efek negatif pada tubuh. Tiap individu harus mulai memerhatikan pola konsumsi karbohidrat harian. Untuk mengetahui apakah tubuh kelebihan zat sumber energi ini, berikut tanda-tanda yang harus diperhatikan.

1. Merasa Cepat Lapar

Mengonsumsi secara berlebih makanan yang mengandung sebagian besar karbohidrat dan kekurangan lemak atau protein menyebabkan seseorang akan terus merasa lapar. Biasanya mereka akan membutuhkan asupan makanan tambahan.

Mayoritas karbohidrat olahan seperti roti putih memiliki nutrisi dan serat yang minim karena telah diubah menjadi kalori kosong.  Makanan ini mengalami perubahan yang lebih cepat menjadi glukosa dan mendorong proses pencernaan sehingga tidak membuat tubuh merasa kenyang.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-tanda-tubuh-kelebihan-karbohidrat/feed/ 0
Kenali Gejala Depresi pada Laki-Laki https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-gejala-depresi-pada-laki-laki/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kenali-gejala-depresi-pada-laki-laki https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-gejala-depresi-pada-laki-laki/#respond Wed, 15 Jul 2020 00:00:24 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=27878 Selain depresi, pria juga dapat mengalami anhedonia, yakni kurangnya minat atau kesenangan pada hal-hal menarik atau menyenangkan.]]>

Suasana hati yang terus menerus tertekan bahkan kehilangan minat dalam beraktivitas mungkin pertanda diri sedang mengalami gejala depresi. Kondisi ini bisa menyerang siapa pun termasuk laki-laki. Mereka cenderung menggunakan mekanisme koping atau cara menyelesaikan masalah yang berbeda dengan perempuan. Zat kimia di dalam otak, hormon, dan pengalaman hidup menjadi faktor-faktor yang memengaruhinya.

Psikiater Dr Sanjay Chugh mengatakan bahwa depresi pada laki-laki adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan kesedihan dan kecemasan secara bersamaan tanpa alasan yang jelas. Kaum pria juga dapat mengalami anhedonia, yakni kurangnya minat atau kesenangan pada hal-hal menarik atau menyenangkan.

Baca juga: Bersepeda Aman dan Nyaman di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Gejala fisik depresi yang tidak boleh diabaikan, kata Chugh, yakni kesulitan tidur dan rendahnya nafsu makan yang diikuti dengan penurunan berat badan. Atau gejala sebaliknya juga dapat terjadi seperti peningkatan jam tidur dan keinginan untuk makan yang meningkatkan berat badan. “Gejala-gejala ini juga dapat disertai dengan masalah pengambilan keputusan dan konsentrasi,” kata dia.

Situasi menjadi mengkhawatirkan ketika orang mulai merasa putus asa, tidak berdaya, dan tidak berharga. Melansir mayoclinic.orggejala depresi pada pria biasanya muncul pada saat mencari pelarian seperti menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat kerja atau berolahraga. Bahkan di antaranya dapat berimplikasi pada gangguan kesehatan seperti masalah pencernaan, sakit kepala, hingga peningkatan asupan alkohol.

Depresi

Gangguan jam tidur. Ilustrasi: shutterstock

“Ini dikenal sebagai tiga serangkai kognitif depresi. Jika gejala-gejala ini bertahan selama beberapa waktu, orang itu akhirnya merasa bahwa hidup ini tidak layak untuk dijalani,” ucapnya.

Berbagai cara untuk mengelola stres di antaranya meditasi dan dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah. Berikutnya hal yang dapat dilakukan adalah dengan menunda membuat keputusan penting, misalnya, berganti pekerjaan. Setidaknya tiap individu dapat mulai menetapkan tujuan yang realistis.

Baca juga: Manfaat Berolahraga Saat Menstruasi

Langkah selanjutnya adalah mencari dukungan emosional dari pasangan atau keluarga maupun teman. Pelajari strategi untuk membuat koneksi sosial sehingga  dapat terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.

Banyak perawatan efektif yang tersedia untuk mengatasi depresi. Cobalah untuk menerapkan gaya hidup sehat yang rutin termasuk mengonsumsi makanan sehat dan aktivitas fisik teratur untuk membantu meningkatkan kesehatan mental.

Penulis : Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kenali-gejala-depresi-pada-laki-laki/feed/ 0
Merokok Berisiko Tingkatkan Depresi https://www.greeners.co/gaya-hidup/merokok-berisiko-tingkatkan-depresi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=merokok-berisiko-tingkatkan-depresi https://www.greeners.co/gaya-hidup/merokok-berisiko-tingkatkan-depresi/#respond Thu, 05 Dec 2019 23:30:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=24892 Kebiasaan merokok dan tingkat merokok yang tinggi berisiko lebih besar mengalami depresi dan skizofrenia.]]>

Jakarta (Greeners) –  Kebiasaan merokok berisiko meningkatkan depresi dan skizofrenia. Dikutip dari laman theguardian.com, peneliti dari Universitas Bristol Dr. Robyn Wotton menuliskan hasil penelitian tersebut dalam jurnal Psychological Medicine. Ia membandingkan risiko perkembangan depresi atau skizofrenia di antara orang dengan kecenderungan genetik untuk merokok atau tidak. Menurut Wotton genetik semacam itu terdistribusi acak dalam populasi dan tidak diubah oleh faktor seperti konsumsi alkohol, pendapatan, olahraga, atau masalah kesehatan lainnya.

“Kami berfokus pada 378 varian genetik yang sebelumnya dikaitkan dengan orang yang mulai merokok dan 126 varian genetik yang ditemukan tim. Lalu dikaitkan dengan nilai yang lebih tinggi untuk perokok seumur hidup. Ukuran yang digunakan mencakup berapa banyak perokok, durasi waktu, dan waktu berhenti,” kata Wotton.

Baca juga: Gangguan Kesehatan Mengintai Perokok Elektrik

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan mulai merokok dan tingkat merokok yang tinggi berisiko lebih besar mengalami depresi dan skizofrenia. Sebagai contoh, seseorang yang merokok 20 batang sehari selama 15 tahun, tapi kemudian tidak merokok selama 17 tahun, maka ia berisiko lebih dari dua kali lipat terkena skizofrenia dan hampir dua kali lipat mengalami depresi daripada orang yang tidak pernah merokok.

Kebiasaan merokok berisiko meningkatkan depresi dan skizofrenia.

Kebiasaan merokok berisiko meningkatkan depresi dan skizofrenia. Foto: freepik.com

“Perlu eksplorasi yang tepat bagaimana merokok dapat meningkatkan skizofrenia dan depresi. Namun, satu kemungkinan bahwa nikotin memengaruhi jalur di otak yang terkait dengan masalah kesehatan. Hal itu menjadi penting karena nikotin juga ditemukan dalam rokok elektronik,” ujar Wotton.

Nikotin merupakan zat yang memiliki candu seperti opium dan morfin. Ia berfungsi sebagai perantara dalam sistem saraf otak yang menyebabkan berbagai reaksi biokimia dan memberikan efek menyenangkan maupun menenangkan. Tubuh perokok yang menerima rangsangan nikotin kemudian memproduksi lebih banyak hormon adrenalin. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan.

Baca juga: Bahaya Rokok Elektrik

Ketika seseorang mengalami ketergantungan pada nikotin, ia memiliki perasaan tidak nyaman, sulit mengendalikan diri, mudah putus asa, dan depresi. Hal tersebut dipicu oleh pelepasan dopamin dan noradrenaline. Bahaya yang ditimbulkan tidak hanya berdampak pada perokok aktif, tapi juga perokok pasif. Karena dapat mengakibatkan pelemahan fungsi otak maupun kondisi psikologi.

Ahli Candu dan Kesehatan Mental, Departemen Ilmu Kesehatan Universitas York, Dr. Ian Hamilton mengatakan saat bahaya fisik dari kebiasaan merokok sudah diketahui, penelitian ini menunjukkan risiko kesehatan mental dari penggunaan tembakau. “Risiko ini harus dikomunikasikan lebih luas, khususnya pada anak-anak usia sekolah yang mungkin tertarik untuk mencoba rokok,” kata Hamilton.

Penulis: Ridho Pambudi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/merokok-berisiko-tingkatkan-depresi/feed/ 0
Hilangkan Rasa Cemas dan Stress Melalui Terapi Musik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/#respond Tue, 12 Feb 2019 02:14:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=22317 Kini telah banyak dikembangkan terapi-terapi keperawatan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri pada pasien. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah terapi musik.]]>

Umumnya orang yang mengalami stres atau mempunyai tingkat kecemasan tinggi biasanya membutuhkan penaganan atau pertolongan secara khusus. Kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu (biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas).

Rasa stres atau cemas bisa dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Contohnya orang yang mengalami patah tulang (fraktur). Rasa nyeri yang ditimbulkan pada kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan pada pasien. Kemudian perasaan takut dan cemas juga sering muncul di benak para calon ibu ketika dalam situasi persalinan. Tidak jarang hal ini membuat para perempuan mengalami stres bahkan trauma yang mendalam.

Selain itu stres, kecemasan, dan depresi menjadi faktor risiko terjadinya tekanan darah tinggi. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa tekanan darah tinggi menyebabkan munculnya penyakit stroke dan penyakit jantung.

Kini telah banyak dikembangkan terapi-terapi keperawatan untuk menangani kecemasan ataupun nyeri pada pasien. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan adalah terapi musik. Lalu bagaimana sebenarnya mekanisme kerja musik pada kesehatan? Bagaimana terapi musik dapat mengurangi rasa sakit, stress, kecemasan maupun menurunkan tekanan darah?

Mekanisme kerja musik dalam kesehatan

Kehadiran musik sebagai bagian dan kehidupan manusia bukanlah hal yang baru. Selain memiliki aspek estetika, musik memiliki aspek terapetik yang banyak digunakan untuk membantu menenangkan, menyembukhan dan memulihkan kondisi fisiologis pasien maupun tenaga medis.

Sejak zaman Yunani kuno musik telah memainkan peran yang signifikan dalam hal penyembuhan manusia, Dewa Apollo dipercaya sebagai dewa musik dan dewa pengobatan. Gagasan untuk menggunakan musik sebagai alat penyembuhan dan perubahan prilaku juga telah dikemukakan oleh filsuf kenamaan seperti Phytagoras dan Plato. Musik juga telah dimanfaatkan untuk memulihkan dan menyembukan para veteran dan korban Perang Dunia I dan II.

Menurut Saloma Klementina Saing dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak dikutip dalam tesisnya yang berjudul “Pengaruh Musik Klasik terhadap Penurunan Tekanan Darah” (2007), terapi musik adalah keahlian menggunakan musik dan elemen musik oleh seorang terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan fisik, mental, emosional dan spiritual.

Hingga saat ini mekanisme peran musik dalam bidang kesehatan masih terus menjadi bahan kajian. Namun berdasarkan beberapa sumber kajian dan jurnal ilmiah menunjukan bahwa terapi musik terbukti berguna dalam proses penyembuhan.

Terapi musik berkembang dari berbagai disiplin ilmu, antara lain musikologi, psikologi, akustik, sosiologi, antropologi, dan neurologi. Dalam penelitian Journal of the American Medical Association (1996) melaporkan tentang hasil-hasil suatu studi terapi musik di Austin, Texas. Jurnal tersebut mengungkapkan bahwa setengah dari ibu-ibu hamil yang mendengarkan musik selama kelahiran anaknya tidak membutuhkan anestesi.

Berdasarkan Wilianto. V dan Adiyanti dalam Jurnal Intervensi Psikologi Vol.4 (2012), secara fisiologis, saat seseorang mendengarkan musik, gelombang vibrasi menstimulasi sistem limbik (mendukung berbagai fungsi seperti emosi, perilaku, motivasi, memori jangka panjang, dan penciuman), sehingga individu menjadi rileks. Musik juga memengaruhi pelepasan corticotrophin-releasing hormone (CRH), sehingga sistem saraf simpatis dan parasimpatis kembali bekerja secara seimbang dan kecemasan menurun (Taylor Piliac & Chair, 2002).

Rangsangan musik dapat meningkatkan pelepasan endorfin (senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan untuk kekebalan tubuh) dan ini menurunkan kebutuhan akan obat-obatan. Pelepasan tersebut memberikan pula suatu pengalihan perhatian dari rasa sakit dan mampu mengurangi kecemasan (Campbell, 2001).

Pemberian musik dengan irama lambat akan mengurangi pelepasan katekolamin kedalam pembuluh darah sehingga konsentrasi katekolamin dalam plasma menjadi rendah. Katekolamin merujuk kepada sekelompok hormon yang memiliki gugus katekol yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal dalam menanggapi stress. Pemberian musik berirama lambat dapat membuat tubuh mengalami relaksasi, denyut jantung berkurang dan tekanan darah menjadi turun (Saloma, 2007).

Namun perlu diingatkan kembali bahwa setiap individu tidak sama, selalu memiliki pola interaksi, kebudayaan, pengalaman masa lalu, persepsi dan dinamika yang berbeda. Materi dan jenis musik yang diberikan pun harus diperhatikan. Dalam pemberian terapi, sebaiknya musik yang diberikan sesuai dengan jenis musik yang disukai oleh pasien. Pemilihan jenis musik yang sesuai dengan kesukaan individu atau pasien merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya kecemasan.

Penulis: Sarah R. Megumi

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/hilangkan-rasa-cemas-dan-stress-melalui-terapi-musik/feed/ 0
Ternyata, Sinar Matahari Mampu Memengaruhi Kesehatan Mental https://www.greeners.co/gaya-hidup/ternyata-sinar-matahari-mampu-memengaruhi-kesehatan-mental/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ternyata-sinar-matahari-mampu-memengaruhi-kesehatan-mental https://www.greeners.co/gaya-hidup/ternyata-sinar-matahari-mampu-memengaruhi-kesehatan-mental/#respond Thu, 05 Oct 2017 10:02:26 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18911 Dengan mengurung diri di dalam ruangan, tubuh kita akan kekurangan asupan sinar matahari dan akan memengaruhi kesehatan mental. Lalu, apa hubungannya antara kesehatan mental dengan sinar matahari?]]>

Berdiam diri di dalam kamar sambil berbaring di atas kasur, mendengarkan musik favorit atau membaca buku merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian orang. Suasana nyaman dan tenang yang kita dapatkan dari dalam kamar membuat kita betah untuk berlama-lama di dalamnya. Bahkan, tak sedikit di antara kita yang lebih memilih untuk “mengurung diri” di dalam kamar dibandingkan untuk pergi ke taman kota sebagai cara untuk menikmati hari libur.

Meski terasa nyaman, nyatanya berdiam diri di dalam kamar sepanjang hari dapat memberikan efek buruk terhadap kesehatan, khususnya kesehatan mental. Dengan terus-terusan mengurung diri di dalam ruangan, kita akan merasa gelisah, sedih, mengalami gangguan tidur, hingga merasa depresi. Hal tersebut dapat terjadi karena dengan mengurung diri di dalam ruangan tubuh kita akan kekurangan asupan sinar matahari. Lalu, apa hubungannya antara kesehatan mental dengan sinar matahari?

Seorang peneliti dari Sleep and Chronobiology Laboratory di Universitas Colorado Amerika Serikat, Kenneth Wright, menyatakan bahwa paparan sinar matahari dapat membantu tubuh untuk mengatur ritme sirkadian. Sirkadian merupakan jam biologis tubuh yang mengatur segala sesuatu dalam tubuh kita seperti nafsu makan, jam tidur, hingga mood dan energi.

“Ketika tubuh kurang terpapar cahaya matahari dan hanya terpapar cahaya buatan seperti cahaya lampu, jam biologis dalam tubuh kita akan terganggu. Akibatnya, kesehatan tubuh kita akan mengalami gangguan. Tubuh kurang terpapar sinar matahari memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjangkit obesitas, diabetes, depresi, dan penyakit lainnya,” ujar Kenneth dilansir dari Time.

Selain itu, matahari akan membantu tubuh memproduksi vitamin D. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dokter sekaligus peneliti dari University Hospital of North Norway Norwegia, Rolf Jorde, menyatakan bahwa seseorang yang mengalami kekurangan asupan vitamin D lebih rentan untuk terserang depresi. Maka tak heran, seseorang yang jarang keluar rumah dan jarang terpapar sinar matahari lebih sering merasa sedih, gelisah, hingga depresi.

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Dermato-Endocrinology juga menunjukkan bahwa tubuh akan menghasilkan hormon melatonin yang lebih tinggi dalam keadaan gelap. Akibatnya, saat tubuh kita kurang terpapar sinar matahari, kita akan lebih mudah merasa letih.

Untuk menghindari diri dari perasaan mellow dan depresi, seorang profesor dan penulis dalam bidang psikologi asal Amerika Serikat, Richard Ryan, menyarankan kita untuk sering-sering menghabiskan waktu di luar rumah dan bersatu dengan alam. “Menghabiskan waktu di luar rumah dan membaur dengan alam dapat meningkatkan kesehatan mental kita. Mood kita juga dapat membaik. Selain itu, menghabiskan waktu di alam juga dapat mengurangi rasa sakit pada tubuh,” tuturnya.

Perlu diketahui, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Rochester menunjukkan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di luar ruangan dan mengalami kontak langsung dengan sinar matahari akan mengalami peningkatan vitalitas sebesar 40 persen. Selain itu, sinar ultraviolet yang terkandung dalam cahaya matahari dapat menstimulasi otak untuk menghasilkan hormon endorphin, hormon yang dapat meningkatkan rasa bahagia. Selain itu, sinar matahari juga dapat melepaskan hormon serotonin dalam tubuh sehingga tubuh akan lebih terasa bugar dan bertenaga.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/ternyata-sinar-matahari-mampu-memengaruhi-kesehatan-mental/feed/ 0
5 Cara Mencegah Rasa Depresi https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-mencegah-rasa-depresi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=5-cara-mencegah-rasa-depresi https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-mencegah-rasa-depresi/#respond Fri, 21 Jul 2017 09:47:44 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17836 Depresi dapat menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Meski demikian, rasa depresi sebenarnya dapat dicegah.]]>

(Greeners) – Depresi merupakan suatu kondisi psikologis dimana penderitanya akan merasa tertekan. Depresi dapat menyerang seseorang dengan sangat parah dan dapat mengubah kualitas hidup mereka.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika Serikat (ADAA), sebanyak 15 juta penduduk Amerika Serikat terserang depresi tiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, menurut Tara de Thouras, psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta, jumlah penderita depresi semakin meningkat selama 10 tahun terakhir.

“Biasanya, rasa depresi muncul karena seseorang mengalami kesulitan untuk menangani rasa stres yang mereka hadapi. Seseorang yang mengalami depresi akan merasa dirinya selalu kurang dan tidak memiliki motivasi untuk hidup,” ujar Tara kepada Greeners melalui telepon, Kamis pada (13/07) lalu.

Depresi dapat menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Meski demikian, rasa depresi sebenarnya dapat dicegah. Berikut ini lima cara untuk mencegah timbulnya rasa depresi yang telah Greeners himpun dari berbagai sumber.

rasa depresi

Ilustrasi. Foto: pixabay.com

1. Berolahraga secara rutin

Melakukan olahraga secara rutin merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental kita. Dalam situs resminya, ADAA menjelaskan bahwa berolahraga dapat memicu otak untuk menghasilkan hormon endorfin yang dapat mengurangi rasa sakit dan rasa stres. Berolahraga juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat menambah energi positif dalam diri kita.

Tara juga menyetujui bahwa berolahraga secara rutin dapat mencegah kita untuk terserang rasa depresi. “Selain dapat merilis hormon endorfin dalam tubuh, berolahraga juga dapat membantu kita untuk mengalihkan pikiran-pikiran negatif sehingga kita akan menjadi lebih bahagia,” ujar Tara.

(Selanjutnya…)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/5-cara-mencegah-rasa-depresi/feed/ 0
Depresi, Kenali dan Cegah Sebelum Terlambat https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-kenali-dan-cegah-terlambat/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=depresi-kenali-dan-cegah-terlambat https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-kenali-dan-cegah-terlambat/#respond Sat, 15 Jul 2017 05:05:51 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17723 Apabila rasa stres tidak ditangani dengan bijak, rasa stres dapat menggiring seseorang ke dalam kondisi depresi. Pada kasus depresi yang lebih lanjut, seseorang bisa menyakiti diri sendiri hingga melakukan percobaan bunuh diri.]]>

(Greeners) – Setiap orang pasti pernah menghadapi suatu masalah hingga mengalami stres. Munculnya rasa stres biasa diawali dari rasa kewalahan untuk menghadapi berbagai tekanan hidup dari berbagai pihak. Apabila rasa stres tidak ditangani dengan bijak, rasa stres tersebut dapat menggiring seseorang ke dalam kondisi depresi.

Psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta, Tara de Thouars, menjelaskan bahwa depresi merupakan suatu kondisi psikologis dimana penderitanya akan merasa sangat tertekan dan tidak memiliki semangat untuk hidup. Depresi dapat menyerang siapa saja dari segala usia dan kalangan.

“Biasanya, rasa depresi muncul karena seseorang mengalami kesulitan untuk menangani rasa stres yang mereka hadapi. Seseorang yang mengalami depresi akan merasa dirinya selalu kurang dan tidak memiliki motivasi untuk hidup,” ujar Tara kepada Greeners melalui telepon, Kamis (13/07).

Selama 10 tahun terakhir, Tara mengaku jumlah pasien penderita depresi yang ia terima semakin meningkat setiap tahunnya. Pasien penderita depresi tersebut datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga lansia.

Tara menjelaskan bahwa depresi dapat dipicu oleh berbagai faktor. Ketatnya kompetisi antar individu dan tingginya beban tuntutan hidup merupakan salah satu faktor utama pemicu depresi.

“Saat seseorang mengalami depresi, dia akan merasa sangat sedih dan merasa worthless. Akibatnya, orang tersebut akan menarik diri dari lingkungan sosial di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan pada kasus yang lebih lanjut, dia menyakiti diri sendiri hingga melakukan percobaan bunuh diri,” ujar Tara.

Dapat dicegah

Rasa depresi yang menyiksa bukan berarti tidak dapat dicegah. Tara memaparkan beberapa upaya pencegahan depresi yang dapat diterapkan, diantaranya adalah dengan cara curhat, mengurangi akses ke media sosial, dan melakukan relaksasi.

“Langkah termudah untuk mencegah depresi adalah curhat dengan orang yang kita percaya. Saat kita menghadapi suatu masalah, kita harus cerita. Tidak boleh memendam unek-unek (perasaan yang terpendam, Red.) sendiri. Bila kita tetap memendam unek-unek kita sendiri, kita akan semakin down dan menjadi subjektif dalam menghadapi masalah,” papar Tara.

Ia juga menyarankan agar seseorang harus memiliki waktu untuk menenangkan diri. Cara untuk menenangkan diri ini bisa dilakukan dengan berolahraga maupun relaksasi.

“Dengan melakukan relaksasi dan olahraga, tubuh akan mengeluarkan hormon endorphine sehingga emosi dan pikiran negatif akan terbuang. Selain itu, kurangi juga akses kita ke media sosial. Media sosial bisa memicu kita untuk membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan orang lain. Ujungnya, kita akan merasa minder dan depresi karena merasa lebih rendah dari orang yang kita bandingkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tidur cukup dan makan makanan yang bergizi juga dapat membantu mencegah depresi.

“Supaya terhindar dari rasa depresi, intinya kita harus melihat diri kita sendiri secara lebih positif dan tidak pernah under estimate pada diri sendiri. Kita harus percaya bahwa kita itu lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Selain itu, kita juga harus selalu berpikir positif dan percaya bahwa seburuk apapun hal yang kita hadapi akan segera berakhir. Dengan tetap berpikir positif, emosi kita akan terjaga dan kita akan baik-baik saja,” pungkas Tara.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-kenali-dan-cegah-terlambat/feed/ 0
Depresi: Mari Kita Bicara https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-mari-kita-bicara/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=depresi-mari-kita-bicara https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-mari-kita-bicara/#respond Thu, 06 Apr 2017 12:01:12 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16625 Tahun ini, tema Hari Kesehatan Dunia adalah depresi. Depresi merupakan penyakit yang menyerang lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia.]]>

Sejak tahun 1950, tanggal 7 April diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Hari besar yang diinisiasi oleh salah satu organisasi PBB, World Health Organization (WHO), ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hal-hal seputar kesehatan.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah depresi. Depresi merupakan penyakit yang menyerang lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia. Namun, tidak jarang depresi tertukar dengan gangguan mental lainnya, misal suasana hati (mood) atau respon emosi singkat sehari-hari.

Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang umumnya ditandai dengan gejala kecemasan, kehilangan minat dan kesenangan, timbulnya kesedihan, perasaan bersalah atau rendah diri, terganggunya siklus tidur dan nafsu makan serta konsentrasi yang buruk.

“Perayaan ini merupakan salah satu peringatan bagi setiap negara untuk berpikir ulang tentang pendekatan terhadap gangguan kesehatan mental dan tentang perlakuannya dengan urgensi yang layak,” ujar Dr Margaret Chan, Direktur Jenderal WHO di laman resmi www.who.int.

Di situs tersebut, WHO menyatakan bahwa jumlah orang yang menderita depresi antara tahun 1990 hingga 2013 meningkat hingga 50%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan bagi penderita gangguan mental. Selain itu, munculnya stigma sosial terhadap orang yang mengalami depresi memberi rasa takut sehingga menjadi penghalang dan mencegah mereka dari akses perawatan yang dibutuhkan untuk hidup sehat dan produktif.

Keadaan tersebut dapat membuat episode depresi meningkat. Dan pada skenario terburuk, depresi dapat mendorong seseorang untuk bunuh diri. WHO mencatat bahwa depresi merupakan penyebab terbesar kedua pada angka kematian di antara usia 15-29 tahun.

“Stigma terhadap penyakit mental yang terus-menerus merupakan alasan kami memberi nama kampanye WHO: Depression: Let’s Talk,” ujar Dr Shekhar Saxena, Direktur Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Substansi WHO.

Faktanya, depresi dapat dicegah dan diobati melalui pemahaman yang lebih baik mengenai depresi, dan bagaimana cara untuk menghindari serta untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, dengan slogan “Depression: Let’s talk!”, WHO ingin menyadarkan masyarakat bahwa orang yang menderita depresi memerlukan bantuan.

Pihak yang bisa memberikan bantuan dan dukungan bagi orang yang menderita depresi adalah orang-orang terdekatnya baik melalui anggota keluarga, teman atau tenaga medis; atau kelompok-kelompok yang lebih besar seperti sekolah, tempat kerja dan domain publik; dan dalam media berita, blog atau media sosial.

“Bagi seseorang yang hidup dalam depresi, berbicara dengan orang yang mereka percaya merupakan langkah pertama yang paling sering dilakukan untuk pengobatan dan pemulihan,” kata Dr Shekhar Saxena.

Meskipun telah diketahui bahwa ada pengobatan yang efektif untuk depresi, kurang dari setengah dari jumlah penderitanya menerima pengobatan. Menurut WHO, hal-hal lain yang menghambat pengobatan depresi adalah sedikitnya sumber daya, kurangnya penyedia layanan kesehatan yang terlatih, dan stigma sosial yang terkait dengan gangguan mental.

Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah penilaian terhadap gejala yang tidak akurat. Baik di negara maju maupun berkembang, penderita depresi serinf tidak didiagnosis dengan benar. Sementara orang lain yang tidak mengalami gejala depresi tidak jarang salah diagnosis dan diberikan pengobatan antidepresan.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/depresi-mari-kita-bicara/feed/ 0