dpklts - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/dpklts/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Mon, 18 Jan 2021 05:42:48 +0000 id hourly 1 Acil Bimbo, Citarum Tanggung Jawab Bersama https://www.greeners.co/gaya-hidup/acil-bimbo-citarum-tanggung-jawab-bersama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=acil-bimbo-citarum-tanggung-jawab-bersama https://www.greeners.co/gaya-hidup/acil-bimbo-citarum-tanggung-jawab-bersama/#respond Fri, 24 Apr 2015 07:43:20 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=8699 Bandung (Greeners) – “Harmoni di dalam kehidupan, air harus tetap terjaga.” Begitulah orasi dari Acil Darmawan Hardjakusumah atau yang lebih dikenal sebagai Acil Bimbo saat dijumpai Greeners pada acara peringatan Hari […]]]>

Bandung (Greeners) – “Harmoni di dalam kehidupan, air harus tetap terjaga.” Begitulah orasi dari Acil Darmawan Hardjakusumah atau yang lebih dikenal sebagai Acil Bimbo saat dijumpai Greeners pada acara peringatan Hari Bumi di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu (22/04).

Musisi sekaligus budayawan dan pemerhati lingkungan di tatar Sunda ini sangat menekankan pentingnya menjaga air mulai dari hulu hingga hilir yang sangat berpengaruh besar bagi kehidupan. Berbicara air di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung, tentu tidak akan lepas dari permasalahan tercemarnya sungai Citarum. Sungai yang berhulu di selatan kota Bandung ini, kini sudah sangat tercemar oleh limbah yang dibuang begitu saja dari pabrik-pabrik yang berada di jalur aliran Citarum.

Menurut Acil, upaya perbaikan Citarum harus melibatkan masyarakat luas, dimana masyarakat dituntut untuk memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungannya. Acil melanjutkan bahwa jika rasa cinta dan tanggung jawab telah dimiliki masyarakat, maka otomatis pencemaran yang terjadi di Sungai Citarum bisa terselesaikan.

“Di dalam budaya nomor satu adalah membangun cinta dan tanggung jawab terlebih dahulu terhadap Citarum yang merupakan sumber untuk kehidupan semua,” ungkap Acil yang juga pentolan DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda).

Acil Bimbo berorasi di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu (22/04). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Acil Bimbo berorasi di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu (22/04). Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Penegakan hukum yang masih lemah masih menjadi kendala. Menurut Acil, pelanggaran yang dilakukan pabrik-pabrik “nakal” yang membuang limbah ke sungai tidak diselesaikan dengan baik oleh penegak hukum. Maka dari itu, dengan lantang Acil menyerukan kepada masyarakat untuk bangkit bersama membenahi Citarum.

“Rakyat harus bangkit! Carekan ku kabeh, hudang kabeh! (Marahi oleh semua! Bangkit semua!), mereka jangan sampai membuang limbah ke sumber-sumber air yang digunakan masyarakat,” kata Acil dengan nada tegas.

Menurut Acil, pencemaran Sungai Citarum merupakan tanggung jawab semua pihak, mulai dari masyarakat, pengusaha, dan tentunya pemerintah kota/daerah hingga pemerintah pusat.

Penulis: RA/G11

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/acil-bimbo-citarum-tanggung-jawab-bersama/feed/ 0
Hari Bumi, Isu Privatisasi Air Diharapkan Dibahas di KAA https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/#respond Thu, 23 Apr 2015 04:00:23 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=8678 Bandung (Greeners) – Keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air merupakan kemenangan besar bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme dan penguasaan hak […]]]>

Bandung (Greeners) – Keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air merupakan kemenangan besar bangsa Indonesia dalam melawan imperialisme dan penguasaan hak atas air di bumi Nusantara.

Pada perayaan Hari Bumi 2015 dan bertepatan dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) mengungkapkan bahwa kemenangan bangsa ini harus menjadi pijakan untuk memastikan air sebagai hak asasi manusia dan pemerintah harus bisa membangun sistem tata kelola air yang lebih adil dan memihak kepada rakyat.

Taufan Suranto, Ketua Panitia pelaksanaan Hari Bumi “Keep Water Public” yang juga anggota DPKLTS, menyatakan, privatisasi air seharusnya menjadi isu penting dalam pembahasan KAA karena bagi Asia dan Afrika, peristiwa yang terjadi di Indonesia setidaknya bisa menjadi inspirasi dalam melawan penjajahan air oleh korporat.

“Pesan ini patut untuk disebarluaskan ke seluruh dunia termasuk negara peserta Konferensi Asia Afrika,” ujar Taufan saat berbincang ringan dengan Greeners di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Rabu (22/04).

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Foto: greeners.co/Danny Kosasih

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat pun memiliki pandangan serupa. Menurut Dwi Sawung, perwakilan dari Walhi Jawa Barat, momentum Hari Bumi dan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika Ke-60 di Kota Bandung sudah seharusnya menjadi ruang strategis bagi publik untuk menyuarakan semangat bumi kepada dunia, agar gelora perjuangan bangsa Asia-Afrika khususnya dalam memperjuangkan hak atas air bisa terdengar dan menjadi inspirasi dalam melawan imperialisme pengelolaan sumber daya air.

Sebagai informasi, dalam perayaan Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April di seluruh dunia, Koalisi Masyarakat Bandung atau Bandung People Forum melakukan orasi dan testimoni dari tokoh masyarakat dan warga yang terlibat dengan permasalahan air bersih.

Selain itu, mereka juga menggelar aksi budaya, seperti melukis 200 kendi oleh Rahmat Jabaril dan Gerbong Bawah Tanah, melakukan prosesi kearifan lokal, dan diakhiri dengan arak-arakan Hari Bumi dari hutan kota Babakan Siliwangi menuju kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Balaikota Bandung.

Penulis: Danny Kosasih

]]>
https://www.greeners.co/berita/hari-bumi-isu-privatisasi-air-diharapkan-dibahas-di-kaa/feed/ 0
Fake Plastic World https://www.greeners.co/berita/fake-plastic-world/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=fake-plastic-world Sun, 18 Mar 2012 13:02:54 +0000 http://www.greenersmagz.com/?post_type=grn_feature&p=2355 Zat ini sangat ajaib, layaknya superhero yang bisa berubah menjadi substansi lain. Namun, ia dalam sekejap bisa menjadi alien yang menguasai setiap ruang hidup manusia dengan daya imitasi yang mengagumkan. […]]]>

Zat ini sangat ajaib, layaknya superhero yang bisa berubah menjadi substansi lain. Namun, ia dalam sekejap bisa menjadi alien yang menguasai setiap ruang hidup manusia dengan daya imitasi yang mengagumkan. Cantik, tetapi berbahaya.

oleh: Baihaqi | Artikel ini diterbitkan pada edisi 01 Vol. 4 Tahun 2010

 

Sesuai dengan akar namanya, dari bahasa latin: plasticus, yang berarti mudah dibentuk. Plastik adalah pengembaraan transformasi tak berbatas hingga menjadikannya sebagai material yang paling banyak digunakan. Kita bisa menemukan bentukannya di sekitar kita. Plastik telah mengisi sebagian besar ruang hidup manusia. Seperti yang ditulis Roland Barthes, “Seluruh dunia dapat diplastikkan, bahkan hidup itu sendiri.” Kita bisa melihatnya pada pencangkokan jantung plastik atau di genggaman tangan sehari-hari.

Seperti alat-alat dari batu yang menjadi penanda sebuah zaman, begitu pula plastik yang telah menjadi penanda zaman sekarang. Zaman di mana kepraktisan menjadi dewa baru. Manusia zaman plastik bahkan terlupa dengan konsekuensi lanjutan kemaniakan tersebut. Tak ada yang bermasalah bagi mereka dengan imitasi,  pun tak ada yang bermasalah dengan tanggung jawab antar-generasi.

Sejarah megah plastik dimulai saat ilmuwan bernama Alexander Parkes menemukan senyawa dengan karakteristik mirip karet: transparan dan mudah dibentuk. Temuannya ini dinamakan parkesine yang diperkenalkan pada 1862 dalam sebuah ekshibisi internasional di London, Inggris. Namun, dalam perkembangannya terbentur masalah biaya yang tinggi sehingga plastik yang dibuat dari bahan organik dan selulosa ini tidak bisa diproduksi massal. Akan tetapi, penemuan parkesine memicu para para peneliti untuk menemukan alternatif yang lebih praktis dan murah.

Dipicu hasrat besar untuk membuat plastik yang multiguna, para ilmuwan terpacu untuk mengembangkan penemuan awal Parkes. Salah satu yang terkenal yaitu, seorang Amerika bernama John Wesley Hyatt pada 1869. Dia mengembangkan plastik dari seluloid yang dibentuk menjadi bola biliar. Walau masih sangat rapuh, penemuan ini menjadi penyelamat bagi banyak gajah karena sebelumnya bahan baku bola sodok diambil dari gading.

Berbagai penyempurnaan dilakukan hingga dua orang kimiawan pada 1933 melakukan tes dengan beberapa unsur kimia. Dan lahirlah Polyethylene. E.W. Fawcett dan R.O. Gibson tak penah membayangkan temuan mereka ini akan berpengaruh begitu besar terhadap peradaban manusia.

Setelah itu polyethylene berkembang menjadi plastik yang populer. Hingga sekarang jejaknya bisa kita temukan di kemasan plastik. Salah satunya adalah kantong belanja (keresek); produk massal tersukses dari plastik. Dengan ongkos produksi murah dan tidak terlalu berkutat dalam hal kualitas, keresek menjadi barang yang sangat singkat pemakaiannya (disposable) dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam budaya konsumtif.

Kita bisa dengan mudah mendapatkan keresek. Hanya dengan meminta ke pedagang, kita akan mendapatkannya cuma-cuma. Karena itulah, kita akan sangat gampang menimbunnya di tempat sampah.“Ini masalah kebiasaan. Seharusnya kita memakai barang yang memang betul kita butuhkan dan tidak tergantikan oleh hal lain,” ujar Sobirin Supardiyono, seorang pengamat lingkungan dan praktisi zero-waste yang bergiat di DPKLTS Bandung. Sobirin juga menggarisbawahi bahwa sebenarnya ini masalah budaya konsumtif masyarakat yang cenderung menggunakan semua hal yang tersedia tanpa memikirkan akibat lanjutannya. Dia juga menekankan untuk menggali kembali kearifan lokal dalam hal pengemasan.

“keresek menjadi barang yang sangat singkat pemakaiannya (disposable) dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam budaya konsumtif.”

]]>