eco-fashion - Greeners.Co https://www.greeners.co/tag/eco-fashion/ Media Online Lingkungan Hidup Indonesia Wed, 18 Oct 2023 07:11:25 +0000 id hourly 1 Eco Fashion ala Berkain dapat Hindari Kerusakan Lingkungan https://www.greeners.co/aksi/eco-fashion-ala-berkain-dapat-hindari-kerusakan-lingkungan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-fashion-ala-berkain-dapat-hindari-kerusakan-lingkungan https://www.greeners.co/aksi/eco-fashion-ala-berkain-dapat-hindari-kerusakan-lingkungan/#respond Sat, 14 Oct 2023 03:00:22 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41959 Jakarta (Greeners) – Berkain merupakan sebuah gerakan fesyen berupa penggunaan kain tradisional. Kain berbahan dasar alam menjadi salah satu solusi untuk mengurai penggunaan bahan kimia. Terobosan fesyen ramah lingkungan atau eco […]]]>

Jakarta (Greeners) – Berkain merupakan sebuah gerakan fesyen berupa penggunaan kain tradisional. Kain berbahan dasar alam menjadi salah satu solusi untuk mengurai penggunaan bahan kimia. Terobosan fesyen ramah lingkungan atau eco fashion ini dapat meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Wujud eco fashion bisa berupa kapas organik, kain yang tahan lama, bahan daur ulang, pewarna nabati, hingga upah yang adil bagi produsen dan pemasok.

Indonesia sangat potensial dalam pengembangan eco fashion, khususnya pewarna nabati dari bahan alami. Sebab, Indonesia merupakan rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Bahkan, eco fashion bisa mendatangkan potensi ekonomi.

BACA JUGA: LTKL Kenalkan Eco Fashion Lewat Berkain Bahan Alam

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bersamaorang muda mengajak masyarakat untuk mendorong eco fashion lewat UMKM daerah. Peran orang muda sangat penting dalam mempromosikan produk lokal lestari yang ramah sosial dan ramah lingkungan.

Langkah ini juga sekaligus mendorong keterlibatan penetrasi produk lokal yang masih di bawah 20%. Sebab, masih banyak orang yang belum mengetahui produk unggulan. Misalnya, kerajinan yang tidak hanya terbuat dari alam, melainkan juga melestarikannya.

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

Manfaatkan Getah Gambir sebagai Pewarna Alami

Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan memproduksi kain gambo muba dengan menerapkan eco fashion. Perajin memanfaatkan getah gambir sebagai pewarna alami kain. Selain gambo muba, ada juga kain tenun ikat dari Sintang yang merupakan warisan asli suku Dayak.

Proses pembuatannya mulai dari menanam kapas, ngaos atau memintal benang, memberikan warna pada benang dengan mencelupkannya, dan mengikat motif. Kemudian, menenun dengan alat tenun yang terbuat dari kayu dan bambu atau ‘gedokan’.

BACA JUGA: Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan?

Kain tenun ikat menggunakan pewarna alam dari berbagai tumbuhan hutan mulai dari akar-akaran, semak, pohon, dedaunan, buah, umbi, maupun batang pohon. Beberapa tanaman seperti daun dan batang semak Intenet (Glochidion littorale), jengkol, daun dan buah kemunting, akar mengkudu, kunyit, manggis dan masih banyak lagi bahan pewarna alami dari hutan Indonesia.

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Foto: LTKL

LTKL Lakukan Parade Berkain

LTKL berkolaborasi dengan Hutan Itu Indonesia memperkenalkan wastra nusantara berbasis alam produksi kabupaten anggota LTKL. Dengan menyerukan kampanye #BanggaBuatanIndonesia, LTKL dan Hutan Itu Indonesia melakukan parade berkain. Mereka menyerukan dukungan akan produk lokal lestari serta mengajak masyarakat, khususnya bagi kaum muda.

Mereka meminta masyarakat untuk menormalkan pemakaian produk lokal, termasuk kain berbahan alam di keseharian mereka. Mengambil momentum car free day, mereka berharap masyarakat dapat lebih mendukung produk lokal.

Kepala Sekretariat Interim LTKL, Ristika Putri Istanti mengatakan, parade ini adalah sebuah inisiatif orang muda. Mereka ingin menggaungkan semangat dukungan terhadap produk lokal dan eco fashion.

“Parade ini bertujuan mengkampanyekan wastra nusantara dan produk lokal lestari. Produk lokal seperti gambo muba tidak hanya jadi salah satu eco fashion terbaik asli Indonesia, melainkan juga menjadi jawaban atas
masalah limbah dari pewarna kimia di industri tekstil,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ristika, sentuhan dari orang muda pada produk unggulan kabupaten ini membuat bisnis ekonomi lestari bisa dengan mudah berkolaborasi dengan multipihak. Baik dengan teknologi terbaru maupun inovasi lainnya.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/eco-fashion-ala-berkain-dapat-hindari-kerusakan-lingkungan/feed/ 0
LTKL Kenalkan Eco Fashion Lewat Berkain Bahan Alam https://www.greeners.co/aksi/ltkl-kenalkan-eco-fashion-lewat-berkain-bahan-alam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=ltkl-kenalkan-eco-fashion-lewat-berkain-bahan-alam https://www.greeners.co/aksi/ltkl-kenalkan-eco-fashion-lewat-berkain-bahan-alam/#respond Wed, 11 Oct 2023 06:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=41917 Jakarta (Greeners) – Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Berkain bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan eco fashion […]]]>

Jakarta (Greeners) – Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Berkain bisa menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan eco fashion kepada banyak orang.

Fashion atau industri pakaian adalah salah satu sektor yang paling umum dengan potensi besar sebagai penambah devisa. Namun, fashion yang baik adalah fashion yang memiliki nilai keberlanjutan. Nilai keberlanjutan merupakan produk berbasis alam yang ramah sosial dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi bagian dari rantai pasok sektor bisnis.

Selain itu, LTKL juga membawa karya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis alam. Khususnya yang berupa kerajinan daerah dari bahan alami yang pengolahannya dari usaha menjaga hutan dan gambut ke ajang Internasional Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2023.

BACA JUGA: Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan?

Berkain adalah salah satu cara untuk memperkenalkan eco fashion. Pada acara INACRAFT kali ini, LTKL menggandeng pengajar berkain untuk memperagakan berbagai macam cara berkain menggunakan produk kain UMKM dengan berbahan dasar alam. Harapannya, UMKM bisa naik kelas dan dapat dikenal serta mudah diakses oleh masyarakat umum.

Tak sekadar itu, dalam keikutsertaan kali ini, LTKL berkolaborasi dengan orang muda yang aktif mendorong pertumbuhan ekonomi lestari. Termasuk pengembangan UMKM melalui Sentra Inkubasi UMKM dan orang muda di kabupaten anggota LTKL.

Kepala Sekretariat Interim LTKL, Ristika Istanti mengatakan, melalui kegiatan bangga berkain, LTKL mengajak untuk bangga menggunakan produk lokal berbasis alam. Hal itu bukan hanya karena kualitasnya tinggi. Namun, juga bisa memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat kabupaten di daerah lain.

“Hal ini bisa jadi sumbangsih untuk pertumbuhan ekonomi dan pemulihan hutan, gambut, sungai, pesisir dan ekosistem penting Indonesia. Kami harap semakin banyak orang yang bangga menggunakan produk lokal,” ujar Ristika.

LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL

LTKL mengenalkan ekonomi lestari dari produk eco fashion dan produk lokal berbasis alam. Foto: LTKL

Eco Fashion Dukung Pelestarian Hutan

Harapan dari kegiatan bangga berkain adalah dapat menghilangkan sekat-sekat formal terkait penggunaan eco fashion, yang merupakan bagian dari wastra nusantara (kain tradisional).

Selama ini, kain wastra seperti batik baik cap, tulis, jumputan, dan tenun diposisikan sebagai kain jenis formal. Kain tersebut juga hanya digunakan untuk kegiatan tertentu. Bahkan, identik dengan kelompok usia atau kalangan tertentu.

“Memakai kain eco-fashion merupakan salah satu cara konsumen di kota-kota besar yang jauh dari hutan untuk ikut mendukung usaha pelestarian hutan dan pemberdayaan masyarakat lokal yang sangat bergantung hidupnya dari hutan,” ungkap CEO KriyaKite sekaligus anggota SELARAS, Aziza Nurul Amanah.

BACA JUGA: Reramban Kenalkan Ecoprint ke Anak Muda

Aziza pun berharap agar orang muda bisa memakai kain ini dalam busana sehari-hari. Sebab, ia rindu melihat orang muda di perkotaan memakai kain dalam beraktivitas.

“Kami rindu melihat orang muda di perkotaan memakai kain ketika nongkrong di kafe atau jalan-jalan ke mal, atau bahkan nonton konser. Sebab, selama beratus tahun begitulah nenek moyang kita berbusana dan mereka dapat tetap produktif dan beridentitas serta berkesadaran pada saat yang bersamaan,” tambah Aziza.

LTKL Dukung Visi Ekonomi Lestari

Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, LTKL memiliki visi Ekonomi Lestari yang dideklarasikan oleh sembilan kabupaten anggota LTKL. Hal tersebut bertujuan untuk membangun model ekonomi yang restoratif, berbasis hilirisasi produk dari kekayaan tumbuhan atau nabati.

Visi ini juga terkait dengan tujuan melindungi 50% hutan, gambut, dan ekosistem penting lainnya dengan meningkatkan satu juta masyarakat lokal, termasuk petani pada 2030. Secara total terdapat 5,5 juta hektar hutan, 2 juta hektar gambut, dan lebih dari 600.00 keluarga miskin, 1 juta petani di dalam sembilan kabupaten LTKL yang akan menjadi fokus dari pengembangan visi ini.

Kemudian, ekonomi lestari juga erat kaitannya dengan basis usaha kolektif masyarakat di kabupaten, yaitu UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, saat ini di Indonesia terdapat 65 juta UMKM yang menyumbang sebesar 61% PDB.

Dari angka tersebut, baru terdapat 3000 UMKM yang tertarik bertransformasi menjadi UMKM hijau. Oleh karena itu, LTKL dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong pertumbuhan UMKM hijau. Khususnya yang berbasis alam sebagai produk unggulan.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

]]>
https://www.greeners.co/aksi/ltkl-kenalkan-eco-fashion-lewat-berkain-bahan-alam/feed/ 0
Reramban Kenalkan Ecoprint ke Anak Muda https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/#respond Sat, 15 Jul 2023 04:00:30 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_aksi&p=40797 Jakarta (Greeners) – Untuk mendekatkan dan mengenalkan eco fashion ke generasi muda, Ramu Reramban membuat kegiatan ecoprint dengan teknik hapazome. Teknik ini memukul media cetak dengan palu dan kain blacu. […]]]>

Jakarta (Greeners) – Untuk mendekatkan dan mengenalkan eco fashion ke generasi muda, Ramu Reramban membuat kegiatan ecoprint dengan teknik hapazome. Teknik ini memukul media cetak dengan palu dan kain blacu.

Kegiatan ini Reramban gelar selama 10 hari di Begawan Apartement, Malang, Jawa Timur. Sambil membuat karyanya, pengunjung dipandu oleh EDNA Team, kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka adalah kelompok yang berkolaborasi dengan brand fesyen lokal, Reramban Ecoprint.

Palu, talenan, dan dua lembar kain blacu penyelenggara sediakan bagi pengunjung. Mereka dapat langsung menata sesuka hati beberapa daun dan bunga yang telah disiapkan di atas kain blacu. Kain blacu pun ditutup dan dipukul-pukul dengan palu hingga pola dari daun yang sudah ditata muncul pada kain penutup dan kain alasnya.

Sesudah itu akan muncul dua hasil cetakan yakni pada kain penutup dan juga alas. Uniknya pengunjung juga bisa menyematkan catatan-catatan kecil untuk sahabat, pasangan, atau diri sendiri. Karya yang telah dibuat pun bisa mereka bawa pulang.

Di balik Ecoprint On The Spot

Dari teknik hapazome, warna daun dapat ‘ditransfer’ kepada kain. Sebelumnya kain blacu telah Reramban bersihkan dan rendam dengan air tawas selama satu malam. Kemudian, kain tersebut diangin-anginkan.

Unsur logam pada tawas itulah yang bertugas mengikat zat warna pada daun ke media kain. Hasil juga jadi lebih maksimal jika kain yang digunakan terbuat dari 100% bahan alami. Daun, batang, atau bunga yang digunakan juga tidak dapat sembarangan.

Pewarna alami harus memiliki kadar air yang pas, tidak terlalu banyak, maupun terlalu sedikit. Sedangkan, untuk membuat produk-produk ecoprint dengan kualitas tinggi dan siap jual diperlukan kombinasi zat logam, teknik, dan daun yang sudah diuji.

“Jujur ini pertama kali aku buat ecoprint. Enggak kepikiran sih aku bisa bikin langsung gini,” kesan Putra, salah satu pengunjung Begawan Apartment yang turut mencoba membuat ecoprint on the spot di acara Ramu Reramban.

Berangkat dari Keresahan

Ramu Reramban berangkat dari keresahan owner Reramban Ecoprint akan lemahnya kesadaran anak muda terhadap fesyen berkelanjutan dan ecoprint. Dari hasil riset tim mahasiswa Ilmu Komunikasi kepada 234 anak muda di Malang Raya, 40 % di antaranya masih menganggap ecoprint mudah luntur dan tidak akan bertahan lama.

“Sebetulnya ada banyak cara untuk menjaga lingkungan dari kita berpakaian. Cukup dimulai dengan upcycle baju yang kita miliki dan tidak melulu beli item fashion hanya karena tergiur dengan harga. Hal itu sudah membantu lingkungan kita jadi lebih baik.” jelas Pemilik Reramban Ecoprint Evi Kurni.

Gerakan ini muncul untuk memotivasi masyarakat agar memilih pakaian dengan bahan yang tahan lama, desain tidak lekang oleh waktu, dan menggunakan pakaian lama kembali.

Harapannya, anak muda jadi lebih paham mengenai cara menjaga lingkungan dan menerapkan green living dari sisi berpakaian.

Penulis : Dini Jembar Wardani

Editor : Ari Rikin

]]>
https://www.greeners.co/aksi/reramban-kenalkan-ecoprint-ke-anak-muda/feed/ 0
Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode, Apakah Berkelanjutan? https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=serat-bambu https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/#respond Mon, 21 Dec 2020 10:00:04 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=9363 Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?]]>

Kain bambu terbuat dari serat hasil panen dari tumbuhan bambu. Hasil kain biasanya lembut, nyaman, dan menyerap, serta dapat Anda gunakan untuk pembuatan pakaian, seprei, kaos kaki, handuk, dan popok yang penggunaannya bisa berulang kali. Namun, apakah tekstil serat bambu untuk industri mode berkelanjutan?

Bambu adalah flora yang pertumbuhannya cepat, maka dari itu sangat masuk akal apabila menjadi bahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Namun, praktik budidaya bambu skala besar erat kaitannya dengan sejumlah masalah lingkungan, dan proses untuk mengubah serat bambu menjadi kain sangat intensif secara kimiawi. Masalah ini menimbulkan pertanyaan apakah kain bambu benar-benar bahan yang ramah lingkungan?

Menakar Tekstil Serat Bambu untuk Industri Mode

Jenis Bambu untuk Kain

Tumbuhan bambu biasa kita temukan di Cina, Taiwan, Jepang, dan bagian Asia lainnya. Bambu adalah sejenis rumput yang tumbuh dengan cepat – sebanyak 3 kaki per hari, dengan total tinggi 75-100 kaki. Ada sekitar 1.400 spesies bambu, tetapi sub-spesies yang paling umum penggunaannya untuk kain adalah Bambu Moso (Phyllostachus edulis).

Pembuatan Kain Bambu Secara Mekanis

Pemanenan bambu dengan cara dipotong, kemudian olah secara mekanis ataupun kimiawi menjadi serat. Bambu yang prosesnya dengan cara mekanis masyarakatn kenal sebagai linen bambu (atau serat kulit pohon) dan menggunakan proses yang sama seperti linen rami.

Namun, karena teksturnya yang kasar dan membutuhkan usaha yang intensif (yang tentunya mahal) untuk produksinya, maka kain bambu yang terbuat dengan cara mekanis hanya sebagian kecil dari pasaran.

Pemrosesan Kain Bambu Kimiawi

Bambu dengan proses kimiawi jauh lebih umum. Pembuatannya melarutkan serat tumbuhan dalam campuran natrium hidroksida (alkali atau soda api) dan karbon sulfida.

Hasil campurannya keluar melalui lubang kecil menjadi larutan asam sulfat, yang membekukan serat dan memungkinkannya untuk ditenun menjadi kain. Proses ini serupa dengan pembuatan kain rayon dari sumber nabati lainnya, seperti serpihan kayu dan kayu putih. 

Dampak Lingkungan Kain Bambu

Selama beberapa tahun, terutama pada pertengahan 2000an, bambu sering mendapatkan pujian sebagai bahan yang ajaib. Ini karena tingkat pertumbuhannya luar biasa.

Scientific American menyatakan, “bambu dapat dibudidayakan dengan sedikit atau tanpa pupuk, pestisida, mesin pemanen berat atau irigasi, dan sistem akar bambu dapat melindungi tepian yang curam dari erosi.”

Bambu memiliki sistem akar yang dalam dan memotongnya saat panen tidak akan mengganggu tumbuhan dan tanahnya. Bambu juga menyerap karbon lima kali lebih banyak dan menghasilkan oksigen 35 kali lebih banyak daripada sebatang pohon berukuran serupa.

serat bambu

Hanya karena terbuat dari bahan alternatif, tidak berarti produk tersebut berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tinjau bersama, ya! Foto: Shutterstock.

Tekstil Serat Bambu: Masalah dengan Kultivasi

Budidaya Bambu Moso di Cina telah meningkat pesat sejak tahun 2000, menyebabkan banyak petani menebang habis lahan hutan alami untuk memberi ruang bagi pertanian bambu baru.

Hal ini merusak keanekaragaman hayati dan melepaskan karbon dalam jumlah besar. Meskipun bambu tidak membutuhkan banyak pupuk atau pestisida untuk tumbuh, tetapi para petani tetap menambahkannya untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil sehingga mendapatkan profit yang lebih banyak. Tentu ini menyebabkan masalah bagi lingkungan.

Proses Produksi Beracun

Dalam produksi kain pun terdapat masalah. Proses kimiawi yang menggunakan karbon sulfida sangat beracun. Paparannya menyebabkan kerusakan sistem saraf dan reproduksi, serta memiliki sejumlah kaitan masalah kesehatan.

Dalam Fake Silk: The Lethal History of Viscose Rayon, Paul D. Blanc, seorang profesor occupational dan environmental medicine, menulis bahwa, “Untuk pekerja di pabrik rayon viscose, keracunan menyebabkan kegilaan, kerusakan saraf, penyakit parkinson, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.”

Produksi viskosa berbasis karbon sulfida tidak lagi diizinkan di Amerika Serikat karena bahaya ini.

Situs mode etis Good On You menuturkan, sekitar setengah dari limbah berbahaya dari produksi rayon (termasuk bambu) tidak dapat digunakan kembali, dan langsung menyatu dengan lingkungan. Senyawa organik yang mudah menguap serta klorin terlepas ke atmosfer, dan limbah dari fasilitas pemutihan mengarah ke saluran air, merusak ekosistem akuatik.

Seiring berjalannya waktu, kain bambu sudah tidak benar-benar terbuat dari bambu. Federal Trade Commission (FTC) menyatakan, “Ketika bambu diolah menjadi rayon, tidak ada jejak tanaman asli yang tersisa. Jika sebuah perusahaan mengklaim produknya terbuat dari bambu, harus memiliki bukti ilmiah yang dapat diandalkan untuk menunjukkan bahwa itu dibuat dengan serat bambu.”

Klaim bahwa kain mempertahankan sifat antimikroba dari tanaman bambu juga salah, menurut FTC.

Perbandingan Viscose Bambu dengan Bahan Viscose Lainnya

Viscose berbahan dasar bambu atau rayon, lebih banyak penggemarnya daripada viscose konvensional. Viscose konvensional biasanya menggunakan bulir kayu yang dapat bersumber dari pohon yang panennya tidak secara berkelanjutan, bahkan hutan purba.

Keduanya dapat terurai secara hayati. Selama tidak ada tambahan pewarna beracun, mereka lebih ramah lingkungan dibandingkan kain sintetis berbasis minyak bumi.

Ada juga opsi yang lebih baik, yaitu dengan mencari kain bambu yang pembuatannya dengan proses Lyocell. Sistem produksi pengulangan tertutup ini menggunakan lebih sedikit bahan kimia beracun dan hampir tidak memproduksi limbah sampingan.

Meskipun biasanya penggunaannya dengan kayu putih. Kain bambu dengan proses Lyocell bermerek Monocel.

Baca juga: Indonesia Pulangkan Sebelas Orang Utan Korban Perdagangan Ilegal

Alternatif untuk Tekstil Serat Bambu

Jika Anda menggunakan bambu, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam merekomendasikan untuk memilih linen bambu sebagai pengganti viscose.

Jika memungkinkan, pilih linen yang proses pemisahan serat dari bambunya melalui proses dew-retted. Proses ini hanya menggunakan udara, embun, matahari, dan jamur untuk melarutkan bagian yang tidak kita inginkan dari rami dan membuka serat linen. Sehingga membutuhkan lebih sedikit energi dan air daripada water-retted. Pilih juga linen yang memakai pewarnaan alami.

Kapas organik dan rami adalah dua opsi untuk pengganti bambu. Walaupun bambu lebih berkelanjutan dari kapas, namun proses pembuatan kainnya sangat merusak lingkungan.

Ini membuat kapas organik terlihat jauh lebih baik. Di sisi lain, rami, menjadi pilihan yang paling baik. Ia membutuhkan sedikit air dan tumbuh dengan cepat.

Klaim kain bambu yang keberlanjutan ternyata tidak sesederhana itu. Manfaat tumbuhan yang pertumbuhannya cepat ini terkikis karena proses produksinya yang beracun.

Penulis: Agnes Marpaung

Editor: Ixora Devi

Sumber:

Treehugger

 

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/serat-bambu/feed/ 0
Kacamata Funky dari Upcycled Denim https://www.greeners.co/gaya-hidup/kacamata-funky-dari-upcycled-denim/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kacamata-funky-dari-upcycled-denim https://www.greeners.co/gaya-hidup/kacamata-funky-dari-upcycled-denim/#respond Wed, 22 Jan 2020 02:26:50 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=25496 Mosevic brand asal Inggris meluncurkan koleksi kacamata ultra-tahan lama dan super funky. Bahannya terbuat dari upcycled denim yang dicampur dengan resin.]]>

Mendengar kata recycle mungkin sudah banyak yang mengetahui artinya, tetapi bagaimana dengan upcycled? Apakah di antara pembaca Greeners sudah pernah mendengar kata tersebut? Upcycled merupakan proses transformasi barang tidak terpakai menjadi sesuatu yang lebih berguna. Sekilas definisi ini terdengar sama seperti recycle, tetapi letak perbedaannya berada pada nilai dari barang yang dihasilkan. Barang upcycled menghasilkan produk yang lebih bagus daripada awalnya.

Bermula dari penemu Shades of Denim, Jack Spancer, ia menjadikan upcycled denim inovasi besar bagi dunia eco fashion. Brand  bernama Mosevic asal Inggris ini meluncurkan koleksi kacamata ultra-tahan lama dan super funky. Bahannya terbuat dari upcycled denim yang dicampur dengan resin.

Baca juga: Madewell Warnai Jeans dengan Kulit Udang

Didirikan pada 2011, Mosevic muncul dengan konsep unik berupa Shades of Denim. Mosevic berawal dari sembilan tahun lalu ketika Spancer memiliki ide untuk mengubah floppy denim menjadi denim padat. Ide inovatif ini berubah menjadi serangkaian mode kacamata yang disebut Shades of Denim. Mosevic kini menjalankan kampanye di Kickstarter yang merupakan platform pendanaan umum terbesar dunia. Visinya untuk membantu mempersembahkan proyek-proyek kreatif bagi kehidupan manusia.

Upcycled Denim

Produk upcycled menghasilkan produk yang lebih bagus daripada awalnya. Foto: mosevic.com

Dilansir dari inhabitat.com, prosesnya diawali dengan mencari denim yang sudah tidak terpakai yang didapat perusahaan dari berbagai sumber. Sebagian besar bahan Mosevic berasal dari jeans yang dibuang dan tidak layak untuk dijual serta stok denim lama dari toko pakaian.

Setelah memiliki bahan yang cukup, potongan denim kemudian dicampur dengan resin kuat yang menyerap ke dalam serat denim. Lapisan basah denim kemudian ditekan hingga resin menjadi padat dan menciptakan “solid denim”. Resin yang digunakan untuk proses ini aman untuk kulit dan telah diuji selama bertahun-tahun.

Baca juga: Sami Miro Vintage, Merekonstruksi Kain Deadstock dalam Gaya Modern

Kacamata ini merupakan buatan tangan dan diproduksi dalam jumlah kecil. Dengan detail yang sangat diperhatikan, koleksi kacamata hitam bermodel trendy. Kacamata yang dihasilkan cukup kuat dan ringan serta nyaman untuk digunakan.

Berbagai pilihan model kacamata hitam ini dibanderol dengan harga sekitar $250. Tidak hanya bergaya modern, lensa yang digunakan juga bisa dipesan sesuai kebutuhan. Situs web Mosevic juga dilengkapi dengan fitur cermin virtual yang dapat melihat kacamata sesuai dengan wajah pembeli.

Penulis: Mega Anisa

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kacamata-funky-dari-upcycled-denim/feed/ 0
Kolaborasi Bottle Source, Lahirkan Pakaian dari Sampah Botol Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/kolaborasi-lahirkan-pakaian-dari-botol-plastik-bekas/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kolaborasi-lahirkan-pakaian-dari-botol-plastik-bekas https://www.greeners.co/gaya-hidup/kolaborasi-lahirkan-pakaian-dari-botol-plastik-bekas/#respond Thu, 22 Aug 2019 12:38:02 +0000 https://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=23993 Merek pakaian The North Face mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pecinta kegiatan outdoor. Berkolaborasi dengan National Geographic, perusahaan pakaian asal Amerika Serikat ini meluncurkan pakaian khusus yang terbuat […]]]>

Merek pakaian The North Face mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pecinta kegiatan outdoor. Berkolaborasi dengan National Geographic, perusahaan pakaian asal Amerika Serikat ini meluncurkan pakaian khusus yang terbuat dari botol bekas yang termasuk dalam koleksi ‘Bottle Source’.

Dilansir dari Treehugger, koleksi pakaian Bottle Source dibuat dari potongan-potongan botol plastik yang beratnya mencapai 384.000 pon yang ditarik dari aliran limbah kawasan wisata alam yang terkenal di seluruh Amerika Serikat, termasuk Yosemite, Great Smoky Mountains, dan Taman Nasional Grand Teton.

Adapun latar belakang lahirnya koleksi Bottle Source dari kolaborasi ini merupakan upaya untuk menyadarkan orang-orang akan masalah polusi plastik yang semakin meningkat.

Menariknya, dalam koleksi ini terdapat tulisan ‘Waste Is Over’ dan logo kedua merek pada semua item pakaian. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyuarakan komitmen misi ramah lingkungan antara The North Face dan National Geographic yang dibuktikan dengan mendaur ulang dan menggunakan kembali plastik dengan cara alternatif baru.

Kolaborasi The North Face dan National Geographic Lahirkan Pakaian dari Sampah Botol Plastik2

Kolaborasi The North Face dan National Geographic Lahirkan Pakaian terbuat dari Sampah Botol Plastik. Foto : thenorthface.com

Bagi kedua perusahaan, menghentikan produksi plastik sama sekali tentu saja akan menjadi solusi yang ideal, tetapi memperpanjang umurnya dalam bentuk pakaian daur ulang, secara bersamaan dapat mengurangi permintaan untuk kain berbasis minyak bumi dan itu setidaknya merupakan pilihan terbaik kedua.

Menurut situs The North Face, perusahaanya “merasa bangga karena dapat bekerja sama dengan National Geographic untuk memperkenalkan koleksi pakaian ‘Bottle Source’ edisi terbatas yang dibuat dari plastik sekali pakai yang bersumber dari aliran limbah ruang publik paling terkenal di Amerika.”

Selain dari mendaur ulang limbah plastik menjadi pakaian, The North Face juga akan menyumbangkan $1 USD ke National Park Foundation untuk setiap koleksi pakaian ‘Bottle Source’ yang dibuatnya sebagai bagian dari kontribusi yang mendukung proyek dan program keberlanjutan.

Bagi para pecinta kegiatan outdoor yang tertarik dengan koleksi ‘Bottle Source’, pakaian ini sudah tersedia dan dapat dibeli secara online di situs web The North Face. Untuk setiap item pakaiannya dijual mulai dari $35 USD hingga $60 USD.

Penulis: Diki Suherlan

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kolaborasi-lahirkan-pakaian-dari-botol-plastik-bekas/feed/ 0
Inilah Prediksi Tren Eco-Fashion Tahun 2018 https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-eco-fashion-tahun-2018/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=inilah-prediksi-tren-eco-fashion-tahun-2018 https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-eco-fashion-tahun-2018/#respond Mon, 01 Jan 2018 05:00:27 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=19738 Melihat pesatnya popularitas eco-fashion, banyak para ahli mode memprediksikan bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun emas bagi eco-fashion.]]>

Popularitas eco-fashion kini semakin meningkat di tiap tahunnya. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya para pelaku industri fesyen yang berlomba-lomba menawarkan produk fesyen yang beretika dan tentunya ramah lingkungan. Selain itu, tingginya minat para penikmat mode terhadap produk fesyen ramah lingkungan menjadikan eco-fashion kini semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Melihat pesatnya popularitas eco-fashion, banyak para ahli mode yang memprediksikan bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun emas bagi eco-fashion. Dilansir dari Ecofriend, inilah beberapa prediksi tren eco-fashion pada tahun 2018:

1. Serat kain daur ulang makin sering dijumpai

Pada tahun 2018, penggunaan serat kain daur ulang diperkirakan akan semakin sering dijumpai dalam dunia fesyen. Penggunaan serat kain daur ulang merupakan salah satu aspek terpenting dalam eco-fashion karena secara tidak langsung kita telah berupaya untuk mengurangi jumlah deforestasi serta menyelamatkan kualitas air. Selain penggunaan serat kain daur ulang, penggunaan material organik juga akan semakin sering dijumpai.

2. Selamat tinggal fast fashion!

Beberapa perusahaan fesyen diperkirakan akan mulai meninggalkan sistem fast fashion atau sistem produksi pakaian yang terus berganti secara cepat karena mengikuti selera pasar. Pakaian yang diproduksi melalui sistem fast fashion biasanya dijual dalam jumlah yang banyak dan harganya murah namun memiliki kualitas yang rendah. Sistem fast fashion sendiri dinilai kurang beretika bagi lingkungan dan bagi kesejahteraan para pekerja.

eco-fashion

Ilustrasi. Foto: luxiders.com

Sebagai gantinya, pada tahun 2018 diperkirakan pelaku industri fesyen akan menghadirkan koleksi pakaian yang dibuat dengan prinsip slow fashion. Pakaian akan dibuat dengan model chic yang bersifat evergreen dan tentunya dengan bahan yang berkualitas sehingga pakaian dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang.

3. Tema futuristik makin digemari

Tema futuristik diprediksi akan makin digemari oleh para penikmat eco-fashion. Pakaian maupun aksesoris bertema futuristik yang terkesan modern, ringan, dan ‘tahan banting’ diperkirakan akan memiliki banyak penggemar di tahun 2018 nanti. Selain itu, jangan heran jika di tahun 2018 nanti kita akan sering menjumpai produk fesyen yang memiliki nuansa warna silver ataupun metalik.

4. Nuansa alam akan menjadi primadona

Tak hanya tema futuristik yang diprediksi akan naik daun pada tahun 2018. Busana dengan nuansa alam juga diperkirakan akan menjadi primadona dalam dunia eco-fashion. Berbagai busana dengan warna yang cerah dan bermotif floral diramalkan akan diminati oleh banyak orang pada tahun 2018. Selain itu, pakaian bertemakan bohemian gypsy juga akan kembali digemari.

Penulis: ARF/G42

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/inilah-prediksi-tren-eco-fashion-tahun-2018/feed/ 0
Dari Sampah Plastik ke Eco-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=sampah-plastik-eco-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/#respond Sat, 23 Sep 2017 11:33:57 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=18778 Trisa Cheeny adalah seorang sarjana yang baru lulus dari Maryland Institute College of Art dengan bidang studi patung antardisiplin. Ia merancang Palemer untuk menantang dunia fashion dan mengurangi sampah dari konsumen.]]>

Trisa Cheeny adalah seorang sarjana yang baru lulus dari Maryland Institute College of Art dengan bidang studi patung antardisiplin. Trisa menciptakan produk tas yang unik. Keunikannya terletak pada bahan yang ia gunakan.

Tas yang dia pakai terbuat dari plastik, begitu juga barang-barang lain yang dia ciptakan sendiri. Dalam waktu dekat Trisha akan meluncurkan merk Palemer, sebuah merk pakaian dan aksesoris yang semua bahannya berasal dari kantong plastik bekas dan bahan daur ulang lainnya. Trisha merancang Palemer untuk menantang dunia fashion dan mengurangi sampah dari konsumen.

sampah plastik

Foto: inhabitat.com

Beberapa produk yang sudah diciptakan Palemer diantaranya adalah jaket untuk musim dingin yang terbuat dari 214 buah kantong plastik bekas dan memakai insulasi yang terbuat wol bulu domba bekas. Dia juga menciptakan jaket penahan angin yang terbuat dari 90 buah kantong plastik bekas. Untuk tasnya sendiri, dia membuatnya dari sekitar 80 kantong belanja bekas sehingga lebih kuat.

sampah plastik

Foto: inhabitat.com

Planet kita sedang menghadapi perubahan yang besar sehingga kita juga dituntut untuk membuat perubahan besar dan Palemer ditujukan sebagai usaha kita untuk mengubah cara kita menggunakan sumberdaya dan sampah yang kita hasilkan.

Saat ini kita memproduksi dan memakai sekitar satu triliun kantong plastik sekali pakai tiap tahunnya. Menurut Earth Policy Insitute, itu berarti sekitar 2 juta kantung plastik tiap menit. Ini berarti Palemer tidak akan kekurangan bahan untuk produk-produknya.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/sampah-plastik-eco-fashion/feed/ 0
Kiniho, Rumah Fesyen Beretika dari Timur Laut India https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/#respond Wed, 02 Aug 2017 05:09:13 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17957 Kiniho didirikan oleh Iba Mallai pada tahun 2016 di India Timur Laut. Dalam mendirikan rumah fesyennya, Iba berprinsip untuk menciptakan fesyen yang trendi namun tetap ramah terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.]]>

Terlahir dari keluarga yang sederhana bukan menjadi penghalang bagi Iba Mallai, seseorang perancang busana asal India, untuk mengembangkan kreativitas. Meski hidup berkecukupan, Iba tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan budaya, tradisi, dan seni yang indah. India memang terkenal sebagai negara yang ‘meriah’ dalam hal fesyen, dan hal inilah yang menjadikan Iba selalu up to date akan tren mode dan gaya terbaru. Semakin hari, ketertarikan Iba terhadap dunia fesyen semakin meningkat dan pada akhirnya ia pun mendirikan label fesyen yang bernama Kiniho.

Kiniho didirikan oleh Iba pada tahun 2016 di India Timur Laut. Dalam mendirikan rumah fesyennya, Iba berprinsip untuk menciptakan fesyen yang trendi namun tetap ramah terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.

“Bagi saya, fesyen bukan hanya tentang mengenakan pakaian yang trendi dan indah dipandang, tapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial,” ungkap Iba seperti dilansir dari Electicnortheast.com.

kiniho

Foto: Kiniho via Facebook

Dalam menciptakan produknya, Iba berkomitmen untuk menghasilkan limbah seminimal mungkin. Iba menginginkan rumah fesyennya dikenal sebagai rumah fesyen yang menjunjung prinsip eco fashion. Demi mewujudkan komitmen tersebut, Iba menciptakan semua koleksi pakaiannya secara hand made alias buatan tangan untuk meminimalisir produksi limbah pabrik yang beracun. Selain itu, Iba juga memilih pewarna kain yang alami supaya lebih ramah terhadap lingkungan.

Tak hanya ramah pada lingkungan, Iba juga ingin memajukan dan menyejahterakan kehidupan penduduk lokal India Timur Laut melalui Kiniho. Penduduk yang tinggal di Timur Laut India terkenal dengan keahliannya dalam membuat kain tenun yang terbuat dari Sutra Eri. Melalui Kiniho, Iba menginginkan kain tenun khas India Timur Laut semakin dikenal oleh khalayak luas. Maka dari itu, Iba menggunakan kain tenun khas India Timur Laut sebagai bahan baku dari pakaian yang diproduksi Kiniho.

“Kain tenun dari India Timur Laut memiliki potensi untuk berkembang di pasaran karena memiliki tampilan yang kaya dan unik. Mempromosikan kain tenun kepada khalayak luas, selain dapat mempertahankan budaya dan kearifan lokal, juga dapat meningkatkan kesempatan kerja dan dapat menopang kehidupan warga lokal di wilayah India Timur Laut,” tutur Iba.

kiniho

Foto: Kiniho via Facebook

Kiniho menghadirkan koleksi pakaian wanita yang terbuat dari kain tenun khas India Timur Laut. Terbuat dari Sutra Eri, koleksi pakaian dari Kiniho terlihat begitu mewah dan eksklusif. Kiniho memiliki koleksi pakaian wanita yang beragam, seperti blouse, celana, rok, dan one piece dress alias gaun. Dari segi desain dan motif, Kiniho memiliki pakaian yang berdesain simpel dan tidak bermotif rumit. Pakaian dari Kiniho didominasi oleh warna teduh seperti coklat, krem, putih, biru tua, dan lain sebagainya. Selain itu, Kiniho juga sering memasukkan motif garis dan kotak dalam koleksinya.

Saat ini Kiniho masih berfokus untuk membuat pakaian wanita saja, namun Iba berencana untuk membuat produk lain seperti aksesoris, tas, dan selendang dalam jangka waktu yang dekat. Bagi Iba, mendirikan Kiniho merupakan awal dari perjuangan Iba untuk menciptakan fesyen yang tetap mendukung kearifan lokal, ramah lingkungan, dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/kiniho-rumah-fesyen-beretika-timur-laut-india/feed/ 0
Solusi Norton Point Atas Sampah Plastik Laut: Kacamata Hitam! https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/#respond Thu, 15 Jun 2017 09:25:17 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=17357 Norton Point perusahaan asal Amerika Serikat memiliki misi untuk mengurangi volume sampah plastik di laut. Mereka mengubah sampah plastik laut menjadi kacamata hitam yang keren.]]>

Sampah plastik merupakan salah satu ancaman terbesar bagi laut. Berjuta-juta ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahunnya. Bila tidak ditangani, jumlah sampah plastik akan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan di laut pada tahun 2050. Norton Point tidak mau ketinggalan mencari solusi untuk membersihkan laut dari sampah plastik.

Norton Point merupakan perusahaan asal Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 2015 oleh Rob Ianelli dan Ryan Schoenka. Perusahaan ini memiliki misi untuk mengurangi volume sampah plastik di laut dan mengubahnya menjadi kacamata hitam yang keren. Bekerja sama dengan The Plastic Bank, Norton Point mengumpulkan sampah plastik dari lautan di Haiti untuk dijadikan bahan baku produk mereka.

kacamata hitam

Foto: nortonpoint.com

Norton Point menawarkan koleksi kacamata hitam dengan tujuh jenis yang berbeda, yaitu The Current, The Swell, The Tide, Whitecap Swell, Bravo, Charlie, dan Zulu. Norton Point menggunakan lensa Polarized CR-39 dengan jenis Blue Mirrored dan Charcoal untuk produk mereka.

Setiap bingkai kacamata dihiasi dengan tekstur ombak (wave pattern). Tak hanya itu, sedikit aksen berwarna biru, merah, dan kuning juga ikut menghiasi bingkai kacamata tersebut. Logo Norton Point yang disematkan pada bagian kanan depan kacamata membuat bingkai kacamata yang terbuat dari 100 persen sampah plastik ini terlihat begitu unik dan menarik.

Selain itu, Norton Point juga menggunakan lensa berkualitas premium yaitu lensa Polarized CR-39 yang bersiat anti gores, anti refleksi, dan memiliki proteksi 100 persen terhadap sinar UVA dan UVB. Secara keseluruhan, kacamata hitam keluaran Norton Point terlihat sporty dan elegan.

kacamata hitam

Foto: nortonpoint.com

Dalam situs resminya, Norton Point menyebutkan bahwa mereka berkomitmen untuk membersihkan satu pon sampah plastik di laut apabila satu produk kacamata hitam mereka laku terjual. Mereka menyebut komitmen ini sebagai “One to One Pledge”. Selain itu, sebesar lima persen dari keuntungan yang mereka dapat akan digunakan untuk membantu organisasi Ocean Conservancy membersihkan lautan dari sampah plastik.

Ke depannya, Norton Point memiliki misi untuk membersihkan laut dari sampah plastik di lautan Bahama, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Mereka menganggap bahwa membersihkan sampah plastik di lautan Haiti hanyalah permulaan dari misi utama mereka untuk menyelamatkan laut.

Penulis: Anggi Rizky Firdhani

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/solusi-norton-point-sampah-plastik-laut-kacamata-hitam/feed/ 0
Promo Film, Emma Watson Kenakan Eco-Friendly Fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/#respond Mon, 13 Mar 2017 13:00:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=16195 Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen "hijau". Sepanjang tur promosi film terbarunya "Beauty and The Beast", ia tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.]]>

Setelah menjawab tantangan #GreenCarpetChallenge dalam acara MET Gala 2016 lalu, Emma Watson kembali menunjukkan dukungannya pada produk-produk fesyen “hijau”. Sepanjang tur promosi film terbarunya “Beauty and The Beast”, Emma tampil chic dan fashionable dalam balutan busana yang diklaim ramah lingkungan.

Untuk berbagi pengalaman selama tur kepada para penggemarnya, aktris berusia 26 tahun ini membuat akun Instagram khusus, @the_press_tour. Di kanal media sosialnya itu, ia tidak hanya mengisahkan tentang agenda promosinya, namun juga memperkenalkan eco-fashion karya beberapa desainer ternama.

Berikut ini eco-friendly fashion ala Emma Watson selama tur:

emma watson

Foto: The Press Tour/Instagram

Kota Paris, Perancis, menjadi kota pertama yang disinggahi oleh para pemain film Beauty and The Beast. Di kota yang dijuluki sebagai pusat mode dunia itu, Emma tampak mengenakan setelan monokrom dengan jas yang dipadu dengan sweter, jins dan sneakers. Baju bergaya santai yang dipakai Emma saat itu adalah kombinasi dari karya beberapa perancang.

Sebagai luaran, jas kebesaran Emma dibuat oleh Stella McCartney (@stellamccartney). Stella merupakan desainer yang berkomitmen untuk membuat produk fesyen tanpa menggunakan kulit ataupun bulu hewan. Untuk menepati janjinya itu, Stella menghabiskan beberapa tahun untuk mendaur ulang kain perca, memperbaiki bahan kasmir rusak, membuat katun dari kapas organik hingga mengembangkan bahan tekstil yang forest-friendly.

Di balik luaran hitam putih, Emma mengenakan sweter putih karya Filippa K (@filippa_k). Di Swedia, Filippa K dikenal sebagai perancang baju yang menerapkan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle, repair) dalam setiap desainnya. Perancangan ini juga menyediakan jasa penyewaan baju dan mengumpulkan produk dari labelnya yang sudah tidak lagi digunakan. Produk bekas ini nantinya akan dijual ke toko barang bekas atau disumbangkan ke beberapa organisasi sosial.

Dibalik sweternya, Emma mengenakan kaus putih produksi Boody North America (@boodywear). Sebagai bahan dasar, Boodywear tidak menggunakan benang dari kapas, melainkan tanaman bambu yang dibudidayakan secara organik. Tanaman bambu yang memenuhi kriteria dipanen, dipintal menjadi untaian benang, kemudian dirajut menjadi potongan baju dengan teknologi 3D.

Sneakers putih yang melengkapi penampilan Emma merupakan karya Good Guys(@goodguysdontwearleather). Memiliki prinsip yang sama dengan Stella, Good Guys tidak menggunakan kulit hewan pada produknya. Label eco-fashion ini memproduksi busana kulitnya dari vegan leather, yaitu bahan kulit buatan pabrik yang disusun dari beberapa material penyusun garmen.

(berikutnya)

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/promo-film-emma-watson-kenakan-eco-friendly-fashion/feed/ 0
Perhiasan dari Papan Sirkuit Elektronik Bekas, Rumit Sekaligus Indah https://www.greeners.co/gaya-hidup/perhiasan-papan-sirkuit-elektronik-bekas-rumit-sekaligus-indah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=perhiasan-papan-sirkuit-elektronik-bekas-rumit-sekaligus-indah https://www.greeners.co/gaya-hidup/perhiasan-papan-sirkuit-elektronik-bekas-rumit-sekaligus-indah/#respond Mon, 22 Aug 2016 07:40:11 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=14549 Keseluruhan papan sirkuit elektronik terkadang terlalu kompleks untuk diapresiasi, namun seorang seniman perhiasan asal New York mampu menciptakan perhiasan yang nampak rumit namun indah dari papan sirkuit elektronik bekas.]]>

Sampah barang elektronik adalah permasalahan besar di banyak negara di dunia. Menurut UNEP, di dunia ini sekitar 20-50 juta metrik ton sampah elektronik terkumpul tiap tahunnya, dengan hanya sekitar 27 persen yang didaur ulang di Amerika. Kebanyakan sampah tersebut berakhir di tempat penimbunan atau dikirim ke negara lain untuk diolah dengan cara yang tidak aman. Kedua cara tersebut menghasilkan racun dan logam berat yang bisa mencemari tanah dan merusak kesehatan.

Walaupun sampah elektronik bisa dikirim ke fasilitas daur ulang konvensional, namun ada cara lain yang lebih kreatif untuk mengatasi masalah ini.

Seniman perhiasaan Amanda Preske dari Rochester, New York, menciptakan Circuit Breaker Labs yang mengambil papan sirkuit elektronik dari komputer tua, telepon genggam, kalkulator dan monitor kemudian mengubahnya menjadi kalung, gelang, kepala ikat pinggang dan lain-lain.

“Kita hidup di dunia digital, jadi sudah sewajarnya komputer, kalkulator dan kartu memori yang sudah tidak dipakai untuk digunakan kembali ketimbang dibuang,” ujar Amanda seperti dikutip dari laman treehugger.com.

papan sirkuit elekronik

Perhiasan dari papan sirkuit elektronik bekas karya Amanda Preske. Foto: Circuit Breaker Labs

Papan sirkuit dibuat dengan berbagai macam warna kemudian diperkuat menggunakan resin yang juga berfungsi melindungi. Semua bagian perhiasaan dari perak dibuat dengan perak daur ulang.

Amanda Preske adalah pemegang gelar doktor di bidang kimia dan memiliki ketertarikan terhadap kerajinan tangan. Dia sudah membuat kerajinan lain seperti lilin, sulam, dan lukisan, namun membuat perhiasaan adalah salah satu hasratnya yang paling besar.

Amanda mulai menggunakan papan sirkuit bekas di tahun 2007 ketika melihat kakak laki-lakinya memperbaiki komputer. Dia terpesona terhadap keindahan dan kompleksitas yang dia temukan di papan sirkuit elektronik. Walau keseluruhan papan sirkuit tersebut kadang terlalu kompleks untuk diapresiasi, namun dalam skala kecil untuk perhiasan, sebagian kecil papan sirkuit tersebut seperti menggambarkan peta jalur bawah tanah, pemandangan kota dan potongan kata-kata yang menarik.

papan sirkuit elekronik

Perhiasan dari papan sirkuit elektronik bekas karya Amanda Preske. Foto: Circuit Breaker Labs

Papan sirkuit bekas didapat dari berbagai sumber, biasanya dari festival seni, saat Amanda biasanya menukar papan sirkuit bekas dengan perhiasan buatannya. Dia juga menciptakan program Circuit Board Trade-in Program di mana siapapun bisa mengirimkan papan sirkuit bekas kepadanya untuk ditukar dengan perhiasaan.

Komponen elektronik tua ini kemudian dilucuti, dibersihkan, dipotong dan ditempatkan di wadah dari perak, semuanya dikerjakan dengan tangan. Resinnya berfungsi juga sebagai lensa yang memperbesar keindahan dari pola rumit yang ditemukan di papan sirkuit sekaligus menjadi penutup sehingga bisa dipakai dengan aman.

Penulis: NW/G15

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/perhiasan-papan-sirkuit-elektronik-bekas-rumit-sekaligus-indah/feed/ 0
Greenpeace Indonesia Launched the First Completed Indicative Map in Indonesia https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/#respond Thu, 17 Mar 2016 11:32:59 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_berita&p=13211 Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia launched an online digital map which would be able to monitor forest fires and deforestation. The map is claimed as the first map in Indonesia […]]]>

Jakarta (Greeners) – Greenpeace Indonesia launched an online digital map which would be able to monitor forest fires and deforestation.

The map is claimed as the first map in Indonesia that also reveals names of the land owner which areas are detected with hotspots.

Greenpeace Indonesia forest campaigner, Teguh Surya, said that the launch, dubbed as “Kepo Hutan” (Forest Curious) was meant to support President Joko ‘Jokowi’ Widodo’s commitment to protect and rehabilitate damaged forest areas.

“The Kepo Hutan map indicative is a map which gives detailed information on companies’ concessions and their relations with peatlands, fire spots, and deforestation increasing rate,” said Surya at the launching event in Jakarta, on Tuesday (15/03).

Technically, Surya added, people can locate hotspots just by clicking the fire spots feature.

In addition, the map can also detect regions that did not have hotspots but located near them.

Furthermore, Surya said that the map’s accuracy was 90 percent considering the rigorous data and files submitted since 2013.

“So, forest and peatland fires occurred in 2013 can also be accessed by public as it provides near real time feature and search features. For instance, we want to know hotspots in 2013, then it can be shown,” he added.

The data, he added, was obtained from Ministry of Environment and Forestry, Ministry of Agriculture, National Land Agency, local governments and Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) which then compiled by Greenpeace to produce structured and presentable format.

He said that Greenpeace aimed to provide real description on hotspots in the country and encouraged local people, companies, NGOs and government to take action.

“If we followed through the debate in the media on land and forest fires in 2015, the biggest public question was they did not who were responsible for these fires, who were liable legally. That debate has been answered.There is no need for arguments on who’s responsible, because you just ‘click’ then you know the names of the concessions holders. It is now how legal actions must be taken,” he said.

Bambang Widjojanto, legal adviser for public policy and former deputy chief of Indonesia’s Corruption Eradication Commission (KPK), said that the new platform would be able to reveal on forest management in the country.

“If today, people could only access information of who’s being given the rights to manage forests then the map could also prevent more losses on the country’s natural resources through corruption in concessions permits,” said Widjajanto.

Meanwhile, Director of Forest Resources Monitoring Inventory at Ministry of Environment and Forestry, Ruwanda Agung, said that nearly all data presented at the map was legally obtained from the ministry.

“We also do have the data and it is interactive. We even put the locations, such as customary areas, region maps, hotspots on critical lands, and river banks,” said Agung.

Furthermore, he claimed that the ministry’s data was more updated than Greenpeace considering the NGO refer to the data.

For instance, if the latest data from the ministry was in 2015, then Greenpeace might have obtained the data on November or July 2015.

“Our data is more update for certain, especially the data is similar to the one launched by World Resources Institute. Forest Watch even gather data from us because we are the data custodian for national forest cover,” he said.

Reports by Danny Kosasih.

]]>
https://www.greeners.co/english/greenpeace-indonesia-launched-the-first-completed-indicativce-map-in-indonesia/feed/ 0
Mai-Lei Pecorari, Sentuhan ‘Artsy’ Pada Baju Lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/#respond Wed, 23 Dec 2015 09:20:47 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12348 Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari menjadi salah satu desainer yang memiliki kemampuan ini. ]]>

Mengubah barang lama menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali sekaligus bernilai seni, membutuhkan lebih dari sekadar kreatifitas. Mai-Lei Pecorari, stylist yang kini mengubah imej menjadi desainer ini nampaknya tidak hanya kreatifitas, melainkan juga bakat. Lewat tangan wanita keturunan Jepang ini, terciptalah koleksi-koleksi “artsy” (bernilai seni) yang terangkum pada brand Kin-tsugi Goods.

Kin-tsugi Goods terinspirasi dari seni Jepang kuno yang muncul sekitar akhir abad ke 15. Saat itu, seniman istana memperbaiki keramik menjadi lebih bernilai dari sebelumnya. Inspirasi ini membuat Pecorari mengubah baju-baju lama menjadi pakaian yang dapat digunakan kembali. Ia pun ingin mengolaborasikan keterlibatan dengan dunia ramah lingkungan dan seni yang indah.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

“Saya ingin menggabungkan antara desain estetik yang saya buat dengan keinginan saya untuk melawan cepatnya pergerakan industri fesyen,” ujar Pecorari, seperti yang dilansir dari Ecouterre.

Pecorari melihat bahwa banyak pakaian yang terbuang. Ia terobsesi untuk mencari pakaian bekas yang berkualitas bagus dan klasik di toko pakaian loak, kemudian memperbaharuinya menjadi barang fashionable-but-artsy ala Kin-tsugi.

“Saya ingin mempunyai surga ideal menurut saya, dimana konsumen hanya akan mendapatkan produk yang well-made,” tambah Pecorari.

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Foto: Kin-tsugi Goods/www.ecouterre.com

Kecintaannya terhadap kualitas barang-barang lama pun membuat Pecorari ingin konsumen dapat menggunakan koleksinya yang kekinian, namun berkualitas dan tahan lama selayaknya barang-barang lama yang masih bertahan bahkan hingga lebih dari 10 tahun tersebut. Semua yang dilakukannya dengan koleksi ini hanyalah dengan melakukan 100 persen mengolah baju-baju lama tersebut.

Secara desain, Pecorari memberikan aksen khas berupa corak cipratan cat pada permukaan koleksi pakaian pakaiannya. Corak tersebut menambah nilai seni pada desain-desain pakaiannya yang chic dan kasual. Pemilihan potongan yang berlayer juga dijadikan andalan oleh Percorari yang menambah kesan artsy pada setiap detail rancangannya.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/mai-lei-pecorari-sentuhan-artsy-pada-baju-lama/feed/ 0
BARE Hadirkan Koleksi Tas dari Karung Biji Kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/#respond Fri, 27 Nov 2015 08:09:16 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=12050 Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan […]]]>

Memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi barang lain yang lebih bermanfaat merupakan salah satu bagian dari konsep ramah lingkungan yang dapat diadopsi dalam dunia fesyen. Dekade ini, mulai banyak bermunculan karya fesyen yang diciptakan dari bahan-bahan yang tidak biasa dengan penampilan yang unik dan berkelas.

Misalnya saja, karung kopi. Ditangan Justin Biel dan Grason Ratowsky, karung yang semula digunakan menyimpan biji kopi diubah menjadi tote bag, duffle bag dan pouch berpenampilan unik. Keduanya memproduksi tas unik ini dengan label mereka, BARE.

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

Pendiri BARE, Justin Biel dan Grason Ratowsky. Foto: BARE/www.vogue.com

BARE merupakan label aksesoris handmade yang berbasis di Colorado. Mengolah karung kopi menjadi tote bag merupakan produk awal yang dihasilkan label ini. Bahan karung yang kuat menjadikan umur pakai tas lebih lama. Handle tas yang digunakan pun menghilangkan aksen kumuh dari karung sehingga membuat tas ini menjadi satu kesatuan yang menarik secara desain.

Desain tas yang dibuat bersifat unisex sehingga dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Uniknya, antara tas yang satu dengan tas lainnya akan berbeda satu sama lain secara motif dan corak. Hal itu terjadi karena karung yang digunakan merupakan karung bekas dan tidak dapat dibuat mirip dalam jumlah banyak.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bare-hadirkan-koleksi-tas-dari-karung-biji-kopi/feed/ 0
Bikini Handmade Ramah Lingkungan Koleksi Priscilla Lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/#respond Thu, 12 Nov 2015 10:18:28 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11874 Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk […]]]>

Suatu yang baru kembali hadir ke industri fesyen baju renang. Kali ini giliran desainer Priscilla Lynch Hugo yang meluncurkan koleksi bikini bertajuk ‘Into the Water‘ pada Oktober 2015 lalu. Untuk koleksinya kali ini, Lynch menciptakan enam bikini yang terbuat dari material ramah lingkungan.

Lynch menggunakan kain berbahan dasar botol air plastik daur ulang untuk pembuatan bikini yang dibuat handmade ini. Bikini ini menjadi eksklusif karena koleksi ini dibuat dengan jumlah terbatas dan ditawarkan melalui website resminya. Desain yang ditampilkan pun terlihat elegan dan terinspirasi dari para wanita yang modern, klasik dan berseni.

“Saya suka cara saya menggambarkan bagaimana para perempuan itu hidup dan saya tahu saya menginginkannya dengan cara demikian,” ujar Lynch seperti dilansir situs Observer.com.

Bikin dalam koleksi "Into the Water" ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikin dalam koleksi “Into the Water” ini diluncurkan dalam 6 item. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Lynch menciptakan enam macam bikini untuk koleksinya ini. Keenamnya adalah La Maja, Olympia, Sheba, The Picnic, Madam X dan Leda. Keenamnya memiliki desain yang berbeda dan unik. La Maja didesain menjadi bikini silhouette dan dilengkapi dengan removable cup yang dapat digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Olympia pun tak kalah menarik. Bagian atas bikini dibuat lebih tertutup dengan aksen menyilang di bagian depan.

Untuk The Picnic dan Sheba dibuat dengan motif renda yang cantik dengan tali mengikat bagian atas bikini, sedangkan untuk Anda yang tidak percaya diri dengan bentuk pundak, bisa mencoba Madam X yang dapat menyamarkan kekurangan pada pundak Anda lewat desain atasan bikini yang memiliki tali lebar dan lurus. Last but not least, Leda yang mampu membuat Anda tampil lebih seksi dengan maksimal lewat aksen tali melintang dibagian depan.

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Bikini handmade ramah lingkungan karya Priscilla Lynch Hugo. Foto: Priscilla Lynch/observer.com

Keenam bikini tersebut dibanderol dengan harga 200 hingga 300 dollar Amerika atau setara dengan kisaran 2,7 jutaan per bikini. Harga yang cukup mahal namun sepadan dengan desain elegan dan upayanya untuk mengurangi sampah plastik.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/bikini-handmade-ramah-lingkungan-koleksi-priscilla-lynch/feed/ 0
Gaun Pengantin Unik yang Eco-Friendly https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaun-pengantin-unik-yang-eco-friendly/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=gaun-pengantin-unik-yang-eco-friendly https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaun-pengantin-unik-yang-eco-friendly/#respond Sat, 24 Oct 2015 12:11:10 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11644 Pernikahan adalah sebuah momen sakral di mana setiap wanita ingin menjadi yang tercantik dan bersedia melakukan apapun demi tampil bak ratu sehari dalam pernikahannya. Gaun pengantin menjadi juga salah satu aspek […]]]>

Pernikahan adalah sebuah momen sakral di mana setiap wanita ingin menjadi yang tercantik dan bersedia melakukan apapun demi tampil bak ratu sehari dalam pernikahannya. Gaun pengantin menjadi juga salah satu aspek penting untuk menyempurnakan keindahan momen pernikahaan. Namun, gaun-gaun pengantin ini dibuat selain menjadi cantik, tapi juga terbuat dari bahan-bahan unik yang ramah lingkungan. Tidak percaya? Let’s find out!

1. 10 ribu penjepit bungkus roti
Seorang pengantin wanita asal Australia bernama Stephanie Watson melakukan sesuatu yang tidak biasa dengan membuat gaun pengantin yang terbuat dari 10 ribu penjepit bungkus roti. Penjepit-penjepit tersebut dikumpulkan dalam setahun. Stephanie yang juga merupakan perancang busana ini menjahit semua penjepit bungkus roti tersebut menjadi gaun seberat 15 pon yang ia gunakan pada hari pernikahannya bersama pria yang kini menjadi suaminya, Will Wapling.

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/gaun-pengantin-unik-yang-eco-friendly/feed/ 0
United Airlines Ubah Banner Bekas Jadi Travel Bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/#respond Wed, 21 Oct 2015 07:48:50 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11595 Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat […]]]>

Banner bisa menjadi salah satu alat publikasi yang bermanfaat bagi sebuah perusahaan. Namun, bila diakumulasi, banner-banner yang sudah tidak terpakai dapat menjadi sampah yang cukup besar. Hal itulah yang membuat United Airlines, sebuah perusahaan penerbangan ternama yang juga memanfaatkan banner untuk publikasi, merasa bertanggung jawab atas bentuk pembuangan tersebut.

Dengan menggandeng Re:New dan Columbia College Chicago Department of Fashion Studies, United Airlines mengubah banner-banner bekas publikasi mereka menjadi sebuah travel bag yang unik dan cantik. Mereka mengumpulkan 20 banner raksasa milik United Airlines dari Chicago O’Hare Airport dan mengubah banner tersebut hanya menjadi 100 sustainable travel bag yang siap digunakan.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“United berkomitmen untuk beroperasi secara berkelanjutan dan bertanggungjawab dan itu berarti kami harus menemukan cara kreatif untuk menurunkan pengaruh penerbangan kami pada lingkungan,” ungkap Angela Foster-Rice selaku Managing Director of Environmental Affairs and Sustainability United Airline, pada release yang dikeluarkan oleh PRNewsWire.com.

Travel bag yang diciptakan sengaja didesain agar cocok ditempatkan di bawah bangku pesawat, wearable dan tahan lama. Seluruh tas tersebut dijahit khusus dengan menggunakan tangan dan setiap tas memiliki corak yang berbeda satu sama lain. Banner-banner tersebut disulap menjadi beberapa jenis tas, seperti travel duffel bag, backpack dan over shoulder bag tempat menaruh paspor, uang dan lain-lain.

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

Maskapai penerbangan United Airlines menggunakan kembali banner bekas mereka menjadi travel bag unik. Foto: www.prnewswire.com

“Sebagai bagian dari komitmen kami, kami senang bisa memberikan banner-banner tersebut kehidupan kedua, dan terutama untuk para pelanggan dapat menikmati bagian dari keindahan langit yang mereka bawa pulang,” lanjut Angela.

Travel bag tersebut dibandrol dengan harga US$150 atau sekitar dua juta rupiah. Travel bag ini telah resmi dijual pada Jumat (16/10) lalu di situs United Shop dan hingga berita ini dinaikan, untuk duffel bag telah ludes terjual hingga tinggal menyisakan beberapa unit backpack.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/united-airlines-ubah-banner-bekas-jadi-travel-bag/feed/ 0
Clothing Line Ini Buat Produk dari Sampah Botol Plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/#respond Thu, 15 Oct 2015 05:49:55 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11505 Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New […]]]>

Sampah plastik botol merupakan salah satu gangguan lingkungan terbesar, terutama bagi laut. Di pantai contohnya, sampah botol plastik merupakan sampah terbanyak, salah satunya di pantai Fair Harbor, Long Island, New York. Bahkan di Amerika, sampah botol plastik dapat mencapai angka 50 milyar botol plastik dalam setahun. Jumlah yang cukup mencengangkan dan menjadi alasan yang kuat bagi para anak muda ini untuk membuat sebuah bisnis yang juga dapat menanggulangi masalah besar tersebut.

Fair Harbor Clothing Line merupakan proyek yang dicetuskan oleh Jake Danehy, Caroline dan Sam Jacobson. Proyek ini terbentuk atas keprihatinan mereka terhadap keberlangsungan pantai tercinta mereka, Fair Harbor. Pantai yang menghiasi kenangan masa kecil mereka tersebut, kini telah berubah dan sudah tidak sebersih, serta sedamai dulu.

Salah satu masalah terbesarnya apalagi kalau bukan sampah botol plastik. Anak-anak muda tersebut akhirnya terinspirasi menciptakan beberapa produk seperti kaos, topi, bahkan board short dari sampah-sampah botol plastik yang menggunung setiap harinya.

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Fair Harbor Clothing Line membuat board short dari 11 botol plastik dengan serat polyester daur ulang. Foto: www.fairharborclothing.com

Board short ini terbuat dari botol minum plastik yang didaur ulang dan dikolaborasi dengan bahan katun dan serat polyester daur ulang. Jake dan teman-teman beranggapan bahwa dalam menciptakan sebuah eco fashion, tidak hanya dibutuhkan material-material yang di daur ulang untuk mengurangi dampak lingkungan. Karena itu, mereka mendonasikan 5 persen dari keuntungan penjualan mereka kepada Surfrider Foundation untuk membantu membersihkan sampah dari pantai dan laut.

Dibutuhkan 11 botol minum plastik untuk menciptakan sepasang board short pria. Awalnya botol-botol tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan sesuai dengan ketebalan plastik. Lalu, botol-botol tersebut diproses menjadi partikel filament kecil, sebelum akhirnya dipanaskan dan dianyam pada serat polyester daur ulang.

“Kami membuat celana tersebut dengan cermat dan penuh pemikiran untuk mengatasi masalah sampah plastik dari lingkungan dan juga membuatnya menjadi cukup tahan lama untuk segala kondisi dan tantangan alam,” ujar mereka, seperti yang dilansir dari situs resmi Fair Harbor Clothing Line.

Desain yang dibuat pun tidak terlalu rumit mengingat material dan proses pembuatan yang berbeda dengan celana lainnya, namun celana ini tetap dibuat dengan nyaman, tidak panas, tahan lama dan membuat penggunanya bebas bergerak.

Mereka pun akan meluncurkan koleksi busana terbaru, seperti T-Shirt dengan bermacam pilihan gaya, sweater, dan board short bercorak. Board short yang ditawarkan dibandrol dengan harga US$ 65 atau setara dengan hampir satu juta rupiah, serta topi dan T-Shirt seharga US$ 20 atau kisaran 300 ribu rupiah.

Penulis: DR/G16

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/clothing-line-ini-buat-produk-dari-sampah-botol-plastik/feed/ 0
Eco-Fashion Ala Desainer Dalam Green Carpet Challenge https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/#respond Sat, 03 Oct 2015 08:10:22 +0000 http://www.greeners.co/?post_type=grn_gaya_hidup&p=11359 Busana-busana indah dan penuh kesan glamor kerap kali menghiasi red carpet sebuah pagelaran besar dunia, mulai dari Golden Globe hingga Cannes Film Festival. Namun, inovasi yang dikeluarkan para desainer dunia […]]]>

Busana-busana indah dan penuh kesan glamor kerap kali menghiasi red carpet sebuah pagelaran besar dunia, mulai dari Golden Globe hingga Cannes Film Festival. Namun, inovasi yang dikeluarkan para desainer dunia tidak berhenti sampai di situ. Desainer-desainer dunia pun kini melirik eco-fashion, salah satunya dengan berpartisipasi dalam Green Carpet Challenge.

Green Carpet Challenge merupakan sebuah program yang dicetuskan oleh Livia Giuggioli Firth, seorang produser film ternama yang kini merambah dunia fesyen lewat kolaborasinya bersama dengan beberapa desainer kelas dunia seperti Sergio Rossi hingga selebriti sekelas Emma Watson. Green Carpet Challenge sendiri menantang para selebriti dan desainer papan atas untuk berkolaborasi memamerkan koleksi-koleksi yang ramah lingkungan namun tetap wearable dan dalam tampilan yang berkelas.

Lalu, siapa saja sih desainer-desainer yang turut meramaikan Green Carpet Challenge? Let’s find out!

]]>
https://www.greeners.co/gaya-hidup/eco-fashion-ala-desainer-dalam-green-carpet-challenge/feed/ 0