diet plastik - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/diet-plastik/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Thu, 28 Apr 2022 07:13:13 +0000 id hourly 1 Program Pasar Bebas Plastik Sasar Pasar Tradisional https://www.greeners.co/berita/program-pasar-bebas-plastik-sasar-pasar-tradisional/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=program-pasar-bebas-plastik-sasar-pasar-tradisional https://www.greeners.co/berita/program-pasar-bebas-plastik-sasar-pasar-tradisional/#respond Thu, 28 Apr 2022 05:00:57 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=36003 Jakarta (Greeners) – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung dan Banjarmasin mewujudkan pasar bebas plastik. Sebanyak empat pasar di Bandung dan Banjarmasin telah merampungkan program […]]]>

Jakarta (Greeners) – Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung dan Banjarmasin mewujudkan pasar bebas plastik. Sebanyak empat pasar di Bandung dan Banjarmasin telah merampungkan program uji coba pasar percontohan bebas plastik yang dimulai pada Februari 2021 lalu.

Lebih dari 600 pedagang di kedua pasar mendapatkan pelatihan mengenai tata cara bertransaksi bebas plastik dengan konsumen. Berdasarkan program ini, Pasar Kosambi dan Cihapit, di Bandung mampu mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai sebanyak 11 % dan 19 %.

Selain itu, terjadi penurunan serupa pada Pasar Pekauman dan Pandu di Banjarmasin yang mencapai 18 % dan 27 %. Keberhasilan dari program ini juga bisa terlihat dari perubahan perilaku dari pengunjung pasar atau konsumen. Pada empat pasar tersebut, konsumen yang sudah membawa kantong belanja ramah lingkungan meningkat sebanyak 21 %.

Program pasar bebas plastik adalah program uji coba pasar percontohan bebas plastik yang merupakan kolaborasi antara GIDKP dengan pengelola pasar tradisional di daerah. Program ini juga mendukung Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 75 Tahun 2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Kepala Sub Direktorat Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah, Kementerian LHK, Ujang Solihin Sidik menuturkan, program tersebut berhasil mematahkan stigma pasar tradisional sulit terlepas pada plastik sekali pakai.

“Uji coba Pasar Bebas Plastik di Bandung dan Banjarmasin berhasil mematahkan stigma bahwa pembeli dan pedagang pasar tradisional masih sulit melepas ketergantungan pada plastik sekali pakai. Saya harap hasil positif dari program ini menginspirasi pasar tradisional lain untuk segera membebaskan diri dari plastik dan menyukseskan Indonesia Bersih Sampah 2025,” katanya dalam acara Selebrasi Pembelajaran Kampanye Pasar Bebas Plastik di GoWork Pacific Place, baru-baru ini.

Pasar Tradisional, Sumber Penghasil Sampah Plastik Terbesar

Berdasarkan riset yang telah GIDKP lakukan, pasar rakyat merupakan salah satu sumber penghasil sampah plastik terbesar di Indonesia. Dalam satu tahun, pasar rakyat menghasilkan 416 juta lembar kantong plastik.

Hal ini setara dengan sekitar 45 % dari keseluruhan sumber kantong plastik (selain dari pusat perbelanjaan, toko modern dan restoran). Karena itu, program uji coba pasar bebas plastik secara spesifik menyasar pasar tradisional atau pasar rakyat.

Direktur Eksekutif GIDKP, Tiza Mafira mengatakan, saat ini pemerintah memang sudah mengeluarkan regulasi pelarangan kantong plastik. Namun, peraturan tersebut tidak banyak memberikan dampak pada pasar tradisional yang masih banyak menggunakan plastik sekali pakai.

Menurutnya, pasar tradisional membutuhkan perhatian khusus terkait peraturan tegas dalam penggunaan plastik sekali pakai. Mengingat banyak masyarakat Indonesia yang masih banyak berbelanja di pasar tradisional.

“Kita ingin memiliki program yang spesifik intervensinya ke pasar tradisional yang pendekatannya juga berbeda dengan intervensi ke supermarket. Tujuannya dan harapannya adalah supaya tercapai suatu percontohan ya, bahwa bisa lho mengurangi sampah plastik di pasar tradisional,” ungkap Tiza.

Sosialisasi hasil monitoring penerapan bebas plastik diulas tuntas, baru-baru ini. Foto: Apriohansyah/Greeners

Pasar Bebas Plastik Perkuat Edukasi dan Sosialisasi

Dengan menyasar pasar tradisional di Indonesia, GIDKP bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan berbagai aktivitas seperti sosialisasi dan edukasi. Salah satunya membagikan kantong ramah lingkungan kepada pedagang dan pengunjung pasar. Melakukan pelatihan tata cara bertransaksi bebas plastik antara pedagang dengan konsumen. Serta berbagai diskusi guna mencari ide alternatif untuk mensukseskan program pasar bebas plastik di wilayah masing-masing.

Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Sub Koordinator Kerja Sama Teknis Operasional, DLH Kota Bandung, Deti Yulianti menyebut, dengan adanya program ini pemerintah dapat memahami karakter berbagai pedagang dan konsumen. Sehingga pemerintah dapat memaksimalkan solusi jangka panjang untuk mengurangi sampah plastik.

Ia melanjutkan, dengan berkurangnya penggunaan kantong plastik, pedagang juga dapat memangkas pengeluaran setiap bulannya untuk membeli plastik sekali pakai. “Berkurangnya penggunaan kantong plastik tidak hanya membantu lingkungan dan pengurangan sampah kota Bandung ke TPA. Itu juga membantu pedagang di pasar berhemat rata-rata Rp 300.000/bulan,” paparnya.

Selain itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Banjarmasin, Dwi Naniek Muhariyani mengungkapkan, sebagian besar para pedagang sudah paham bahwa plastik dapat membahayakan lingkungan.

Tetapi mereka belum menemukan alternatif kemasan untuk komoditas basah. Naniek melanjutkan, pada bagian inilah edukasi dan sosialisasi berperan penting agar dapat memberikan pengetahuan secara merata pada semua pedagang.

“Melalui program ini, bersama dengan GIDKP aktif melakukan berbagai macam edukasi, sosialisasi dan evaluasi. Tujuannya agar pedagang dan pengunjung pasar lebih percaya diri untuk mengurangi ketergantungan dari plastik. Hal ini juga didukung dengan Perwali Kota Banjarmasin yang mengimbau masyarakatnya untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai,” ucapnya.

Perluas Jangkauan Pada Pasar Tradisional di Seluruh Indonesia

Setelah rampungnya program uji coba Pasar Bebas Plastik di dua kota ini, GIDKP akan membawa hasil pembelajaran ke pasar tradisional lainnya. Lalu akan fokus pada pengembangan prototipe wadah yang lebih ekonomis, mudah dirawat dan dapat digunakan ulang untuk jenis komoditas basah ataupun kering.

Selain Bandung dan Banjarmasin, Pasar Bebas Plastik juga telah berjalan pada beberapa kota lainnya. Kota tersebut yakni Bali, Bogor, Jakarta dan Surabaya. Hingga saat ini pada keenam kota tersebut penggunaan plastik sekali pakai juga mengalami penurunan yang signifikan.

Pada kesempatan itu, Tiza menyampaikan bahwa program ini perlu dukungan serta pengawasan yang baik dari berbagai pihak untuk terus berlanjut. Terlebih Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional yang tersebar di seluruh wilayah.

Ia berharap, gerakan ini juga dapat menjadi pemantik pasar tradisional lainnya. Tentu untuk mulai berbenah dan konsisten meninggalkan plastik sekali pakai.

“Yang kita harapkan adalah kita bisa memicu suatu gerakan di pasar tradisional yang saat ini gerakan tersebut belum ada. Mudah-mudahan setelah terpicu akan timbul snowball effect atau gelombang dimana satu persatu pasar tradisional mulai menolak plastik sekali pakai,” ucap Tiza.

Penulis : Zahra Shafira

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/program-pasar-bebas-plastik-sasar-pasar-tradisional/feed/ 0
Produksi Plastik Kuras Energi dan Tinggalkan Jejak Karbon https://www.greeners.co/berita/produksi-plastik-kuras-energi-dan-tinggalkan-jejak-karbon/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=produksi-plastik-kuras-energi-dan-tinggalkan-jejak-karbon https://www.greeners.co/berita/produksi-plastik-kuras-energi-dan-tinggalkan-jejak-karbon/#respond Thu, 14 Apr 2022 05:52:32 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=35882 Jakarta (Greeners) – Tanpa masyarakat sadari, proses pembuatan plastik butuh energi besar yang masih mengandalkan batu bara. Semakin banyak permintaan dan penggunaan plastik, jejak emisi karbon yang ditinggalkan pun semakin […]]]>

Jakarta (Greeners) – Tanpa masyarakat sadari, proses pembuatan plastik butuh energi besar yang masih mengandalkan batu bara. Semakin banyak permintaan dan penggunaan plastik, jejak emisi karbon yang ditinggalkan pun semakin besar.

Oleh sebab itu, pemerintah harus serius menangani jejak karbon proses pengolahan plastik sebagai kontributor emisi gas rumah kaca. Penuntasan permasalahan plastik bukan hanya pada bagian hilir berupa pengelolaan sampah plastik. Tapi juga di bagian hulu, mulai proses ekstraksi, manufaktur hingga distribusi produknya.

Dalam dokumen National Determined Contribution (NDC) Paris Agreement, Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 % dengan kemampuan sendiri. Kemudian 41 % dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Senior Project Manager Climateworks Center Jannata Giwangkara menyebut, sektor industri, energi dan transportasi menjadi sektor penyumbang terbesar emisi karbon. Ketiga sektor ini ada dalam proses pengolahan plastik dari hulu hingga pemanfaatannya di hilir.

Misalnya, bahan baku utama plastik yang ada saat ini, sambung dia 99 % berasal dari minyak dan gas bumi (fosil) yang diekstraksi dari perut bumi kemudian ada penyulingan kimiawi. Proses ini nantinya menghasilkan produk turunan minyak mentah dan selanjutnya menjadi bahan pembuatan plastik.

“Dari serangkaian proses produksi itu membutuhkan energi yang besar dan sayangnya masih bergantung pada energi fosil, seperti batu bara,” katanya dalam webinar Kenapa Plastik Berdampak Kepada Iklim Kita? di Jakarta, Rabu (13/4).

Demikian pula ketika produk plastik telah siap untuk terdistribusi ke lokasi supermarket atau toko-toko dengan menggunakan truk berbahan bakar fosil, tetap berkontribusi terhadap peningkatan emisi.

“Sehingga proses-proses inilah dari sebelum produksi sampai kepada kita sebagai pengguna plastik mengkonsumsi banyak sekali bahan bakar fosil, yang akhirnya meningkatkan emisi gas rumah kaca,” paparnya.

Peningkatan Pasokan Plastik dari Tahun 1950 Hingga 2015 Meningkat Signifikan

Berdasarkan data dari salah satu publikasi ilmiah, Nature letter tingkat pertumbuhan tahunan majemuk plastik dari tahun 1950 hingga tahun 2015 mengalami peningkatan signifikan. Jumlahnya mencapai empat kali lipat atau sebesar 8,4 % per tahun. Adapun produksi plastik pada tahun 2015 yaitu mencapai 380 juta ton plastik.

“Bila tak ada upaya keseriusan dalam aksi serta transisi energi terbarukan maka diproyeksikan pada tahun 2050 akan menyumbang sebesar 6,5 giga ton karbon dioksida. Atau setara dengan 4 % emisi GRK di dunia,” imbuh Jannata.

Pemerintah, sambung dia perlu melakukan dekarbonisasi atau mengurangi ketergantungan sumber-sumber energi berbasis karbon di sektor energi. Misalnya dengan mendorong pemanfaatan bahan baku plastik yang ramah lingkungan seperti serat tumbuh-tumbuhan.

Inovasi ini telah negara-negara lain seperti Amerika Serikat lakukan. Proses pengolahan plastik juga hendaknya dengan proses produksi berbasis energi terbarukan.

Hal yang tak kalah penting, kata Jannata yakni memastikan pula pengelolaan sampah plastik pada sektor hilir yang turut menyumbang emisi. Mulai dari membuang sampah ke TPA, memanfaatkan insinerator serta melakukan daur ulang.

“Khusus penggunaan teknologi insinerator harus dihitung lagi emisinya agar tak menimbulkan polusi lalu harus menggunakan teknologi penyaring udara,” ucapnya.

Pembakaran Sampah Berimbas pada Peningkatan Gas Rumah Kaca

Community Manager Bicara Udara Novita Natalia menyatakan, sebuah survei menyebut masih ada 54,64 % rumah tangga masih membakar sampahnya. Padahal dari pembakaran sampah ini berimbas pada peningkatan gas rumah kaca dan mempengaruhi perubahan iklim.

Selain itu, pembakaran sampah juga dapat mengeluarkan PM 2,5 yang berdampak pada kesehatan. “Pembakaran sampah merupakan langkah praktis menghilangkan sampah. Tapi ini berdampak buruk pada pencemaran udara,” kata Novita.

Penting lanjutnya, untuk memberikan edukasi pada masyarakat khususnya sektor rumah tangga agar melakukan pemilahan sampah terlebih dahulu sebelum mengelolanya. Misalnya khusus untuk sampah organik dengan pengomposan. Sedangkan sampah anorganik bisa masyarakat serahkan pada bank sampah untuk dikelola lebih lanjut.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/berita/produksi-plastik-kuras-energi-dan-tinggalkan-jejak-karbon/feed/ 0
LSPR 4C Bagikan 500 Tumbler Gratis https://www.greeners.co/aksi/lspr-4c-bagikan-500-tumbler-gratis/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=lspr-4c-bagikan-500-tumbler-gratis https://www.greeners.co/aksi/lspr-4c-bagikan-500-tumbler-gratis/#respond Sat, 14 Mar 2015 03:00:54 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=8148 Jakarta (Greeners) – Kampanye hijau atau biasa disebut “green campaign” saat ini sudah bukan hanya milik perusahaan, komunitas maupun Lembaga Swadaya Masyarakat semata. Mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga […]]]>

Jakarta (Greeners) – Kampanye hijau atau biasa disebut “green campaign” saat ini sudah bukan hanya milik perusahaan, komunitas maupun Lembaga Swadaya Masyarakat semata. Mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga mampu berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang hijau. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa London School of Public Relations (LSPR), Jakarta yang bergabung dalam Climate Change Championship Club (LSPR 4C) dengan aksi “Environment Month.”

Reynold Antony, President LSPR 4C 2014-2015, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak tanggal 7 Maret 2015 lalu dengan “Gardening Class” sebagai pembuka. Ia menjelaskan, akan ada serangkaian kegiatan dalam “Environment Month” yang ditujukan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa terhadap lingkungan yang sehat, khususnya di Jakarta.

Sedangkan untuk kegiatan kedua yang dilakukan pada Kamis (12/03), LSPR 4C membagikan 500 tumbler gratis kepada mahasiswa. Menurut Reynold, kegiatan ini dilakukan agar mahasiswa LSPR teredukasi dan mulai mengurangi penggunaan botol plastik kemasan dan beralih menggunakan tumbler.

“Pada kegiatan kedua kali ini namanya Tumbler Day di mana kami membagikan 500 tumbler secara gratis kepada mahasiswa,” kata Reynold saat ditemui di lokasi acara.

Menurut Reynold, seluruh kegiatan “Environment Month” tersebut ditujukan untuk pelestarian lingkungan dan membangkitkan semangat mahasiswa dan warga Jakarta untuk mengurangi dampak pemanasan global yang dimulai dari diri sendiri.

(kiri-kanan) Ambassador LSPR 4C 2014, Putri Alida dan President LSPR 4C 2014-2015, Reynold Antony. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

(kiri-kanan) Ambassador LSPR 4C 2014, Putri Alida dan President LSPR 4C 2014-2015, Reynold Antony. Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Ambassador LSPR 4C 2014, Putri Alida pun berharap dengan diadakannya kegiatan ini, mahasiswa dan mahasiswi LSPR bisa lebih peduli terhadap lingkungan dan mampu mengurangi limbah botol plastik dengan memanfaatkan tumbler yang dibagikan secara gratis tersebut dengan baik.

“Yang lebih penting, teman-teman mahasiswa ini diharapkan mampu memberikan influence dan memengaruhi teman-teman yang lain untuk selalu peduli dan menjaga lingkungan kita,” katanya.

Sebagai informasi, Environment Month 2015 adalah kegiatan ketujuh yang diadakan oleh LSPR 4C setiap bulan Maret. Untuk kali ini, Environtment Month 2015 mengangkat tema “OXYGEN, The only thing better than the NextGen is Oxygen“.

Setelah Gardening Class dan Tumbler Day, Environment Month 2015 yang digelar selama sebulan penuh ini juga akan melakukan sejumlah aksi lanjutan, seperti OXY MOB yang akan dilakukan di Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) pada 15 Maret mendatang, OXYEAN Plant, serta OXYBIKE sebagai acara puncak yang akan melibatkan beberapa komunitas sepeda di Jakarta.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/aksi/lspr-4c-bagikan-500-tumbler-gratis/feed/ 0
Miss Earth Indonesia 2013; Nita Sofiani https://www.greeners.co/sosok-komunitas/miss-earth-indonesia-2013-nita-sofiani/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=miss-earth-indonesia-2013-nita-sofiani https://www.greeners.co/sosok-komunitas/miss-earth-indonesia-2013-nita-sofiani/#respond Wed, 02 Apr 2014 04:55:14 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_green_carpet&p=4234 Pada tanggal 18 Oktober 2013 lalu, perjalanan hidup Nita Sofiani berubah. Pada hari itu, ia dinobatkan menjadi Miss Earth Indonesia 2013 setelah berhasil menyisihkan 28 perempuan cantik lainnya yang turut […]]]>

Pada tanggal 18 Oktober 2013 lalu, perjalanan hidup Nita Sofiani berubah. Pada hari itu, ia dinobatkan menjadi Miss Earth Indonesia 2013 setelah berhasil menyisihkan 28 perempuan cantik lainnya yang turut berpartisipasi. Dengan gelar sebagai ‘nona bumi’, ia diharapkan peduli terhadap berbagai isu lingkungan yang semakin beragam dan mendesak untuk disuarakan.

Nita, sapaan akrabnya, mengaku diwajibkan menjadi role model untuk menyosialisasikan tentang pentingnya untuk mencintai lingkungan. Selain itu, ia juga menjalankan kampanye pribadi. Apa itu? “Kampanye pribadi Saya adalah diet kantong plastik. Kemanapun Saya pergi harus selalu membawa reusable bag (kantong yang dapat digunakan berulang kali, Red.). Mulai menolak plastik yang ditawarkan ketika sedang berbelanja,” tulisnya dalam wawancara dengan Greeners melalui surat elektronik, (26/03) lalu.

Menurut perempuan kelahiran Bandung ini, diet plastik yang ia lakukan merupakan sumbangsihnya untuk mengurangi jumlah sampah yang semakin membludak namun pengelolaannya masih sangat kurang. “Sampah di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Yang menjadi penyebab paling utama adalah tingkat kesadaran orang yang belum mengerti akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, padahal sampah bukan lagi isu baru yang diangkat,” jelasnya.

Tidak adanya komitmen dan kesadaran akan dampak sampah yang dibuang sembarangan, dijelaskan Nita, membuat masalah sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan di Jakarta, melainkan sudah menyebar ke berbagai kota lain di Indonesia.

Untuk menuntaskan misinya, Nita sudah dipersiapkan dengan berbagai program. Diantaranya, menggalakkan edukasi untuk menyadarkan masyarakat akan isu sampah. Perempuan berparas ayu ini bahkan secara langsung mendatangi sekolah dan komunitas di berbagai daerah. Ia juga menggunakan media sosial untuk mengedukasi tentang dampak sampah dan mengingatkan pentingnya memilah sampah. “Karena kita tidak punya planet bumi ke dua,” tegasnya.

Selain rajin membawa kantong belanja sendiri, anak kedua dari pasangan Herman Jojo Hidayat dan Rina Agustianti ini terbiasa menggunakan bagian belakang kertas yang masih kosong untuk menulis draft atau contoh cetak. Ia juga rajin membawa botol air minum sendiri. “Jadi enggak perlu membeli air minum kemasan lagi saat bepergian, jadi bisa menghemat penggunaan botol plastik.”

Tidak pernah takut untuk bermimpi tinggi menjadi moto perempuan kelahiran 22 tahun lalu ini. Sejalan dengan motonya, Nita berkeinginan membuat sekolah berbasis ramah lingkungan atau, ia istilahkan, eco school. “Eco school adalah sekolah dimana kurikulumnya berbasis ramah lingkungan dan menerapkan kepada siswa dan siswinya untuk mencintai lingkungan,” paparnya.

Untuk Sobat Greeners, ia berpesan, “Ayo, cintai lingkungan. Semua dimulai dari diri sendiri. Kita berasal dari alam dan semua akan saling berkesinambungan dengan alam. Apakah kita akan menghancurkan alam dan bumi tempat kita hidup? Before you act, think twice to save our only mother earth!

(G08)

]]>
https://www.greeners.co/sosok-komunitas/miss-earth-indonesia-2013-nita-sofiani/feed/ 0