dunia serangga - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/dunia-serangga/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 03 Jan 2024 14:55:47 +0000 id hourly 1 Nesiophasma sobesonbaii, Spesies Baru Endemik Indonesia Timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/#respond Sat, 06 Jan 2024 03:00:43 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=42665 Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a […]]]>

Baru-baru ini Indonesia menemukan kembali salah satu spesies serangga baru, yakni Nesiophasma sobesonbaii. Informasi terkait serangga ini telah terpublikasi pada jurnal Faunitaxys dengan judul Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a new giant stick insect from the island of Timor, Indonesia (Insecta: Phasmatodea). Ini merupakan spesies pertama dari genus Nesiophasma Günther, 1934 yang pertama kali tercatat dari Timor.

Selain itu, serangga ini juga merupakan spesies kedua dari Ordo Phasmatodea yang ditemukan di pulau ini. Genus Nesiophasma adalah serangga tongkat berukuran sedang hingga besar dan merupakan yang terpanjang dari semua serangga yang diketahui di Wallacea.

BACA JUGA: Mino Muka Kuning, Beo Papua yang Mendiami Dataran Rendah

Penggunaan nama sobesonbaii untuk menghormati Raja Sonbai III, seorang raja dari Pulau Timor yang ditangkap pada tahun 1907 karena menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Tubuh Nesiophasma sobesonbaii Betina Lebih Panjang dari Jantan

Terdapat dimorfisme seksual pada serangga tongkat besar ini. Betinanya berukuran lebih panjang, yakni sekitar 18 hingga 21 cm. Sementara, jantan berukuran sedang, yakni 10–11 cm dengan tubuh ramping, halus, dan berkilau. Selain itu, betina umumnya berwarna hijau, terkadang ada juga yang memiliki belang-belang cokelat. Sementara, jantan berwarna krem muda hingga kecokelatan.

Secara umum, antara jantan dan betina hanya menunjukkan sedikit adanya variasi pada ukuran serta perkembangan dan jumlah gerigi pada alat geraknya. Serangga N. sobesonbaii jantan tidak menunjukkan adanya variasi warna, tapi pada betina terdapat variasi warna cokelat dan hijau.

BACA JUGA: Chitala lopis, Maskot Kota Palembang yang Bernilai Penting

Nimfa serangga ini berukuran 1,8 cm berwarna kuning hingga kehijauan dan bagian kepalanya berwarna cokelat. Kaki depannya sebagian besar berwarna cokelat dengan bintik-bintik kecil berwarna kuning. Sementara, kaki tengah dan belakang agak terang dengan tiga garis melintang berwarna cokelat pada setiap tulang paha dan tibia. Selain itu, bagian matanya berwarna cokelat tua, antena berwarna cokelat dengan beberapa annuli yang lebih terang.

Di samping itu, telur serangga tongkat besar ini umumnya berwarna abu-abu hingga cokelat. Berbentuk bulat telur memanjang dengan ukuran 2x lebih panjang dari lebarnya. Permukaan kapsul sangat halus dan tertutupi jaringan dengan tonjolan tumpul yang lebar dan tak beraturan.

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Taksonomi Nesiophasma sobesonbaii. Foto: Greeners

Serangga Endemik dari Pulau Timor

Merupakan serangga endemik dari Pulau Timor dan tampaknya tersebar di seluruh pulau. Hingga kini, keberadaanya tercatat di tiga wilayah, yakni sebagai berikut:

1. Timor Barat Daya, Prov. Nusa Tenggara Timur, Kecamatan Nekamese, Oemasi, Desa Oemasi SE Kupang, 400 m.
2. Timor Leste NE-Timor, Kab Malahara, Mainina, 500 m.
3. NE-Timor, Timor Leste, Distrik Oecussi-Ambeno, Nibesi, 500 m.

 

Penulis: Anisa Putri S

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/nesiophasma-sobesonbaii-spesies-baru-endemik-indonesia-timur/feed/ 0
Si Ekor Darah, Pengendali Hama Serangga Jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/si-ekor-darah-pengendali-hama-serangga-jakarta/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=si-ekor-darah-pengendali-hama-serangga-jakarta https://www.greeners.co/flora-fauna/si-ekor-darah-pengendali-hama-serangga-jakarta/#respond Thu, 02 Apr 2015 13:07:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8396 Capung ekor darah (Lathrecista asiatica) merupakan pengendali hama serangga atau menjaga keseimbangan serangga di alam.]]>

Capung atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai “naga terbang” (dragonfly) merupakan serangga yang diciptakan untuk menjadi pembunuh terbang yang handal. Di alam, capung berfungsi sebagai pengendali hama serangga atau menjaga keseimbangan serangga di alam.

Salah satu capung yang berpenampilan indah adalah capung ekor darah (Lathrecista asiatica) yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama asiatic blood tail. Capung ini termasuk ke dalam suku Libellulidae dan hanya satu marga saja, yaitu Lathrecista.

Capung ekor darah merupakan jenis capung kosmopolit, tersebar dari India hingga Australia. Capung ini memiliki 3 sub jenis, yaitu L. a. asiatica yang meliputi India hingga Indonesia, kemudian L. a. festa di wilayah Australia, Papua nugini dan pulau-pulau sekitarnya, dan terakhir L. a. Pectoralis.

Capung ekor darah mempunyai panjang sayap 60 – 85 mm. Capung jantan dapat diidentifikasi dengan muka berwarna putih pucat, warna kuning dan hitam pucat pada badan, ekor berwarna merah darah serta warna hitam di ujungnya. Ketika terbang mereka cukup pemalu dan terbang dengan sedikit gerakan. Sedangkan capung betina memiliki muka berwarna kuning, pada badan nampak jelas warna kuning serta hitam, dan warna merah di ekor tidak seterang capung jantan.

Capung ekor darah (Lathrecista asiatica). Foto: greeners.co/Ady Kristanto

Capung ekor darah (Lathrecista asiatica). Foto: greeners.co/Ady Kristanto

Capung ekor darah biasa ditemukan di dekat kawasan perairan seperti sungai, rawa, danau hingga laguna, namun kadang ditemukan jauh dari kawasan perairan. Nimfa capung ini ditemukan di kolam-kolam di hutan dan ada juga catatan dimana nimfa capung jenis ini terdapat di kolam dekat area persawahan.

Menariknya pembunuh terbang ini tidak hanya ditemukan di wilayah hutan atau wilayah pedesaan yang kondisi perairannya masih bersih. Di kepadatan ibukota Jakarta, jenis ini ternyata juga bisa ditemukan. Saat ini capung ekor darah tercatat di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat dan Hutan Kota Universitas Indonesia, Jakarta Selatan. Kedua hutan kota ini memiliki danau di dalamnya, sehingga capung ekor darah bisa hidup disini dan seperti jenis capung lainnya.

Capung ekor darah juga merupakan indikator kualitas suatu daerah perairan, sehingga keberadaanya di Ibukota Jakarta masih menandakan bahwa kualitas perairan di beberapa tempat hutan kota Jakarta masih bagus dan bisa menjadi habitat berkembang biak capung ekor darah.

Penulis: Ady Kristanto

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/si-ekor-darah-pengendali-hama-serangga-jakarta/feed/ 0
Jamur Cordyceps, Indah Namun Mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-cordyceps-indah-namun-mematikan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=jamur-cordyceps-indah-namun-mematikan https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-cordyceps-indah-namun-mematikan/#respond Mon, 30 Mar 2015 05:40:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_flora_fauna&p=8352 Jika melihat film “Resident Evil”, yang terbayang di pikiran kita adalah adanya zombie yang tercipta dari manusia atau makhluk hidup lain yang terinfeksi oleh T-virus. Di kehidupan nyata hal ini […]]]>

Jika melihat film “Resident Evil”, yang terbayang di pikiran kita adalah adanya zombie yang tercipta dari manusia atau makhluk hidup lain yang terinfeksi oleh T-virus. Di kehidupan nyata hal ini juga terjadi di dunia serangga. Serangga-serangga yang menjadi zombie biasanya belalang atau semut, namun bukan T-virus yang menyebabkan serangga tersebut menjadi zombie, melainkan oleh jamur Cordyceps. Jamur Cordyceps dapat menginfeksi serangga dari ordo Orthoptera, Isoptera, Hemiptera, Coleoptera, dan Diptera, serta lebih spesifik pada larva dan pupa ordo Lepidoptera.

Terdapat sekitar 750 jenis jamur Cordyceps di dunia yang sudah dikenal dan semuanya menggunakan tubuh makhluk hidup lain sebagai tempat inang (bernaung). Namun, tidak semuanya jenis jamur tersebut berbahaya karena ada beberapa jenis yang berguna bagi pengobatan.

Umumnya serangga terinfeksi dikarenakan spora jamur Cordyceps menempel pada tubuh target inang. Ketika iklim terasa cocok untuk berkembang biak, maka hifa (akar jamur) akan menembus bagian tubuh serangga yang lunak. Selanjutnya jamur akan berkembang di dalam dan pada akhirnya mengambil alih sistem saraf serta otak hingga menjadikan serangga tersebut seperti zombie.

Serangga yang sudah menjadi zombie, akan dikendalikan oleh jamur Cordyceps. Dengan berjalan tertatih-tatih serangga tersebut dipaksa untuk bergerak ke arah atas batang atau daun menuju arah sinar matahari. Tidak lama setelah serangga tersebut mati, jamur Cordyceps akan tumbuh memanjang, menembus tubuh serangga, dan di bagian ujung jamur akan pecah dan menebarkan spora melalui udara lalu siklus alam pun kembali terulang.

Foto: greeners.co/Ady Kristanto

Foto: greeners.co/Ady Kristanto

Di koloni semut jenis tertentu, terdapat perilaku adaptasi untuk mencegah infeksi jamur Cordyceps. Semut-semut yang telah terkena jamur Cordyceps biasanya cepat diketahui oleh para semut penjaga. Semut-semut penjaga mengenali semut terinfeksi dari pola berjalannya, mereka yang telah terinfeksi akan berjalan tak wajar, lambat atau diam saja. Semut yang terinfeksi tersebut akan diangkut oleh semut penjaga lalu dibuang ke bawah hutan tropis agar koloninya tidak terkena infeksi jamur Cordyceps.

Di dunia pertanian, jamur Cordyceps banyak digunakan oleh para petani sebagai agen hayati dalam mengendalikan hama serangga. Contohnya, Cordyceps dengan spesifik jenis Cordyceps aff. militaris yang digunakan sebagai agens pengendalian hayati terhadap ulat api (Setothosea asigna) pada tanaman kelapa sawit.

Jadi, zombie-zombie serangga yang diciptakan oleh jamur Cordyceps tidak selamanya buruk, melainkan hal ini adalah proses alami dalam menjaga keseimbangan yang terjadi di alam.

Penulis: Ady Kristanto

]]>
https://www.greeners.co/flora-fauna/jamur-cordyceps-indah-namun-mematikan/feed/ 0